BAB III Metode Penelitian
3.7 Teknik dan Prosedur Analisa Data
Data yang diperoleh dari pendekatan kualitatif adalah berupa kata-kata.
Untuk itu perlu melakukan analisis data. Analisis data adalah proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan ide seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan ide tersebut (Bogdan dan Taylor dalam Moleong, 2005). Menurut Poerwandari (2007) proses analisa data meliputi:
a. Organisasi data secara rapi, sistematis, dan selengkap mungkin untuk memperoleh kualitas data yang baik, mendokumentasikan analisa yang dilakukan, serta menyimpan data dan analisa yang berkaitan dalam penyelesaian penelitian.
b. Koding dan analisa, dilakukan dengan menyusun transkrip verbatim atau catatan lapangan sehingga ada kolom kosong yang cukup besar di sebelah kanan dan kiri transkrip untuk tempat kode-kode atau catatan tertentu, kemudian secara urut dan kontinyu melakukan penomoran pada baris-baris transkrip, lalu memberikan nama untuk masing-masing berkas dengan kode tertentu.
c.Pengujian terhadap dugaan, berkaitan erat dengan upaya mencari penjelasan yang berbeda mengenai data yang sama. Peneliti harus mengikutsertakan berbagai persektif untuk memungkinkan keluasan analitis
serta memeriksa bias-bias yang mungkin tidak disadari.
d.Strategi analisa. Proses analisa dapat melibatkan konsep-konsep yang muncul dari jawaban atau kata-kata responden maupun konsep yang dipilih atau dikembangkan peneliti untuk menjelaskan fenomena yang dianalisa.
e.Interpretasi, yaitu upaya untuk memahami data secara lebih ekstensif dan mendalam. Peneliti memiliki persektif mengenai apa yang sedang ditelitidan menginterpretasi data melalui persektif tersebut. Peneliti beranjak melampaui apa yang secara langsung dikatakan partisipan untuk mengembangkan struktur-struktur dan hubungan-hubungan bermakna yang tidak segera tertampilkan dalam teks (data mentah atau transkrip wawancara).
BAB IV
ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL PENELITIAN
Pada bab ini akan dicantumkan hasil analisis data dalam bentuk narasi serta pembahasannya. Analisis data ini berfungsi untuk memberikan gambaran dalam memahami “Subjective Well-being (SWB) pada Salik”. Hasil penelitian akan diolah dengan cara dijabarkan, dianalisa, dan diinterpretasi berdasarkan keterangan masing-masing responden. Setelah itu, hasil analisis data akan dibahas dengan teori-teori yang telah dijabarkan pada bab sebelumnya.
Proses analisis data dilakukan dengan melakukan data coding (koding data) atau pengkodean data. Pengkodean data ini dilakukan untuk memudahkan peneliti dalam mengorganisasikan, menganalisa dan menginterpretasikan data.
Adapun contoh kode yang diguanakan adalahW4.MR.1, dan W5P1.MR.1. Kode tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: W4 dan W5 diartikan sebagai wawancara keempat dan wawancara kelima; P1 merupakan kode wawancara probing, dan 1 artinya probing pertama; MR merupakan inisial nama responden; 1 berarti analisis dapat ditemukan di baris nomor pertama.
4.1 Deskripsi Data
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologis.
Berdasarkan informasi yang didapat, peneliti menemukan seorang subjek yang telah memenuhi kriteria awal sebagai seorang salik. Ia adalah seorang pria yang berprofesi sebagai wirausahawan. Subjek 1 (S1) menyelesaikan jenjang pendidikan wajib belajar 9 tahun dan melanjutkan sekolah di STM selama 3 tahun. S1 sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Sehari-harinya selain berwirausaha, S1 aktif sebagai pengurus masjid di lingkungannya. S1 dibai’at ketika berusia 29 tahun dan melaksanakan suluk pertamanya pada tahun 1994. Sejak tahun 1994 S1
selalu pergi bersuluk pada saat bulan Ramadhan setiap tahunnya. Maka dari itu, S1 telah menjadi pengamal tarekat selama 25 tahun.
Pada hari Kamis tanggal 20 September 2018 peneliti mendatangi kediaman subjek untuk meminta ijin menjadikannya sebagai subjek 1 dalam penelitian ini. Kondisi rumah subjek terlihat sederhana dan peneliti menemukan bahwa subjek adalah seorang yang nyaman untuk diajak berbicara. Peneliti juga menemukan bahwa subjek adalah seorang yang gemar membaca buku terutama buku-buku tentang Ilmu Tasawuf.
Proses selanjutnya setelah mendapatkan kepastian bahwa subjek bersedia dijadikan subjek primer 1 (S1) dalam penelitian ini adalah peneliti melakukan validasi terhadap status subjek sebagai seorang salik dengan menggunakan data informan (subjek sekunder) atau melakukan allo-anamnesa. Teknisnya, berbekal teori yang diperoleh dari berbagai literatur tentang kriteria seorang salik, maka pada tanggal 21 September 2018 peneliti memulai wawancara untuk mencari informasi tentang subjek primer melalui seorang informan yakni istri dari subjek sendiri. Hasil dari data informan tersebut menyatakan bahwa subjek memenuhi kriteria sebagai seorang yang menjalankan proses suluk, maka valid jika dikatakan subjek adalah seorang salik (W1.TM.21/09/18).
Setelah memastikan bahwa subjek adalah seorang salik maka langkah selanjutnya peneliti melakukan deep interview dengan metode wawancara semi terstruktur untuk menggali secara dalam tentang kehidupan subjek, terutama yang berhubungan dengan proses suluk yang
dijalankan dan Subjective Well-Being (SWB) yang dimiliki. Peneliti menyesuaikan waktu wawancara dengan jadwal subjek dan lokasi saat wawancara selalu berada di rumah subjek. Deep interview beserta probingnya berlangsung selama 5 (hari) yakni dimulai pada hari Jumat tanggal 12 Oktober 2018 hingga Jum’at tanggal 16 November 2018.
Metode penggalian data yang digunakan selain wawancara adalah dengan observasi.
Hasil dari proses deep interview yang dilaksanakan adalah peneliti berhasil mengungkapkan berbagai bentuk dari amaliah suluk yang dijalankan, pengalaman-pengalaman unik yang dialami, kondisi psikologis subjek saat berproses mulai awal hingga saat ini, dan menemukan konsep Subjective Well-Being (SWB) pada diri subjek. Sedangkan melalui observasi, peneliti berhasil menemukan bukti penguat dari data hasil wawancara.
4.2.1.2 Jadwal Pengumpulan Data
No Keterangan Hari/ Tanggal Waktu
1. Pertemuan I Jum’at/ 12 Oktober 2018 16.30-17.00 WIB 2. Pertemuan II Jum’at/ 19 Oktober 2018 17.00-17.20 WIB 3. Pertemuan III Jum’at/ 26 Oktober 2018 16.40-17.20 WIB 4. Pertemuan IV Minggu/ 4 November 2018 17.10-17.40 WIB 5. Pertemuan V Jum’at/ 16 November 2018 17.00-17.30 WIB
4.2.1.3 Hasil Allo-anamnesa
Peneliti melakukan allo-anamnesa kepada orang terdekat S1, untuk mengetahui dan menggali lebih lanjut informasi yang berkaitan dengan kehidupan S1. Orang terdekat pertama S1 adalah istrinya. Menurut istrinya S1 adalah sosok yang sangat sederhana. Jika sandal S1 putus, ia akan lebih memilih untuk memperbaikinya daripada membeli yang baru. S1 juga jarang membeli baju baru. Istri S1 merasa bahwa S1 memiliki adab yang baik karena S1 selalu menjaga perasaan orang lain, menjaga lisannya, dan jika memiliki masalah S1 selalu menyerahkannya kepada Allah. Selain itu hubungan S1 dengan masyarakat juga terkenal baik. S1 aktif berperan dalam masyarakat seperti menjadi bilal, nazir, dan imam di masjid.
Pada lingkungan keluarga S1 dan istrinya berkomunikasi secara terbuka, semua masalah akan dibicarakan dan diselesaikan bersama.
Berdasarkan penuturan istrinya, sejak berumah tangga S1 tidak pernah menyakitinya dan mereka tidak pernah berkelahi. Kalaupun istrinya bersalah S1 hanya akan menegur dan menasehatinya secara baik-baik.
Akan tetapi menurut istrinya S1 cenderung berlaku keras terhadap anak mereka, didikan S1 keras terutama untuk hal yang berkaitan dengan urusan agama misalnya seperti solat. Istri S1 berkata dalam sehari S1 tidur selama 4-5 jam karena S1 memakai jam tidurnya untuk beribadah. Dalam hal makanan, menurut istrinya S1 tidak memiliki pantangan dan meskipun makan sedikit ia selalu menyantap habis apapun yang disediakan istrinya.
Istri S1 berkata bahwa S1 memiliki akhlak yang baik, karena menurutnya S1 tidak pernah menyakiti orang lain bahkan binatang sekalipun. Selain menyayangi binatang S1 selalu menjaga lisannya dan menjaga perasaan orang lain. S1 juga rajin mengamalkan puasa dan solat sunnah. Selain itu menurut istrinya, S1 memiliki dzikir yang luar biasa.
Dzikir tersebut berbeda dari dzikir orang biasa karena terdiri dari dzikir lisan dan dzikir qalbi yang disertai dengan tafakkur. Kemudian berdasarkan pengetahuan istrinya S1 selalu melaksanakan solat berjamaah ke masjid. S1 banyak menghabiskan waktu di mesjid dan sehabis solat di masjid S1 tidak langsung pulang ke rumah melainkan berdiam diri di masjid untuk berdzikir. Ketika di rumah S1 juga memiliki waktu dzikir tertentu, seperti setiap malam selasa S1 akan memimpin tawajuk (dzikir bersama). Tawajuk dilakukan di rumah S1 bersama orang-orang yang sudah mengikuti tarekat, dimulai dengan pengajian kemudian diikuti dengan berdzikir bersama-sama.
S1 dan istrinya mengikuti pengajian yang sama. Menurut istrinya S1 cukup bagus dalam menjalankan sunnah nabi. Hal ini dikarenakan S1 memiliki ilmu, kemudian memahami dan menerapkannya di kehidupan sehari-hari. S1 juga selalu meluangkan waktu untuk fokus melaksanakan suluk di bulan ramadhan setiap tahunnya. S1 biasanya pergi mengasingkan diri ke Besilam untuk bersuluk dengan frekuensi yang tidak tetap, dari selama 10, 20, 30 sampai 40 hari.
4.2.1.4 Hasil Auto-anamnesa a. Latar Belakang
Sedari kecil S1 sudah memiliki ketertarikan untuk mendalami ilmu agama. Bahkan ketika remaja S1 telah aktif dan menjadi wakil ketua remaja masjid dan organisasi keagamaan di kampungnya. Itulah sebabnya sampai saat ini pun S1 tetap aktif mengikuti kajian-kajian agama. Salah satu pengajian yang sudah lama dan rutin diikuti S1 adalah pengajian dengan Ustadz Nazaruddin. Pengajian tersebut membuat hubungan S1 dan gurunya sangat dekat. Menurut S1 karena kerajinannya mengikuti kajian, gurunya melihat ada kesungguhan beramal pada dirinya, sehingga ia pun diarahkan untuk mengambil tarekat dan bersuluk. S1 mengakui bahwa sebenarnya sedari dulu iajuga sudah memiliki niat untuk bersuluk namun terhambat karena tidak menemukan jalan dan memiliki pengetahuan yang awam mengenai suluk. Oleh karena itu S1 sangat bersyukur karena dengan bertemu guru mengajinyalah S1 memiliki jalan untuk bersuluk ke Besilamdan pada akhirnya menjadi seorang salik. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:
“Ya awalnya tadi ngaji sama Ustadz Nazar kan, ngaji sama baru beberapa tahun kemudian dia ngajak saya supaya ngambil tarekat sekalian suluk haa, sebelumnya memang ada keinginan untuk apa, cuma belum ada jalan. Ini dengan bertemu Ustadz Nazar ngaji sama dia, saya diajak ke Besilam untuk bersuluk, ha gitu.”.
(W4.MR.5a-5b)
“Hehe ya seperti remaja-remaja yang lainnya gitu kan, ya walaupun tidak…tidak apa, memang pernah menjadi wakil ketua remaja masjid, wakil ketua organisasi lainnya juga ya gitu aja hehe”.
(W4.MR.7)
“Iya memang dari dulu sudah apa..suka sama mendalami agama gitu kan”.
(W4.MR.8)
“Awalnya, awalnya saya mengaji sama Ustadz kan mengaji, kemudian kan mungkin karena di lihatnya saya sering mengaji artinya kesungguhan untuk beramal itu ada dan saya dibawanya, dibawanya ke Besilam untuk bersuluk ke rumah suluk ha awalnya itulah. Suluk ayok suluk kita, ha artinya saya diajak untuk bersuluk oleh Ustadz nazaruddin.”.
(W4.MR.9)
“Iya Ustadz itu duluan yang mengajak saya, kan saya pada saat itu kan awam sekali.”.
(W4.MR.10) Setelah diarahkan dan diajak oleh gurunya S1 mau ikut pergi bersuluk ke Besilam. Alasan S1 mau diajak bersuluk adalah karena ia memiliki semangat ibadah yang tinggi. Adapun alasan mengapa S1 lebih memilih proses atau jalan suluk dibandingkan jalan yang lain adalah karena mendapatkan ketenangan dan kepuasan bathin serta tercapainya fokus bathin. Menurut S1 yang paling penting dalam beribadah adalah fokus bathin, karena dengan tercapainya fokus bathin-lah suatu ibadah akan lebih sempurna. Kemudian, fokus bathin tidak dimiliki oleh semua orang dan hanya bisa didapatkan melalui dzikir dan bersuluk. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:
“Karena tadi kepuasan eh ketenangan bathin dan kepuasan bathin karena fokusnya tadi itu, ya..itu ibadah apa pun dia namanya namun fokusnya kita tidak kepada yang kita ibadahi, umpamanya kita sembahyang solat umpamanya kan. Kan kita itu solat itu menyembah Allah ha jadi fokus bathin itu memang saat itu hanya kepada Allah semata, ha itu yang tidak dimiliki oleh semua orang dan itu akan didapati dengan dzikir dan suluk ha kesadaran ini fokus dia kepada Allah semata tidak kepada yang lain”.
(W4.MR.11a-11c)
“Karena memang semangat ibadah saya ha memang”.
(W4.MR.12)
“Karena ya itu tadi itu, memang ibadah apapun itu kalau memang tidak...tidak fokus tidak sempurnalah ibadah kita mungkin dengan...dengan bersuluk sehingga bathin kita fokus kepada apa yang kita sembah itu”.
(W4.MR.14) Bermula dari ajakan guru dan kemauan yang kuat untuk memperdalam agama akhirnya S1 melaksanakan suluk pertamanya pada tahun 1994 ketika berusia 29 tahun. Pada saat itu seluruh keluarga S1 mendukungnya untuk pergi bersuluk ke Besilam. Saat sampai ditempat suluk, S1 banyak melakukan ibadah terutama berdzikir. Saat berada di rumah suluk S1 berdzikir secara lisan dan secara hati, dengan pikiran atau kesadaran yang hanyalah kepada Allah semata. Adapun posisi berdzikir saat suluk adalah duduk seperti saat bermeditasi, dengan posisi tangan yang terbuka seperti berdoa. Selain itu, S1 juga menggunakan tasbih ketika berdzikir. Selama bersuluk S1 akan merasakan kenyamanan. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:
“S1 merasa nyaman saat bersuluk”.
(W4.MR.16)
“Yah mereka senang aja selama gak menyimpang dengan agama kan ya”.
(W5P1.MR.3)
“Memang duduk dia”.
(W5P1.MR.7)
“Ah gak, tangannya itu gini, dibuka, ha ini artinya ini mengharap, semacam doa dia ha, dengan tasbih gitu kan, dengan mengarahkan dzikir itu ke hati sanubari kita, gitu. Jadi hati mengucapkan dzikir Allah…Allah…tapi kesadaran kita hanya mengingat-ingat hanya kepada Allah semata, jadi gak kemana-mana dia”.
(W5P1.MR.8a-8b) b. Aspek Subjective Well-Being
i. Cognitive Subjective Well-Being (Life Satisfaction)
Menurut S1 berdasarkan pengalamannya, pergi bersuluk tentunya akan mengganggu aktifitas sehari-hari. Hal ini dikarenakan ketika pergi bersuluk seorang salik akan meninggalkan aktifitas kesehariannya dan benar-benar fokus terhadap kegiatan suluknya. Oleh karena itu, untuk menjaga agar seorang salik tetap fokus bersuluk, tuan guru S1 dari Besilam memberikan amanah yang bunyinya ialah “carilah dunia, carilah harta setahun tapi beribadah lah sebulan”. Ini berarti ketika pergi bersuluk seorang salik haruslah ada meninggalkan harta untuk keluarganya, karenatuan guru Besilam pun tidak akan menerima orang bersuluk jika tidak ada harta yang ditinggalkan untuk keluarganya. S1 juga menjelaskan bahwasanya pergi bersuluk itu sama halnya seperti pergi mati. Oleh karena itu ada baiknya jika sebelum pergi bersulukuntuk meminta maaf kepada seluruh keluarga, lingkungan, dan tetangga, serta menyelesaikan segala urusan di rumah terlebih dahulu. Dengan demikian maka salik pun akan lebih fokus dalam melaksanakan proses bersuluknya. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:
“Mm...iya, kalau dari amanah tuan guru Besilam carilah hartamu eh carilah dunia carilah harta setahun tapi beribadah lah sebulan.
Ha mencari harta setahun dan beribadah lah sebulan, jadi artinya dengan setahun itu kita beraktifitas dengan bekerja keras”.
(W6.MR.3a-3b)
“Iya dan itu memang musti...musti yang ditinggalkan musti ada.
Nah umpamanya kita bersuluk jadi harta yang ditinggalkan untuk
keluarga musti ada, ha itu, jadi kita ga lepas suluk terus yang ditinggalkan gak ada, jangan seperti itu ha, tuan guru pun ga memebenarkan yang seperti itu”.
(W6.MR.4a-4b)
“Iya dengan rejeki yang ada dan kita dari tuan guru sendiri pun, tuan guru Syeikh Besilam dia tidak akan menerima atau pun meng…meng apa, memberi seseorang itu apa…suluk jika tidak ada harta yang ditinggalkan untuk keluarga, jangan sampai, jangan sampai e... keluarga itu mengganggu ha bisa mengganggu dia dalam kita beribadah suluk. Kalau umpamanya di rumah tidak nyaman dia akan terganggu. Jadi kita selesaikan dulu di rumah, segala hal, haa…suluk ini seperti kita akan pergi mati, kita akan meminta maaf sama seluruh keluarga, lingkungan, sama tetangga, seperti itu dia. Jadi tidak ada…jangan sampai dalam beribadah suluk itu terganggu oleh keluarga, nafkah, dan lain-lain sebagainya”.
(W7P2.MR.10a-10c) Setelah mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan dan telah sampai di rumah suluk, selanjutnya salik akan dipertemukan dengan seorang tuan guru. Begitu pula dengan S1, selama bersuluk ia dibimbing oleh Syeikh Simal Sarwani, seorang tuan guru di Besilam. Jadi setiap kembali bersuluk ke Besilam S1 akan selalu dibimbing oleh tuan guru yang sama, tidak akan diganti, karena selama masih hidup tuan guru tersebut akan selalu membimbing rumah suluk. Adapun rentang waktu suluk yang dijalani setiap orangitu berbeda-beda, tergantung kemampuan dan rejeki pada setiap orang. Semakin lama waktu bisa diluangkan, semakin banyak rejeki yang bisa ditinggalkan kepada keluarga, maka semakin lama pulalah seseorang bisa bersuluk. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:
“Oh gak sama ada 10 hari ada 20 hari ada yang keluar duluan, ya memang rejeki dia...dia mampu bawa nafkah ke suluk sekian yang ditinggalkan di rumah juga sekian, jadi terbatas ya kan. Kemudian
waktu dia juga, umpamanya kalau dia bekerja, atau berladang, atau bekerja di pemerintah kan ada batas waktu jadi dia tidak meninggalkan pekerjaan itu, bersuluk tidak mengganggu aktifitas dia. Dia mampunya 10 hari, 10 hari, 20 hari 20 hari ha gitu kan, tergantung kesanggupan dia, nafkah dan tidak terganggu pekerjaan di rumah ha gitu.”.
(W6.MR.9)
“Ha iya…”.
(W7P2.MR.12)
“Ada, ada namanya Syeikh Simal Sarwani, tuan guru Besilam”.
(W7P2.MR.13)
“Iya, selama dia masih hidup ya dia tetap, tetap membimbing rumah suluk”.
(W7P2.MR.14) Saat bersuluk dan bertemu tuan guru ada adab-adab tertentu yang harus dijaga. Adab-adab tersebut sudah diatur dari awal sampai akhir bersuluk. Pada tahap awal, adab pertama yang dilakukan dalam bersuluk adalah dengan mengenalkan diri dan menitipkan diri kepada tuan guru.Untuk selanjutnya adab dan amalan suluk yang dilakukan akan berbeda dari hari sebelumnnya. Hal ini dikarenakan adanya penyesuaian dengan kemampuan masing-masing salik. Kemampuan salik yang dimaksud adalah pengalaman-pengalamanberdzikir yang dirasakan salik pada saat bersuluk.Pengalaman berdzikir ini bisa juga disebut sebagai pengalaman rohani yang hanya boleh diceritakan kepada tuan guru saja.Maka dari itu, pengalaman rohani setiap orang akan berbeda dan dari sinilah tingkatan suluk seorang salik akan ditentukan. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:
“Ya ada adab-adabnya. Pertama itu berjumpa tuan guru, memperkenalkan diri tuan guru saya mau masuk suluk tolong jaga saya lahir bathin”.
(W6.MR.11)
“Ha iya iya, semua sudah diatur”.
(W6.MR.12)
“Gak, awal...awalnya aja. Kalau setiap harinya ada memang kalau kita dalam beramal itu ada...ada pengalaman berdzikir tadi itu kita akan ngomong sama tuan guru, tuan aku seperti ini seperti ini, oh ya dan dia akan tambah dzikir kita. Itulah yang ga bisa diceritakan itu, hanya tuan guru lah bisa cerita sama dia, karena itu untuk menaikkan tingkat kita nanti, sehingga teman sesama suluk kita itu tidak boleh tahu. Hanya guru dan kita yang boleh tahu, hm teman kita gak boleh tahu, kenapa? Karena akan mengganggu dzikir teman kita nanti itu. Karena dari pengalaman-pengalaman rohani tadi itu, itulah untuk menaikkan tingkatan dia, misalnya sekian oh ini naik gitu, gak bisa mencontek, ga bisa sama semua, pengalaman rohani mana bisa sama kan, pakaian dia dipakai sama orang lain ga pas gitu. Pakaian dia ya pakaian dia orang mau memakai pakaian dia ga pas gitu, orang gemuk sementara dia kurus ya longgar, gak bisa ha.”.
(W6.MR.13a-13c) Ketika berada di rumah suluk terdapat beberapa bentuk amaliah suluk yang dilakukan S1. Hal tersebut diantaranya adalah: menjaga wudhu, solat tepat waktu dan berjamah, terus beribadah dan berdzikir bersama-sama dengan guru serta teman-teman suluk lainnya.Amaliah suluk tersebut dilaksanakan S1 rutin setiap harinya. Selain itu, S1 juga melakukan tafakkur, bahkan sampai merasa ada yang kurang apabila ia melewatkan atau tidak melakukan tafakkur. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:
“Ah yang tadi itu e...wudhu terjaga, waktu solat tepat waktu, berjamaah lagi, bersama guru ha, bersama teman-teman ha itu dia”.
(W6.MR.5)
“Ha iya rutin”.
(W6.MR.6)
“Ya macam ada yang kurang, gitu haa….jadi ini kan dengan tafakkur ini terpenuhilah kekurangan kita ini”.
(W7P2.MR.2) S1 adalah orang yang sederhana. Ia tidak memiliki keinginan untuk bermewah-mewah karena fokus utama S1 tidak tertuju pada harta dan hal-hal duniawi, melainkan hanya untuk beribadah. Itulah sebabnya S1 suka bersuluk, karena dengan bersuluklah akan tercapai fokus tersebut, baik fokus kesadaranmaupun fokus kondisi spiritual yang hanya tertuju kepada Allah semata. Selain itu sejak bersuluk S1pun merasa bahwa orang-orang semakin mendekat, semakin sayang, dan nyaman dengan kehadiranya. Hal tersebut diungkapkan S1 melalui kutipan wawancara berikut ini:
“Iya, ha kondisi sritual itu kesadaran kita itu, ingatan kita hanya kepada Allah semata ha”.
(W6.MR.7)
“Fokus kesadaran kita hanya kepada Allah”.
(W6.MR.8)
“Apa ya, ha orang semakin dekat sama kita, ha dekat sama kita, sayang sama kita, dengan kehadiran kita orang tidak curiga yakin orang ini ga mungkin berbuat yang enggak enggak ha gitu. Karena dengan prosedur tadi itu bukan berarti kita jauh dari masyarakat, enggak. Malah kita bisa beradaptasi dengan masyarakat”.
(W6.MR.14)
“Ha iya……”.
(W7P2.MR.3)
“Iyaa heheh bagaimana mana dibilang ya, memang seperti itu, ga ada keinginan untuk ber wah-wah gitu”.
(W7P2.MR.4)
“Tidak…tidak tidak itu, tidak tertuju kesitu, walaupun ada aa…ya namanya juga manusia ada keinginan-keinginan, umpamanya
pengen mau pigi haji haa…yang kayak gitu ada tapi ga terlalu ga
pengen mau pigi haji haa…yang kayak gitu ada tapi ga terlalu ga