Penelitian ini menggunakan desain Randomized Controlled Trial
(Bisma Murti, 2003) yaitu studi eksperimental yang menggunakan prosedur acak untuk mengalokasi contoh pada perlakuan dan kontrol. Subyek penelitian yaitu ibu-ibu yang diberi konseling sebagai kelompok perlakuan dan ibu-ibu yang tidak diberi konseling sebagai kelompok kontrol.
Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan dari penelitian ”Studi Pengaruh Pemberian Biskuit dan Mie yang Diperkaya Zat Gizi Mikro terhadap status Gizi Mikro Ibu dan Anak” yang dilakukan oleh Hardinsyah dkk, atas kerjasama Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan World Food Programme (WFP)-Indonesia. Penelitian dilakukan di daerah pinggiran kota Bogor, Jawa Barat. Untuk itu dipilih satu kecamatan yang terletak di pinggiran kota Bogor (berdasarkan status sosial ekonomi dan kondisi demografi) sebagai lokasi penelitian. Kecamatan terpilih dijadikan sebagai lokasi pelaksanaan penelitian pemberian konseling pada ibu untuk dapat memberikan ASI eksklusif.
Kecamatan terpilih yang menjadi wilayah penelitian yaitu yang mempunyai 1) memiliki jumlah keluarga miskin terbanyak, yang menunjukkan bahwa di kecamatan tersebut terdapat ibu hamil yang dapat dipilih yang berasal dari keluarga miskin; 2) tidak sedang ada kegiatan intervensi berupa pendidikan gizi pada ibu hamil 3) kemudahan dalam logistik saat pelaksanaan intervensi. Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut, maka kecamatan yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah Dramaga (Lampiran 1)
Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor terdiri dari sepuluh desa (Lampiran 2) yaitu Desa Sukadamai, Desa Cikarawang, Desa Babakan. Desa Dramaga, Desa Ciherang, Desa Neglasari, Desa Sinarsari, Desa Petir, Desa Purwasari dan Desa Sukawening. Seluruh desa sebagai lokasi penelitian, yaitu Desa Cikarawang, Desa Babakan. Desa Dramaga, Desa Ciherang, Desa Neglasari, Desa Sinarsari, Desa Petir, Desa Purwasari dan Desa Sukawening. Penelitian dilaksanakan selama 15 bulan (Tabel 2).
Tabel 2 Jadwal kegiatan penelitian konseling gizi No Kegiatan Bulan ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1 Sosialisasi penelitian 2 Pengumpulan Data dasar 3 Pemberian Konseling Gizi 4 Pemantauan Pemberian ASI 5 Pemantauan kesehatan , konsumsi Ibu dan bayi 6 Pengukuran Antropometri Ibu dan Bayi 7 Pengumpulan
Data akhir
Penelitian dilaksanakan selama 15 bulan yaitu dari bulan November 2004 - Pebruari 2006. Penelitian diawali dengan mensosialisasikan kembali kepada ibu hamil dan anggota keluarga yang lain tentang pemberian konseling gizi. Mensosialisasikan kembali penelitian ini, karena kesediaan ibu yang didukung oleh suami dengan menandatangani informed consent dilakukan pada saat sosialisasi penelitian Hardinsyah dkk.
Data ibu hamil yang menjadi contoh merupakan hasil survey dari penelitian Hardinsyah dkk. Survey dilakukan berdasarkan data sekunder dari Puskesmas Dramaga yang meliputi nama desa, nama Posyandu, nama kader dan nama ibu hamil serta alamat ibu hamil. Peneliti yang pada saat penelitian Hardinsyah dkk sebagai supervisor menghubungi kepala desa untuk memberitahukan kegiatan yang akan dilakukan, kemudian menghubungi kader. Peneliti bersama kader melakukan pendataan ibu hamil keluarga miskin melalui kunjungan rumah meliputi nama, usia, paritas dan usia kehamilan. Survey dilakukan berdasarkan data dari 71 Posyandu yang tersebar di sepuluh desa.
Pada saat survey apabila ada ibu yang merasa sudah telat menstruasi tetapi belum melakukan tes kehamilan, maka dilakukan tes kehamilan pada saat itu juga dengan menggunakan HCG strip one step urine pregnancy test merek Blue Cross Biotech Co.,LTD. Jumlah ibu hamil dari keluarga miskin berdasarkan hasil survey sebanyak 112 ibu. Ibu yang bersedia mengikuti kegiatan penelitian sebanyak 108 ibu. Berdasarkan syarat contoh dan jumlah contoh yang dibutuhkan dalam penelitian ini sebanyak 68 ibu, maka dilakukan pengacakan terhadap 108 ibu.
Pengumpulan data dasar meliputi karakteristik keluarga contoh, konsumsi ibu, pengetahuan, sikap dan praktek ibu yang mendukung pemberian ASI Eksklusif, data antropometri dan kesehatan ibu. Pengumpulan data dasar meliputi karakteristik keluarga, konsumsi ibu, pengetahuan gizi, sikap gizi dan praktek gizi berdasarkan kuesioner, dikumpulkan dengan melakukan kunjungan rumah menggunakan metoda wawancara. Data antropometri diperoleh dengan melakukan penimbangan dan pengukuran bersamaan dengan pemeriksaan kesehatan.
Pemeriksaan kesehatan dan penimbangan serta pengukuran dilaksanakan dari tanggal 7 – 12 Oktober 2004 bertempat di Puskesmas, Puskesmas pembantu dan balai desa. Pemeriksaan data kesehatan ibu dilakukan oleh dokter, sehingga ibu betul-betul sehat dan tidak memiliki penyakit yang akan menghambat pemberian ASI eksklusif, sedangkan penimbangan serta pengukuran dilakukan oleh peneliti dan enumerator.
Kegiatan selanjutnya adalah pemberian konseling gizi pada saat ibu hamil trisemester ketiga dan pemberian konseling gizi setelah ibu melahirkan. Pelaksanaan pemberian konseling gizi dilakukan selama 12 bulan, hal ini dikarenakan ada rentang usia kehamilan dari ibu hamil sebagai contoh. Rentang usia kehamilan saat dilakukan ibu sebagai contoh adalah 5 bulan.
Penelitian melibatkan kader sebagai pemantau kelahiran dan pemberian ASI eksklusif pada bayi. Kader harus segera memberitahu peneliti atau konselor tentang kelahiran bayi di daerahnya, sehingga peneliti dan konselor dapat segera memberikan konseling pertama setelah melahirkan dalam kurun waktu
penelitian yang bergabung dengan sosialisasi penelitian Hardinsyah dkk pada tanggal 21 Oktober 2004 di Aula Kecamatan Dramaga. Pertemuan tersebut bertujuan agar kader mengerti, memahami dan dapat membantu penelitian yang akan dilakukan, oleh karena itu dijelaskan kepada kader mengenai tujuan penelitian, mekanisme pelaporan kelahiran dan mekanisme pemantauan pemberian ASI eksklusif yang melibatkan kader.
Selama penelitian berlangsung dilakukan pemantauan pemberian ASI, pemantauan konsumsi dan kesehatan bayi, serta pengukuran antropometri ibu dan bayi. Pemantauan pemberian ASI eksklusif dilakukan dengan menanyakan langsung kepada ibu. Untuk menjaga validitas hasil penelitian bahwa bayi benar-benar diberi ASI eksklusif dilakukan melalui cek silang terhadap informasi yang diberikan oleh ibu dengan informasi anggota keluarga lainnya, tetangga dan laporan kader pada saat kunjungan rumah dan pada saat kegiatan Posyandu, serta cek silang dengan hasil pemantauan konsumsi bayi yang dilakukan dengan waktu kunjungan rumah yang berbeda. Pemantauan kesehatan dilakukan dengan menanyakan langsung kepada ibu, sedangkan pengukuran antropometri dilakukan setiap bulan meliputi berat dan panjang badan bayi serta berat badan ibu. Kegiatan terakhir dari penelitian adalah pengambilan data akhir yang dilakukan setelah anak yang dilahirkan berusia enam bulan.
Contoh dan Penarikan Contoh
Sesuai tujuan penelitian ini yaitu bertujuan menganalisis pengaruh konseling gizi pada ibu keluarga miskin perdesaan terhadap pemberian ASI eksklusif pada saat ibu sedang hamil tri semester ketiga yang dilanjutkan setelah ibu melahirkan sampai bayi berusia enam bulan terhadap pemberian ASI eksklusif, maka contoh dalam penelitian ini pada awalnya adalah ibu hamil dengan usia kehamilan trisemester ke tiga. Ukuran contoh ditentukan berdasarkan perbedaan proporsi (Ariawan 1997). Perbedaan proporsi berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Morrow et al (1999) bahwa
pemberian ASI eksklusif sebanyak 55% pada kelompok ibu yang diberi konseling dan 15% pada ibu yang tidak diberi konseling.
n =
)
)
(
2 2 1 2 2 2 1 1 1 2 / 1 2 (1 ) (1 ) (1 P P P P P P Z P P Z − ⎜ ⎝ ⎛ −α − + −β − + − Dimana : n = Jumlah sampel P = Hasil pembagian P1+ P2P1 = Persentase pemberian ASI eksklusif kelompok intervensi (55 %)
P2 = Persentase pemberian ASI eksklusif kelompok kontrol (15 %) 2 / 1−α Z = Derajat kemaknaan 5 % (1,96) β − 1 Z = Kekuatan uji 90 % (1,28) n =
)
2 2 ) 15 , 0 55 , 0 ( ) 15 , 0 1 ( 15 , 0 ) 55 , 0 1 ( 55 , 0 28 , 1 ) 35 , 0 1 ( 35 , 0 . 2 96 , 1 − ⎜ ⎝ ⎛ − + − + − = 16 , 0 435 , 4 = 27,72 ≈ 28Berdasarkan perhitungan di atas, maka contoh penelitian sebesar 28 ibu hamil. Untuk antisipasi terjadinya mengurangan contoh selama penelitian, berdasarkan beberapa penelitian yang sudah dilakukan pengurangan contoh berkisar 10% - 20%, maka jumlah contoh ditambahkan sebesar 20% dari perhitungan, sehingga contoh penelitian dalam penelitian ini sebanyak 34 orang ibu hamil. Cara penarikan contoh di gambarkan dalam skema seperti pada Gambar 8.
Gambar 8 Cara penarikan contoh
Jumlah contoh pada awal penelitian adalah 68 ibu hamil tri semester kedua, dan selama periode penelitian terdapat 8 contoh drop-out atau sebesar 12%. Alasan yang menyebabkan sampel drop-out adalah ibu pindah tempat tinggal sebanyak 3 orang, ibu melahirkan dengan cara sesar sebanyak 2 orang, ibu sakit dan dirawat di rumah sakit 1 orang, ibu menolak melanjutkan kegiatan sebanyak 1 orang, dan ibu melahirkan dengan berat bayi lahir dibawah 2.500g dan dirawat sebanyak 1 orang. Jadi jumlah contoh dalam penelitian ini sebanyak 60 ibu yang terdiri dari 31 ibu pada kelompok perlakuan dan 29 ibu pada kelompok kontrol.
Wilayah penelitian (Kecamatan Dramaga)
Daftar Ibu Hamil Trisemester ke tiga (Penelitian Hardinsyah dkk)
Daftar Ibu Terpilih
Kriteria :
- Keluarga miskin (memiliki kartu miskin atau dinyatakan miskin berdasarkan pernyataan kader) - Tidak menderita penyakit keras - Tidak gizi buruk
- Tidak bekerja - Usia ≤35 thn
- Bukan kehamilan pertama kali - Menandatangani surat
perjanjian dan bersedia mengikuti kegiatan
68 ibu hamil tri semester ke tiga
34 ibu hamil trisemester ketiga Perlakuan 34 ibu hamil trisemester ketiga Kontrol Hasil Pengacakan Data dasar
Ibu Melahirkan Ibu Melahirkan
31 ibu menyusui Data Dasar 29 ibu menyusui Data Akhir 6 bulan Kriteria : - I bu melahirkan Normal - Bayi tidak BBLR/ BBLR
tidak dirawat di Falkes - Bayi tidak cacat (bibir
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data dasar yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer terdiri dari data awaldan data akhir. Data awal yang dikumpulkan meliputi beberapa aspek, yaitu : (1) karakteristik ibu meliputi umur, tingkat pendidikan, besar keluarga dan pendapatan rumah tangga; (2) pengetahuan gizi, sikap gizi dan praktek gizi; (3) konsumsi dan status gizi ibu. Data akhir meliputi : (1) pengetahuan gizi, sikap gizi dan praktek gizi; (2) konsumsi dan status gizi ibu; (3) konsumsi, status gizi dan kesehatan bayi; (4) pemberian ASI eksklusif. Secara singkat jenis dan cara pengumpulan data dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3 Jenis dan cara pengumpulan data
Aspek Variabel Metode
Pengukuran Metode Pengumpulan Karakteristik ibu Umur Pendidikan Besar Keluarga Pengeluaran Kel.
Dicatat Wawancara menggunakan
Kuesioner Pengetahuan, Sikap dan Praktek gizi ibu Pengetahuan gizi Sikap gizi Praktek gizi
Dicatat Pre-test dan post-test
Wawancara menggunakan Kuesioner Konsumsi Ibu Jenis makanan Jumlah yang dimakan Frekuensi makan Kebiasaan makan Pantangan
Dicatat Wawancara menggunakan
Kuesioner. Dilakukan selama 6 kali selama intervensi Keadaan Gizi Ibu BB setelah melahirkan BB saat ini TB saat ini Penimbangan dan pengukuran Dicatat Pengukuran langsung dilakukan sebanyak 6 kali selama intervensi Konsumsi Bayi Jenis makanan Jumlah yang dimakan Frekuensi makan
Dicatat Wawancara menggunakan
Kuesioner. Dilakukan selama 6 kali selama intervensi Status gizi dan Kesehatan Bayi BB dan PB lahir BB dan TB saat ini Kondisi kesehatan
Penimbangan dan pengukuran Dicatat
Pengukuran langsung dilakukan sebanyak 7 kali selama intervensi
Wawancara menggunakan Kuesioner
Data primer diperoleh dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Data sekunder meliputi keadaan geografis, penduduk, fasilitas pelayanan kesehatan dan pemanfaatannya dikumpulkan dari catatan Kantor Kecamatan, Puskesmas setempat dan catatan kader.
Pengambilan data primer dilakukan oleh 4 orang enumerator yang sebelumnya telah dilatih. Pelatihan dilakukan untuk mengurangi kesalahan dalam pengisian kuesioner dan untuk menyamakan persepsi di lapangan. Pengambilan data primer dilakukan di sepuluh desa, sehingga dua enumerator bertanggung jawab akan dua desa dan dua orang enumerator bertanggung jawab akan tiga desa. Peneliti terlibat dalam pengambilan data primer sebagai supervisor di lapangan, sehingga peneliti bisa memantau proses pengambilan data primer.
Hasil dari data dasar diharapkan dapat diperoleh informasi awal mengenai karakteristik keluarga contoh, tingkat pengetahuan gizi, sikap gizi dan praktek gizi yang mendukung pemberian ASI eksklusif serta lingkungan sosial. Informasi awal tersebut, dijadikan dasar dalam pelaksanaan konseling kepada ibu dalam pemberian ASI eksklusif.
Data konsumsi ibu dan bayi dikumpulkan dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner oleh peneliti dan tenaga lapang yang sudah dilatih. Konsumsi ibu dan bayi dikumpulkan dengan menggunakan metode re-call.
Data kesehatan bayi selama dilakukan konseling gizi adalah data kondisi kesehatan dalam keadaan sehat atau sakit. Data kesehatan ini didasarkan dari pernyataan ibu.
Data antropometri dikumpulkan dengan cara pengukuran langsung yang dilakukan petugas pengumpul data. Data antropometri yang dikumpulkan meliputi, berat badan dan tinggi badan ibu serta berat badan dan panjang badan bayi. Pengambilan data antropometri ibu dilakukan pada saat usia kehamilan sembilan bulan dan setiap bulan setelah ibu melahirkan sampai usia bayi enam bulan, sedangkan pengukuran antropometri bayi dilakukan segera setelah bayi dilahirkan dan setiap bulan sampai usia bayi enam bulan. Pengukuran berat badan dan panjang badan bayi baru lahir serta berat badan ibu yang baru melahirkan harus dilakukan dalam waktu 48 jam setelah bayi dilahirkan, karena
dikuatirkan terjadi perubahan berat badan bayi. Oleh karena itu dilakukan kerjasama dengan kader untuk segera menginformasikan kelahiran tersebut kepada peneliti atau konselor. Pengukuran berat dan panjang badan bayi baru lahir dilakukan oleh peneliti dan tenaga lapang yang telah dilatih kemudian dicatat.
Berat bayi diukur dengan metode standar, yaitu bayi ditimbang tanpa pakaian menggunakan timbangan bayi merek misaki dengan ketelitian 0,05 kg. Apabila keluarga contoh tidak berkenan pengukuran bayi dalam keadaan telanjang, maka digunakan faktor koreksi terhadap penimbangan, yaitu dengan mengurangi berat badan bayi dengan berat pakaian bayi.
Berat badan ibu diukur dengan menggunakan timbangan injak merek Camry dengan kapasitas maksimum 130 kg dan ketelitian 0,5 kg. Cara menimbang ibu dengan mengenakan pakaian seminimal mungkin atau menggunakan faktor koreksi pakaian yang dikenakan pada saat ditimbang.
Panjang bayi diukur dengan cara mengukur panjang dari puncak kepala sampai telapak kaki dalam posisi terlentang dengan metode standar menggunakan papan ukuran khusus untuk bayi. Metode standar dalam mengukur panjang bayi yaitu posisi kepala tegak lurus menghadap keatas, kepala, punggung, pantat dan bagian belakang kaki menempel pada alas, sedangkan telapak kaki menempel pada papan ukur. Pengukuran panjang badan bayi harus dilakukan oleh dua orang, yaitu satu orang memegang dan menjaga agar posisi kepala tegak lurus dan satu orang lagi menekan lutut serta memegang papan fiksasi (skala).
Tinggi badan ibu diukur menggunakan microtoise dengan ukuran maksimum 200 cm dan ketelitian 0,1 cm. Cara mengukur tinggi badan ibu yaitu dari puncak kepala sampai ujung telapak kaki dalam posisi berdiri dan dilakukan dengan metode standar, dimana posisi kepala dan pandangan harus tegak lurus ke depan, posisi punggung, pantat, kaki bagian belakang, dan tumit harus menempel pada dinding. Pembacaan skala harus dengan posisi tegak lurus dan pengukuran dilakukan 2 kali kemudian dicatat.
Kegiatan Konseling Gizi
Pemberian konseling gizi dilakukan sebanyak 7 kali selama penelitian menggunakan metode kunjungan rumah (home visit), dengan perincian 2 kali selama hamil dan 5 kali setelah melahirkan. Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan oleh Morrow et al. (1999), Haider et al. (2000) dan Aidam et al. (2005) menunjukkan bahwa pemberian konseling selama hamil dan diteruskan setelah melahirkan persentase ibu yang menyusui secara eksklusif lebih besar, dibandingkan persentase ibu yang mendapat konseling setelah melahirkan.
Kegiatan konseling gizi, seperti pada Gambar 9, dilakukan sebanyak 7 kali pada setiap ibu yaitu 2 kali saat ibu hamil dan 5 kali setelah ibu melahirkan. Pada saat sedang hamil, konseling gizi dilakukan pada usia kehamilan memasuki usia delapan bulan dan sembilan bulan, sedangkan setelah ibu melahirkan dilakukan pada hari kedua, hari kelima, hari kesepuluh sampai hari keempat belas, bulan kedua dan bulan keempat.
Bulan ke-8
bulan ke-9
≥ 2 hari Hari ke- 5 Hari ke10- 14 Bulan ke 2 Bulan ke 4
Gambar 9 Waktu pemberian konseling kepada Ibu pada saat hamil dan setelah melahirkan.
Saat Hamil Setelah Melahirkan Melahirkan
Konseling ke-1 Konseling ke-3 Konseling ke-5 Konseling ke-7 Konseling ke-2 Konseling ke-4 Konseling ke-6
Konseling gizi dilakukan oleh tenaga konselor yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu, yaitu sarjana lulusan GMSK sehingga mempunyai pendidikan yang sesuai sebagai konselor, mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik dan berkeinginan untuk membantu ibu-ibu yang akan dikonseling. Tenaga konselor dipilih berdasarkan seleksi dan kemudian dilakukan pelatihan sebelum melakukan konseling. Tenaga konselor sebanyak empat orang yang merupakan tenaga enumerator pada saat pengambilan data dasar, oleh karena itu dilakukan pengacakan daerah saat konseling sehingga akan berbeda saat menjadi enumerator dan saat menjadi konselor. Peneliti terlibat dalam kegiatan konseling sebagai observer dan supervisor.
Kegiatan konseling gizi dilakukan oleh konselor sesuai dengan protokol konseling ( Lampiran 3). Kegiatan konseling gizi diawali dengan percakapan pendahuluan dengan menanyakan kabar ibu atau bayi, kemudian konselor memberikan materi konseling gizi. Konselor memberikan materi konseling dilakukan dengan menggunakan ’kartu konseling’ sehingga akan memudahkan konselor dalam memberikan materi dan ibu dapat diharapkan menangkap materi konseling gizi dengan baik.
Konselor menggunakan ’kartu konseling’ (Lampiran 4) sebagai media pendukung dalam melakukan konseling yaitu materi yang dicetak dalam kertas ukuran quarto dan di laminating. Media pendukung ini dipergunakan untuk membantu konselor mengingat urutan materi yang harus dikemukakan. Media pendukung tersebut terdiri dari dua sisi yaitu sisi muka dan belakang. Sisi muka adalah gambar ilustrasi yang mendukung materi konseling gizi yang akan disampaikan, sehingga akan membantu ibu untuk lebih mudah mengingat materi tersebut. Sisi belakang adalah pesan yang akan disampaikan untuk membantu konselor dalam memberikan materi konseling gizi.
Konseling gizi dilakukan pada saat awal usia kehamilan delapan bulan dan sembilan bulan, karena secara psiologis payudara sudah memulai memproduksi ASI sehingga perlu perawatan payudara. Selain itu, konseling dilakukan pada awal bulan usia kehamilan untuk mengurangi kesalahan perhitungan bulan kehamilan oleh ibu.
Waktu kegiatan konseling gizi dilakukan sesuai dengan kehendak ibu, yang sudah disepakati sebelumnya. Pada umumnya konseling gizi dilakukan pada pagi hari yaitu mulai pukul 09.00 WIB atau pukul 10.00 WIB.
Setiap konseling gizi dilakukan pencatatan dalam lembar kegiatan konseling meliputi tanggal pelaksanaan konseling gizi, materi yang diberikan, waktu pemberian konseling gizi, masalah atau gangguan yang dihadapi ibu atau bayi dan saran dari konselor. Lembar kegiatan konseling gizi dipegang oleh konselor.
Konseling gizi selanjutnya dilakukan setelah ibu melahirkan yaitu pada hari kedua dan pada hari kelima. Konseling gizi dilakukan pada hari kedua dan pada hari kelima, karena pada masa ini merupakan masa rawan pemberian prelaktal pada bayi dan volume ASI akan terus meningkat apabila disusukan sampai pada hari kesepuluh atau hari keempat belas, sehingga ibu perlu didukung untuk tetap memberikan ASI eksklusif. Konseling gizi yang kelima dilakukan antara hari kesepuluh sampai hari keempat belas, karena pada hari tersebut volume produksi ASI mulai stabil.
Konseling gizi berikutnya dilakukan sebulan setelah konseling gizi yang terakhir atau pada saat bayi usia dua bulan untuk memotivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Konseling gizi yang terakhir dilakukan pada saat bayi usia empat bulan, karena ibu pada umumnya mengetahui ASI eksklusif sampai usia empat bulan, sehingga ibu perlu didukung untuk memberikan ASI sampai usia enam bulan sesuai anjuran WHO.
Untuk mencapai tujuan dari kegiatan konseling gizi ini, materi konseling gizi dirancang berdasarkan kajian dari studi terdahulu tentang hal-hal yang mendukung atau menghambat pemberian ASI eksklusif. Topik materi yang dikomunikasikan tentang ASI eksklusif, Manfaat ASI eksklusif, Produksi ASI dan Perawatan Payudara. Uraian materi konseling gizi berpedoman pada buku ”Manajemen Laktasi” Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2002 dan dari berbagai sumber (Lampiran 5).
Materi konseling gizi sebelum ibu melahirkan diberikan untuk meningkatkan pengetahuan ibu, menumbuhkan kepedulian ibu dan memotivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif selama enam bulan. Materi konseling gizi
setelah ibu melahirkan lebih membantu ibu untuk lebih memahami tentang manfaat ASI eksklusif selama enam bulan, sehingga diharapkan ibu memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan membantu ibu untuk lebih memahami tentang konsumsi yang mendukung kualitas produksi ASI. Ibu yang mempunyai masalah, khususnya masalah kesehatan akan dianjurkan untuk memeriksakan pada tenaga medis. Apabila ibu tidak mempunyai masalah, dilakukan pengulangan materi khususnya tentang manfaat ASI eksklusif dan produksi ASI serta ibu didukung untuk bisa memberikan ASI eksklusif
Konseling gizi dilakukan selama 15 - 30 menit. Pemberian konseling selama 15 – 30 menit, berdasarkan hasil penelitian Leon et al (2001) pemberian konseling dengan rata-rata 14 menit merupakan lamanya waktu konseling yang berpengaruh secara signifikan terhadap kenaikan skor. Pertambahan waktu konseling sebanyak 5 menit, hanya sedikit menaikkan skor dan tidak signifikan. Pertambahan waktu konseling 10 menit, hasilnya tidak jauh berbeda dengan pemberian konseling selama 10 -15 menit. Materi konseling gizi yang diberikan kepada ibu untuk konseling gizi pertama dan kedua diberikan dengan materi yang sama dengan penekanan materi yang berbeda sesuai dengan hasil data dasar tentang pengetahuan, sikap dan praktek yang mendukung pemberian ASI eksklusif. Sedangkan materi konseling gizi setelah ibu melahirkan disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi ibu atau mengulang materi sebelumnya dan mendorong ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Pelaksanaan pemberian materi konseling dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Materi konseling gizi
Konseling
Ke Materi Isi Materi
Durasi (menit)
1 ASI eksklusif 1. ASI eksklusif
2. Colostrum dan manfaatnya 3. Pencegahan Pemberian Makanan Prelaktal
4. ASI diberikan on-demand
5. Pemberian ASI 15 – 30 2 ASI eksklusif Manfaat ASI Eksklusif 1. ASI eksklusif
2. Colostrum dan manfaatnya 3. Pencegahan Pemberian Makanan Prelaktal
4. ASI diberikan on-demand
5. Pemberian ASI
1. Makanan yang tepat untuk bayi 2. Mengandung antibodi
3. Ekonomis
4. Ibu tidak perlu menggunakan alat