• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Analisisi dan Interpretasi Hasil Penelitian

4.2 Analisa Data

4.2.1 Subjek 1

4.2.1.4 Hasil Auto-anamnesa

Sedari kecil S1 sudah memiliki ketertarikan untuk mendalami ilmu agama. Bahkan ketika remaja S1 telah aktif dan menjadi wakil ketua remaja masjid dan organisasi keagamaan di kampungnya. Itulah sebabnya sampai saat ini pun S1 tetap aktif mengikuti kajian-kajian agama. Salah satu pengajian yang sudah lama dan rutin diikuti S1 adalah pengajian dengan Ustadz Nazaruddin. Pengajian tersebut membuat hubungan S1 dan gurunya sangat dekat. Menurut S1 karena kerajinannya mengikuti kajian, gurunya melihat ada kesungguhan beramal pada dirinya, sehingga ia pun diarahkan untuk mengambil tarekat dan bersuluk. S1 mengakui bahwa sebenarnya sedari dulu iajuga sudah memiliki niat untuk bersuluk namun terhambat karena tidak menemukan jalan dan memiliki pengetahuan yang awam mengenai suluk. Oleh karena itu S1 sangat bersyukur karena dengan bertemu guru mengajinyalah S1 memiliki jalan untuk bersuluk ke Besilamdan pada akhirnya menjadi seorang salik. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Ya awalnya tadi ngaji sama Ustadz Nazar kan, ngaji sama baru beberapa tahun kemudian dia ngajak saya supaya ngambil tarekat sekalian suluk haa, sebelumnya memang ada keinginan untuk apa, cuma belum ada jalan. Ini dengan bertemu Ustadz Nazar ngaji sama dia, saya diajak ke Besilam untuk bersuluk, ha gitu.”.

(W4.MR.5a-5b)

“Hehe ya seperti remaja-remaja yang lainnya gitu kan, ya walaupun tidak…tidak apa, memang pernah menjadi wakil ketua remaja masjid, wakil ketua organisasi lainnya juga ya gitu aja hehe”.

(W4.MR.7)

“Iya memang dari dulu sudah apa..suka sama mendalami agama gitu kan”.

(W4.MR.8)

“Awalnya, awalnya saya mengaji sama Ustadz kan mengaji, kemudian kan mungkin karena di lihatnya saya sering mengaji artinya kesungguhan untuk beramal itu ada dan saya dibawanya, dibawanya ke Besilam untuk bersuluk ke rumah suluk ha awalnya itulah. Suluk ayok suluk kita, ha artinya saya diajak untuk bersuluk oleh Ustadz nazaruddin.”.

(W4.MR.9)

“Iya Ustadz itu duluan yang mengajak saya, kan saya pada saat itu kan awam sekali.”.

(W4.MR.10) Setelah diarahkan dan diajak oleh gurunya S1 mau ikut pergi bersuluk ke Besilam. Alasan S1 mau diajak bersuluk adalah karena ia memiliki semangat ibadah yang tinggi. Adapun alasan mengapa S1 lebih memilih proses atau jalan suluk dibandingkan jalan yang lain adalah karena mendapatkan ketenangan dan kepuasan bathin serta tercapainya fokus bathin. Menurut S1 yang paling penting dalam beribadah adalah fokus bathin, karena dengan tercapainya fokus bathin-lah suatu ibadah akan lebih sempurna. Kemudian, fokus bathin tidak dimiliki oleh semua orang dan hanya bisa didapatkan melalui dzikir dan bersuluk. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Karena tadi kepuasan eh ketenangan bathin dan kepuasan bathin karena fokusnya tadi itu, ya..itu ibadah apa pun dia namanya namun fokusnya kita tidak kepada yang kita ibadahi, umpamanya kita sembahyang solat umpamanya kan. Kan kita itu solat itu menyembah Allah ha jadi fokus bathin itu memang saat itu hanya kepada Allah semata, ha itu yang tidak dimiliki oleh semua orang dan itu akan didapati dengan dzikir dan suluk ha kesadaran ini fokus dia kepada Allah semata tidak kepada yang lain”.

(W4.MR.11a-11c)

“Karena memang semangat ibadah saya ha memang”.

(W4.MR.12)

“Karena ya itu tadi itu, memang ibadah apapun itu kalau memang tidak...tidak fokus tidak sempurnalah ibadah kita mungkin dengan...dengan bersuluk sehingga bathin kita fokus kepada apa yang kita sembah itu”.

(W4.MR.14) Bermula dari ajakan guru dan kemauan yang kuat untuk memperdalam agama akhirnya S1 melaksanakan suluk pertamanya pada tahun 1994 ketika berusia 29 tahun. Pada saat itu seluruh keluarga S1 mendukungnya untuk pergi bersuluk ke Besilam. Saat sampai ditempat suluk, S1 banyak melakukan ibadah terutama berdzikir. Saat berada di rumah suluk S1 berdzikir secara lisan dan secara hati, dengan pikiran atau kesadaran yang hanyalah kepada Allah semata. Adapun posisi berdzikir saat suluk adalah duduk seperti saat bermeditasi, dengan posisi tangan yang terbuka seperti berdoa. Selain itu, S1 juga menggunakan tasbih ketika berdzikir. Selama bersuluk S1 akan merasakan kenyamanan. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“S1 merasa nyaman saat bersuluk”.

(W4.MR.16)

“Yah mereka senang aja selama gak menyimpang dengan agama kan ya”.

(W5P1.MR.3)

“Memang duduk dia”.

(W5P1.MR.7)

“Ah gak, tangannya itu gini, dibuka, ha ini artinya ini mengharap, semacam doa dia ha, dengan tasbih gitu kan, dengan mengarahkan dzikir itu ke hati sanubari kita, gitu. Jadi hati mengucapkan dzikir Allah…Allah…tapi kesadaran kita hanya mengingat-ingat hanya kepada Allah semata, jadi gak kemana-mana dia”.

(W5P1.MR.8a-8b) b. Aspek Subjective Well-Being

i. Cognitive Subjective Well-Being (Life Satisfaction)

Menurut S1 berdasarkan pengalamannya, pergi bersuluk tentunya akan mengganggu aktifitas sehari-hari. Hal ini dikarenakan ketika pergi bersuluk seorang salik akan meninggalkan aktifitas kesehariannya dan benar-benar fokus terhadap kegiatan suluknya. Oleh karena itu, untuk menjaga agar seorang salik tetap fokus bersuluk, tuan guru S1 dari Besilam memberikan amanah yang bunyinya ialah “carilah dunia, carilah harta setahun tapi beribadah lah sebulan”. Ini berarti ketika pergi bersuluk seorang salik haruslah ada meninggalkan harta untuk keluarganya, karenatuan guru Besilam pun tidak akan menerima orang bersuluk jika tidak ada harta yang ditinggalkan untuk keluarganya. S1 juga menjelaskan bahwasanya pergi bersuluk itu sama halnya seperti pergi mati. Oleh karena itu ada baiknya jika sebelum pergi bersulukuntuk meminta maaf kepada seluruh keluarga, lingkungan, dan tetangga, serta menyelesaikan segala urusan di rumah terlebih dahulu. Dengan demikian maka salik pun akan lebih fokus dalam melaksanakan proses bersuluknya. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Mm...iya, kalau dari amanah tuan guru Besilam carilah hartamu eh carilah dunia carilah harta setahun tapi beribadah lah sebulan.

Ha mencari harta setahun dan beribadah lah sebulan, jadi artinya dengan setahun itu kita beraktifitas dengan bekerja keras”.

(W6.MR.3a-3b)

“Iya dan itu memang musti...musti yang ditinggalkan musti ada.

Nah umpamanya kita bersuluk jadi harta yang ditinggalkan untuk

keluarga musti ada, ha itu, jadi kita ga lepas suluk terus yang ditinggalkan gak ada, jangan seperti itu ha, tuan guru pun ga memebenarkan yang seperti itu”.

(W6.MR.4a-4b)

“Iya dengan rejeki yang ada dan kita dari tuan guru sendiri pun, tuan guru Syeikh Besilam dia tidak akan menerima atau pun meng…meng apa, memberi seseorang itu apa…suluk jika tidak ada harta yang ditinggalkan untuk keluarga, jangan sampai, jangan sampai e... keluarga itu mengganggu ha bisa mengganggu dia dalam kita beribadah suluk. Kalau umpamanya di rumah tidak nyaman dia akan terganggu. Jadi kita selesaikan dulu di rumah, segala hal, haa…suluk ini seperti kita akan pergi mati, kita akan meminta maaf sama seluruh keluarga, lingkungan, sama tetangga, seperti itu dia. Jadi tidak ada…jangan sampai dalam beribadah suluk itu terganggu oleh keluarga, nafkah, dan lain-lain sebagainya”.

(W7P2.MR.10a-10c) Setelah mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dan telah sampai di rumah suluk, selanjutnya salik akan dipertemukan dengan seorang tuan guru. Begitu pula dengan S1, selama bersuluk ia dibimbing oleh Syeikh Simal Sarwani, seorang tuan guru di Besilam. Jadi setiap kembali bersuluk ke Besilam S1 akan selalu dibimbing oleh tuan guru yang sama, tidak akan diganti, karena selama masih hidup tuan guru tersebut akan selalu membimbing rumah suluk. Adapun rentang waktu suluk yang dijalani setiap orangitu berbeda-beda, tergantung kemampuan dan rejeki pada setiap orang. Semakin lama waktu bisa diluangkan, semakin banyak rejeki yang bisa ditinggalkan kepada keluarga, maka semakin lama pulalah seseorang bisa bersuluk. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Oh gak sama ada 10 hari ada 20 hari ada yang keluar duluan, ya memang rejeki dia...dia mampu bawa nafkah ke suluk sekian yang ditinggalkan di rumah juga sekian, jadi terbatas ya kan. Kemudian

waktu dia juga, umpamanya kalau dia bekerja, atau berladang, atau bekerja di pemerintah kan ada batas waktu jadi dia tidak meninggalkan pekerjaan itu, bersuluk tidak mengganggu aktifitas dia. Dia mampunya 10 hari, 10 hari, 20 hari 20 hari ha gitu kan, tergantung kesanggupan dia, nafkah dan tidak terganggu pekerjaan di rumah ha gitu.”.

(W6.MR.9)

“Ha iya…”.

(W7P2.MR.12)

“Ada, ada namanya Syeikh Simal Sarwani, tuan guru Besilam”.

(W7P2.MR.13)

“Iya, selama dia masih hidup ya dia tetap, tetap membimbing rumah suluk”.

(W7P2.MR.14) Saat bersuluk dan bertemu tuan guru ada adab-adab tertentu yang harus dijaga. Adab-adab tersebut sudah diatur dari awal sampai akhir bersuluk. Pada tahap awal, adab pertama yang dilakukan dalam bersuluk adalah dengan mengenalkan diri dan menitipkan diri kepada tuan guru.Untuk selanjutnya adab dan amalan suluk yang dilakukan akan berbeda dari hari sebelumnnya. Hal ini dikarenakan adanya penyesuaian dengan kemampuan masing-masing salik. Kemampuan salik yang dimaksud adalah pengalaman-pengalamanberdzikir yang dirasakan salik pada saat bersuluk.Pengalaman berdzikir ini bisa juga disebut sebagai pengalaman rohani yang hanya boleh diceritakan kepada tuan guru saja.Maka dari itu, pengalaman rohani setiap orang akan berbeda dan dari sinilah tingkatan suluk seorang salik akan ditentukan. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Ya ada adab-adabnya. Pertama itu berjumpa tuan guru, memperkenalkan diri tuan guru saya mau masuk suluk tolong jaga saya lahir bathin”.

(W6.MR.11)

“Ha iya iya, semua sudah diatur”.

(W6.MR.12)

“Gak, awal...awalnya aja. Kalau setiap harinya ada memang kalau kita dalam beramal itu ada...ada pengalaman berdzikir tadi itu kita akan ngomong sama tuan guru, tuan aku seperti ini seperti ini, oh ya dan dia akan tambah dzikir kita. Itulah yang ga bisa diceritakan itu, hanya tuan guru lah bisa cerita sama dia, karena itu untuk menaikkan tingkat kita nanti, sehingga teman sesama suluk kita itu tidak boleh tahu. Hanya guru dan kita yang boleh tahu, hm teman kita gak boleh tahu, kenapa? Karena akan mengganggu dzikir teman kita nanti itu. Karena dari pengalaman-pengalaman rohani tadi itu, itulah untuk menaikkan tingkatan dia, misalnya sekian oh ini naik gitu, gak bisa mencontek, ga bisa sama semua, pengalaman rohani mana bisa sama kan, pakaian dia dipakai sama orang lain ga pas gitu. Pakaian dia ya pakaian dia orang mau memakai pakaian dia ga pas gitu, orang gemuk sementara dia kurus ya longgar, gak bisa ha.”.

(W6.MR.13a-13c) Ketika berada di rumah suluk terdapat beberapa bentuk amaliah suluk yang dilakukan S1. Hal tersebut diantaranya adalah: menjaga wudhu, solat tepat waktu dan berjamah, terus beribadah dan berdzikir bersama-sama dengan guru serta teman-teman suluk lainnya.Amaliah suluk tersebut dilaksanakan S1 rutin setiap harinya. Selain itu, S1 juga melakukan tafakkur, bahkan sampai merasa ada yang kurang apabila ia melewatkan atau tidak melakukan tafakkur. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Ah yang tadi itu e...wudhu terjaga, waktu solat tepat waktu, berjamaah lagi, bersama guru ha, bersama teman-teman ha itu dia”.

(W6.MR.5)

“Ha iya rutin”.

(W6.MR.6)

“Ya macam ada yang kurang, gitu haa….jadi ini kan dengan tafakkur ini terpenuhilah kekurangan kita ini”.

(W7P2.MR.2) S1 adalah orang yang sederhana. Ia tidak memiliki keinginan untuk bermewah-mewah karena fokus utama S1 tidak tertuju pada harta dan hal-hal duniawi, melainkan hanya untuk beribadah. Itulah sebabnya S1 suka bersuluk, karena dengan bersuluklah akan tercapai fokus tersebut, baik fokus kesadaranmaupun fokus kondisi spiritual yang hanya tertuju kepada Allah semata. Selain itu sejak bersuluk S1pun merasa bahwa orang-orang semakin mendekat, semakin sayang, dan nyaman dengan kehadiranya. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Iya, ha kondisi sritual itu kesadaran kita itu, ingatan kita hanya kepada Allah semata ha”.

(W6.MR.7)

“Fokus kesadaran kita hanya kepada Allah”.

(W6.MR.8)

“Apa ya, ha orang semakin dekat sama kita, ha dekat sama kita, sayang sama kita, dengan kehadiran kita orang tidak curiga yakin orang ini ga mungkin berbuat yang enggak enggak ha gitu. Karena dengan prosedur tadi itu bukan berarti kita jauh dari masyarakat, enggak. Malah kita bisa beradaptasi dengan masyarakat”.

(W6.MR.14)

“Ha iya……”.

(W7P2.MR.3)

“Iyaa heheh bagaimana mana dibilang ya, memang seperti itu, ga ada keinginan untuk ber wah-wah gitu”.

(W7P2.MR.4)

“Tidak…tidak tidak itu, tidak tertuju kesitu, walaupun ada aa…ya namanya juga manusia ada keinginan-keinginan, umpamanya

pengen mau pigi haji haa…yang kayak gitu ada tapi ga terlalu ga difokuskan mengejar itu tidak haa”.

(W7P2.MR.5)

“Utamanya itu ibadah ha kan”.

(W7P2.MR.6) Setelah menjadi seorang salik, S1 selalu rutin kembali pergi bersuluk ke Besilam setiap tahunnya. S1 rutin bersuluk karena merasakan adanya perbedaan keadaan rohani yang terjadi padanya setiap bersuluk.

Setelah bersuluk S1 merasa lebih tenang, tidak terganggu dengan masalah yang ada, dan lebih fokus dalam beribadah. Selain itu, S1 juga merasa semakin dekat kepada Allah, semakin menjaga dirinya, tidak cinta dunia, dan semakin berfokus hanya kepada Allah. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Alhamdulillah saat ini saya setiap tahun suluk dan tentunya perubahan-perubahan itu setiap suluk ada, perubahan pun ada, semakin dekat kepada Allah, semakin menjaga tidak...tidak cinta dunia, dunia mau tapi tidak dicintai begitu, kita pegang dunia tetapi tidak kita nikmati seperti itulah dia. Jadi fokusnya hanya kepada Allah”.

(W6.MR.1a-1b)

“Ya yang saya rasakan ya saya tenang, bathin saya tenang walaupun punya masalah, tapi tidak masalah itu tidak mengganggu saya, kemudian saya pun ibadah fokus ha, keadaan saya dengan beramal dzikir ini saya berharap Allah akan menetapkan ibadah saya supaya saya fokus kepada Allah semata ha gitu”.

(W8.MR.3) Berdasarkan hal tersebut, maka sesuai dengan aspek Subjective Well-Being yang dikemukakan oleh Diener, aspek kognitif, yaitu S1 merasa puas dengan hidupnya, maka ia sedang menilai hidupnya secara kognitif (kepuasan hidup). Bentuk konkretnya terlihat ketika S1 sangat

bersyukur bertemu guru mengajinya Ustadz Nazaruddin sehingga ia memiliki jalan untuk bersuluk ke Besilam dan pada akhirnya menjadi seorang salik. Setelah menjadi seorang salik ia lebih fokus beribadah dan tidak cinta dunia lagi sehingga ia pun tidak pernah merasa terganggu akan masalah hidup yang ada. Tidak hanya itu, ia juga merasa puas akan hidupnya karena semakin fokus dan dekat ia kepada Allah maka ia pun semakin menjaga dirinya dalam kebaikan.

ii. Affective Subjective Well-Being (Afek Positif dan Afek Negatif)

Ketika bersuluk seorang salik akan selalu diawasi dan dipantau oleh tuan guru. Itulah mengapa S1 tetap konsisten pergi bersuluk dan selalu meluangkan waktunya untuk pergi bersuluk, khususnya ketika bulan Ramadhan, karena S1 ingin agar dirinya terus terjaga dalam kebaikan sehingga lebih sering merasakan ketenangan dan kebahagiaan. S1 juga bersyukur karena ia tidak pernah merasa kekurangan rejeki yang membuat ia selalu bisa pergi bersuluk. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Ya karena kondisi kita setelah suluk itu beda, keluar dari suluk itu ada perbedaan, rohani nya kita berbeda kita. Karena di suluk kita akan diawasi akan dipantau oleh guru, sementara pas kita diluar suluk ah itu agak berkurang dia. Karena kalau suluk itu kita menyerahkan diri, seolah-olah kita masuk ke dalam kandungan perut guru, jadi diawasi guru betul-betul. Jadi kalau kita menyimpang guru akan tahu, dia akan menasehati gitu”.

(W7P2.MR.8a-8b)

“U-uhm iya”.

(W7P2.MR.9)

“Ada iya ada…tidak pernah kekurangan. Kalau ga ga boleh pergi, kan ga boleh juga, menelantarkan kan, ga boleh juga agama kan”.

(W7P2.MR.11) Berdasarkan penuturan S1 setelah melaksanakan suluk orang-orang tertentu bisa mendapat karomah dari Allah. S1 bercerita bahwa ada salah satu jemaah di rumah suluk yang daerah rumahnya kebanjiran, namun ia mendapat karomah dari Allah sehingga setetes pun tidak masuk air ke dalam rumah nya. Sedangkan bagi S1 sendiri, ia mengakui mungkin secara sadar belum pernah merasakan langsung karomah. Meski demikian S1 tidak berkecil hati karena menurut S1 tujuan bersuluk bukanlah mendapatkan karomah, tetapi untuk mendekatkan diri kepada Allah semata. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Iya itu bisa aja, karena dia dekat dengan Allah, Allah membantu dia, ha seperti itulah jalan Allah membantu dengan dia bersuluk.

Ada salah satu jemaah di rumah suluk juga satu kali di Panti Labu itu banjir sehingga sebatas ini (menunjuk jendela) tenggelam itu kan, jadi dengan banyak dia beramal memang sayang Allah dia bilang apa ya Allah katanya dengan...dengan (suara bergetar)...

dengan kemuliaan Syekh Abdul Wahab Rokan yang di Besilam itu namanya Syekh Abdul Rokan yang suluk itu kan, jadi dia berwasilah ini, ya Allah dengan kemuliaan Syekh Abdul Wahab Rokan (suara bergetar lagi) jangan kau masukkan lah air ke dalam rumahku. Jadi dalam dia bertawajuk tadi itu nampak dia lah Syekh Abdul Wahab Rokan menancapkan tongkat nya di depan pintu sehingga air itu pecah, pecah itu setetes pun tidak masuk air ke dalam rumah nya. Seperti itulah bentuk karomah, dia bilang karomah itu, terjaga dia”.

(W8.MR.5a-5b)

“Kalau untuk tingkat kami mungkin tingkat masih...masih apa, masih anak sd belum yang nyatanya itu. Artinya bukan tujuan bersuluk itu sebenarnya, tapi entahlah wallahu alam mungkin kita rasakan tapi gak sadar. Tapi intinya bersuluk itu tujuannya bukan untuk itu, tapi untuk mendekatkan diri kepada Allah semata, tapi kalau Allah beri itu kan kita monggo aja kan, terima aja”.

(W8.MR.6a-6b)

S1 berkata bahwa terdapat tingkatan-tingkatan dzikir dalam bersuluk. Oleh karena itu, S1 berharap agar kedepannya bisa naik tingkat dalam bersuluk. Selain itu, S1 juga berharap agar ia diberi kemudahan dalam beribadah, karena bagi S1 kebahagiaan itu adalah ketika diberikan kelapangan untuk beribadah, tidak ada gangguan, dan nyaman beribadah.

Sedangkan untuk langkah selanjutnya S1 ingin membuka rumah suluk.

Adapun syarat membuka rumah suluk adalah harus memiliki jamaah yang tetap dan memiliki rumah suluk yang berlokasi jauh dari keramaian.

Kondisi rumah suluk yang harus jauh dari keramaian bertujuan agar bisa melaksanakan ibadah dengan lebih fokus dan nyaman. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Ya kalau pun diijinkan, ada memang ada masa-masanya keinginan, saya ingin buka rumah suluk ha ingin buka rumah suluk.

Syaratnya, syarat buka rumah suluk itu kita musti ada jamaah yang tetap, kemudian kita musti ada...ada rumah suluknya, kalau ini ga bisa karena dia harus ada satu lokasi yang memang jauh dari apa dari keramaian, ha itu dia”.

(W8.MR.1a-1b)

“Alasannya supaya memang kita memang nyaman beribadah supaya tidak terganggu ribut-ribut, bising segala macam lah”.

(W8.MR.2)

“Ada…ada, tingkat-tingkat dzikir nya ada, ha”.

(W8.MR.7)

“Ya itu memang, ya…dengan suluk itu lah kita mengharap ha peningkatan-peningkatan”.

(W8.MR.8)

“Bahagia itu…ee...lapang untuk beribadah, tidak ada gangguan-gangguan sehingga mem..mem..membuat kita ibadah itu tidak nyaman, ha itu. Dengan enak nya beribadah itu yang buat kesenangan itu”.

(W8.MR.11)

S1 juga menyatakan bahwa setelah bersuluk hidupnya lebih sering merasa tenang, nyaman, bahagia, dan mendapatkan kepuasan terutama secara psikologis. Selain itu, S1 juga tidak pernah merasa terganggu dengan masalah-masalah yang ada. Berdasarkan hal tersebut S1 telah memenuhi aspek Subjective Well-Being lainnya yaitu aspek afektif, dengan S1 sering merasakan emosi-emosi positif/ afek positif maka ia sedang menilai kehidupannya berdasarkan afektif (perasaan).

4.2.1.5 Rekapitulasi Data SWB Subjek 1

Memiliki keinginan untuk memperdalam agama

Merasa gelisah dan bingung karena masih awam

Mengikuti pengajian dan mulai mengikuti tarekat

Memulai perjalanan suluk

Aspek afektif (negatif & positif):

Merasa tidak nyaman dan ada yang kurang jika tidak tafakkur

kesedihan dan selalu bersyukur dengan apa yang ada

Merasa orang-orang semakin mendekat, sayang, serta nyaman dengan kehadiranya

Aspek kognitif (life satisfaction):

Tidak memiliki keinginan untuk bermewah-mewah dan tidak pernah merasa kekurangan rejeki

Merasa puas dengan kondisi spiritual yang hanya berfokus kepada Allah semata sehingga semakin dekat dengan Allah dan lebih bisa menjaga diri dalam kebaikan

Tidak pernah merasa terganggu dengan masalah kehidupan yang ada

Merasa puas dengan tidak ada gangguan dan diberikan kenyamanan serta kelapangan dalam beribadah

4.2.2 Subjek 2 4.2.2.1 Identitas Diri

Nama (Inisial) : NL Jenis Kelamin : Laki-Laki

Usia : 72 Tahun

Jumlah suluk : 14 Kali

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologis.

Berdasarkan informasi yang didapat, peneliti menemukan seorang subjek yang telah memenuhi kriteria awal sebagai seorang salik. Informasi ini didapat berdasarkan wawancara peneliti sebelumnya dengan S1. Pada

Berdasarkan informasi yang didapat, peneliti menemukan seorang subjek yang telah memenuhi kriteria awal sebagai seorang salik. Informasi ini didapat berdasarkan wawancara peneliti sebelumnya dengan S1. Pada

Dokumen terkait