• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Pestisida Nabati

1. Pengertian Pestisida

Pestisida (Inggris : peticide) secara harafiah memiliki arti pembunuh hama (Pest : hama ; cida : pembunuh). Pestisida adalah substansi kimia yang digunakan untuk membunuh atau mengendalikan berbagai hama dalam arti luas (jazat pengganggu). Menurut Nirwana (2012) menyatakan bahwa pestisida nabati merupakan pestisida yang bahan dasarnya didapat dari tanaman yang bergetah sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 7 tahun 1973 definisi pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk :

a. Memberantas atau mencegah hama dan penyakit yang merusak tanaman, bagian tanaman atau hasil pertanian,

b. Memberantas atau mencegah hama luar pada hewan peliharaan dan ternak,

c. Mengatur atau merangsang tumbuhan yang tidak diinginkan, d. Memberantas atau mencegah hama air,

e. Memberantas atau mencegah binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada binatang yang perlu dilindungi.

Berdasarkan data pencatatan dari badan proteksi lingkungan Amerika Serikat pada tahun 1986 telah lebih dari 2600 bahan aktif pestisida yang telah diedarkan di pasaran yang terdiri dari 575 herbisida, 610 insektisida, 670 fungisida dan nematisida, 125 rodentisida. Di seluruh

dunia telah di pasarkan lebih dari 35.000 formulasi. Di Indonesia untuk keperluan perlindungan tanaman khususnya pertanian, perkebunan pada tahun 1986 telah tercatat 371 (Sudarmo, 2005).

Syarat dari pestisida yang ideal yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati yang diaplikasikan ke lingkungan adalah :

a. Memiliki toksisitas oral yang rendah, b. Tidak meninggalkan residu,

c. Memiliki toksisitas dermal yang rendah, d. Efektif terhadap organisme sasaran, e. Tidak mematikan organisme sasaran, f. Tidak fitotoksis

g. Tidak menimbulkan resisten pada organisme sasaran, h. Mudah didapat,

i. Murah,

j. Tidak mudah terbakar. 2. Pestisida Nabati

Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan. Pestisida nabati sudah dipraktikan 3 abad yang lalu pada tahun 1690, petani di Perancis telah menggunakan perasan daun tembakau untuk mengendalikan hama kepik pada tanaman buah persik. Tahun 1800 bubuk tanaman Pyrethrum digunakaan untuk mengendalikan kutu pada tanaman. Penggunaan pestisida nabati selain dapat mengurangi pencemaran

lingkungan, harganya relatif lebih murah apabila dibandingkan dengan pestisida kimia (Sudarmo, 2005).

Menurut Kardinan (2000), karena terbuat dari bahan alami maka jenis pestisida ini bersifat mudah terurai di alam jadi residunya singkat. Apabila diaplikasikan untuk membunuh hama maka pada waktu itu residunya akan cepat menghilang di alam setelah hama terbunuh sehingga tanaman aman untuk dikonsumsi.

Tumbuhan pada dasarnya mengandung banyak bahan kimia yang merupakan produksi metabolit sekunder dan digunakan oleh tumbuhan sebagai alat pertahanan dari OPT. Lebih dari 2.400 jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam 235 famili dilaporkan mengandung bahan pestisida. Oleh karena itu jika dapat mengolah tumbuhan ini sebagai bahan pestisida maka dapat mengendalikan hama dengan bahan yang ramah lingkungan (Kardinan, 2002).

Menurut Syakir (2011), ada beberapa jenis tanaman yang berpotensi menjadi bahan pestisida diantaranya :

a. Kelompok tumbuhan insektisida nabati

Merupakan kelompok tumbuhan yang menghasilkan pestisida pengendali hama insekta. Misalnya : bengkoang, serai, sirsak dan srikaya diyakini dapat menanggulangi hama jenis serangga.

b. Kelompok tumbuhan fungisida nabati

Merupakan kelompok tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan jamur patogenik antara lain cengkeh, daun sirih, sereh, pinang, dan tembakau.

c. Kelompok tumbuhan pestisida serbaguna

Kelebihan kelompok ini tidak hanya berfungsi untuk satu jenis misalnya insektisida saja tetapi juga berfungsi sebagai fungisida, bakterisida, moluskasida, dan nematisida. Tumbuhan yang dapat digunakan dari kelompok ini misalnya jambu mete, sirih, tembakau, umbi gadung dan nimba.

Syakir (2011) menjelaskan bahwa pestisida nabati memiliki beberapa fungsi diantaranya :

a. Repellant, yaitu menolak kehadiran serangga. Misal : dengan bau yang menyengat,

b. Antifidan, mencegah serangga memakan tanaman yang sudah disemprot,

c. Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa, d. Menghambat reproduksi serangga betina, e. Racun syaraf,

f. Mengacaukan sistem hormon di dalam tubuh serangga,

g. Antraktan, pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga,

3. Cara Masuk Pestisida ke dalam Tubuh Serangga a. Racun Lambung (Racun Perut, Stomach Poison)

Racun lambung (Racun Perut, Stomach Poison) adalah pestisida-pestisida yang membunuh serangga sasaran bila pestisida-pestisida tersebut masuk ke dalam organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding saluran pencernaan. Selanjutnya pestisida tersebut dibawa oleh cairan tubuh serangga ke tempat sasaran yang mematikan (misalnya susunan syaraf serangga). Oleh karena itu ulat harus terlebih dahulu memakan tanaman yang sudah disemprot dengan pestisida dalam jumlah yang cukup untuk membunuhnya (Panut, 2004).

b. Racun Kontak

Racun kontak adalah pestisida yang masuk ke dalam tubuh serangga lewat kulit (bersinggungan langsung). Hama akan mati bila bersinggungan (kontak langsung) dengan pestisida tersebut, kebanyakan racun kontak juga berperan sebagai racun perut (Panut, 2004).

c. Racun Pernafasan

Racun pernafasan adalah pestisida yang bekerja lewat saluran pernafasan. Hama akan mati bila menghirup pestisida dalam jumlah yang cukup. Kebanyakan racun nafas berupa gas atau bila wujud asalnya padat atau cair yang segera berubah atau menghasilkan gas dan diaplikasikan sebagai fumigansia, misalnya bromida, alumunium fosfida (Panut, 2004). Menurut Haryono (2011), pemanfaatan pestisida nabati memiliki beberapa kelebihan diantaranya :

i. Pestisida nabati relatif lebih mudah dibuat, ii. Lebih mudah terurai di alam,

iii. Lebih aman bagi manusia dan lingkungan,

iv. Pemanfaatan pestisida nabati dalam pengendali OPT, selain sebagai pengendali alamiah yang efektif dan berkelanjutan juga dapat berperan dalam meningkatkan daya saing produk melalui peningkatan efisiensi usaha dan image produk perkebunan ramah lingkungan.

v. Pemanfaatan pestisida nabati secara luas akan langsung berpengaruh terhadap berkurangnya volume penggunaan pestisida dan berdampak positif terhadap kualitas produk tanaman terutama dengan semakin terhindarnya produk dari kemungkinan pencemaran residu pestisida kimiawi.

Pemanfaatan pestisida nabati selain memiliki kelebihan juga memiliki beberapa kelemahan. Berbagai kelemahan pestisida nabati diantaranya:

i. Kandungan bahan aktif pada tanaman yang sangat bergantung pada varietas dan lokasi penanaman,

ii. Pemanfaatan berupa formulasi sederhana yang mudah ditiru, iii. Tidak tahan terhadap sinar matahari,

iv. Tidak tahan disimpan,

Dokumen terkait