AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULTUR FUNGI ENDOFIT DARI DAUN DAN RANTINGToona Sinensis
PENGARUH UMUR INDUK TERHADAP SERVICE PER CONCEPTION DAN CALVING INTERVAL SAPI PERANAKAN LIMOUSIN
Nurul Isnaini*1, Sahlan Mashuri2, Hary Nugroho3 1,2,3
Bagian Produksi Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang 65145
e-mail: *1[email protected]
Abstrak.Kecamatan TanjunganomKabupaten Nganjuk merupakan salah satu daerah di provinsi Jawa Timur yang mengembangkan ternak sapi Peranakan Limousin melalui program Inseminasi Buatan. Keberhasilan Inseminasi Buatan bisa dipengaruhi oleh umur sapi. Service per Conception dan Calving Interval adalah parameter yang biasa digunakan untuk mengevaluasi keberhasilan Inseminasi Buatan. Sampai saat ini belum diketahui pengaruh umur terhadap Service per Conception dan Calving Interval sapi Peranakan Limousin di lokasi penelitian. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa umur tidak berpengaruh nyata terhadap Service per Conception dan Calving Interval. Hasil penelitian menunjukkan angka Service per Conception normal sedangkan Calving Interval tergolong panjang karena penyapihan pedet terlambat. Disimpulkan bahwa nilai Service per Conception dan Calving Interval sapi Peranakan Limousin umur empat, lima dan enam tahun di Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk adalah sama.
Kata Kunci: umur, Service per Conception, Calving Interval, Sapi Peranakan Limousin
Abstract. Tanjunganom District Nganjuk regency is one of the areas in East Java province that develops
Limousin Crossbred cattle through Artificial Insemination program. The success of Artificial Insemination can be influenced by the age of cow. Service per Conception and Calving Interval are commonly used parameters to evaluate the success of Artificial Insemination. Until now there is no known age effect on Service per Conception and Calving Interval of Limousin Crossbred cow at the study sites. The result of variance analysis shows that age has no significant effect on Service per Conception and Calving Interval. The results showed normal Service Per Conception rate while Calving Interval was relatively long due to late calf weaning. It was concluded that the value of Service per Conception and Calving Interval of Limousin Crosssbred cow in four, five and six years old in Tanjunganom District of Nganjuk Regency is the same.
Keywords: age, Service per Conception, Calving Interval, Limousin Crossbred cow PENDAHULUAN
Upaya untuk meningkatkan populasi sapi potong di Jawa Timur dapat dilakukan melalui Inseminasi Buatan (IB). Inseminasi Buatan merupakan program yang telah dikenal oleh peternak sebagai teknologi reproduksi ternak yang efektif karena dapat menghasilkan anak dengan kualitas baik dalam jumlah yang besar dengan memanfaatkan pejantan unggul (Susilawati, 2013). Penerapan program IB mampu mempercepat peningkatan populasi sapi potong. Umur dapat mempengaruhi tampilan reproduksi sapi, apabila induk berumur 7 tahun atau induk sudah melahirkan lebih dari 5 kali maka kinerja reproduksi dari induk akan semakin menurun. Pendugaan umur sapi dapat dilakukan dengan melihat lingkar cincin tanduk serta penanggalan gigi seri sapi.
Sapi Peranakan Limousin merupakan sapi hasil persilangan antara bangsa sapi Bos indicus (Sapi Peranakan Ongole/PO) dengan bangsa sapi Bos taurus (Sapi Limousin). Persilangan antara bangsa sapi Bos
indicus (Sapi PO) dengan bangsa sapi Bos taurus (Sapi Limousin) bertujuan untuk menghasilkan sapi potong
yang memiliki reproduksi dan pertumbuhan yang baik, dengan memadukan sifat-sifat unggul dari kedua bangsa. Sapi Bos inducus mempunyai sifat yang kurang baik dalam hal kecepatan pertumbuhannya, tetapi sifat menyusui terhadapa anaknya (mothering ability) sangat bagus, sedangkan Sapi Bos taurus (Sapi Limousin) mempunyai sifat reproduksi yang tinggi, ukuran tubuh besar dengan kecepatan pertumbuhan sedang sampai tinggi.
Kabupaten Nganjuk merupakan salah satu daerah di provinsi Jawa Timur yang mengembangkan ternak sapi potong dan kerbau dengan populasi mencapai 121.035 ekor. Kecamatan Tanjunganom
79
merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Nganjuk yang banyak membudidayakan sapi potong dengan populasi sebesar 13.502 ekor (Anonimous, 2016).
Penelitian tentang pengaruh umur induk terhadap Service per Conception dan Calving Interval Sapi Peranakan Limousin di Kecamatan Tanjunganom belum pernah dilaksanakan.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilakukan di berbagai wilayah Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk Jawa Timur. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah induk sapi Peranakan Limousin sebanyak 90 ekor, terdiri dari umur 4, 5 dan6 tahun. Masing-masing umur terdiri dari 30 ekor diambil berdasarkan tempat kerja inseminator di wilayah Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei dengan mengumpulkan data primer dan sekunder. Pengambilan data primer dilakuan dengan cara pengamatan dan berpartisipasi aktif di lapang serta wawancara langsung dengan peternak saat dilakukan IB. Data sekunder diperoleh dari catatan rekording petugas Inseminator, data Dinas Peternakan Kabupaten Nganjuk.
Service per Conception
Service per Conception merupakan angka yang menunjukkan jumlah inseminasi untuk menghasilkan
kebuntingan dari sejumlah pelayanan (service) inseminasi yang dibutuhkan oleh seekor ternak betina sampai terjadi kebuntingan (Susilawati, 2013).
Service per Conception (S/C)=
Calving Interval
Calving Interval (CI) adalah jangka waktu yang menunjukkan antara kelahiran yang satu dengan
kelahiran yang sebelumnya atau sesudahnya (Susilawati, 2013).
Calving Interval (CI):tanggal kelahiran – tanggal kelahiran sebelumnya.
Umur Induk
Abidin et al. (2012) menyatakan bahwa pendugaan umur dilihat dari penanggalan gigi seri (poel) pada sapi, bila gigi seri tanggal satu pasang maka sapi berumur 1,5-2 tahun(poel 1), gigi seri tanggal dua pasang maka sapi berumur 2,5 tahun (poel 2), gigi seri tanggal tiga pasang maka sapi berumur 3-3,5 (poel 3) dan bila gigi seri tanggal empat pasang maka sapi berumur 4 tahun atau lebih (poel 4).
Analisis Data
Data hasil penelitian dicatat dan dianalisis dengan menggunakan analisis varian (ANNOVA).Apabila hasil yang diperoleh menunjukkan perbedaan pengaruh yang nyata (P<0,05) atau sangat nyata (P<0,01) maka
dilanjutkan dengan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT) . HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Umur Induk Terhadap Service per Conception (S/C)
Service per Conception merupakan angka yang menunjukkan jumlah inseminasi untuk menghasilkan
kebuntingan dari sejumlah pelayanan (service) inseminasi yang dibutuhkan oleh seekor ternak betina sampai terjadi kebuntingan (Susilawati, 2013). Umur ternak merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi reproduksi ternak. Rataan Service per Conception pada kelompok umur induk selama penelitian terdapat pada Tabel 1.
80
Tabel 1. Rata-rata efisiensi reproduksi sapi berdasarkan umur induk Umur Induk (tahun)
4 5 6 P
S/C (Kali) 1,53 ± 0,62 1,36 ± 0,49 1,6 ± 0,67 (P>0,05)
CI (Hari) 436,13 ± 25,01 431,7 ± 21,27 444,2 ± 29,42 (P>0,05)
Pada Tabel 1. memperlihatkan bahwa sapi umur 4 tahun memiliki rata-rata S/C 1,53 kali, sedangkan sapi umur 5 tahun memiliki nilai S/C rata-rata 1,36 kali dan sapi yang memiliki umur 6 tahun dengan nilai rata-rata 1,6 kali. Berdasarkan Tabel 1. diketahui bahwa pada umur 5 Tahun adalah sapi yang paling baik nilai S/C nya. Wahyudi et al. (2013) menyatakan bahwa tingkatkesuburan dari ternak juga dipengaruhi oleh umur dari ternak tersebut, semakin tua umurinduk maka reproduksi semakin baik dibandingkan dengan induk yang muda. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa umur tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap S/C.
Menurut hasil penelitian Nuryadi & Wahjuningsih (2011) bahwa nilai S/C sapi Peranakan Limousin di Kabupaten Malang yaitu 1,34. Nilai S/C yang normal adalah 1,6 sampai 2,0. Makin rendah nilai S/C maka makin tinggi kesuburan hewan betina dalam kelompok tersebut dan sebaliknya makin tinggi nilai S/C maka makin rendah nilai kesuburan kelompok betina tersebut.Berdasarkan hasil pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa nila S/C dilokasi penelitian dikategorikan baik, hal ini dapat disebabkan sapi Peranakan Limousin di lokasi penelitian memiliki adaptasi lingkungan yang baik dan peternak serta inseminator trampil dalam mendeteksi tanda-tanda berahi. Astuti (2004) menyatakan semakin rendah nilai S/C maka semakin tinggi nilai fertilitasnya, sebaliknya semakin tinggi nilai S/C akan semakin rendah tingkat fertilitasnya. Iswoyo & Widiyaningrum (2008) menyatakan bahwa penyebab tingginya angka S/C umumnya dikarenakan: (1) peternak terlambat mendeteksi saat berahi atau terlambat melaporkan berahi sapinya kepada inseminator; (2) adanya kelainan pada alat reproduksi induk sapi; (3) inseminator kurang terampil; (4) fasilitas pelayanan inseminasi yang terbatas; dan (5) kurang lancarnya transportasi.
Pengaruh Umur Induk Terhadap Calving Interval (CI)
Calving Interval adalah jarak antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya atau sebelumnya.
Jarak beranak atau Calving Interval merupakan suatu kurun waktu yang sangat penting bagi peternak karena berkaitan dengan kesinambungan produksi pedet.Jarak beranak (CI) yang ideal pada sapi potong adalah 12 bulan, yaitu 9 bulan bunting dan 3 bulan laktasi. Efisiensi reproduksi dikatakan baik apabila seekor induk sapi dapat menghasilkan satu pedet dalam satu tahun.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa umur induk sapi Peranakan Limousin tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap CI (Tabel 1). Pada Tabel 1. menunjukkan bahwa sapi yang berumur 4 tahun memiliki rata-rata nilai CI 436,13 hari, sapi berumur 5 tahun memiliki nilai rata-rata-rata-rata431,7 hari dan sapi berumur 6 tahun memiliki nilai rata-rata 444,2 hari.
Dari Tabel 1. dapat dilihat bahwa nilai CI secara angka berbeda tetapi setelah dilakukan analisis ragam, hasilnya tidak berpengaruh nyata (P>0,05). CI di lokasi penelitian tergolong panjang dikarenakan masa penyapihan pedet dilokasi penelitian sangat panjang yaitu 4-5 bulan atau setelah pedet laku dijual dan manajemen pemeliharaan masih menggunakan cara tradisional yaitu memanfaatkan pakan yang ada seperti jerami padi, rumput gajah, tebon jagung, dan rumput lapang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur induk tidak mempengaruhi nilai CI, hal ini dikarenakan induk sapi yang berumur 4-6 tahun memiliki pertumbuhan organ reproduksi yang sudah matang dan menghasilkan hormon sesuai dengan kebutuhan, seperti hormon FSH untuk pertumbuhan folikel dan hormon estrogen untuk munculnya berahi sehingga akan menghasilkan ovum yang bagus untuk dibuahi sperma.
Faktor yang mempengaruhi nilai CI diantaranya adalah : masa sapih yang panjang akan menyebabkan jarak beranak semakin lama semakin panjang. Sapi harus kembali dikawinkan 80-85 hari pasca beranak untuk mendapatkan jarak beranak yang baik. Induk sapi membutuhkan waktu 36-42 hari pasca melahirkan untuk mengembalikan fungsi kinerja organ reproduksi atau involusi utery. Calving Interval dipengaruhi oleh lama kebuntingan dan lama waktu kosong ternak. Jarak beranak merupakan salah satu kinerja reproduksi
81
yang perlu diketahui karena keteraturan CI yang setahun sekali menjamin kesinambungan produksi ternak dan replacement stock dalam suatu peternakan sapi potong. Tingginya nilai CI dipengaruhi karena lamanya nilai DO(Days Open), panjangnya nilai DO disebabkan oleh fertilitas dari fisiologi induk mengenai masa pubertas dan pemulihan organ reproduksi. Apabila terdapat jarak beranak yang panjang sebagian besar karena DO (Days Open) yang panjang. Hal ini di sebabkan, (1) anaknya tidak disapih sehingga munculnya berahi pertama post partum menjadi lama; (2) peternak mengawinkan induknya setelah beranak dalam jangka waktu panjang yang lama sehingga lama kosongnya menjadi panjang; (3) tingginya kegagalan inseminasi buatan sehingga S/C nya menjadi tinggi (Susilawati, 2013).
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa nilai S/Cdan CI pada induk Sapi Peranakan Limousin umur 4, 5 dan 6 tahun di Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk adalah sama.
UCAPAN TERIMAKASIH
Peneliti mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepaka Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nganjuk yang telah memberikan ijin untuk melakukan penelitian, Inseminator dan para peternak di KecamatanTanjunganom Kabupaten Nganjuk yang telah membantu dalam koleksi data penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z., Ondho, Y.S &Sutiyono, B. (2012). Penampilan Berahi Sapi Jawa Berdasarkan Poel 1, Poel 2 dan Poel 3. Animal Agriculture Journal 1(2): 86-92.
Astuti, M. (2004). Potensi dan Keragaman Sumberdaya Genetik Sapi Peranakan Ongole (PO). Wartazoa. 14(3): 17-22.
Anonimous. (2016). Badan Pusat Statistik. Jumlah Populasi Sapi Potong Kabupaten Nganjuk. http:///www.bps.co.id. Diakses pada tanggal 22 April 2017.
Hafez, E.S.E. (2008). Reproduction in Farm Animals. Artificial Insemination. 7th Edition. Lippincott Williams & Wilkins. Maryland. USA.
Iswoyo & Widiyaningrum, P.(2008). Performans Reproduksi Sapi Peranakan Simmental (Psm) Hasil Inseminasi Buatan di Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan. 10(3): 125-133.
82 FH-4
KECERNAAN RANSUM BERBASIS BAHAN PAKAN LOKAL YANG MENGANDUNG