• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranan Daerah Pesisir Sebagai Daya Tarik Wisata

Setelah terbentuk kelompok nelayan yang telah disyahkan, Pemerintah Daerah melalui BRI Cabang Denpasar memberikan bantuan kredit berupa

TERJEMAHAN ISTILAH KELAUTAN BAHASA INGGRIS KE DALAM BAHASA INDONESIA

2. Hasil dan Pembahasan

2.2. Peranan Daerah Pesisir Sebagai Daya Tarik Wisata

Daerah pesisir di Bali seperti pantai dan pelabuhan sejak dulu memiliki peranan penting tidak hanya sebagai tempat berlabuhnya atau mendaratnya kapal, tempat pemukiman orang yang datang dari luar daerah, tempat mendaratnya kapal dengan berbagai keperluan, namun daerah pesisir atau pantai di Bali sering berfungsi sebagai daya tarik wisata, baik wisatawan lokal, nusantara maupun wisatawan asing dengan berbagai kepentingan atau tujuan.

Kemajuan teknologi dan komunikasi telah mendrong perkembangan pariwista di dunia, tak terkecuali di Indonesia (Sonder, 2011 : 76). Demikian halnya di Bali. Menurut I wayan Sonder (2011), Pembangunan pariwisata di Indonesia berdasarkan Undang-Undang No.10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan mempunyai tujuan antara lain : 1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi, 2.Meningkatkan kesejahteraan rakyat, 3. Menghapus kemiskinan, 4. Mengatasi pengangguran, 5. Melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya, dan sebagainya.

Salah satu yang dapat menarik orang untuk berkunjung ke Daerah Tujuan Wisata (DTW) adalah pemandangan pantai (beaches). Wisata Pantai atau Wisata

Bahari sering dikaitkan dengan olah raga air, seperti berselancar,, menyelam, berenang, dan sebagainya. Objeknya adalah pantai, danau, sungai, termasuk man laut. (Karyono, 1997 : 18-19).

Pantai yang indah berada di teluk dan dan tanjung dengan pantai yang rata di atasnya terhampar pasir berwarna terdapat juga di beberapa daerah pantai di Bali (Arjana, 2015 : 50). Selain sebagai aset, pantai juga menjadi objek yang menarik untuk pariwisata. Di Bali pantai yang memiliki aset wisata dengan kekhasan masing-masing seperti Pantai Sanur, Pantai Kuta, Pantai Lovina, Pantai Candi Dasa, Pantai Tulamben, dan masih banyak pantai di Bali yang memiliki aset wisata yang perlu dikembangkan.

Simpulan

1. Daerah pesisir seperti pantai di Bali sejak dulu (jaman kerajaan hingga kemerdekaan) memiliki peran penting dalam dunia pelayaran dan perdagangan antar pedagang luar daerah dan luar negeri;

2. Sejak perkembangan pariwisata di Indonesia daerah pesisir atau daerah pantai di Bali menjadi dengan keindahan alamnya menjadi aset wisata andalan dan daya tarik wisata tersendiri dengan kekhasannya masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Ardika, I Wayan (Dkk). 2015. Sejarah Bali Kuna, dalam I Wayan Ardika (Dkk). Sejarah Bali Dari Prasejarah Hingga Modern. Denpasar : Udayana University Press.

Arjana, I Gusti Bagus. 2015. Geografi Pariwisata dan ekonomi kreatif. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Karyono, A.Hari. 1997. Kepariwisataan. Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Parimartha, I Gde (Dkk). 2015. Sejarah Bali Pertengahan Abad VIV-XVIII, dalam I Wayan Ardika (Dkk). Sejarah Bali Dari Pra Sejarah Hingga Modern. Denpasar : Udayana University Press.

Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 177 Denpasar, 25-26 September 2018

Sonder, I Wayan. 2011. Pengembangan Kawasan Wisata Pantai Lasiana Di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dalam Analiss Pariwisata, Vol.11 No.1. Denpasar : Fakultas Pariwisata Universitas Udayana.

Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 178 Denpasar, 25-26 September 2018

Ida Ayu Wirasmini Sidemen

Prodi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana [email protected]

ABSTRAK

NKRI sebagai negara kemaritiman, sebagai negara kepulauan atau nusantara, menyebabkan pelabuhan laut memegang peranan penting lalu lintas antar pulau, dari dulu hingga masa kini dan pasti sampai masa yang akan datang.

Pelabuhan dikelola dengan sistem sewa kontrakbiasanya diberikan kepada orang asing, dan untuk di Bali khususnya di landschap Buleleng, diberikan kepada orang Tionghoa.Orang Tionghoa sebagai pengontrak pelabuhan disebut dengan kapitan dan mayor. Hal ini berdasarkan temuan sumber lokal berupa pipil maupun sumber kolonial, yang menyebutkan bahwa transaksi ekonomi yang melibatkan orang Tionghoa berada dibawah kekuasaan I Kapitan dan Mayor. Terminologi kapitan dalam hal ini berarti pemimpin masyarakat. Kapitan tidak merupakan pangkat yang memiliki kewajiban militer Kekuasaan seorang syahbandar pelabuhan sebagai pengontrak, antara lain:(1) menertibkan bersandarnya kapal yang keluar masuk pelabuhan; (2) bertugas memungut pajak berlabuh bagi kapal-kapal yang masuk pelabuhan; (3) memungut cukai ekspor impor terhadap transaksi barang bongkar muat yang dilakukan di pelabuhan; (4) memeriksa surat-surat kapal yang masuk berlabuh; (5) menertibkan perdagangan antar kerajaan dan dengan orang asing.

Pada masa kolonial Belanda, pelabuhan-pelabuhan di Buleleng disewa kontrak oleh orang Tionghoa. Nilai kontrak ditetapkan dengan sistem kurs, dalam hal ini bungkus. Orang Tionghoa sebagai penyewa pelabuhan dengan jabatan sebagai subandar, memiliki otoritas penuh atas pelabuhan laut.

Kata kunci: subandar,sewa kontrak, orang Tionghoa I

PENGANTAR Latar Belakang dan Permasalahan

Indonesia merupakan negara maritim, dengan luas lautan lebih besar dari daratan. Sekitar tiga perempat dari seluruh luas negara, yaitu 75% adalah lautan dan hanya 25% daratan, terdiri atas sekitar 7.000 pulau, besar dan kecil1. Kondisi

1I Made Sumarja, ―Kehidupan Nelayan Tradisional di Kampung Wuring, Kelurahan Wolomarang, Sikka, Nusa Tenggara Timur‖, Jurnal Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional, Vol.20, No. 2, September 2013 (Denpasar: Percetakan Bali, 2013), hlm.

Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 179 Denpasar, 25-26 September 2018

NKRI sebagai negara kemaritiman, sebagai negara kepulauan atau nusantara, menyebabkan pelabuhan laut memegang peranan penting lalu lintas antar pulau, dari dulu hingga masa kini dan pasti sampai masa yang akan datang.

Berkaitan dengan peranan pelabuhan dalam lintas tranportasi antar pulau, pemerintah Indonesia mengatur dalam bentuk peraturan, untuk mengatur dan memantau pelabuhan yang ada di Indonesia. Menurut peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 72 Tahun 2017, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan atau perairan yang dapat digunakan sebagai tempat kapal bersandar, naik turun penumpang dan bongkar muat barang serta sebagai tempat perpindahan intra antar moda transportasi. Setiap pelabuhan dikelola oleh penyelenggara pelabuhan terdiri atas otoritas pelabuhan, kesyahbandaran dan pelabuhan, serta unit penyelenggara pelabuhan.2

Kesyahbandaran dan otoritas pelabuhan bertugas melaksanakan penegakan hukum dalam keselamatan dan keamanan pelayaran, pengaturan, pengendalian dan kegiatan kepelabuhanan pada pelabuhan yang diusahakan secara komersial. Dalam peraturan tersebut juga antara lain mengatur tarif jasa pelayanan kapal, barang dan penumpang. Tarif pelayanan jasa kapal dalam negeri dan jasa barang antar pulau, dihitung dengan rupiah, sedangkan tarif pelayanan jasa kapal luar negeri dan jasa barang ekspor dan impor dihitung berdasarkan mata uang dolar Amerika Serikat.3

Berdasarkan atas kenyataan masa kini tersebut, penulis tertarik untuk mengetahui, bagaimana sistem pengelolaan pelabuhan pada masa kolonial, dengan menggunakan studi kasus pelabuhan di Buleleng Bali pada sekitar pertengahan abad XIX.

441. Mengenai kondisi geografis Indonesia yang bersifat kepulauan, lihat juga Singgih Tri Sulistiyono, ―Dominasi dan Perdagangan Singapura di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas‖, Sunaryo Purwo Sumitro (penyunting), Dari Samudera Pasai ke Yogyakarta: Persembahan kepada Teuku Ibrahim Alfian, (Jakarta: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Sinergi Press, 2002), hlm. 259.

2

Peraturan Mentri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 72 Tahun 2017 tentang: Jenis, Struktur, Golongan dan Mekanisme Penetapan Tarif Jasa Kepelabuhanan, hlm. 4.

3

Peraturan Mentri Perhubungan Republik Indonesia, tentang tarif jasa pelayanan termuat dalam pasal 4, op.cit., hlm. 6 dan pasal 12 hlm. 28.

Metode

Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang diaplikasikan sebagai perangkat kerja dalam usaha menemukan sumber (heuristik). Sumber primer berupa pipil diperoleh dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, sumber-sumber sekunder berupa artikel majalah dan bentuk penerbitan yang lain, diperoleh dari menilai otensitas dan kredibelitas sumber (kritik), berikutnya intepretasi terhadap sumber dan penulisan sejarah sebagai hasil penelitian (historiografi).4

II

PENGELOLAAN PELABUHAN BERDASARKAN SEWA KONTRAK Pada masa kerajaan di Bali, terutama sebelum berkenalan dengan Belanda, pendapatan kerajaan sebagian juga berasal dari perdagangan maritim dan sewa kontrak pelabuhan. Dalam perdagangan maritim, pelabuhan memegang peranan penting. Raja melalui tangan sedahan agung, yang berperan mengatur ekonomi kerajaan, termasuk juga ekonomi perdagangan maritim, menjadi penentu harga kontrak sewa pelabuhan. Setiap pelabuhan dipimpin oleh syahbandar yang dalam penyebutan bahasa Bali menjadi subandar. Perdagangan melalui pelabuhan berada di bawah kekuasaan subandar.5 Pelabuhan dikelola dengan sistem sewa kontrak biasanya diberikan kepada orang asing, dan untuk di Bali khususnya di landschap Buleleng, diberikan kepada orang Tionghoa.6

Menurut catatan Bloemen Waanders, seorang asisten residen Hindia Belanda di Buleleng, disebutkan dengan jelas bahwa subandar pelabuhan di landschap Buleleng berada ditangan orang Tionghoa. Pelabuhan yang dimaksud yaitu pelabuhan Pengastulan dengan jumlah uang sewa sebesar 20 bungkus;

4

G.J. Garraghan, S.J, A Guide of Historical Method (New York: Fordham University Press, 1957), hlm. 33; Louis Gottachalk, Mengerti Sejarah (Jakarta: Yayasan UI, 1975), hlm. 80-95.

5

C. Lekkerkerker, ―De Tegenwoordige Economische Toestand van het Gewest Bali en Lombok‖ dalam Koloniaal Tijdschrift. 12 Jaargang No 2 (‗s-Gravenhage, Maart 1923), hlm. 156-157.

6P.L. Van. Bloemen Waanders, Aanteekeningen Omtrent de Zeden en Gebruiken der Balinezen, Inzonderheid die van Boeleleng (Batavia: Lange & Co, 1859), hlm. 79.

Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 181 Denpasar, 25-26 September 2018

Tebungkus (maksudnya Temukus) dengan jumlah uang sewa sebesar 50 bungkus; Hanturan dengan jumlah uang sewa sebesar 8 bungkus; Buleleng (maksudnya Pabean) uang sewa sebesar 60 bungkus; Sangsit uang sewa sebesar 40 bungkus; Kubuk Lod sebesar 10 bungkus dan Lirang uang sewa sebesar 5 bungkus. Total keseluruhan yaitu 193 bungkus, yang sama dengan 4.825 gulden.7

Kata ‗bungkus‘ jelas menunjukkan kurs nilai tukar. Satu bungkus bernilai sekitar f 25 Apabila nilai f 25 dijadikan peku sesuai dengan aturan yang dikeluarkan oleh De Javaasche Bank, maka bungkus itu akan menjadi 16,02 peku; 1 (satu) peku sama dengan 1.000 uang kepeng (pis bolong); 1(satu) bungkus sama dengan 16,020 kepeng.8 Di Bali ada kebiasaan uang kepeng (pis bolong) dibungkus dengan tapis (pembungkus pelepah kelapa) yang setiap satu tapis isinya 1.000 uang kepeng. Uang bungkus disebut dengan pis tapis. Ada dugaan kata ‗bungkus‘ sama dengan ‗tapis.‘ Namun harus diteliti kembali karena nilainya tidak sesuai antara tapis dalam bahasa Bali dengan bungkus yang digunakan oleh Bloemen Waanders.

Orang Tionghoa sebagai pengontrak pelabuhan disebut dengan Kapitan dan Mayor. Hal ini berdasarkan temuan sumber lokal berupa pipil maupun sumber kolonial, yang menyebutkan bahwa transaksi ekonomi yang melibatkan orang Tionghoa berada dibawah kekuasaan I Kapitan dan Mayor.9 Terminologi Kapitan

7

Ibid. Mengenai pabean sebagai kota pelabuhan di Buleleng, lihat J.J. de. Hollander, Handleiding by de Boefening der Land en Volkenkunde van Nederlandsch Oost-Indie (Breda: Van Broese & Compagnie, 1898), hlm 681. Sewa kontrak sebesar itu untuk setiap tahun.

8

G. Vissering, Muntwezen en Circulatie-Banken in Nederlandsch-Indie, (Amsterdam: J.H. de Bussy, 1920), hlm. 262.

9

Temuan pipil berdasarkan hasil penelitian Ida Ayu Wirasmini Sidemen, yang didalamnya disuratkan jabatan kapitan atau mayor yaitu: (1), Kode Penelitian: 071/27/PNRI/JKT/PT 43 LKB 5**/05. 2013. Jenis: pipil; isi: surat gadai; ukuran: panjang 42 cm lebar 3,8 cm. (2), Kode Penelitian: 088/44/PNRI/JKT/PT 43 LKB 5**/05. 2013. Jenis: pipil; isi: surat gadai; ukuran: panjang 46,2 cm dan lebar 3,7 cm. (3), Kode Penelitian: 093/49/PNRI/JKT/PT 43. LKB 5**/05. 2013. Jenis: pipil; isi: surat gadai; ukuran: panjang 46,5 cm dan lebar 3,5 cm.

dalam hal ini berarti pemimpin masyarakat. Kapitan tidak merupakan pangkat yang memiliki kewajiban militer.10

Kekuasaan seorang syahbandar pelabuhan sebagai pengontrak, antara lain: (1) menertibkan bersandarnya kapal yang keluar masuk pelabuhan; (2) bertugas memungut pajak berlabuh bagi kapal-kapal yang masuk pelabuhan; (3) memungut cukai ekspor impor terhadap transaksi barang bongkar muat yang dilakukan di pelabuhan; (4) memeriksa surat-surat kapal yang masuk berlabuh; (5) menertibkan perdagangan antar kerajaan dan dengan orang asing.11 Berkaitan dengan hak kekuasaan seorang syahbandar, terutama tentang hak menertibkan bersandarnya atau mengontrol kedatangan kapal dengan mewajibkan kapten kapal memiliki izin pas, ditunjukkan dalam pipil, seperti contoh berikut ini:

Transliterasi

1a. pangeling-eling surat saha cap, malingga ida anake agung, ida i gusti anglurah gde ngurah, ida apuri ring singaraja, maka cirin anake de mariam, dagang sadu, pesu uli panegaran pabean buleleng, melayar ke banyuwangi, perahunya mejala, masanjata bedil areko 3, kalih tumbak 3 katih, pedang 1 katih, mamuat gagrabadan, kadele limolas pikul

1b. dendeng petang pikul, lengis kutus gentong, kakondo satus selae, bawang, asem, pada makikit, urutan, kamben adasa bidang, bandeganya 5 diri, dina nrat, s ( soma), ka (keliwon) wara uye, titi, pang (panglong), ping,9, sasih ka, 6, rah 8, teng (tenggek), 5, isaka 1758.

Terjemahan dalam bahasa Indonesia

1a. Surat peringatan dengan cap, atas nama raja yang berkuasa Ida Anake Agung, Ida I Gusti Anglurah Gde Ngurah, beliau beristana di Singaraja, sebagai tanda bukti seseorang bernama De Mariam, seorang pedagang melapor, akan keluar dari wilayah Kerajaan Buleleng, berlayar menuju ke Banyuwangi, perahunya menggunakan jala, menggunakan senjata bedil rekol 3 buah, tombak 3 batang, pedang 1 batang, memuat bermacam-macam barang, kedelai 15 pikul,

1b. dendeng (daging kering asap) 4 pikul, minyak kelapa 8 gentong, tempat air minum 125, bawang, asam, sama-sama sedikit, sosis, kain 10 lembar, awak perahunya 5 orang, hari

10

Yerry Wirawan, Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar Dari Abad Ke- 17 Hingga Abad Ke- 20, (Jakarta: Gramedia-KILTV, 2013), hlm. 18. Mengenai pemimpin kota pelabuhan di daerah lain di Indonesia seperti di Sunda (Jawa Barat) disebut dengan kapitan, lihat Tome Pires, Suma Oriental: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina (terj.), (Yogyakarta: Ombak, 2014), hlm. 239-255.

11Lihat E. Utrecht, Sedjarah Hukum Internasional di Bali dan Lombok, (Bandung: Sumur Bandung, 1962), hlm. 119; Kolonial Tijdschrift, Maart 1923, 12e Jaargang No. 2, hlm. 156; Cf. A.A. Gde Putra Agung (dkk), Sejarah Sosial Bali Kota Singaraja, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1984), hlm.18-19.

Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 183 Denpasar, 25-26 September 2018

menulis, Senin Keliwon Uye, hari ke-9 setelah purnama, bulan yang ke-6, satuan 8, puluhan 5, tahun Saka 1758 (1836 ). 12

Bukti pipil di atas juga menunjukkan bahwa tahun 1836, pelabuhan Buleleng juga berperan sebagai pelabuhan perdagangan internasional. Oleh karena itu, para pedagang yang mengambil barang di Pabean Buleleng dan akan membawa barang dagangan itu ke luar wilayah Bali, termasuk barang ekspor, harus memperoleh izin dari raja yang berkuasa. Nama De Mariam adalah pedagang yang berdagang dan berlayar menuju Banyuwangi.13 Oleh karena perdagangan dilakukan oleh orang asing dengan membawa komoditas perdagangan dari Buleleng, maka izin lintas perdagangan diketahui oleh raja I Gusti Anglurah Gde Ngurah.14

Selain memiliki kekuasaan menertibkan perdagangan antar kerajaan dengan orang asing seperti bukti teks di atas, orang Tionghoa sebagai penyewa pelabuhan atau sebagai subandar di Buleleng, juga berhak membebankan pajak terhadap kapal yang bersandar di pelabuhan dan pajak terhadap komoditi perdagangan. Bagi jenis kapal layar ukuran besar, dikenakan pajak berlabuh sebesar 3 peku (f 4,68 ); kapal-kapal bertiang dua dikenakan 2 peku (f 3.12) dan kapal-kapal lokal dikenakan pajak sebesar 1 atak (=190 sampai 195 uang kepeng, atau sama dengan 3,3 dubbeltje).15

Subandar juga mengatur transaksi perdagangan dan barang-barang yang boleh masuk dan ke luar pelabuhan. Barang-barang impor seperti benda-benda dari besi, pajak sebesar 500 uang kepeng ( f 0.8); candu setiap bol sebesar 500 uang kepeng (f 0.8); dan gambir per pikul sebesar 200 uang kepeng (f 0,3).

12

Penelitian Ida Bagus Sidemen tahun 1993. Koleksi Perpustakaan Nasional RI. Kode Penelitian: 001/IBS/PNRI/1993; nomor peti:17; nomor naskah: L. 338; judul peti: pangeling-eling; isi asli: surat pas/izin berangkat; jenis lontar: pipil; ukuran: panjang 27 cm dan lebar 3.6 cm.

13

Nama De Mariam dapat diduga adalah pedagang Portugis atau Belanda. Orang asing yang berasal dari negara-negara di luar kawasan Nusantara Majapahit, disebut dengan wong dura negara.

14

Sebagai perbandingan, hal ini juga berlaku di pelabuhan Makasar, ada peraturan mewajibkan kapal-kapal besar memiliki izin pas untuk dapat berlabuh di pelabuhan Makasar. Lihat kembali Yerry Wirawan, op.cit., hlm. 22-23.

15

Barang-barang ekspor yang harus dibayar kepada subandar, seperti ekspor kuda, sapi dan babi, dibebankan pajak sebesar 200 uang kepeng (f 0,3); kopi, beras, setiap pikul kapas, tembakau dan minyak, dibebankan pajak sebesar 200 uang kepeng (f 0,3); berupa kacang-kacangan pajak sebesar 100 uang kepeng (f 0,16).16

III PENUTUP

Pada masa kolonial Belanda, pelabuhan-pelabuhan di Buleleng disewa kontrak oleh orang Tionghoa. Nilai kontrak ditetapkan dengan sistem kurs, dalam hal ini bungkus. Satu bungkus bernilai sekitar f 25,- (=16.000 uang kepeng). Orang Tionghoa sebagai penyewa pelabuhan dengan jabatan sebagai subandar, memiliki otoritas penuh atas pelabuhan laut. Nama subandar sangat melekat dengan peranan orang Tionghoa. Di Pura Besakih dan di Pura Batur, terdapat nama Pura Subandar, sebagai kelengkapan catur lawa dalam sistem pura kahyangan jagat, sering diakui sebagai pura petilasan (sungsungan) orang Tionghoa. Seringkali kondisi ini diungkap sebagai bukti adanya akulturasi yang assimilatif antara orang Bali dengan orang Tionghoa. Dugaan ini perlu mendapatkan penelitian lanjutan untuk memperoleh posisi yang dekat dengan kebenaran.

DAFTAR PUSTAKA Pipil.

Koleksi Perpustakaan Nasional RI. Kode Penelitian: 001/IBS/PNRI/1993; nomor peti:17; nomor naskah: L. 338; judul peti: pangeling-eling; isi asli: surat pas/izin berangkat; jenis lontar: pipil; ukuran: panjang 27 cm dan lebar 3.6 cm.

Koleksi Perpustakaan Nasional RI. Kode Penelitian: 071/27/PNRI/JKT/PT 43 LKB 5**/05. 2013. Jenis: pipil; isi: surat gadai; ukuran: panjang 42 cm lebar 3,8 cm.

Koleksi Perpustakaan Nasional RI. Kode Penelitian: 088/44/PNRI/JKT/PT 43 LKB 5**/05. 2013. Jenis: pipil; isi: surat gadai; ukuran: panjang 46,2 cm dan lebar 3,7 cm.

16

Mengenai beban pajak barang-barang ekspor dan impor, berdasarkan laporan P.L. Van. Bloemen Waanders, op. cit., hlm. 80. Mengenai kurs uang kepeng yang berlaku di Bali tahun 1911, berdasarkan laporan G. Vissering tentang kurs sebagai Presiden dari De Javasche Bank, lihat G. Vissering, op.cit., hlm. 262.

Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 185 Denpasar, 25-26 September 2018

Koleksi Perpustakaan Nasional RI. Kode Penelitian: 093/49/PNRI/JKT/PT 43. LKB 5**/05. 2013. Jenis: pipil; isi: surat gadai; ukuran: panjang 46,5 cm dan lebar 3,5 cm.

Buku, Majalah dan Artikel

Bloemen Waanders, P.L. Van. Aanteekeningen Omtrent de Zeden en Gebruiken der Balinezen, Inzonderheid die van Boeleleng. Batavia: Lange & Co, 1859.

Garraghan, S.J. G.J. A Guide of Historical Method. New York: Fordham University Press, 1957.

Gottschalk, Louis. Mengerti Sejarah. Jakarta: Yayasan UI, 1975.

Hollander, J.J. de. Handleiding by de Boefening der Land en Volkenkunde van Nederlandsch Oost-Indie. Breda: Van Broese & Compagnie, 1898.

Kolonial Tijdschrift, Maart 1923, 12e Jaargang No. 2.

Lekkerkerker, C. ―De Tegenwoordige Economische Toestand van het Gewest Bali en Lombok‖. Koloniaal Tijdschrift. 12 Jaargang No 2. ‗s-Gravenhage, Maart 1923.

Peraturan Mentri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 72 Tahun 2017 tentang: Jenis, Struktur, Golongan dan Mekanisme Penetapan Tarif Jasa Kepelabuhanan.

Putra Agung, A.A. Gde (dkk). Sejarah Sosial Bali Kota Singaraja. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, 1984.

Sulistiyono, Singgih Tri. ―Dominasi dan Perdagangan Singapura di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas‖. Sunaryo Purwo Sumitro (penyunting). Dari Samudera Pasai ke Yogyakarta: Persembahan kepada Teuku Ibrahim Alfian. Jakarta: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Sinergi Press, 2002.

Sumarja, I Made. ―Kehidupan Nelayan Tradisional di Kampung Wuring, Kelurahan Wolomarang, Sikka, Nusa Tenggara Timur‖. Jurnal Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional, Vol.20, No. 2, September 2013. Denpasar: Percetakan Bali, 2013.

Tome Pires. Suma Oriental: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina (terj.).Yogyakarta: Ombak, 2014.

Utrecht, E. Sedjarah Hukum Internasional di Bali dan Lombok. Bandung: Sumur Bandung, 1962.

Vissering, G. Muntwezen en Circulatie-Banken in Nederlandsch-Indie. Amsterdam: J.H. de Bussy, 1920.

Wirawan, Yerry. Sejarah Masyarakat Tionghoa Makassar Dari Abad Ke- 17 Hingga Abad Ke- 20. Jakarta: Gramedia-KILTV, 2013.

Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 186 Denpasar, 25-26 September 2018

Ida Bagus Jelantik Sutanegara Pidada

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Denpasar [email protected]

ABSTRAK

Hubungan asmara antarsesama dewa, antarsesama makhluk gaib, antarsesama manusia, antarsesama binatang, banyak dikisahkan sebagai legenda yang dipercaya kebenarannya. Setelah memadu kasih, dewa, makhluk gaib, manusia, dan binatang lalu beranak pinak. Penyimpangan kisah percintaan lintas sesama itu sering juga diceritakan sebagai legenda maupun mitos. Kisah dewa memadu kasih dengan manusia, manusia dengan makhluk gaib, bahkan manusia dengan binatang atau sebaliknya banyak ditemukan eksis sebagai legenda yang dipercaya kebenarannya.

Lahirnya putra hasil percintaan sepasang kekasih tak sesama tersebut merefleksikan tersiratnya makna tertentu yang terkandung dalam suatu legenda. Pada dasarnya mitos, tidak saja berkaitan dengan ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat, terutama oleh masyarakat tradisional (Segal, 2004: 62), namun juga berkaitan dengan eksistensi tokoh spiritual yang bersemayam pada suatu tempat. Di balik mitos yang berkaitan dengan ritual dan eksistensi tokoh spiritual tersebut sesungguhnya telah dijelaskan olehnya dalam suatu jaringan makna tertentu (Graf, 1993: 40).

Salah satu mitos yang mengisahkan percintaan antara Dewa dengan manusia sampai melahirkan seorang putra terdapat di Kota Amlapura Karangasem Bali. Bhatara Gunung Agung, dewa yang bersemayam di puncak Gunung Agung, jatuh cinta kepada seorang putri pendeta kerajaan (bhagawanta) bernama Ida Ayu Mas. Dewa yang tampan, penuh wibawa, sakti mandraguna, dan sangat berkuasa itu memadu kasih dengan seorang gadis berparas cantik jelita bertubuh tinggi semampai, berkulit putih bak bunga kenanga dengan rambut panjang terurai. Sampai akhirnya suatu ketika melahirkan seorang putra yang dikenal sebagai Bhatara Bagus.

Kehadiran mitos Bhatara Bagus menarik untuk diteliti sebagai teks sastra yang fungsional. Analisis mitos Bhatara Bagus ini diupayakan berdasarkan analisis fungsi sastra menurut Braginsky (1993).

Kata kunci: mitos, fungsi

I PENDAHULUAN