BAB IV PELAKSANAAN DAN HASIL PENELITIAN
C. Hasil Penelitian
2. Hasil Analisis Kuantitatif
Deskripsi ini merupakan data hasil yang diperoleh dari pretest, pascates, dan follow up dari skala kepuasan hidup (SWLS) dan skala afek positif dan afek negatif (PANAS). Analisis diperoleh dengan menghitung perubahan skor dari setiap pengukuran.
Tabel 12. Deskripsi Data Penelitian Skala Kepuasan Hidup (SWLS) Kelompok Eksperimen
73 Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa terdiri dari 3 subjek
kelompok eksperimen. Kelompok eksperimen ini pada awalnya terdiri dari 4 subjek, dimana 1 subjek dinyatakan gugur karena tidak hadir pada pertemuan kedua. Jadi, kelompok eksperimen terdiri dari 3 subjek. Subjek terdiri dari 2 subjek berjenis kelamin laki-laki dan 1 subjek berjenis kelamin perempuan.
Dari data yang ditampilkan di atas, dapat diketahui bahwa seluruh subjek mengalami peningkatan skor dari prates hingga pascates pada aspek kepuasan hidup. Selanjutnya, jika dilihat dari prates hingga saat tindak lanjut, terlihat hasil yang sama, yakni seluruh subjek mengalami peningkatan skor pada aspek kepuasan hidup. Diketahui dari tabel bahwa terdapat 1 subjek yang mengalami peningkatan >5 angka dari prates hinga pascates, dan meningkat
>10 angka pada dari prates hingga tindak lanjut.
Tabel 13. Deskripsi Data Penelitian Skala Afek (PANAS) Kelompok Eksperimen
Tabel di atas menunjukkan bahwa seluruh subjek kelompok eksperimen mengalami peningkatan skor pada aspek afeksi kesejahteraan subjektif. Peningkatan skor dari prates hingga pascates rata-rata meningkat 4 angka dan pada prates hingga tindak lanjut, terdapat 2 subjek meningkat 10
74
74
angka dan 1 subjek meningkat 5 angka pada aspek afeksi kesejahteraan subjektif.
Tabel 14. Deskripsi Data Penelitian Skala Kepuasan Hidup (SWLS) Kelompok Kontrol
Tabel di atas menampilkan skor aspek kepuasan hidup yang diperoleh oleh subjek kelompok kontrol dari prates hingga tindak lanjut. Terlihat pada tabel bahwasannya terdapat 3 subjek yang menjadi kelompok kontrol yang terdiri dari 1 subjek berjenis kelamin perempuan dan 2 subjek laki-laki.
Terlihat pada tabel tersebut, 2 subjek mengalami peningkatan skor namun dengan jumlah skor yang berbeda dan ada 1 subjek yang memiliki skor tetap dari prates hingga pascates. Terlihat 2 subjek mengalami peningkatan 1-2 angka. Selanjutnya, data yang dapat diperoleh dari tabel tersebut terlihat adanya perbedaan yang signifikan yang terjadi dari prates hingga saat tindak lanjut. Terlihat subjek yang mengalami penurunan 5 angka pada saat tindak lanjut dari prates, lalu ada subjek yang tidak mengalami peningkatan atau penurunan pada pascates ataupun saat tindak lanjut. Subjek dalam kelompok kontrol ini memiliki gained score yang seluruhnya berbeda untuk masing-masing subjek.
75 meningkat 9 angka dan subjek lainnya ada yang tetap juga ada yang menurun hingga 4 angka dari prates hingga pascates. Selanjutnya, pada prates hingga tindak lanjut, terlihat 2 subjek mengalami peningkatan <5 angka dan 1 subjek mengalami peningkatan >5 angka.
Tabel 16. Deskripsi Data Penelitian Skala Kepuasan Hidup (SWLS)
Tabel di atas menunjukkan deskripsi skor yang diperoleh kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada skala kepuasan hidup. Diketahui dari tabel tersebut, bahwa terdapat perbedaan skor antara prates-pascates hingga prates-tindak lanjut pada kelompok eksperimen. Perbedaan skor ini
76
76
menunjukkan adanya peningkatan sebesar 2,33 dari mean 5,00 hingga 7,33.
Selanjutnya, informasi lain yang dapat diperoleh dari tabel tersebut, terlihat bahwa kelompok kontrol juga mengalami perbedaan skor mean, tapi bukan peningkatan, melainkan penurunan skor. Skor turun sebanyak 2 angka, yakni mean kelompok kontrol dari 1,00 hingga -1,00.
Berdasarkan tabel di atas juga dapat disimpulkan bahwa perbedaan skor menunjukkan bahwa ada perubahan yang terjadi, meningkat berarti ada perubahan positif dan sebaliknya. Selanjutnya juga dapat disimpulkan bahwa skor kepuasan hidup kelompok eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol.
Tabel 17. Deskripsi Data Penelitian Skala Afeksi (PANAS)
Kelompok Klasifikasi
Prates-Pascates Prates-Follow up
Eksperimen Minimum 0 5
Maksimum 4 10
Mean 2,67 8,33
SD 2,309 2,887
Kontrol Minimum -4 1
Maksimum 9 8
Mean 1,33 4
SD 6,807 3,606
Tabel di atas memberikan gambaran skor yang diperoleh kelompok eksperimen dan kelompok kontrol pada skala afeksi. Terdapat perbedaan skor mean pada kedua kelompok antara prates hingga pascates dan prates hingga tindak lanjut. Perbedaan skor ini menunjukkan bahwa ada perubahan yang terjadi. Kedua kelompok mengalami peningkatan skor mean, dan sama-sama menunjukkan skor yang positif. Kelompok eksperimen dari pra-pasca hingga pra-tindak lanjut meningkatkan sebanyak 5,66 angka dan kelompok kontrol
77 dari pra-pasca dan pra-tindak lanjut meningkat 2,67. Artinya, peningkatan
kelompok eksperimen jauh lebih banyak dari peningkatan skor kelompok kontrol. Selain itu juga diketahui bahwa terdapat perbedaan skor antara prates-pascates hingga prates-tindak lanjut pada kelompok eksperimen.
Perbedaan skor ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 5,66 dari mean 2,67 hingga 8,33.
Berdasarkan kategorisasi skor oleh Diener, dkk (2006) pada skala SWLS, rentang skor 30-35 berada pada kategori sangat puas, 25-29 pada kategori kepuasan yang tinggi, 20-24 pada kategori sedang, 15-19 pada kategori kepuasan dibawah rata-rata, 10-14 tidak puas, dan 5-9 sangat tidak puas. Diener, dkk (2006) mengatakan bahwa dengan memahami skor kepuasan hidup, akan membantu untuk memahami beberapa komponen dari pengalaman kepuasan hidup subjek. Berdasarkan grafik yang disajikan di bawah ini, maka penjelasan akan dijelaskan satu-persatu.
Gambar 2. Nilai skala Kepuasan Hidup (SWLS) Subjek AA
Setelah mengikuti pelatihan, dilakukan pengukuran terhadap skor kepuasan hidup, aspek dari kesejahteraan subjektif. Skor kepuasan hidup AA naik menjadi 25 yang berarti memiliki kepuasan yang tinggi dari 22 yang
22
25 26
20 22 24 26 28
Prates Pascates Tindak Lanjut
Skor Kepuasan Hidup
Kepuasan Hidup
78
78
tergolong sedang. Pada saat tindak lanjut, skor subjek mengalami peningkatan menjadi 26.
Gambar 3. Nilai skala Afeksi (PANAS) Subjek AA
Berdasarkan grafik di atas, diketahui skor afeksi AA mengalami peningkatan menjadi 15 pada saat pascates dari skor 11. Pada saat tindak lanjut, skor kembali meningkat menjadi 21. Berdasarkan hasil analisis SWLS dan PANAS di atas, dapat disimpulkan bahwa subjek AA mengalami peningkatan kesejahteraan subjektif setelah diberikan intervensi berupa terapi kelompok pendukung.
Gambar 4. Nilai skala Kepuasan Hidup (SWLS) Subjek EDM
Skor kepuasan hidup EDM naik menjadi 19 yang tergolong kepuasan dibawah rata-rata dari sebelumnya hanya 15 setelah mengikuti terapi
11
79 kelompok pendukung. Pada saat tindak lanjut, skor kepuasan hidup EDM
kembali mengalami peningkatan menjadi 22, dari kepuasan dibawah rata-rata menjadi sedang atau cukup.
Gambar 5. Nilai skala Afeksi (PANAS) Subjek EDM
Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui bahwa skor afeksi EDM mengalami peningkatan dari prates ke pascates sebanyak 4 angka, yakni dari skor -1 menjadi 3. Pada pascates ke tindak lanjut, skor kembali meningkat menjadi 9. Berdasarkan hasil analisis SWLS dan PANAS di atas, dapat disimpulkan bahwa subjek EDM mengalami peningkatan kesejahteraan subjektif setelah diberikan intervensi berupa terapi kelompok pendukung.
Gambar 6. Nilai skala Kepuasan Hidup (SWLS) Subjek INE
-1
3
9
-5 0 5 10
Prates Pascates Tindak lanjut
Skala Afeksi
Afeksi
14
22 25
10 15 20 25 30
Prates Pascates Tindak Lanjut
Skala Kepuasan Hidup
Kepuasan Hidup
80
80
Setelah mengikuti pelatihan, dilakukan pengukuran terhadap skor kepuasan hidup, aspek dari kesejahteraan subjektif. Skor kepuasan hidup INE naik menjadi 22 yang tergolong sedang dari 14 yang tergolong tidak puas.
Pada saat tindak lanjut, skor subjek mengalami peningkatan menjadi 25 dimana menjadi berada pada kategori kepuasan yang tinggi.
Gambar 7. Nilai skala Afeksi (PANAS) Subjek INE
Berdasarkan grafik tersebut dapat diketahui bahwa skor afeksi INE tidak mengalami penurunan dari prates ke pascates, yakni skor konsisten.
Pada pascates ke tindak lanjut, skor kembali meningkat menjadi 6, mengalami peningkatan sebanyak 5 angka. Berdasarkan hasil analisis SWLS dan PANAS di atas, dapat disimpulkan bahwa subjek INE mengalami peningkatan kesejahteraan subjektif setelah diberikan intervensi berupa terapi kelompok pendukung.
Berdasarkan 3 subjek yang berada pada kelompok eksperimen, disimpulkan bahwa seluruh subjek mengalami peningkatan kesejahteraan subjektif setelah diberikan intervensi berupa terapi kelompok pendukung.
Sementara itu, data yang diperoleh dari kelompok kontrol adalah sebagai berikut.
1 1
6 0
5 10
Prates Pascates Tindak Lanjut
Skala Afeksi
Afeksi
81 Gambar 8. Nilai skala Kepuasan Hidup (SWLS) Subjek WEN
Berdasarkan grafik di atas, tidak terjadi penurunan maupun peningkatan skor kepuasan hidup pada subjek WEN. Skor WEN stabil dari masa pertama kali dilakukan pengukuran hingga pada saat terakhir.
Gambar 9. Nilai skala Afeksi (PANAS) Subjek WEN
Berdasarkan grafik di atas, terdapat peningkatan skor afeksi pada subjek WEN dari pengukuran pertama hingga pengukuran kedua. Namun, skor kembali menurun dari angka 0 ke -1 pada pengukuran terakhir. Artinya, skor afeksi WEN tidak stabil. Berdasarkan analisis skala SWLS dan PANAS, disimpulkan bahwa tidak terjadi perubahan kesejahteraan subjektif subjek WEN.
12 12 12
10 12 14
Prates Pascates Tindak Lanjut
Skala Kepuasan Hidup
Kepuasan Hidup
-9
0 -1
-10 -5 0
Prates Pascates Tindak Lanjut
Skala Afeksi
Afeksi
82
82
Gambar 10. Nilai skala Kepuasan Hidup (SWLS) Subjek SUK
Berdasarkan grafik di atas, terjadi peningkatan skor kepuasan hidup pada subjek SUK sebanyak 2 angka dari pengukuran pertama hingga kedua, tetapi tetap berada dalam kategori yang sama. Skor SUK penurunan skor pada pengukuran terakhir, sehingga WEN menjadi berada pada kategori tidak puas terhadap kehidupan.
Gambar 11. Nilai skala Afeksi (PANAS) Subjek SUK
Berdasarkan grafik di atas, skor afeksi SUK mengalami penurunan dari 9 menjadi 8. Skor afeksi SUK kemudian meningkat menjadi 12 pada saat tindak lanjut. Disimpulkan bahwa skor afeksi SUK belum stabil. Berdasarkan analisis skala SWLS dan PANAS, disimpulkan bahwa tidak terjadi peningkatan kesejahteraan subjektif subjek SUK, melainkan kondisi kepuasan dan afeksi yang tidak stabil.
17
19
12 10
15 20
Prates Pascates Tindak Lanjut
Skala Kepuasan Hidup
Kepuasan Hidup
9 8
12
5 10 15
Prates Pascates Tindak Lanjut
Skala Afeksi
Afeksi
83 Gambar 12. Nilai skala Kepuasan Hidup (SWLS) Subjek PR
Berdasarkan grafik di atas, terjadi peningkatan skor kepuasan hidup sebanyak 1 angka pada setiap pengukuran pada subjek PR.
Gambar 13. Nilai skala Afeksi (PANAS) Subjek PR
Hal berbeda terjadi pada skor afeksi subjek PR dimana skor mengalami penurunan dan peningkatan pada pengukuran kedua dan ketiga.
Berdasarkan analisis kedua skala di atas, dapat disimpulkan bahwa data mengindikasikan keadaan kesejahteraan subjektif yang tidak stabil pada subjek PR.
Berdasarkan uraian di atas, 3 subjek kelompok kontrol tidak mengalami peningkatan skor pada keseluruhan aspek, melainkan beberapa mengalami penurunan skor. Hal ini berbeda dengan kelompok eksperimen yang secara konsisten mengalami peningkatan skor antara sebelum dan
21
22
23
20 22 24
Prates Pascates Tindak Lanjut
Skala Kepuasan Hidup
Kepuasan Hidup
9
5
10
5 7 9 11
Prates Pascates Tindak Lanjut
Skala Afeksi
Afeksi
84
84
setelah diberikan terapi. Artinya terdapat pengaruh terapi kelompok pendukung pada kesejahteraan subjektif pasien HIV/AIDS. Sementara itu juga ditemukan adanya perbedaan skor antar kedua kelompok, menunjukkan kesimpulan yang sama, yakni intervensi yang diberikan dapat meningkatkan kesejahteraan subjektif pada kelompok eksperimen dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi intervensi.