• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau (Halaman 183-190)

PEMAKALAH SEMINAR

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Kesimpulan

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

2. Kelemahan yang dihadapi dalam pengembangan ternak kerbau berupa : (a) Tingkat pendidikan rendah, (b) Beternak sebagai usaha sambilan, (c) pakan yang diberikan kualitas rendah, (d) Sistem pemeliharaan semi-intensif, dan (e) Bargaining position rendah. Dan ancaman yang perlu diwaspadai berupa : (a) Impor ternak, (b) Persaingan antar daerah dalam menghasilkan ternak kerbau, (c) gangguan reproduksi, (d) tingginya pemotongan ternak betina produktif, dan (e) Alih fungsi lahan.

3. Strategi yang direkomendasikan dapat digunakan untuk pengembangan usaha ternak kerbau di kabupaten Sijunjung adalah : Memperbaiki pemasaran ternak; Meningkatkan efisiensi usaha; Pengembangan ternak kerbau dalam sistem usaha tani ternak; Pengem-bangan kawasan sentra perbibitan, dan Investasi modal usaha.

Saran

Untuk mempercepat pengembangan usaha ternak kerbau berkelanjutan disarankan beberapa hal berikut :

1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak, melalui penyuluhan dan pelatihan tentang usaha ternak kerbau, manajemen usaha disertai pendampingan dari dinas terkait.

2. Penyediaan bibit ternak kerbau yang unggul dengan harga terjangkau untuk peternak

3. Kebijakan pemerintah dalam permodalan bagi petani. 4. Kerjasama kemitraan untuk meningkatkan pemasaran.

DAFTAR PUSTAKA

Arfa’i. 2009. Potensi dan Strategi Pengembangan Usaha Sapi Potong di Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat. Disertasi. Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Biro Pusat Statistik, Kabupaten Lima Puluh Kota. 2007. Kabupaten Lima Puluh Kota dalam Angka. Kerjasama Bappeda dan BPS Kabupaten Lima Puluh Kota, Payakumbuh.

Biro Pusat Statistik, Kabupaten Lima Puluh Kota. 2005. Kabupaten Lima Puluh Kota dalam Angka. Kerjasama Bappeda dan BPS Kabupaten Lima Puluh Kota, Payakumbuh.

Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sijunjung. 2014. Kabupaten Sijunjung Dalam Angka. Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sijunjung.

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

Direktorat Jenderal Peternakan. 2007a. Buku Statistik Peternakan 2007. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Direktorat Jenderal Peternakan. 2007b. Pedoman Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS). Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Direktur Jenderal, Peternakan. 2005. Buku Statistik Peternakan. Direktorat Bina Penyebaran dan Pengembangan Peternakan, Jakarta.

Diwyanto, K., dan A, Priyanti. 2006. Kondisi, potensi dan permasalahan agribisnis peter-nakan ruminansia dalam mendukung ketahanan pangan. Proc. Seminar Nasional Pem-berdayaan Masyarakat Peternakan di Bidang Agribisnis untuk Mendukung Ketahanan Pangan. Fakultas Peternakan UNDIP, Semarang 3 Agustus 2006, hal : 1-11

Dudi; C. Sumantri; H. Martojo dan A. Anang. 2012. Kajian pola pemuliaan Kerbau Lokal yang Berkelanjutan dalam mendukung kecukupan daging nasional. Jurnal Ilmu Ternak, Vol. 12 No. 1 : hal 11-19

Kurnianita, T., R, Sinung., dan Soeharsono. 2006. Dinamika kelompok tani ternak sebagai upaya pemberdayaan petani dalam pengembangan agribisnis ternak potong. Proc. Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat Peternakan di Bidang Agribisnis untuk Mendukung Ketahanan Pangan. Fakultas Peternakan UNDIP, Semarang 3 Agustus 2006, hal : 389-394

Nell AJ, Rollinson D. H. L. 1974. The requerements and avaliability of livestock feed in Indonesia [laporan penelitian]. Jakarta : UNDP Project INS/72/009.

Nurawan, A., H, Hadiana., D, Sugandi., dan S, Bachrein. Sistem usahatani integrasi tanaman-ternak di kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Proc. Seminar Nasional Nasional Sistem Integrasi Tanaman-Ternak. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan bekerjasama dengan BPPT-Bali dan CASREN. Denpasar 20-22 juli 2004. Hal : 133-141

Qomariah, R; E. S. Rohaeni dan A. Hamdan. 2005. Studi permintaan pasar kerbau rawa dalam menunjang pengembangan lahan rawa dan program kecukupan daging di Kalimantan Selatan. Jurnal. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan, Banjarbaru.

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

Siegel, S. 1997. Statistik Non Parametrik untuk Ilmu-ilmu Sosial. Sayuti Z; Simatupang L, Hagul P, penerjemah. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Terjemahan dari : Non Parametric Statistics for Behavioral Sciences.

Siregar, A.P., P. Situmorang, dan K. Diwyanto. 1998. Pemanfaatan teknologi IB dalam upaya peningkatan produktivitas sapi potong di Indonesia. Proc. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner, Puslitbangnak. Bogor.

Suhubdy. 2005. Pengembangan Ternak Kerbau di Indonesia; Mendulang Kendala dan Merajut Strategi. Makalah Seminar Nasional Industri Peternakan Modern II, Kerjasama LIPI-Dinas Peternakan NTB. 20-21 Juli 2005 di Hotel Jayakarta Senggigi, Mataram, NTB.

Suprapto., T, Prasetyo., dan C, Setiani. 2006. Pengembangan system integrasi tanaman-ternak berbasis sumberdaya pertanian. Proc. Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat Peternakan di Bidang Agribisnis untuk Mendukung Ketahanan Pangan. Fakultas Peternakan UNDIP, Semarang 3 Agustus 2006, hal : 204-212

Yulmaini. 2011. Kajian Aspek Teknis Pemeliharaan Ternak Kerbau Sebagai Penghasil Daging di Kecamatan Ranah Pesisir, Kabupaten Pesisir Selatan. Fakultas Peternakan Universitas Andalas: Padang.

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

Strategi Pengembangan Usaha Sapi Potong di Lokasi Pendampingan

Pengembangan Kawasan Sapi Potong Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang Yayan Rismayanti* dan Siti Lia Mulijanti

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat Jln. Kayuambon No. 80 Lembang 40391 e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Skala usaha yang terbatas, tidak tersedianya lahan khusus bagi hijauan makanan ternak, terbatasnya bibit ternak dan rendahnya penguasaan peternak terhadap teknologi dan informasi, terbatasnya alokasi permodalan, dan belum terintegrasinya usaha dari hulu sampai hilir merupakan permasalahan yang banyak ditemui dalam pengembangan usaha sapi potong rakyat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor strategis yang mempengaruhi pengembangan usaha sapi potong dan mengetahui alternatif strategi yang dapat diterapkan di lokasi pendampingan pengembangan kawasan sapi potong. Penelitian dilakukan dengan metode Focus Group Discussion (FGD) dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling sebanyak 20 orang peternak. Analisis data menggunakan analisis lingkungan internal, analisis lingkungan eksternal, dan analisis SWOT. Hasil analisis menunjukkan bahwa alternatif strategi utama yang dapat diterapkan dalam upaya pengembangan usaha sapi potong yaitu: a) memanfaatkan hijauan yang berasal dari limbah pertanian dan perkebunan untuk pakan ternak, b) mengoptimalkan peran keluarga dalam pemeliharaan ternak, c) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam inovasi teknologi dan kelembagaan kelompoktani ternak, d) penyuluhan yang terarah dan terpadu dalam penerapan inovasi teknologi dan penguatan peranan kelompoktani, e) mengoptimalkan peran kelompoktani ternak untuk memperoleh dukungan dari Pemerintah, dan f) menjalin usaha kemitraan dan memperluas jaringan pemasaran.

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Peternak Sapi Perah Melalui Pelatihan di Kabupaten Bandung Barat

Siti Lia Mulijanti*, Erni Gustiani, dan Yayan Rismayanti

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Barat Jln. Kayuambon No. 80 Lembang 40391

e-mail: [email protected]

ABSTRAK

Peningkatan pengetahuan dan minat peternak terhadap introduksi teknologi dapat dilakukan melalui pelatihan. Materi pelatihan ditentukan berdasarkan hasil survey sebelum kegiatan pendampingan pengembangan kawasan ternak sapi perah dilakukan yaitu mengenai pengelolaan kesehatan ternak sapi perah. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan pengetahuan peternak sebelum dan sesudah mengikuti pelatihan. Metode pengkajian dilakukan melalui test awal (pre test) dan test akhir (post test). Sampel pelatihan dilaksanakan secara sensus yaitu seluruh peserta pelatihan merupakan anggota kelompokternak Mekar Mandiri. Pelatihan dilaksanakan pada bulan Agustus 2016 di Desa Cipeusing Mandiri Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat. Peserta pelatihan diberi test awal sebelum pelatihan dan test akhir sesudah pelatihan dengan materi soal yang sama. Data ditabulasi dan dianalisis dengan analisis regresi untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan pengetahuan peternak sebelum dan sesudah pelatihan. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pengetahuan peternak sesudah dilaksanakan pelatihan pengelolaan kesehatan ternak mengalami peningkatan sebesar 89,02%. Faktor umur, pengalaman, dan pendidikan peternak secara bersama-sama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan peternak sebelum pelatihan. Sedangkan sesudah pelatihan, faktor umur, pengalaman, dan pendidikan peternak secara keseluruhan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengetahuan peternak.

Kata kunci: pelatihan, pengetahuan, peternak

PENDAHULUAN

Usaha ternak sapi perah di Jawa Barat umumnya merupakan usahaternak rakyat yang ditandai dengan pemilikan ternak relatif kecil dan karakteristik peternak dengan tingkat pendidikan rendah dan pengalaman usahaternak relatif lama karena usahaternak dilakukan secara turun temurun. Kondisi ini menyebabkan usahaternak umumnya dilaksanakan dengan manajemen usaha tradisional, sehingga hasil usahaternak kurang optimum. Untuk mengubah manajemen usahaternak diperlukan pembinaan peternak melalui kegiatan pelatihan peternak.

Peningkatan produktivitas usahaternak dapat diperoleh dari hasil penerapan inovasi teknologi, intensifikasi, diversifikasi, ekstensifikasi, dan rehabilitasi sumberdaya pertanian. Penerapan inovasi teknologi perlu didukung oleh kemampuan sumber daya manusia (SDM) sebagai pelaksana penerapan inovasi teknologi. Sumberdaya manusia peternak umumnya beragam sesuai dengan tingkat pendidikan, pengalaman beternak, dan usia. Untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, wawasan, dan memperbaiki

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

sikap mental dan perilaku peternak dapat dilaksanakan melalui pelatihan dan magang (Pusat Penyuluhan, 1995). Pelatihan adalah suatu kegiatan peningkatan pengetahuan yang dilakukan di dalam kelas maupun di luar oleh sekelompok orang dengan tingkat pendidikan relatif sama (Prayitno dkk., 2008).

Melalui pelatihan diharapkan dapat memberdayakan petani dan membuka wawasan peternak mengenai inovasi teknologi yang diterapkan, sehingga terjadi peningkatan pengetahuan peternak untuk mampu mengadopsi teknologi dan mendiseminasikannya. Pemberdayaan petani melalui pelatihan bertujuan agar masyarakat mampu dan berperan aktif dalam perubahan lingkungan yang berubah dengan adanya inovasi teknologi. Pemberdayaan petani melalui pelatihan diperlukan apabila seseorang atau masyarakat menyadari perlunya pengembangan potensi dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan maupun kepuasan hidupnya (Sudirman, 2006). Pelatihan akan membantu peternak dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Pelatihan akan mampu mengubah kebiasaan petani, perubahan terhadap sikap terhadap pekerjaan, dan perubahan terhadap pekerjaannya sehari-hari sesuai dengan penerapan iovasi teknologi.

Pelatihan pada orang dewasa pada dasarnya untuk menambah pengetahuan dan keterampilan, merubah sikap dan pada akhirnya merubah tingkah laku peserta. Perubahan pengetahuan sesudah mengikuti pelatihan dipengaruhi oleh karakteristik peternak. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan pengetahuan peternak melalui pelatihan peternak maka dilakukan pengkajian faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan pengetahuan peternak sesudah pelatihan.

MATERI DAN METODE

Pengkajian dilaksanakan di kelompokternak Cipeusing Mandiri Desa Cipeusing Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat pada bulan Agustus 2016. Peserta pelatihan sebanyak 22 orang pengurus dan anggota kelompokternak. Metodologi pengkajian bersifat eksperimen dengan desain pengkajian test awal dan tes akhir. Peserta pengkajian diberikan test awal sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan diberikan test akhir dengan materi soal yang sama dengan test awal.

Metode pelatihan merupakan kombinasi antara ceramah memaparkan teori dan diskusi. Materi pelatihan diberikan oleh narasumber dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bandung Barat dan BPTP Jawa Barat. Peserta pelatihan dilaksanakan secara sensus (Singarimbun dan Effendi, 1989). Seluruh populasi peternak

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

faktor yang mempengaruhi peningkatan pengetahuan peternak sebelum dan sesudah pelatihan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau (Halaman 183-190)