• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULTUR FUNGI ENDOFIT DARI DAUN DAN RANTINGToona Sinensis

HASIL DAN PEMBAHASAN Kecernaan Bahan Kering

Data kecernaan hasil penelitian ditampilkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Pengaruh Perlakuan Terhadap Kecernaan Bahan Kering ,Bahan Organik dan Protein Kasar (%)

Peubah R1 R2 R3 R4 R5 R6 Bahan Kering 65,51±2,50 ab 62,89±1,29a 71,14±6,69b 67,82±3,10ab 70,60±1,20b 64,16±3,96a Bahan Organik 43,68±4,88 bc 29,27±7,23a 52,43±9,62c 39,85±2,67b 46,50±2,11bc 26,61±7,36a Protein Kasar 58,51±1,31 a 59,29±1,67a 66,19±0,64b 64,18±1,98b 69,74±3,26c 66,24±1,21b Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom signifikasi menunjukkan berbeda nyata (P<0,05)

Berdasarkan Tabel 2. dapat dilihat nilai rataan kecernaan bahan kering berkisar antara 62,89% – 71,14%.Hal ini menunjukkan nilai kecernaan bahan kering yang hampir menyamai hasil penelitian Pertiwi (2010) yang berkisar antara 66,61% – 70,42% namun lebih besar dari penelitian Hartini (2008) yang berkisar antara 58,53% – 63,42%.

Hasil analisis ragam menunjukkan pengaruh pemberian ransum komplit berbasis bahan pakan lokal dengan berbagai imbangan protein dan energi ,nyatamempengaruhikecernaan bahan kering (P> 0,05). Hal ini berarti imbangan protein dan energi dalam ransum komplit berbasis bahan pakan lokal dengan kombinasi protein 12%, 14%, 16% dan energi 60%,serta 65%, memberikan pengaruh terhadap kecernaan bahan kering.. Selanjutnya guna mengetahui perbedaan antar perlakuan , maka dilakukan Uji Jarak Berganda Duncan.

Berdasarkan Tabel 2., ransum perlakuan R3 (protein 14 % dan TDN 60%) menunjukkan hasilkecernaan bahan kering yang sama tingginya dengan perlakuan R5 (protein 16% dan TDN 60%) namun tidak berbeda dengan perlakuan R1 dan R4, akan tetapi berbeda nyata denganhasil dari perlakuan R2 dan R6. Tingginya kecernaan bahan kering pada perlakuan R3 dan R5 dibandingkan perlakuan lainnya

85

membuktikan bahwa ketersediaan TDN sebanyak 60% dengan variasi kandungan protein 14% dan 16% merupakan imbangan protein dan TDN yang paling baik, yang mampu menyediakan zat makanan untuk tumbuh dan berkembang biaknya mikroba rumen secara maksimal. Mikroba rumen membutuhkan sumber protein untuk didegradasi menjadi NH3dansumberTDN untuk didegradasi menjadi VFA. Tersedianya pasokan NH3 dan VFA yang cukup dan seimbang akan meningkatkan populasi mikroba rumen. Meningkatnya populasi mikroba rumen serta aktifitasnya tersebut akhirnya meningkatkan degradasi pakan dalam rumen dan pada akhirnya meningkatkan kecernaan ransum. Hal ini sejalan dengan pendapat Nolan (1975) bahwa laju degradasi antara protein dan karbohidrat di dalam rumen harus sejalan agar hasil degradasi berupa NH3dan VFA tersedia dalam waktu yang sama.

Tingginya kecernaan pada perlakuan R3 dan R5 ini membuktikan pula bahwa bahan pakan lokalpun dapat disusun menjadi ransum yang dapat menghasilkan kecernaan yang baik pada Domba Garut betina, jika disusun dalam kandungan protein ransum 14% atau 16 % serta TDN 60%. Kandungan TDN ransum 65% (R2 dan R6) dengan level protein 12% dan 16% ternyata tidak mampu meningkatkan kecernaan bahan kering ransum.Hal ini menunjukkan bahwa pemberian TDN yang cukup tinggi tidak diimbangai dengan pemberian jumlah protein yang tepat tidak akan meningkatkan kecernaan ransum. Hal ini didukung oleh Sutardi (2001) penambahan sumber protein tidak dapat menstimulasi pertumbuhan mikroba rumen tanpa adanya suplementasi karbohidrat terlarut.

Perbedaan kandungan protein dalam ransum dapat mempengaruhi nilai kecernaan bahan kering, karena pakan yang rendah kandungan proteinnya, akan menyebabkan konsentrasi amonia rumen menjadi rendah sehingga pertumbuhan mikroba rumen menjadi terhambat dan proses degradasi karbohidrat menjadi terhambat juga (McDonald dkk, 1995).Oktarina dkk. (2004) juga menyatakan bahwa peningkatan kadar protein kasar dalam pakan akan meningkatkan laju perkembangbiakan dan populasi mikroba rumen sehingga kemampuan mencerna menjadi lebih besar. Selain itu menurut Mackie dkk. (2002) adanya aktivitas mikroba dalam saluran pencernaan sangat mempengaruhi kecernaan.

Selanjutnya Tillman dkk., (1998), menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi tingkat kecernaan bahan kering salah satunya adalah jumlah bahan kering yang dikonsumsi karena aktivitas mikroba mengikuti bahan pakan yang dikonsumsi. Hal ini sesuai dengan pendapat Kamal (1994) bahwa jika konsumsi pakanmeningkat diduga pertumbuhan dan perkembangan mikrobanya juga meningkat.

Seperti dikemukakan oleh Debora dkk., (2005) bahwa tinggi rendahnya kecernaan zat makanan pada ruminansiasangat dipengaruhi oleh kandungan serat kasar dan aktifitas mikroba rumen terutama bakteri selulotik. Hal ini didukung oleh Tillman dkk., (1998) yang menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kecernaan adalah komposisi pakan, faktor hewan, serta laju perjalanan melalui alat pencernaan.

Kecernaan Bahan Organik

Berdasarkan hasilpenelitian (Tabel 2.), diperoleh nilai rataan kecernaan bahan organik berkisar antara 26,61% sampai 52,43%. Nilai kecernaan ini lebih rendah jika dibandingkan dengan penelitian Pertiwi (2010) yang memperoleh nilai kecernaan bahan organiknya berkisar antara 69,88% - 73,02%.Berdasarkan hasil analisis ragam, menunjukkan bahwa perlakuan pemberian ransum komplit berbasis bahan pakan lokal dengan berbagai imbangan protein dan energi memberikan pengaruh yang nyata terhadap kecernaan bahan organik (P<0,05).

Tabel 2. menampilkan bahwa perlakuan P3 (protein14% dan TDN 60%) menghasilkan nilai kecernaan bahan organik yang nyata lebih tinggi (52,43%) dibandingkan perlakuan lainnya. Tingginya kecernaan bahan organik tersebut sejalan pula dengan tingginya kecernaan bahan kering pada perlakuan P3.Hal ini didukung oleh pendapat Sutardi (2001) yang menyatakan bahwa peningkatan kecernaan bahan kering ransum akan sejalan dengan meningkatnya kecernaan bahan organik ransum, karena sebagian komponen bahan kering terdiri atas bahan organik. Selanjutnya Tillman dkk., (1991) menyatakan bahwa kecernaan bahan kering dapat mempengaruhi kecernaan bahan organik dimana kecernaan bahan organik menggambarkan ketersediaan zat makanan dari pakan dan menunjukkan zat makanan yang dapat dimanfaatkan ternak.Hal ini terjadi karena sebagian bahan kering adalah merupakan bahan organik.

Pernyataan ini sesuai dengan Puastuti (2005) yang menyatakan kecernaan bahan organik yang tinggi terjadi karena aktivitas mikroba di dalam rumen juga tinggi.Chuzaemi dkk., (1998) juga menyatakan bahwa nilai kecernaan pada ternak ruminansia ditentukan oleh aktivitas fermentasi mikroba rumen. Menurut

86

Hungate (1966) perbedaan aktivitas fermentasi mikroba rumen sangat ditentukan oleh komposisi jenis mikroba didalam rumen, karena masing-masing mikroba mempunyai peran yang spesifik dalam mendegradasi pakan. Komposisi jenis mikroba rumen ditentukan oleh jenis pakan yang dikonsumsi oleh ternak, karena pakan tersebut akan menentukan lingkungan dalam rumen, seperti ketersediaan zat makanan substrat.

Berdasarkan Tabel 2.dapat dilihat bahwa ransum perlakuan R2 (protein 12% dan TDN 65%) memberikan pengaruhkecernaan bahan organik yang sama rendahnya dengan perlakuan R6 (protein 16 % dan TDN 65 %), yaitu 29,27% dan 26,61%. Rendahnya nilai kecernaan bahan organik tersebut terjadi karena tidak terdapatnya keseimbangan jumlah protein dan TDN dalam ransum, sehingga ketersediaan sumber NH3 dan sumber VFA dalam rumen tidak dalam jumlah yang seimbang. Akibatnya mikroba rumen tidak dapat memanfaatkannya secara maksimal untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Akibatnya populasi mikroba rumen turun jumlahnya, sehingga degradasi bahan bahan organik pakan menjadi rendah dan mengakibatkan kecernaan bahan organik ransum sangat rendah. Hal ini sesuai dengan pendapat Kamal (1994) bahwa pertumbuhan mikroba rumen berhubungan dengan kerja optimal mikrobia yang nantinya berpengaruh terhadap kecernaan ternak.

Kecernaan Protein Kasar

Kecernaan adalah bagian zat makanan dari pakan/ransum yang tidak diekskresikan dalam feses (Tillman, dkk., 1998). Kecernan protein kasar sangat berkaitan erat dengan proses pencernaan dan penyerapan protein ransum yang terjadi di dalam tubuh domba. Pencernaan merupakan proses pemecahan zat makanan untuk diserap oleh tubuh.

Hasil penelitian (Tabel 2.)menunjukkan bahwa pengaruh pemberianransum komplit berbasis bahan pakan lokal dengan berbagai imbangan protein dan energi menghasilkan kecernaan protein kasar yang bervariasi pada tiap perlakuan. Rataan kecernaan protein tertinggi diperoleh pada R5, yaitu pada ransum dengan 16% protein kasar dan 60% TDN dengan rataan kecernaan protein kasar sebesar 69,74%, kemudian diikuti oleh R6 (66,23%), R3 (66,19%), R4 (64,18), R2 (59,29%), dan R1 (58,51%). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian ransum komplit berbasis bahan pakan lokal dengan berbagai imbangan protein dan energi memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap kecernaan protein kasar.

Berdasarkan uji Duncan ( Tabel 2.) dapat dilihat bahwa terdapat perbedaan yang nyata antar perlakuan terhadap kecernaan protein kasar. Hal ini terjadi karena pengaruh imbangan protein dan energi ransum yang berbeda. Hal ini sejalan dengan pendapat Tillman, dkk., (1998) bahwa daya cerna ransum dipengaruhi oleh komposisi bahan pakan, daya cerna semu protein kasar, kadar lemak, pengolahan bahan pakan, jenis ternak, dan jumlah konsumsi.

Kecernaan protein kasar dipengaruhi oleh kandungan protein kasar dalam pakan (Arora, 1995). Menurut Tillman, dkk., (1998) daya cerna semu protein kasar memiliki pengaruh terhadap kecernaan, dimana semakin besar kandungan protein yang terdapat di dalam ransum maka akan semakin besar pula daya cerna semu protein yang dihasilkan. Selain itu konsumsi bahan kering turut berpengaruh terhadap kecernaan suatu zat makanan, karena konsumsi bahan kering sangat berkaitan dengan konsumsi zat makanan lain seperti protein kasar. Menurut Ebrahimi, dkk. (2007) konsumsi pakan akan meningkat seiring dengan meningkatnya kandungan protein dan akan menurun seiring dengan meningkatnya kandungan energi. Menurut Parakkasi (1999) bahwa semakin tinggi kandungan protein di dalam pakan maka konsumsi protein semakin tinggi pula, yang selanjutnya akan berpengaruh pada nilai kecernaan bahan pakan tersebut.

Berdasarkan Tabel 2. dapat dilihat bahwa R5 memberikan nilai kecernaan protein kasar tertinggi (69,74%).Hal ini membuktikan bahwa pada ransum dengan kandungan protein 16% dan TDN 60%, merupakan ransum yang seimbang kandungan sumber protein dan TDN yang dibutuhkan mikroba rumen terutama bakteri proteolitik , sehingga menghasilkan kecernaan protein kasar yang tertinggi. Menurut pendapat Sutrisno dkk., (1985) jumlah kandungan protein kasar yang tinggi di dalam ransum akan mengakibatkan perkembangan mikroba rumen menjadi lebih banyak, sehingga menyebabkan pencernaan makanan berjalan dengan baik.

Mikroba rumen mampu mendegradasi karbohidrat bahan pakan baik yang kompleks maupun yang sederhana menjadi asam lemak terbang, demikian pula protein difermentasi menjadi ammonia (Tillman, dkk., 1998). Selain itu mikroba rumen merupakan salah satu sumber protein bagi ruminansia, karena diperkirakan sekitar 60% dari BK mikroba adalah protein (Owens dan Zinn, 1988).Protein akan dipecah oleh

87

pepsin menjadi gugusan yang lebih sederhana, yaitu proteosa dan pepton (Anggorodi, 2004). Pencernaan protein akan menghasilkan asam amino yang kemudian diubah menjadi ammonia, VFA, dan CO2 (Arora, 1995). Sekitar 60% protein dirombak oleh enzim proteolitik, mikroba dan protozoa rumen menjadi ammonia dan sisanya lolos ke dalam usus (Satter dan Slyter, 1974).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kandungan protein ransum maka kualitas ransum menjadi semakin baik dan kecernaan pun semakin meningkat. Pada akhirnya kecernaan protein kasarnya meningkat. Kecernaan protein kasar tertinggi (69,74%) adalah pada ransum dengan imbangan 16% protein kasar dan TDN 60%.

KESIMPULAN

Pemberian ransum komplit berbasis bahan pakan lokal dan imbangan protein antara 12% - 16% dan TDN antara 60% - 65% pada domba Garut betina mempengaruhi kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik dan protein kasarnyanya. Kecernaan bahan kering tertinggi dihasilkan oleh perlakuan P3 (71,14%) dan P5(70,60%) . Kecernaan bahan organik tertinggi dihasilkan oleh perlakuan P3 (52,43%) dan kecernaan protein kasar tertinggi dihasilkan oleh P5(69,74%).

UCAPAN TERIMA KASIH

Terimakasih penulis ucapkan kepada : (1). Ana Rochanayang telah mengikut sertakan penulis dalam program Academic Leaderships Grant(ALG) tahun 2016. (2). UPTD Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Domba Garut, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Barat di Kota Garut yang telah memfasilitasi penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Arora, S. P. 1995. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Cetakan kedua. Diterjemahkan oleh: R. Muwarni. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Anggorodi, R. 2004. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Badan Pusat Statistik. 2016. Populasi domba menurut provinsi, 2009-2015.https://www.bps.go.id/ link Table Dinamis /view/ id/1024. diakses pada 7 desember 2016.

Chuzaemi, S., Hermanto, Soebarinoto dan H. Sudarwati. 1998. Evaluasi Protein Pakan Ruminansia Melalui Pendekatan Sintesis Protein Mikrobial Didalam Rumen. Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Hayati. 10 : (69-73).

Debora, KH., Nenobais, M., Jacobnulik dan Katipana, NGF. 2005. Pengaruh Probiotik Terhadap Kemampuan Cerna Mikroba Rumen Sapi Bali.

Ebrahimi, R., H. R. Ahmadi, M. J. Zamiri and E. Rowghani. 2007. Effect of energy and

protein llevels on feedlot performance and carcass characteristics of mehraban ramlambs. Pakistan Journal of Biological Science 10 (10) : 1679 – 1684.

Hartini, S. 2008. Pengaruh Penggunaan Ampas Bir Dalam Ransum Terhadap Kecernaan Bahan Kering Dan Bahan Organik Pada Domba Lokal Jantan. Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret.

Hungate, R. E. 1966. The Rumen Microbial Ecosystem. Elsvier Applied science. London and New York. Kamal, M., 1994. Nutrisi Ternak I. Laboratorium Makanan Ternak. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak.

Fakultas Peternakan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Mackie, R.I.C.S. McSweeney and A.V. Klieve. 2002. Microbial Ecology of The Ovine Rumen. Dalam: M.Freer dan H. Dove. Sheep Nutrition. CSIRO Plant Industry. Canberra. Auatralia. hal. 73-80.

McDonald, P., R. Edwards, J. Greenhalgh, and C. Morgan. 1995. Animal Nutrition. 5th Edition. Longman Scientific & Technical, New York.

Nolan ,J.V.1975. Quantitative models of nitrogen metabolim. In : Digestion and Metabolism in Ruminant. Mcdonald, I.W. and A.C.I. Warner (Eds.) Univ. of New England Publishing Unit, Armidale, Australia. Pp.416-431.

88

Owens, S. N. and R. Zinn. 1988. Protein metabolism of Ruminant Animal. Dalam Chruch, D.C.Ed. Digestive Physiology and Nutritional of Ruminant. Prentice Hall. New Jersey.

Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia, Jakarta.

Pertiwi, S. 2010. Pengaruh Penggunaan Ampas Ganyong (Canna edulis kerr) Fermentasi Dalam Ransum Terhadap Kecernaan Bahan Kering Dan Bahan Organik Domba Lokal Jantan. Fakultas Pertanian, Sebelas Maret University.

Puastuti, W. 2005. Tolak ukur mutu protein ransum dan relevansinya dengan retensi nitrogen serta pertumbuhan domba. Tesis Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Satter and Slyter. 1974. Effect of Ammonia Concentration on Rumen Mikrobial Production In Vitro. Jurnal Animal Nutrition. 32

Sutardi, T. 2001. Revitalisasi Peternakan Sapi perah melalui Penggunaan Ransum Berbasis Limbah Perkebunan dan Suplemen Mineral Organik. Laporan Akhir RUT VIII. IPB. Bogor.

Sutrisno, C. I., H. S. Sulistiono, D. B. Vitus dan Whitono. 1985. Daya cerna dan pertambahanbobot badan domba jantan yang mendapatkan ransum pucuk tebu.

Prosiding Seminar Pemanfaatan Limbah Tebu untuk Makanan Ternak. Bogor.

Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo,S. Prawirokusumo dan S. Lendosoekodjo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

89 FH-6

PENGARUH BERBAGAI IMBANGAN PROTEIN DAN ENERGI DALAM RANSUM BERBASIS