Setelah terbentuk kelompok nelayan yang telah disyahkan, Pemerintah Daerah melalui BRI Cabang Denpasar memberikan bantuan kredit berupa
HASIL DAN PEMBAHASAN
4. Hasil dan Diskusi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan pilihan bahasa masyarakat di daerah pariwisata Nusa Dua dapat dideskripsikan seperti di bawah ini.
1) Pilihan dan pemakaian bahasa pada ranah keluarga
Ditinjau dari sudut pandang ranah keluarga, kecenderungan pilihan bahasa masyarakat di daerah pariwisata Nusa Dua menunjukkan bahwa bahasa Bali (BB) menjadi pilihan utama msyarakat dalam berkomunikasi dengan anggota keluarga. Secara kuantitatif ditunjukkan bahwa 64,86% sampai dengan 86.49% responden memilih BB untuk berkomunikasi dengan anggota keluarga. Secara terperinci dapat dijelaskan bahwa 86,49% responden memilih BB untuk berkomunikasi kepada ayah dan ibu mereka, 94,59% kepada kakek, 97,30% kepada nenek, 83,78% kepada adik, dan 64,86% kepada kakak.
Bahasa berikutnya yang dipilih oleh responden ialah bahasa Indonesia(BI). Sebanyak 5,41% responden menggunakan BI ketika berbicara kepada ayah, 2,70% kepada ibu dan nenek, 8,11% kepada adik, dan 16% kepada kakak. Sementara itu, tidak ada responden yang memakai BI untuk berkomunikasi kepada kakek mereka. Pemakaian bahasa campuran, BB dan BI di lingkungan keluarga sangat minimum, yaitu 8.11% kepada ayah, 5,41% kepada ibu dan adik,
dan 2,70% kepada kakak. Tidak ada responden yang memilih bahasa campuran untuk berkomunikasi dengan kakek dan nenek. Sementara itu, hanya 2,70% responden memakai bahasa asing untuk berkomunikasi di lingkungan keluarga, khususnya hanya kepada ibu mereka.
Kecenderungan pemakaian BB pada ranah keluarga sebagai pilar utama pemertahanan bahasa merupakan hal hal yang positif bagi keberlangsungan BB. Hal ini mengindikasikan bahwa BB bertahan sangat kuat sebagai wahana pemertahanan identitas dan nilai budaya Bali pada masyarakat di daerah pariwisata Nusa Dua. Pengaruh BI dan bahasa asing (BA) dapat dipandang sebagai alternatif untuk memperkaya khazanah BB.
2) Pilihan dan pemakaian bahasa pada ranah ketetanggaan
Pada ranah ketetanggan, masyarakat di daerah pariwisata Nusa Dua, masih mempertahankan pemakaian BB untuk berkomunikasi antar tetangga. Ada 81,08% responden yang memilih BB untuk berkomunikasi dengan tetangganya dan hanya 16,22% masyarakat menggunakan BI untuk berkomunikasi dengan tetangganya. Sedangkan yang menggunakan bahasa campuran BB dan BI berjumlah 2,70%.
3) Pilihan dan pemakaian bahasa pada ranah pendidikan
Ranah pendidikan merupakan salah satu ranah yang di dukung dengan situasi formal. Oleh karena itu, pemakaian BB cenderung dipilih ketika responden berbicara dengan sesama siswa dari tingkat dasar, menengah, sampai pada tingkat atas. Sementara itu, BI dipilih ketika responden berbicara dengan guru, baik di tingkat dasar, menengah, maupun tingkat atas. Sedangkan bahasa campuran, BB dan BI menjadi pilihan ketiga dan cenderung sangat sedikit. BA maupun bahasa campuran BB dan BA tidak pernah menjadi pilihan responden dalam berkomunikasi.
Secara lebih terperinci dapat dijelaskan bahwa 75,68% sampai 83,78% responden memilih menggunakan BB untuk berkomunikasi dengan sesama siswa. Sedangkan 2,70% sampai 13,51% responden berkomunikasi dengan guru memakai BB. Sebaliknya, 64, 58% sampai 70,27% responden memilih memakai BI untuk berkomunikasi dengan guru. Sementara itu, 2,70% sampai 5,41% responden menggunakan bahasa campuran BB dan BI ketikan berbicara sesama
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 105 Denpasar, 25-26 September 2018
siswa dan 21,62% responden menggunakan bahasa campuran BB dan BI ketika berkomunikasi dengan guru.
Kecenderungan yang bersifat opositif ini diduga karena responden bersikap lebih formal ketika berbicara dengan guru dan bersikap lebih akrab ketika berbicara sesama teman sekolah. Data kuantitatif yang ditampilkan dapat menunjukkan bahwa pemakaian masih BB lebih tinggi daripada BI meskipun situasinya cenderung lebih formal (sekolah).
4) Pilihan dan pemakaian bahasa pada ranah agama
Pemakaian bahasa pada ranah agama pada masyarakat di daerah pariwisata Nusa Dua didominasi dengan pemakaian BB, baik ketika di rumah, di pura, maupun ketika berkomunikasi dalam hati. Pelibat yang termasuk dalam ranah agama, khususnya pada saat berdoa ialah antara responden dengan Tuhan.Ketika berdoa di rumah, 94,59% responden menggunakan BB, 100% responden menggunakan BB ketika berdoa di pura, dan 83,78% responden menggunakan BB ketika berdoa dalam hati. BI digunakan oleh 5,41% responden ketikan berdoan di rumah dan 10,81% ketika berdoa dalam hati. Sedangkan bahasa campuran BB dan BI digunakan oleh 5,41% responden hanya ketika berdoa dalam hati. Tidak seorang pun responden yang menggunakan BA untuk berdoa.
5) Pilihan dan pemakaian bahasa pada ranah jejaring
Salah satu ranah yang termasuk ranah modern ialah ranah jejaring. Kemajuan teknologi telah menciptakan satu ranah jejaring ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ranah jejaring, BB lebih jarang dipilih dibandingkan dengan BI. Pada ranah ini, pemakaian bahasa masyarakat di daerah pariwisata Nusa Dua lebih bervariasi. Mereka menggunakan BB, BI, BB&BI, BA,dan BB&BA. Namun, pemakaian bahasa didominasi dengan pemakaian BI untuk berkomunikasi pada ranah jejaring.
Data menunjukkan bahwa hanya 10,81% responden menggunakan BB untuk berkomunikasi. Sedangkan BI dipilih oleh 62,16% responden untuk berkomunikasi pada jejaring. Campuran BB &BI dipilih oleh 2,70 responden, bahasa asing dipilih oleh 16,22 % responden, dan ada 2,70% responden yang memilih campuran dari BB & BA berkomunikasi pada ranah jejaring.Jadi, dapat
dikatakan bahwa kemajuan teknologi mampu menggeser sebuah pilihan bahasa, paling tidak dalam kasus penelitian ini.
6) Pilihan dan pemakaian bahasa pada ranah kognisi
Ranah kognisi adalah ranah yang mencakup kegiatan mental atau otak. Segala sesuatu yang menyankut kegiatan otak, seperti bermimpi termasuk ranah kognisi. Pada tataran ranah kognisi, 78,38% responden bermimpi dalam BB dan hanya 16,22% bermimpi menggunakan BI. Sedangkan pemakaian campuran BB & BA berjumlah sangat minimum, yaitu 2,70%.
5. Simpulan
Hasil pembahasan membimbing kita untuk sampai pada simpulan bahwa masyarakat di daerah pariwisata Nusa Dua cenderung memilih BB sebagai bahasa utama yang digunakan untuk berkomunikasi pada ranah keluarga, tetangga, pendidikan, agama, dan kognisi. Hal ini, membuktikan bahwa BB mampu bertahan di lingkungan bahasa-bahasa lain didaerah itu.
Namun, kemajuan teknologi informasitidak terhindarkan dan hal tersebut mampu sedikit menggeser pilihan utama BB menjadi pilihan kedua dalam berkomunikasi pada ranah jejaring. Terbukti bahwa BI lebih banyak digunakan untuk berkomunikasi melalui jejaring dibandingkann dengan BB. Selain itu, pemakaian BA mulai meningkat pada ranah jejaring ini.
Daftar Pustaka
Atmadja, Nengah Bawa. 2005. Bali pada Era Globalisasi: Pulau Seribu Pura Tidak Seindah Penampilannya. Singaraja (naskah tidak terbit).
Ervin-Tripp, S. 1972, ‗Sociolinguistic rules of address‘, in Pride, J. And Holmes, J. (eds.), Sociolinguistics. Harmondsworth: Penguin, pp. 225--41.References Fishman, J. A. (ed). 1968. Readings in the Sociology of Language. The Hague;
Mouton
Keriana, I K. 2004. ―Campur Kode dalam Pemakaian Bahasa Bali pada Rapat Adat Desa Pakraman Kedewatan, Ubud, Gianyar.‖ Tesis Jurusan Bahasa, IKIP Negeri Singaraja.
Seri Malini, NLM. 2018. ―Pilihan Bahasa Generasi Muda di Destinasi Wisata di Bali‖Jurnal Kajian Bali. Vol 08 No. 01
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 107 Denpasar, 25-26 September 2018
SutjiatiBeratha, N. L., et al. 2013. MenanganiMasalahMarginalisasi Bahasa Bali: Merancang Model Revitalisasi Bahasa Daerah di Bali. Research Report. Denpasar: UniversitasUdayana.
Wardhaugh, R. 2006. An Introduction to Sociolinguistics. New York: Basil Blackwell
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 108 Denpasar, 25-26 September 2018
I Made Suarsa
Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana [email protected]
ABSTRAK
Malam Jahanam adalah drama karya Motinggo Busye yang pertama kali terbit tahun 1961. Kata malam dan jahanam yang membangun judul drama satu babak ini, langsung memberi suasana mencekam yang mewarnai salah satu drama pada periode perkembangan (1950--1963) ini.
Latar Malam Jahanam adalah perkampungan nelayan pada sebuah pantai di Pulau Madura dengan tokoh-tokoh: Mat Kontan, Paijah, Soleman, Utai, dan Tukang Pijat.
Penduduk kampung nelayan ini selalu gembira, walaupun miskin. Rumah mereka terdiri atas geribik, tonggak bamboo, dan beratap daun kelapa. Suara mereka keras, gurauannya kasar, bicaranya pedas, dan selalu penuh gairah.
Para lelaki umumnya bercelana katok, baju kaos hitam, berselempang kain sarung, berkopiah, pandangan mata tajam, dengan golok diikat di pinggang, mengesankan mereka cepat naik darah.
Para perempuan selalu mengenakan pakaian mencolok yang membalut tubuh sintalnya, tertawanya keras dengan bibir bergincu tebal sambil tidak henti-hentinya melemparkan senyum mengundang gairah.
Perilaku yang keras, kasar, pedas, dan penuh gairah sebagai ciri masyarakat pesisir dalam suasana kemiskinan dan kurangnya pendidikan. Kendatipun demikian, sebenarnya mereka juga menyimpan kelembutan dan ketulusan hati, walaupun ketulusan yang agak bodoh.
Kata kunci: jahanam, miskin, gairah 1. Pendahuluan
Ilmu atau studi tentang sastra terdiri atas teori, sejarah, dan kritik sastra. Dalam konteks studi sastra ini, khususnya sejarah dan kritik sastra, dengan menerapkan teori-teori sastra, penelitian terhadap drama sebagai salah satu genre sastra, khususnya dalam sastra Indonesia menjadi penting.
Pentingnya penelitian terhadap jenis drama ini berkaitan dengan keberadaan drama dalam khazanah sastra Indonesia. Perkembangan drama dalam sastra Indonesia sangat terlambat dibandingkan dengan jenis puisi dan prosa. Hal ini berkaitan dengan ketiadaan jenis drama dalam sastra Melayu Klasik. Ketiadaan
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 109 Denpasar, 25-26 September 2018
jenis drama dalam khazanah sastra Melayu Klasik berpengaruh langsung pada minimnya keberadaan drama dalam khazanah Sastra Indonesia (Suarsa, 1988:2).
Salah satu drama yang banyak mendapat sambutan dari para pencinta dan pengamat sastra Indonesia adalah drama Malam Jahanam karya Motinggo Busye yang pertama kali terbit tahun 1961oleh Pustaka Jaya. Menurut Oemarjati (1971:41), Malam Jahanam termasuk salah satu drama yang terbit pada masa perkembangan drama di Indonesia (1950—1963).
Penelitian terhadap Malam Jahanam ini penting, di samping salah satu drama yang paling banyak mendapat sambutan dari pencinta dan pengamat sastra Indonesia, juga unsur penokohan di dalam drama ini cukup kuat dan menonjol yang muncul lewat konflik antartokoh dalam sebuah komunitas masyarakat pesisir di Pulau Madura.Untuk menganalisis unsur penokohan Malam Jahanam ini diterapkan teori strukturalisme yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks (Endraswara, 2013:51).
Drama satu babak yang dimainkan oleh lima orang tokoh ini (Mat Kontan, Paijah, Soleman, Utai, dan Tukang Pijat) berhasil menampilkan sisi gelap atau jahanamnya manusia, di samping juga aspek ketulusan dan kelembutan hati. Mat Kontan sebagai sebagai protagonis dalam drama ini dikenal sebagai seorang penjudi besar dan penggila burung. Kecintaannya terhadap burung dan kegemarannya berjudi terasa semakin jelas ketika anaknya menderita sakit keras, tetapi ia tidak perduli, bahkan dia dengan tenangnya menimang-nimang burung perkutut kesayangannya, padahal di sisi lain dia selalu membangga-banggakan anaknya.
Menurut Oemarjati (1971:115), membaca dan menyimak lakon ini, kita jadi bisa turut merasakan berubah-uabhnya situasi jiwa Mat Kontan. Di saat ia bangga, kita ikut membusungkan dada. Namun di saat ia berang, kitapun dicekam kegeraman. Juga kepasrahannya pada nasib, kita rasakan sebagai kepasrahan yang mutlak. Ini tentu berkat pemilihan kata-kata dalam percakapannya, sederhana tetapi tepat. Tepat, karena bisa dirasakan sebagai ungka[pan pribadi pengucapnya. Kalinan plot Motinggo mengesankan suatu kecermatan penyusunan, sekaligus menunjukkasn keuletan penempatan momen-momen ketegangan yang pas dan tepat.
2. Isi
Dalam drama, klasifikasi tokoh-tokoh dikategorikan menjadi tokoh protagonis (tokoh utama dalam prosa), tokoh antagonis (tokoh sekunder dalam prosa), dan tokoh tritagonis (tokoh komplementer dalam prosa). Dalam Malam Jahanam, tokoh protagonis adalah Mat Kontan, tokoh antagonis adalah Soleman, dan tokoh tritagonis adalah Paijah, Utai, dan Tukang Pijat.
Tokoh Mat Kontan sebagai seorang penjudi dan pencinta burung begitu jelas tergambar ketika baru pertama kali tokoh ini muncul dalam cerita sebagaimana tergambar dalam kutipan berikut.
Dengan membawa sangkar burung, Mat Kontan terbahak kesenangan. Dan setiba di depan rumah Soleman, ia berhenti.
MAT KONTAN
Hai, Man! Kau masih tidur, ha? (Karena tak disahuti, ia tertawa lagi). Kalah Cuma lima puluh kok susah! (Menuju sangkar burung perkutut yang tergantung di senta atap. Ia bersiul menirukan suara burung itu), Hiphoo! (Mengambil sangkar dan melihat sekeliling), Sudah hampir malam nih! Kau mesti tidur, Tut, sekarang kau sudah dicarikan bini. Nih!(Ia menunjukkan sangkar yang baru dibawa). Jah? (Ia tertawa lagi), Paijah? (Karena tak mendengar sahutan ia masuk ke dalam rumahnya).
Suara tawa dan omongan yang tak jelas terdengar dari rumah itu. Kemudian Mat Kontan keluar dalam siul perkutut. Setelah ia duduk di ambinnya, menggaruk-garuk kudis di kakinya.
Tiba-tiba matanya disilaukan oleh cahaya senter yang menyorot ke matanya dari tempat kelam.
Siapa itu! Siapa itu! (hlm.19)
Karena Malam Jahanam merupakan drama satu babak yang lebih menonjolkan konflik antartokoh, maka dimensi psikologis (kejiwaan) tokoh-tokoh yang lebih ditonjolkan dibandingkan dimensi fisiologis (fisik) dan dimensi sosiologis (sosial). Begitu cintanya Mat Kontan dengan burungnya, maka ketika salah seekor burungnya mati, ia marah besar dan memaki-maki Utai (sebagai cermin sikapnya yang keras, pedas, dan kasar) yang tidak setuju dengan sikap Mat Kontan yang ingin mencari tukang nujum menanyakan siapa yang membunuh burungnya, seperti terlihat dalam kutipan berikut.
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 111 Denpasar, 25-26 September 2018
UTAI Cuma burung mati, mesti dinujum?
MAT KONTAN
Ya, mesti. Mana si Leman he, Geblek! Mana dia, ha? UTAI
Buat apa sih dinujum? Mau ditanya masuk sorga atau neraka? MAT KONTAN
Diam, Setan! Kita mau nujum siapa yang potong lehernya. Kalau kedapatan akan kubunuh dia! (Memanggil-manggil Soleman).
Paijah keluar menjenguk dengan cemas.
(hlm.35)
Pada peristiwa lain ketika Mat Kontan berkelahi dengan Paijah istrinya, terkuak di sana ada kegairahan terhadap lawan jenis yang bukan suami/istrinya, yaitu Paijah yang ada main serong dengan Suleman. Ketika Paijah takut dengan kegarangan Mat Kontan, Paijah lari keluar rumah dan mendekap Suleman. Spontan saja Mat Kontan bertambah berang dan mengancam Suleman dan Paijah seperti terlihat dalam kutipan berikut.
MAT KONTAN (mengancam) Lepaskan dekapan itu!
PAIJAH (terus mendekap) Man, tolong lindungi saya, Man!
MAT KONTAN Ayo lepaskan sebelum kuambil golok
PAIJAH
(melihat Soleman diam begitu saja menjadi geram) Man! Kau diam saja!
Soleman hanya menantangi mata Mat Kontan dengan dada yang sesak.
MAT KONTAN
Kau juga harus melerpaskan dia! He, Soleman! (Jadi geram melihat Soleman yang hanya memandanginyasaja dengan mata jantan), Lepaskan dia! Dia bukan binimu!
(hlm. 60)
Masyarakat pesisir rata-rata berdarah panas yang cenderung mengemuka lewat kata-kata yang pedas dengan nada keras (untuk mengatasi suara gelombang dan deru angin laut ?), dan kehidupan perekonomian yang pas-pasan berakibat pada sifat-sifat yang amoral, satu di antaranya adalah berselingkuh. Kasus-kasus
di atas akhirnya menjadi bagian penutup drama ini, terbukti dengan lahirnya Si Kontan Kecil, yang secara de yure adalah anak Mat Kontan, tetapi secara de facto bukanlah anak biologis Mat Kontan, tetapi darah daging Soleman dengan Paijah (istri Mat Kontan). Perhatikankutipn di bawah ini!
MAT KONTAN Kenapa kauhina anak saya, ha?
SOLEMAN Ia bukan asnakmu! MAT KONTAN Apa katamu? PAIJAH Soleman! SOLEMAN
Sekarang kau jangan banyak omong, Jah. Malam ini malam yang menentyukan kita semuanya. Ya, si Kontan Kecil itu memang bukan anakmu, Mat!
MAT KONTAN Anak siapa coba?(…)
SOLEMAN
(…) Karena Paijah sering duduk di sini terkadang sampai malam! Dan saya duduk di sana (menunjuk ambin kepunyaannya). Kami saling memandang. (Kepada Mat Kontan), Kenapa kau sering tak di rumah, Tan? Itu juga perbuatan yang jahanam.
PAIJAH Jangan kaubilang Man! SOLEMAN
(…) Anak itu anak saya, darah daging saya! MAT KONTAN
Biadab kalian!
(hlm.65--67)
3. Penutup
Suasana pesisir yang panas dengan suara ombak yang keras dan tiupan angin yang deras memacu penduduk pesisir bersikap keras, kasar, pedas, dan kemiskinan membuat pendudukan cenderung bersikap amoral.
DAFTAR PUSTAKA
Busye, Motinggo. 1961. Malam Jahanam. Jakarta: Pustaka Jaya Endraswara, Suwardi. 2013. Teori Kritik Sastra. Yogyakarta: CAPS
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 113 Denpasar, 25-26 September 2018
Oemarjati, Boen S. 1971. Bentuk Lakon dalam Sastra Indonesia. Jakarta: Gunung Agung
Suarsa, I Made. 1998. ―Drama-Drama B.Soelarto. Yogyakarta: Tesis S-2 pada Fakukultas Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 114 Denpasar, 25-26 September 2018
I Made Suastika
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana
ABSTRAK
Kisah ini digambarkan dalam sebuah teks geguritan berjudul ―Geguritan Lunga Ka Jembrana‖. Bagaimana sejumlah tokoh dari Puri Karangasem ketika itu diberangkatkan dari Karangasem sampai ke Jembrana melalui laut bukan melalui darat.
Gambarannya, ketika di tahun 1908 perjalanan beliau diikuti oleh istri, beberapa pendeta dan anggota masyarakat. Kapal telah siap di Ujung, kapal besar itu berisikan sejumlah barang, serdadu bersenjata dan segala aktivitas sebuah kapal perang mengantarkan A.A. Istri Agung ke Jembrana, setelah beberapa lama tiba di Capel sebuah pelabuhan di selatan pulau Bali.
Gambaran diatas akan dijelaskan mengenai kisah perjalanan di laut sampai merapat di pelabuhan Capel, Negara dalam makalah ini.
1. Pendahuluan
Ruang lingkup kesusastraan Bali yang termuat dalam teks lontar meliputi berbagai hal seperti : tatwa, susila, uger-uger, terdapat pula teks purwa (tradisional) berisikan kidung, geguritan, satua piteket, babad, satua bawak, dan lain-lain. Sastra Bali modern (anyar) meliputi jenis sastra cerpen (satua bawak), novel, derama, puisi modern yang menggunakan pengantar bahasa Bali. Jadi, kesusastraan Bali dalam arti luas dapat disebut karya sastra yang lahir dari para pengawi (lokal) dan cerdik pandai yang berhuruf Bali dan latin, tetapi tetap memakai pengantar bahasa Bali, serta menjadi warisan sampai sekarang, termasuk satua, tutur dan lain-lain (Dinas Kebudayaan, 2005 : 5)
Sejumlah geguritan atau peparikan yang lahir sebagai bagian dari kesusastraan Bali, dari lahirnya geguritan basur sampai geguritan Pandu Yajnya. Sebagian geguritan atau peparikan kurang dikenal di dalam masyarakat salah satunya geguritan Lunga Ka Jembrana Karangan A.A. Istri Agung dari Puri Karangasem. A.A. Istri Agung pengarang keraton yang diperkirakan dibuat tahun 1908 M di Puri Karangasem.
Isi ringkas geguritan Lunga Ka Jembrana dibuat oleh A.A. Istri Agung, yaitu nenek dari A.A. Ketut Agung (alm). Karya itu mengisahkan peristiwa yang
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 115 Denpasar, 25-26 September 2018
terjadi tahun 1908 beliau diberangkatkan ke Jembrana (Negara), karena adanya intervensi pemerintah Belanda ketika itu di Kerajaan Karangasem terhadap kekuasaan seorang raja. Isi geguritan juga memuat tentang nilai sejarah ketika itu dituangkan dalam tembang sinom, pucung, ginanti, jumlah pupuhnya 315 pupuh.