• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas 4 di Sekolah Dasar Negeri 09 Pagi Pademangan Barat Jakarta Utara. Pemilihan sekolah dilakukan secara purposive, yaitu sekolah yang sudah mengadakan tes Intelligence Quotient untuk melihat skor kecerdasan seseorang. Siswa kelas 4 sengaja diambil karena siswa sudah dapat menjawab ataupun mengisi kuesioner yang diberikan dan jarak umur siswa kelas 4 tidak terlalu jauh dengan praktek pemberian ASI serta skor kecerdasan siswa kelas 4 bervariasi mulai dari cerdas sampai kurang. Siswa kelas 5 sengaja tidak diambil karena skor kecerdasan siswa kelas 5 kurang bervariasi dan jarak usia siswa terlalu jauh dengan praktek pemberian ASI. Siswa kelas 6 sengaja tidak diambil karena khawatir akan menganggu konsentrasi siswa dalam menghadapi ujian akhir, sedangkan siswa kelas 3, 2, dan 1 juga tidak diambil sebagai contoh karena siswa dianggap belum memiliki pemahaman yang cukup untuk mengisi kuesioner yang diberikan.

Sekolah Dasar Negeri 09 Pagi Pademangan Barat Jakarta Utara terletak di Jalan Budi Mulya Rt 010/ 015. Sekolah Dasar Negeri 09 Pagi Pademangan Barat Jakarta Utara dipimpin oleh kepala sekolah yaitu Subiyat Edy A.P., S.Pd. MM. Jumlah guru/ staf pengajarnya ada 17 orang. Para guru tersebut dibantu oleh dua orang penjaga.

Jumlah siswa kelas 4 seluruhnya ada 41 orang, terdiri atas 24 laki-laki dan 17 perempuan. Waktu belajarnya dimulai dari pukul 07.00 s.d pukul 12.00 untuk kelas 4, 5, dan 6. Fasilitas yang dimilki oleh sekolah meliputi fasilitas fisik, lahan, dan non fisik. Fasilitas fisik yang dimilki meliputi ruang kelas, ruang guru, kantin, laboratorium komputer, tempat ibadah, gudang, toilet, perpustakaan. Fasilitas lahan yang ada terdiri atas lapangan olahraga dan taman. Fasilitas non fisik/ ekstrakurikuler yang ada di sekolah meliputi pramuka, seni tari, paskibra, qasidah, seni musik, futsal.

Karakteristik Siswa

Contoh adalah anak sekolah dasar, dengan jumlah keseluruhan 38 orang. Berdasarkan kelas yang dipilih sebagai contoh penelitian adalah kelas 4. Tabel 3 menjelaskan karakteristik siswa berdasarkan individu dan status gizi siswa. Karakteristik siswa yang diamati meliputi usia siswa, jenis kelamin, uang saku per hari, dan status gizi.

Tabel 3 Sebaran siswa berdasarkan karakteristik individu Karakteristik individu n % Jenis Kelamin Laki-Laki 21 55.3 Perempuan 17 44.7 Total 38 100 Usia Siswa 10-11 tahun 34 89.5 > 11 tahun 4 10.5 Total 38 100 Uang Saku ≤ Rp 5000 12 31.6 Rp 6000-Rp 10000 23 60.5 Rp 11000-Rp 15000 3 7.9 Total 38 100 Rata-Rata±SD 7566±3085 Status Gizi Sangat Kurus 1 2.6 Kurus 3 7.9 Normal 29 76.3 Gemuk 5 13.2 Total 38 100 Rata-Rata±SD -0.06±1.75

Jenis Kelamin, Agama, dan Usia

Tabel 3 diketahui bahwa jumlah siswa laki-laki kelas 4 SD Negeri 09 lebih banyak dibandingkan jumlah siswa perempuan. Hal ini terlihat dari persentase jumlah siswa laki-laki (55.3%) dan jumlah siswa perempuan (44.7%). Siswa dalam penelitian ini berusia 10-13 tahun dan persentase terbesar pada usia antara 10 sampai 11 tahun (89.5%) dan >11 tahun (10.5%). Seluruh contoh yang diambil beragama islam.

Uang Saku Siswa

Uang saku merupakan bagian dari pengalokasian pedapatan keluarga yang diberikan pada anak untuk jangka waktu tertentu, seperti harian, mingguan, atau bulanan. Uang saku yang dimiliki seseorang akan mempengaruhi daya beli seseorang terhadap pangan. Siswa kelasa 4 SD Negeri 09 memperoleh uang saku yang berkisar antara Rp. 6.000,00-Rp. 10.000,00/ hari (60.5%). Rata-rata besar uang saku siswa adalah Rp. 7.566±3085. Relatif besarnya uang saku yang diberikan orangtua untuk siswa diduga karena sebagian besar siswa melakukan rutinitas sekolah di pagi hari dan dilanjutkan kursus pada sore hari.

Status Gizi

Berdasarkan Tabel 3, status gizi siswa diukur dengan menggunakan indikator IMT/U. WHO (1995) merekomendasikan z-score untuk mengevaluasi data antropometri anak, khususnya di negara berkembang, karena anak yang berada jauh di bawah persentil data acuan dapat diklasifikasikan secara akurat.

Menurut WHO (2007), status gizi seseorang diukur dengan menggunakan metode antropometri melalui perhitungan indeks IMT/U. Indeks IMT/U ini digunakan untuk seseorang yang berusia 9-24 tahun berdasarkan nilai z-score. Seseorang dikatakan kurus bila -3 SD ≤ z ≤ -2 SD, normal bila -2 SD ≤ z ≤ +1 SD, kegemukan bila +1 SD ≤ z ≤ +2 SD, dan obesitas bila z ≥ +2 SD. Berdasarkan IMT/U terdapat siswa dengan status gizi kurus (-3 SD ≤ z ≤ -2 SD) dengan persentase sebesar 2.6%. Sebagian besar siswa (76.3%) tergolong dalam kategori normal (2 SD ≤ z ≤ +1 SD). Rata-rata z-score siswa adalah - 0.06±1.75. Gizi kurang mempengaruhi pertumbuhan otak anak sehingga dapat mengganggu dalam proses belajar. Anak gizi kurang ada kecenderungan kurang gairah dan lincah, tertinggal dalam belajar, dan kurang tanggap terhadap lingkungannya sehingga dapat mengakibatkan terhambatnya perkembangan kecerdasan anak. Gizi kurang pada anak juga dapat mempengaruhi perkembangan mental dan kecerdasan anak (Judarwanto 2004).

Karakteristik Keluarga Siswa

Karakterisitk keluarga siswa yang dilihat berdasarkan besar keluarga, usia orangtua siswa, dan kondisi sosial ekonomi keluarga. Kondisi ekonomi keluarga terdiri dari tingkat pendidikan ayah dan ibu, pekerjaan ayah dan ibu, dan tingkat pendapatan keluarga

Besar Keluarga

Menurut Suhardjo (1996), semakin banyak anggota keluarga, maka makanan untuk setiap orang akan berkurang. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa pendapatan per kapita dan pengeluaran pangan menurun dengan peningkatan besar keluarga (Sanjur 1982). Besar keluarga menurut BKKBN (1998) dibagi menjadi keluarga kecil jika jumlah anggota keluarga ≤ 4 orang, sedang jika 5-6 orang, dan besar jika ≥ 7 orang. Besar keluarga dapat mempengaruhi tingkat pengeluaran rumah tangga. Besar keluarga dapat mempengaruhi jumlah pangan yang dikonsumsi dan pembagian ragam yang

dikonsumsi dalam keluarga. Keluarga kecil yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak akan memiliki hubungan yang amat erat antara orangtua dengan anak sehingga akan mempengaruhi sikap pengasuhan orangtua terhadap proses belajar, sedangkan keluarga besar yang terdiri atas empat anak atau lebih, orangtua cenderung untuk mengasuh anak dengan sikap otoriter sehingga terjadi persaingan antar anak yang dapat merangsang keinginan untuk berprestasi (Satiadarma dan Waruwu 2003). Besar keluarga siswa tersebar pada kelompok keluarga kecil (31.6%) dan 44.7% siswa termasuk dalam kategori keluarga sedang.

Usia Orangtua Siswa

Umur orang tua siswa dapat dikelompokkan ke dalam usia dewasa muda (20-40 tahun), dewasa madya (41-60 tahun), dan dewasa akhir atau usia lanjut (>60 tahun) (Ghozaly 2011). Mayoritas usia ayah berada dalam rentang dewasa madya dengan usia antara 41 sampai 65 tahun (52.6%). Sementara itu, usia ibu berada dalam rentang dewasa muda dengan rentang usia antara 20 sampai 40 tahun (76.3%).

Tabel 4 Sebaran siswa berdasarkan karakteristik keluarga siswa (n=38)

Karakteristik Keluarga Siswa n %

Besar Keluarga ≤ 4 orang 12 31.6 5 orang 17 44.7 > 5 orang 9 23.7 Umur Ayah Dewasa Muda (20-40) 18 47.4 Dewasa Madya (41-65) 20 52.6 Dewasa Tua (>65) 0 0.0 Umur Ibu Dewasa Muda (20-40) 29 76.3 Dewasa Madya (41-65) 9 23.7 Dewasa Tua (>65) 0 0.0 Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga

Tabel 5 menguraikan kondisi sosial ekonomi keluarga siswa yang dilihat berdasarkan tingkat pendidikan ayah dan ibu, pekerjaan ayah dan ibu serta pendapatan keluarga per bulan didapatkan dengan memberikan kuesioner kepada orangtua siswa. Sebagian besar ayah siswa berpendidikan terakhir SMA/ Sederajat (50%), begitu juga dengan pendidikan terakhir ibu (39.5%).

Menurut Engel et al. (1994), tingkat pendidikan akan berhubungan dengan jenis pekerjaan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak semakin besar. Sebagian besar ayah siswa bekerja sebagai pegawai (31.5%), sedangkan sebagian besar ibu siswa bekerja sebagai ibu rumah tangga (71.1%).

Tabel 5 Sebaran siswa berdasarkan kondisi sosial ekonomi keluarga (n=38)

Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga n % Pendidikan Ayah

Tidak Tamat SD/ Tamat SD 7 18.4

SMP/Sederajat 7 18.4

SMA/Sederajat 19 50.0

> SMA 5 13.2

Pendidikan Ibu

Tidak Tamat SD/ Tamat SD 6 15.8

SMP/Sederajat 14 36.8 SMA/Sederajat 15 39.6 >SMA 3 7.8 Pekerjaan Ayah Pegawai 12 31.5 Wiraswasta 9 23.7 Pedagang 9 23.7 Lainnya 8 21.1 Pekerjaan Ibu Pegawai 5 13.2

Ibu Rumah Tangga 27 71.1

Pedagang 6 15.7 Lainnya 0 0 Pendapatan Keluarga < Rp 1000000 19 50 Rp 1000000-Rp 2000000 10 26.3 >Rp 2000000 9 23.7

Pendapatan keluarga adalah jumlah semua hasil perolehan yang didapat oleh anggota keluarga dalam bentuk uang sebagai hasil pekerjaan yang dinyatakan dalam pendapatan per kapita. Pendapatan menentukan daya beli terhadap pangan dan fasilitas lain, seperti pendidikan, perumahan, kesehatan, dan lain-lain (Hardinsyah 1997). Sebagian besar pendapatan keluarga siswa berada pada nilai < Rp. 1.000.000 (50%).

Praktek Pemberian ASI

Praktek Pemberian ASI yang diamati pada penelitian ini yaitu pemberian ASI, ASI eksklusif dan alasannya, susu formula, serta durasi pemberian ASI. ASI merupakan makanan yang paling ideal bagi bayi karena mempunyai nilai gizi yang paling tinggi dibandingkan dengan makanan bayi yang dibuat oleh manusia ataupun yang berasal dari susu hewan, seperti susu sapi, susu kerbau, atau susu kambing (Krisnatuti et al. 2006). Susu formula adalah susu bayi yang berasal dari susu sapi yang telah diformulasikan sedemikan rupa sehingga komposisinya mendekati ASI (Muchtadi 2002).

Praktek Pemberian ASI Eksklusif

ASI eksklusif didefinisikan sebagai pemberian ASI kepada bayi secara langsung oleh ibunya dan tidak diberikan makanan cair atau padat lainnya kecuali obat tetes atau sirup yang berisi suplemen vitamin, mineral, atau obat (Gibney et al. 2005). Praktek ASI eksklusif relatif sedikit ditemukan di SDN 09. Hal ini terlihat dari persentase praktek ASI eksklusif yang jumlahnya hanya 36.8%. Alasan ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya cukup bervariasi. Alasan tertinggi dikarenakan ASI tidak keluar (62.5%). Hal ini sesuai dengan penelitian Rachmadewi (2009) bahwa praktek pemberian ASI eksklusif di perdesaan lebih tinggi (41.9%) dibandingkan perkotaan (25.8%).

Hasil penelitian Fawtrell et al. (2007) membuktikan bahwa durasi pemberian ASI eksklusif yang paling optimal adalah selama enam bulan. WHO pada tahun 1991 merekomendasikan durasi pemberian ASI eksklusif pada bayi selama periode 4-6 bulan pertama. Tahun 2001, WHO telah menetapkan durasi pemberian ASI eksklusif yang optimal adalah selama enam bulan (Gibney et al. 2005). Durasi pemberian ASI eksklusif di SD Negeri 09 mayoritas masih ≤ 2 bulan (57.9%), dikarenakan bayi sudah diberikan cairan selain ASI sebelum berusia dua bulan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Almroth dan Bidinger (1990) yang diacu dalam penelitian Asrinisa (2009), bahwa kebiasaan memberikan air putih atau cairan lain kepada bayi menyusui dalam bulan-bulan pertama umum dilakukan di beberapa negara. Angka ini jauh lebih besar jika dibandingkan dengan hasil penelitian Hardinsyah et al. (2002) yang meniliti tentang pemberian ASI dan susu formula pada bayi di kota Bogor. Penelitian tersebut didapatkan hasil sebesar 40.7 persen bayi yang diberikan ASI eksklusif kurang dari empat bulan.

Tabel 6 Sebaran riwayat pemberian ASI eksklusif di SD Negeri 09 (n=38)

Variabel n %

Pemberian Asi Esklusif

Ya 14 36.8

Tidak 24 63.2

Alasan tidak diberikan ASI Eksklusif

Bayi Menangis 3 12.5

ASI Tidak Keluar 15 62.5

Ibu Bekerja 6 25

Durasi Pemberian ASI Eksklusif

≤ 2 bulan 22 57.9

3-4 bulan 2 5.3

4-6 bulan 14 36.8

Pemberian ASI

Penelitian Wigati (2005) menunjukkan bahwa pemenuhan zat-zat gizi yang dibutuhkan untuk mengotimalkan kecerdasan pada periode tumbuh otak adalah melalui pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai waktu ideal (24 bulan).The U.S Surgeon General merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan meneruskan ASI sampai 12 bulan, dengan pengenalan makanan padat pada usia 4-6 bulan (Brown et al. 2005).

Tabel 7 Sebaran siswa berdasarkan durasi pemberian ASI

Durasi pemberian ASI n %

< 4 bulan 23 60.5 4-8 bulan 1 2.6 8-12 bulan 4 10.5 > 12 bulan 10 26.3 Total 38 100 Rata-rata 7.42±8.34

Berdasarkan Tabel 7, diketahui bahwa pemberian ASI di SDN 09 selama lebih dari 12 bulan sebesar 26.3%. Rata-rata durasi pemberian ASI di SDN 09 adalah 7.42 dengan standar deviasi 8.34. Hal ini jauh dari hasil penelitian Oktariana (2010) yang menyatakan bahwa sebesar 61 persen bayi diberikan ASI selama lebih dari 24 bulan. Lebih dari 80% ibu di perkotaan dari golongan kaya dan berpendidikan tinggi tidak sanggup memberikan ASI sampai usia 6 bulan, hal ini karena masalah yang bersifat psiko-fisiologis, sosial dan budaya, emosional dan psikologis di dukung lagi semakin efektifnya teknik komunikasi yang benar-benar berkembang dan penilaian mereka yang tinggi kemajuan

duniawi (Berg 1986). Roesli (2000) menjelaskan bahwa ASI sebagai makanan tunggal yang memenuhi kebutuhan bayi normal sampai usia 6 bulan. Setelah usia 6 bulan, bayi harus mulai diberikan makanan padat, tetapi ASI dapat diteruskan sampai usia 2 tahun atau lebih.

Pemberian Susu Formula

Muchtadi (2002) mendefinisikan susu formula adalah produk berupa tepung susu (umumnya susu sapi) yang telah diformulasikan sedemikian rupa sehingga komposisinya mendekati air susu ibu.

Tabel 8 Sebaran siswa berdasarkan pemberian susu formula (n=38)

Variabel n %

Pemberian Susu Formula

Ya 26 68.4

Tidak 12 31.6

Mulai pemberian susu formula

< 6 bulan 24 63.2

≥ 6 bulan 14 36.8

Orang tua siswa khususnya kaum ibu di SDN 09 lebih banyak memberikan susu formula dari pada ASI. Hal ini terlihat dari hasil tabel 8 yaitu sebanyak 68.4 persen ibu siswa memberikan susu formula kepada anaknya. Ibu siswa memberikan susu formula kepada anaknya saat anak berusia kurang dari 6 bulan (63.2%). Alasan yang dikemukakan orangtua siswa ketika susu formula diberikan saat usia kurang dari 6 bulan yaitu ASI tidak keluar dan ibu sibuk kerja. Susu formula sebagai pengganti ASI (PASI) karena ASI tidak keluar atau anaknya tidak mau ASI, anak sudah disapih, anak ditinggal bekerja, anjuran dari paramedis atau bidan (Fitrisia 2002). Hasil penelitian (Depkes RI 2003) di bogor menunjukkan bahwa anak yang diberi ASI eksklusif tidak ada yang menderita gizi buruk. Data untuk penelitian yang sama bahwa 57% ibu-ibu dianjurkan oleh bidan untuk memberikan susu formula pada minggu pertama setelah kelahiran. Beberapa ahli berpendapat dan telah membuktikan bahwa tidak benar susu formula yang ditambah DHA dapat mencerdaskan anak. Susu formula diciptakan sebagai pendamping ASI tetapi tidak akan pernah bisa menyamai ASI yang mengandung DHA (Mihilal 2002).

Kecerdasan Logika Matematika

Kecerdasan Logika-Matematika adalah kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar. Kecerdasan ini meliputi kepekaan ada pola dan hubungan logis, serta fungsi logis (Gunawan 2003). Kecerdasan logika-matematika melibatkan ketrampilan mengolah angka dan atau kemahiran menggunakan logika atau akal sehat. Dalam kehidupan sehari- hari kecerdasan ini bermanfaat untuk menganalisa laporan keuangan, memahami perhitungan, atau mencerna laporan sebuah penelitian. Pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan ini antara lain: akuntan pajak, programmer, ahli matematika, ilmuwan, dan sebagainya (Gardner dalam Armstrong 2002). Menurut Gani (1984) dalam Agustina (2003), cara mengukur kecerdasan anak dapat dilakukan dengan beberapa alternatif, yaitu pengukuran langsung dan tidak langsung. Pengukuran langsung dapat dilakukan dengan psikotes yang menghasilkan ukuran taraf kecerdasan (IQ). Pengukuran tidak langsung dapat dilakukan dengan memantau prestasi akademik para murid. Kecerdasan logika matematika dapat diukur dengan menggunakan pengukuran langsung dan tidak langsung. Pengukuran langsung dengan menggunakan Intelligence Quetion (IQ) kelas 4 semester satu dan pengukuran tidak langsung dengan menggunakan prestasi belajar matematika yang dilihat dari nilai raport matematika dan tes hasil belajar matematika kelas 4 semester satu.

Nilai Intelligence Quotient Siswa

Pengukuran langsung dengan menggunakan Intelligence Quetion (IQ) kelas 4 semester satu. Intelligence Quetion (IQ) dikelompokkan menjadi delapan kategori yaitu sangat kurang (<69), kurang (69-79), rata-rata kurang (80-89), sedang (90-109), rata-rata cerdas (110-119), cerdas (120-139), sangat cerdas (140-160), istimewa cerdas (>160). Tabel 9 menunjukkan bahwa skor intelligence Quotient siswa kelas 4 SDN 09 sangat bervariasi. Sebanyak 31.6% siswa berada pada kategori rata-rata kurang dengan rentang skor 80-89, sedangkan siswa dengan IQ cerdas dengan rentang skor 120-139 relatif sedikit yaitu sebesar 5.3%. Rata-rata skor IQ siswa kelas 4 SDN 09 sebesar 87.7 dengan standar deviasi sebesar 16.5. Siswa yang memiliki IQ yang tinggi lebih mudah berinteraksi meskipun dalam lingkungan yang baru, dengan kemampuan yang ada, mereka lebih mudah bergaul dan beradaptasi. Hal ini juga dibantu dengan

adanya kemampuan yang mudah dalam mempelajari sesuatu hal oleh seseorang yang memiliki tingkat intelegensi yang tinggi (Dalyono 2007).

Tabel 9 Sebaran siswa berdasarkan skor intelligence quotient

Skor Intelligence Quotient (IQ) n %

Sangat Kurang (<69) 0 0 Kurang (69-79) 11 28.9 Rata-rata Kurang (80-89) 12 31.6 Sedang (90-109) 11 28.9 Rata-rata Cerdas (110-119) 2 5.3 Cerdas (120-139) 2 5.3 Sangat Cerdas (140-160) 0 0 Istemewa Cerdas (> 160) 0 0 Total 38 100 Rata-Rata±SD 87.7±16.5

Prestasi Belajar Matematika

Prestasi belajar merupakan salah satu ukuran dari tingkat kecerdasan anak. Prestasi belajar siswa dapat diukur melalui skor prestasi belajar dari beberapa mata pelajaran. Hasil evaluasi tersebut diukur dengan menggunakan nilai rapor (Winkel 1996).

Tabel 10 Sebaran siswa berdasarkan prestasi belajar matematika (n=38)

Variabel n %

Nilai Raport Matematika

Kurang (<60) 8 21.1

Cukup (60-69) 15 39.5

Lebih dari cukup (70-79) 11 28.9

Baik (>80) 4 10.5

Rata-rata±SD 64.2±8.4

Tes hasil belajar

Kurang (<60) 18 47.4

Cukup (60-69) 7 18.4

Lebih dari cukup (70-79) 4 10.5

Baik (>80) 9 23.7

Rata-rata±SD 65.8±14.7

Prestasi belajar dalam penelitian ini diperoleh dari hasil nilai raport matematika dan tes hasil belajar matematika kelas 4 semester satu. Nilai raport matematika dan tes hasil belajar matematika dikelompokkan menjadi empat kategori yaitu kurang, cukup, lebih dari cukup, dan baik. Berdasarkan nilai raport matematika tersebut, hanya terdapat 10.5% (4 orang) siswa yang termasuk

dalam kategori prestasi belajar yang baik sedangkan 39.5% (15 orang) dalam kategori prestasi belajar cukup. Rata-rata nilai raport matematika kelas 4 semester satu adalah 64.2 dengan standar deviasi 8.4. Sementara itu, nilai tes harian bersama (THB) matematika, hanya terdapat 23.7% (9 orang) siswa yang termasuk dalam kategori prestasi belajar yang baik sedangkan 47.4% (18 orang) dalam kategori prestasi belajar kurang. Rata-rata nilai tes harian bersama (THB) matematika kelas 4 semester satu adalah 65.8 dengan standar deviasi 14.7. Menurut Dalyono (2007), seseorang yang memiliki intelegensi yang baik (IQ tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun cenderung baik. Sebaliknya orang yang intelegensi rendah, cenderung mengalami kesukaran dalam belajar, lambat berpikir, sehingga prestasi belajarnya pun rendah.

Kebiasaan Makan Siswa

Kebiasaan makan merupakan istilah yang menggambarkan kebiasaan dan perilaku yang berhubungan dengan makanan dan makan, seperti tata krama makan, distribusi makan antaranggota keluarga (Suhardjo 1989). Kebiasaan makan yang jelek dicerminkan dengan terjadinya kelebihan asupan dan penyakit akibat gizi (Atmarita 2005). Kebiasaan makan siswa yang dilihat adalah frekuensi makan, kebiasaan sarapan, kebiasaan minum susu, jumlah susu yang biasa diminum, jenis susu yang dikonsumsi, konsumsi pangan hewani, konsumsi pangan nabati, konsumsi sayuran, konsumsi buah, kebiasaan membawa bekal, kebiasaan membawa air minum ke sekolah, kebiasaan jajan di sekolah, dan jenis makanan yang sering dibeli.

Frekuensi Makan Sehari

Seseorang yang dianjurkan untuk makan secara teratur dan pada jam- jam tertentu, yaitu tiga kali sehari (Purwati, Rahayu, & Salimar 2002). Hal ini untuk menghindari makan secara berlebihan yang dapat menyebabkan seseorang mengalami kelebihan berat badan. Siswa yang diteliti sebagian besar terbiasa makan tiga kali sehari. Hal ini terlihat pada persentase tertinggi terdapat pada frekuensi makan tiga kali sehari sebesar 92.1%.

Tabel 11 Sebaran siswa berdasarkan frekeunsi makan

Frekuensi Makan sehari n %

2 kali 3 7,9

3 kali 35 92,1

Kebiasaan Sarapan

Sarapan merupakan kegiatan yang penting dilakukan, tetapi seringkali ditinggalkan dengan berbagai alasan. Sarapan memberikan energi pada seseorang untuk melakukan kegiatan di siang hari, namun terkadang seseorang malas untuk sarapan dengan alasan ingin kurus, terburu-buru atau malas makan (Wirakusumah 1994).

Tabel 12 Sebaran siswa berdasarkan kebiasaan sarapan

Kebiasaan Sarapan n % Selalu 35 92.1 Kadang-kadang 3 7.9 Jarang 0 0.0 Tidak Pernah 0 0 Total 38 100

Tabel 12 menjelaskan tentang kebiasaan sarapan siswa, sebanyak 92.1% siswa kelas 4 selalu melakukan sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Hal ini diduga siswa kelas 4 terbiasa makan tiga kali sehari sehingga kebiasaan sarapan menjadi kegiatan yang selalu dilakukan oleh siswa.

Kebiasaan Minum Susu

Susu merupakan bahan makanan sempurna karena memiliki nilai gizi yang tinggi dan perbandingan zat gizi di dalam susu sangat ideal, mudah dicerna serta diserap darah secara maksimal (Sanjaya et al. 2007). Susu memiliki nilai biologi protein yang sangat tinggi, susu juga mengandung zat-zat esensial lain yang mudah diserap. Jenis-jenis susu antara lain susu kental manis, susu bubuk, susu kambing, dan lain-lain. Selain itu, ada juga produk susu seperti yoghurt dan keju.

Sebagian besar siswa selalu terbiasa minum susu setiap hari (73.7%). Rata-rata sebagian besar siswa mengkonsumsi susu sebanyak satu gelas setiap hari (76.3%). Berdasarkan hasil recall diketahui jenis susu yang paling banyak dikonsumsi adalah susu kental manis (52.6%). DKBM (2008) diketahui bahwa susu kental manis merupakan jenis susu yang tinggi kalori. Kandungan energi per 100 g susu kental manis adalah 168 Kalori.

Tabel 13 Sebaran siswa berdasarkan kebiasaan minum susu, jumlah susu yang biasa diminum setiap hari, jenis konsumsi susu (n=38)

Variabel n %

Kebiasaan Minum Susu

Selalu 28 73.7

Kadang-Kadang 8 21.1

Jarang 2 5.3

Tidak Pernah 0 0

Jumlah susu yang biasa diminum setiap hari

1 gelas/hari 29 76.3

2 gelas/hari 9 23.7

Jenis Susu yang dikonsumsi

Susu Kental Manis 20 52.6

Susu Bubuk 18 47.4

Susu Sapi 0 0

Konsumsi Pangan Hewani

Bahan makanan hewani kaya dalam protein bermutu tinggi. Mutu protein ditentukan oleh jenis dan proporsi asam amino yang dikandungnya. Protein komplit atau protein dengan nilai biologis tinggi atau bermutu tinggi adalah protein yang mengandung semua jenis asam amino esensial dalam proporsi yang sesuai untuk keperluan pertumbuhan (Almatsier 2004).

Tabel 14 Sebaran siswa menurut kebiasaan mengonsumsi lauk hewani dan jenis lauk hewani yang dikonsumsi

Variabel n %

Kebiasaan Mengonsumsi Lauk Hewani

Selalu 36 94.7

Kadang-kadang 2 5.3

Jenis Lauk Hewani yang Dikonsumsi

Daging Ayam 36 94.7

Daging Sapi 12 31.6

Telur Ayam 34 89.5

Ikan 32 84.2

Sebesar 94.7% siswa selalu mengonsumsi lauk hewani yang termasuk di dalamnya adalah mengonsumsi daging ayam (94.7%), telur ayam (89.5%), dan ikan (84.2%). Berbeda dengan daging ayam, telur ayam, dan ikan, sumber pangan hewani berupa daging sapi menjadi sumber pangan hewani yang paling banyak tidak dikonsumsi oleh siswa (68.4%). Daging ayam, telur ayam, dan ikan paling banyak dikonsumsi dibandingkan daging sapi diperkirakan karena rasanya yang enak, dan harganya yang cukup terjangkau bagi konsumen.

Konsumsi Pangan Nabati

Protein yang berkualitas tinggi sangat mudah ditemukan pada kacang polong, berbagai kacang-kacangan yang memberikan bermacam-macam manfaat bagi tubuh. Sebagian besar siswa selalu mengonsumsi lauk nabati (94.7%). Jumlah lauk nabati yang minimal dikonsumsi siswa yaitu sebanyak 3 jenis. Sebanyak 92.1% siswa mengkonsumsi tempe dan 86.8% mengonsumsi tahu, sedangkan kacang hijau paling banyak tidak disukai (68.4%). Hal ini diduga karena rasa tempe dan tahu yang enak dan harganya yang terjangkau.

Tabel 15 Sebaran siswa berdasarkan kebiasaan mengonsumsi lauk nabati

Variabel n %

Kebiasaan Mengonsumsi Lauk Nabati

Selalu 36 94.7

Kadang-kadang 2 5.3

Jenis Lauk Nabati yang Dikonsumsi

Dokumen terkait