• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Peternak

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau (Halaman 113-124)

PEMAKALAH SEMINAR

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Peternak

Umur

Kelompok ternak Mekar Mandiri berlokasi di Desa Pasir Halang, Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat, dan merupakan kelompok yang respon dan aktif terhadap pelaksanaan kegiatan pendampingan kawasan peternakan di Kabupaten Bandung Barat. Anggota kelompok yang dijadikan responden merupakan peserta

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

untuk diberikan pengertian-pengertian yang dapat mengubah cara berfikir, cara kerja dan cara hidup. Gambar 1 menunjukkan presentase umur responden kegiatan pendampingan kawasan peternakan sapi perah di Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Gambar 2. Karakteristik Umur Peternak di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat

Dari data tersebut terlihat bahwa responden mayoritas berumur 31-50 tahun, yang merupakan umur produktif. Pada umumnya peternak dengan umur produktif masih memiliki semangat yang tinggi, selain itu umur juga dapat mempengaruhi peternak dalam mengambil keputusan. Semakin muda umur seseorang biasanya memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap sesuatu yang belum mereka ketahui sebelumnya, sehingga berusaha untuk lebih cepat melakukan adopsi inovasi. Semakin tinggi umur seseorang semakin kecil ketergantungannya kepada orang lain atau semakin mandiri (Siregar, 2013), sedangkan semakin muda umur seseorang umumnya rasa keingintahuan terhadap sesuatu semakin tiinggi dan minat untuk mengadopsi teknologi semakin tinggi. Petani/peternak yang berada pada umur produktif memiliki produktifitas yang lebih baik dibandingkan dengan usia lanjut, karena pada usia lanjut sulit menerima inovasi teknologi baru. Umur muda dengan tingkat pendidikan yang tinggi memungkinkan peternak lebih dinamis dan lebih mudah menerima inovasi baru (Dewi Nur Asih, 2009). Dengan demikian, potensi yang ada di Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat memiliki peluang dalam pengembangan Kawasan Usaha Ternak Sapi Perah

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan berpengaruh terhadap adopsi inovasi teknologi yang diberikan. Pendidikan formal dengan lulusan SLTA dapat mengadopsi inovasi teknologi baru dengan baik sehingga dapat menerima penerapan inovasi teknologi baru, termasuk inovasi teknologi yang diintroduksikan pada kegiatan pendampingan pengembangan

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

kawasan ternak sapi perah. Rata-rata tingkat responden berturut-turut SD (52,94%), SMP (5,88%) dan SLTA (41,18%). Gambar 2 menunjukan tingkat pendidikan peternak sapi perah di Kecamatan Cisatua, Kabupaten Bandung Barat.

Gambar 2. Tingkat Pendidikan Peternak Sapi Perah di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Dari data tersebut terlihat bahwa mayoritas pendidikan peternak berada pada lulusan Sekolah Dasar dan diikuti oleh lulusan SLTA.. Tingkat pendidikan seseorang dapat mengubah pola pikir dan daya penalaran yang lebih baik. Secara umum peternak yang berpendidikan tinggi akan lebih baik cara berfikirnya, sehingga memungkinkan mereka bertindak lebih rasional dalam mengelola usahataninya (Saridewi dan Siregar, 2010). Peternak yang memiliki tingkat pendidikan yang terbatas, pada umunya menggunakan teknologi secara sederhana dan turun temurun dalam kegatan usaha ternaknya.

Pengalaman Usaha Ternak

Pengalaman usaha seseorang memiliki peranan penting terhadap perolehan informasi sebanyak-banyaknya terutama terhadap inovasi. Pengalaman dalam usahaternak dapat mempengaruhi kemampuan dalam mengelola usaha ternak, dengan pengalaman yang cukup lama peternak memiliki pemahaman yang lebih terhadap usaha ternak yang dijalankannya. Rata-rata pengalaman responden dalam usaha ternaknya mayoritas pada 5-10 tahun (70,59%), <5 tahun (17, 65%) dan 11-15 tahun ( 11,76%). Gambar 3 memperlihatkan pengalaman usaha ternak peternak sapi perah di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat.

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

Gambar 3. Pengalaman Usaha Ternak Peternak Sapi Perah di Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat

Teknologi Pakan

Pakan merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan usaha ternak sapi perah. Salah satu perkembangan dalam dunia peternakan, khususnya dalam bidang teknologi pakan adalah pakan lengkap. Pakan lengkap cocok untuk sapi perah dengan memanfaatkan limbah pertanian (by product pertanian) atau bahan pakan lokal sebagai upaya untuk meningkatkan efisiensi usaha, yaitu dengan menekan biaya pakan (Suwignyo et al, 2016).

Pakan lengkap dalam bentuk campuran berbagai bahan pakan yang sudah terfermentasi merupakan salah satu alternatif solusi dalam pemberian pakan ternak ruminansia dalam bebagai kondisi. Nilai nutrisi dapat diatur dengan menentukan jumlah dan jenis campuran serta mempertimbangkan ketersediaan bahan pakan lokal yang tersedia. Ternak tidak memiliki kesempatan untuk memiilih pakan sehingga memperkecil sisa pakan yang tidak dimakan, praktis dan dapat disimpan dalam waktu lama. Pakan lengkap dapat diproduksi dalam skala kecil, yaitu untuk masing-masing rumah tangga peternak dan dapat juga dalam skala besar yaitu dalam satu kelompok atau skala industri.

Dalam pengkajian ini pakan yang diberikan untuk ternak berasal dari bahan baku lokal yang tersedia dilapangan yang dicampur sedemikian rupa antara sumber serat kasar dan konsentrat secara homogen sehingga menjadi pakan lengkap dan dilakukan pengolahan atau pengawetan dengan cara silase. Formulasi dan bahan penyusun pakan ternak sapi perah pada kondisi eksisting dan yang menggunakan perlakuan teknologi pakan disajikan pada Tabel 1.

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

Tabel 1. Formulasi dan Bahan Penyusun Pakan Ternak Sapi Perah (diberikan per ekor per hari)

No Uraian

Eksisting Teknologi Pakan 1. Bahan Pakan Rumput/Jerami Segar 25 Kg 24 Kg Onggok Kering - 2 kg Dedak Padi - 3 kg Pollard - 1,5 kg Ampas Tahu 10 kg Mako/Konsentrat 3 Kg Pellet 3 kg 2 kg

2. Jumlah total pakan 41 kg 32,5 kg

3. Harga pakan/kg Rp. 868 Rp. 995

4. Biaya pakan per hari Rp. 35.600,- Rp. 32.350 Dari Tabel 1 terlihat bahwa harga pakan per ekor per hari pada kondisi eksisting lebih murah (Rp. 868,-) dibandingkan dengan harga pakan yang menggunakan teknologi pakan/pakan lengkap (Rp. 995,-). Namun secara keseluruhan pakan yang diberikan pada kondisi eksisting per harinya lebih banyak yaitu 41 kg/ekor/hari dengan total biaya pakan Rp. 35.600,-/ekor/hari. Biaya tersebut lebih besar dibandingkan dengan total biaya pakan yang dikeluarkan per harinya pada peternak yang menerapkan teknologi pakan (pakan lengkap) yaitu sebesar Rp. 32.350,-/ekor/hari. Hal ini disebabkan karena pada kondisi eksisting, peternak menggunakan bahan penyusun pakan yang memiliki kadar air tinggi, salah satunya berasal dari ampas tahu sehingga jumlah total pakan menjadi lebih berat. Sementara pada pemberian pakan lengkap, bahan penyusunnya relatif memiliki kadar air rendah (dalam bentuk Bahan Kering), sehingga walaupun pemberiannya lebih sedikit tetapi ternak sudah merasa kenyang.

Produksi Susu Sapi Perah

Tujuan usaha ternak sapi perah adalah untuk menghasilkan susu. Produktivitas sapi perah ditentukan oleh jumlah susu yang dihasilkan. Susu merupakan bahan makanan alami yang mendekati sempurna dengan kandungan protein, mineral dan vitamin yang tinggi. Komposisi susu sapi bervariasi tergantung pada spesies dan

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

Produksi dan berat jenis susu sapi perah pada kondisi eksisting dan yang menggunakan perlakuan teknologi pakan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Produksi dan Berat Jenis Susu Sapi Perah

Perlakuan Kode Ternak

Produksi Susu

(liter/ekor/hari) Berat Jenis

Awal Akhir Awal Akhir

Eksisting Ekst 1 12,18 12,31 1,0252 1,0252 Ekst 2 8,75 9,52 1.0255 1,0255 Ekst 3 10,08 10,74 1,0254 1,0254 Ekst 4 8,83 8,75 1,0254 1,0257 Rata-rata 9.96 10.33 1,0254 1,0254 Teknologi Pakan TP 1 12,42 15,23 1,0253 1,0260 TP 2 9,72 10,53 1,0255 1,0265 TP 3 10,20 12,99 1,0254 1,0259 TP 4 10,74 11,48 1,0255 1,0258 Rata-rata 10,77 12,56 1,0254 1,0260 Meningkat

Sumber : Data primer yang diolah (2016)

Tabel 2 menunjukkan bahwa produksi dan berat jenis susu yang dihasilkan dari induk laktasi sapi perah yang diberi perlakuan pakan lengkap mengalami peningkatan. Rata-rata produksi meningkat dari 10,77 liter menjadi 12,56 liter atau meningkat 16,62%. Sedangkan produksi susu eksisting meningkat dari 9,96 liter menjadi 10,33 liter atau meningkat 3,71%. Hasil produksi susu tersebut sejalan dengan peningkatan berat jenis susu dimana ternak yang diberi perlakuan pakan lengkap memiliki berat jenis dari 1,0254 menjadi 1,0260. Peningkatan produksi susu pada perlakuan pakan kemungkinan disebabkan karena ternak tidak memiliki kesempatan untuk memilih pakan yang diberikan sehingga pakan yang diberikan hampir seluruhnya dikonsumsi sehingga lebih efisien, dan berpengaruh terhadap produksi susu.

Pemberian pakan ternak dalam bentuk pakan lengkap memiliki keuntungan antara lain dapat menghemat tenaga kerja, dan bila ditinjau dari aspek nutrisi merupakan program yang sangat baik karena partikel yang dikonsumsi oleh ternak dalam kondisi nutrisi yang seimbang artinya pakan tersebut memiliki kualitas nutrisi yang tinggi (Dhalika., et all., 2010). Pembuatan pakan lengkap sebaiknya menggunakan bahan pakan lokal yang tersedia di wilayah setempat karena dapat menekan biaya pembuatan dan pembelian bahan penyusun pakan.

Kebutuhan nutrisi pedet sangat beragam mulai dari kebutuhan untuk hidup pokok sampai memperoleh pertambahan bobot maksimal yang berasal dari deposit

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

protein dan mineral. Fungsi pakan bagi ternak adalah menyediakan energi untuk produksi panas dan deposit lemak, memelihara sel-sel tubuh, mengatur beberapa fungsi dan aktivitas di dalam tubuh. Pakan dengan kandungan protein yang cukup dapat memperbaiki jaringan, pertumbuhan jaringan baru, metabolisme untuk energi, dan berfungsi sebagai penyusun hormon. Sedangkan pakan dengan kualitas gizi yang rendah dapat mengganggu perkembangan pedet sehingga potensi genetik yang unggul tidak dapat muncul (Hidajati, 1998).

Peningkatan produksi susu menurut Thalib (1999) tidak hanya bergantung pada kualitas genetik ternak secara independent, tetapi yang lebih penting adalah sebarapa besar potensi genetik yang dibawanya dapat ditampilkan melalui manipulasi factor lingkungan seperti manajemen pemeliharaan yang baik. Sementara itu faktor yang mempengaruhi kualitas, kuantitas dan susunan susu sapi perah adalah bangsa sapi, lama bunting, masa laktasi, besar sapi, estrus atau birahi, umur sapi, selang beranak, masa kering, frekuensi pemerahan dan tata laksana pemberian pakan (Sudono, 2003).

Salah satu faktor yang menentukan kualitas susu adalah berat jenis susu. Berat jenis susu menunjukkan imbangan komponen zat-zat pembentuk di dalamnya . Nilai berat jenis susu dipengaruhi oleh kadar lemak dan bahan kering tanpa lemak, yang tidak lepas dari pengaruh makanan dan kadar air dalam susu. Makin tinggi kandungan bahan kering (BK) susu, maka makin tinggi berat jenis susu.

Analisis sifat fisik pakan lengkap yang dihasilkan meliputi beberapa parameter. Gambaran sifat fisik pakan lengkap yang di silase disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Sifat Fisik Pakan Lengkap yang Dihasilkan

Sifat Fisik dan Kimia Uraian

Bau Asam

Warna Coklat kekuningan

Jamur Tidak ada

Tabel 3 memperlihatkan bahwa pakan lengkap yang dihasilkan tidak ditemukan adanya jamur, baunya asam dengan aroma seperti tape, warnanya masih seperti warna bahan dasar penyusun pakan lengkap yaitu coklat kekuningan. Tidak adanya jamur pada pakan lengkap yang telah dibuat ditandai dengan tidak adanya bau busuk dan warna hitam pada pakan lengkap. Berdasarkan pada keadaan fisik, maka pakan lengkap yang

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

KESIMPULAN

1. Karakteristik peternak meliputi umur dan tingkat pendidikan peternak memiliki potensi untuk mengadopsi teknologi yang diintroduksikan

2. Teknologi pakan lengkap dapat menghemat biaya pakan sebesar Rp. 3.250/ekor/hari dibandingkan dengan pemberian pakan pada kondisi eksisting

3. Teknologi pakan dapat meningkatkan rataan produksi susu sebesar 16,62% dan meningkatkan Berat Jenis susu dari 1,0254 menjadi 1,0260

4. Sifat fisik dan kimia pakan lengkap yang dibuat telah memenuhi standar yang baik yaitu warnanya sesuai dengan warna bahan dasar penyusunnya

DAFTAR PUSTAKA

Dewi Nur Asih. 2009. Aanalisis Karakteristik dan Tingkat Pendapatan Usahatani Bawang Merah di Sulawesi Tengah. Jurnal Agroland, 16(1), 53-59.

Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. 2015. Laporan Tahunan . Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Ensminger ME, Howard DT. 2006. Dairy Cattle Science. 4th Ed. Danville (US). The Interstate Printers and Publisher, Inc.

Ramli, N., N. Ridla, T. Toharmat dan L. Abdullah. 2009. Produksi dan kualitas susu sapi perah dengan pakan silase ransum komplit berbasis sumber serat sampah sayuran pilihan. J. Indon. Trop. Anim. Agric. 34(1): 36-41.

Riski, P. 2016. Produksi dan Kualitas Susu Sapi FH Laktasi dengan Substitusi Pakan Daun dan Pelepah Sawit [Disertasi]. [Bogor (Indonesia)]: Institut Pertanian Bogor.

Saridewi, Tri Ratna., dan Siregar, A. N. 2010. Hubungan Antara Peran Penyuluh Dan Adopsi Teknologi Oleh Petani Terhadap Peningkatan Produksi Padi Di Kabupaten Tasikmalaya. Jurnal Penyuluhan Pertanian, 5 (1) : 55-61.

Siregar, SB. 2001. Peningkatan Kemampuan Berproduksi Susu Sapi Perah Laktasi Melalui Perbaikan Pakan dan Frekuensi Pemberiannya. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 6(2): 76-82.

Siregar, N.W.P. 2013. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Usaha Ternak Sapi Potong di Desa Mangkai Lama Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara Provinsi Sumatera Utara [Skripsi]. [Bogor (Indonesia)]: Institut Pertanian Bogor.

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

Suwignyo, B., A. Agus, R. Utomo, N. Umami, B. Suhartanto dan C. Wulandari. 2016. Penggunaan Fermentasi Pakan Komplet Berbasis Hijauan Pakan dan Jerami Untuk Pakan Ruminansia. Indonesian Journal of Community Engagement. 01:02.

Sudono., A., R. F. Rosdiana, dan B.S. Setiawan. 2003. Beternak Sapi Perah Secara Intensif. Agromedia Pustaka, Jakarta.

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

Fortifikasi Mol Pada Biofermentasi Pelepah Sawit Dengan Pleoratus ostreatus Secara in vitro

Level Mol Fortification In Biofermentation of Palm Midrid with Pleoratus ostreatus

as in vitro

Yurma Metri1*, Lili Warly2, dan Suyitman2

1 Mahasiswa Program Pascasarjana Fakultas Peternakan Universitas Andalas 1 Sekolah Tinggi Pertanian Haji Agus Salim Bukittinggi

2 Fakultas Peternakan Universitas Andalas Padang e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengavaluasi lebih lanjut tentang Fortifikasi MOL pelepah sawit pada biofermentasi pelepah sawit dengan Jamur Pelapuk Putih (JPP) jenis Pleoratus ostreatus secara in vitro dengan level MOL yang berbeda dan diharapkan dapat meningkatkan kecernaan sehingga dapat menggantikan rumput lapangan sebagai sumber utama pakan hijauan ternak ruminansia. Penelitian dilakukan berdasarkan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan dan 3 kelompok sebagai ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah : Fortifikasi MOL Pelepah sawit pada biofermentasi pelepah sawit dengan Jamur Pelapuk Putih (JPP) jenis Pleoratus ostreatus dengan dosis : 0 %, 15 %, 20 % dan 25 % dari total Bahan Kering baglog pelepah sawit. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah kecernaan Bahan Kering (BK) dan Kecernaan Bahan Organik (BO). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fortifikasi MOL Pelepah sawit dengan dosis 25 % dari total Bahan Kering Baglog dapat meningkatkan kecernaan Bahan Kering (BK) sampai 6, 498 % dan kecernaan Bahan Organik (BO) sampai 8,580 % secara in vitro.

Kata kunci: mikroorganisme lokal, pelepah sawit, kecernaan

ABSTRACT

The objective of this study was to evaluate further on the palm midrid MOL fortification on palm midrid biofermentation with Pleuratus ostreatus fungus in vitro with different MOL levels and is expected to improve digestibility so that it can replace the field grass as the main source of forage feed Ruminants. The study was conducted based on a randomized block design with 4 treatments and 3 groups as replicates. The treatments were: Fortification of Palm midrid MOL from palm midrid biofermentation with Pleoratus ostreatus with dose: 0%, 15%, 20% and 25% of total Dry Mater Baglog. Parameters observed in this study Is the digestibility of the Dry Matter and the digestibility of Organic Matters. The results showed that fortification of Palm midrid MOL with 25% dose of Baglog Dry Matter can increase dry matter digestibility up to 6, 498% and digestibility of Organic Matter to 8,580% as in vitro.

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

PENDAHULUAN

Ternak ruminansia mampu memanfaatkan pakan hijauan yang berkualitas rendah (banyak mengandung serat kasar) untuk menghasilkan produk pangan berkualitas seperti daging, air susu dan sumber energi (biogas). Kemampuan ini berhubungan dengan sistim pencernaan ternak ruminansia yang istimewa. Ternak ruminansia mampu memanfaatkan selulosa dan hemiselulosa disebabkan adanya mikroorganisme dalam rumen yang membantu proses fermentasi sehingga karbohidrat struktural tersebut dirombak menjadi produk yang dapat dicerna dan diserap oleh usus halus. Diantara biomas yang sangat potensial sebagai sumber hijauan pakan ternak adalah pelepah sawit yang merupakan limbah dari perkebunan sawit.

Pelepah sawit harus diolah terlebih dahulu. Beberapa teknik pengolahan baik secara fisik, kimia, biologis maupun kombinasinya terbukti mampu meningkatkan nilai manfaat dari pakan limbah. Pengolahan secara biologis dengan menggunakan Jamur Pelapuk Putih (JPP) terbukti mampu menurunkan lignin dan meningkatkan nilai gizi pelepah sawit. Namun secara in vitro peningkatan angka kecernaan masih sangat kecil dan belum optimal untuk mendukung produktifitas ternak. Karena itu perlu dipadukan dengan upaya meningkatkan kecernaan melalui peningkatan populasi mikroba rumen, karena kecernaan pakan berserat sangat tergantung pada kerja enzim yang dihasilkan oleh mikroba rumen. Perlakuan biologis menggunakan mikro organisme penghasil enzim selulase dapat dilakukan. Salah satu organisme yang dapat digunakan dalam pengolahan pakan adalah dengan menggunakan mikro organisme lokal (MOL).

Mikroorganisme lokal (MOL) berupa larutan merupakan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai sumberdaya yang tersedia. Larutan MOL ini mengandung bakteri dan jamur yang berpotensi sebagai perombak bahan organik. Keunggulan penggunaan MOL yang paling utama adalah murah bahkan tanpa biaya karena memanfaatkan bahan-bahan yang sudah busuk dan terbuang, limbah ternak ataupun limbah rumah tangga, serta mudah dalam proses pembuatannya dan bersifat aplikatif.

Mikroorganisme lokal merupakan larutan fermentasi yang mengandung unsur hara mikro dan makro serta adanya kandungan bakteri yang berpotensi sebagai bioproses untuk perombak bahan organik dan perangsang pertumbuhan (Purwasasmita, 2009). Penelitian tentang MOL sudah banyak dilakukan terutama dibidang pertanian, maupun dalam pemanfaatannya sebagai pakan ternak ruminansia dengan pertimbangan bahwa banyak diantara kandungan MOL merupakan mikroorganisme yang sudah biasa digunakan dalam memfermentasi bahan pakan ternak, misalnya aspergilus,sp, rhizopus,

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

terbentuk sudah bisa langsung dijadikan sebagai inokulum bioproses dalam substrat. Penelitian Astuti (2012) menunjukkan bahwa fermentasi kulit pisang dengan mikroorganisme lokal isi rumen mampu meningkatkan kecernaan bahan organik kulit pisang dari 45,08% menjadi 57,34%. Penelitian ini bertujuan untuk mengavaluasi lebih lanjut tentang Fortifikasi MOL pelepah sawit pada biofermentasi pelepah sawit dengan Jamur Pelapuk Putih (JPP) jenis Pleoratus ostreatus secara in vitro.

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau (Halaman 113-124)