• Tidak ada hasil yang ditemukan

kestabilan komunitas tinggi.

Pi = ni/N

(H’) = -∑pi ln pi

193

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keanekaragaman Makroalga

Berikut disajikan Diagram Keanekaragaman Makroalga di Pantai Sancang

Gambar 2. Rerata Jumlah Individu dan Jumlah Species Makroalga pada Tiap Transek Tabel . Keanekaragaman Makroalga di Pantai Sancang dari Tiap Transek

Transek Jumlah Individu (N) Indeks keanekaragaman (H')

I 967 2,291294365 II 828 2,621065061 III 131 1,614570092 IV 154 2,30169911 V 203 1,893510388 VI 246 2,126406137 VII 853 2,697594163 VIII 427 2,160315765 IX 292 2,160315765 X 331 2,123356179

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat keanekaragaman tiap transek memiliki perbedaan. Hal ini disebabkan karena letak tiap transek berbeda dan memiliki rona lingkungan yang berbeda. Transek VII memiliki keanekaragaman paling tinngi dan ditemukan banyak jenis makroalga, karena letak transek VII berada di daerah yang tidak digunakan masyarakat untuk berkegiatan, hal tersebut berpengaruh terhadap jumlah jenis yang ditemukan. Berbanding terbalik dengan transek III dengan jumlah jenis yang ditemukannya sedikit karena terletak dekat dengan tempat masyarakat berada.

Tabel 3. Keanekaragaman Makroalga di Pantai Sancang

No. Nama Spesies Jumlah

Individu

Pi = Jumlah Individu

Spesies Total Individu Pi ln Pi

1. Agardhiella sp. 181 0,040249055 -0,129306881

2. Bangia sp. 41 0,009117189 -0,042828851

194 4. Caulerpa floridana 3 0,000667111 -0,004878288 5. Chaetomorpha anteninna 1 0,00022237 -0,001870395 6. Chaetomorpha sp. 11 0,002446075 -0,014708912 7. Codium fragilis 2 0,000444741 -0,003432519 8. Codium sp. 13 0,002890816 -0,016900337 9. Codium spongiosum 268 0,059595286 -0,168069362 10. Coralina sp. 165 0,036691127 -0,12127226 11. Cysto seira 20 0,004447409 -0,02408465 12. Enteromorpha intestinalis 417 0,092728486 -0,220515717 13. Enteromorpha linzae 92 0,020458083 -0,079569202 14. Euchema sp. 59 0,013119858 -0,056856587 15. Gigartina papiliodes 1 0,00022237 -0,001870395 16. Glacilaria salicornia 111 0,024683122 -0,091367923 17. Gracilaria sp. 92 0,020458083 -0,079569202 18. Halimeda opuntia 127 0,02824105 -0,100735222 19. Hormophysa triquetra 20 0,004447409 -0,02408465 20. Laurencia sp. 43 0,00956193 -0,044462647 21. Laurencia opitae 109 0,024238381 -0,090162364 22. Laurencia obtusa 231 0,051367578 -0,1524974 23. Padina australis 729 0,162108072 -0,294954349 24. Ptilota sp. 5 0,001111852 -0,007562517 25. Sargassum crassifolium 75 0,016677785 -0,068273477 26. Sargassum sp. 2 0,000444741 -0,003432519 27. Sargasum longifolium 286 0,063597954 -0,175223428 28. Turbinaria decurent 344 0,076495441 -0,196633378 29. Turbinaria ornate 293 0,065154547 -0,177936625 30. Udotea flabellate 13 0,002890816 -0,016900337 31. Valonia sp. 593 0,131865688 -0,267156111 Ʃ = 4.432 H‘ = -ƩPi ln Pi = 2,752127341

Dengan ditemukannya 4.432 individu yang terdiri dari 31 jenis makroalga, keanekaragaman makroalga yang dimiliki daerah Pantai Sancang termasuk kedalam kategori sedang, karena memiliki indeks keanekaragaman Shannon-Wiener (H‘) diantara 1 dan 3.

Sebagai perbandingan, penelitian yang dilakukan Yumima Sinyo dan Nurita Somadayo di perairan pantai pulau Dofamuel menemukan 9 jenis makroalga pada 2 stasiun. Pada stasiun 1 ditemukan 288 individu makroalga dengan indeks keanekaragaman 1,45 dan pada stasiun 2 ditemukan 316 individu makroalga dengan indeks keanekaragaman 1,482, kedua stasiun ini memiliki indeks keanekaragaman yang tergolong sedang. Keanekaragaman jenis makroalga di perairan pantai pulau Dofamuel dikategorikan sedang, karena jenis makroalga yang ada dapat dipengaruhi oleh gelombang air, dan arus air maupun faktor alam lainnya.

Penelitian lain yang dilakukan di perairan teluk kotania oleh Hairarti Arfah dan Simon I. Patty (2014) berhasil mengidentifikasi 20 jenis makroalga, terdiri dari 8 jenis clorophyta yang termasuk ke dalam genus

Chaetomorpha, Caulerpa, Halimeda, dan Valonia, 6 jenis phaeophyta yang termasuk ke dalam genus

dictyota, padina, Sargassum, dan Turbinaria, dan 6 jenis rodhophyta yang termasuk ke dalam genus

Acantomorpha, Amphiora, Galaxaura, dan Gracilaria. Ada lagi penelitian lain mengenai keanekaragman

makroalga di perairan laut pulau pucung oleh Lia , Muzahar, dan Fadhliyah (berhasil menemukan 13 jenis makroalga, terdiri dari 4 jenis clorophyta yaitu caulerpha, halimeda, codium, dan boergerenia, 4 jenis phaeophyta yaitu 2 jenis Sargassum,Padina, dan Turbinaria, dan 5 jenis rodhophyta yaitu Acanthomorpha, 2 jenis Euchema, Galaxaura, dan Gracillaria.

195

Apabila dibandingkan dengan penelitian lain yang telah disebutkan, maka keanekaragaman makroalga di pantai sancang termasuk sedang bahkan mendekati tinggi karena jumlah jenisnya yang ditemukan lebih banyak dengan jumlah jenis yang disampling pun banyak. Keanekaragaman makroalga di pantai sancang lebih tinggi dimungkinkan karena tipe pantai di sana merupakan pantai berkarang yang merupakan substrat makroalga, pantai sancang juga memiliki zona intertidal yang lebih luas dibandingkan pantai lain sehingga jenis dan jumlah individu makroalga yang ditemukan dapat lebih banyak.

Pertumbuhan lamun yang mendominasi daerah tepi Pantai Sancang ternyata merupakan habitat yang mendukung pertumbuhan alga tertentu yaitu Halimeda, Caulerpa, Amphiora, dan Gracillaria. Karena komunitas lamun di substrat berpasir dapat menghambat gerakan ombak dan sebagai substrat bagi pertumbuhan alga.

B. Zonasi Makroalga

Berikut Disajikan Tabel Jumlah Makroalga Berdasarkan Divisi pada Setiap Kuadran di Pantai Sancang

Tabel 4 jumlah makroalga berdasarkan divisi pada setiap kuadran

Divisio Kuadran

I II III IV V VI VII VIII IX X Chlorophyta 276 203 182 150 276 116 110 83 164 65 Phaeophyta 113 76 83 121 314 89 193 375 375 264 Rhodophyta 30 89 94 55 53 59 152 26 24 86

Berikut disajikan Diagram Sebaran Alga Berdasarkan Divisi pada Setiap Kuadran di Pantai Sancang

Diagram 3. Persentase Sebaran Makroalga Setiap Kuadran

Berdasarkan letak kuadran, kami membagi 10 kuadran menjadi 3 zona, yaitu zona supralittoral (kuadran 1, 2, dan 3), zona midlittoral (kuadran 4, 5, 6, dan 7), dan zona sublittoral (kuadran 8, 9, dan 10).

Terlihat dari data diatas terdapat perbedaan persentase jumlah makroalga yang cukup signifikan dari tiap divisi di setiap kuadran. Makroalga divisi Chlorophyta memiliki persentase yang tinggi dan mendominasi pada kuadran 1 yaitu sekitar 65% dari total individu yang ditemukan pada kuadran tersebut, kemudian jumlahnya menurun pada kuadran-kuadran berikutnya hingga hanya berjumlah 15% pada kuadran 10. Ini menunjukkan bahwa makroalga divisi Chlorophyta memiliki habitat hidup di zona supralittoral. Berbanding terbalik dengan divisi Phaeophyta yang mengalami peningkatan jumlah individu dari kuadran 1 ke kuadran 10, dan memiliki persentase tertinggi di tiga kuadran terakhir yaitu kuadran 8, 9, dan 10, dengan jumlah sekitar 70% dari total individu yang ditemukan. Ini menunjukkan bahwa makroalga dari divisi Phaeophyta mendominasi dan memiliki habitat di sublittoral. Makroalga divisi Rhodophyta memiliki jumlah

196

yang cenderung sedikit dibandingkan dengan jumlah makroalga dari divisi lainnya, dan tidak menunjukan suatu dominasi pada kuadran manapun. Jumlah individu makroalga divisi Rhodophyta yang ditemukan di setiap kuadran bernilai kurang dari 30% dari total individu yang ditemukan. Berikut disajikan Diagram Persentase Jumlah Makroalga berdasarkan divisi pada Setiap Zona.

Gamabr 4. Persentase Jumlh Makroalga berdasarkan divisi pada (1) zona supralittoral, (2) zona midlittoral, dan (3) zona sublittoral

Dari diagram diatas dapat dilihat bahwa zona supralittoral didominasi oleh divisi chlorophyta dan zona sublittoral didominasi oleh divisi phaeophyta, hal ini dapat disebabkan karena divisi chlorophyta merupakan divisi makroalga dengan tingkat toleransi kehilangan air paling tinggi sehingga dapat tumbuh baik di zona yang paling lama terdedah air ketika pasang surut terjadi, sedangkan divisi phaeophyta memiliki toleransi kehilangan air yang rendah sehingga dapat hidup ditempat yang hampir selalu terendam air laut. Divisi rhodhophyta yang memiliki toleransi kehilangan air paling rendah seharusnya mendominasi pada zona sublittoral dimana merupakan zona yang hampir selalu terendam air laut. Pada penelitian ini divisi rhodhophyta juga ditemukan pada zona A dan bahkan memiliki persentasi paling tinggi pada zona B. hal ini disebabkan oleh daerah transek yang berada dekat muara (transek 1 dan transek 7) sehingga zona supralittoral yang seharusnya lebih sering terdedah pun kadang malah selalu terendam oleh air laut, beberapa transek pun memiliki tidepool pada zona midlittoralnya sehingga divisi rodhophyta pun dapat hidup di zona tersebut.

UCAPAN TERIMA KASIH

Sebutkan dana bantuan (intitusi, tahun kontrak) dan orang-orang yang memberikan bantuan. Nama orang yang membantu dalam penelitian dituliskan tanpa gelar.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2015). Pengertian Ekosistem Laut, Macam, dan Jenisnya. [Online]. Tersedia: http://www.ebiologi.com/2015/06/pengertian-ekosistem-laut-macam-dan.html?m=1 [22 April 2017] Arfah, H., dan Patty, S. I. (2014). Keanekaragaman dan Biomassa Makroalga di Perairan Teluk Kotania,

Seram Barat. Jurnal Ilmiah Platax; 2(2): 63-73.

Balai Besar KSDA Jawa Barat (1998). Cagar Alam Leuweung Sancang; informasi Kawasan Konservasi

Propinsi Jawa Barat 1998. [Online]. Tersedia:

http://www.ditjenphka.go.id/kawasan_file/Leuweung%20Sancang-A.pdf [22 April 2017]

Dahuri, Rokhmin. (1998). Coastal Zone Management in Indonesia: Issues and Approaches. Journal of Coastal Development 1, No. 2: 97-112.

Desmukh, I. (1992). Ekologi dan Biologi Tropika. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Kingsford, M. J. (2008). Marine Ecosystem. [Online]. Tersedia: https://www.britannica.com/science/marine-ecosystem [22 April 2017]

(2) (3)

197

Lasabuan, R. (2013). Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan dalam Perspektif Negara Kepulauan.Jurnal

Planax; 1(2): 92-101.

Marianingsih, P., Amelia, E., dan Suroto, T. (2013). Inventarisasi dan Identifikasi Makroalga di Perairan Pulau Untung Jawa. Semirata FMIPA Universitas Lampung: 219-223.

Nurdeman, Y. (2005). Jenis-Jenis dan Zonasi Makroalga pada Zona Intertidal di Pantai Sancang Garut

Jawa Barat. Skripsi. Progam Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia: Tidak Diterbitkan.

Nurdeman, Y. (2005). Species-Species dan Zonasi Makroalga pada Zona Intertidal di Pantai Sancang Garut

Jawa Barat. Skripsi. Progam Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia: Tidak Diterbitkan.

Nurkiama, L., Muzahar, dan Idris, F. (2015). Keanekaragaman dan Pola Sebaran Makroalga di Perairan

Laut Pulau Pucung Desa Malang Rapat Kabupaten Bintan. Skirpsi. Program Studi Ilmu Kelautan FIKP

UMRAH: Tidak Diterbitkan

Nurmiyati. (2013). Keanekaragaman, Distribusi dan Nilai Penting Makroalga di Pantai Sepanjang Gunung Kidul. Bioedukasi; 6(1): 12-21.

Nybakken, J. W. (1988). Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia. Jakarta

Palallo, A. (2013). Distribusi Makroalga pada Ekosistem Lamun dan Terumbu Karang di Pulau

Bonebatang, Kecamatan Ujung Tanah, Kelurahan Barrang Lompo, Makassar. Skripsi. Program Studi

Ilmu Kelautan Universitas Hasanuddin: Tidak Diterbitkan.

Rusmiati, dkk. (2014). Keanekaragaman Makrozoobentos di Perairan Danau Kelubi Kecamatan Tayan Hilir Kabupaten Sanggau. Jurnal Protobiont; 3 (2); 141-148.

Sahri, Achmad & Suparmi. (2009). Mengenal Potensi Rumput Laut: Kajian Pemanfaatan Sumber Daya Rumput Laut dari Aspek Industri dan Kesehatan. Jurnal X; 44:118.

Setyawan, P. (2004). Does The Banteng (Bos Javanicus) Have A Future In Java? Challenges Of The

Conservation Of A Large Herbivore In Densely Populates Island. In: Report Of The 3rd IUCN World

Corservation Congress. Bangkok

Setyawan, I. B. (2015). Identifikasi Keanekaragaman dan Pola penyebaran Makroalga di Daerah Pasang surut Pantai Pidakan Kabupaten Pacitan sebagai Sumber Belajar Biologi. Jurnal Pendidikan Biologi

Indonesia; 1(1): 78-88.

Sinyo, Y., dan Nurito, S. (2013) Studi Keanekaragaman Jenis Makroalga Di Perairan Pantai Pulau Dofamuel Sidangoli Kecamatan Jailolo Selatan Kabupaten Halmahera Barat. Jurnal Bioedukasi; 1(2): 120-130 Sri, F. (Tanpa Tahun). Macam-macam Ekosistem Air Laut. [Online]. Tersedia:

https://www.sridianti.com/macam-macam-ekosistem-air-laut.html/amp [22 April 2017] Sumich, J.L & H. Dudley. (1992). Marine Biology. Wm. C. Brow Publisher.

Sutresno, S. (2002). Pengaruh Salinitas Terhadap Pertumbuhan Alga Merah Gracillaria verrucosa

(Hudson) Papenfus. Skripsi. Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Diponegoro: Tidak Diterbitkan.

Suwandi, M. H. (2007). Zonasi Prosobranchia pada Zona Intertidal Cipangisikan Garut, Jawa Barat. Skripsi. Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia: Tidak diterbitkan.

Tjitrosoepomo, G. (1998). Taksonomi Tumbuhan (Cryptogamae). Yogyakarta: UGM PRESS

Wawa, J. E. (2005). Pemerintah Provinsi Harus Segera Menyiapkan Lahan Pembibitan. Kompas, 27 Juli 2005. www.kompas.com. [28 Juni 2017]

Yulianto, K. (1996). Keberadaan Fikokoloid Alginat dalam Makroalga Coklat. Balitbang Sumberdaya Laut, Puslitbang Oseanologi. LIPI. Ambon: Lonawarta. XIX (1).

Zainuddin, Z. (2011). Studi keanekaragaman makroalga di Pantai Jumiang Kabupaten Pamekasan. Thesis. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim: Tidak Diterbitkan.