• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Penelitian

1. Deskripsi Aktivitas Belajar

Data mengenai aktivitas selama pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray pada kelas eksperimen diambil dengan menggunakan lembar observasi dengan cara memberikan skor pada aspek aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. Data mengenai aktivitas mahasiswa dalam proses belajar mengajar pada kelas eksperimen dapat diurakan pada tiap pertemuan sebagaimana disajikan pada tabel berikut.

Tabel Distribusi Skor Rata-rata Aktivitas Mahasiswa pada Setiap Pertemuan Menurut Kelompok Pertemuan Kelompok Rata-rata Aktivitas Mahasiswa Setiap Pertemuan Katego ri 1 2 3 4 5 6 I 2,17 2,00 2,17 2,33 2,33 3,17 2,36 Cukup II 3,17 3,00 2,50 2,83 2,50 3,33 2,89 Cukup III 3,33 3,17 3,33 3,00 2,67 3,67 3,20 Baik Rata-rata Aktivias Mahasiswa Per Kelompok 2,89 2,72 2,67 2,72 2,50 3,39

Kategori Cukup Cukup Cukup Cukup Cukup Baik Sumber: Data penelitian yang diolah

Dari Tabel tersebut menunjukkan kelompok 6 memiliki nilai rata-rata tertinggi yaitu 3,39 dengan kategori baik, sedangkan kelompok 5 memiliki nilai rata-rata terendah yaitu 2,50 dengan kategori cukup. Aktivitas mahasiswa yang muncul selama pembelajaran untuk masing-masing kelompok setiap pertemuan cenderung mengalami peningkatan dari semua aktivitas yang diamati. Ini terlihat dari prilaku yang digambarkan oleh setiap

kelompok mahasiswa yang mengalami perubahan untuk setiap aktivitas yang diamati dan rata-rata aktivitas mahasiswa yang cenderung meningkat dari pertemuan pertama sampai pertemuan ke-tiga, dimana pada pertemuan pertama yaitu 2,36, pertemuan kedua yaitu 2,89, berada pada kategori cukup. Sedangkan pada pertemuan ke-tiga meningkat menjadi 3,20 dan berada pada kategori baik.

Tabel Distribusi Rata-rata Skor Per Satuan Aktivitas Mahasiswa pada Setiap Pertemuan

No Aspek yang dinilai Pertemuan

I II III

1 Mendengarkan dan memperhatikan penjelasan

Dosen 3,00 3,33 3,83

2 Membaca dan menelaah LKM yang diberikan

disetiap anggota kelompok 2,33 3,00 3,50

3 Secara kelompok mengerjakan soal LKM 2,17 3,00 3,17 4 Aktif dalam kelompoknya ketika diskusi dalam

menyelesaikan soal 2,33 2,83 3,00

5 Dua orang mahasiswa bertamu ke kedua kelompok

lain 2,33 2,67 3,00

6 Mahasiswa mempresentasikan hasil diskusinya 2,00 2,50 2,67

Rata-rata Aktivitas Mahasiswa 2,36 2,88 3,20

Kategori Cukup Cukup Baik

(Sumber: data yang diolah)

Berdasarkan data tersebut menunjukkan rata-rata skor per satuan aktivitas mahasiswa pada pada setiap pertemuan, mulai

dari pertemuan pertama sampai pada pertemuan ketiga. Dari hasil yang diperoleh, menunjukkan bahwa aktivitas mahasiswa

cenderung mengalami peningkatan yang signifikan dari semua aktivitas yang diamati. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa sudah dapat berperan aktif dalam kegiatan belajar- mengajar Kimia Dasar I dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray.

2. Deskripsi Hasil Belajar

Berdasarkan tabel dibawah ini dapat diketahui bahwa nilai rata-rata pre-test mahasiswa pada pertemuan eksperimen (dengan menerapkan model pembelajarn kooperatif) lebih rendah daripada nilai rata-rata pre-test mahasiswa pada pertemuan kontrol (tanpa penerapn model pembelajaran

kooperatif). Padapertemuan dengan menrapkan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray pada materi Kimia Dasar I, nilai rata- rata hasil belajar (post-test) mahasiswa pada pertemuan dengan model eksperimen mengalami peningkatan yang lebih besar daripada nilai rata-rata hasil belajar (post-test) mahasiswa pada pertemuan dengan tanpa penerapan model pembelajaran kooperatif (kelas kontrol). Peningkatan hasil belajar Kimia Dasar I pada pertemuan dengan model pembelajaran kooperatif (experiment) dan pembelajaran tanpa penerapan model pembelajran kooperatif (Kontrol) dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel Deskripsi Hasil Belajar Mahasiswa metode Eksperimen dan Mahasiswa metode Kontrol

Jenis

Eksperimen Kontrol

Pre-test Post-test Pre-test Post-test

Maks 52 89 60 90

Min 26 57 25 50

55 75,57 60 69,78

Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa nilai rata-rata pre-test mahasiswa pada perkuliahan dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray (eksperimen) lebih rendah daripada nilai rata-rata pre-test mahasiswa kelas kontrol. Namun setelah mengalami pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray nilai rata-rata hasil belajar kimia dasar (post-test) mahasiswa kelas eksperimen mengalami peningkatan yang lebih besar daripada nilai rata-rata hasil belajar (post-test) mahasiswa kelas kontrol.

Jika dilihat dari distribusi skor yang diperoleh mahasiswa, pada pertemuan tanpa menerapkan model pembelajaran kooperatif, tertinggi 90 dan terendah 50 dengan rata-rata skor dari seluruh mahasiswa adalah 69.78 dan jika

dikonversi dalam huruf maka, nilai kelulusan mahasiswa adalah “ C”. sedengakan dengan menerapkan model pembeljarn kooperatif tipe two stay two stray, nilai tertinggi mahasiswa sebesar 89 dan yang terendah 57 dengan rata- rata skor seluruh mahasiswa adalah 75.57, dan jika dikonversi dalam huruf maka, nilai kelulusan mahasiswa adalah “ B”.

Jika diliht dari data pada tabel diatas, walauoun skor tertinggi terdapat pada kelas control, tetapi distribusi peningkatan skor setiap mahasiswa tidak merata.

Adapun distribusi dan pengkategorian peningkatan hasil belajar kimia dasar I mahasiswa kelas eksperimen dan kelas kontrol kedalam kategori rendah, sedang dan tinggi dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel Deskripsi Pengkategorian Peningkatan Hasil Belajar (Gain) Mahasiswa Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol

Interval

Nilai Kategori

Post-test

Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

f % f %

> 75 Baik 13 56.52 8 34.78

65-74 Cukup 7 30.43 5 21.74

< 65 Kurang 3 13,04 10 43.48

Jumlah 23 100 23 100

Dari tabel tersebut diatas, dengan menerapkan pembelajaran kooperatif tipe two stay wo stray (kelas experiment) yang memperoleh nilai kategori baik sebanyak 13 orang, yang kategori cukup 7 orang dan yang kategori kurang sebanyak 3 orang, sedangkan tanpa menerapkan model pembelajarn kooperatif tipe two stay wo stray (kelas konrol), yang memperoleh nilai kategori baik hanya sebanyak 8 orang, yang kategori cukup hanya 5 orang dan yang kategori kurang sebanyak 10 orang.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis deskriptif dan analisis inferensial terhadap data yang diperoleh dalam penelitian ini, maka dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Aktivitas siswa kelas eksperimen selama kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray lebih baik dan cenderung meningkat, hal ini dapat dilihat dari meningkatnya rata-rata aktivitas siswa setiap kelompok dari pertemuan pertama hingga pada pertemuan ketiga.

2. Rata-rata hasil belajar kelas eksperimen pada pre-test sebesar 55 dengan nilai minimum 26 dan nilai maksimum 52. Sedangkan rata-rata hasil belajar kelas kontrol pada pre-test sebesar 60 dengan nilai minimum 25 dan nilai maksimum 60. Selanjutnya, rata-rata hasil belajar kelas eksperimen pada post-test sebesar 75.57 dengan nilai minimum 57 dan nilai maksimum 89. sedangkan rata-rata hasil belajar kelas kontrol pada post-test sebesar 69.78 dengan nilai minimum 50 dan nilai maksimum 90.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin. 1991. Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik – teknik Prosedur. Bandung: Rosdakarya.

Arikunto.S., 2002. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

Dimyati & Mudjiono. 2006. Teori-Teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Hamalik, O., 2003. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Lie, A., 2007. Cooperative Learning. Jakarta: Grasindo.

Ramly. 2006. Metodologi Penelitian

Pendidikan. Kendari: Universitas Haluoleo.

Roestiyah, N.K., 1982. Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta: Rineka Cipta. Slavin, R.E., 1994. Learning To Cooperative

To Learn. New York: Plenum Press. Sudijono, A., 2008. Pengantar Statistik

Pendidikan. Jakarta. Raja Grafindo Persada.

Sumaji, dkk., 1997. Pendidikan Sains yang

Humanistis “Persembahan 72 tahun

Pater J.I.G.M Drost, S.J. Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta: Kanisius.

Suyatno, Dr.,M.Pd., 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka.

Syah, M. 1995. Psikologi Pendidikan suatu Pendekatan Baru. Bandung: Rosdakarya.

Wijaya, Gusti. 1991. Kemampuan Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya.

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED