• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Wilayah

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau (Halaman 141-149)

PEMAKALAH SEMINAR

HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Wilayah

Banten merupakan provinsi yang terletak diujung Pulau Jawa. Luas wilayah 9.160,70 km2 dan terbagi atas 4 kota 4 kabupaten. Provinsi yang berdekatan dengan ibu kota Negara menjadikan Banten termasuk dalam wilayah yang ditarget memasok bahan pangan. Kawasan kerbau berada di 3 kabupaten (Pandeglang, Lebak, Serang) dan secara umum memiliki sumberdaya alam yang sama, yaitu terdiri atas hutan dan pantai. Luas Kabupaten Pandeglang 2.746, 90 km2 dan Lebak 3.044,72 km2. Secara geografis dua kabupaten ini saling berdekatan adapun di sebelah selatan berbatasan dengan Samudra Hindia.

Peternak kerbau di Kabupaten Pandeglang dan Lebak cenderung memelihara ternaknya secara ekstensif. Pagi hari kerbau diumbar baik di kebun sawit, kebun karet, kebun jati, hutan tanaman tahunan maupun sepanjang pesisir pantai dan sorenya kembali ke kandang/pakungan. Sistem perkandangan belum diterapkan secara

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

dimanfaatkan. Penggunaan lahan tersebut atas izin dan koordinasi dengan pemerintah desa, yang sewaktu-waktu dapat dialih fungsikan sesuai target pengembang. Kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang untuk mengembangkan peternakan. Pemangku kebijakan menggunakan Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang Nomor 13 Tahun 2011 mengenai tata ruang wilayah pengembangan sektor peternakan (15 kecamatan).

Populasi Ternak

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Banten, populasi kerbau tertinggi tahun 2013-2014 berada di Kabupaten Lebak (32.148 ekor dan 38.833 ekor). Populasi kerbau di Kabupaten Pandeglang berturut-turut 23.971 ekor dan 25.091 ekor. Kondisi ini menggambarkan bahwa kurun waktu 2 tahun populasi kerbau di dua kabupaten tersebut mengalami peningkatan. Hasil evaluasi populasi ternak di kelompok pendampingan secara rinci ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Populasi Ternak Sebelum dan Sesudah Pendampingan di Kelompok Sasaran Pendampingan.

No. Nama Kelompok Kabupaten Komoditas Populasi Ternak (ekor) Sebelum Sesudah 1. Bina Karya Tangerang Sapi 23 58 2. Rukun Bakti 43 57 3. Sadulur 75 72 4. Maju Bersama 78 65

5. Daya Karya Boga 58 63

Jumlah sapi (ekor) 277 315

Peningkatan (%) 13,7

6. Solear Jaya Lebak 179 129

7. Ratu Galuh 39 39

8. Harapan Mulya Pandeglang 127 140

Total 345 308

Penurunan (%) 10,7

Pada Tabel 2 menjelaskan bahwa populasi masing-masing kelompok sangat bervariasi. Populasi sapi tercatat mengalami peningkatan sedangkan populasi kerbau mengalami penurunan. Peningkatan populasi disebabkan adanya kelahiran anak, sedangkan penurunan populasi dipengaruhi oleh penjualan ternak secara besar-besaran pada momen idul adha. Kelompok Maju Bersama dan Kelompok Solear Jaya tercatat banyak mengalami penurunan populasi ternak. Laporan Malik, dkk (2015) bahwa peternak menjual ternak sapi potong bobot ± 200 kg dengan kisaran harga Rp. 11.000.000,- s/d Rp. 14.000.000,-.

Sifat pemeliharaan ternak rata-rata dijadikan sebagai tabungan/simpanan yang sewaktu-waktu dijual sesuai kebutuhan. Akan tetapi perilaku peternak menjual ternaknya saat idul adha berhubungan dengan harga jual yang lebih tinggi dari waktu

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

lainnya. Seperti penelitian Purba dan Prajogo (2012) bahwa jumlah permintaan daging sapi setiap tahun berfluktuasi disebabkan adanya hari besar keagaaman dan pelaksanaan adat. Pedagang mengumpulkan stok ternak yang banyak untuk memenuhi pemotongan hewan saat idul fitri/idul adha dengan kapasitas tiga kali lipatnya dari hari-hari biasa.

Aplikasi Teknologi Pakan

BPTP Banten melakukan introduksi teknologi pakan berupa praktik budidaya rumput gajah cv. Taiwan dan pemberian pakan tambahan pada ternak sapi. Pengembangan rumput gajah diseluruh lokasi pendampingan, sedangkan pemberian pakan tambahan fokus pada ternak sapi potong. Hal ini dipengaruhi oleh pola pemeliharaan sapi yang intensif, dan dirasakan efektif dalam aplikasinya.

Pemilihan tanaman rumput gajah didasarkan pada mudahnya dalam budidaya dan sifatnya yang adaptif. Ciri-ciri rumput gajah cv. Taiwan yaitu batang lunak, batang pangkal berwarna merah pada saat muda, tinggi tanaman mencapai 4-5 m dan daunnya lebar serta lembut (Disnakkeswan lampung, 2010). Total lahan percontohan rumput gajah yaitu seluas 7,75 Ha, tersebar di Kabupaten Tangerang 4,7 Ha, Pandeglang 2 Ha dan Lebak 1,05 Ha. Introduksi budidaya rumput gajah melalui pelatihan dan display. Rumput gajah ditanam dengan jarak 1 m x 1 m (2 stek per lubang) dengan tanah yang sebelumnya telah diolah baik semmpurna maupun sederhana. Hasil evaluasi, diketahui bahwa stek yang telah didistribusikan BPTP Banten ke kelompok sejumlah 15.500 batang dan yang berproduksi hanya di Kelompok Bina Karya. Laporan Mayunar, dkk (2014) bahwa panen pertama rumput gajah umur 60 hst seluas 13.000 m2 dengan produksi per rumpun (±10 batang) adalah 2 kg dan total panen sebesar 38,469 Ton; panen kedua (120 hst) seluas 8.000 m2 hasilnya 22,750 Ton; sedangkan panen ketiga (180 hst) seluas 15.000 m2 hasilnya 54, 171 ton.

Rumput gajah (Pennisetum purpurium cv. Taiwan) merupakan rumput unggul yang adaptif. Produksi hijauan rumput gajah lebih tinggi dibanding jenis rumput lainnya seperti Setaria Spachelata cv Splenda dan Digitaria milanjiana cv Jarra. Produksi tinggi meskipun ditanam di dataran rendah dengan tingkat kekeringannya yang cukup di musim kemarau (Nurhayu, dkk. 2009).

Pertambahan bobot badan harian melalui pemberian pakan tambahan pada sapi potong menunjukkan peningkatan yang signifikan. Pakan tambahan yang diberikan berupa konsentrat/ampas tahu/dedak sebanyak 2-4% dari bobot badan selama 3-4 bulan. Ternak yang digemukkan adalah sapi pejantan bangsa Peranakan Ongol (PO), umur 1-2 tahun. Hasil evaluasi diperoleh bahwa ternak yang mendapatkan pakan tambahan

rata-Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

dari bobot badan menghasilkan pertambahan bobot badan harian 572 gr/hari. Sedangkan penelitian Syuhada, dkk (2009), sapi potong peranakan ongole yang mengkonsumsi konsentrat 2,1% dari bobot badan, memiliki pertambahan bobot badan harian 580 – 1.000 gr/hari.

Aplikasi Teknologi Reproduksi

BPTP Banten melaksanakan introduksi teknologi reproduksi melalui pertemuan. Secara teori BPTP Banten memaparkan tentang sistem reproduksi dan sistem perkawinan, sedangkan praktiknya langsung ditangani oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Tangerang. Hasil evaluasi diketahui bahwa peternak sapi mulai mengadopsi teknologi inseminasi buatan (IB). Strategi percepatan adopsi yaitu dengan pelatihan teknik IB yang diikuti oleh pengurus kelompok. Harapannya pengurus tersebut mampu menjadi inseminator swadaya yang cakap dan tanggap terutama di wilayahnya.

Konsentrasi Kabupaten Tangerang terhadap penerapan IB terwujud dengan adanya Unit Layanan IB yang tersebar di tiga kecamatan sentra sapi. Inseminator yang bertugas terdiri atas kolaborasi antara inseminator PNS dan swadaya. Keberhasilan IB sapi potong tercatat sebesar 58,33% dengan service per conception (S/C) yaitu 1,5.

Keberhasilan IB dipengaruhi 4 faktor yaitu kondisi induk, kualitas semen, ketepatan deteksi birahi, dan keterampilan inseminator. IB perlu diterapkan pada pola pembibitan ternak yang bermanfaat pada peningkatan mutu genetik, alternatif solusi mengatasi kelangkaan pejantan berkualiatas, dan menghindari resiko penyebaran penyakit melalui perkawinan (Diwiyanto dan Eny, 2006).

Pengolahan Limbah

BPTP Banten melaksanakan introduksi pengolahan limbah yang mengarah pada pembuatan pupuk organik. Produk pupuk organik mampu menjadi titik ungkit penambahan pendapatan peternak dengan waktu yang singkat dibanding dengan hasil utamanya (daging) yang membutuhkan waktu relatif lama. Pembuatan pupuk organik khusus pada komoditas sapi. Hal ini berkaitan erat dengan pola pemeliharaan sapi yang intensif. Ternak yang dikandangkan akan lebih mudah dalam memanen limbahnya dan memprosesnya menjadi pupuk. Sebelum pendampingan, anggota kelompok memanfaatkan kotoran padat sapi tanpa olah yang langsung diberikan ke sawah. Proses pelapukan pupuk kandang yang lama menjadi peluang bagi BPTP Banten memperkenalkan pembuatan pupuk organik menggunakan dekomposer. Pengomposan dilakukan oleh bakteri pengurai yang hanya membutuhkan waktu 21 hari. Dekomposer yang diintroduksikan merupakan produk Balitbangatan (M-Dec) dan produk Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (Orgadek padat dan cair). Adapun komposisi penggunaan decomposer ditampilkan pada Tabel 3.

Tabel 3 menjelaskan bahwa setiap dekomposer memiliki komposisi masing-masing untuk dapat mengurai bahan organik tiap ton nya. Teknik pembuatan pupuk

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

organik yang dipraktikan BPTP Banten yaitu, tiap bahan organik disusun 5-10 cm dan ditambahkan decomposer. Disusun hingga bahan organik habis, maksimal ketinggian 1 m dan disetiap lapisan harus disertai dengan dekomposer. Setiap minggu (satu minggu sekali) cek suhu, apabila terlalu panas maka membutuhkan proses pembalikan. Selama 21 hari proses pengomposan, dan pupuk organik siap digunakan setelah diangin-anginkan.

Tabel 3. Perbandingan decomposer dengan limbah padat sapi

No. Nama Dekomposer Takaran tiap ton bahan organik

1. M-Dec 1 kg

2. Orgadek padat 5 kg

3. Orgadek cair 1 lt

Produksi pupuk organik bertahap dari 5 ton menjadi 10 ton tiap produksinya. Kemasan pupuk organik menggunakan karung (20 kg) dan tiap kilogramnya dibandrol Rp. 500,- s/d Rp. 1.000,-, dengan kata lain tiap ton peternak memperoleh Rp. 500.000,- hingga Rp. 1.000.000,-.

Hasil ini selaras dengan penelitian Kasworo, dkk (2013), bahwa dari aspek ekonomi pengolahan limbah padat menjadi pupuk organik mampu menghasikan pendapatan Rp. 1.800.000,-/ton. Sedangkan dari aspek teknis, pembuatan pupuk organik berbahan dasar limbah padat sapi dilakukan karena peternak lebih memilih menjual kotoran sapi dan membeli kotoran ayam untuk tanaman sayurannya. Hal tersebut dilakukan karena rendahnya pengetahuan peternak tentang pengolahan limbah.

Peningkatan Kompetensi Sumberdaya Manusia

Rangkaian pelatihan dengan materi budidaya sapi dan kerbau telah dilakukan BPTP Banten di tiap kelompok. Materi pelatihan meliputi pemilihan ciri bibit yang baik, pemberian pakan berkualitas, sistem perkandangan, sistem reproduksi, hingga pengolahan limbah. Pengetahuan peternak diperoleh berdasarkan nilai yang diperoleh sebelum (pre test) dan sesudah (post test) pelatihan. Hasil evaluasi diketahui bahwa rata-rata peningkatan pengetahuan peternak setelah mengikuti pelatihan yaitu sebesar 61,30%. Detail nilai sebelum, sesudah pelatihan dan selisihnya ditampilkan pada Tabel 4, sedangkan peningkatan pengetahuan pada Gambar 1.

Tabel 4. Hasil evaluasi nilai pre test, post test dan selisih peserta pelatihan.

Nilai Pre Test Nilai Post Test Selisih

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

Gambar 1. Nilai sebelum dan sesudah pelatihan dan peningkatan pengetahuan peternak.

KESIMPULAN

Pendampingan teknologi budidaya sapi dan kerbau di Provinsi Banten memberikan dampak bagi peningkatan populasi, pengembangan hijauan pakan ternak, pertambahan bobot badan harian, keberhasilan inseminasi buatan dan peningkatan pengetahuan peternak. Pelaksanaan pendampingan sebaiknya intensif dan berdampak pada adopsi teknologi, sehingga tanpa program peternak mampu mandiri memajukan usaha ternaknya.

DAFTAR PUSTAKA

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung. 2010. Budidaya Rumput Taiwan (Pennisetum purpurium scumach). Pemerintahan Provinsi Lampung.

Dinata, F., R. Adiwinarti, W.S. Dilaga. 2009. Pertumbuhan Sapi Peranakan Ongole (PO) Akibat Pemberian Level Konsentrat Yang Berbeda. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009. Hal. 252-255.

Diwiyanto, K. dan Eny Martindah. 2009. Aplikasi Inseminasi Buatan Dalam Pembibitan Sapid an Kerbau. Prosiding Peternakan 2006. Hal.17-26.

Kasworo, A., Muniafatul Izzati, Kismartini. 2013. Daur Ulang Kotoran Ternak Sebagai Upaya Mendukung Peternakan Sapi Potong yang Berkelanjutan di Desa Jogonayan Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang. Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan 2013. Hal. 306-311. Nurhayu, A., A. Saenab, M. Sariubang. 2009. Introduksi Beberapa Jenis Rumput dan

Leguminosa Unggul Sebagai Penyedia Hijauan Pakan Pada Lahan Kering 61,30%

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

Dataran Rendah di Kabupaten Pinrang. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009. Hal. 733-738

Malik, R., Eko Kardiyanto, Ivan Mambaul Munir, Ahmad Muhtami. 2015. Laporan Akhir Kegiatan Tahun 2015 Kegiatan Pengembangan Kawasan Usaha Ternak Sapi Potong di Provinsi Banten. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten. Serang.

Mayunar, Rika Jayanti Malik, Eko Kardiyanto, Ivan Mambaul Munir, Ahmad Muhtami. 2014. Laporan Akhir Kegiatan Tahun 2014 Kegiatan Pendampingan Program Swasembada Daging Sapi/Kerbau Di Provinsi Banten. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Banten. Serang.

Syuhada, T., E. Rianto, E. Purbowati, A. Purnomoadi, Soeparno. 2009. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Hal. 163-172.

Paryono, T., Ernawati, Herwinanri E. 2004. Kajian Efektivitas Pelatihan Teknologi Usaha Ayam Hibrida Bagi Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Petani. Prosdiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian Tahun 2004. Hal. 326-332.

Purba, H. dan Prajogo Utomo H. 2012. Dinamika Kebijakan Pemasaran Produk Ternak Sapi Potong di Indonesia Timur. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian Vol. 10 No. 4. Hal. 361-373.

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

Analisis Kandungan Mineral Hijauan dan Darah Dikaitkan Dengan Performa Reproduksi Sapi Simmental di Wilayah Payakumbuh

Asep Suryadinata, Khalil, Yuherman, Reswati, dan Yulianti Fitri Kurnia

Bagian Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan Universitas Andalas Kampus II Payakumbuh

Email: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kandungan mineral pakan hijauan dan darah yang dikaitkan dengan performa reproduksi sapi Simmental yang dipelihara peternak rakyat di wilayah Payakumbuh. Penelitian tahap I: survei pada 15 peternak yang dibagi menjadi 3 skala kepemilikan (kecil, menengah, dan besar) untuk mengetahui masalah reproduksi sapi Simmental yang dipelihara oleh peternak rakyat dan dianalisis secara deskriptif. Penelitian tahap II: sampling hijauan untuk dianalisis komposisi botanis dan kandungan mineralnya. Analisis statistik menggunakan RAL dan analisis sidik ragam. Penelitian tahap III: sampling darah dari 15 ekor sapi yang dibagi menjadi 3 kelompok berdasarkan status reproduksi: dara, bunting, dan tidak bunting (infertil). Bagian plasma dipisahkan untuk dianalisis kandungan mineral dan dianalisis dengan uji t. Parameter yang diukur antara lain: performa reproduksi (service period, service per conception, dan calving interval), komposisi botanis pakan hijauan, kandungan mineral hijauan (dominan) dan darah: Ca, P, Mg, Cu, Fe, Mn, dan Zn. Hasil penelitian menunjukan bahwa performa reproduksi (service period 169,29 ± 54,83 hari, service per conception 1,86 ± 0,82, dan calving interval 14,98 ± 1,83 bulan), kandungan mineral hijauan adalah: Ca 9,10 g/kg; P 5,78 g/kg; Mg 4,36 g/kg; Cu 52,81 mg/kg, Fe 57,77 mg/kg, Mn 26,11 mg/kg, dan Zn 41,28 mg/kg. Rataan kandungan mineral darah: Ca 10,33 mg/dL, P 6,50 mg/dL, Mg 2,49 mg/dL, Fe 0,25 mg/dL, Zn 0,25 mg/dL, serta Cu dan Mn yang tidak terdeteksi. Perbedaan status reproduksi menunjukan perbedaan yang nyata (P<0,05) pada kandungan mineral Fe sapi bunting dan tidak bunting. Dibandingkan dengan standar kebutuhan mineral dan kandungan normal mineral di dalam darah sapi, dapat disimpulkan bahwa ternak mengalami defisien beberapa jenis mineral esensial yang terkait dengan performa reproduksi seperti: Ca, P, Cu, Mn, dan Zn.

Kata Kunci: mineral darah, mineral hijauan, performa reproduksi, sapi Simmental

PENDAHULUAN

Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota sebagai sentra peternakan menempati posisi kedua terbanyak untuk populasi sapi dan kerbau di Sumatera Barat dengan jumlah populasi 44.467 ekor (Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat, 2013). Sebagian besar peternak rakyat memilih sapi betina Simmental untuk menghasilkan bibit dan bakalan. Dalam rangka menghasilkan bibit dan bakalan sangat erat kaitannya dengan reproduksi. Permasalahan reproduksi yang masih sering dijumpai pada peternak rakyat di wilayah Payakumbuh, yaitu infertilitas sapi betina. Masalah reproduksi diduga tekait dengan kualitas pakan, terutama mineral. Pakan utama yang diberikan oleh peternak adalah berupa rumputan dan limbah pertanian. Kedua jenis pakan ini umumnya rendah kandungan mineral. Berbagai mineral esensial terkait dengan

Proseding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau ISBN : 978-602-6953-21-6 4-5 Oktober 2017, Hotel Grand Inna Muara, Padang

reproduksi seperti Ca, P, Mg, Cu, Fe, Mn, dan Zn (Kumar, 2003; Darmono, 2007; Widhyari, 2012; Dewantari, 2013).

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari kandungan mineral hijauan dan darah yang dikaitkan dengan performa reproduksi sapi betina Simmental pada peternakan rakyat di wilayah Payakumbuh. Hipotesis dari penelitian ini, bahwa performa reproduksi yang kurang efisien disebabkan oleh mineral pakan hijauan yang diberikan mengalami defisien, yang juga dapat tercermin dari kandungan mineral di dalam darah. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman dalam perbaikan nutrisi dan meningkatkan efisiensi reproduksi.

MATERI DAN METODE PENELITIAN

Survei Performa Reproduksi: Rapid Rural Appraisal (RRA) dilakukan pada 15

peternakan yang kemudian dibedakan menjadi 3 skala kepemilikan yaitu, kecil (<5 ekor), menengah (5-10 ekor), dan besar (>10 ekor) untuk mengidentifikasi masalah reproduksi.

Sampling dan Analisis Mineral Hijauan: sampel pakan hijauan yang ada di kandang sapi milik peternak diambil untuk dianalisis komposisi botanis, identifikasi jenis hijauan yang dominan (komposisi botanis >5%) dan analisis kandungan mineral.

Sampling dan Analisis Mineral Darah: sampel darah diambil dari 15 ekor sapi terdiri atas 3 status reproduksi berbeda yaitu: 5 ekor dara, 5 ekor bunting, dan 5 ekor tidak bunting (infertil). Bagian plasma darah dipisahkan untuk dianalisis kandungan mineral.

Parameter yang Diukur dan Cara Pengukurannya: komposisi botanis pakan

hijauan, kandungan mineral hijauan (dominan), dan darah, yaitu Ca, P, Mg, Cu, Fe, Mn, dan Zn. Analisis mineral dilakukan dengan metode Atomic Absorption Spectrophometry (AAS) (Arifin, 2008).

Analisis Data: hasil survei performa reproduksi dianalisis secara deskriptif, mineral

hijauan dianalisis menggunakan (RAL (5x3), sidik ragam, dan uji DMRT), dan mineral darah pada status reproduksi sapi yang berbeda dianalisis dengan menggunakan uji t.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen Prosiding Seminar Nasional III Sapi dan Kerbau (Halaman 141-149)