BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Belajar dan Pembelajaran
5. Hasil belajar
Kegiatan belajar erat kaitannya dengan hasil belajar. Dimana kegiatan belajar itu sendiri adalah proses belajar, sedangkan hasil belajar merupakan perolehan dari suatu proses pembelajaran tersebut. Menurut Sudjana (2010: 22), Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Menurut Bloom, hasil belajar merupakan pencapaian tujuan instruksional meliputi tiga domain yaitu kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan) oleh siswa setelah mengikuti suatu pembelajaran (Dahar, 2011: 118). Dari pengertian di
atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah pencapaian tujuan pembelajaran berupa kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa baik dari aspek kognitif (pengetahuan), aspek afektif (sikap) dan aspek psikomotorik (keterampilan) dimana perubahan tersebut bersifat menetap setelah mengikuti proses pembelajaran.
Hasil-hasil belajar itu sendiri adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan (Hamalik, 2013: 31). Hasil belajar siswa dapat diukur dari hasil tes dan juga perubahan tingkah lakunya.
Adapun faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor siswa sendiri meliputi kemampuan berpikir, motivasi, minat dan kesiapan siswa serta faktor lingkungan yang meliputi sarana dan prasarana, kompetensi dan kreativitas guru, sumber belajar, metode serta dukungan dari lingkungan dan keluarga.
Menurut B. S. Bloom, hasil belajar mencakup kemampuan kognitif, afektif dan motorik (Wilkel, 2009). Penjelasan untuk masing-masing ranah tersebut adalah:
a. Ranah kognitif 1) Pengetahuan
Mencakup ingatan yang digali kembali mengenai hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan oleh siswa saat dibutuhkan. Hal-hal itu dapat berupa fakta, kaidah, prinsip dan metode yang diketahui.
2) Pemahaman
Mencakup kemampuan untuk menangkap makna dari bahan yang dipelajari. Dalam hal ini, siswa mampu untuk menjelaskan makna isi pokok dari suatu bacaan, siswa juga mampu mengubah rumus matematika ke dalam kata-kata, serta mengubah data ke dalam bentuk grafik, dll.
3) Penerapan
Mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu kasus yang konkret dan baru. Kemampuan ini dinyatakan dalam aplikasi rumus atau suatu metode kerja pada kasus yang belum pernah dihadapi.
4) Analisis
Mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Kemampuan ini dinyatakan dalam penganalisaan atau kemampuan mengurai bagian-bagian atau komponen-komponen dasar, bersama dengan hubungan relasi antara semua bagian itu.
5) Sintesis
Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Kemampuan ini dinyatakan dalam membentuk suatu rencana seperti penyusunan proposal penelitian ilmiah,
selain itu siswa mampu merencanakan, mengorganisasikan, membentuk suatu bangunan baru.
6) Evaluasi
Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu yang berdasarkan kriteria tertentu. Kemampuan ini dinyatakan dengan siswa mampu memberikan penilaian terhadap suatu hal dengan kriteria tertentu dan juga mampu mempertanggungjawabkan kepada orang lain. Kemampuan evaluasi mencakup juga kelima kemampuan ranah kognitif di atas.
b. Ranah afektif
Kemampuan pada ranah afektif terdiri dari: 1) Penerimaan
Mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu. kemampuan ini dinyatakan dengan kesediaan siswa dalam mendengarkan pertanyaan guru, mendengarkan penjelasan guru atau memandangi gambar peta geografi di dinding kelas, dll.
2) Partisipasi
Mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Kesediaan ini dinyatakan
dengan memberikan suatu reaksi terhadap rangsangan yang disajikan, seperti membaca dengan suara nyaring bacaan yang ditunjuk oleh guru.
3) Penilaian/penentuan
Mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu. Mulai dibentuk suatu sikap seperti menerima, menolak atau mengabaikan, selanjutnya sikap tersebut akan dinyatakan dalam tingkahlaku yang konsisten dengan sikap batinnya. 4) Organisasi
Mencakup kemampuan untuk membentuk suatu sistem nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan. Nilai-nilai yang diakui dan diterima ditepatkan pada suatu skala nilai tertentu, maksudnya adalah mampu menyeimbangkan antara kebebasan (kepentingan pribadi) dengan kewajiban (kepentingan umum).
5) Pembentukan pola hidup
Mencakup kemampuan untuk menghayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa, sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) serta menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupannya sendiri. Kemampuan ini dinyatakan dalam pengaturan hidup diberbagai bidang seperti
mencurahkan waktu untuk belajar/bekerja, tugas menjaga kesehatan dirinya sendiri,dll.
c. Ranah psikomotorik 1) Persepsi
Mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih, berdasarkan pembedaan antara ciri-ciri fisik yang khas pada masing-masing rangsangan. Dinyatakan oleh kemampuan yang sadar akan hadirnya suatu stimulus dan dapat membedakan stimulus tersebut dengan yang lainnya. Contohnya siswa mampu membedakan antara huruf b dan d.
2) Kesiapan
Mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu gerakan atau rangkaian gerakkan. Misalnya siswa akan mampu menempatkan dirinya dalam menyiapkan diri sebelum memulai pelajaran.
3) Gerakan terbimbing
Mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik sesuai dengan contoh yang diberikan.
4) Gerakan yang terbiasa
Mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik dengan lancar, karena telah dilatih secukupnya tanpa memperhatikn lagi contoh yang diberikan.
5) Gerakan kompleks
Mencakup kemampuan untuk melakukan suatu keterampilan yang terdiri dari beberapa komponen dengan lancar, tepat dan efisien. Kemampuan ini merupakan gabungan dari beberapa subketerampilan sehingga menjadi gerak-gerik yang terampil.
6) Penyesuaian pola gerakan
Mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan menyesuaikan pola gerak-gerik dengan kondisi setempat atau dengan menunjukan suatu taraf keterampilan yang telah mencapai kemahiran.
7) Kreativitas
Mencakup kemampuan melahirkan atau menciptakan pola gerak-gerik baru atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri. Hanya orang yang berketerampilan tinggi dan berani berpikir kreatif yang dapat mencapai tingkat ini.