• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV Analisisi dan Interpretasi Hasil Penelitian

4.2 Analisa Data

4.2.2 Subjek 2

Nama (Inisial) : NL Jenis Kelamin : Laki-Laki

Usia : 72 Tahun

Jumlah suluk : 14 Kali

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologis.

Berdasarkan informasi yang didapat, peneliti menemukan seorang subjek yang telah memenuhi kriteria awal sebagai seorang salik. Informasi ini didapat berdasarkan wawancara peneliti sebelumnya dengan S1. Pada wawancara pertama peneliti dengan S1 untuk pertama kalinya S1 menyinggung tentang pengajian yang telah lama ia ikuti. S1 mengungkapkan bahwa gurunya merupakan sosok yang hebat dan berjasa dalam kehidupan S1. S1 juga menyatakan bahwa ia sangat bersyukur terhadap guru mengajinya karena telah mengajarinya ilmu tarekat dan menyarankannya untuk ikut bersuluk. Hal inilah yang membuat peneliti berinisiatif untuk mengambil data guru/ ustadz mengaji tersebut sebagai Subjek Primer 2 (selanjutnya akan disingkat dengan S2).

S2 adalah seorang pria yang berprofesi sebagai ustadz atau guru mengaji. S2 sudah menikah dan memiliki 6 orang anak dari istri pertama dan keduanya serta memiliki 10 orang cucu. Sebagai seorang ustadz S2 telah aktif berperan dalam hal keagamaan dimasyarakat, seperti menjadi imam, pengurus masjid, dan guru mengaji. S2 juga sering bepergian ke

daerah-daerah pedalaman untuk menyebarkan dan mengajarkan ajaran Islam. S2 telah menyelesaikan jenjang pendidikan wajib belajar 9 tahun dan melanjutkan sekolah di SLTA selama 3 tahun. S2 juga sempat duduk di bangku perkuliahan selama kurang lebih 2 tahun tepatnya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. S2 dibai’at ketika berusia 31 tahun dan melaksanakan proses suluk selama 7 tahun, yang dimulai dari tahun 1979 hingga tahun 1986. Hingga saat ini S2 telah menjadi pengamal tarekat selama 41 tahun.

Pada hari Kamis tanggal 27 September 2018 peneliti mendatangi kediaman subjek untuk meminta ijin menjadikannya sebagai subjek2 dalam penelitian ini. Kondisi rumah subjek terlihat sederhana dan memiliki ruang tamu yang luas. Peneliti menemukan bahwa subjek adalah seorang yang nyaman untuk diajak berbicara dan ia adalah seorang yang gemar membaca dan berdiskusi.

Proses selanjutnya setelah mendapatkan kepastian bahwa subjek bersedia dijadikan subjek 2 dalam penelitian ini adalah melakukan validasi terhadap status subjek sebagai seorang salik dengan menggunakan data informan (subjek sekunder) atau melakukan wawancara allo-anamnesa.

Teknisnya berbekal teori yang diperoleh dari berbagai literatur tentang kriteria seorang salik. Pada tanggal 28 September 2018 peneliti memulai wawancara untuk mencari informasi tentang subjek 2 melalui seorang informan yakni murid sritual dari subjek sendiri. Hasil dari data informan tersebut menyatakan bahwa subjek memenuhi kriteria sebagai seorang

yang menjalankan proses suluk, maka valid jika dikatakan S2 adalah seorang salik (W2.MR.28/09/18).

Setelah memastikan bahwa S2 adalah seorang salik maka langkah selanjutnya peneliti melakukan deep interview dengan metode wawancara semi terstruktur untuk menggali secara dalam tentang kehidupan subjek, terutama yang berhubungan dengan proses suluk yang dijalankan dan Subjective Well-Being (SWB) S2. Atas permintaan S2 peneliti menyesuaikan waktu wawancara dengan jadwal pengajian rutin di rumah S2 yang dilakukan setiap hari sabtu. Deep interview beserta probingnya berlangsung selama 5 (hari) yakni dimulai pada hari Sabtu tanggal 22 Desember 2018 hingga hari Sabtu tanggal 2 Maret 2018. Metode penggalian data yang digunakan selain wawancara adalah dengan observasi.

Hasil dari proses deep interview yang dilaksanakan adalah peneliti berhasil mengungkapkan berbagai bentuk dari amaliah suluk yang dijalankan, pengalaman-pengalaman unik yang dialami, kondisi psikologis subjek saat berproses mulai awal hingga saat ini, dan menemukan konsep Subjective Well-Being (SWB) pada diri subjek. Sedangkan melalui observasi, peneliti berhasil menemukan bukti penguat dari data hasil wawancara.

4.2.2.2 Jadwal Pengumpulan Data

No Keterangan Hari/ Tanggal Waktu

1. Pertemuan I Sabtu/ 22 Desember 2018 15.00-16.00 WIB 2. Pertemuan II Sabtu/ 29 Desember 2018 16.00-16.40 WIB 3. Pertemuan III Sabtu/ 16 Februari 2019 16.40-17.50 WIB 4. Pertemuan IV Sabtu/ 23 Februari 2019 16.00-17.00 WIB 5. Pertemuan V Sabtu/ 02 Maret 2019 16.30-17.20 WIB

4.2.2.3 Hasil Allo-anamnesa

Peneliti melakukan wawancara allo-anamnesa kepada orang terdekat S2 untuk mengetahui dan menggali lebih lanjut informasi yang berkaitan dengan kehidupan S2. Orang terdekat S2 adalah murid spiritualnya yang bernama Muhammad Rasyid (selanjutnya akan disingkat dengan MR). Menurut MR, S2 adalah sosok yang sangat menjaga ibadah, menjaga wudhu, danmenjaga lisannya. S2 suka membagikan pengalaman hidupnya kepada muridnya serta menampung aspirasi atau keluhan-keluhan muridnya. S2 juga sering membantu MR menyelesaikan masalahnya dan selalu mengayominya. Oleh karena itu, MR tidak hanya menganggap S2 sebagai guru, tetapi juga sebagai orang tua dan sahabatnya. Menurut MR selain bersikap baik terhadap muridnya, S2 juga memiliki interaksi yang baik dengan orang lain atau masyarakat. Selain itu pada lingkungan tempat tinggalnya selain berperan sebagai imam, S2 juga dikenal sebagai orang yang ramah.

Berdasarkan penuturan MR, S2 adalah orang yang sangat sederhana. S2 selalu hidup sederhana, rumah S2 tidak memiliki harta benda di dalamnya, baju yang dipakai itu-itu saja, dan S2 tidak memiliki kenderaan. S2 juga tidak cinta dunia bahkan S2 lebih mengutamakan agama di atas anak istri dan hartanya. Selain itu MR juga berpendapat bahwa S2 memiliki karakter yang keras tetapi tetap sesuai dengan ajaran agama. Maka dari itu S2 tidak akan segan mengkritik pemerintah jika memang bersalah. Namun menurut MR, S2 keras dalam hal perkataannya saja dan tujuannya pun adalah untuk mendidik. Selain itu, hal-hal yang disampaikan S2 adalah kebenaran sehingga pada akhirnya orang pun tidak marah.

Selama menjadi murid spiritual S2, MR merasa bahwa S2 sangat bersungguh-sungguh dalam mengajar ngaji dan senantiasa aktif mengajarkan agama. Bahkan meskipun sedang sakit, S2 selalu tetap berusaha menyambut muridnya. Selain itu S2 tidak pandang bulu terhadap orang, begitu pula dalam mengajar. S2 juga tidak mengaharapkan imbalan dari jamaah bahkan dalam mengajar sekalipun. Kemudian MR bercerita bahwa selama 3 bulan S2 pernah pergi ke Kabanjahe untuk mengislamkan orang Karo tanpa mengharapkan imbalan. Pada saat itu S2 menggunakan hartanya untuk menafkahi anak-istri nya di rumah dan mendidik orang Karo untuk mengenal agama Islam. Maka dari itu menurut MR, S2 memiliki akhlak yang baik karena meskipun sedang kesusahan S2 tetap akan memberi kepada yang susah.

Sepengetahuan MR, S2 merupakan guru tua dalam persulukan. S2 juga merupakan guru suluk MR. S2 sebagai orang naqsabandi akan berkhalwa (mengasingkan diri) di rumah suluk. MR juga bercerita bahwa S2 rajin melaksanakan ibadah, senang berpuasa dan berdzikir. Menurut MR puasa S2 adalah hawas muhawas yang artinya berpuasa menahan lapar dan tidak berkata yang haram serta menjaga hati dengan selalu berdzikir. Selain itu S2 berdzikir secara lisan dan juga qalbi dan dzikir S2 sebagai orang tarekat naqsabandi memiliki tahap-tahap tingkatan.

4.2.2.4 Hasil Auto-anamnesa a. Latar Belakang

S2 dulunya adalah seorang anak yang nakal. S2 bercerita dulu ketika ia nakal, ibunya akan menghukumnya dengan cara memecahkan cabai rawit ke mulutnya sampai ia menangis. Selain itu saat duduk di bangku SMP S2 selalu terlibat perkelahian setiap minggunya, namun meskipun nakal S2 tidak pernah mencuri. Kemudian setelah lulus SMP, S2 diajak oleh abangnya pergi merantau dan melanjutkan sekolah SLTA ke Medan. Sejak pindah ke Medan kenakalan S2 menghilang karena sibuk bekerja untuk membiayai sekolahnya mulai dari SLTA sampai duduk di bangku kuliah. Ketika kuliah S2 juga melakukan kerja sambilan sebagai pedagang. Sejak saat itu pertemanan dan jaringan komunikasi S2 pun semakin luas dan akhirnya ia memiliki 10 teman dekat. Hal tersebut diungkapkan S2 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Kalau tingkat kenakalan, saya pikir saya cukup nakal. Karena saya sekolah SMP itu kalau satu minggu saya gak berantam, badan saya gatal aja rasanya”.

(W9.NL.8)

“Itu SMP ya. Sejak SMP katakan kelas 1 sampai kelas 3, dan lagi cerita saya sekitar tahun 59 sampai 63. Itu SMP ya. Tapi kemudian setelah lulus SMP, saya diajak abang saya mendiang sudah, almarhum, merantau ke Medan untuk dilanjutkan sekolah.Nah di Medan ini, ya kita datang dari keluarga yang sangat terbatas.

Akhirnya kenakalan saya yang itu hilang”.

(W9.NL.9)

“Karena saya harus berjuang mencari biaya untuk saya sekolah mulai di SLTA sampai saya kuliah di fakultas Hukum saya harus cari biaya sendiri. Nah ini penyebab hilangnya kenakalan saya itu.

Nah di dalam menjalani pendidikan di Medan, sejak tahun 64 sampai 67 SLTA saya selesai eh saya terus melanjut melamar kuliah di Fakultas Hukum USU. Ya, semakin teman pergaulan semakin meluas. Selama saya jadi katakan pedagang kecil untuk melayani pelanggan dengan beragam wawasan dan karakter pelanggan, saya akhirnya terdidik di lapangan. Ya, berkomunikasi dengan yang di atas saya usianya. Ya, pada akhirnya ketika di masa Fakultas Hukum, saya punya kawan cuma ada 10 orang yang cabenya. Ha, jadi pas yang saya nakal itu ancamannya cabe kecil”.

(W9.NL.15) Selama kuliah di Fakultas Hukum USUS2 dan teman dekatnya sering berdiskusi di luar jam kuliah. S2 bercerita, pernah suatu ketika S2 dan kawannya berada di toko buku danS2 tertarik dengan sebuah buku yang berjudul “Jiwa Agama”. Pada hari berikutnya S2 dan temannya mendiskusikan buku tersebut dan menyimpulkan bahwa rupa dan dimensi ilmu bukanlah seperti yang mereka ketahui sebagai mahasiswa selama ini.

Bukan hanya itu, menurut S2 ilmu yang sedang mereka pelajari tak lebih

dari kolaborasi panca indera, intelektualitas, dan emosi saja. Bahkan menurut S2 mahasiswa itu belajar hanya sebatas substansi saja belum sampai pada esensinya. Hal tersebut diungkapkan S2 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Kami punya sama-sama punya bakat sastra. Jadi setiap di luar jam kuliah, kita selalu bicara tentang sastra, seni, dan ya ditambah dengan ilmu-ilmu pemikiran materi yang ada di fakultas hukum, yah, akhirnya saya dengan sering berjalan sama kawan saya ini satu kali saya, kami berdua pergi ke toko, disitu saya aneh melihat judul buku judulnya Jiwa Agama. Saya tengok, apa ini Jiwa Agama, saya dari Fakultas Hukum kan kita disitu belajar tentang analogi, rukun islam, itu Jiwa Agama ini apa ini? Itu di tahun 72”.

(W9.NL.11a-11b)

“Nah, setelah sampai di rumah saya baca pengarangnya Imam Al Razali. Itu terjemahan dari kitab asli Iyya Ulumuddin. Jadi ketika buku tebal, segini, saya baca bersama kawan itu, kami kadang-kadang diskusikan, kami sampai pada kesimpulan bahwa berdasarkan buku ini, ilmu itu rupanya, dimensinya, bukan seperti yang kita ketahui sebagai mahasiswa gak ada rupanya, yang kami katakan bahwa ilmu yang kita sedang pelajari ini tak lebih dari kolaborasi panca indera, intelektualitas, dan emosi, saya bilang”.

(W9.NL.12a-12b)

“Oh iya…saya dengan rumusan bahasa mahasiswa, saya sering bilang begini, realitas hidup ini dengan deretan ada hal bentuk luar ya, kemudian di di dalamnya ada substansi, dikedalaman lagi ada esensi, tapi ketika saya bertanya perbedaan subtsansi dan esensi dengan guru besar Fakultas Teknik USU Prof. Dr. Hamidah Harahap. Saya tanya, Prof, apa yang membedakan antara substansi dan esensi, saya bilang. Dia jawab begini, dia bilang ada persamaan adalah, tapi esensi lebih berbeda dari pada subtansi. Itulah realitas hidup ini. Jadi, kalau saya tadi katakan karena kawan saya itu kalau kita belajar sebagai mahasiswa ini, paling-paling kita bisa tau semua pada sebatas substansi saya bilang………….”.

(W10P1.NL.4a) Setelah mengalami keraguan atas ilmu yang ia ketahui, S2 terus memikirkan dan mencari tahu jawaban persoalannya. Pada akhirnya S2 menemukan bahwa ilmu memiliki 2 dimensi, yaitu: 1. Ilmu yang

didapatkan dari guru dan kehidupan alam. Kemudian 2. Ilmu yang diceritakan oleh pencipta alam sendiri, yang hanya dimiliki oleh murid tarekat yang diberi keberuntungan. Untuk langkah selanjutnya S2 memutuskan bahwa ia harus masuk ke wilayah ilmu yang dimensinya berbeda. Oleh karena itu pada tahun 1974, S2 pun mulai belajar ilmu thariqat dari seorang guru di jalan gaharu. Selanjutnya pada tahun 1978, S2 belajar dengan Khalifah Amin dari Lubuk Pakam. Kemudian akhirnya pada tahun 1979 S2 belajar di Besilam sampai dengan sekarang. Hal tersebut diungkapkan S2 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Dan kawan saya itu bertanya, kalau sudah begini apa langkah kita? katanya. Ini berdasarkan buku ini kita harus masuk ke wilayah ilmu yang lain lagi dimensinya, saya bilang. Nah, di tahun 74 saya mulai belajar ilmu thariqat ini. Sampailah sekarang saya belajar di Besilam itu. Jadi 1974 saya mulai belajar dari seorang guru di jalan gaharu, akhirnya tiba-tiba saya belajar lagi sama guru dari Lubuk Pakam namanya panggilannya khalifah Amin ya, kemudian habis dari khalifah Amin saya belajar lagi terus itulah kepada tanjung pura Besilam tahun 78. Jadi tragedisasinya tahun 74, 78, 79 tiga tahap ini saya lewati. Nah akhirnya saya lebih kerasan di Besilam sampai hari ini saya tetap bahagian dari sana.

Yaitu yang kita bilang GR nya ya, yang gak GR nya, ya kalau dulu gak betumbuk dua kali satu minggu”.

(W9.NL.13a-13d)

“Artinya itu tadi bahwa ilmu itu cuma ada 2 dimensi rupanya. Itu lah ilmu yang bisa kita pelajari melewati diri seorang guru, bisa kita dapatkan melewati kehidupan alam ini sendiri, tapi ada satu bahagian tidak bisa didapat kecuali si pencipta alam itu sendiri yang bercerita, iya…itu yang dimiliki para murid-murid tarekat yang diberi keberuntungan………..”.

(W10P1.NL.7a) Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, S2 mencari biaya kuliah sendiri dengan berdagang. Namun pada tahun 1972, S2 melihat adanya kemungkinan janggal melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum USU

dikarenakan kondisi perdagangannya yang memburuk. Untuk mengalihkan pikiran frustasi dan depresi dari gagal melanjutkan kuliah, S2 memutuskan untuk memperdalam ilmu agama. Kebetulan pada saat itu S2 memiliki tetangga seorang Ustadz yang di rumahnya orang-orang berkumpul setiap malam. Berdasarkan rasa penasaran pada pengajian tersebut pada tahun 1972,S2mulai belajar ilmu dzikir dengan Ustadz Arsyad yang merupakan tetangganya tadi. Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1974 S2 diajak ibu mertuanya untuk belajar ilmu tarekat di jalan gaharu.

Selanjutnya pada tahun 1975, S2 dan ibu mertuanya telah bergelar Khalifah dan Syarifah. Kemudian pada tahun 1978 meskipun belum ikut suluk, S2 sudah mengikuti tawajuk (dzikir bersama) dengan Khalifah Amin. Tawajuk merupakan salah satu hal yang berkaitan dengan suluk, maka dari itu pada tahun 1979 muncul keinginan S2 untuk pergi bersuluk ke Besilam. Akhirnya pada tahun 1979 S2 untuk pertama kalinya pergi bersuluk ke Besilam dan melakukan suluk selama 20 hari. Akhirnya pada tahun 1986 S2 telah diwisuda dari persulukan. Hal tersebut diungkapkan S2 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“Oh iya betul betul. Ah..ya saya memang ketika gagal meneruskan kuliah tahun 72 saya stambuk tahun 70 di Fakultas Hukum tapi terdaftar sore, ekstramen istilahnya mahasiswa ekstra. Ketika itu saya memang berjuang cari biaya sendiri kuliah. Ketika dari tahun 72 kondisi perdagangan jualan saya memang memburuk, saya mulai melihat kemungkinan janggal kuliah. Sejak tahun 72 itu kebetulan saya bertetangga, dia baru menikah dengan tetangga saya Ustadz itu, saya pulang, saya lihat di rumahnya selalu kumpul orang banyak kalau malam. Satu kali saya pergi ke sana, nah disitulah, namanya Ustadz Arsyad, tapi sudah meninggal sekarang.

Akhirnya disitulah mulai saya menghindari kemungkinan apa ya...gagal kuliah itu apa namanya ya...frustasi atau depresi ya,

menghindari itu saya lari, ini harus mencari jawabannya, saya ikuti ketika saya sudah menikah dengan ibu saya dibawa kesana belajar.

Nah tahun 75 tiga tahun kemudian saya pindah kesini, di tahun 75 saya sama ibu itu pun sudah resmi di gelar Khalifah ya. Tapi tahun 78 ketika saya jualan di pulau Brayan Kota saya lihat ada orang berjubah tua, seumur sayalah kira-kira sekarang itu dulu ya. Saya lihat dia asal lewat di muka kios saya, saya ikuti oh masuk ke situ.

Nah orang yang tinggal di gang itu ada pelanggan saya, saya tanya, pak saya kemaren lihat gini-gini. Iya itu rumah saya katanya, ah

Nah di tahun 79, ha tadi pertanyaan awal bagaimana proses suluk, ini proses awal. Tetapi karena sudah dari tahun 72 dzikir dzikir sampai pada tahun 78 ada semacam ketidak relaan saya jualan ini, kenapa? Saya jualan ini saya lihat kalau saya mau pergi solat ke mesjid simpang itu, saya minta tolong sama kawan saya yang datang membeli, tolong kau jaga kedai saya mau solat. Tapi kok lama-lama aku yang solat dia yang jaga kedai aku, dia gak solat itu haa, kupikir aku itu gimana ya, kubiarkan orang tak solat, aku solat.

Ha ini lah mulai muncul dia tak senang aku liat jualan itu jadinya, wah ini merusak, merusak ini. Merusak diriku, merusak orang gitu, ha itulah yang saya rasakan. Nah, tiba-tiba datang saja keinginan terbanglah suluk ke Besilam. Tahun 79 saya berangkat, jadi saya suruh pembantu saya yang jaga, kau jaga saya mau suluk, 20 hari waktu pertama sekali saya. Ya itulah sampai situ ya alhamdulillah saya kalau istilahnya akademi di tahun 79 itu guru saya adalah ayah dari guru yang sekarang memimpin, tuan syeikh ayahnya guru saya di tahun 79. Nah pada tingkat dia itu pada waktu itu saya kalau dibawa ke akademik saya sedang menyusun skripsi, di wisudanya tahun 86, disitulah kesulitan saya melakukan suluk itu banyak kali hambatan saya. Ha jadi kalau apa jawab pertanyaannya itulah proses dan ada satu hal yang mungkin juga tadi, di tahun 72 masih kuliah……….”.

(W9.NL.18a-18j)

S2 bercerita bahwa pada saat awal mula S2 menjadi ustadz, ia mengajar ngaji para pemuda pancasila dan preman. S2 juga dikenal sebagai ustadz yang tidak mau menerima amplop sehingga sering dicurigai dan dikawal oleh TEKAB (tim pokok, tim khusus anti bandit). Akan tetapi S2 tidak pernah tertangkap. Menurut S2, TEKAB tidak menemukan kejanggalan dalam pengajiannya dikarenakan ia pernah belajar ilmu hukum sehingga bisa memilih apa yang boleh dan tidak boleh disampaikan dalam kajiannya. Kemudian berdasarkan penuturan S2 setelah menjadi salik, ia telah menjadi ustadz sejak tahun 1982 dengan meninggalkan mata usaha (dagang). Sejak itu S2 pun mengalami berbagai masalah dan kesulitan hingga akhirnya pada tahun 1985 ia mulai bangkit dan dikenal banyak orang. Setelah meninggalkan dagangannya, cara S2 untuk bertahan hidup dan menghidupi 6 anaknya adalah dengan menjual semua simpanan yang ada dari sisa-sisa usahanya hingga rata kosong. Selanjutnya meskipun S2 tidak mau menerima amplop, murid S2 berinisiatif memberikan bantuan barang atau uang kepada istri S2. Selain itu, jemaah S2 juga membantunya membangun rumah yang sebelumnya hanya berisi tikar saja. Hal tersebut diungkapkan S2 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“………...Mudah-mudahan ini dari sejak 82 saya sudah jadi ustadz dengan meninggalkan mata usaha seperti yang dikatakan khalifah Rasyid saya di kenal di medan ini pada tingkat awal adalah ustadz yang tidak mau terima amplop, sampai orang minta izin kasih amplop saya tolak. Tapi tahulah waktu situasi tahun 83/85 itu, itu saya mulai bangkit, 82, 83, 84 mulai dikenal hamper di wilayah medan ini. Yang mengaji pada saya pada taraf pertama adalah pemuda pancasila, preman itu. Akhirnya tercengang saya ustadz

yang tidak mau pakai amplop. Rupanya pihak pemerintah menganggap saya patut dicurigai gara-gara ini. Saya, kemanapun saya berdakwah itu tetap ada istilahnya waktu itu kesatuan TEKAB namanya. Tim pokok Tim Khusus Anti Bandit.Akhirnya tak dapat orang itu, karena saya orang fakultas hukum saya tau batas bicara mana yang salah, dicatat. …………”.

(W12P1.NL.19b-19d)

“………...Nazaruddin dakwah tidak terima amplop. Dia anaknya waktu itu ada 6, dan saya tidak lagi buka perusahaan. Jadi macam mana makan bapak? Pada tahap pertama, apa yang kami simpan itu lagi yang dijuali lagilah sama ibumu. Habis. Jadi dari mana dia kasih makan anak istrinya? Itulah pertanyaan-pertanyaannya pak.

Lalu apa kau jawab? Saya bilang. Pak kalaupun bapak itu menolak tapi kami punya akal pak, kami kasih ibu itu, ibu itu mau kok menerima. Jadi itu makanya hadiahnya. Jadi tanpa saya minta mereka yang berinisiatif. Ha, begitulah hidup saya di kasih Allah Ta’ala sederhana, anak saya besar-besar sudah kawin, cucu sudah 10”.

(W12P1.NL.20b)

“………..Tapi kalau di taraf awal-awal dulu, ha, bayangkanlah apa yang sempat saya punya usaha apa yang bisa dibeli disimpan,

Ketika S2 pergi suluk mata usahanya dijalankan oleh seorang pekerja yang dikawal oleh istri S2. Sepengetahuan S2 saat pertama suluk kebutuhan harian keluarga S2 tidak terabaikan, uang S2 juga masih aman.

Berdasarkan 2 faktor tersebut, istri S2 pun tidak komplain saat ia pergi ikut suluk. Selain istri, anak-anak S2 juga tidak bermasalah dengan S2 ikut bersuluk. Bahkan setelah S2 menjual mata usaha dagang sehingga berada

dalam kesulitan dan sampai sekarang pun keluarga S2 terus mendukungnya bersuluk. Maka dari itu S2 sangat bersyukur terhadap dukungan Allah yang memberikannya istri yang rela berbagi. Menurut S2 istrinya adalah sebuah karunia yang membantunya sehingga tidak mengalami kegagalan. Hal tersebut diungkapkan S2 melalui kutipan wawancara berikut ini:

“……….Jadi ketika saya pergi suluk itu anak saya baru abdul, maulana, nadia, ziah, empat. Saya waktu itu masih punya mata

“……….Jadi ketika saya pergi suluk itu anak saya baru abdul, maulana, nadia, ziah, empat. Saya waktu itu masih punya mata

Dokumen terkait