STUDI PUSTAKA 1 Hakekat Pembelajaran
3. Strategi PBL dan Pengembangan Keterampilan Berpikir
Di dalam proses pembelajaran yang berorientasi pada Student Centre Learning (SCL) di perguruan tinggi, dosen memiliki peran yang penting, di samping berperan sebagai fasilitator dan motivator, juga dituntut untuk mampu merancang strategi dan lingkungan pembelajaran dengan menyediakan berbagai pengalaman belajar yang diperlukan mahasiswa, membantu mahasiswa mengakses informasi, menata dan memprosesnya untuk dimanfaatkan dalam memecahkan permasalahan nyata dalam rangka mencapai kompetensi yang dibebankan pada matakuliah yang diampu (Dirjen Dikti, 2008).
Santyasa (2007) menjelaskan bahwa untuk menerapkan strategi pembelajaran yang tepat, perlu ditentukan bagaimana cara mengatur lingkungan belajar mahasiswa agar mereka memiliki pengalaman belajar dan memiliki sikap positif dalam belajar, sehingga mahasiswa siap melakukan olah pikir, rasa dan raga dalam menjalani event belajar.
Dinyatakan pula oleh Arends (2008) bahwa tantangan pedagogi ke depan adalah (1) membuat isi pengetahuan yang berorientasi kepada pebelajar, (2) membuat guru berpikir yang berorientasi kepada pebelajar, dan (3) membuat pebelajar dapat berpikir yang berorientasi kepada diri sendiri, teman sebaya, dan guru.
Ketiga tantangan pedagogik tersebut di atas dapat didekati dengan memanfaatkan strategi pembelajaran konstruktivistik, diantaranya adalah strategi PBL. Berdasarkan sintaks strategi PBL, jelas bahwa strategi PBL berorientasi untuk membantu mahasiswa dalam
mengakses informasi, menata dan memprosesnya untuk dimanfaatkan dalam memecahkan permasalahan nyata sebagai upaya mengembangkan keterampilan berpikir mahasiswa.
Arends (2008); Akcay (2009); dan Yuan (2008) menjelaskan bahwa sebagai salah satu strategi pembelajaran kontekstual, PBL dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah dan keterampilan intelektual melalui pelibatan siswa dalam pengalaman nyata atau simulasi. Burris dan Garton (2007) menyatakan bahwa hasil penelitian yang berkaitan dengan PBL pada hampir semua tingkat pendidikan menunjukkan kontribusi PBL terhadap faktor-faktor seperti retensi pengetahuan, kepuasan siswa, motivasi, dan berpikir kritis.
Walaupun beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa strategi PBL dapat membantu siswa dalam memecahkan masalah autentik dan mampu meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa, seperti yang dikemukakan di atas, namun ada pula hasil penelitian lain yang melaporkan bahwa strategi PBL hanya kadang- kadang saja menguntungkan siswa.
Burris dan Garton (2007) mengutip beberapa laporan hasil penelitian antara lain yang dilakukan oleh; (1) Vernon dan Blake (1993) menyimpulkan bahwa siswa tidak diuntungkan dengan PBL jika dibandingkan dengan pengajaran tradisional pada konten pengetahuan, (2) Albanese dan Mitchell (1993) PBL kadang-kadang saja merugikan, tetapi tidak selalu, (3) Alleyne, et al, (2002).; Dods, (1997); Leiux, (1996) tidak menemukan perbedaan konten pengetahuan siswa yang terkena PBL dibandingkan strategi pembelajaran tradisional. Beberapa bukti menunjukkan pula bahwa PBL dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan memecahkan masalah (Ball & Knobloch, 2004; Hmelo, 1998), meningkatkan pengalihan dan penerapan pengetahuan (Norman & Schmidt, 1992), dan efektif dalam mempromosikan berpikir tingkat tinggi (Albanese & Mitchell; Cockrell, Caplow, & Donaldson, 2000; Dods, 1997; Vernon & Blake, 1993).
Arends (2008) menjelaskan bahwa, sebagaimana inovasi pedagogik pada umumnya, PBL tidak dikembangkan berdasarkan teori pembelajaran atau teori psikologi, namun proses PBL mencakup penggunaan metakognisi dan pengaturan diri. Tan (2003) telah mengilustrasikan bagian-bagian kunci pendekatan dan strategi pembelajaran dalam proses PBL yang didasarkan atas teori pembelajaran konstruktivis yang dibangun dari
interaksi antara isi materi dengan masalah dan lingkungan belajar, sebagaimana terlihat pada Gambar 1.
Berdasarkan Arends (2008) dan Tan (2003), maka dapat dikemukakan bahwa sintaks strategi PBL terdiri atas 5 langkah utama yang dimulai dengan memperkenalkan siswa pada situasi masalah oleh guru dan diakhiri dengan presentasi dan analisis hasil kerja siswa.
Gambar 1 : Diagram Pendekatan Strategi Pembelajaran PBL dan komponennya (Sumber; Tan, 2003)
Berdasarkan langkah-langkah PBL pada Gambar 2.1 di atas tampak bahwa penerapan strategi PBL dalam pembelajaran akan dapat memfasilitasi mahasiswa untuk mengkonstruksi sejumlah informasi dan pengetahuan melalui proses analisis dan sintesis yang selanjutnya dapat mengintegrasikan iformasi dan pengetahuan sebelumnya tersebut menjadi suatu pengetahuan yang baru untuk dapat digunakan dalam memecahkan masalah- masalah kontekstual. Kemampuan mengintegrasikan dan merekonstruksi suatu
pengetahuan baru, jelas membutuhkan proses berpikir seperti berpikir kritis.
METODE PENELITIAN
Mahasiswa diberi pretest untuk mengetahui keterampilan berpikir kritis sebelum penerapan strategi pembelajaran PBL. Setelah menerapkan strategi pembelajaran, pada akhir perkuliahan dilakukan posttest untuk mengetahui perbedaan keterampilan berpikir kritis sebelum dan sesudah penerapan strategi pembelajaran.
Keterampilan berpikir kritis mahasiswa diukur dengan mengembangkan
Presentasi masalah Masalah diselidiki secara inkuiri Langkah-langkah PBL: (1)Analisis awal
(2)Menurunkan isu pembelajaran
(3)Mengungkapkan kembali secara bebas dan memecahkan masalah kolaboratif
(4)Integrasi pengetahuan baru
Penyelesaian
instrumen test dengan menggunakan rubrik penilaian keterampilan berpikir yang telah diadaptasi dan dikembangkan dari Facione (2010). Rubrik yang dikembangkan berdasarkan kriteria dan indikator untuk mengukur keterampilan berpikir kritis.
Kriteria untuk mengukur keterampilan berpikir kritis dikembangkan dari topik-topik yang ada dalam silabus matakuliah Pengetahuan Lingkungan. Indikator keterampilan berpikir kritis dikembangkan berdasarkan deskripsi unsur-unsur berpikir kritis yang diadaptasi dari Facione (2010) yang meliputi enam komponen yakni; (1) penafsiran (interpretation) yakni keterampilan untuk memahami dan mengungkapkan arti dari berbagai pengalaman, situasi, data, peristiwa, penilaian, konvensi, keyakinan, aturan, prosedur, atau kriteria, (2) analisis (analysis) yakni keterampilan untuk mengaitkan hubungan antara pernyataan, pertanyaan, konsep, dan deskripsi untuk untuk mengungkapkan keyakinan, penilaian, alasan, informasi, atau pendapat, (3) menyimpulkan (inference) adalah keterampilan untuk mengidentifikasi informasi atau data yang dibutuhkan untuk menarik kesimpulan yang tepat, (4) evaluasi (evaluation) yakni menilai kredibilitas pernyataan, laporan, persepsi, keyakinan, atau pendapat seseorang, (5) menjelaskan (explanation).
Keterampilan berpikir kritis mahasiswa dianalisis berdasarkan latar belakang kemampuan akademiknya. Penentuan kemampuan akademik mahasiswa berdasarkan indeks prestasi (IP) akademik yang diperoleh pada semester sebelumnya. Mahasiswa berkemampuan akademik atas adalah mahasiswa yang memperoleh kisaran nilai IP 33,3% pada urutan teratas sedangkan mahasiswa yang berkemampuan akademik bawah adalah
mahasiswa yang memperoleh kisaran nilai IP 33,3% pada urutan terbawah.
Sampel dalam penelitian ini adalah mahasiswa semester dua peserta matakuliah Pengetahuan Lingkungan pada Program Studi Pendidikan Fisika Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Haluoleo tahun akademik 2011/2012.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif bertujuan untuk memberikan gambaran tentang keterampilan berpikir kritis mahasiswa berdasarkan strategi pembelajaran dan kemampuan akademik yang disajikan dalam bentuk tabel dan histogram berdasarkan nilai rata-rata, rerata tertinggi dan terendah, dan persentase perubahan nilai pretes dengan posttest.
Analisis inferensial digunakan untuk mengetahui perbedaan keterampilan berpikir kritis mahasiswa baik keseluruhan mahasiswa maupun berdasarkan kemampuan akademik mahasiswa. Data dianalisis dengan menggunakan Anacova (Analisis Kovarian) dengan menggunakan program SPSS 20 for Windows. HASIL PENELITIAN