• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. PEMBAHASAN

x=37,462 Antilog dari x = 10^37,462 LC50 = 2,897

Hasil analisa probit yang telah dilakukan mendapatkan nilai LC50 sebesar 2,897. Hasil tersebut menunjukan bahwa dengan konsentrasi ekstrak umbi gadung sebesar nilai dari LC50 tersebut memiliki potensi sebagai pestisida nabati untuk membunuh hama ulat grayak karena telah membunuh sekitar 50% ulat uji. Adanya hasil yang telah didapatkan menunjukan bahwa pestisida yang berasal dari umbi gadung tersebut memiliki potensi dalam menanggulangi hama ulat grayak. Sebuah prodak yang dihasilkan seperti pestisida dapat dikatakan memiliki efek jika telah mampu mematikan sekitar 50% hama uji. Hasil tersebut telah diperoleh dengan perhitungan LC50.

B. Pembahasan

1. Analisis hubungan antara kandungan HCN dengan mortalitas ulat grayak

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan setelah 24 jam pengaplikasian membuktikan bahwa saat ekstrak umbi gadung tersebut diberikan kepada larva S. littura perlahan-lahan ulat tersebut mengalami

penurunan nafsu makan, jika ulat mengalami penurunan nafsu makan maka hal ini menunjukkan bahwa pestisida tersebut memberikan efek terhadap ulat grayak yang dalam beberapa waktu akan mengakibatkan kematian karena mengalami kelaparan. Ekstrak pestisida tersebut telah memberikan pengaruh terhadap ulat grayak maka hal ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur bahwa ekstrak yang berasal dari umbi gadung tersebut memang berfungsi sebagai pestisida nabati dalam menanggulangi hama ulat grayak.

Menurut hasil pengamatan setelah 24 jam pengaplikasian yang dapat dilihat berdasarkan tabel 4.2 pemberian ekstrak umbi gadung pada konsentrasi 5%, 10% dan 15% mengalami peningkatan jumlah mortalitas yang terjadi pada ulat grayak. Hal ini terjadi karena kandungan senyawa HCN dari umbi gadung tersebut telah bekerja secara efektif sehingga memberikan pengaruh besar terhadap mortalitas ulat grayak. Namun, pada konsentrasi 20% terjadi penurunan jumlah mortalitas dibandingkan dengan konsentrasi 15% sehingga pada konsentrasi 20% meski terdapat kandungan HCN yang lebih banyak belum memberikan keefektifitasan pada hama ulat grayak dikarenakan pada saat diberikan perlakuan ada beberapa ulat yang tidak memakan daun tersebut atau menolak daun yang telah diberi ekstrak umbi gadung. Selain itu, beberapa konsentrasi yang mengalami penurunan persentase mortalitas pada ulat grayak tersebut disebabkan karena pestisida yang telah diaplikasikan tidak langsung menyerang organ vital seperti sistem saraf dan sistem sirkulasi terutama jantung, sehingga hal ini menjadi penyebab dimana pada konsentrasi tersebut kondisi S. littura masih mampu

bertahan dari senyawa racun yang terdapat pada ekstrak umbi gadung. Selanjutnya faktor dari metanol yang digunakan untuk membuat ekstrak mempengaruhi kadar HCN yang menyebabkan mortalitas ulat grayak dimana metanol tersebut tidak sepenuhnya melarutkan HCN dikarenakan tahap awal kerja metanol yaitu merusak membran sel sehingga menyebabkan isi dalam sel seperti HCN tersebut keluar namun dalam hal ini ketika metanol merusak membran sel, metanol terlebih dahulu menguap sebelum isi dalam sel keluar sehingga HCN yang terdapat pada vakuola dan sitoplasma masih terjaga didalam sel dan tidak ikut menguap bersama metanol, selain itu sifat yang terdapat pada metanol sebagai pelarut polar dan non polar. Karena adanya non polar inilah menjadi salah satu bahwa HCN masih terdapat pada umbi gadung sehingga pengapliakasian ekstrak sebagai pestisida kadar HCN masih dapat diidentifikasi dan memiliki pengaruh terhadap mortalitas ulat grayak dan hal ini dapat dibuktikan berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan di laboratorium chemix.

Konsentrasi kontrol 0% tidak mengalami perubahan atau tidak terdapat mortalitas pada ulat grayak sehingga dikatakan tidak berpengaruh terhadap larva ulat grayak. Konsentrasi 0% tersebut tidak memiliki pengaruh apapun terhadap kematian pada ulat grayak dikarenakan pada konsentrasi tersebut tidak terdapat kandungan HCN yang dapat menyebabkan ulat tersebut mati sehingga pada konsentrasi kontrol tidak terdapat gangguan pola makannya sehingga tidak dapat merusak sistem syaraf dan pencernaan.

2. Faktor-faktor penyebab mortalitas pada ulat grayak (S. littura)

Ulat grayak merupakan hama yang mampu menghabiskan daun dalam waktu satu malam saja. Pengamatan pola makan ulat grayak ini dilakukan pada saat mengamati siklus hidup ulat grayak dimana pemberian makan ulat grayak ini dilakukan dengan mengontrol pakannya setiap saat. Pemberian makan ulat grayak dilakukan menjelang sore hari karena pada saat sore hari atau ketika sinar matahri mulai redup maka ulat grayak akan lebih aktif.

Ulat grayak yang aktif memakan daun tomat mengakibatkan daun tomat yang dimakannya menjadi berlubang dan robek sehingga yang tersisa hanya tulang daunnya saja. Ulat grayak yang memakan daun tomat awalnya akan merobek atau memotong daun pada bagian tengah terlebih dahulu, setelah menghabiskan bagian tengah maka dilanjutkan pada bagian tepi daunnya. Lubang yang dihasilkan dari robekan ulat grayak ini cukup besar dan larva instar 1 umumnya memiliki kebiasaan makan dengan cara bergerombol.

Faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas dalam penelitian ini merupakan hasil dari pemberian pestisida yang berasal dari ekstrak umbi gadung. Mekanisme terjadinya mortalitas jika daun yang telah diberi ekstrak umbi gadung dimakan oleh ulat dan masuk ke dalam tubuh ulat maka dapat menyebabkan kematian pada ulat tersebut dikarenakan semakin banyak pestisida yang termakan oleh ulat maka racun tersebut akan mengganggu metabolisme dari ulat sehingga ulat kehabisan tenaga karena berusaha untuk menetralisir racun tersebut.

Menurut Yu ( 2015) senyawa yang berperan sebagai pengahambat yang lebih tinggi secara umum yaitu senyawa flavonoid yang sebagian besar merupakan allelokimia yang terdapat pada tanaman. Dalam penelitian yang telah dilakukan, ulat grayak yang digunakan sebagai serangga uji mengalami kematian sehingga dalam penelitian ini diperoleh bentuk tubuh ulat yang sudah lembek dan mengeluarkan cairan berwarna putih. Tubuh ulat yang mengeluarkan cairan berwarna putih tersebut dapat disebabkan karena adanya kandungan flavonoid yang terdapat pada umbi gadung sehingga tubuh ulat tersebut mengeluarkan cairan berwarna putih.

Cairan yang dikeluarkan oleh tubuh ulat grayak tersebut dikarenakan ulat grayak memakan daun yang telah diberi ekstrak umbi gadung. Daun yang termakan oleh ulat grayak akan masuk kedalam sistem pencernaan ulat yang mengakibatkan ulat tersebut mengalami gangguan metabolisme. Adanya gangguan metabolise pada organ pencernaan ulat akan menyebabkan terjadinya kerusakan organ.

Berikut merupakan bentuk tubuh ulat yang mengalami kerusakan akibat dari senyawa flavonoid.

Gambar 4.2. Ulat yang telah mati akibat senyawa Flavonoid dan mengeluarkan cairan putih

Dokumentasi Pribadi

Paparan sianida yang melalui pernapasan atau kulit, diserap sehingga memasuki aliran darah dan didistribusikan dengan cepat keseluruh organ dan jaringan tubuh. Didalam sel, sianida menempelkan metaloenzim dimana-mana yang membuat sel tidak aktif. Hal ini merupakan toksisitas dari inaktivasi sitokrom oksidase, sehingga menghambat fosforilasi oksidatif mitokondria dan menghambat respirasi seluler. Pergeseran metabolisme dari aerobik ke anaerobik akan memproduksi asam laktat. Akibatnya, jaringan tubuh yang membutuhkan oksigen tertinggi akan sangat dipengaruhi oleh keracunan sianida, yang akan berefek kejang hingga terhentinya pernapasan

Menurut pernyataan Hayuningtyas, dkk (2014:80) senyawa sianida dapat menghambat pernapasan dan menyebabkan perkembangan sel yang tidak sempurna. Sianida juga menghambat kerja enzim ferisitokrom oksidase dalam proses pengambilan oksigen untuk pernapasan. Sehingga serangga mengalami kesulitan untuk bernapas sampai serangga mengalami kematian.

Berikut merupakan bentuk tubuh ulat yang mengalami kematian akibat dari senyawa HCN.

Gambar 4.3. Ulat yang telah mati akibat senyawa Senyawa HCN Dokumentasi Pribadi

Dokumen terkait