Setelah terbentuk kelompok nelayan yang telah disyahkan, Pemerintah Daerah melalui BRI Cabang Denpasar memberikan bantuan kredit berupa
PENUTUP Data 14
Ekspresif (Menyatakan harapan)
Demikian amanat saya, semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan bimbingan, kekuatan, dan perlindungan-Nya kepada kita semua dalam melanjutkan tugas pengabdian kepada negara dan bangsa Indonesia tercinta.
(Menyatakan harapan agar dalam mengabdi kepada bangsa dan Negara selalu mendapat perlindungan dari Tuhan Yang maha Esa.
Data 15
Ekspresif (Memberi selamat)
Akhir kata saya ucapkan “Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-72”. (Memberi selamat untuk HUT-RI yang ke -72 dengan menggunakan kata kerja performatif ‗ucapkan‘)
4. SIMPULAN
Analisis di atas menunjukkan bahwa secara struktur, Menteri Susi tidak mengucapkan ucapan penghormatan karena beliau adalah orang dengan kepangkatan tertinggi di tempat tersebut. Di bagian penutup juga tidak terucap permohonan maaf karena dengan posisinya, hal tersebut tidak perlu dilakukan. Tindak tutur yang paling banyak digunakan adalah tindak tutur Direktif . Hal ini sudah sepantasnya karena tujuan pidato beliau adalah untuk mengajak dan memerintahkan aparatnya untuk bekerja memajukan sektor kelautan dan perikanan guna menanamkan ideologi budaya maritim di seluruh lapisan masyarakat Indonesia Kata kerja performatif yang digunakan hanya ‗marilah‘ (Direktif – mengajak), ‗mengukuhkan‘ (Representatif – menyatakan), dan
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 81 Denpasar, 25-26 September 2018
‗ucapkan (Ekspresif – memberi penghargaan). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ajakan untuk melaksanakan ideologi budaya maritim sebagian besar dilakukan dengan menggunakan tindak tutur tidak langsung.
5. DAFTAR PUSTAKA
Leech, Geoffrey. 1983. Principles of Pragmatics. London and New York : Longman
Mulyana, Deddy.2010. Ilmun Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya Offset
Nanda, Refsa. 2016. ―Teks Pidato (Pengertian, Metode, Struktur, dan Contoh Pidato). (www.materikelas.com). 7 Januari 2016
Searle, J.R. 1979. Expression and Meaning. Cambridge: Cambridge University. Yule, George. 2000. Pragmatics. Oxford: Oxford University Press.
https://kkp.go.id>uploads>2017/08>SAMBUTAN... Yasmin, Puti Aini, 17 Desember 2017, m.detik.com.
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 82 Denpasar, 25-26 September 2018
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana [email protected]
ABSTRAK
Paper ini bertujuan untuk mendeskripsikan citra diri yang terdapat pada teks verbal pada media kampanye pemilihan gubernur (pilgub) Bali. Citra diri merupakan bagian media kampanye yang berkaitan dengan informasi seorang kandidat calon pemimpin daerah. Citra diri memberikan nilai positif bagi seorang kandidat pemimpin. Dengan citra diri yang baik memberikan kesempatan kandidat pemimpin untuk menarik perhatian calon pemilih. Dengan peran tersebut, pemilihan kosakata berkaitan dengan citra diri mempunyai suatu ideologi tertentu. Ideologi yang dimaksud tentunya tidak lepas dari upaya menuju arah kekuasaan. Sehingga media kampanye menjadi suatu media untuk menjembatani nilai – nilai ideologi dan kekuasaan dari seorang kandidat pemimpin. Untuk itulah pemilihan kosakata dengan citra diri menjadi suatu pilihan dalam sebuah media kampanye. Sumber data paper ini diambil dari media kampanye pemilihan gubernur (pilgub) Bali. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi dengan teknik pemotretan, pemilahan, pembacaan rinci, dan pengelompokan. Metode analisa data yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Metode tersebut ditujukan untuk mendeskripsikan data – data yang secara kualitatif berkaitan dengan pemilihan kosakata citra diri. Simpulan yang diperoleh adalah citra diri yang dimunculkan pada media kampanye lebih menonjolkan pada kelebihan seorang kandidat dibandingkan dengan kandidat lainnya. Citra diri tersebut dimunculkan dengan pemilihan kosakata – kosakata tertentu yang menggambarkan kelebihan seseorang dibandingkan orang lain. Selain citra diri yang berkaitan dengan pribadi, citra diri lain yang juga muncul adalah citra diri yang berhubungan dengan kandidat pemimpin dengan para pemilihnya. Dalam hal ini pencitraan berhubungan dengan kelompok masyarakat dan tidak hanya memfokuskan pada kandidat pemimpin.
Kata kunci: citra diri, media kampanye, teks verbal PENDAHULUAN
Media kampanye merupakan media promosi serupa media iklan pada umumnya. Hanya, media kampanye lebih menekankan pada sisi politis. Bahasa dalam media kampanye tentunya mempunyai nilai – nilai ideologis yang berkaitan dengan pribadi kandidat pemimpin. Habnoer (2009) mengungkapkan keterkaitan bahasa, ideologi, dan kekuasaan. Bahasa mempunyai ideologis tertentu dan ideologi – ideologi tersebut berkaitan dengan kekuasaan. Sehingga secara sederhana dapat disimpulkan bahwa bahasa mempunyai keterkaitan dengan
Seminar Nasional Bahasa dan Budaya III 83 Denpasar, 25-26 September 2018
kekuasaan. Apalagi jika dikaitkan dengan bahasa – bahasa melalui diksi – diksi tertentu yang mencerminkan suatu citra diri kandidat pemimpin. Pilihan diksi tertentu memiliki keterkaitan dengan nilai ideologis dan nilai itu mengarahkan pada suatu model kekuasaan yang hendak diraihnya. Lebih lanjut diungkapkan bahwa faktor – faktor lain juga berhubungan dengan pemilihan diksi atau kosakata pada media kampanye seperti sikap, keyakinan, dan nilai tertentu. Selain itu bahasa – bahasa yang digunakan pada media kampanye juga dikaitkan dengan beragam informasi, propaganda, pencitraan, sekaligus persuasi bagi calon pemilih. Dalam hal ini tujuan pencitraan dan persuasi lebih mengarah pada upaya menarik perhatian para pemilih.
Tujuan untuk menarik perhatian para pemilih menjadikan media kampanye sudah seharusnya mempunyai syarat tertentu. Syarat yang dimaksud adalah pemilihan kata dan kalimat yang memberikan nilai tambah bagi seorang kandidat pemimpin daerah. Dengan nilai tambah tersebut maka seorang kandidat kepala daerah yang berkampanye melalui media kampanye dianggap memiliki nilai, kapabilitas, dan kemampuan yang berbeda dibandingkan dengan kandidat pemimpin lainnya. Habnoer (2009) juga membagi secara umum model wacana tertulis yang muncul pada media kampanye. Model wacana yang dimaksud adalah model persuasi, propaganda, dan realita jati diri. Ketiga model wacana menjadi ciri khas sebuah media kampanye. Ciri tersebut biasanya muncul secara bersamaan atau hanya berisikan satu atau dua model dalam satu media kampanye. Media kampanye menjadi satu model pencitraan diri seorang kandidat pemimpin. Hal tersebut dikarenakan melalui media kampanye seorang kandidat dapat berinteraksi secara tidak langsung. Seorang kandidat dapat menyampaikan suatu informasi yang berkaitan dengan dirinya maupun pembangunan di daerahnya. Dalam hal ini seorang kandidat pemimpin dapat bersikap subyektif atau obyektif terhadap kondisi dirinya maupun pembangunan di wilayahnya. Habnoer (2009) lebih lanjut mendeskripsikan citra diri ditonjolkan melalui pemilihan kosakata – kosakata tertentu. Kosakata itu meliputi kosakata seperti muda, cerdas, berpengalaman, kompeten, dan intelektual. Sedangkan citra diri yang lebih menonjolkan sisi emosional ditunjukkan dengan muda dan perempuan. Selanjutnya kosakata yang diklasifikasikan sebagai wujud perjuangan yang
dimunculkan pada media kampanye biasanya seperti kesejahteraan rakyat, kepentingan rakyat, kesehatan gratis, pendidikan gratis, pendidikan terjangkau, harkat dan martabat petani dan nelayan, kesetaraan perempuan, harkat perempuan, keterwakilan perempuan, dan kejujuran.