• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

C. Pembahasan

1. Pembahasan hasil belajar siswa dengan metode demonstrasi

 

P: Senang, tapi kenapa kamu sering ribut di kelas saat mba ngajar? S: Saking senangnya

P: Kamu pernah belajar fisika dengan metode demonstrasi ga di sekolah ini?

S: Belum pernah

P: Kamu sangat berminat dengan pembelajaran menggunakan demonstrasi, apa alasannya?

S: Ya karena mudah dimengerti, sama kayak jawaban yang diawal mba

P: Bagaimana kalau metode demonstrasi diterapkan pada materi pembelajarn yang lain?

S: Ya ngga apa-apa

P: Alat yang digunakan dalam demonstrasi gimana menurut kamu? Kurang tepat atau sudah pas?

S: pas mba

P: Kesulitan apa yang kamu hadapi saat belajar dengan demonstrasi?

S: Kalau teman-teman ribut itu ya saya kurang konsentrasi P: Kamu merasa ribut ngga di kelas?

S: Ya ngga tahu ya

P: Dalam seminggu kamu belajar fisika berapa kali?

S: Ya tergantung mata pelajarannya berapa kali. Misalnya kalau besok ada fisika ya malamnya belajar fisika

P: Kalau ada ulangan waktu belajarnya lebih banyak atau sama kayak biasanya?

S: Lebih banyak tetapi kebanyakan belajar di sekolah dari teman yang lebih mengerti untuk memberitahu.

P: Kamu ikut les ngga? S: Kalau fisika ngga.

C. Pembahasan

1. Pembahasan Hasil Belajar Siswa dengan Metode Demonstrasi dan Metode Ceramah

Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan hasil belajar menggunakan metode demonstrasi

   

pada pokok bahasan momentum dan impuls. Dari hasil perhitungan SPSS menunjukan bahwa ada peningkatan hasil belajar dengan menggunakan metode demonstrasi pada pokok bahasan momentum dan impuls. Perhitungan SPSS tersebut menunjukan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar secara signifikan antara sebelum dan sesudah pembelajaran. Dapat juga dilihat dari nilai rata-rata yang diperoleh yaitu dari nilai rata-rata pretes adalah 15,32 dan nilai rata-rata postes adalah 77,79. Ini berarti bahwa nilai postes siswa lebih baik dari nilai pretes dan ada peningkatan hasil belajar dengan rata-rata peningkatannya adalah 62,48.

Selain menggunakan metode demonstrasi, peneliti juga menggunakan metode ceramah untuk melihat hasil belajar siswa. Sama halnya dengan metode demonstrasi, dari hasil perhitungan SPSS menunjukan bahwa ada peningkatan hasil belajar dengan menggunakan metode ceramah pada pokok bahasan momentum dan impuls. Perhitungan SPSS tersebut menunjukan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar secara signifikan antara sebelum dan sesudah pembelajaran. Nilai rata-rata pretes yang diperoleh pada kelas kontrol adalah 13,48 dan nilai rata-rata postes adalah 72,09. Ini berarti bahwa nilai postes siswa lebih baik dari nilai pretes dan ada peningkatan hasil belajar dengan nilai rata-rata 58,61.

Untuk mengetahui adanya perbedaan peningkatan hasil belajar siswa antara menggunakan metode demonstrasi dan metode ceramah,

   

peneliti melakukan perhitungan SPSS dengan uji t pada dua kelompok yang independen dengan mengambil nilai postes dari masing-masing kelas. Berdasarkan hasil analisis dengan SPSS dapat dilihat bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar secara signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Hal ini berarti bahwa baik kelas yang menggunakan metode demonstrasi maupun metode ceramah memiliki kemampuan pemahaman terhadap materi pokok bahasan momentum dan impuls adalah sama.

Walaupun hasil perhitungan SPSS menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar secara signifikan, namun dilihat dari peningkatan hasil belajar masing-masing kelas, menunjukan kelas eksperimen masih lebih tinggi dari pada kelas kontrol. Perolehan rata-rata peningkatan hasil belajar untuk kelas eksperimen adalah 62,48 dan untuk kelas kontrol adalah 58,61. Berarti ada selisih rata-rata peningkatan hasil belajar sebesar 3,87 antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Hal ini menunjukan bahwa siswa kelas eksperimen memiliki konsep pemahaman yang lebih baik dan mampu menganalisis soal-soal yang diberikan peneliti dari pada kelas kontrol.

Dari nilai rata-rata peningkatan hasil belajar diketahui bahwa pembelajaran dengan metode demonstrasi lebih meningkatkan hasil belajar siswa dari pada kelas kontrol. Walaupun hasil perhitungan SPSS seperti yang telah dijabarkan di atas menunjukan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil belajar secara signifikan antara kelas

   

eksperimen dan kelas kontrol. Oleh karena itu peneliti perlu merefleksikan kembali bagaimana proses pembelajaran yang telah dilaksanakan pada kelas eksperimen.

Peneliti menyadari akan kekurangan yang dimiliki yaitu kurang berpengalaman dalam mengajar menggunakan demonstrasi. Terbukti dari hasil wawancara ada siswa yang mengaku tidak mengikuti demonstrasi secara sungguh-sungguh dan asyik bercerita dengan temannya. Peneliti telah berusaha mengalihkan perhatian siswa yang suka mengobrol dengan mengajak mereka untuk melakukan demonstrasi atau mengerjakan soal di depan kelas namun mereka memilih untuk tetap duduk di kursinya. Ketika ditanya mengapa mereka sering berdiskusi dan sering tidak mengerjakan soal atau memperhatikan demonstrasi, ada siswa yang menjawab bahwa dia mengikuti les tambahan di rumah sehingga dia akan belajar di rumah saja saat les.

Dilihat dari proses pembelajaran yang dilaksanakan pada kelas eksperimen, peneliti menyadari bahwa peneliti kurang membimbing para siswa dalam menganalisis data dan membantu siswa dalam mengambil kesimpulan. Kurangnya bimbingan kepada para siswa tersebut disebabkan karena design pembelajaran yang dibuat oleh peneliti masih belum mampu mendorong siswa dalam menemukan pengetahuan yang ingin dicapai pada saat proses demonstrasi. Design pembelajaran yang dimaksudkan adalah rencana kegiatan

   

pembelajaran yang tertuang dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan jawaban Lembar Kerja Siwa (LKS).Hal demikian dapat dilihat ketika siswa menganalisis data hingga mengambil kesimpulan, siswa kurang memperoleh informasi karena siswa tidak diperbolehkan membaca buku atau sumber lainnya. Peneliti juga menyadari bahwa kurang memberikan informasi yang membantu siswa pada saat menganalisis data dan mengambil kesimpulan, sehingga siswa merasa kesulitan dan belum mampu dalam menganalisis data dan membuat kesimpulan sendiri. Walaupun model pembelajaran yang digunakan adalah inkuiri yang berarti penyelidikan, namun siswa masih belum terbiasa dengan menemukan pengetahuan sendiri sehingga peneliti harus lebih membimbing siswa dalam proses pembelajaran khususnya dalam demonstrasi.

Dalam demonstrasi, siswa dibantu mencatat apa yang diamati dengan menjawab pertanyaan pada Lembar Kerja Siwa (LKS). Dari LKS yang telah disusun, peneliti menyadari bahwa LKS tersebut masih kurang tajam dalam membantu siswa mencatat variabel-variabel yang penting dalam pengamatan demonstrasi sehingga menyebabkan siswa belum mampu menganalisis data dan mengambil kesimpulan sendiri.

Ketika diberikan kesempatan untuk mengerjakan LKS, banyak waktu yang terbuang karena siswa asyik untuk berdiskusi dengan temannya bukan tentang demonstrasi yang telah dilakukan sehingga

   

waktu belajar semakin berkurang. Berkurangnya waktu belajar tersebut berdampak pada kurangnya waktu untuk latihan soal dan pembahasan soal sehingga terkadang soal dijadikan pekerjaan rumah. Tetapi untuk pertemuan selanjutnya pekerjaan rumah tersebut tidak dibahas jadi siswa tidak tahu apa yang dikerjakan tersebut benar atau salah.

Selain itu ada siswa masih kurang berminat terhadap pembelajaran dengan metode demonstrasi. Hal ini dapat dilihat dari hasil angket, ada lima orang siswa yang tidak tertarik belajar dengan menggunakan metode demonstrasi pada pokok bahasan momentum dan impuls. Salah satu dari siswa tersebut (siswa berkode A25) mengaku kurang tertarik dengan metode demonstrasi sehingga membuat ia malas mengikuti demonstrasi dan memilih berdiskusi dengan temannya. Ulah beberapa siswa yang sering mengobrol saat pelajaran membuat siswa lain menjadi terganggu dan kurang konsentrasi dalam belajar. Hal ini membuat siswa lain menjadi malas dan ikut-ikuttan berdiskusi dengan temannya.

Selain itu siswa belum terbiasa dengan menggunakan metode demonstrasi. Hal tersebut karena berdasarkan pengakuan dalam wawancara hanya siswa dengan kode A21 yang pernah mengikuti pembelajaran dengan metode demonstrasi namun dengan guru fisika yang berbeda. Selain siswa yang berkode A21, mereka mengaku belum pernah belajar fisika dengan menggunakan metode demonstrasi di SMA tersebut. Dari wawancara didapat informasi bahwa sebagian

   

besar siswa lebih suka belajar dengan diberitahu oleh guru ketimbang harus mencari tahu sendiri terlebih dahulu. Siswa mungkin belum terbiasa dengan pembelajaran yang menemukan ilmu pengetahuan sendiri. Informasi selain dari wawancara seperti pengakuan dari siswa berkode A25, peneliti juga melakukan tanyajawab dengan sekelompok siswa pada saat pelajaran, mereka mengaku lebih suka belajar bila guru langsung menjelaskan materi di papan tulis dan mengerjakan soal-soal latihan.

Dari penelitian ini diperoleh bahwa siswa masih merasa kesulitan dalam usaha menemukan konsep sendiri dari kegiatan demonstrasi tetapi demonstrasi dapat membantu siswa lebih mengingat konsep yang diajarkan. Selain itu hasil belajar yang diperoleh siswa belum positif, tetapi dengan demonstrasi dapat lebih melibatkan siswa belajar secara cukup positif.

Dari hasil wawancara dengan keenam siswa di atas, sebagian besar dari mereka merespon positif adanya pembelajaran dengan metode demonstrasi. Terlihat juga dari hasil angket yaitu siswa berjumlah 22 orang merasa tertarik dan senang dengan metode pembelajaran demonstrasi. Dari pengakuan siswa, guru mata pelajaran fisika telah menerapkan juga metode pembelajaran yang lain selain ceramah. Sehingga peneliti berharap bahwa jika metode demonstrasi ini juga diterapkan lagi pada pokok bahasan fisika yang lain di sekolah, akan dapat membantu siswa dalam memahami materi dan

   

belajar untuk menemukan suatu pengetahuan sendiri agar hasil belajar meningkat.

2. Pembahasan Minat Siswa dalam Belajar Fisika dengan Metode

Dokumen terkait