Analisis deskripsi data hasil penelitian dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum dari setiap variabel penelitian.
Berdasarkan data hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa baik dari nilai maksimum dan nilai minimum, mean, median, maupun modus hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe debat (X1) lebih tinggi dari pada hasil
belajar siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif script (X2).
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel Deskripsi Hasil Penelitian Variabel Nilai
Maksimum
Nilai
Minimum Mean Median Modus
Standar Deviasi Varian si X1 88 48 74.56 72 72 9.93 98.51 X2 84 44 65.28 64 64 9.78 95.63
Berdasarkan tabel di atas bahwa gambaran hasil belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ranomeeto pada mata pelajaran IPS yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe debat (X1)
diperoleh nilai maksimum 88 dan nilai minimum 48. Sehingga rata-rata hasil belajar IPS siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe debat (X1)
diperoleh dengan nilai 74,56, median 72, modus 72, standar deviasi 9,93, serta varians 98,51. Selanjutnya rata-rata hasil belajar IPS siswa yang diajar dengan menggunakan model
pembelajaran kooperatif script (X2) diperoleh
nilai maksimum 84 dan nilai minimum 44. Sehingga hasil belajar IPS siswa kelas eksperimen (X2) diperoleh dengan nilai 65,28,
median 64, modus 64, standar deviasi 9,78 serta varians 95,63.
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen 1 disajikan pada tabel berikut.
Tabel Distribusi Frekuansi Hasil Belajar Kelas Eksperimen
Distribusi frekuensi hasil belajar kelas Eksperimen 1 sebagaimana diuraikan di atas dapat pula disajikan dalam bentuk diagram seperti gambar berikut:
No. Kelas Interval Frekuensi
Absolut Frekuensi Relatif
1 48-54 1 4% 2 55-61 1 4% 3 62-68 3 12% 4 69-75 8 32% 5 76-82 5 20% 6 83-89 7 28% Jumlah 25 100%
Gambar Histogram Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Kelas Eksperimen 1
Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen 2 disajikan pada tabel berikut : Tabel Distribusi Frekuansi Hasil Belajar Kelas Eksperimen 2
No. Kelas Interval Frekuensi Absolut Frekuensi Relatif
1 44-50 1 4% 2 51-57 4 16% 3 58-64 7 28% 4 65-71 5 20% 5 72-78 4 16% 6 79-85 4 16% Jumlah 25 100%
Distribusi frekuensi hasil belajar kelas eksperimen 2 sebagaimana diuraikan di atas dapat pula disajikan dalam bentuk diagram seperti gambar berikut:
Gambar Histogram Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Kelas Eksperimen 2
PEMBAHASAN
Hasil belajar adalah ukuran keberhasilan seseorang setelah melalui kegiatan belajar yang diperoleh dengan jalan keuletan dan kerja keras dan untuk dapat mengetahui tercapai tidaknya tujuan pembelajaran serta kualitas proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan perlu dilakukan evaluasi atau tes hasil belajar.
Model pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu model pembelajaran kooperatif tipe debat (X1) dan model
pembelajaran kooperatif script (X2). Dengan
demikian dapat ditentukan mana yang lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa di antara kedua macam model pembelajaran tersebut setelah melalui 6 (enam) kali pertemuan.
Setelah dilakukan evaluasi pada akhir pembelajaran, selanjutnya dari hasil evaluasi tersebut diketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar IPS siswa kelas eksperimen 1 yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe debat lebih tinggi yaitu sebesar 74,56 dibandingkan nilai rata-rata hasil belajar siswa kelas eksperimen 2 yang menerapkan model
4% 16% 28% 16% 16% 20%
pembelajaran kooperatif script yaitu sebesar 65,28. Perbedaan ini juga ditunjukan dengan hasil uji beda dua rata-rata (Uji t) dimana thitung sebesar 3,36 lebih besar dari pada ttabel pada taraf signifikan
0,05 sebesar 1,68 atau 3,36 > 1,68. Berdasarkan hasil ini dapat pula dikatakan bahwa secara meyakinkan model pembelajaran kooperatif tipe debat lebih tinggi dari pada model pembelajaran kooperatif script.Sehingga penelitian ini sejalan dengan pendapat Sunartombs (2009:1) bahwa model pembelajaran kooperatif tipe debat mempunyai banyak kelebihan, antara lain: (1) memantapkan pemahaman konsep siswa terhadap materi pelajaran yang telah diberikan; (2) melatih siswa untuk bersikap kritis terhadap semua teori yang telah diberikan dan (3) melatih siswa untuk berani mengemukakan pendapat.
Sedangkan menurut Wijaya (2008) kekurangan model pembelajaran cooperative script yaitu: (1) Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu; (2) Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut. Namun demikian berdasarkan uraian di atas terlihat secara rata-rata, nilai hasil belajar IPS siswa kelas eksperimen 1 dan kelas eksperimen 2 sudah mencapai Kriteria Kentuntasan Minimal (KKM).
Model pembelajaran debat aktif merupakan modifikasi dari model-model diskusi terbuka yang terjadi di kalangan kampus. Bagaimana membawa suasana debat tersebut pada jenjang pendidikan yang lebih rendah. Dimana pelaku debatnya adalah siswa SD atau SMP yang belum banyak menguasai konsep atau argumentasi yang kuat untuk mempertahankan pendapatnya.
Pada pembelajaran kooperatif tipe debat, siswa dilatih mengutarakan pendapat/pemikirannya dan bagaimana mempertahankan pendapatnya dengan alasan- alasan yang logis dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga siswa lebih banyak aktif dalam proses belajar mengajar. Setiap pihak yang berdebat akan menyatakan argumen, memberikan alasan dengan cara tertentu agar pihak lawan berdebat atau pihak lain yang mendengarkan perdebatan itu menjadi yakin dan berpihak padanya.
Dalam model pembelajaran kooperatif tipe debat, ada kegiatan adu argumentasi antara kelompok pro dan kelompok kontra sehingga membantu siswa dalam membangkitkan imajinasinya. Oleh karena itu Siswa sangat aktif, antusias, kompak dan mempertahankan pendapatnya masing-masing karena merasa pihaknyalah yang benar sehingga jangan heran kalau kelas menjadi gaduh, gaduh karena mempertahankan pendapatnya. Namun demikian siswa tetap menghargai pendapat lawan debatnya.
Selanjutnya, dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif script memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain sehingga keunggulan dari model ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Salah satu peranan keaktifan siswa adalah selain untuk meningkatkan perhatian siswa dalam belajar, juga dapat menghindarkan kejenuhan bagi siswa dalam belajar karena terhindar dari model pembelajaran yang monoton. Tidak semuanya sikap tersebut dapat dibangun jika siswa diajar dan didoninasi guru, atau siswa diajar dengan model pembelajaran yang cenderung meminimalkan keterlibatan siswa sehingga gurulah yang nampak lebih aktif.
Penelitian ini didukung oleh hasil penelitian Johnson dan Johnson dalam Nurhadi (2003:62) manunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif antara lain sebagai berikut: (a) memudahkan siswa melakukan penyelesaian sosial; (b) mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati; (c) memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan , informasi, perilaku sosial dan pandangan; (d) meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia; (e) meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakn lebih baik; (f) meningkatkan motivasi belajar instrinsik, dan (g) meningkatkan sikap positif terhadap belajar dan pengalaman belajar.
Keterbatasan Penelitian
Berbagai upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan hasil penelitian yang dapat mengurangi keakuratan dan keabsahan hasil penelitian ini, namun disadari oleh peneliti bahwa masih banyak terdapat keterbatasan- keterbatasan yang perlu dipertimbangkan
dalam interpretasi dan generalisasi hasil-hasil penelitian ini, diantaranya:
1. Penelitian ini hanya berlangsung pada satu sekolah saja dan hanya dua kelas saja yang dijadikan sampel, yaitu di SMP Negeri 1 Ranomeeto dengan delapan kelas sebagai kelompok populasi untuk penelitian, sehingga jumlah sampel terbatas. Dengan terbatasnya jumlah sampel ini tentunya akan mempengaruhi generalisasi hasil penelitian pada sekolah-sekolah serta kelas- kelas lainnya yang memiliki karakterisrik yang hampir sama dengan karakteristik pada sekolah serta kelas-kelas yang menjadi sampel penelitian.
2. Ada banyak pengaruh yang terjadi dan tidak dapat dikontrol oleh peneliti yang disebabkan guru yang mengajar dalam penelitian ini adalah satu orang guru IPS yang latar belakang pendidikannya adalah bidang studi pendidikan sejarah.
3. Penelitian ini mengemukakan rancangan penelitian eksperimen semu dimana ada banyak pengaruh yang terjadi dan tidak dapat dikontrol oleh peneliti yang disebabkan penelitian ini tidak dilakukan ditempat yang terkontrol seperti dlaboratorium.
4. Penelitian ini menghasilkan generalisasi dengan berupaya menekan sekecil mungkin berbagai faktor yang dapat mengurangi arti dari temuan penelitian yang telah dicapai. Sebagaimanapun tingginya tingkat ketelitian semua alat ukur atau instrumen yang digunakan dalam mengukur fenomena serta bagaimanapun cermatnya pengukuran dilakukan oleh peneliti, tidak akan luput dari kesalahan-kesalahan sekecil apapun kesalahan tersebut. Hal yang sama juga berlaku bagi penelitian ini.
5. Dengan segala macam keterbatasannya, maka penelitian ini hanya berlangsung 6 (enam) kali pertemuan selama satu semester.
Penutup
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPS antara siswa kelas eksperimen 1 yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe debat dengan siswa kelas eksperimen 2 yang menerapkan model pembelajaran kooperatif
script pada siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ranomeeto. Dimana hasil belajar IPS siswa yang menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe debat memperoleh nilai tertinggi 88 dan nilai terendah 48, dengan rata- rata hasil belajar IPS sebesar 74,56 dan standar deviasi 9,93. Sedangkan hasil IPS siswa yang menerapkan model pembelajaran kooperatif script memperoleh nilai tertinggi 84 dan nilai terendah 44, dengan rata-rata hasil belajar IPS sebesar 65,28 dan standar deviasi 9,78. Perbedaan ini juga ditunjukan dengan hasil uji beda dua rata-rata (Uji t) dimana thitungsebesar 3,36 lebih besar dari pada ttabel pada taraf signifikan
0,05 sebesar 1,68 atau 3,36 >1,68.DAFTAR PUSTAKA
Anam, K. 2000. Implementasi Cooperative Learning Dalam Pembelajaran Geografi, Adaptasi Model Jigsaw dan Field Studi. Buletin Pelangi Pendidikan. Hamalik, Oemar. 2001. Perencanaan
Pengajaran Berdasarkan Pendekatan System. Bumi Aksara: Jakarta.
Hamalik, Oemar. 2003. Kurikulum dan Pembelajaran. Bumi Aksara. Jakarta. Kadir, S dan Nur, M. 2000. Pengajaran
Langsung. Universitas Press UNESSA: Surabaya.
Nurhadi. 2004. Kontekstual dan Penerapannya Dalam KBK. IKIP Malang. Malang. Sudjana, N. 2002. Penilaian Hasil Proses
belajar mengajar. Rosdakarya. Bandung.
Sunartombs. 2009. Model pembelajaran debat aktif.
(http://sunartombs.wordpress.com/2009/ 07/30/ model-pembelajaran-debat-aktif). Diakses tanggal 15 juni 2011.
Wijaya, Kusumah. 2008. Model- Model Pembelajaran.
(http://gurupkn.wordpress.com/category/ pembelajaran/model-model/page/3/) diakses tanggal 15 juni 2011.
RENDAHNYA KOMPETENSI SISWA MATA PELAJARAN BIOLOGI