Setelah terbentuk kelompok nelayan yang telah disyahkan, Pemerintah Daerah melalui BRI Cabang Denpasar memberikan bantuan kredit berupa
HASIL DAN PEMBAHASAN
II. PERAIRAN BALI SEBAGAI PUSAT PERADABAN
Perairan di Bali yang berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia sejak dahulu merupakan sebuah kawasan yang penting. Sejarawan Prancis – Denys Lombard (1996 :18-19) memasukkan kawasan ini sebagai kawasan tersendiri, disamping empat kawasan lain2. Ali Fadilah sejarawan lain (1993 : 3) memasukkan kawasan perairan di Bali sebagai kawasan yang khas karena pengaruh Hindu di luar pengaruh Islam. Kawasan ini meliputi perairan selat Bali, perairan Bali dan Selat Lombok.Pandangan geo historic ini, Ali Fadilah menawarkan penelitian pada zona ini dengan subyek arkeologi maupun sejarah maritim.
Kawasan zona Bali ini merupakan area pelayaran, perdagangan dan interaksi budaya dari berbagai suku dan bangsa seperti Tionghoa, Bugis, Arab, Melayu, Jawa dan Nusantara lainnya.Selain itu, sebagai area penangkapan ikan terutama penyu di waktu lalu, tempat persinggahan (rendezvous) para pedagang dari Indonesia Timur dalam pelayarannya ke Barat.Tempat pelarian bagi para ―pejuang-pejuang‖ kerajaan Makassar yang melarikan diri dari kejaran armada VOC akibat perang Makassar 1667-1669 (Vickers, 1993).
Silang budaya di kawasan Bali ini terjadi sampai kini menghasilkan budaya yang unik dan eksotik.Dalam catatan arkeolog Wayan Ardika (1979) seperti yang
2
Kawasan yang lain : (1) Kawasan Selat Malaka, (2) Kawasan Selat Sunda, (3) Kawasan Laut Jawa, (4) Kawasan Maluku.
dimuat dalam prasasti Blanjong dekat Sanur mengindikasikan adanya kontak budaya dengan Tionghoa sejak abad 8 – 9.Sampai sekarang ditemukan peninggalan budaya seperti Tari Baris Cina yang ada di Sanur, Renon maupun Nusa Penida.Beberapa Kelenteng tua seperti di Blahbatuh, Kuta, Tanjung Benoa, dan Buleleng.Pembangunan Pura Taman Ayun yang diperkirakan arsiteknya adalah Tan Hu Cinjin3.Dalam penelitian penulis yang dipuja di beberapa kelenteng di Bali dan juga Banyuwangi adalah tokoh mitologi yang bernama Tan Hun Cin Jin (Suwitha, 1979). Jejak Tionghoa yang lain adalah Raja Bali Jaya Pangus (abad 9) mempunyai isteri Kang Cing Wie yang diperkirakan seorang Tionghoa.
Sejak beberapa abad yang lalu, para pedagang Cina telah berlabuh untuk menjual barang dagangannya seperti keramik, porselin dan membeli produk pribumi.Pada mulanya jalur perdagangan dari Cina ke Asia Barat melalui daratan Asia Tengah.Tetapi kemudian mulai berbahaya karena serangan dari suku-suku bangsa di Asia Tengah.Oleh karena terjadi perubahan jalur perdagangan Asia sejak tahun 500 Masehi.Jalur perdagangan kemudian diarahkan ke Cina Selatan (Laut Selatan) yang berhadapan dengan Bali. pelayaran ini melewati Selat Malaka, India, dan Timur Tengah dan ini disebut Benang Mas sepanjang Pantai atau jalur sutera laut (Van Leur, 1963).
Jejak yang lain, diketemukan pengaruh Islam Madura, Jawa, dan Bugis. Adrian Vickers (1987) mencatat keberadaan Banjar Medura di Sanur yang berhubungan dengan terdamparnya orang-orang Madura pada abad ke-17.Hal ini dapat dilacak ke belakang dalam perjalanan seorang mubaliq Raden Sosroningrat pada akhir abad ke-17 ketika Islam sudah berkembang pesat di Jawa. Raden dengan kapalnya lewat pantai Timur Teluk Benoa menuju istana Raja Badung di Puri Pemecutan.Sayang kapalnya karam, rombongan Raden ini diajak kolaborasi oleh raja Badung bahkan dinikahkan dengan I Gusti Ayu Rai puteri raja.Kolaborasi Raden Sosroningrat dengan masyarakat Bali dan orang-orang Bugis Serangan melahirkan Kampung Islam Kepaon. Kampung ini terletak di jantung kota Denpasar masih berhubungan dengan masyarakat Bali dan keluarga
3
Pura Meru di Bali diperkirakan pengaruh dari arsitektur Cina I Putu Gede Suwitha, Masyarakat Cina di Bali Utara, Denpasar, 1979.Skripsi.
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 123 Denpasar, 25-26 September 2018
raja. Bahasa sehari-hari yang digunakan bahasa Bali dengan menyebut nama keluarga seperti sebutan orang Bali seperti Pak Wayan, Pak Made dan sebagainya. Di Kampung Islam Kepaon juga ditemukan Tari Rodat berupa tari perang percampuran dari Islam, Bugis, Melayu dan Timur Tengah.
Jejak yang lain dari kolaborasi ini adalah ditemukan kuliner yang khas yang berupa lawar penyu yaitu daging penyu yang dicincang dan kelapa yang diparut. Kuliner ini mendapat pengaruh Bugis.Lawar sudah dikenal dalam masyarakat Bugis kuno seperti yang ditemukan oleh Christian Pelras (1989) yang disebut ―lawa dara‖ atau lawar yang ada darah yang mentah. Dapat dikatakan bahwa lawar penyu adalah kuliner multikultur karena dapat dinikmati oleh orang-orang Bugis, Madura, Cina dan Bali. masyarakat Badung selatan khususnya tidak makan daging babi, tetapi sangat gemar dengan lawar penyu dan hidangan dari penyu.
Tradisi lokal lain yang menarik adalah persadauraan antara etnis dan antar agama pada masyarakat Bali yang disebut ―menyama braya‖. Tradisi ini lahir karena pengaruh masyarakat pendatang khususnya Islam dan Cina (Suwitha, 2014).Ikatan ―menyamabraya‖ ini mengikat masyarakat Bali yang menembus batas suku maupun agama. Kedekatan atau ikatan ini meliputi juga ikatan biologis (perkawinan), pekerjaan, kerjasama kerukunan yang sekarang dikembangkan oleh pemerintah dengan nama Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB). FKUB di Bali merupakan cakal bakal dari FKUB tingkat Nasional (Suwitha, 1984).
Islamisasi di kawasan Bali mempunyai sejarah yang khas, yang menyimpang dari kerangka-teori yang ada yang diajukan oleh Taufik Abdullah (1979, 1986), Noordyn (1972), Uka Tjandrasasmita (1976), Baloch (dalam Fadillah). Menurut ahli ini Islamisasi meliputi tahap : kedatangan, berkembang membangun masyarakat, dan ketiga membangun kekuatan politik melawan Belanda. Islamisasi di Bali tidak dapat dijelaskan dengan teori-teori yang ada. Dikatakan demikian karena kenyataan sejak fase awal Islam masuk ke Bali ia tidak menyebar, tetapi berkembang ke dalam, tidak mampu tidak pernah membangun kekuatan politik. Meskipun masuknya melalui proses yang sama dengan daerah lain, detail-detail geografis dan kronologisnya tidak sejalan dengan teori yang ada. Ini merupakan varian baru dalam interaksinya dengan masyarakat Bali yang beragama Hindu.
Karena kontak-kontak dagang ini, budaya-budaya agama yang masuk ke Bali lebih kreatif, sehingga melahirkan budaya agama yang lebih inovatif, sintesis, kolaboratif, dalam arti ekspresi keagamaan yang kaya dengan unsur budaya. Dimensi ritual tetap sama, tidak berubah, seperti yang dikatakan oleh tokoh muslim Bali H.S. Adnan (1995) : Islam membawa ajaran kemana-mana, tetapi disesuaikan dengan tradisi lokal.
Hubungan yang kreatif dan inovatif antara umat beragama dalam hubungan dengan persaudaraan (menyama braya) banyak ditemukan di Bali.masyarakat Islam atau Kristen selalu memberikan suguhan makanan kepada tetangga masyarakat Bali dan sebaliknya pada waktu hari-hari besar seperti Galungan, Natal, Idul Fitri dan lainnya. Kesenian Rodat kelihatan lebih indah karena dikolaborasikan dengan gamelan Bali.demikian juga dengan Tari Baris Cina kelihatan lebih indah karena dimainkan dengan gamelan Bali, bukan lagi tari perang. Suatu hal yang mengharukan sebuah group music remaja Muhammadiyah menyanyikan lagu-lagu Bali dan berbahasa Bali, sehingga hubungan lebih bernuansa persaudaraan.Konsep ―menyama braya‖ merupakan kreatifitas masyarakat multikultur Bali untuk mencari upaya dan media pemersatu.Ia merupakan hasil interaksi budaya antara masyarakat Bali dengan masyarakat pendatang.
Suatu yang unik dalam kehidupan sosio kultural di Bali diketemukan bahasa yang khas di Loloan Bali Barat.Bahasa yang khas ini sering disebut bahasa Melayu Loloan.Bahasa Melayu Loloan dipergunakan sebagai bahasa pergaulan lintas budaya atau ―Lingua Franca‖ (Bagus, 1976, Sumarsono, 1976).Bahasa atau dialek Loloan kalau ditelusuri lebih dalam dipengaruhi oleh bahasa Bugis, Melayu, Jawa, Madura, karena pergaulan sehari-hari.
III. SIMPULAN
Kawasan perairan Bali sejak jaman lampau merupakan tempat interaksi dan pertukaran budaya. Silang budaya terjadi dan menghasilkan budaya mestizo yaitu budaya yang unik yang merupakan campuran dari beberapa elemen yang menghasilkan sistem adat-istiadat dan produk-produk budaya yang berbeda dengan kawasan lain. Telah lama suku dan bangsa asing masuk ke kawasan ini dan membawa tradisi dan budaya sendiri.Terdapat kesenian khas seperti Baris Cina, kesenian Rodat yang mendapat pengaruh dari Bugis, Melayu dan Timur
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 125 Denpasar, 25-26 September 2018
Tengah.Monument sosial yang paling penting adalah Islam yang toleran hasil dari adat istiadat menyamabraya.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik (ed.). 1979. Islam di Indonesia. Jakarta : Tinta Mas.
Abdullah, Taufik 1987. (ed.). Sejarah dan Masyarakat Lintasan Historis Islam di Indonesia.Jakarta: Yayasan Obor.
Ardika, I Wayan.1981. Desa Sanur Ditinjau dari Arkeologi Laporan Penelitian.Denpasar : Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Barker Chris. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktek. Terjemahan Yogyakarta : Kreasi Wacana.
Curtain, Philip, D. 1984.Cross-Cultural Trade in World History.Cambridge-London: Cambridge University Press.
Iwan Suhendra. 2009. Kesenian Rodat : Representasi Identitas Budaya Masyarakat Kampung Islam Kepaon, Bali. Skripsi tidak diterbitkan. Denpasar:Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Reid A, 1988.Southeast Asia in the Age of Commerse.1450-1680 I.New Haven/London Yale University Press.
Fadilah, Moh. Ali. 1999. Warisan Budaya Bugis di Pesisir Selatan Denpasar.Jakarta : Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
Hall, Kenneth, R. 1985. Maritime Trade and State Development in Early South East Asia.Honolulu : University of Hawaii Press.
Lapian, A.B. 1987.Orang Laut, Raja Laut, Bajak Laut, Studi Kawasan Laut. Sulawesi Abad XIX. Disertasi Universitas Gajah Madha.
Lapian, A.B. 1992.―Sejarah Nusantara Sejarah Bahari‖. Pidato Pengukuhan Guru Besar Tidak Tetap Fakultas Sastra UI.
Lapian, A.B. 1996.―Dunia Maritim Asia Tenggara‖. Dalam Taufik Abdullah, Edi Sedyawati. Sejarah Indonesia Penilaian Kembali Karya Sejarawan Asing.Jakarta: Universitas Indonesia.
Muklis Paeni, ed. 1988. Dimensi Sosial Kawasan Pantai.Ujung Pandang: P3MP Universitas Hasanuddin.
Muklis Paeni, ed. 1989. Persepsi Sejarah Kawasan Pantai. Ujung Pandang: P3MP Universitas Hasanuddin.
Nordholt, Henk Schulte. 1981. The Lange Connection: A Danish Trader op Bali in the Middle of the 19th century. Dalam Indonesia, pp. 324-339. Noorduyn. 1972. Islamisasi Makassar. Jakarta : Bhratara.
Parmartha, I Gde. 1995. Perdagangan dan Politik di Nusa Tenggara 185-1915. Disertasi. Amsterdam.
Pelras, Christian. 2006. Manusia Bugis (Terj.). Jakarta : Nalar.
Putra Agung, A.A.Gde, ―Masalah Perdagangan Budak di Bali Abad 17-19‖, Basis No.XXI, 1971 pp. 38-48.
Putra Agung, A.A Gde. 1974. Kuta Sebagai Kota Pelabuhan.Majalah Basis, pp. 324-339.
Suwitha, I Putu Gede. 1984. ―Catatan Singkat Pelabuhan Kuta Abad ke 19‖, dalam Masyarakat Indonesia No. 1 Th. IX Jakarta. LIPI.
Suwitha, I Putu Gede.2011. Perahu Pinisi di Selat Bali.Denpasar : Pustaka Larasan.
Suwitha, I Putu Gede.2013. Dinamika Masyarakat Bugis di Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.Disertasi Kajian Budaya belum diterbitkan.Denpasar.
Suwitha, I Putu Gede. 1985. ―Hubungan Antar Suku Dalam Masyarakat Majemuk di Jimbaran Bali‖. LIPI.
Suwitha, I Putu Gede. 1998. ―Islam di Bali‖ :Dari Akulturasi Sampai Ortodoksi‖, Dalam Dinamika Kebudayaan. Vol.I, September.Denpasar : Universitas Udayana.
Sartono Kartodirdjo. 1988. Kebudayaan dan Pembangunan Dalam Perspektif Sejarah. Yogyakarta.
Singgih Tri Sulistiyono. 2008. ―Sejarah Maritim Nusantara : Perkembangan dan Prospeknya, Dalam M. Nursam dkk (eds.) Sejarah Yang Memihak‖. Yogyakarta: Ombak.
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 127 Denpasar, 25-26 September 2018
Susanto, Zuhdi. 2011. Labu Rope Labuwana : Konsep-konsep ―Pulau Sejarah‖ Dalam Historiografi Indonesia. Jakarta : Konfrensi Nasional Sejarah IX.
Tjandrasasmita Uka, 1976. ―Masuknya Islam ke Indonesia dan Pertumbuhan Kota-Kota Pesisir Bercorak Islam‖, Dalam Buletin Yaperna.No. 11. Tjamhasamita Uka., 1977. Sejarah Nasional Indonesia III.Jakarta : Depdikbud. Vickers Adrian. 2009. Peradaban Pesisir Menuju Sejarah Budaya Nusantara.
Denpasar: Pustaka Larasan – Udayana University Press.
Vickers Adrian. 1987. ―Hinduism and Islam in Indonesia‖ : Bali and The Pesisir World Dalam Indonesia No. 44.
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 128 Denpasar, 25-26 September 2018
I Wayan Cika
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana [email protected]
ABSTRAK
Era sejagat menimbulkan banyak kekhawatiran akan tergerusnya nilai-nilai budaya bangsa. Untuk itu, pendidikan karakter mempunyai peranan penting dalam rangka membangunan bangsa yang lebih bermartabat. Pentingnya pendidikan karakter itu, ada yang melukiskan dengan kata-kata bijak: when wealth is lost, nothing is lost; when health is lost something is lost; when character is lost, everythings is lost. Pernyataan itu juga bermakna bahwa membangun watak manusia itu merupakan suatu proses yang tiada hentinya. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan keikutsertaan semua pihak untuk senantisa melestarikan dan mengimplementasikan nilai-nilai budaya bangsa karena nilai budaya yang adiluhung itu dapat membentuk karakter bangsa yang lebih beradab dan bermartabat.
Kata-kata kunci: karakter, pelestarian, implementasi, nilai budaya
I. Pendahuluan
Era kesejagatan dipandang memberikan dampak sangat luas terhadap masyarakat, seperti munculnya kekhawatiran akan terkikisnya unsur-unsur budaya tradisional yang berdampak pada hilangnya jati diri bangsa. Kekhawatiran ini memang tidak berlebihan sebab pengaruh era kesejagatan telah menumbuhkembangkan berbagai isu komodifikasi, hegemoni, marginalisasi, degradasi moral, hedonis, dan anarkis. Kehadiran era kesejagatan dengan teknologi informasi yang canggih yang memberikan kemudahan dan kepraktisan pada hidup dan kehidupan manusia tidak serta merta membuat sikap dan prilaku masyarakat menjadi efektif dan efisien, melainkan cenderung ke arah menggampangkan, menginstan, asal selesai, cepat putus asa, dan ketergantungan.
Situasi dan kondisi masyarakat seperti itu agak mirip dengan situasi dan kondisi masyarakat yang dilanda ―zaman kali‖ seperti terlukis dalam Kakawin Nitisastra dan Geguritan Purwasanghara. Dalam Kakawin Nitisastra dijelaskan bahwa dampak ―zaman kali‖, antara lain menyebabkan manusia murka,
1 Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Sastra dan Budaya, Selasa-Rabu, 25-26 September 2018, bertempat di FIB Unud Jl. P. Nias. Denpasar.
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 129 Denpasar, 25-26 September 2018
kebingungan, mudah bertengkar, suka berebut kekuasaan, mengabaikan jati diri, menistakan agama, melanggar hukum, mengutamakan uang dan kekayaan, mudah disuap, melecehkan rohaniwan dan pejabat, anak-anak menjadi durhaka dan berani kepada orang tua. Menurut Geguritan Purwasanghara, ―zaman kali‖ (budaya lahir dari durbudhi) dan hanya dapat diatasi dengan kasusilaning budhi atau budi pekerti yang luhur. Untuk membentuk kasusilaning budhi diperlukan kesadaran akan pentingnya budaya leluhur sebagai cerminan jati diri. Dalam Kakawin Ramayana disebut sebagai guha peteng tang mada moha kasmala, malädi yolania mageng mahawisa, wisa ta sang wruh ri kanang jurang kali, kalinganing sastra suluh nika praba.
Nilai-nilai luhur budaya bangsa mempunyai arti sangat penting bagi pembangunan bangsa, khususnya pembangunan karakter. Nilai-nilai luhur budaya bangsa tersebut dapat dijadikan sumber pengetahuan, baik bagi generasi kini maupun generasi yang akan datang. Dengan demikian, melestarikan dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur budaya bangsa merupakan suatu hal yang wajib dilaksanakan oleh para pemilik atau pendukung budaya itu agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang unggul dan berkarakter sesuai yang diharapkan oleh Presiden Joko Widodo dalam buku Revolusi Mental sebagai Strategi Kebudayaan (Purwanto, 2015). Melestarikan dan mengamalkan nilai-nilai luhur budaya bangsa sangatlah urgen untuk dilaksanakan karena diyakini dapat memperkuat dan memperkokoh harkat dan martabat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab.
II. Metodologi
Teori yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah teori semiotik ditunjang metode observasi hermeneutik kualitatif, yakni dengan mengamati tanda-tanda zaman yang sedang berkembang di era sejagat kemudian dikontekstualkan dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran secara sekilas bahwa nilai-nilai budaya itu sangatlah penting untuk membangun karakter bangsa yang lebih beradab.
III. Pembahasan
Karakter bangsa adalah konsep abstrak mengenai masalah dasar yang sangat penting tentang sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang
membedakan seseorang dari yang lain dalam kehidupan manusia untuk membangun bangsa yang lebih beradab. Karakter merupakan sesuatu yang terukir dalam diri seseorang. Secara umum, karakter itu merupakan sikap manusia tehadap lingkungannya yang diekspresikan melalui tindakan. Dengan kata lain, karakter itu adalah moralitas, kebenaran, kebaikan, kekuatan, dan sikap seseorang yang ditunjukkan kepada orang lain melalui tindakan. Baik buruknya karakter seseorang (kasusilaning budhi & dur budhi) tercermin melalui moralitasnya. Demikian pula kebenaran, tidak akan bisa terwujud dengan sendirinya tanpa adanya karakter yang menopang. Tidak ada nilai kebajikan dan kemuliaan atau dharma yang melebihi kebenaran (satya), dan tidak ada kebatilan atau ketidakmuliaan yang melebihi kebohongan (Krishna, 2015:309). Kebenaran dan moralitas yang terbentuk merupakan perwujudan dari perbuatan baik yang dapat mendatangkan segala kemaslahatan bagi kehidupan manusia. Perbuatan baik inilah yang mendorong kekuatan dalam diri seseorang untuk menegakkan keadilan dan keberadaban. Kebenaran, kebaikan, dan kekuatan, sikap yang ditunjukkan kepada lingkungan bersifat integral yang menyatu dengan karakter.
Menurut Sudrajat (2010:3), karakter bangsa merupakan nilai yang berhubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tatakrama, dan budaya. Dalam upaya memahami dan mengembangkan karakter bangsa maka pendidikan memegang peranan penting. Pendidikan tidak hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi sebagai pembudayaan (humanisasi) bagi peserta didik. Pembudayaan adalah pembentukan karakter menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab, sehingga selaras dengan Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Orang bijak mengatakan bahwa when wealth is lost, nothing is lost; when health is lost something is lost; when character is lost, everythings is lost. Artinya, kalau kekayaan hilang, tidak ada yang hilang; kalau kesehatan hilang, ada sesuatu yang hilang; namun, kalau watak yang hilang, segalanya akan hilang. Pernyataan itu juga bermakna bahwa membangun watak manusia itu merupakan suatu proses yang tiada hentinya dan diperlukan keikutsertaan semua pihak. Namun, ironisnya, pendidikan sebagai humanisasi untuk mewujudkan insan ideal, berkarakter mulia,
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 131 Denpasar, 25-26 September 2018
dan luhur, sempat tercoreng oleh adanya fakta bahwa sektor pendidikan memiliki kasus korupsi terbanyak dibandingkan sektor lainnya. Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua KPK, Basaria Panjahitan (Bali Post, Selasa 20 Maret 2018, hln. 1), bahwa sektor pendidikan idealnya harus menjadi tempat yang benar-benar bersih dari korupsi. Namun, faktanya justeru di bidang pendidikan paling banyak ditemukan tindakan korupsi, baik di provinsi maupun kabupaten/kota. Dengan demikian, pendidikan sebagai sumber humanisasi belum dapat menjalankan fungsinya dengan benar sehingga masih paradoks.
Nilai-nilai luhur budaya bangsa seyogyanya tidak hanya disampaikan dalam tataran wacana pendidikan tetapi juga harus diimplementasikan dalam kehidupan nyata dalam masyarakat bangsa. Nilai-nilai budaya tersebut sungguh menarik untuk dibahas, terutama dalam konteks adanya gejolak sosial yang melanda bangsa ini. Gejolak sosial bisa berupa perilaku arogansi, mengutamakan kepentingan sendiri dan kelompok, korupsi yang merajalela, tawuran antarpelajar dan antarwarga/kelompok masyarakat bahkan sampai pada pengerusakan tempat ibadah, dan tindakan-tindakan brutal lainnya. Semuanya itu sering kita saksikan, baik di media cetak maupun di media elektronik. Gejolak sosial seperti itu, dalam sastra Bali disebut dengan ―zaman kali‖ yuga2
atau ―zaman kali sanghara‖, seperti tercermin dalam karya sastra, Kakawin Niti Sastra, dan Geguritan Purwa Sanghara. Di ―zaman kali‖ yuga itu banyak orang kehilangan rasa persaudaraan, sikap kejujuran sehingga tidak mampu membedakan kawan yang benar-benar baik dan kawan yang buruk atau tidak mampu membedakan antara yang benar dan yang salah.
Dalam Geguritan Purwa Sanghara, pupuh XXIV bait 27-28 dilukiskan bahwa dalam ―zaman kali‖ sanghara keadaan dunia serba susah, karena jarang ada orang menjalankan darma dengan sungguh-sungguh untuk mencari keutamaan, dan banyak orang yang berkelahi memperebutkan kedudukan yang tinggi (pandening kali murkaning jana wimoha matukar arebut kawiryawan). Dalam Kakawin Nitisastra, pupuh IV bait 8-10, disebutkan: …munggwing rat bhuwanandakara ratu hina dana didhananing dhaneswara... (dunia guncang dan
2
“zaman kali” yuga adalah salah satu bagian dari catur yuga, yaitu masa kehidupan manusia yang terdiri dari empat masa, yaitu masa krta yuga (masa emas), traita yuga (masa perak), dwapara yuga (masa tembaga), dan kali yuga (masa besi) (Sudharta, 1976:261-263).
diselubungi kegelapan, raja-raja tidak lagi memberi sedekah, tetapi disedekahi oleh orang-orang kaya).
Gejolak sosial itu sebenarnya dapat dikatakan sebagai suatu ―pengingkaran‖ terhadap nilai-nilai budaya bangsa kita, yang semestinya dijunjung tinggi, diteladani, dan dijalankan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pengingkaran terhadap nilai-nilai budaya tersebut sudah mencapai tingkatan krisis moral yang berkepanjangan dan pada akhirnya bisa menjerumuskan bangsa kita ke titik yang paling rendah, yakni kehancuran (sanghara). Oleh karena itu, pelestarian nilai-nilai luhur budaya bangsa perlu dilakukan secara berkesinambungan dan disebarluaskan, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional. Dengan demikian, diharapkan karakter bangsa semakin kokoh dan lebih beradab di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Nilai-nilai budaya bersumber dari agama, Pancasila, budaya (budi-daya), dan tujuan pendidikan nasional (rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara dari berbagai jenjang dan jalur) (Yaumi, 2014:82). Dalam kesempatan ini dikemukakan beberapa contoh nilai budaya yang berkenaan dengan kebudayaan Bali yang dijiwai agama Hindu yang sangat kaya dengan nilai luhur dan pekerti bangsa. Nilai-nilai luhur tersebut terkandung dalam kearifan local, antara lain: karmaphala, trikaya parisuda, dan adagium.
Karmaphala dapat dijadikan alat pengendali dalam berpikir, berkata, dan berbuat. Kita percaya bahwa pahala dari pikiran, perkataan, dan perbuatan merupakan hasil yang kita lakukan dan alami sendiri, bukan karena orang lain. Karena itu, pikiran, perkataan, dan perbuatan harus disandarkan pada kebaikan dan kebenaran, yakni diterima orang lain dan sesuai dengan norma atau hukum