AKTIVITAS ANTIMIKROBA DAN ANTIOKSIDAN EKSTRAK KULTUR FUNGI ENDOFIT DARI DAUN DAN RANTINGToona Sinensis
HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Bahan Kering
Setelah dilakukan percobaan selama 76 hari diperoleh data konsumsi harian yang disajikan pada Tabel 3. Tabel tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05), dimana perlakuan R1, yaitu ransum dengan imbangan antara protein dan energi 12% - 60% menghasilkan konsumsi harian yang paling tinggi yaitu 973,27 gram/hari. Hal ini berarti bahwa imbangan 12% - 60% memberikan tingkat konsumsi yang paling maksimal.
Tabel 3. Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Bahan Kereing
Perlakuan Rataan Konsumsi Bahan Kering Harian(g/hari)
R5 787,07a R3 822,81ab R4 910,94ab R2 947,24ab R6 959,41ab R1 973,27b
Keterangan : Superskrip huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan Nyata (P<0,05) Menurut Paramita et al. (2008), palatabilitas merupakan faktor utama yang menjelaskan perbedaan konsumsi bahan kering antara pakan dan ternak-ternak yang berproduksi rendah. Purbowati et al. (2005), menyatakan bahwa pakan yang cukup kandungan protein dan lebih halus ukuran strukturnya dapat meningkatkan jumlah konsumsi pakan. Pada penelitian ini bahan pakan yang digunakan sudah tercampur merata sehingga ternak tidak bisa memilih bahan pakan.
Hewan ruminansia seperti pada domba proses pencernaannya sangat dipengaruhi oleh keberadaan mikroba rumen. Mikroba ini melakukan aktivitas dalam memfermentasi atau mendegradasi bahan pakan yang dikonsumsinya. Bakteri rumen sangat berperan dalam proses fermentasi bahan pakan dan produk yang dihasilkannya terutama dalam bentuk gas metana dan VFA. Produk fermentasi tersebut sebagian dimanfaatkan oleh bakteri rumen untuk pertumbuhannya, sehingga ketersediaannya mempengaruhi
93
pertumbuhan bakteri rumen yang pada gilirannya akan berpengaruh juga terhadap tingkat kecernaannya. Orskov (1988) menyatakan bahwa antara proses fermentasi dengan pertumbuhan mikroba saling ketergantungan. Hasil akhir fermentasi tersebut berupa VFA dan gas metana yang kemudian akan bergabung dengan Nitrogen Bukan Protein (NBP) ke dalam sel mikroba.
Secara umum, konsumsi pakan meningkat seiring dengan meningkatnya bobot badan karena pada umumnya kapasitas saluran pencernaan meningkat, Laju fermentasi yang tinggi dalam rumen akan mempercepat laju aliran pakan yang berdampak pada tingkat pengosongan perut. Perut yang kosong akan dengan cepat merangsang ternak untuk mengkonsumsi bahan pakan. Degradasi pakan oleh enzim mikrobia menggambarkan waktu tinggal pakan di dalam rumen. Keadaan ini sangat erat hubungannya dengan konsumsi pakan (Tomaszewska et al., 1993). Reksohadiprodjo (1995) menyatakan bahwa pada ruminansia konsumsi pakan rendah berkaitan dengan rendahnya nilai kecernaan karena lambannya perombakan ukuran partikel menjadi ukuran yang dapat meninggalkan rumen. Hal tersebut menyebabkan rendahnya kecepatan laju alir, pengembangan rumen dan rendahnya konsumsi pakan. Kecernaan pakan yang tinggi akan membuat waktu tinggal lebih singkat dibandingkan dengan pakan yang mempunyai nilai kecernaan rendah. Imbangan protein dan energi pada perbandingan 12% : 60% tampaknya memberikan kecukupan nutrien bagi perkembangan yang maksimal pada mikroba rumen khususnya bakteri yang akan mempercepat fermentasi atau metabolisme di dalam rumen.
Pengaruh Perlakuan terhadap Pertambahan Bobot Badan
Pertambahan bobot badan adalah kemampuan ternak untuk mengubah zat-zat nutrisi yang terdapat dalam pakan menjadi daging. Pertambahan bobot badan merupakan salah satu peubah yang dapat digunakan untuk menilai kualitas bahan makanan ternak. Pertambahan bobot badan yang diperoleh dari percobaan pada ternak merupakan hasil dari zat-zat makanan yang dikonsumsi. Dari data pertambahan bobot badan akan diketahui nilai suatu zat makanan dari suatu ternak (Church and Pond, 1988). Pertambahan bobot badan harian domba percobaan disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengaruh Perlakuan terhadap Pertambahan Bobot Badan Harian
Perlakuan Rataan Pertambahan Bobot Badan Harian (g/hari)
R5 54,17a R2 87,50ab R4 90,30ab R3 99,40b R1 108,69b R6 114,29b
Keterangan : Superskrip huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05) Tabel 4 menunjukkan bahwa ransum R3, R1 dan R6 memberikan pertambahan bobot badan yang nyata paling tinggi (P<0,05), yaitu sebesar 99,40 g/hari, 108,69 g/hari, dan 114,29 g/hari. Khususnya untuk R1 dan R6 tampak ada hubungannya dengan jumlah pakan yang dikonsumsinya, semakin tinggi jumlah bahan kering yang dikonsumsi semakin tinggi pertambahan bobot badannya.
Konsumsi erat kaitannya dengan jumlah nutrien yang dikonsumsi. Asupan nutrien yang rendah akan menurunkan performa dari ternak domba. Pemberian ransum disarankan sesuai standar kebutuhan dan harus diusahakan dengan harga yang murah (Djunaedi, 1978). Lebih lanjut dikatakan bahwa dilihat dari sudut makanan ternak, kualitas, dan kuantitas makanan serta cara pemberiannya sangat mempengaruhi performa ternak. Ketersediaan ransum yang rendah mengakibatkan rendahnya tingkat produktivitas ternak baik dari segi ekonomis maupun teknis. Ransum harus mengandung semua zat-zat makanan yang seimbang, dapat dicerna, dan palatable, sehingga dapat dikonsumsi ternak sesuai kebutuhannya.
Thalib et al. (2000), menyatakan bahwa pertambahan bobot badan ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan, maksudnya penilaian pertambahan bobot badan ternak sebanding dengan ransum yang dikonsumsi. Konsumsi protein kasar pakan dipengaruhi oleh pertambahan bobot badan yang dikehendaki setiap hari, jumlah dan kualitas pakan yang diberikan (Parakkasi, 1999). Konsumsi protein kasar erat kaitannya dengan konsumsi bahan kering pada pakan, semakin tinggi konsumsi
94
bahan kering pakan, maka semakin tinggi juga konsumsi protein kasar pakan (Sudarman et al., 2008). Domba yang sedang tumbuh membutuhkan protein kasar yang lebih tinggi dibandingkan domba dewasa (NRC, 2006).
Pengaruh Perlakuan terhadap Nilai Konversi Ransum
Nilai konversi ransum merupakan gambaran dari efisiensi penggunaan pakan terhadap pertambahan bobot badan ternak. Semakin kecil nilai konversi, maka semakin efisien ternak dalam menggunakan pakan untuk produksi daging. Sebaliknya, jika nilai konversi semakin besar, maka ransum tersebut tidak efisien. Pond et al.(1995), menyatakan bahwa semakin baik kualitas pakan yang dikonsumsi ternak, diikuti dengan pertambahan bobot badan yang tinggi maka nilai konversi pakan akan semakin rendah dan akan semakin efisien pakan yang digunakan.
Tabel 5. Pengaruh Perlakuan terhadap Nilai Konversi Ransum
Perlakuan Rataan Konversi Ransum
R3 8,33a R6 8,61a R1 9,27a R2 11,03ab R4 11,49ab R5 19,02b
Keterangan : Superskrip huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan nyata (P<0,05)
Hasil analisis pada Tabel 5 menunjukan bahwa ransum perlakuan R3, R6, dan R1 menunjukan nilai konversi yang paling kecil. Artinya perlakuan tersebut adalah perlakuan yang paling efisien. Konversi ransum merupakan resultan dari jumlah pakan yang dikonsumsi dengan perwujudan pertambahan bobot badan yang dihasilkan. Kalau melihat data konsumsi dan pertambahan bobot badan tampak terjadi proporsi yang sama antara R3, R6, dan R1 antara konsumsi dan pertambahan bobot badan. Meskipun konsumsi bahan kering lebih kecil, ransum R3 menghasilkan pertambahan bobot badan yang relatif lebih kecil dibandingkan dengan R6 dan R1.
Menurut Siregar (1994) konversi pakan digunakan sebagai tolok ukur efisiensi produksi. Semakin kecil nilai konversi, berarti semakin sedikit jumlah pakan yang dibutuhkan untuk mencapai pertambahan satu kilogram bobot badan, sehingga efisiensi penggunaan ransum semakin tinggi. Melihat performa di atas tampaknya ransum perlakuan R1 dengan proporsi protein dan energi 12% - 60% memberikan hasil yang optimal, mengingat perlakuan R1 mengandung protein dan energi yang paling rendah di antara perlakuan yang lainnya.
Ransum percobaan disusun dari bahan baku lokal. Ransum dengan protein dan energi yang tinggi akan berhubungan erat dengan harga dari ransum yang diberikan, dimana untuk mencapai kondisi tersebut biasanya mengandung bahan baku yang mahal.
KESIMPULAN
Ransum dengan imbangan protein 12% dan energi (TDN) 60% menghasilkan performa terbaik pada domba jantan lepas sapih.
UCAPAN TERIMA KASIH
Bersama ini kami sampaikan terima kasih kepada pihak Direktorat Riset, Pengabdian Kepada Masyarakat dan Inovasi, Universitas Padjadjaran yang telah memberikan dana hibah penelitian internal melalui program Academic Leadership Grant (ALG), sehingga penelitian dapat berjalan lancar dan terselesaikan dengan baik.
95
DAFTAR PUSTAKA
Aregheore, E. M. 2000. Crop Residues and Agroindustrial by Product in Four Pasific Island Countries: Availability, Utilization and Potensial Value in Ruminant Nutrition. Asian-Aust.j.of Anim.Sci. 13 (Supplement B): 266-269.
Arora, S. P. 1989. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Terjemahan : Retno Muwarni. Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta.
Church, D. C., and W. G. Pond. 1988. Basic Animal and Feeding. John Willey and Son. New York.
Djunaedi. 1978. Pemeliharaan Ternak Domba. Direktorat Bina Produksi Peternakan. Ditjen Peternakan. Jakarta.
National Research Council. 2006. Nutrient Requirement of Sheep. National Academy Press. Washington. Orskov, E. R. 1988. Protein Nutrition in Ruminants. Second Edition. Academic Press Inc. San Diego. Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia. Jakarta.
Paramita, W., W. E. Susanto, dan A. B. Yulianto. 2008. Konsumsi dan Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik dalam Haylage Pakan Lengkap Ternak Sapi Peranakan Ongole. Media Kedokteran Hewan 24: 59-62.
Pond, W. G., D. C. Church, and K. R. Pond. 1995. Basic Animal Nutrition and Feeding. 4th edition. John Wiley and Sons Press. New York.
Purbowati, E., R. Adiwinarti, dan E. Eko. 2005. Pemanfaatan Ampas Tahu Kering sebagai Pakan Pengganti Konsentrat untuk Domba Garut Jantan yang Mendapat Pakan Basal Rumput Gajah. Sains Peternakan Vol 2 (2) : 49-54.
Reksohadiprodjo, S. 1995. Serat dan Sifat Menciri Fisiokimia Hijauan Pakan. Dalam: Kursus Singkat Teknik Evaluasi Pakan Ruminansia. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.
Siregar, S. B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya. Jakarta.
Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan. 2017. Populasi Domba Tahun 2013-2017. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. Kementrian Pertanian RI. http://ditjenpkh.pertanian.go.id (19 Maret 2018).
Sudarman, A., K. G. Wiryawan, dan H. Markhamah. 2008. Penambahan Sabun Kalsium dari Minyak Ikan Lemuru dalam Ransum: 1. Pengaruhnya terhadap Tampilan Produksi Domba. Media Peternakan 31 (3): 166-171.
Sudarmono, A. S., dan Y. B. Sugeng. 2008. Beternak Domba. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sumantri, C., A. Einstiana, J. F. Salamena, dan I. Inounu. 2007. Keragaan dan Hubungan Phylogenik antar Domba Lokal di Indonesia melalui Pendekatan Analisis Morfologi. J. Ilmu Ternak dan Veteriner. 12: 42-54.
Thalib, A., B. Haryanto., H. Hamid., D. Suherman dan Mulyani. 2001. Pengaruh Kombinasi Defaunator dan Probiotik terhadap Ekosistem Rumen dan Performa Ternak Domba. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 6 (2) : 83-88.
Thalib, A., Y. Widiawati, H. Hamid, dan Mulyani. 2000. Identifikasi Morfologis Uji Aktivitas Mikroba Rumen dari Hewan – hewan Ruminansia yang Telah Teradaptasi pada Substrat Selulosa dan Hemiselulosa. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor 18 – 19 September 2000. Pusat Penelitian Peternakan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian. Bogor. Hlm: 341 – 348.
Tillman, E., H. Hartadi, S. Reksohadiprajdo, dan S. Labdosoeharjo. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press .Yogyakarta.
Tomaszewska, M. W., I. M. Mastika, A. Djajanegara, S. Gardier., dan T. R. Wiradarya. 1993. Produksi Kambing dan Domba di Indonesia. Sebelas Maret University Press. Surakarta.
96
NO FISIOLOGI TUMBUHAN Hal
PENULIS JUDUL FT-5 Alfi Rumidatul, I Nyoman P. Aryantha, Endah Sulistyawati
Potensi Ekstrak Ranting Sengon (Falcataria
moluccana Miq.) Sebagai Sumber Antioksidan Alami 97
FT-6 Dini Nurdiani Latifah, Dwi Rustam Kendarto, Nurpilihan Bafdal, Sophia Dwiratna NP, Totok Herwanto
Pengaruh Paduan Geo-Jute dan Hydro-Seeding Terhadap Kemampuan Pertumbuhan Benih Rumput Bermuda (Cynodon dactylon) di Lahan Miring
109 FT-7 Lida Amalia, Taufikurahman, Sri Nanan B. Widiyanto
Analisis Kandungan Kromium (Cr) Pada Tanaman Pisang (Musa sp.) Yang Hidup Di Tanah Tercemar Kromium (Cr) 115 FT-11 Dwi Rustam Kendarto, Fauziah Aliyah, Nurpilihan Bafdal, Sophia Dwiratna NP, Totok Herwanto
Kajian Penambahan Bahan Aditif (Guar Gum) dan Benih Rumput Bermuda Dalam Hydroseeding
Terhadap Laju Erosi
120 FT-14 Nyimas Popi Indriani, Heryawan Kemal Mustafa, Budi Ayuningsih, Mansyur, Ana Rochana
Pengaruh Berbagai Dosis Pupuk Fosfor Terhadap Produksi Segar (Daun, Batang dan Akar) Tanaman Kacang Koro Pedang (Canavalia gladiata)
97 FT-5
POTENSI EKSTRAK RANTING SENGON (Falcataria moluccana Miq.) SEBAGAI SUMBER ANTIOKSIDAN ALAMI
Alfi Rumidatul*1, I Nyoman P. Aryantha2, Endah Sulistyawati3 1,2,3
Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung
e-mail: [email protected]*, [email protected], [email protected]
Abstrak. Senyawa antioksidan yang beredar di pasaran sebagian besar merupakan senyawa sintetis yang
memiliki efek samping yang cukup berbahaya untuk kesehatan, salah satunya menyebabkan penyakit kanker. Oleh karena itu, antioksidan alami yang banyak terdapat pada tumbuhan sebagai penangkal radikal bebas sangat diperlukan. Salah satu jenis tanaman kehutanan yang berpotensi sebagai sumber senyawa antioksidan alami adalah Sengon. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan total fenol, total flavonoid dan aktivitas antioksidan ekstrak ranting Sengon dengan metode DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazil). Ekstraksi ranting Sengon dilakukan dengan metode maserasi bertingkat menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat dan metanol. Hasil pengujian fitokimia menunjukkan bahwa senyawa fenolik dan flavonoid ditemukan pada ketiga jenis pelarut, sedangkan senyawa saponin dan tanin hanya terdapat pada ekstrak metanol. Total fenolik dan flavonoid tertinggi terdapat pada ekstrak etil asetat kulit ranting Sengon kelompok umur 5-6 tahun dengan nilai masing-masing 116,33 ekuivalen asam galat (mg/g) dan 43,95 ekuivalen kuersetin (mg/g). Nilai IC50 (Inhibition concentration) tertinggi juga terdapat pada ekstrak
etil asetat kulit ranting Sengon kelompok umur 5-6 tahun dengan nilai sebesar 94,14 ppm. Berdasarkan nilai IC50 yang diperoleh, menunjukkan bahwa kulit ranting Sengon memiliki aktivitas antioksidan kuat.
Kata Kunci : Sengon, ekstraksi, fenol, flavonoid, antioksidan, DPPH
Abstract, The antioxidant compounds on the market are mostly synthetic compounds that have side effects
that are quite harmful to health, one which causes cancer. Therefore, natural antioxidants that are widely found in plants as an antidote to free radicals are needed. One type of forestry crop that has the potential as a source of natural antioxidant compounds is Sengon. The purpose of this study was to determine the total content of phenol, total flavonoid and antioxidant activity of Sengon twig extract by DPPH method (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazil). Sengon twig extraction was performed by a multilevel maceration method using n-hexane solvent, ethyl acetate and methanol. Phytochemical testing showed that phenolic compounds and flavonoids were found in all three types of solvents, whereas saponin and tannin compounds were present only in methanol extracts. The highest total phenolic and flavonoids were found in the ethyl acetate extract of Sengon twigs of 5-6 years age group with the respective values of 116.33 equivalents of gallic acid (mg/g) and 43.95 equivalents of quercetin (mg/g). The highest value of IC50 (Inhibition concentration) is also found in the ethyl acetate extract of Sengon branch of 5-6 year age group with a value of 94,14 ppm. Based on the value of IC50 obtained, shows that the bark of Sengon has strong antioxidant activity.
Keywords : Sengon, extraction, phenol, flavonoids, antioxidants, DPPH PENDAHULUAN
Perubahan gaya hidup manusia modern yang tidak sehat serta tingkat stres yang semakin tinggi menyebabkan peningkatan penyakit degeneratif, seperti kanker, jantung, stroke, dan diabetes . Kontributor utama terjadinya penyakit degeneratif adalah paparan oksidasi yang tinggi (stres oksidatif). Risiko penyebab terjadinya penyakit tersebut dapat dikurangi dengan penggunaan senyawa antioksidan yang mampu menangkap radikal bebas (Onkar et al., 2012). Antioksidan berfungsi menetralisir radikal bebas sehingga diharapkan dengan pemberian antioksidan tersebut dapat mencegah dan melindungi terjadinya kerusakan tubuh terhadap penyakit degeneratif (Winarsi, 2011).
Antioksidan dapat diproduksi secara sintetik dan alami tetapi antioksidan sintetik memiliki efek toksik dibandingkan antioksidan alami (Shirmila et al., 2013). Beberapa efek yang ditimbulkan oleh antioksidan sintetik adalah seperti alergi, asma, radang hidung, sakit kepala, kemerahan, urtikaria, masalah pada mata
98
dan perut, serta penurunan kesadaran (Race, 2009). Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai penelitian dalam pencarian antioksidan alami untuk menggantikan antioksidan buatan.
Antioksidan alami dapat bersumber dari tanaman karena umumnya mengandung senyawa bioaktif dalam bentuk metabolit sekunder seperti alkaloid, flavanoid, steroid, terpenoid dan lain-lain. Saat ini, banyak eksplorasi sifat biologis dan farmasi dilakukan pada tanaman. Hal ini didasarkan fakta bahwa tanaman mengandung zat antioksidan dan komponen bioaktif lainnya. Penelitian sebelumnya membuktikan bahwa antioksidan alami seperti polifenolat yang ada dalam tanaman mengurangi kerusakan tersebut dan membantu mencegah kanker, peradangan dan penuaan karena aktivitas penangkapan radikal (Diouf et al., 2009). Selain itu juga dibuktikan adanya korelasi aktivitas antioksidan dengan kadar fenolat totalnya (Gao et al., 2006).
Penelitian yang dilakukan oleh Marinova et al., (2005) melaporkan bahwa lebih dari 4000 jenis flavonoid ditemukan di berbagai tumbuhan tingkat tinggi dan tingkat rendah. Kedawung yang termasuk famili Mimosaceae telah terbukti memiliki kandungan antioksidan yang tinggi (Adaramola, 2013). Oleh karena itu, sengon (Falcataria moluccana) yang masih termasuk ke dalam famili Mimosaceae diduga mempunyai potensi sebagai sumber antioksidan alami.
Sejauh ini belum ada pemanfaatan ranting sengon yang merupakan salah satu dari tanaman limbah eksploitasi pohon sengon sebagai sumber antioksidan alami. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH serta mengukur total kadar fenol dan flavonoid. Pada penelitian ini diharapkan pelarut n-heksan, etil asetat, dan metanol mampu mengekstraksi senyawa aktif dari ranting sengon yang diduga memiliki aktivitas antioksidan. Manfaat penelitian ini ialah memberikan informasi awal mengenai kandungan ranting sengon sebagai antioksidan alami.
BAHAN DAN METODE