• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN

B. Pelaksanaan Penelitian

2. Pelaksanaan Intervensi Terapi Kelompok Pendukung

Penelitian ini menggunakan terapi kelompok pendukung sebagai intervensi yang dilakukan. Terapi kelompok pendukung ini dipandu oleh seorang psikolog yang sudah terbiasa menangani masalah psikologis terkait perkembangan dan permasalahan dengan penyakit kronis. Terapi dilaksanakan di Yayasan XYZ Yogyakarta pada tanggal 10, 13, dan 17 April 2017. Berikut ini adalah penjelasan mengenai pelaksanaan terapi kelompok pendukung secara lebih detil per pertemuannya.

64

64

a. Pertemuan Pertama (Senin, 10 April 2017; Pukul 16.00 – 18.00)

Pertemuan pertama dilaksanakan di hall Yayasan XYZ pada tanggal 10 April 2017 dimulai dari pukul 16.00 hingga 18.00. Pertemuan ini dihadiri oleh 4 subjek kelompok eksperimen yang sudah menyatakan bersedia ketika diundang. Terdapat 2 subjek yang membawa anak-anaknya masing-masing 1 anak. Terapi dilaksanakan di hall Yayasan XYZ dimana dalam setting duduk melantai senyaman mungkin, bersama 1 orang terapis, 1 observer dan peneliti.

Pertemuan pertama ini terdiri dari beberapa sesi, diantaranya adalah pembukaan, perkenalan, penjelasan maksud dan tujuan terapi, penyampaian isu (permasalahan psikologis) oleh setiap subjek yang diawali oleh terapis, sharing yakni subjek lain menanggapi apa yang disampaikan oleh subjek lainnya baik secara verbal, emosional, maupun perilaku, lalu terapi pertemuan pertama ditutup.

Sesi pembukaan diisi dengan kata pengantar dari terapis yang juga memperkenalkan diri lalu memperkenalkan peneliti dan observer yang akan menemani subjek selama terapi berlangsung. Selanjutnya sesi dilanjutkan dengan perkenalan dari subjek secara satu persatu dengan menceritakan gambaran umum diri subjek. Keempat subjek menceritakan mengenai dirinya masing-masing juga disertai dengan gambaran singkat tentang penyakit yang diderita.

Terapis kemudian menjelaskan maksud dan tujuan pertemuan dihari itu, dan menjelaskan maksud dan tujuan dari diselenggarakannya

65 terapi ini. Setelah menjelaskan tentang hal tersebut, terapis memulai untuk

membuka topik dengan memberikan pengantar mengenai permasalahan psikologis yang mungkin muncul ketika mengetahui diagnosa atau apa yang dirasakan pada saat ini. Subjek secara bergantian menceritakan apa yang dirasakan saat mengetahui diagnosa HIV (+) dan kondisi yang dirasakan saat ini, disertai beberapa pengalaman yang muncul ketika mengetahui terinfeksi virus. Secara spontan maupun saat dipersilahkan oleh terapis, subjek mendengarkan dan memberi beragam tanggapan atas setiap penyampaian isu oleh subjek. Tanggapan itu dapat berupa pandangan, perubahan ekspresi, tanggapan verbal, dan tanggapan emosional dan perilaku lainnya.

Pada saat pemberian tanggapan ataupun saat sharing terlihat 2 subjek yang tidak begitu aktif dalam tanggapan verbal, dan 1 subjek yang sangat aktif dalam menanggapi baik itu verbal maupun nonverbal. Subjek yang aktif inipun ketika diminta untuk berbagi pengalaman, subjek bercerita dengan sangat detil dan rinci. Subjek terlihat begitu ekspresif ketika berbagi pengalaman yang terlihat pada munculnya beberapa emosi.

Subjek lainnya terlihat memberi tanggapan seadanya saja, yakni lebih banyak mendengarkan, namun ketika diminta untuk bercerita subjek mampu bercerita dengan terbuka.

Terapi pertemuan pertama terlihat sudah mampu menimbulkan rasa percaya satu sama lain antar beberapa anggota kelompok, dimana munculnya beberapa pengakuan bahwa tidak semua orang mengetahui

66

66

bahwa subjek terinfeksi virus ini dan subjek mampu bercerita kondisi saat ini pada orang yang baru ditemuinya. Setelah dirasa cukup dan waktu sudah berjalan dengan semestinya, terapis kemudian menutup terapi lalu mengingatkan anggota untuk kehadirannya dipertemuan berikutnya, yakni hari Kamis, 13 April 2017 mulai pukul 16.00. Sebelum ditutup, subjek diminta untuk memberikan self report dan harapan subjek dalam terapi ini.

Setelah pelaksanaan terapi selesai, diadakannya evaluasi oleh terapis, observer, dan peneliti untuk mengevaluasi jalannya terapi dihari itu dan mengetahui apa yang sudah tercapai juga apa yang masih kurang untuk digali dipertemuan selanjutnya.

b. Pertemuan Kedua (Kamis, 13 April 2017; Pukul 16.30 – 18.15)

Terapi hari kedua dilaksanakan ditempat yang sama seperti pertemuan sebelumnya. Subjek yang hadir berjumlah 3 orang. Terdapat 1 orang subjek yang tidak hadir dengan tidak memberikan alasan apapun.

Terapi tetap dilanjutkan dengan jumlah subjek 3 orang. Terapi diawali dengan berdoa agar terapi bisa berjalan dengan lancar dan bermanfaat.

Terapi kedua ini berisikan beberapa sesi, diantaranya melanjutkan agenda pertemuan pertama jika masih ada yang kurang untuk disampaikan dipertemuan sebelumnya, selanjutnya ada sesi semua tentang HIV/AIDS dimana subjek diminta untuk memberi penjelasan tentang apa yang diketahui subjek tentang HIV/AIDS dan bagaimana pengaruhnya, selanjutnya ada materi yang disampaikan oleh terapis tentang bagaimana emosi dapat mempengaruhi psikis, dan kemudian terapi ditutup.

67 Pada sesi pertama, terlihat subjek sudah merasa cukup dengan

penyampaiannya dipertemuan sebelumnya. Sesi langsung dilanjutkan pada sesi semua tentang HIV/AIDS. Subjek satu persatu menceritakan apa saja yang diketahui tentang HIV/AIDS dan bagaimana pengetahuan subjek sebelum dan setelah terinfeksi virus. Rata-rata subjek menceritakan bahwa sebelum terinfeksi virus, subjek hanya sekedar tahu bahwa itu adalah virus mematikan bagaikan tidak ada masa depan ketika terinfeksi virus. Satu subjek mengaku bahwa ketika terinfeksi ini hal pertama yang dipikirkan adalah akan mati dan tidak ada masa depan, subjek lainnya menyatakan bahwa subjek tidak berpikir sampai kesana karena teman-temannya ada beberapa yang terinfeksi virus, dan satu subjek lagi mengaku bahwa subjek takut ketika terjadi percekcokan ketika keluarganya mengetahui tentang ini. Begitu banyak pikiran-pikiran negatif yang muncul karena kurangnya pengetahuan tentang HIV/AIDS.

Seiring berjalannya waktu, setelah mengetahui bahwa subjek positif terinfeksi, subjek cenderung mempelajari banyak hal tentang HIV/AIDS. Pada sesi ini juga dibahas tentang apa yang sebenarnya/faktor risiko subjek terinfeksi. Diantara subjek yang datang, tidak ada satupun yang mengetahui secara pasti penyebab subjek terinfeksi virus. Sebagian besar dari subjek masih sebatas menduga tentang faktor risikonya. Ada subjek yang mengaku bahwa kemungkinan terinfeksi dari suaminya, ada juga dari pekerjaannya, dan ada yang masih belum tahu sama sekali kenapa bisa terinfeksi.

68

68

Pertemuan kedua ini dapat dikatakan lebih aktif dari sebelumnya.

Terlihat pada masing-masing anggota kelompok memberikan tanggapan verbal dan nonverbal, mulai dari pertanyaan hingga saran-saran. Pada pertemuan kedua inipun terlihat dari self-report subjek yang mengungkapkan bahwa subjek senang dalam forum yang isinya adalah anggota-anggota yang memiliki karakteristik yang sama, yakni positif HIV/AIDS sehingga dapat memperoleh banyak pelajaran baru dan juga dapat bertanya tentang penyelesaian permasalahan yang dialami.

Setelah terapi dirasa cukup dan waktunya juga sudah lebih beberapa menit dari yang direncanakan, maka pertemuan kedua ini ditutup dan terapis mengingatkan untuk hadir dipertemuan ketiga, yakni pada tanggal 17 April 2017; pukul 16.00 – selesai. Pertemuan kemudian ditutup dengan doa.

c. Pertemuan Ketiga (Senin, 17 April 2017; Pukul 16.15 – 18.00)

Pertemuan ketiga sama seperti sebelumnya, yakni dilaksanakan di hall XYZ dan jumlah yang datang sebanyak 3 orang subjek penelitian, 1 orang terapis, 1 peneliti, dan 1 orang observer. Pertemuan ketiga ini merupakan pertemuan terakhir dalam proses jalannya terapi. Dilaksanakan 3 kali pertemuan karena sudah dirasa mencukupi materi-materi yang disampaikan didalam modul. Pelaksanaan terapi juga menyesuaikan dengan jadwal subjek yang notabene adalah orang yang memiliki kesibukan lain dan rumah yang cukup jauh dari kota atau tempat pelatihan.

69 Ditambahkan dengan kesibukan yang terkait dengan jadwal kontrol di

rumah sakit.

Pertemuan ketiga mengandung beberapa sesi, yaitu gabungan dari pertemuan tiga dan empat sebagai optional. Sesi tersebut terdiri dari pemantauan atau sharing penerapan atas apa yang sudah diperoleh pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, selanjutnya mengungkapkan apa yang telah dicapai bersama-sama, evaluasi keseluruhan terapi, pemberian post-test, dan penutupan keseluruhan terapi.

Sesi pembahasan tentang pemantauan dan sharing penerapan dari pertemuan sebelumnya terlihat cukup aktif. Setiap anggota aktif mengungkapkan apa-apa saja yang sudah diterapkan. Pertemuan ketiga ini dibuka dengan suasana yang berbeda dari sebelumnya, mulai terlihat keterbukaan dari setiap subjek yang bercerita dengan lebih mudah. Pada saat ingin berbicara, setiap subjek dapat langsung berbicara tanpa rasa ragu. Terlihat ketiga subjek sudah sangat aktif dalam berpendapat dan mengeluarkan kendala-kendala yang dihadapi.

Sesi selanjutnya tentang agenda apa saja yang sudah dicapai secara bersama-sama, sesi ini diisi dengan subjek dipandu terapis diminta untuk menyebutkan apa saja yang sudah dicapai. Seluruh subjek aktif menjawab dan di sela-sela itu, terlihat subjek yang masih berbagi mengenai apa yang telah dirasakan, apa yang terlah berubah, dan apa yang telah diperoleh dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Proses berikutnya adalah evaluasi atas keseluruhan terapi, dimana hampir seluruh subjek mengatakan bahwa

70

70

subjek memperoleh manfaat/banyak hal yang diperoleh dari terapi yang sudah dilakukan. Subjek kemudian diberi post-test untuk mengukur SWB subjek. Post test yang dilakukan berupa skala SWLS dan PANAS sama seperti yang diberikan ketika pretest yang selanjutnya subjek juga mengisi lembar kerja berupa self-report. Terapi diakhiri dan ditutup dengan doa.