D. Pelaksanaan Penelitian
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Tutupan Lahan di Kota Medan
Secara umum, penutupan lahan di kota Medan terdiri dari 10 (sepuluh) jenis tutupan lahan yaitu Hutan Mangrove Sekunder, Tambak, Pemukiman, Perkebunan, Sawah, Semak Belukar, Bandara/ Pelabuhan, Pertanian Lahan Kering, Pertanian Lahan kering campur Semak, Tubuh Air. Berdasarkan hasil ground check, diperoleh nilai akurasi sebesar 96, 25 % yakni dari 80 titik yang ditentukan terdapat 77 titik yang benar dan 3 titik yang salah (Lampiran 1) dan titik koordinat ground check dalam persebarannya dapat dilihat pada Gambar 4 . Hal ini menunjukkan hasil interpretasi terhadap peta sudah akurat. Menurut Short (1982) dan Estes dalam Danoedoro (1996), nilai akurasi yang mempunyai tingkat ketelitian ≥ 80% sudah dianggap benar.
1. Penutupan Lahan Tahun 2000, 2006, dan 2011
Berdasarkan data perubahan tutupan lahan kota Medan, klasifikasi tipe dan luas perubahan tutupan lahan tahun 2000, 2006 dan tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Luas penutupan lahan tahun 2000, 2006, dan 2011
Ha
%
Ha
%
Ha
%
Perkebunan
2146,96
2146,96
2147,70
0,00
0,00
0,74
0,03
0,74
0,03
Pemukiman
17904,61
17904,61
18344,09
0,00
0,00
439,48
2,45 439,48
2,45
Tubuh Air
514,64
514,64
514,64
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
Hutan Mangrove Sekunder
1128,34
1007,31
1007,31
‐121,03
‐10,73
0,00
0,00
‐121,03
‐10,73
Semak belukar Rawa
2229,59
2229,59
2223,23
0,00
0,00
‐6,37
‐0,29
‐6,37
‐0,29
Pertanian Lahan Kering
1613,63
1613,63
2166,62
0,00
0,00
552,99
34,27 552,99
34,27
Pertanian Lahan Kering
campur semak
552,99
552,99
0,00
0,00
‐552,99
‐100,00
‐552,99
‐100,00
Sawah
794,04
794,04
354,55
0,00
0,00
‐439,48
‐55,35
‐439,48
‐55,35
Tambak
2446,70
2567,73
2573,35
121,03
4, 95
5,62
0,22 126,65
5,18
Bandara/ Pelabuhan
302,94
302,94
302,94
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
Total
29.634,43
29.634,43
29.634,43
Perubahan
2000‐ 2011
2000‐ 2006
Perubahan
Jenis Tutupan Lahan
Luas (Ha)
Tahun 2000
Luas (Ha)
Tahun 2006
Luas (Ha)
Tahun 2011
Perubahan
2006‐ 2011
Ket : (+) mengindikasikan adanya penambahan jumlah (-) mengindikasikan adanya pengurangan jumlah
Luas setiap jenis tutupan lahan pada tahun 2000, 2006, dan 2011 dapat dilihat pada Gambar 5.
Tutupan lahan di kota Medan dari tahun ke tahun ( 3 priode pengamatan ) ada yang mengalami perubahan baik dari penambahan luasan dan ada yang mengalami penurunan luasan (Tabel 3 dan Gambar 5). Luas total keseluruhan lahan di kota Medan adalah 29.634, 43 Ha. Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa tahun 2000 tutupan lahan di kota Medan didominasi oleh jenis tutupan lahan Pemukiman dengan luas sebesar 17.904, 61 Ha (60,42%), dan kemudian diikuti berturut- turut tutupan lahan tambak sebesar 2446,70 Ha (8,26%), semak belukar rawa 2229,59Ha (7,52%), perkebunan sebesar 2146, 96 Ha (7,24%), pertanian lahan kering sebesar 1613,63 Ha (5,45%), pertanian lahan kering campur semak sebesar 552,99 Ha (1, 87%), hutan mangrove sekunder sebesar 1128,34Ha (3,81%), sawah sebesar 794,04Ha (2,68%), Tubuh air sebesar 514,64Ha (1,74%), bandara/ pelabuhan sebesar 302,94Ha (1,02%).
Berdasarkan data di atas (Tabel 3), diketahui bahwa pada tahun 2006 terjadi penurunan luasan (Gambar 5) sebesar 121, 03Ha (10,73% dari total luas sebelumnya) pada jenis tutupan lahan hutan mangrove sekunder sehingga luas menjadi sebesar 1007, 31 Ha atau sebesar 3,40% dari total luasan lahan kota Medan. Sedangkan pada jenis tutupan lahan tambak pada tahun 2006 mengalami penambahan luasan (Gambar 5) sebesar 121, 03Ha (4, 95% dari total luas sebelumnya) sehingga luas menjadi 2567, 73Ha atau sebesar 8, 66% dari total luasan lahan kota Medan . Jenis tutupan lahan lainnya yaitu pemukiman, perkebunan, tubuh air, semak belukar rawa, pertanian lahan kering, pertanian lahan kering campur semak, sawah dan bandara/ pelabuhan tidak mengalami perubahan luasan (Gambar 5) sehingga luas setiap jenis tutupan lahan tersebut tetap mulai dari tahun 2000.
Tutupan lahan pada tahun 2011 dapat diketahui dari Gambar 5 juga mengalami perubahan selama rentang waktu 11 dan 5 tahun dari tahun pengamatan sebelumnya (tahun 2000 maupun 2006) dengan mengalami penambahanan maupun penurunanan luasan tutupan lahan. Tutupan lahan yang tetap mendominasi yaitu pemukiman mengalami penambahan luasan pada tahun 2011 sebesar 439, 48Ha (2, 45%) sehingga luas menjadi sebesar 18344,09Ha atau 61,90% dari total luasan.
Tipe tutupan lahan pada tahun 2011 yang mengalami penambahan luasan adalah perkebunan dengan luas menjadi sebesar 2147, 70Ha atau 7,25% dari total luas lahan, pemukiman dengan luas menjadi 18344, 09Ha atau 61, 90% dari total luas lahan, pertanian lahan kering dengan luas menjadi sebesar 2166, 62 Ha atau 7,31% dari total luas lahan dan tambak dengan luas menjadi sebesar 2573, 35 atau 8,68% dari total luas lahan kota Medan. Adapun tipe tutupan lahan yang mengalami penurunan adalah semak belukar rawa dengan luas menjadi sebesar 2223,23Ha atau 7, 50% dari total luas lahan dan sawah dengan luas menjadi sebesar 354,55 Ha atau 1,20% dari total luas lahan kota medan, serta untuk tipe tutupan lahan pertanian lahan kering campur semak mengalami penurunan yang sangat drastis dimana tutupan lahan ini sudah tidak terdapat lagi di tahun 2011. Pada tipe tutupan lahan yang lainnya tidak mengalami perubahan dengan tidak ada penambahan maupun penurunan luasan yaitu tubuh air, hutan mangrove sekunder, dan bandara/ pelabuhan.
Tutupan lahan yang terdapat di kota Medan pada tahun 2000, 2006 dan 2011 dapat dilihat juga pada Gambar 6, 7, dan 8 secara berturut- turut. Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat warna yang mendominasi setiap peta pada
setiap tahun adalah warna hijau dimana keterangan menunjukkan kawasan pemukiman. Pemukiman adalah tutupan lahan yang mendominasi mulai periode tahun 2000- 2011.
Berdasarkan penelitian As- syakur (2011) mengenai Perubahan Penggunaan Lahan di Provinsi Bali bahwa Di Kota Denpasar, penggunaan lahan pemukiman merupakan yang terluas mengalami perubahan penambahan yaitu seluas 907,89 ha sedangkan sawah irigasi adalah yang terluas mengalami pengurangan yaitu seluas 824,16 ha. Hal tersebut menunjukkan bahwa di kawasan perkotaan tutupan lahan pemukiman lebih mendominasi dibandingkan tutupan lahan lainnya. Demikian halnya di wilayah kota Medan, tutupan lahan yang mendominasi adalah wilayah pemukiman.
2. Perubahan Tutupan Lahan Tahun 2000 – 2006
Berdasarkan data perubahan tutupan lahan kota Medan pada tahun 2000 dan tahun 2006 menunjukkan adanya terdapat perubahan tutupan lahan di kota Medan baik dari bentuk maupun luasannya dapat dilihat pada Gambar 9 dan Gambar 11.
Gambar 9. Perubahan Tutupan Lahan Tahun 2000- 2006
Perubahan tutupan lahan yang terjadi selama selang waktu 6 (enam) tahun mulai dari tahun 2000 sampai 2006 (Gambar 9) yaitu adanya perubahan dari jenis tutupan lahan hutan mangrove sekunder menjadi tambak. Tipe perubahan tutupan lahan yang lainnya tidak mengalami perubahan sehingga luas tutupan lahan tersebut adalah tetap.
Pada Tabel 4 dapat diketahui bahwa perubahan jenis tutupan lahan hutan mangrove sekunder menjadi tambak merupakan satu- satunya perubahan tutupan lahan yang terjadi pada tahun 2000 sampai tahun 2006 yaitu luas perubahan sebesar 121,03 Ha. Perubahan tutupan lahan tersebut mengakibatkan hutan
luasnya menjadi sebesar 1.007, 31Ha atau 3,40% dari luas total lahan sedangkan tambak mengalami penambahan luas sehingga pada tahun 2006 luasnya menjadi sebesar 2.567,73 atau 8,66% dari luas total lahan kota Medan.
Berdasarkan hasil pengamatan dan survey lapangan serta peta perubahan tutupan lahan pada Gambar 11, dapat dilihat bahwa lokasi terjadinya perubahan tutupan lahan hutan mangrove sekunder menjadi tambak berada di daerah pesisir kota Medan yaitu Kecamatan Medan Belawan, Medan Marelan dan Medan Labuhan. Potensi yang dimiliki oleh daerah pesisir sangat mendukung terjadinya perubahan tersebut hal ini sesuai dengan pernyataan Supriharyono (2000) dalam Purwoko (2009) yang menyatakan bahwa Wilayah pesisir ditinjau dari berbagai macam peruntukannya merupakan wilayah yang sangat produktif. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya perubahan terhadap hutan mangrove.
Gambar 10. Pembukaan lahan hutan mangrove sekunder menjadi tambak Selain itu, perubahan yang terjadi juga dapat disebabkan oleh adanya berbagai kepentingan dan aktivitas manusia. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan oleh Onrizal (2010) yang menyatakan bahwa perubahan dari hutan
oleh konversi, terutama pembukaan areal untuk pertambakan, perkebunan, permukiman dan areal pertanian lainnya.
Aktivitas manusia di wilayah perkotaan terutama di Kota Medan yang mengalami perkembangan sangat pesat menekan keberadaan ekosistem mangrove dengan tujuan untuk aspek ekonomi dalam memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar. Pada Gambar 10, dapat dilihat bagaimana gambar dari tambak yang sudah mengalami perubahan tutupan lahan dari hutan mangrove sekunder. Gambar 9 juga menunjukkan bagaimana perubahan yang terjadi antara tutupan lahan hutan mangrove sekunder yang mengalami penurunan luas dan tutupan lahan tambak yang mengalami penambahan luas.
Tabel 4. Perubahan bentuk dan luas tutupan lahan di Kota Medan periode tahun 2000- 2006
Perkebunan
2146, 96
2146, 96
7, 24
Pemukiman
17904, 61
17904,61
60, 42
Tubuh Air
514, 64
514, 64
1,74
Hutan Mangrove Sekunder
1007, 31
121, 03
1128, 34
3, 4
Semak belukar Rawa
2229, 59
2229, 59
7, 5
Pertanian Lahan Kering
1613, 63
1613, 63
5, 45
Pertanian Lahan Kering campur semak
552, 99
552, 99
1, 87
Sawah
794, 04
794, 04
2, 68
Tambak
2446, 70
2446, 70
8, 67
Bandara/ Pelabuhan
302, 94
302, 94
1, 02
Total Area tahun 2006
2146, 96
17904, 61
514, 64
1007, 31 2229, 59
1613,63
552, 99
794, 04
2567, 73
302, 94
29634, 43
Proporsi (%)
7, 24
60, 42
1,74
3, 4
7, 5
5, 45
1, 87
2, 68
8, 67
1, 02
100,00
Perubahan dari 2000- 2006 (ha)
0,00
0,00
0,00
-121,03
0,00
0,00
0,00
0,00
121,03
0,00
Perubahan dari 2000- 2006 (%)
0,00
0,00
0,00
-10,73
0,00
0,00
0,00
0,00
4,95
0,00
Pertanian Lahan
Kering Campur
Semak
Sawah
Tambak
Bandara/
Pelabuhan
Proporsi (%)
Total Area
Tahun 2000
Tutupan Lahan Tahun 2006
Tutupan Lahan Tahun 2000
Perkebunan
Pemukiman Tubuh Air
Hutan
Mangrove
Sekunder
Semak
Belukar
Rawa
Pertanian
Lahan
Kering
3. Perubahan Tutupan Lahan Tahun 2006- 2011
Tutupan lahan pada tahun 2006 hingga 2011 berdasarkan Gambar 13 dan Tabel 5 menunjukkan dalam selang waktu enam tahun tutupan lahan di Kota Medan sebagian besar telah mengalami perubahan baik dari penambahan luasan maupun penurunan luasan.
Gambar 13. Perubahan Tutupan Lahan tahun 2006- 2011
Perubahan tutupan lahan yang terbesar adalah perubahan tutupan lahan dari pertanian lahan kering campur semak menjadi pertanian lahan kering yaitu sebesar 552,99 Ha sehingga pertanian lahan kering mengalami penambahan luas dan luasannya pada tahun 2011 menjadi 2.166,62 Ha sedangkan pertanian lahan kering campur semak mengalami penurunan luas yang sangat drastis yaitu sebesar 100%. Oleh karena itu, tutupan lahan pertanian lahan kering campur semak sudah tidak ada pada tahun 2011.
Tutupan lahan yang juga mengalami perubahan adalah sawah yang mengalami perubahan bentuk menjadi tutupan lahan pemukiman dengan luas
perubahan 439,482 Ha dimana sawah mengalami penurunan luas sehingga luas pemukiman pada tahun 2011 menjadi 18.344,09 Ha. Perubahan ini dapat dilihat pada Gambar 12. Dan Tabel 5. Tutupan lahan lainnya yang mengalami perubahan luas adalah semak belukar yang berubah menjadi perkebunan dan tambak dimana masing- masing luas perubahan adalah 0,74Ha dan 5,62Ha. Semak belukar mengalami penurunan luasan sehingga pada tahun 2011 luas semak belukar menjadi 2.223,23 Ha.
Berdasarkan perubahan yang terjadi (Gambar 13 dan Tabel 5), yang mengalami penambahan luasan dalam selang waktu 6 (enam) tahun adalah tutupan lahan pertanian lahan kering, pemukiman, perkebunan, dan tambak sedangkan untuk tutupan lahan yang tidak mengalami perubahan adalah tubuh air, hutan mangrove sekunder dan bandara/ pelabuhan.
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 12. Perubahan pertanian lahan kering campur semak menjadi pertanian lahan kering (a); semak belukar menjadi tambak(b); sawah menjadi pemukiman (c), semak belukar menjadi perkebunan (d)
Berdasarkan pengamatan dan survey lapangan pertanian lahan kering campur semak berubah menjadi pertanian lahan kering dapat dikarenakan masyarakat setempat ingin memanfaatkan lahan yang tidak berfungsi pada awalnya yang berada di daerah lahan pertanian mereka dengan memperluas lahan pertanian sehingga komoditi pertanian lahan kering dapat dihasilkan dalam jumlah yang lebih besar dari sebelumnya dan tidak ada lahan yang tidak produktif lagi. Perubahan tutupan lahan tersebut banyak ditemukan di Kecamatan Marelan.
Selain itu, penelitian Putra (2012) mengenai Pemetaan Perubahan Tutupan Lahan di Pesisir Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang menyatakan bahwa kebun campuran tidak ditemukan lagi pada tahun 2009 di pesisir kota Medan yang sebelumnya 16,619 Ha pada tahun 2002. Resolusi citra landsat adalah 30 x 30 m, maka kelas tutupan lahan yang luasnya sangat kecil akan tidak terlihat pada citra. Pada kelas kebun campuran yang tidak ditemukan lagi pada tahun 2009 disebabkan oleh keterbatasan citra landsat yang resolusinya rendah. Dengan demikian, dapat diprediksi bahwa keberadaan pertanian lahan kering campur semak dapat juga berkurang luasnya dikarenakan pada saat pengklasifikasian tutupan lahan tersebut beberapa kawasan tidak dapat diidentifikasi dikarenakan resolusi citra yang rendah.
Perubahan tutupan lahan semak belukar menjadi tambak melalui pengamatan banyak ditemukan di daerah Kecamatan Marelan. Hal ini dikarenakan keberadaan Marelan yang merupakan daerah pesisir Kota Medan sehingga dapat berpotensi untuk menjadi lahan tambak. Masyarakat juga ingin memanfaatkan lahan yang tidak produktif pada waktu sebelumnya hingga menjadi tambak yang dapat produktif dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Demikian halnya juga terhadap perubahan tutupan lahan semak belukar menjadi perkebunan yang berdasarkan hasil pengamatan terjadi di Kecamatan Medan Belawan. Masyarakat hanya semata- mata memanfaatkan lahan yang tidak produktif menjadi lahan yang produktif . Apalagi kota Medan merupakan salah satu wilayah pesisir Pantai Timur Sumstera Utara yang menurut Purwoko (2009) Sektor pertanian mempunyai potensi yang strategis bagi pembangunan di kawasan Pantai Timur Sumatera Utara, karena tanahnya subur dan cocok untuk komoditas tanaman pangan, hortikultur dan tanaman perkebunan.
Untuk perubahan tutupan lahan sawah menjadi pemukiman ini terjadi di beberapa kecamatan di kota Medan antara lain Kecamatan Medan Helvetia, Deli, Baru, Polonia, Selayang, Johor, Amplas, dan Medan Area. Tutupan lahan pemukiman seperti yang telah diamati adalah tutupan lahan yang paling mendominasi di Kota Medan hal ini dikarenakan pembangunan yang pesat di berbagai bidang dan tingginy pertumbuhan penduduk sehingga semakin banyak kebutuhan akan lahan baik untuk pembangunan berbagai sector maupun untuk tempat tinggal. Dilihat dari fisiknya sawah memeliki kontur yang datar yang berpotensi dan sesuai untuk pemukiman sehingga masyarakat atau berbagai pihak mengkonversikannya menjadi pemukiman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Irawan (2005) yang menyatakan bahwa konversi yang lebih besar terjadi pada lahan sawah dibandingkan dengan lahan kering karena dipengaruhi oleh tiga faktor dan salah satunya adalahn pembangunan kegiatan non pertanian seperti kompleks perumahan, pertokoan, perkantoran, dan kawasan industri lebih mudah dilakukan pada tanah sawah yang lebih datar dibandingkan dengan tanah kering.
Tabel 5.Perubahan bentuk dan luas tutupan lahan di Kota Medan periode tahun 2006- 2011
Perkebunan
2146,96 2146,96 7,24Pemukiman
17904,61 17904,61 60,42Tubuh Air
514,64 514,64 1,74Hutan Mangrove Sekunder
1007,31 1007,31 3,40Semak belukar Rawa
0,75 2223,23 5,62 2229,59 7,52Pertanian Lahan Kering
1613,63 1613,63 5,45Pertanian Lahan Kering campur semak
552,99 552,99 1,87Sawah
439,48 354,55 794,04 2,68Tambak
2567,73 2567,73 8,66Bandara/ Pelabuhan
302,94 302,94 1,02Total Area tahun 2011
2147,70 18344,09 514,64 1007,31 2223,23 2166,62 - 354,55 2573,35 302,94 29.634,43Proporsi (%)
7,25 61,90 1,74 3,40 7,50 7,31 0,00 1,20 8,68 1,02 100,00Perubahan dari 2006- 2011 (ha)
0,74 439,48 0,00 0,00 -6,37 552,99 -552,99 -439,48 5,62 0,00Perubahan dari 2006- 2011 (%)
0,03 2,45 0,00 0,00 -0,29 34,27 -100,00 -55,35 0,22 0,00Tutupan Lahan Tahun 2006
Tutupan Lahan Tahun 2011
Proporsi (%)
Total Area
Tahun
2006
Perkebunan
Pemukiman
Tubuh
Air
Hutan
Mangrove
Sekunder
Semak
Belukar Rawa
Pertanian
Lahan
Kering
Pertanian Lahan
Kering Campur
Semak
Sawah
Tambak
Bandara/
Pelabuhan
4. Perubahan Tutupan Lahan Tahun 2000- 2011
Berdasarkan data perubahan tutupan lahan, selama periode tahun 2000 sampai 2011 terjadinya banyak perubahan terhadap beberapa tutupan lahan dapat dilihat pada Gambar 18 dan Tabel 6.
Gambar 18. Perubahan Tutupan Lahan Tahun 2000- 2011
Perubahan tutupan lahan selama periode 2000 hingga 2011 merupakan perubahan hasil akumulasi dari perubahan tutupan lahan periode 2000 hingga 2006 dan 2006 hingga 2011. Perubahan selama selang waktu 11(sebelas) tahun yang terjadi di kota Medan berdasarkan data dapat dilihat pada Gambar 11 banyak terjadi di daerah pesisir yaitu Kecamatan Marelan, Belawan dan Labuhan Batu. Perubahan tutupan lahan yang terbesar terjadi pada tutupan lahan pertanian lahan kering campur semak yang berubah menjadi pertanian lahan kering salah satunya
adalah dalam bentuk kebun campuran. Perubahan tutupan lahan tersebut mengalami perubahan luasan yaitu sebesar 552, 91 Ha.
Perubahan yang terjadi pada periode tahun 2000 hingga 2011 tidak jauh beda dengan perubahan yang terjadi pada periode tahun 2006 hingga 2011 dikarenakan pada tahun 2000 hanya hutan mangrove sekunder yang berubah menjadi tambak sedangkan tutupan lahan lainnya tidak mengalami perubahan hingga tahun 2006. Tutupan lahan yang tidak pernah mengalami perubahan mulai dari tahun 2000 hingga 2011 adalah tutupan lahan bandara/ pelabuhan dan tubuh air. Tutupan lahan yang paling mendominasi dari tahun 2000 hingga 2011 adalah tutupan lahan pemukiman.
(a) (b)
Gambar 15. Hutan mangrove menjadi tambak (a), semak belukar menjadi tambak (b)
Perubahan hutan mangrove sekunder dan semak belukar menjadi tambak berdasarkan hasil pengamatan dapat terjadi dikarenakan kawasan terjadinya perubahan tersebut merupakan daerah pesisir. Menurut Rabiatun (2012) dalam penelitiannya mengenai Analisis Kesesuaian Lahan dan Kebijakan Permukiman di Kawasan Pesisir Kota Medan menyimpulkan bahwa wilayah pesisir merupakan wilayah yang unik karena merupakan tempat percampuran antara daratan dan lautan, hal ini berpengaruh terhadap kondisi fisik dimana pada umumnya daerah yang berada di sekitar laut memiliki kontur yang relatif datar. Adanya kondisi
seperti ini sangat mendukung bagi wilayah pesisir dijadikan daerah yang potensial dalam pengembangan wilayah keseluruhan.
Gambar 16. Sawah menjadi pemukiman
Tutupan lahan yang mendominasi mulai dari periode 2000- 2011 adalah pemukiman yang sebagian besar merupakan perubahan tutupan lahan sawah menjadi pemukiman. Melalui pengamatan yang dilakukan hal ini dapat disebabkan karena pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin meningkat sehingga kebutuhan akan lahan baik sebagai tempat tinggal maupun untuk meningkatkan kesejahteraan akan menyebabkan terjadi perubahan tersebut atau dapat juga dikarenakan wilayah atau lahan persawahan dekat dengan kawasan perkotaan baik industri maupun pelayanan jasa sehingga memicu masyarakat atau pihak lain untuk melakukan perubahan dari pertanian menjadi non pertanian.
Hal ini didukung oleh hasil penelitian Alamsyah (2011) mengenai Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Atas Konversi Lahan Pertanian Menjadi Permukiman Di Kota Medan menyatakan bahwa penurunan luas lahan pertanian akibat konversi lahan pertanian menjadi permukiman di Kota Medan dapat dilihat dari berbagai tolak ukur seperti, penurunan luas areal pertanian, berkurangnya luasan panen padi sawah, dan
berkurangnya jumlah produksi padi. Disamping itu penurunan luas lahan pertanian ini, dapat diindikasikan terhadap peningkatan jumlah bangunan yang dibangun di Kota Medan. Selain itu Alamsyah (2011) juga menyatakan bahwa faktor yang dominan mempengaruhi keputusan petani dalam mengkonversi lahan adalah produktivitas dan proporsi pendapatan dari pertaniannya.
(a) (b)
Gambar 17. Semak Belukar menjadi Perkebunan (a); Pertanian lahan kering campur semak menjadi pertanian lahan kering
Perubahan tutupan lahan selama periode 2000 hingga 2011 untuk perubahan semak belukar menjadi perkebunan, dan pertanian lahan kering campur semak menjadi pertanian lahan kering terjadi dikarenakan adanya pemikiran masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang tidak produktif menjadi produktif. Selain itu, perubahan tutupan lahan tersebut banyak terjadi di kawasan pesisir juga akibat potensi dan keadaan fisik dari kawasan pesisir tersebut seperti yang dinyatakan oleh Purwoko (2009) bahwa Sektor pertanian mempunyai potensi yang strategis bagi pembangunan di kawasan Pantai Timur Sumatera Utara, karena tanahnya subur dan cocok untuk komoditas tanaman pangan, hortikultur
Tabel 6. Perubahan bentuk dan luas tutupan lahan di Kota Medan periode tahun 2000- 2011
Perkebunan
2.146,96 2146,96 7,24Pemukiman
17.904,61 17904,61 60,42Tubuh Air
514,64 514,64 1,74Hutan Mangrove Sekunder
1.007,31 121,03 1128,34 3,81Semak belukar Rawa
0,75 2.223,23 5,62 2229,59 7,52Pertanian Lahan Kering
1.613,63 1613,63 5,45Pertanian Lahan Kering campur semak
552,99 552,99 1,87Sawah
439,48 354,55 794,04 2,68Tambak
2.446,70 2446,70 8,26Bandara/ Pelabuhan
302,94 302,94 1,02Total Area tahun 2011
2147,70 18344,09 514,64 1007,31 2223,23 2166,62 354,55 2573,35 302,94 29.634,43Proporsi (%)
7,25 61,90 1,74 3,40 7,50 7,31 0,00 1,20 8,68 1,02 100,00Perubahan dari 2000- 2011 (ha)
0,74 439,48 0,00 -121,03 -6,37 552,99 -552,99 -439,48 126,65 0,00Perubahan dari 2000- 2011 (%)
0,03
2,45
0,00
-10,73
-0,29
34,27
-100,00 -55,35
5,18
0,00
Tutupan Lahan Tahun 2000
Tutupan Lahan Tahun 2011
Proporsi (%)