• Tidak ada hasil yang ditemukan

HISTOLOGI OVARIUM DAN UTERUS MENCIT SETELAH DIBERI JUS BUAH NAGA MERAH (Hylocerus polyrhizus)

HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat botanis, Penyebaran, dan Potensinya

Ficus religiosa merupakan pohon berukuran sedang, dengan tinggi sampai 20 m, tajuk yang lebar,

selalu hijau (evergreen) atau menggugurkan daun (deciduous). Duduk daun spiral berkarang, bentuk daun seperti hati sampai bulat telur (ovate), ujung daun lancip sepert berekor, sisi daun tidak merata, dengan 6-9 pasang tulang daun, stipula sampai 1,5 cm, permukaan kulit pecah-pecah dan berwarna abu-abu pada pohon yang sudah tua. Buah tumbuh pada ketiak daun atau dibawah daun dengan letak berpasangan atau tunggal. Warna buah masak merah muda atau ungu.Selain habitusnya sebagi pohon, habitus Ficus religiosa juga berupa epefit atau semi epifit.

Ficus religiosa dikenal sebagai pohon Bhodi, dan nama Inggris dikenal sebagai ―Peepal tree‖. Jenis ini

memiliki nilai mitologi, kegiatan keagamaan, dan sebagai obat alami yang penting pada budaya masyarakat India sejak zaman kuno (Ghani, 1998). Habitat alaminya terdapat pada Sub hutan Malaya. Penyebarannya mulai dari Himalayan ke China Selatan (Yunan) , Thailand Utara, Vietnam, Pakistan, dan di wilayah Malesiana jenis ini telah dibudidayakan, juga di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Amerika Serikat (Prosea, 1999).

Gambar 1. (A dan B) Pohon induk F. religiosa di Kebun Raya Bogor

179

Ficus religiosa mempunyai fungsi ekologis, yaitu sebagai pohon pelindung, sebagai pengatur tata air,

dan sebagai sumber pakan bagi binatang pemakan buah. Pohon F. religosa yang sudah berumur tua dan besar mempunyai tajuk yang lebar sehingga bisa bermanfaat sebagai pohon pelindug. Akarnya tumbuh menyamping dan kadang-kadang menonjol di permukaan tanah, berfungsi sebagai pelindung erosi dan pengatur tata air.Ficus religosa menghasilkan buah sepanjang tahun seperti umumnya jenis-jenis Ficus lainnya yang berbuah tidak mengenal musim. Buah Ficus ini merupakan pakan bagi binatang pemakan buah, sehingga jenis Ficus merupakan species kunci di alam.

Selain fungsi dan manfaatnya sebagai tanaman pelindung, pengatur tata air, sumber pakan, Ficus

religiosa mempunyai fungsi dan manfaat sebagai obat alami.Jenis ini merupakan tumbuhan obat alami

tradisional yang terkenal digunakan di India. Pengunaan oleh masyarakat India secara tradisional untuk pengobatan telah didokomentasikan dengan baik (Makhija at al, 2010).

Bagian-bagian dari tanaman ini bermanfaat sebagai pengobatan tradisional pada banyak jenis penyakit.Menurut Warrier (1996) bagian kulit dari tanaman ini dipergunakan sebagaizat astringent, aprodisiak, antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli, gonorrhoea, disentri, ambeien atau wasir, anti radang, dan luka bakar. Daun digunakan sebagai obat pencahar, luka, dan penyakit kulit. Jus daun digunakan sebagai obat Asma, batuk, haematuria, sakit gigi, sakit kepala sebelah, penyakit pada mata, pencernaan (maag), dan kudis. Biji digunakan untuk obat pendingin dan pencahar, sedangkan getah digunakan untuk neuralgia, radang, dan pendarahan.

Rebusan kulit digunakan sebagai obat gonorrhoea, penyakit kulit, kudis, cegukan, dan muntah (Kapoor, 1990). Rebusan daun digunakan untuk obat analgesik untuk sakit gigi (Kunwar, at al. 2006 dalam Makhija at al, 2010). Sedangkan buah kering digunakan untuk TBC, demam, kelumpuhan, dan wasir (Khanom, at al. 2000 dalam Makhija at al, 2010). Menurut Prosea (1999) bahwa akar gantung tanaman ini yang dikunyah oleh wanita untuk meningkatkan kesuburan.

Uji pendahuluan fitokimia terhadap kulit Ficus religiosa menunjukkan adanya kandungan tannin, saponin, flavonoid, steroid, terpenoid, dan kardial glycosides (Babu at al, 2010 dalam Makhija at al, 2010). Sedangkan penelitian farmakolgi, yaitu untuk mengetahui aktifitas pengaruh bahan kimia terhadap mahluk hidup, Ficus religiosa mengandung bahan aktif kimia untuk antidiabetes, anti inflamasi, analgesic, antioksidan, anticolvusan, antimikroba, anti amnesic, dan mengandung enzim proteolitik.

Penelitian terhadap tikus yang diinduksi oleh Streptozotocin sehingga menyebabkan tikus mengalami diabetes, kemudian diberikan ekstrak cair kulit pohon F.religoisa dengan dosis 50 mg/kg dan 100 mg/kg menunjukkan adanya efek penurunan kadar gula darah (Ambike at al, 1967 dalam Makhija at al, 2010). Regenerasi Ficus religiosa di Kebun Raya Bogor

Pembungaan dan pembuahan pada Ficus spp termasuk khas dan unik. Ficus membentuk buah semu majemuk (syconia) yang terjadi dari dasar bunga bersama yang berbentuk seperti periuk atau bulat dengan buah-buah yang sesunguhnya berada didalamnya (Tjitrosoepomo, 2005). Buah semu Ficus (syconia) mempunyai mulut atau lubang kecil (ostiole) pada ujungnya. Ostiole berfungsi sebagai lubang keluar masuknya kumbang penyerbuk (fig wasp). Bunga Ficus spp berkelamin satu (uniseksual), berumah satu (monoesis), atau berumah dua (diesis).

Menurut Zuhri (2012) bunga Ficus yang bersifat unisexual dengan bagian bunga jantan tidak menghasilkan biji dan terletak didekat ostiole. Sementara bagian bunga betina memiliki tangkai yang berbeda panjangnya. Bunga betina dengan tangkai putik yang panjang berfungsi untuk menghasilkan biji, sementara bunga betina dengan tangkai putik pendek berfungsi untuk reproduksi serangga atau kumbang penyerbuk.

Gambar 2. (C) Bentuk daun dan buah semu (syconia) F. religiosa dan (D) anakan

F. religiosa pada dinding bangunan.

180

Strategi penyerbukan Ficus ditentukan oleh sistem reproduksinya yaitu berumah satu (monoesis) atau berymah dua (diesis) dengan dibantu oleh serangga (fig wasp) yang merupakan suku Agaonidae. Hubungan antara Ficus dan fig wasp bersifat species-spesifik yang berarti tiap jenis Ficus hanya bisa dibuahi oleh jenis fig wasp tertentu saja (Weiblen, 2002 dalam Zuhri, 2012). Sistem pembungaan atau pembuahan Ficus dan jenis serangga atau kumbang penyerbuk tertentu untuk jenis Ficus tertentu merupakan faktor pembatas untuk reproduksi atau regenerasinya di alam.

Sebagian besar penyebaran Ficus dilakukan oleh binatang atau secara endozookori. Endozookori merupakan pemencaran benih oleh binatang yang memakan buah dan membuang bijinya dengan cara memuntahkannya atau melalui kotorannya. Buah ara yang matang dimakan ditempat dan disebarkan melalui pencernaannya atau dimuntahkan ditempat lain, yang akhirnya menghasilkan semai Ficus.

Berdasarkan pengamatan pembungaan atau pembuahan F. religiosa pada pohon induk koleksi Kebun Raya Bogor menunjukkan bahwa F. religiosa berbuah hampir sepanjang tahun atau tidak bersifat musiman. Bunganya bersifat unisexual, setelah dilakukan uji belah menunjukkan bunga jantan terletak sekitar ostiole (lubang tempat keluar masuknya serangga atau kumbang penyerbuk). F. religiosa di Kebun Raya Bogor dapat melakukan regenerasi alami. Hasil pengamatan, jenis ini menghasilkan seedling atau anakan yang jauh dari pohon induknya, yaitu pada sempadan sungai berbatu dan dinding bangunan dengan jumlah populasi yang sedikit dan terpencar. Penyebaran atau pemencarannya tergantung pada binatang pemakan buah (endozokoori). Diperkirakan binatang pemakan buah F. religiosa yang berada di Kebun Raya adalah burung, tupai, dan kelelawar.

F. religiosa mempunyai fungsi dan manfaat yang beragam, yaitu sebagai pohon pelindung, sumber

pakan bagi binatang, pengatur tata air, dan berpotensi sebagai tanaman obat. Penggunaan F. religiosa sebagai tanaman obat tradisional (etnomedicinal) telah didokumentasikan dengan lengkap. Penelitian F. religiosa sebagai bahan obat alami telah dilakukan secara ilmiah pada aspek fitokimia dan farmakologi. Regenerasi alami dan penyebaran F. religiosa sangat tergantung pada binatang pemencar (endozookori).

DAFTAR PUSTAKA

Berg, C.C., and E.J.H. Corner. 2005. Moraceae – ficus. Flora Malesiana, Series I, Volume 17/Part 2. Nationaal Herbarium Nederland.

De Padua L.S., N. Bunyapraphatsara and R.H.M.J. Lemmens (Editors). 1999. Medicinal and poisonous plants 1. PROSEA No.12(1). Bogor, Indonesia.

Eksplorasi. 1998. Figs As Keystone Species And Their Role In Forest Regeneration On Krakatau. Editor: J. Tri Hadiah, S. Roosita Ariati, R. Lestari, A. Smith, J. Pfeiffer, F. Zich. INetPC-INDONESIA

Ghani, A.,1998. Medicinal plants of Bangladesh with chemical constituents and Uses. Asiatic Society of Bangladesh, Dhaka.

Kapoor, L.D. 1990. Handbook of Ayurvedic Medicinal Plants. CRC Press, BocaRaton.

Makhija, IK., Indra, PS., Devang, K. 2010. Phytochemistery and Pharmacological of Ficus religiosa: an overview. Annals of Biological Research. 1(4): 171-180.

Zuhri, M. 2012. Strategi Penyerbukan Ficus. Warta Kebun Raya Vol. 11 No 2: 33-39. Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor - LIPI. Bogor.

Warrier, P.K. 1996. Indian Medicinal Plants – A Conpendium of 500 Species Volume III. Orient Longmant Ltd., Chennai

181 ET-14

KAJIAN ETNOBOTANI TUMBUHAN OBAT