• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI PUSTAKA 1 Hakekat Pembelajaran

3. Keterampilan Berpikir

Terdapat beberapa definisi berpikir walaupun setiap upaya untuk mendefinisikannya tidak akan lengkap. Seorang siswa yang menjawab sejumlah pertanyaan tidak berarti siswa tersebut sudah melakukan proses berpikir (Yacobs et al. (1997). Menurut Costa dalam Yacobs et al. (1997), berpikir tidak hanya dapat dilihat dari jumlah jawaban siswa yang sudah benar tetapi juga dalam apa yang mereka ketahui dan apa yang harus mereka lakukan ketika mereka tidak tahu. Dalam pandangannya, perilaku cerdas dapat diketahu melalui respon individu tentang pertanyaan dan masalah yang mereka tidak ketahui segera jawabannya. Oleh karena itu, guru yang bersangkutan melalui promosi berpikir harus berupaya untuk mengamati bagaimana siswa mengetahui bukan apa produksi pengetahuannya. Di sini, kriteria untuk berpikir adalah mengetahui bagaimana untuk bertindak berdasarkan informasi yang sudah dimiliki sebelumnya.

Yuan et al. (2008) mendefinisikan keterampilan berpikir sebagai proses kognitif yang dipecah-pecah ke dalam langkah-langkah nyata yang kemudian digunakan sebagai pedoman berpikir. Satu contoh keterampilan berpikir adalah menarik kesimpulan (inferring), yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk menghubungkan berbagai petunjuk (clue) dan fakta atau informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki untuk membuat suatu prediksi hasil akhir yang terumuskan. Cara mengajarkan keterampilan berpikir menarik kesimpulan tersebut, ialah pertama-tama proses kognitif inferring harus dipecah ke dalam langkah- langkah sebagai berikut: (a) mengidentifikasi pertanyaan atau fokus kesimpulan yang akan dibuat, (b) mengidentifikasi fakta yang diketahui, (c) mengidentifikasi pengetahuan yang relevan yang telah diketahui sebelumnya, dan (d) membuat perumusan prediksi hasil akhir.

Terdapat tiga istilah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir, yang sebenarnya cukup berbeda; yaitu berpikir tingkat tinggi (high level thinking), berpikir kompleks (complex thinking), dan berpikir kritis (critical thinking). Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses

berpikir yang terjadi dalam short-term memory. Jika dikaitkan dengan taksonomi Bloom, berpikir tingkat tinggi meliputi analisis, evaluasi, dan mencipta. Berpikir kompleks adalah proses kognitif yang melibatkan banyak tahapan atau bagian-bagian, sedangkan berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik. Lawan dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar dari suatu titik (Yuan et al. 2008).

Dalam beberapa tahun terakhir, berpikir kritis telah menjadi suatu istilah yang sangat popular dalam dunia pendidikan. Karena banyak alasan, para pendidik menjadi lebih tertarik mengajarkan keterampilan berpikir dengan pelbagai corak daripada mengajarkan informasi dan isi (Fisher, 2005). Asosiasi sekolah tinggi di Amerika telah memilih berpikir kritis sebagai salah satu dari enam keterampilan utama yang harus dibekali kepada siswa selama menempuh pendidikan sarjana, bersama dengan keahlian komunikasi, kuantitatif dan kualitatif, literasi informasi, kerjasama, dan integrasi belajar (Osman, 2008).

Berpikir kritis mencakup tindakan untuk mengevaluasi situasi, masalah, atau argumen, dan memilih pola investigasi yang menghasilkan jawaban terbaik yang bisa didapat (Feldman, 2002). Seorang pemikir kritis yang baik akan memunculkan pertanyaan penting dan merumuskan masalah dengan jelas dan tepat, mengumpulkan dan menilai informasi yang relevan, menggunakan ide-ide abstrak, berpikir terbuka mengenali dan menilai, sebagai perlu, membuat asumsi implikasi, konsekuensi praktis, dan mampu berkomunikasi secara efektif dengan orang lain untuk mencari tahu memecahkan masalah kompleks.

Berpikir kritis diartikan sebagai berpikir evaluatif. Hasil evaluasi dapat berentang mulai dari positif menuju negatif, penerimaan menuju penolakan, atau apapun diantaranya. Berpikir kritis didefinisikan sebagai “memutuskan apa yang harus diyakini atau dilakukan secara masuk akal dan reflektif” atau dengan katan lain berpikir kritis artinya membuat pertimbangan yang masuk akal. Proses berpikir kritis meliputi penggunaan proses

berpikir dasar untuk menganalisis argumen dan menghasilkan wawasan menuju makna dan interpretasi khusus, mengembangkan pola-pola penalaran kohesis, logis, memahami asumsi dan bias, menandai tanda-tanda khusus, memperoleh gaya penyajian yang kredibel, padat, dan meyakinkan. Pendapat ini sejalan dengan Liliasari (2009); dan Johnson (2007) bahwa ketrampilan berpikir kritis menggunakan dasar berpikir menganalisis argumen dan memunculkan wawasan terhadap tiap-tiap interpretasi untuk mengembangkan pola penalaran yang kohesif dan logis, kemampuan memahami asumsi, memformulasi masalah, melakukan deduksi dan induksi serta mengambil keputusan yang tepat. Ketrampilan berpikir kritis adalah potensi intelektual yang dapat dikembangkan melalui proses pembelajaran. Setiap manusia memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembang menjadi pemikir yang kritis karena sesungguhnya kegiatan berpikir memiliki hubungan dengan pola pengelolaan diri (self organization) yang ada pada setiap mahluk di alam termasuk manusia sendiri.

Facione (2011) mengutip pendapat para ahli membagi keterampilan berpikir kritis meliputi enam komponen yakni (1) penafsiran (interpretation) yakni keterampilan untuk memahami dan mengungkapkan arti dari berbagai pengalaman, situasi, data, peristiwa, penilaian, konvensi, keyakinan, aturan, prosedur, atau kriteria, (2) analisis (analysis) yakni keterampilan untuk mengaitkan hubungan antara pernyataan, pertanyaan, konsep, dan deskripsi untuk untuk mengungkapkan keyakinan, penilaian, alasan, informasi, atau pendapat, (3) menyimpulkan (inference) adalah keterampilan untuk mengidentifikasi informasi atau data yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang tepat, (4) evaluasi (evaluation) yakni menilai kredibilitas pernyataan, laporan, persepsi, keyakinan, atau pendapat seseorang, (5) menjelaskan (explanation) yakni kemampuan untuk meyakinkan berdasarkan koherensi hasil penalaran, data, konsep, metodologi, kriteria, dan pertimbangan kontekstual dalam bentuk argumen, dan (6) pengaturan diri (self- regulation) yakni kesadaran untuk memahami kognitif seseorang, menilai diri sendiri, terutama

dengan menerapkan keterampilan analisis, dan evaluasi.

Berdasarkan penjelasan tersebut di atas jelas bahwa keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu modal intelektual yang penting untuk dilatihkan kepada mahasiswa karena selain dapat meletakkan dasar-dasar dalam kerja ilmiah, juga dapat membentuk kematangan mahasiswa dan dapat menyadari batas-batas yang dapat diketahui dan yang tidak dapat diketahuinya.

3. Strategi PBL dan Pengembangan