BAB III METODE PENELITIAN
E. Prosedur Penelitian
6. Tindak Lanjut (follow up)
Tindak lanjut akan dilakukan 7-14 hari setelah terapi kelompok pendukung selesai. Pada tahap ini subjek akan kembali diminta untuk mengisi skala SWLS dan PANAS untuk mengetahui perkembangan kesejahteraan subjektif diri subjek. Selain itu, subjek juga akan kembali diwawancara untuk mengetahui perubahan kondisi psikologis.
45 F. Metode Pengumpulan Data
1. Alat Ukur/Skala
a. Satisfaction With Life Scale
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini salah satunya menggunakan skala. Skala adaptasi Diener, dkk (1985) ini akan digunakan untuk mengukur aspek dari kesejahteraan subjektif pasien HIV/AIDS yakni kepuasan responden pada keseluruhan hidupnya. SWLS dipilih karena banyak digunakan dalam kasus-kasus klinis (Pavot & Diener, 1993). Aspek ini memiliki 5 item, dengan skor yang bergerak dari 1-7 (sangat tidak setuju, tidak setuju, agak setuju, ragu-ragu, agak setuju, setuju, dan sangat setuju).
Semakin tinggi skor yang diperoleh, maka kepuasan hidup dari subjek akan semakin tinggi.
Tabel 2. Blue print Satisfaction With Life Scale (SWLS) Aspek Favorable Jumlah
Kepuasan hidup 1,2,3,4,5 5 b. Positive and Negative Affect Scale
Skala ini dikembangkan oleh Watson, Clark, dan Tellegen pada tahun 1988. Skala adaptasi ini akan digunakan untuk mengukur aspek dari kesejahteraan subjektif pasienHIV/AIDS yakni mengukur afek positif dan afek negatif. PANAS banyak digunakan dalam pengukuran kesejahteraan subjektif (Gallagher dkk, 2008). Jumlah item skala ini adalah 20 item, dengan 10 item yang menunjukkan afek positif dan 10 item yang didesain untuk mengukur pengalam negatif. Skala pada masing-masing item adalah 1 (sangat kecil) – 5 (sangat besar) dengan skor minimal item adalah 10 dan
46
46
skor maksimal adalah 50. Jumlah afek negatif dan afek positif masing-masing dijumlahkan dan dibandingkan. Jika skor afek positif lebih besar dibanding efek negatif, maka skor PANAS cenderung mengarah pada aspek-aspek ciri positif dan begitu juga sebaliknya. Pada skala ini, interpretasi skor juga dilakukan dengan mengurangi jumlah afek positif dengan jumlah afek negatif yang ada. Pengurangan tersebut menghasilkan apa yang dinamakan dengan affect balance (Schimmack dkk dalam Yamasaki & Unchida, 2016)
Tabel 3. Blue print Positive and Negative Affect Scale(PANAS)
Aspek Butir Jumlah
Afek Positif 1,3,5,9,10,12,14,16,17,19 10 Afek Negatif 2,4,6,7,8,11,13,15,18,20 10 2. Modul Terapi Kelompok Pendukung
Modul terapi kelompok pendukung dalam penelitian ini merupakan modul yang dimodifikasi dari Kurniawan (2015) disusun berdasarkan teori dari Hauvel, dkk (2003). Terapi kelompok pendukung terdiri dari beberapa sesi dengan mengacu pada empat faktor, yaitu Supportive Factors, Self Revelation, Learnings from Others, Psychological Work Factors. Terapi ini akan dilakukan dalam beberapa hari, yakni 4 pertemuan.
Tabel 4. Blue print Terapi Kelompok Pendukung
Sesi Kegiatan Tujuan Keterangan Faktor
Terapeutik
I I.1
Pembukaan Membuka sesi terapi Membangun hubungan
interpersonal yang baik antara fasilitator dan anggota kelompok
I.2 Perkenalan - Saling mengenal antara Membangun dan Supportive
47 dan mengenali tentang hal yang dirasakan mengungkapkan ide dan perasaan perasaan baik positif maupun negatif
-Belajar mendengarkan, saling memberikan dukungan antar anggota kelompok
48
- Mengingatkan anggota untuk kehadirannya di pertemuan berikutnya. (diskusi antar sesama anggota kelompok) bagaimana kondisi fisik
tiap anggota
mempengaruhi kondisi psikologis (diskusi antar sesama anggota
49 untuk kehadirannya di pertemuan berikutnya langsung dan kendala yang dihadapi dalam
50
Post-test Mengukur SWB dan Kebermaknaan Hidup peserta pasca terapi IV.4 Terminasi Mengakhiri keseluruhan
terapi
Wawancara dilakukan sebelum pelatihan (pretes), setelah pelatihan (pascates), dan pada saat follow up. Selain untuk memperkuat data kuantitatif yang didapat, metode ini juga dilakukan untuk mengetahui kondisi psikologis subjek meliputi aspek-aspek kesejahteraan subjektif yang dikemukakan Diener, dkk(1999) dan Watson, Clark, dan Tellegen (1988). Selain itu, wawancara juga dilakukan untuk mengetahui bagaimana manfaat atau perubahan yang dialami subjek setelah mengikuti terapi kelompok pendukung.
Tabel 5. Blue Print Pedoman Wawancara
Pedoman Pertanyaan
Afeksi
Apa yang terjadi setelah Anda mengetahui hasil diagnosa dokter ?
Bagaimana perasaan Anda saat ini/selama terapi/setelah mengikuti terapi ? Kepuasan hidup
Bagaimana Anda memandang kehidupan Anda saat ini/selama terapi/setelah mengikuti terapi ? Bagaimana Anda memandang masalah yang menimpa
Anda saat ini/selama terapi/setelah mengikuti terapi ? Dukungan yang
diperoleh dari sosial
Bagaimana dukungan keluarga dan teman/tetangga yang Anda dapat saat ini/selama terapi/setelah
51
dan keluarga mengikuti terapi ?
Manfaat terapi Apa manfaat yang Anda rasakan setelah mengikuti terapi ?
4. Observasi
Pengumpulan data juga dilakukan melalui observasi ketika pelatihan berlangsung. Hal-hal yang diamati ketika pelatihan berlangsung adalah:
a. Keaktifan, sikap dan aktivitas lain yang dilakukan subjek selama pelatihan.
b. Kemampuan fasilitator dalam menyajikan materi, penguasaan terhadap materi, kemampuan merangkum materi pelatihan dan komunikasi antara fasilitator dan peserta pelatihan.
c. Fasilitas pelatihan menyangkut ketersediaan media atau perlatan yang mendukung atau menghambat proses pelatihan berlangsung.
d. Proses pelatihan mengenai metode penyajian data, kesesuaian setiap materi dengan sesi pelatihan dan ketepatan waktu dengan jadwal.
G. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif. Tidak dilakukannya analisis data statistik kareta kaitannya dengan jumlah sampel. Signifikan-tidaknya suatu statistik yang diuji tergantung antara lain pada ukuran sampel (n) dan variabilitas (Azwar, 2005). Analisis deskriptif dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dan analisis deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk melihat perubahan skor kesejahteraan subjektif untuk setiap pengukuran setelah diberikan intervensi berupa terapi kelompok pendukung melalui gained score.Pengujian berdasarkan
52
52
gainedscore yaitu menggunakan selisih prates dan pascates serta prates dan tindak lanjut.
Analisis data kualitatif dilakukan dengan wawancara secara individual dengan tujuan untuk mendapatkan pernyataan langsung dari subjek berupa perubahan yang diperoleh setelah mengikuti terapi, selain itu juga dengan mengolah data hasil observasi yang telah dilakukan.
H. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas
a. Validitas internal
Validitas internal adalah validitas yang berkaitan dengan sejauh mana hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan variabel tergantung yang ditemukan dalam penelitian. Semakin kuat hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan variabel tergantung maka semakin besar validitas internal suatu penelitian. Hal ini dilihat dari sejauh mana variabel penyebab mempengaruhi variabel terikat (Seniati, dkk, 2014).
b. Validitas eksternal
Validitas eksternal adalah validitas yang berkaitan dengan generalisasi hasil penelitian, sejauh mana hasil penelitian dapat diterapkan pada subjek, situasi, dan waktu di luar situasi penelitian (Seniati, dkk, 2014).
Validitas dalam penelitian eksperimen yang ingin dicapai adalah validitas internal karena penelitian eksperimen merupakan penelitian yang memberikan variabel bebas untuk dilihat pengaruhnya terhadap
53 variabel tergantung. Dengan kata lain, penelitian eksperimental ingin
membuktikan hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan varibel tergantung (Seniati, dkk, 2014).
2. Reliabilitas
Reliabilitas alat ukur menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran dengan alat tersebut dapat dipercaya. Hal ini ditunjukkan dari taraf keajegan skor yang didapat oleh para subjek yang diukur dengan alat yang sama, atau diukur dengan alat yang setara pada kondisi yang berbeda (Suryabrata, 2004)
54 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Orientasi Kancah dan Persiapan 1. Orientasi Kancah
Salah satu tahap yang harus dilalui sebelum penelitian dilaksanakan adalah perlunya memahami kancah atau tempat penelitian dan mempersiapkan segala sesuatu yang berkenaan dengan penelitian. Penelitian ini berlokasi di Yayasan XYZ di Kota Yogyakarta. Yayasan XYZ terletak di Kelurahan Caturtunggal, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman.
Yayasan XYZ adalah yayasan NGO (Non-Government Organization) yang bergerak dalam memberikan dukungan langsung kepada orang yang dengan HIV dan AIDS. Yayasan ini adalah kelompok penggagas dukungan sebaya dan pemberdayaan ODHA yang berdiri sejak tahun 2004. Yayasan XYZ Yogyakarta mempunyai impian untuk mencapai kualitas hidup ODHA yang lebih baik dan sebagai wadah pemberdayaan ODHA yang bebas dari stigma dan diskriminasi.
Sejak didirikannya yayasan NGO ini, sudah ada banyak program yang dilakukan dalam kepeduliannya terhadap isu HIV/AIDS. Beberapa program yang dilakukan oleh Yayasan XYZ adalah pemberdayaan ODHA lewat kelompok dukungan sebaya di kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunung Kidul.
Selain itu, Yayasan XYZ juga melakukan pendampingan ODHA di rumah
55 dan di rumah sakit, menyelenggarakan training/pelatihan public speaking
ODHA, pembentukan KDS disetiap wilayah dan kelompok risiko, melatih ODHA untuk menjadi pendamping pengobatan terhadap ODHA yang baru mulai treatment, dan juga mengadakan sosialisasi HIV/AIDS. Selain itu, XYZ juga mengadakan wirausaha untuk peningkatan penghasilan ODHA.
Pelaksanaan program Yayasan XYZ sudah bekerjasama dengan badan pemerintahan maupun yayasan NGO lainnya, diantaranya adalah yayasan spiritia, the global fund, kementerian sosial RI, dinas sosial DIY, komisi penanggulangan AIDS DIYA, komisi penanggulangan AIDS Kabupaten/kota DIYA, Bapel kamkesos DIY, jogja sehat, BNN, BNN Prov. DIY, RSUP Dr.
Sardjito Yogyakarta, BPPM DIY, BKKBN DIY, RSPAU Hardjolukito, RS Bathesda, PKU Muhammadiyah, RSUD Murangan, RS Jogja, RSUD Wates, RSUD Penembahan senopati bantul, RSUD Wonosari, dan banyak puskesmas di Provinsi DIY.
2. Persiapan Penelitian
Persiapan-persiapan yang telah dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah berupa persiapan administrasi, persiapan alat ukur, dan persiapan intervensi. Rincian masing-masing persiapan yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut.
a. Persiapan Administrasi
Persiapan administrasi dimaksud untuk mengurus perizinan atas penelitian yang akan dilakukan. Peneliti mengawali penelitian dengan pengirimkan surat izin pengantar penelitian dari Fakultas Psikologi dan
56
56
Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia kepada Pimpinan Yayasan XYZ pada tanggal 13 Maret 2017. Surat diantarkan langsung di kantor Yayasan XYZ dan mengurus perizinan langsung dengan pengurus Yayasan XYZ disertai dengan penjelasan proposal penelitian yang akan dilaksanakan.
b. Persiapan Alat Ukur
Penelitian menggunakan tryout terpakai, hal ini dikarenakan keterbatasan subjek penelitian dimana pasien HIV/AIDS yang cenderung menutup diri atau tidak mau ketika bertemu. Alat ukur yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah skala kesejahteraan subjektif, yang terdiri dari 2 skala. Pertama adalah SWLS (Satisfaction With Life Scale) yang dikembangkan oleh Diener, dkk (1985). Skala digunakan untuk mengukur kepuasan responden pada keseluruhan hidupnyadengan skor minimal 7 dan maksimal 35. Kedua adalah PANAS (Positive and Negative Affect Scale) yang dikembangkan oleh Watson, Clark, dan Tellegen (1988). Skala ini digunakan untuk mengukur evaluasi diri individu yang terdiri dari evaluasi afeksi atau perasaan seseorang sebanyak 20 aitem (10 aitem positif dan 10 aitem negatif), dengan bobot minimal 10 dan maksimal 50 untuk masing-masing afeksi.
Penelitian ini melakukan suatu proses uji coba atau tryout untuk mengetahui tingkat validitas dan reliabilitas dari masing-masing skala, sehingga dapat ditentukan kelayakan skala tersebut untuk digunakan.
57 Skala ini sudah diujikan kepada 30 subjek yang menderita HIV/AIDS di
Yogyakarta.
Hasil uji coba skala kesejahteraan subjektif menunjukkan ada 1 buah aitem yang digugurkan, jadi total aitem yang digunakan adalah sebanyak 24 aitem. Untuk mengetahui validitas item dari sebuah skala maka perlu dilakukan pengujian dengan cara mengitung koefisien korelasi antara distribusi skor item dengan skor total skala tersebut.Menurut Azwar (1999)semua item yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30 daya pembedanya dianggap memuaskan.Tingkat konsistensi skala dalam mengungkap sebuah konstruk dianalisis dengan bantuan program komputer SPSS versi 16 for windows dengan metode cronbach alpha.
a. Skala kepuasan hidup (SWLS)
Skala kepuasan hidup memiliki koefisien reliabilitas Cronbach’s α = 0,859 (N = 5 aitem). Aitem skala SWLS dikatakan valid karena p > dari 0,3 dan bergerak dari 0,541 – 0,732. Berikut distribusi butir skala SWLS setelah uji coba :
Tabel 6. Distribusi Butir Skala SWLS setelah uji coba Aspek Butir Favorable Jumlah Kepuasan hidup 1,2,3,4,5 1,2,3,4,5 5 Keterangan: tidak ada aitem yang gugur
b. Skala afeksi (PANAS)
Tingkat validitas aitem berdasarkan hasil analisis uji coba yang dilakukan terhadap skala PANAS menunjukkan ada aitem yang
58
58
memiliki tingkat validitas rendah apabila dilihat dari koefisien korelasi dengan skor total skala dibandingkan dengan aitem lainnya yaitu aitem nomor dua belas. Afek positif pada skala PANAS menghasilkan sembilan butir aitem yang dianggap validdengan indeks diskriminasi aitem bergerak dari -0,221 – 0,816 yang memiliki koefisien reliabilitas Cronbach’s α = 0,851 (N = 10 aitem).
Tingkat validitas aitem yang mengukur afek negatif pada skala PANAS menghasilkan sepuluh butir aitem yang diangkap valid, afek negatif bergerak dari 0,346 – 0,789 dengan koefisien reliabilitas Cronbach’s α = 0,886 (N = 10 aitem). Berikut hasil distribusi aitem skala PANAS setelah uji coba.
Tabel 7. Distribusi Butir Skala PANAS setelah uji coba
Aspek Butir Favorable Jumlah
Afek Positif 1,3,5,9,10,(12),14,16,17,19 10 9 Afek Negatif 2,4,6,7,8,11,13,15,18,20 10 10 Keterangan: angka didalam kurung ( ) adalah nomor aitem yang gugur.
c. Persiapan Modul Intervensi
Modul intervensi disusun berdasarkan adaptasi dan modifikasi dari modul terapi kelompok pendukung oleh Kurniawan (2015) yang mengacu pada teori Hauvel (2003). Terapi kelompok pendukung merupakan modifikasi dari terapi kelompok yang diisi oleh individu dengan masalah yang sama dan saling memberikan dukungan sosial dan emosional (Smith, Cummings, dan Constantinides, 2010). Terapi ini menekankan pada inspirasi yang bisa datang dari proses pengamatan dan
59 spontani diri terhadap pengalaman subjek lain dalam kelompok tersebut.
Berikut adalah jadwal pelaksanaan terapi kelompok pendukung.
Tabel 8. Jadwal PelaksanaanTerapi Kelompok Pendukung
Pertemuan Kegiatan Waktu
Pertama
Penjelasan maksud dan tujuan terapi
10’
Sesi I.4
Penyampaian isu (permasalahan psikologis) tiap responden, dan diawali pengantar dari psikolog
70’
Sesi I.5
Subjek menanggapi apa yang disampaikan oleh subjek lainnya, baik tanggapan secara verbal,
emosional, maupun perilaku
20’
Sesi I.6
Menutup pertemuan pertama (psikolog memberikan worksheet berupa self report
kepada subjek)
Melanjutkan agenda di pertemuan I (jika ada subjek yang belum sempat menyampaikan
agenda pribadinya)
50’
Pertemuan II. 2
“Semua tentang HIV/AIDS” (Subjek saling bertukar informasi mengenai penyakit AIDS, gejala AIDS, penyebab penurunan kondisi fisik anggota)
30’
Pertemuan II. 3
Menutup pertemuan kedua (psikolog memberikan worksheet berupa self report
kepada subjek)
Pemantauan dan sharing penerapan dan kendala pelaksanaan materi pertemuan I dan pertemuan
45’
60
60
II yang dihadapi responden saat mendampingi pasien (bersama psikolog)
Mengungkapkan agenda yang telah tercapai (bersama psikolog)
40’
Evaluasi keseluruhan terapi 15’
Post-test 15’
Terminasi 10’
Follow up (±7-14 hari setelah pertemuan IV)
Subjek berbagi cerita tentang perasaan dan apa perubahan yang terjadi pada diri
45’
Pengukuran kesejahteraan subjektif 15’
d. Seleksi Terapis dan Observer
Pemilihan terapis dan observer dilakukan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh peneliti. Terapi kelompok pendukung ini dipandu oleh seorang psikolog yang sudah berpengalaman dalam menangani klien/pasien dengan berbagai permasalahan, khususnya penderita penyakit kronik di Puskesmas. Selain itu, psikolog juga sudah berpengalaman dalam memberikan terapi secara klasikal/kelompok.
Psikolog nantinya akan menjadi terapis dalam terapi kelompok pendukung dan akan memandu jalannya terapi.
Pada penelitian ini, terapis akan ditemani oleh satu orang pengamat/observer. Pengamat merupakan mahasiswa Psikologi Universitas Islam Indonesia dan sudah dinyatakan lulus dalam mata kuliah Observasi dan Wawancara.
Peran terapis dalam terapi ini adalah sebagai pamandu selama terapi berlangsung. Terapis akan membangun rapport dan menstimulasi
61 antar sesama anggota kelompok agar dapat menumbuhkan suasana akrab
dan keterbukaan antar sesama anggota kelompok. Terapis juga akan menerangkan materi mengenai kondisi psikologis ODHA, terutama mengenai emosi negatif dan merangkum permasalahan, saran dan cara mengatasi permasalahan yang dialami oleh anggota kelompok.
Selanjutnya, terapis juga membantu peneliti dalam pemberian evaluasi terhadap proses terapi.
e. Seleksi subjek terapi
Seleksi dilakukan sesuai dengan kriteria subjek yang telah ditentukan sebelumnya. Pencarian subjek dilakukan dengan bekerja sama dengan Yayasan VictoryPlus. Salah satu program dari XYZ adalah mengadakan pendampingan dengan pasien-pasien HIV/AIDS di rumah sakit-rumah sakit yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, maka dari itu peneliti mengadakan kerjasama sehingga proses screening dapat dilakukan terhadap pasien-pasien HIV/AIDS yang sedang datang kontrol atau mengambil obat, atau kepentingan lainnya.
Tabel 9. Distribusi Skor Tingkat Kesejahteraan Subjektif Berdasarkan percentile dari Satisfication with Life Scale (SWLS)
Percentile Rentang Skor Kategori Jumlah Subjek X < P20 X < 14,00 Sangat Rendah 4 P20 ≤ X < P40 14,00 ≤ X < 19,20 Rendah 8 P40 ≤ X < P60 19, 20 ≤ X < 26,00 Sedang 5 P60 ≤ X ≤ P80 26,00 ≤ X ≤ 29,60 Tinggi 7 X > P80 X > 29,60 Sangat Tinggi 6
Hasil analisis statistik pengkategorian pada skala kepuasan hidup (SWLS) menunjukkan bahwa dari 30 subjek yang berpartisipasi terdapat
62
62
4 subjek yang berada dikategori sangat rendah, 8 pada kategori rendah, 5 pada kategori sedang, 7 pada kategori tinggi, 6 pada kategori sangat tinggi.
Peneliti memilih kategori sangat rendah, rendah, dan sedang.
Terdapat kurang lebih 17 subjek yang berada pada tiga kategori tersebut.
Selanjutnya peneliti melihat hasil dari skala PANAS. Subjek dengan skor afek negatif lebih tinggi dari afek positif juga diambil dalam penelitian ini. Subjek yang diambil adalah subjek yang memenuhi kriteria salah satu atau dua kriteria sekaligus. Peneliti kemudian membagi 2 kelompok dengan 3 orang yang berada pada kelompok eksperimen dan 3 yang berada pada kelompok kontrol. Selanjutnya peneliti mengundang 3 subjek yang termasuk dalam kelompok eksperimen untuk mengikuti terapi kelompok pendukung pada hari Senin, Rabu, dan Senin yakni pada tanggal 10, 12 dan 17 April 2017 di XYZ Yogyakarta.
B. Pelaksanaan Penelitian 1. Pelaksanaan Pengukuran Awal (Pretest)
Pengukuran awal (Pretest) dilakukan pada subjek yang telah memenuhi kriteria yang ditetapkan sebelumnya, yakni 8 orang, yang kemudian menjadi 3 orang karena alasan bersedia tidaknya subjek dan alasan teknis lainnya.Pretest dilakukan pada tanggal 17 Maret 2017 – 3 April 2017.
Subjek diminta mengisi skala untuk mengukur kesejahteraan subjektif yang telah disiapkan. Berikut adalah tabel rincian subjek pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
63 Tabel 10. Rincian Subjek Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol
Kelompok No Nama JK SWLS PA NA AB
Eksperimen 1 AA L 22 33 23 11
2 EDM P 15 34 35 -1
3 INE L 14 26 25 1
Kontrol 1 WEN P 12 26 35 -9
2 SUK L 17 33 24 9
3 PR L 21 38 29 9
Kategorisasi pada skor AB adalah dengan cara pengurangan skor afek positif (PA) dengan skor afek negatif (NA). Jika skor PA>NA atau semakin besar selisih antara skor positif dan skor negatif dapat dikatakan memiliki kesejahteraan subjektif yang baik.
Subjek yang masuk dalam kategori sangat rendah, rendah, dan sedang dalam skala SWLS dan subjek yang memiliki afek negatif dominan atau selisih skor afek positif dan afek negatif yang kecil/rendah akan menjadi subjek dalam penelitian ini. Peneliti kemudian meminta persetujuan dari subjek untuk bersedia mengikuti terapi sebanyak 3 kali pertemuan.
2. Pelaksanaan Intervensi Terapi Kelompok Pendukung
Penelitian ini menggunakan terapi kelompok pendukung sebagai intervensi yang dilakukan. Terapi kelompok pendukung ini dipandu oleh seorang psikolog yang sudah terbiasa menangani masalah psikologis terkait perkembangan dan permasalahan dengan penyakit kronis. Terapi dilaksanakan di Yayasan XYZ Yogyakarta pada tanggal 10, 13, dan 17 April 2017. Berikut ini adalah penjelasan mengenai pelaksanaan terapi kelompok pendukung secara lebih detil per pertemuannya.
64
64
a. Pertemuan Pertama (Senin, 10 April 2017; Pukul 16.00 – 18.00)
Pertemuan pertama dilaksanakan di hall Yayasan XYZ pada tanggal 10 April 2017 dimulai dari pukul 16.00 hingga 18.00. Pertemuan ini dihadiri oleh 4 subjek kelompok eksperimen yang sudah menyatakan bersedia ketika diundang. Terdapat 2 subjek yang membawa anak-anaknya masing-masing 1 anak. Terapi dilaksanakan di hall Yayasan XYZ dimana dalam setting duduk melantai senyaman mungkin, bersama 1 orang terapis, 1 observer dan peneliti.
Pertemuan pertama ini terdiri dari beberapa sesi, diantaranya adalah pembukaan, perkenalan, penjelasan maksud dan tujuan terapi, penyampaian isu (permasalahan psikologis) oleh setiap subjek yang diawali oleh terapis, sharing yakni subjek lain menanggapi apa yang disampaikan oleh subjek lainnya baik secara verbal, emosional, maupun perilaku, lalu terapi pertemuan pertama ditutup.
Sesi pembukaan diisi dengan kata pengantar dari terapis yang juga memperkenalkan diri lalu memperkenalkan peneliti dan observer yang akan menemani subjek selama terapi berlangsung. Selanjutnya sesi dilanjutkan dengan perkenalan dari subjek secara satu persatu dengan menceritakan gambaran umum diri subjek. Keempat subjek menceritakan mengenai dirinya masing-masing juga disertai dengan gambaran singkat tentang penyakit yang diderita.
Terapis kemudian menjelaskan maksud dan tujuan pertemuan dihari itu, dan menjelaskan maksud dan tujuan dari diselenggarakannya
65 terapi ini. Setelah menjelaskan tentang hal tersebut, terapis memulai untuk
membuka topik dengan memberikan pengantar mengenai permasalahan psikologis yang mungkin muncul ketika mengetahui diagnosa atau apa yang dirasakan pada saat ini. Subjek secara bergantian menceritakan apa yang dirasakan saat mengetahui diagnosa HIV (+) dan kondisi yang dirasakan saat ini, disertai beberapa pengalaman yang muncul ketika mengetahui terinfeksi virus. Secara spontan maupun saat dipersilahkan oleh terapis, subjek mendengarkan dan memberi beragam tanggapan atas setiap penyampaian isu oleh subjek. Tanggapan itu dapat berupa pandangan, perubahan ekspresi, tanggapan verbal, dan tanggapan emosional dan perilaku lainnya.
Pada saat pemberian tanggapan ataupun saat sharing terlihat 2 subjek yang tidak begitu aktif dalam tanggapan verbal, dan 1 subjek yang sangat aktif dalam menanggapi baik itu verbal maupun nonverbal. Subjek yang aktif inipun ketika diminta untuk berbagi pengalaman, subjek bercerita dengan sangat detil dan rinci. Subjek terlihat begitu ekspresif ketika berbagi pengalaman yang terlihat pada munculnya beberapa emosi.
Subjek lainnya terlihat memberi tanggapan seadanya saja, yakni lebih banyak mendengarkan, namun ketika diminta untuk bercerita subjek mampu bercerita dengan terbuka.
Terapi pertemuan pertama terlihat sudah mampu menimbulkan rasa percaya satu sama lain antar beberapa anggota kelompok, dimana munculnya beberapa pengakuan bahwa tidak semua orang mengetahui
66
66
bahwa subjek terinfeksi virus ini dan subjek mampu bercerita kondisi saat ini pada orang yang baru ditemuinya. Setelah dirasa cukup dan waktu sudah berjalan dengan semestinya, terapis kemudian menutup terapi lalu mengingatkan anggota untuk kehadirannya dipertemuan berikutnya, yakni
bahwa subjek terinfeksi virus ini dan subjek mampu bercerita kondisi saat ini pada orang yang baru ditemuinya. Setelah dirasa cukup dan waktu sudah berjalan dengan semestinya, terapis kemudian menutup terapi lalu mengingatkan anggota untuk kehadirannya dipertemuan berikutnya, yakni