• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

suatu perhitungan dimana konsentrasi yang menyebabkan kematian sebanyak 50% sedangkan analisis regresi linier sederhana merupakan hubungan secara linier atau satu variabel independen (X) dengan variabel independen (Y).

Analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara satu variabel dependen dan satu variabel independen. Secara matematis model analisis regresi linier sederhana sebagai berikut :

Y= A+bX Keterangan :

Y = variabel dependen persentase mortalitas S. littura (nilai probit) X = Variabel independen konsentrasi ekstrak umbi gadung (Log10) A = konstanta (nilai Y apabila X=0)

b = koefisien regresi.

Selain itu, untuk menentukan nilai LC50 ulat uji (S. littura) dari beberapa konsentrasi ekstrak umbi gadung dianalisis menggunakan analisis probit dengan melihat tabel probit menurut Finney (1971) dan mencari kurva grafik regresi linier dengan Microsoft Office Exel 2010. Berikut tabel yang digunakan dengan penelitian LC50 pada uji efektivitas ekstrak umbi gadung sebagai pestisida nabati terhadap mortalitas ulat grayak tanaman tomat (Fadhillah, 2013).

Berikut langkah-langkahnya :

1. Buatlah tabel seperti berikut kemudian masukkan nilai konsentrasi yang dilakukan, Log10 konsentrasi dan jumlah larva yang digunakan.

2. Jika sudah melakukannya, tuliskan jumlah larva yang mati pada setiap kolom jumlah larva mati sesuai dengan konsentrasinya.

3. Hitung % mortalitasnya dengan cara = (jumlah yang mati / jumlah total larva)x100

4. Perhatikan jumlah larva yang mati pada konsentrasi 0 atau kontrol.

Jika terdapat larva yang mati maka dipergunakan sebagai koreksi untuk hitung mortalitas terkoreksi sesuai ulangan. Konsentrasi (%) Log10 Konsentrasi Ulangan Total Larva Jumlah Larva Mati % Mortalitas % Terkoreksi Rata-rata %Mortalitas Terkoreksi Nilai Probit 0 - 1 2 3 10 10 10 5 1 2 3 10 10 10 10 1 2 3 10 10 10 15 1 2 3 10 10 10 20 1 2 3 10 10 10

%Mortalitas Terkoreksi =

5.

Setelah

% mortalitas terkoreksi didapatkan untuk setiap perlakuan

maka rata-ratakan dengan membagi total mortalitas terkoreksi dengan jumlah ulangan yang dilakukan. Masukkan hasil rata-rata tersebut ke kolom rata-rata % mortalitas terkoreksi.

6. Carilah nilai probit (Probabillity unit) dari rerata mortalitas terkoreksi yang didapatkan dan memasukkan kekolom probit. Mencari nilai probit tinggal mencocokkan dengan tabel probit menurut Finney (1971).

Tabel 3.1 Analisa Probit

7. Jika nilai probit sudah ada, dibuat grafik hubungan anatara nilai probit mortalitas (sb.y) dan Log10 konsentrasi (sb x) di Microsoft Office Excel. Pilih insert kemudian pilih chart dan pilih model XY scatter yang

pertama. Masukkan nilai probit disumbu Y dan nilai Log10 konsentrasi disumbu X. Kemudian klik kanan pada titik birunya. Pilih add treandline. Setelah itu klik Display Equator on Chart untuk memunculkan persamaan y.

8. Jika persamaannya sudah ada, maka masukan LC50 yang memiliki nilai 5 karena nilai 5 mewakili 50% nilai probit atau 50% kematian larva. Nilai x dicari dengan memasukan nilai 5 ke persamaan yang didapatkan kemudian tentukan LC50 dengan antilog(x) atau 10x. Untuk mengetahui hubungan korelasi regresi linier antara variabel bebas dan terikatnya adalah dengan melihat nilai koefisien diterminasi R square (R2). Menurut Raharjo (2017) besarnya nilai koefisien determinasi R Square (R2) hanya antara 0-1. Sementara jika dijumpai R Square bernilai minus (-), maka dapat dikatakan bahwa tidak terdapat pengaruh antara variabel bebas (X) terhadap variabel terikatnya (Y). Semakin kecil nilai koefisiens determinasi R Square maka artinya pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikatnya semakin lemah. Sebaliknya jika nila R Square mendekati 1 maka pengaruh tersebut semakin kuat, untuk memudahkan interpretasi mengenai kekuatan hubungan antara dua variabel, Sarwono (2006) menyatakan bahwa nilai R Square sebagai berikut :

 0 : tidak ada korelasi antar dua variable  >0-0,25 : korelasi sangat lemah  >0,25-0,5 : korelasi cukup

 >0,5-0,75 : korelasi kuat  >0,75-0,99 : korelasi sangat kuat

 1 : korelasi sempurna

E. Rancangan Pemanfatan Hasil Penelitian dalam Pembelajran

Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas X pada semester ganjil yakni mengenai materi pembelajaran Ruang Lingkup Biologi.

42

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Uji Senyawa Fitokimia HCN Pada Umbi Gadung

Berikut merupakan hasil dari analisa kandungan senyawa HCN ekstrak umbi gadung (D. hispida Dennst.) yang telah dilakukan pengujian di Laboratorium Che-mix Pratama, Kretek, Jambidan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam menentukan kandungan senyawa HCN menggunakan metode pikrat basa spectrofotometry dengan langkah kerja yang dapat dilihat pada lampiran 12.

Tabel 4.1. Hasil Analisa Kandungan HCN umbi gadung (D. hispida Dennst.)

No Kode Sampel Analisa Ulangan 1 Ulangan 2 Rata Rata Umbi Gadung (D. hispida Dennst.) HCN 1 g 7,239 6,7222 6,981 2 g 6,439 7,297 6,868 3 g 13,150 13,588 13,687 4 g 27,465 28,380 27,923

Berdasarkan hasil analisa uji yang terdapat pada tabel 4.1 menunjukkan bahwa ekstrak umbi gadung memang mengandung sianida (HCN). Hasil uji yang telah dilakukan menunjukan bahwa 1 gram ekstrak

umbi gadung memiliki rata-rata 6,981 kemudian 2 gram ekstrak umbi gadung memiliki rata-rata 6,868, selanjutnya ektrask 3 gram umbi gadung memiliki rata-rata 13,678 dan hasil uji terakhir yaitu 4 gram ekstrak umbi gadung memiliki rata-rata 27,923.

Jika dilihat pada tabel 4.1, hasil uji menunjukkan bahwa pada 4 gram ekstrak umbi gadung memiliki tingkat rata-rata lebih tinggi dibanding dengan hasil uji yang lainnya. Hasil uji yang terendah terdapat pada rata-rata 6,68.

2. Pengamatan Mortalitas Ulat Grayak Setelah 24 Jam Pengaplikasian

Tabel 4.2 .Hasil Pengamatan Mortalitas Ulat Gryak Setelah 24 Jam Pengaplikasian Konsentrasi (%) Log10 Rata-Rata % Mortalitas Terkoreksi

Nilai Probit Nilai LC50 0 - - - - 5 0 47 4,92 2,897 10 0,301 57 5,18 15 0,477 87 6,04 20 0,602 83 5,95

Hasil data pengamatan setelah 24 jam pengaplikasian diperoleh data seperti pada tabel 4.2. Pada tabel 4.2 tersebut rata-rata mortalitas tertinggi terdapat pada konsentrasi 15% dengan hasil rata-rata berjumlah 87%. Sedangkan untuk hasil rata-rata mortalitas terendah terdapat pada konsentrasi 5%. Jika dilihat pada tabel pengamatan tersebut, terdapat penurunan hasil rata-rata mortalitas antara konsentrasi 15% dengan konsentrasi 20% dimana konsentrasi 15% memiliki rerata mortalitas yang lebih tinggi.

3. Hubungan antara konsentrasi ekstrak umbi gadung

Hubungan antara konsentrasi ekstrak umbi gadung dengan presentase kematian ulat grayak ditampilkan dalam grafik berikut ini.

Gambar 4.1 Hubungan Antara Konsentrasi dan Presentasi Kematian Ulat Grayak Pada 24 Jam Setelah Pengaplikasian untuk Memperoleh Nilai

LC50.

Hasil dari hubungan antara log10 konsentrasi (sumbu x) dengan nilai probit (sumbu y) pada grafik 4.1 didapatkan persamaan y-0,0914 + 1,5905 dan didapatkan nilai R2 yaitu = 0,84552. Nilai R terletak antara 0-1 dan nilai R akan lebih baik jika semakin mendekati 0-1 dikarenakan adanya korelasi hal ini sesuai yang telah dikemukakan oleh Sarwono (2006) sehingga nilai R pada gambar 4.1 ini memiliki korelasi yang sangat kuat. Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan dengan menggunakan microsoft exel 2010 dapat disimpulkan bahwa hasil dari nilai R yang telah diperoleh lebih baik karena mendekati nilai 1.

y = 0,091x + 1,5905 R2 = 0,846 1,65 1,7 1,75 1,8 1,85 1,9 1,95 2 0 1 2 3 4 5 P rob it Log10 Konsentrasi

Perhitungan nilai LC50 dengan menggunakan Microsoft Office Exel 2010 diperoleh hasil sebagai berikut:

y=ax+c 5=0,091x+1,591 x- x=37,462 Antilog dari x = 10^37,462 LC50 = 2,897

Hasil analisa probit yang telah dilakukan mendapatkan nilai LC50 sebesar 2,897. Hasil tersebut menunjukan bahwa dengan konsentrasi ekstrak umbi gadung sebesar nilai dari LC50 tersebut memiliki potensi sebagai pestisida nabati untuk membunuh hama ulat grayak karena telah membunuh sekitar 50% ulat uji. Adanya hasil yang telah didapatkan menunjukan bahwa pestisida yang berasal dari umbi gadung tersebut memiliki potensi dalam menanggulangi hama ulat grayak. Sebuah prodak yang dihasilkan seperti pestisida dapat dikatakan memiliki efek jika telah mampu mematikan sekitar 50% hama uji. Hasil tersebut telah diperoleh dengan perhitungan LC50.

Dokumen terkait