• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Daerah Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Dramaga yang merupakan wilayah yang terletak di sebelah barat dari wilayah Kabupaten Bogor. Kecamatan Dramaga dibagi dalam 10 desa dengan 24 dusun, 72 Rukun Warga dan 309 Rukun Tetangga yaitu Desa Cikarawang, Desa Babakan, Desa Darmaga, Desa Neglasari, Desa Ciherang, Desa Sinarsari, Desa Sukawening, Desa Petir, Desa Sukadamai, dan Desa Purwasari.

Secara geografis Kecamatan Dramaga mempunyai batas-batas wilayah, sebelah utara dengan Kota Bogor, sebelah selatan dengan Kecamatan Ciomas, di sebelah timur dengan Kecamatan Taman Sari, dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Ciampea. Letak Kecamatan Dramaga disajikan pada Gambar Lampiran 3. Luas wilayah Kecamatan Dramaga seluas 2.437.636 km2 dan terletak 500 m di atas permukaan laut.

Sarana di Kecamatan Dramaga meliputi sarana sosial dan sarana ekonomi. Sarana sosial meliputi tempat ibadah yaitu 102 mesjid, 450 mushola, dan 5 surau, 93 gedung pendidikan, 10 kantor desa dan 1 buah lapangan olahraga. Sarana kesehatan yang ada di Kecamatan Dramaga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan dasar tersedia 4 buah Puskesmas, yaitu Puskesmas Dramaga, Puskesmas Purwasari, Puskesmas Cangkurawok dan Puskesmas Kampung Manggis serta 3 Puskesmas Pembantu dan 5 rumah bersalin yang tersebar di 10 desa. Selain itu dibentuk pula 78 posyandu dengan 287 kader aktif. Jumlah dukun bersalin yang membantu proses persalinan sebanyak 29 orang. Sarana ekonomi, khususnya pasar tempat masyarakat mendapatkan atau membeli kebutuhan sehari-hari terdapat di Desa Sinarsari. Masyarakat yang cukup jauh dari pasar pada umumnya membeli kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan pangan dari tukang sayur keliling atau warung dan toko. Selain itu di Kecamatan Dramaga terdapat juga 6 supermaket dan 3 minimarket.

Jumlah penduduk Kecamatan Dramaga sebanyak 84.609 orang. Distribusi penduduk menurut kelompok umur di Kecamatan Dramaga disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6 Distribusi penduduk menurut kelompok umur di Kecamatan Dramaga

No Kelompok Umur (Tahun) N %

1 2 3 4 5 0 – 4 5 – 9 10 – 14 15 – 59 ≥ 60 8.294 8.770 8.146 55.610 3.789 9,80 10,40 9,60 65,70 4,50 Jumlah 84.609 100

Persentase terbesar umur penduduk di Kecamatan Dramaga berada pada kelompok umur 15 – 59 tahun sebesar 65,70% (Tabel 6) yang merupakan masa produktif. Persentase terbesar kedua adalah kelompok umur 5 – 9 tahun sebesar 10,40% dari jumlah penduduk di Kecamatan Dramaga atau sebanyak 8.770 orang.

Tingkat pendidikan penduduk di Kecamatan Dramaga pada umumnya adalah lulusan SD sebanyak 31,88 % dan 41,97 % tidak tamat SD. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tingkat pendidikan penduduk Kecamatan Dramaga tergolong rendah. Penduduk yang berpendidikan sampai tingkat SLTP sebanyak 12,87 %, tingkat SLTA 10,39 %, tingkat diploma 1,13 % tingkat sarjana dan pascasarjana sebanyak 1,75 %.

Tingkat pendidikan dapat mempengaruhi jenis mata pencaharian penduduk. Penduduk di Kecamatan Dramaga pada umumnya tingkat pendidikannya SD, oleh karena itu sebagian besar penduduk bekerja sebagai buruh, pedagang, pegawai swasta atau pabrik. Adapun mata pencaharian penduduk lainnya sebagian kecil adalah sebagai pegawai negeri sipil (PNS), TNI/POLRI, petani, peternak dan lainnya.

Karakteristik Sosial Ekonomi Contoh

Pendapatan Rumah Tangga

Pendapatan rumah tangga contoh dihitung dengan menggunakan pendekatan pengeluaran pangan dan non pangan per bulan. Pendapatan rumah tangga berdasarkan pengeluaran pangan dan non pangan, seperti yang disajikan pada Tabel 7, tidak berbeda (p>0,05) antara kedua kelompok .

Tabel 7 Rata-rata pendapatan rumah tangga berdasarkan pengeluaran pangan dan non pangan

Variabel Perlakuan n=31 Kontrol n=29 Total n=60 Nilai p Pdpt. rumah tangga (Rp/bln) 510.503±89.232 535.631±110.435 522.854±100.147 0,385 Pdpt. per kapita (Rp/perkapita/bln) 103.657±24.977 103.001±23.918 103.335±24.253 0,918 Pengeluaran pangan (Rp/bln) 85.899±20.077 83.136±19.277 84.541±19.567 0,681 Penge. Non Pangan (Rp/bln) 19.866±6.880 17.758±6.179 18.794±6.075 0,103

Rata-rata pengeluaran per bulan per kapita berdasarkan pengeluaran pangan dan non pangan pada kelompok perlakuan adalah Rp103.657±24.977 dengan kisaran Rp46.000-152.000, sedangkan pada kelompok kontrol adalah Rp103.001±23.918 dengan kisaran Rp61.667-154.700. Rata-rata pengeluaran pangan untuk membeli MP-ASI dalam bentuk instan yaitu Rp14.534±23.724 pada kelompok perlakuan atau sebanyak 14% dari pengeluaran pangan total, sedangkan pada kelompok kontrol sebesar Rp24.193±25.040 atau sebanyak 23,5% dari pengeluaran pangan total.

Pangan merupakan kebutuhan utama, oleh karena itu pada keluarga miskin persentase pengeluaran pangan akan lebih besar dibandingan pengeluaran untuk non pangan. Persentase pengeluaran untuk pangan pada kedua kelompok merupakan persentase pengeluaran terbesar dibandingkan pengeluaran untuk non pangan, yaitu sebesar 83,0% pada ibu kelompok perlakuan dan 80,6% pada ibu kelompok kontrol.

Batas garis kemiskinan yang telah ditetapkan BPS dari tahun ketahun mengalami perubahan. Pada tahun 1999, BPS menetapkan batas garis kemiskinan sebesar Rp 96.956 per kapita per bulan untuk perkotaan dan Rp72.780 per kapita per bulan untuk pedesaan. Kemudian Menteri Sosial menyebutkan berdasarkan indikator BPS garis kemiskinan yang diterapkannya adalah keluarga yang memiliki penghasilan di bawah Rp 150.000 perbulan. Sedangkan menurut Bappenas berdasarkan pada indikator BPS tahun 2005 batas kemiskinan keluarga adalah yang memiliki penghasilan di bawah Rp180.000 per kapita per bulan dan menurut Bank Dunia batas garis kemiskinan adalah sebesar USD 2 per kapita per hari atau setara dengan Rp 540.000 per kapita per bulan.

Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan pada kedua kelompok tidak berbeda, yaitu sebesar Rp103.657±24.977 pada kelompok perlakuan dan Rp103.001±23.918 pada kelompok kontrol, oleh karena itu apabila mengacu pada pendapat Bappenas dengan indikator BPS tahun 2005 tentang garis kemiskinan, maka seluruh contoh pada penelitian ini merupakan keluarga miskin. Hal ini menunjukkan bahwa contoh dalam penelitian ini sesuai dengan kriteria penarikan contoh, bahwa keluarga yang menjadi contoh adalah ibu pada kelompok keluarga miskin.

Besar Keluarga

Besar keluarga antara ibu kelompok perlakuan dan ibu kelompok kontrol tidak berbeda (p > 0,05). Rata-rata jumlah anggota keluarga pada ibu kelompok perlakuan adalah 5,2 ± 1,42 orang dengan kisaran antara 429 orang, sedangkan jumlah anggota keluarga pada ibu kelompok kontrol adalah 5,4 ± 1,45 orang dengan kisaran antara 428 orang. Apabila jumlah anggota keluarga dikelompokkan menjadi keluarga kecil (≥ 4 orang), keluarga sedang (526 orang), dan keluarga besar (≥7 orang ), maka kurang dari setengahnya yaitu berturut-turut 45,2% dan 41,9% pada ibu kelompok perlakuan termasuk keluarga kecil dan sedang, masing-masing 37,9% pada ibu kelompok kontrol termasuk keluarga kecil dan sedang, sedangkan sisanya termasuk keluarga

besar (Tabel 8 ). Masih adanya jumlah anggota keluarga yang lebih dari 4 orang dikarenakan jumlah anak yang lebih dari 2 anak dan karena keluarga di daerah penelitian masih ada yang merupakan bentuk keluarga luas (extended family) yaitu tidak hanya keluarga inti, tetapi juga ada anggota keluarga lainnya sebanyak 26,7% pada keluarga kelompok perlakuan dan 6,9% pada keluarga kelompok kontrol.

Tabel 8 Besar keluarga dan karakteristik ibu pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol

Variabel Perlakuan Kontrol Total Nilai p

n % n % n %

Usia Ibu (tahun) 0,118

≥20 4 12,9 1 3,4 5 8,3 20 – 30 19 61,3 12 41,4 31 51,7 30 - 35 8 25,8 16 55,2 24 40,0 Pendidikan 0,673 SD 17 54,8 18 62,0 35 58,4 SMP 11 35,5 6 20,7 17 28,3 SMA 3 9,7 5 17,2 8 13,3 Besar Keluarga 0,511 Kecil ≥4 14 45,2 11 37,9 25 41,7 Sedang 4 – 6 13 41,9 11 37,9 24 40,0 Besar ≥7 4 12,9 7 24,2 11 18,3

Bentuk keluarga luas pada rumah tangga contoh, khususnya pada rumah tangga kelompok perlakuan, mempunyai keuntungan maupun kerugian bagi rumah tangga itu sendiri. Keuntungan dengan bentuk keluarga luas dari pengamatan peneliti yaitu adanya perhatian atau pengawasan serta perawatan bagi ibu yang baru melahirkan juga terhadap bayi dan anak yang lain. Kerugiaannya dengan bentuk keluarga luas bahwa pengambilan keputusan dalam rumah tangga dapat diputuskan oleh anggota keluarga lainnya. Contohnya pemberian makanan prelaktal pada bayi merupakan keputusan ibu atas dorongan orang tua atau anggota keluarga lainnya. Selain itu, karena ibu merupakan keluarga miskin maka akan semakin mempengaruhi ketersediaan bahan makanan.

Karakteristik Ibu dan Bayi

Karakteristik ibu meliputi usia ibu dan pendidikan ibu. Karakteristik bayi meliputi profil persalinan yang terdiri dari; tempat bersalin, penolong persalinan, cara persalinan dan jenis kelamin bayi; paritas; berat badan lahir dan panjang badan lahir bayi.

Umur ibu apabila dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu ≥ 20 tahun, 20-30, dan 30-35 tahun, maka pada ibu kelompok perlakuan lebih dari setengahnya yaitu 61,3% berada pada kelompok usia 20-30 tahun sedangkan pada ibu kelompok kontrol 55,2% berada pada kelompok 30-35 tahun (Tabel 8). Rata-rata umur ibu kelompok perlakuan adalah 26,8 ± 4,3 tahun dengan kisaran usia antara 18-35 tahun, sedangkan rata-rata umur ibu kelompok kontrol adalah 28,7 ± 4,8 tahun dengan kisaran antara 20-35 tahun.

Pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam menunjang kualitas manusia. Tingkat pendidikan ibu pada kedua kelompok pada umumnya rendah. Persentase terbesar tingkat pendidikan ibu pada kedua kelompok adalah tingkat sekolah dasar yaitu 54,8% pada kelompok perlakuan dan 62,0% pada kelompok kontrol (Tabel 8). Rata-rata lamanya tahun pendidikan pada kedua kelompok tidak jauh berbeda, yaitu 7,57±2,11 tahun pada kelompok perlakuan dengan kisaran 6 – 13 tahun dan 7,31±2,52 tahun pada kelompok kontrol dengan kisaran 4 – 12 tahun. Usia ibu dan pendidikan ibu antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol tidak berbeda (p>0,05).

Hasil penelitian pengaruh pendidikan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif ada yang menyatakan berpengaruh secara signifikan seperti penelitian Hasnim et al (2002) di daerah perdesaan Bangladesh, ada pula yang menyatakan tidak berpengaruh secara signifikan seperti penelitian Killewo et al

(2002) di daerah yang sama. Pendidikan yang rendah menurut Hasnim et al

(2002) akan berhubungan dengan pengetahuan tentang ASI, kolostrum dan menyusui secara eksklusif sehingga akan berpengaruh pada pemberian ASI eksklusif. Pendidikan yang rendah pada ibu akan menyebabkan ibu mempunyai persepsi negatif tentang ASI (Ruowei 2002). Persepsi yang negatif tentang

ASI pada akhirnya akan mempengaruhi praktek ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif kepada bayi.

Ibu pada kedua kelompok pada umumnya melahirkan bayi di rumah dan ditolong oleh dukun bayi. Berdasarkan Tabel 9, lebih dari setengahnya bayi pada kedua kelompok dilahirkan di rumah, yaitu 61,3% pada ibu kelompok perlakuan dan 55,2% pada ibu kelompok kontrol, sisanya di klinik bidan, rumah bersalin dan di Puskesmas.

Tabel 9 Karakteristik bayi antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol

Variabel Perlakuan Kontrol Total

n % n % n % Tempat Bersalin : Di Rumah Di Klinik Bidan Puskesmas 19 11 1 61,3 35,5 3,2 16 11 2 55,2 37,9 6,9 34 22 3 57,6 37,3 5,1 Penolong Persalinan : Dukun Bayi Bidan 16 15 51,6 48,4 15 14 51,7 48,3 30 29 50,8 49,2 Cara Persalinan : Pervaginam 31 100 29 100,0 59 100,0 Jenis Kelamin : Laki-Laki Perempuan 12 19 38,7 61,3 13 16 44,8 55,2 24 35 40,7 35,0

Penolong persalinan pada umumnya adalah dukun bayi dan bidan pada kedua kelompok. Pada ibu kelompok perlakuan 51,6% bayi ketika dilahirkan prosesnya ditolong oleh dukun bayi dan 48,4% oleh bidan, sedangkan pada ibu kelompok kontrol 51,7% oleh dukun bayi dan 48,3% oleh bidan. Sesuai dengan kriteria contoh, maka 100% bayi dilahirkan dengan cara pervaginam.

Penolong persalinan diharapkan memegang peranan besar terhadap ibu untuk memberikan ASI secara Eksklusif. Menurut Mardaya (2002) dalam kenyataan terdapat perbedaan yang terjadi di antara penolong persalinan terhadap pemberian ASI eksklusif, meskipun perbedaannya relatif kecil. Penolong persalinan yang dilakukan oleh tenaga non medis sebanyak 15% bayi diberi ASI eksklusif, sedangkan persalinan yang ditolong oleh tenaga medis 13,7% bayi diberi ASI eksklusif.

Jenis kelamin bayi yang dilahirkan pada kedua kelompok pada umumnya adalah perempuan. Lebih dari setengahnya yaitu 61,3% pada ibu kelompok perlakuan dan 55,2% pada ibu kelompok kontrol berjenis kelamin perempuan, sedangkan sisanya berjenis kelamin laki-laki (Tabel 9).

Rata-rata paritas ibu melahirkan lebih rendah pada kelompok perlakuan dibandingkan kelompok kontrol, yaitu 2,6±0,77 kali pada kelompok perlakuan dengan kisaran 2- 6 kali dan. 3,261,38 kali pada kelompok kontrol dengan kisaran 2- 4 kali. Bayi yang dilahirkan pada kelompok perlakuan maupun kelompok kontrol pada umumnya merupakan anak ke 3 ( Tabel 10). Hal ini sesuai dengan kriteria contoh, bahwa bayi yang dilahirkan bukan merupakan anak pertama.

Tabel 10 Rata-rata paritas, berat badan dan panjang badan bayi lahir antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol

Variabel Perlakuan n=31 Kontrol n=29 Total n=60 Paritas 2,6 ± 0,77 3,2 ± 1,38 2,9 ± 1,1

Berat Bayi Lahir (g) :

Laki-Laki 3.000 ± 473 3.375 ± 324 3.249 ± 414 Perempuan 3.342 ± 430 3.472 ± 492 3.401 ± 457

Total 3.253 ± 454 3.429 ± 421 3.339 ± 443

Panjang Bayi Lahir (cm) :

Laki-Laki 50,1 ± 2,08 48,5 ± 1,76 49,20 ± 2,04 Perempuan 48,7 ± 1,60 49,4 ± 1,20 49,00 ± 1,45

Total 49,2 ± 1,88 48,9 ± 1,52 49,05 ± 1,7

Rata-rata berat badan dan panjang badan bayi ketika dilahirkan, lebih berat dan lebih panjang pada bayi kelompok kontrol dibandingkan kelompok perlakuan (Tabel 10). Rata-rata berat badan bayi lahir 3.253±454 g pada kelompok perlakuan dan 3.429±421 g pada kelompok kontrol. Kisaran berat badan bayi lahir sebesar 2.450-4.000 g pada kelompok perlakuan dan 2.700- 4.500 g pada kelompok kontrol. Rata-rata panjang badan bayi lahir pada kelompok perlakuan yaitu 48,9±1,52 cm dan 49,2±1,88 cm pada kelompok kontrol. Secara umum rata-rata berat badan dan panjang badan bayi lahir berada

sekitar median berat lahir yang ditetapkan WHO, yaitu berturut-turut 3.300 g dan 50,5 cm pada bayi laki-laki serta 3.200 g dan 49,9 cm untuk bayi perempuan.

Pengetahuan Gizi

Pengetahuan merupakan segala informasi yang diperoleh dari pihak luar diri subyek yang disertai pemahaman pada informasi yang diterima. Pengetahuan dapat diperoleh dengan cara bertanya kepada orang lain, pengalaman sendiri, cerita dari orang lain atau melalui media masa. Menurut Welford (2001) salah satu kendala dalam meningkatkan penggunaan ASI eksklusif adalah kurangnya pengetahuan. Pengetahuan gizi ibu tentang ASI merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi ibu dalam pemberian ASI. Selain itu, kurangnya pengetahuan menurut Rosemary et al (2004) merupakan potensi yang dapat menghambat inisiasi dan durasi pemberian ASI.

Materi konseling gizi yang diberikan pada ibu kelompok perlakuan meliputi pengertian ASI eksklusif, waktu pemberian ASI, durasi pemberian ASI eksklusif, manfaat ASI eksklusif, pengertian kolostrum, manfaat pemberian kolostrum, makanan prelaktal, konsumsi ibu dan perawatan payudara. Ibu yang diberi konseling gizi diharapkan akan memiliki pengetahuan gizi yang mendukung pemberian ASI eksklusif sehingga akan mendorong ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya.

Perubahan pengetahuan gizi pada ibu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, dapat dilihat dari perubahan jawaban yang benar berdasarkan hasil pre-test dan post test. Presentase jawaban yang benar berdasarkan hasil pre-test dan post-test disajikan pada Tabel 11.

Berdasarkan Tabel 11, hasil pre-test tentang konsumsi ibu agar produksi ASI banyak dan puting susu dibersihkan agar ASI keluar dengan lancar, sudah dikuasai oleh ibu dari kedua kelompok dimana seluruh ibu menjawab benar. Sebaliknya pengetahuan gizi tentang pengertian kolostrum, manfaat kolostrum dan lamanya pemberian ASI eksklusif seluruh ibu pada kelompok perlakuan tidak dapat menjawab dengan benar, bahkan tentang pengertian kolostrum dan

manfaat kolostrum hampir seluruh ibu menjawab tidak tahu. Pada ibu kelompok kontrol hanya 6,9% ibu yang mengetahui tentang pengertian kolostrum, tetapi tidak seorang ibu mengetahui atau menjawab dengan benar tentang manfaat kolostrum. Selain itu pada ibu kedua kelompok, tidak seorangpun ibu yang dapat menjawab dengan benar lamanya pemberian ASI eksklusif. Jawaban untuk lamanya pemberian ASI eksklusif pada umumnya empat bulan yaitu 66,7% pada ibu kelompok perlakuan dan 79,3% pada ibu kelompok kontrol. Sedangkan yang menjawab tiga bulan pada ibu kelompok perlakuan sebanyak 13,8% dan pada ibu kelompok kontrol sebanyak 16,7%, dan yang menjawab dua bulan sebanyak 16,7% pada ibu kelompok perlakuan. Pada ibu kelompok kontrol yang menjawab dua bulan serta satu bulan masing-masing sebanyak 3,4%. Jawaban ibu kedua kelompok tentang lamanya pemberian ASI eksklusif pada umumnya selama empat bulan dan tidak seorangpun yang menjawab enam bulan, menunjukkan bahwa sosialisasi pemberian ASI eksklusif selama enam bulan belum dilaksanakan pada saat penelitian berlangsung.

Tabel 11 Presentase jawaban pengetahuan gizi yang benar berdasarkan hasil pre-test dan post-test pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol

Topik Pertanyaan

Perlakuan Kontrol

Pre-Test Post-Test Pre-Test Post-Test n % n % n % n %

1. Pengertian ASI eksklusif 1 3,2 31 100 0 0 2 6,9 2. ASI merupakan makanan yang

tepat bagi bayi

20 64,5 31 100 20 69,0 23 79,3

3. ASI harus segera diberikan kepada bayi setelah bayi dilahirkan

12 38,7 31 100 10 34,5 11 37,9

4. Manfaat ASI bagi bayi 22 71,0 31 100 14 48,3 20 69,0 5. Lamanya pemberian ASI saja

kepada bayi

0 0 31 100 0 0 4 13,8

6. Pengertian kolostrum 0 0 31 100 2 6,9 5 17,2 7. Manfaat dari kolostrum 0 0 31 100 0 0 4 13,8 8. Bayi tidak perlu diberi makanan

prelaktal

6 19,3 31 100 9 31,0 9 31,0

9. Konsumsi ibu agar produksi ASI banyak

31 100 31 100 29 100 29 100

10.Puting susu selalu dibersihkan agar ASI keluar dengan lancar

31 100 31 100 29 100 29 100

Lebih dari setengahnya ibu pada kedua kelompok mengetahui bahwa ASI merupakan makanan yang paling tepat untuk bayi, sedangkan sisanya menjawab pisang, madu, air kopi dan susu formula merupakan makanan yang tepat diberikan kepada bayi setelah bayi dilahirkan. Selain itu, ibu pada kedua kelompok sebagian besar menjawab bahwa bayi perlu diberi makanan prelaktal.

Salah satu hal yang mendukung pemberian ASI eksklusif adalah bayi segera disusukan dalam waktu kurang dari 30 menit. Kurang dari setengahnya ibu pada kedua kelompok yang menjawab bahwa bayi segera disusukan setelah dilahirkan. Jawaban lain yang diberikan ibu tentang waktu pemberian ASI cukup bervariasi yaitu mulai dari 6 jam sampai 3 hari.

Berdasarkan hasil post-test, semua pertanyaan di jawab benar oleh ibu kelompok perlakuan, sedangkan pada ibu kelompok kontrol tidak semua pertanyaan dijawab benar. Apabila persentase jawaban yang benar dari post-test dan pre-test dibandingkan, maka persentase jawaban benar mengalami perubahan. Perubahan jawaban yang benar terjadi tidak hanya pada kelompok perlakuan tetapi juga pada kelompok kontrol, tetapi dengan persentase perubahan jawaban benar yang berbeda. Persentase perubahan jawaban yang benar pada kelompok perlakuan lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Pada kelompok perlakuan jawaban yang diberikan berdasarkan hasil post-test seluruh pertanyaan dijawab benar sehingga secara keseluruhan rata-rata presentase perubahan jawaban sebesar 60,3%, sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata persentase perubahan sebesar 7,9%. Perubahan jawaban yang benar meliputi pengertian ASI eksklusif, waktu pemberian ASI, durasi pemberian ASI eksklusif, manfaat ASI eksklusif, pengertian kolostrum, manfaat pemberian kolostrum, makanan prelaktal, konsumsi ibu dan perawatan payudara pada ibu kelompok perlakuan. Sedangkan pada ibu kelompok kontrol perubahan jawaban benar yang berkaitan dengan pengertian ASI eksklusif, waktu pemberian ASI, durasi pemberian ASI eksklusif, manfaat ASI eksklusif, pengertian kolostrum dan manfaat pemberian kolostrum. Perubahan jawaban yang benar pada ibu kelompok kontrol dapat dikarenakan selama proses penelitian, ibu memperoleh informasi tentang ASI eksklusif dari cerita ibu lain

atau dari media sehingga informasi tersebut akan memperbaharui pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif sebelumnya.

Skor pengetahuan gizi mengalami perubahan berdasarkan hasil pre-test dan post-test. Berdasarkan hasil pre-test, seluruh ibu pada kelompok perlakuan mempunyai skor dibawah 6 dengan rata-rata 3,97±1,2 dengan rentang skor 2-5. Sedangkan pada ibu kelompok kontrol, sebagian besar ibu yaitu 86,2% mempunyai skor dibawah 6 dengan rata-rata 3,90±1,41 dan rentang skor 2-7. Berdasarkan hasil post-test, seluruh ibu mempunyai skor 10 pada kelompok perlakuan, sedangkan pada kelompok kontrol sebagian besar masih dibawah 6 yaitu sebanyak 75,9%, sedangkan sisanya 24,1% berada diatas 6 dengan rata- rata 4,69±1,65 dan rentang skor antara 2 – 8.

Skor pengetahuan gizi dikategorikan dalam tiga tingkat yaitu baik, sedang dan kurang seperti yang diungkapkan Khomsan (2000). Kategori pengetahuan gizi pada ibu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol disajikan pada Tabel 12.

Tabel 12 Kategori pengetahuan gizi berdasarkan hasil pre-test dan post-test pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol

Kategori Pengetahuan Gizi

Perlakuan Kontrol Pre-test Post-test Pre-test Post-test n % n % n % n % ƒ Kurang ƒ Sedang ƒ Baik 31 0 0 100 0 0 0 0 31 0 0 100 25 4 0 86,2 13,8 0 22 6 1 75,9 20,7 3,4

Tingkat pengetahuan gizi ibu mengalami perubahan kategori pada kedua kelompok berdasarkan hasil pre-test dan post-test. Berdasarkan hasil pre-test (Tabel 12) pengetahuan gizi ibu pada kelompok perlakuan seluruhnya berada pada kategori kurang, sedangkan pada ibu kelompok kontrol 86,2% berada pada kategori kurang dan sisanya 13,8% berada pada kategori sedang. Berdasarkan hasil post-test, seluruh ibu pada kelompok perlakuan berada pada kategori baik, sedangkan pada ibu kelompok kontrol 3,4% ibu berada pada kategori baik,

20,7% berada pada kategori sedang dan sebagian besar 75,9% berada pada kategori kurang.

Berdasarkan hasil uji statistik Independent Samples T-Test pada pre-test tidak terdapat perbedaan skor pengetahuan gizi (p=0,778) antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, sedangkan berdasarkan hasil post-test terdapat perbedaan skor pengetahuan gizi ibu (p=0,000) antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. Rata-rata skor pada ibu yang diberi konseling gizi lebih besar dibandingkan yang tidak diberi konseling gizi. Hal ini sekaligus menjawab hipotesis pertama dari penelitian bahwa ibu pada kelompok yang diberi konseling gizi mempunyai skor pengetahuan gizi lebih baik dibandingkan ibu pada kelompok yang tidak diberi konseling gizi.

Berdasarkan analisa statistik Uji Paired Samples T-Test terdapat perbedaan (p=0,000) pengetahuan gizi pada ibu kelompok perlakuan sebelum diberi konseling gizi dan setelah diberikan konseling gizi, sedangkan pada ibu kelompok kontrol tidak terdapat perbedaan (p =0,52). Hal ini menunjukkan bahwa ada perubahan pengetahuan gizi pada ibu kelompok perlakuan, sebaliknya tidak terdapat perubahan pengetahuan gizi pada ibu kelompok kontrol.

Informasi yang diberikan oleh konselor kepada ibu kelompok perlakuan mengenai pengertian ASI eksklusif, waktu pemberian ASI, durasi pemberian ASI eksklusif, manfaat ASI eksklusif, pengertian kolostrum, manfaat pemberian kolostrum, makanan prelaktal, konsumsi ibu dan perawatan payudara dapat dimengerti oleh ibu dengan baik. Pengetahuan gizi yang telah dimiliki oleh ibu diharapkan akan menjadi bahan perenungan (contemplation) bagi ibu, sehingga akan mengubah persepsi ibu tentang ASI eksklusif dan mendorong ibu untuk berniat memberikan ASI eksklusif selama enam bulan.

Sikap Gizi

Sikap menurut Notoatmojo (2003) adalah reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Sikap belum merupakan suatu

tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan ”pre-disposisi” tindakan atau perilaku.

Konseling gizi yang diberikan pada ibu kelompok perlakuan diharapkan dapat menumbuhkan sikap yang lebih baik dalam mendukung pemberian ASI eksklusif. Sikap positif ibu yang mendukung pemberian ASI eksklusif ditunjukkan dengan persetujuan akan sikap bahwa ASI segera diberikan setelah

Dokumen terkait