METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Lokasi Penelitian
Desa Situ Udik
Desa Situ Udik merupakan salah satu Desa di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Secara geografis, Desa Situ Udik berbatasan dengan beberapa wilayah yaitu, sebelah Utara berbatasan dengan Desa Situ Ilir Cibungbulang, sebelah Selatan Desa Pasarean Pamijahan, sebelah Barat Desa Cimayang Pamijahan, dan sebelah Timur Desa Karacak Leuwiliang.
Desa Situ Udik memiliki luas wilayah 370.150 Ha, 460 M diatas permukaan laut yang terdiri dari 100 Ha lahan untuk pemukiman umum, 5 Ha lahan untuk peribadatan, 5 Ha lahan untuk pemakaman, 4,5 Ha lahan untuk jalan umum, 1,2 Ha lahan untuk sekolah, 0,5 Ha lahan untuk pertokoan/perdagangan, 1070 M2 lahan untuk perkantoran desa, dan 1,5 Ha lahan untuk lainnya. Desa ini memiliki rata-rata curah hujan sebesar 3009 mm per tahun dengan suhu rata-rata harian 19o C.
Desa Situ Udik terbagi menjadi 12 Rukun Warga dan 43 Rumah Tangga. Jumlah penduduk pada tahun 2010 adalah sebanyak 13.668 jiwa yang terdiri dari 7.043 jiwa penduduk laki-laki dan 6.625 jiwa penduduk perempuan dengan kepadatan penduduk sebesar 4.556 jiwa per kilometer persegi. Desa Situ Udik merupakan desa dengan luas dataran 300 Ha dan perbukitan/pegunungan seluas 71 Ha. Sumber pendapatan utama penduduk hampir sebagian besar berasal dari pertanian dan perkebunan.
Mata pencaharian sebagian besar penduduk Desa Situ Udik adalah sebagai buruh yaitu sebanyak 1.511 jiwa dan sebagai petani/peternak sebanyak 1.403 jiwa. Sisanya 421 jiwa sebagai wiraswasta, 242 jiwa sebagai pegawai swasta, 232 jiwa sebagai pegawai negeri sipil (PNS), 105 jiwa sebagai pengusaha kecil, dan 40 jiwa sebagai pensiunan PNS/ABRI.
Kelurahan Sukasari
Kelurahan Sukasari terletak di wilayah Kecamatan Bogor Timur dengan luas sekitar 48 Ha. Secara geografis, Kelurahan Sukasari berbatasan dengan beberapa wilayah yaitu sebelah Utara adalah Kelurahan Babakan Pasar, sebelah
32
Timur berbatasan dengan Kelurahan Baranangsiang, sebelah Barat berbatasan dengan Bondongan, dan sebelah Selatan berbatasan dengan Tajur.
Kelurahan Sukasari memiliki luas 48 hektar yang terdiri dari 7 Rukun Warga (RW), dan 39 Rukun Tetangga (RT). Berdasarkan data potensi sumberdaya manusia tahun 2009, jumlah kepala keluarga di Kelurahan Sukasari adalah sebanyak 2.543 kepala dengan jumlah penduduknya sebanyak 11.263 jiwa yang terdiri dari 5.668 jiwa penduduk laki-laki dan 5595 jiwa penduduk perempuan.
Mata pencaharian sebagian besar penduduk di Kelurahan Sukasari adalah sebagai karyawan perusahaan swasta yaitu sebanyak 225 jiwa, wiraswasta sebanyak 157 jiwa, pengusaha kecil dan menengah sebanyak 100 jiwa, pembantu rumah tangga sebanyak 70 jiwa, pegawai negeri sipil sebanyak 87 jiwa, dan pensiunan PNS/TNI/POLRI sebanyak 30 jiwa. Penduduk di Kelurahan Sukasari sebagian besar menganut agama islam (8.926 orang), Kristen (1.350 orang), Khatolik (829 orang), serta sisanya adalah Hindu, Budha, dan Khonghucu.
Sebagian besar penduduk Kelurahan Sukasari memiliki tingkat pendidikan tamat SD atau sederajat yaitu sebanyak 2.927 jiwa. Sementara itu, penduduk yang memiliki tingkat pendidikan tamat SMA sebanyak 1.620, tamat SMP sebanyak 1.560 jiwa, dan tamat akademi atau D1-D3 sebanyak 124 jiwa. Sisanya adalah tamat perguruan tinggi sebanyak 89 jiwa dan tidak tamat SD yaitu 290 jiwa. Jumlah penduduk wajib belajar 9 tahun usia 7-15 tahun berjumlah 2494 jiwa terdiri dari 1.987 jiwa masih sekolah dan 79 jiwa tidak sekolah.
Karakteristik Contoh Usia Contoh
Usia contoh pada penelitian ini berkisar antara 11 sampai 16 tahun. Usia pubertas menurut Hurlock (1980) dibagi menjadi tiga kategori yaitu puber awal (11-12 tahun), pertengahan puber (12-15 tahun), dan akhir puber (15-16 tahun).
Berdasarkan Tabel 3, sebaran usia contoh pada tiga kelompok (SBB, TK, dan kontrol) menunjukan sebagian besar contoh tersebar pada kategori usia pertengahan puber (12-15 tahun) yaitu 82,2 persen pada kelompok SBB, 100 persen pada kelompok TK, dan 79,3 persen pada kelompok kontrol. Hanya sebagian kecil berada pada kategori usia akhir puber (15-16 tahun) yaitu terdapat
satu orang (3,4 persen) pada kelompok kontrol. Rata-rata usia anak pada kelompok TK menunjukan kecenderungan yang lebih tinggi dibanding anak pada kelompok SBB dan kontrol. Namun, hasil uji beda Anova menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan usia contoh (p>0,05) pada ketiga kelompok contoh.
Tabel 3 Sebaran contoh berdasarkan usia dan kelompok
Usia Contoh SBB TK Kontrol
n % n % n % Awal puber (11-12) 4 14,8 0 0 5 17,2 Pertengahan puber (12-15) 23 85,2 31 100 23 79,3 Akhir puber (15-16) 0 0 0 0 1 3,4 Total 27 100 31 100 29 100 Mean ± std (tahun) 13,1 ±0,88 13,5 ±0,74 13,4 ±1,15 P-value 0,424 Jenis Kelamin
Jenis kelamin juga memegang peranan yang penting dalam perkembangan fisik dan mental seorang anak. Dalam hal anak yang baru lahir misalnya, jumlah anak laki-laki sedikit lebih besar daripada anak perempuan, tetapi anak perempuan kemudian tumbuh lebih cepat daripada anak laki-laki. Demikian juga dalam hal kematangannya, anak perempuan lebih dahulu matang dari anak laki-laki.
Contoh yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 87 responden dengan latar belakang pendidikan prasekolah yang berbeda. Berdasarkan Tabel 4, diketahui bahwa secara keseluruhan contoh yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, yaitu 51,9 persen pada SBB, 61,3 persen pada TK, dan 44,8 persen pada kelompok kontrol. Namun, contoh pada kelompok kontrol yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak daripada laki-laki.
Tabel 4 Sebaran contoh berdasarkan jenis kelamin dan kelompok
Jenis Kelamin SBB TK Kontrol
n % n % N %
Laki-laki 14 51,9 19 61,3 13 44,8
Perempuan 13 48,1 12 38,7 16 55,2
Total 27 100 31 100 29 100
Pendidikan Contoh
Contoh pada penelitian ini terdiri dari dua jenjang pendidikan yaitu Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Sebagian besar contoh
34
merupakan siswa yang bersekolah pada jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama yang duduk di kelas satu dan dua yaitu sebanyak 71 orang, sedangkan sisanya sebanyak 16 orang merupakan siswa Sekolah Dasar yang duduk di kelas enam, baik yang berasal dari sekolah Negeri maupun Swasta. Contoh yang berasal dari sekolah negri berjumlah 50 orang dan swasta berjumlah 37 orang.
Karakteristik Keluarga Contoh
Besar Keluarga
Besar keluarga menurut BKKN (1995) adalah keseluruhan jumlah anggota keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak, dan anggota keluarga lainnya. Besar keluarga terbagi tiga yaitu keluarga kecil (kurang sama dari 4 orang), keluarga sedang (5-7 orang), dan keluarga besar (lebih dari 7 orang).
Berdasarkan Tabel 5, presentasi terbesar contoh dari ketiga kelompok berasal dari keluarga kategori sedang (4-7 orang) dengan persentasi SBB sebesar 59,3 persen, TK sebesar 51,6 persen, dan kontrol sebesar 41,4 persen. Rata-rata besar keluarga menunjukkan contoh dari keluarga kelompok kontrol memiliki jumlah anggota keluarga yang lebih banyak dibandingkan kelompok SBB dan TK. Hasil uji Anova (p<0,05) menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara besar keluarga pada ketiga latar belakang prasekolah.
Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga dan kelompok
Besar Keluarga SBB TK Kontrol
n % n % n % Kecil ( ≤ 4) 5 18,5 5 16,1 1 3,4 Sedang (5-7) 16 59,3 16 51,6 12 41,4 Besar (>7) 6 22,2 10 32,3 16 55,2 Total 27 100 31 100 29 100 Mean ± std (orang) 5,89±1,65 6,06±1,65 6,96±2,09 P-valeu 0,049** **) signifikan pada p<0,05
Pendidikan Orang Tua
Pendidikan orangtua contoh berkisar antara tidak sekolah sampai dengan tamat perguruan tinggi dengan lama pendidikan dari nol sampai 16 tahun. Tabel 6 menunjukkan bahwa sebagian besar pendidikan orangtua contoh dalam penelitian
ini adalah tamat sekolah dasar. Presentasi ayah dengan pendidikan tamat sekolah dasar sebesar 46 persen dan presentasi ibu sebesar 57,5 persen.
Contoh dari kelompok kontrol memiliki persentasi terbesar ayah dengan pendidikan tamat sekolah dasar (65,5 persen). Hanya ayah dari kelompok TK yang memiliki pendidikan tamat perguruan tinggi (9,7 persen). Sementara itu, rataan lama tahun pendidikan ayah kelompok TK lebih tinggi dibandingkan dengan SBB dan kontrol yaitu 9,4 tahun. Hal ini karena ekonomi keluarga TK lebih baik dibandingkan SBB dan kontrol. Berdasarkan hasil uji beda, terdapat perbedaan (p<0,05) lama pendidikan ayah contoh pada ketiga kelompok.
Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pendidikan orangtua dan kelompok
Pendidikan Orangtua SBB TK Kontrol
n % n % N % Ayah Tidak sekolah 1 3,7 1 3,2 2 6,9 Tamat SD 10 37,0 11 35,5 19 65,5 Tamat SMP 7 25,9 5 16,1 4 13,8 Tamat SMA 9 33,3 11 35,5 4 13,8
Tamat Perguruan Tinggi 0 0 3 9,7 0 0
Total 27 100 31 100 29 100 Mean±std (tahun) 8,5±0,93 9,4±1,12 7,1±0,81 P-value (K-W) 0,011** Ibu Tidak sekolah 0 0 0 0 3 10,3 Tamat SD 18 66,7 13 41,9 19 65,5 Tamat SMP 4 14,8 12 38,7 5 17,2 Tamat SMA 5 18,5 5 16,1 2 6,9
Tamat Perguruan Tinggi 0 0 1 3,2 0 0
Total 27 100 31 100 29 100
Mean±std (tahun) 7,5±0,80 8,4±0,83 6,6±0,73
P-value (K-W) 0,016**
**) signifikan pada p<0,05
Ibu pada kelompok TK memiliki rataan lama tahun pendidikan yang paling tinggi diantara ketiga kelompok yaitu 8,4 tahun. Sama halnya dengan pendidikan ayah, hanya ibu pada kelompok TK yang memiliki pendidikan hingga perguruan tinggi. Hasil uji beda menunjukkan adanya perbedaan (p<0,05) lama pendidikan ibu contoh pada ketiga kelompok (Tabel 6).
Hasil penelitian menunjukan bahwa orangtua dari kelompok TK lebih tinggi tingkat pendidikannya dibandingkan orangtua dari kelompok SBB dan kontrol. Hal ini akan menentukan kualitas pengasuhan yang diberikan kepada
36
anak-anaknya, seperti dinyatakan oleh Soetjiningsih (1995) bahwa pendidikan orangtua merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak, dengan pendidikan yang baik maka orangtua dapat menerima segala informasi dari luar terutama tentang pengasuhan anak yang baik, menjaga kesehatan dan pendidikan anaknya. Setiap orangtua menpunyai tingkat pendidikan yang berbeda-beda dari segi kualitas maupun kuantitas.
Pekerjaan Orangtua
Berdasarkan data yang disajikan pada Tabel 7, diketahui bahwa persentasi terbesar ayah contoh dari kelompok SBB (37 persen) dan TK (35,5 persen) memiliki pekerjaan utama sebagai wiraswasta, sedangkan ayah dari kelompok kontrol sebagian besar bekerja sebagai buruh (34 persen). Terdapat 6,9 persen dari kontrol yang tidak memiliki pekerjaan. .
Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan orangtua dan kelompok
Pekerjaan Orangtua SBB TK Kontrol
n % n % n %
Pegawai Negeri Sipil 0 0 6 19,4 0 0
Petani 0 0 0 0 2 6,9 Wiraswasta 10 37,0 11 35,5 9 31,0 Sopir 3 11,1 0 0 4 13,8 Buruh 8 29,6 8 25,8 10 34,5 Pekerja Swasta 5 18,5 4 12,9 2 6,9 Pensiunan 1 3,7 2 6,4 0 0 Tidak bekerja 0 0 0 0 2 6,9 Total 27 100 31 100 29 100
Pendapatan Per Kapita Keluarga
Berdasarkan data BPS tahun 2009, batas garis kemiskinan di Jawa Barat yang dilihat dari pendapatan per kapita adalah sebesar Rp 191.985. Tabel 10 menunjukkan bahwa kelompok kontrol merupakan kelompok yang paling banyak memiliki pendapatan per kapita keluarga dibawah Rp 191.985 (kategori miskin) yaitu sebesar 65,5 persen dan hanya 6,9 persen yang tergolang keluarga tidak miskin (pendapatan per kapita diatas (Rp 287.977). Umumnya alasan mereka tidak masuk kelompok prasekolah karena faktor biaya sekolah yang cukup tinggi yang tidak dapat dipenuhi oleh keluarga tersebut (Hastuti 2006).
Tingkat Pendapatan Per Kapita Per Bulan
SBB TK Kontrol n % n % n % < Rp191.986 13 48,1 15 48,4 19 65,5 Rp191.985 - Rp239.981 4 14,8 3 9,7 7 24,1 Rp239.981 - Rp287.977 3 11,1 3 9,7 1 3,4 > Rp287.977 7 25,9 10 32,3 2 6,9 Total 27 100 31 100 29 100 Mean ± std (rupiah) 248.500±220.676 256.590±215.891 161.500±157.291 P-valeu 0,048** **) signifikan pada p<0,05
Berdasarkan tabel 8 terlihat bahwa hanya kelompok kontrol yang memiliki rata-rata pendapatan di bawah Rp 191.985. Dibandingkan dengan rata-rata pendapatan per kapita kelompok SBB (Rp 248.500) dan kontrol (Rp 161.500), maka rata-rata pendapatan per kapita TK adalah yang tertinggi yaitu Rp 256.590. Hal ini menandakan bahwa ekonomi keluarga kelompok TK lebih baik dibanding kelompok lainnya. Hasil uji beda Anova menunjukkan adanya perbedaan (p<0,05) pendapatan per kapita keluarga contoh pada ketiga kelompok.
Hasil penelitian menunujukan bahwa pendapatan per kapita kelompok SBB saat ini berada pada urutan ke dua setelah kelompok TK yang berarti terjadi peningkatan kesejahteraan ekonomi pada keluarga kelompok SBB. Berdasarkan Hastuti (2006), kelompok SBB memiliki pendapatan per kapita keluarga paling rendah dibandingkan kelompok contoh TK dan kontrol serta masuk dalam kategori miskin karena sasaran kelompok belajar prasekolah SBB memang ditujukan untuk masyarakat pra sejahtera. Hal ini berarti terdapat perubahan dalam hal status ekonomi saat ini pada kelompok SBB dibandingkan pada penelitian sebelumnya.
Pola Asuh Akademik
Pola asuh akademik yang diberikan orangtua adalah pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi anak, baik yang berupa biaya sekolah, maupun dalam bentuk perhatian, motivasi, dan dukungan orangtua terhadap prestasi dan kemajuan belajar anak. Pola asuh akademik meliputi seberapa besar interaksi dan stimulasi yang diberikan orangtua dalam hal dorongan untuk mencapai suatu prestasi, dan umumnya berhubungan dengan prestasi anak di sekolah maupun di luar sekolah yang terdiri dari pola asuh disiplin diri dan pola asuh dukungan berprestasi. Pola asuh asuh disiplin diri adalah pola asuh yang diberikan orangtua
38
untuk menanamkan sikap disiplin pada anak dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan pola asuh dukungan berprestasi adalah pola asuh yang diberikan orangtua berupa dukungan untuk berprestasi (Hastuti 2008).
Pada penelitian ini, pola asuh yang diberikan oleh orangtua kepada anaknya adalah pola asuh disipilin diri dan pola asuh dukungan berprestasi. Pemenuhan pola asuh disipilin diri menunjukan bahwa hampir seluruh ibu contoh pada ketiga kelompok prasekolah menjawab sering menyuruh contoh untuk mengaji, yaitu 92,6 persen SBB, 87,1 persen TK, dan 86,2 persen kontrol serta mencontohkan untuk sholat tepat waktu, yaitu 85,2 persen SBB, 90,3 persen TK, dan 79,3 persen kontrol (Lampiran 2).
Hal ini berarti bahwa ibu pada ketiga kelompok menginginkan anaknya disipilin dalam bidang agama. Disipilin adalah salah satu metode pengasuhan yang efektif untuk anak karena disiplin yang baik adalah upaya pencegahan prilaku negatif dan dorongan untuk terbentuknya prilaku positif (Hastuti 2008). Islam telah mengajarkan disiplin kepada anak sejak dini, orangtua berperan mendisiplinkan anak untuk mengerjakan sholat, beribadah dan beraktivitas lainnya. Islam memerintahkan sholat sebagai sebuah ibadah yang mengatur disiplin waktu, gerak, dan bacaan. Dengan kedisiplinan dalam mengerjakan sholat akan mewarnai kedisiplinan anak dalam kehidupannya (Prayitno 2004).
Pemenuhan pola asuh dukungan berprestasi menunjukan bahwa hampir seluruh ibu contoh pada ketiga kelompok prasekolah menegur contoh jika menonton televisi/main seharian, yaitu 96,3 persen pada kelompok SBB, 80,6 persen pada kelompok TK, dan 75,9 persen pada kelompok kontrol. Hal ini dikarenakan ibu contoh tidak ingin jika contoh terlalu banyak bermain dan melupakan pekerjaan rumah. Selain itu, ibu contoh juga sering memberi dorongan pada contoh untuk berprestasi di sekolah, yaitu 92,6 persen pada kelompok SBB, 87,1 persen pada kelompok TK, dan 96,6 persen pada kelompok kontrol. Pemenuhan pola asuh dukungan berprestasi yang perlu diperhatikan adalah pengetahuan ibu contoh tentang cita-cita contoh, karena hampir separuh ibu contoh dari ketiga kelompok prasekolah tidak mengetahui cita-cita anaknya (55,6 persen SBB, 48,8 persen TK, dan 65,5 pesen kontrol) (Lampiran 2).
Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan tingkat pola asuh akademik orangtua dan kelompok
Pola Asuh Akademik SBB TK Kontrol P-value
n % n % n %
Pola asuhdisipilin diri
Sedang (6,68-13,35) 6 22,2 5 16,1 10 34,5
Tinggi (13,36-20) 21 77,8 26 83,9 19 65,5
Total 27 100 31 100 29 100
Mean±std (persen skor) 79,4±14,2 79,8±12,5 78,6±15,3 0,965
Pola asuh dukungan berprestasi
Sedang (6,68-13,35) 9 33,3 10 32,3 11 37,9
Tinggi (13,36-20) 18 66,7 21 67,7 18 62,1
Total 27 100 31 100 29 100
Mean±std (persen skor) 73,2±17,4 73,5±15,6 71,5±18,1 0,961
Total pola asuh akademik
Sedang (13,34-26,67) 8 29,6 9 29,0 10 34,5
Tinggi (26,68-40) 19 70,4 22 71,0 19 65,5
Total 27 100 31 100 29 100
Mean±std (persen skor) 76,2±13,3 76,8±11,6 75,6±14,2 0,940
Tabel 9 menunjukkan bahwa sebagian besar contoh mendapatkan pola asuh disipilin diri dan dukungan berprestasi dengan kategori tinggi. Namun, secara persentase terdapat lebih banyak orangtua yang memberikan kualitas pola asuh disipilin diri dan dukungan berprestasi pada kategori tinggi di kelompok TK (83,9 persen dan 67,7 persen) dan SBB (77,8 persen dan 66,7 persen). Sementara pada kategori kualitas pola asuh disipilin diri dan dukungan berprestasi sedang proporsi terbesar terdapat pada kelompok kontrol (34,5 persen dan 37,9 persen).
Total pola asuh akademik yang diberikan orangtua (ibu) contoh pada ketiga kelompok prasekolah termasuk ke dalam kategori tinggi (77,8 persen SBB, 74,2 persen TK, dan 69,0 kontrol) dan tidak ada yang masuk dalam kategori rendah. Hal ini terlihat dari jawaban ibu contoh yang mencerminkan bahwa mereka memiliki kesadaran cukup tinggi untuk menjalankan pola pengasuhan yaitu dukungan dalam dal hal pencapaian keberhasilan akademik dengan baik pada contoh yang masuk kategori usia remaja.
Rata-rata pola asuh disiplin diri pada kelompok TK (79,8 persen) lebih tinggi dibandingkan kelompok SBB (79,4 persen) dan kelompok kontrol (78,6 persen). Begitu juga dengan pola asuh dukungan berprestasi pada kelompok TK (73,5 persen) lebih tinggi dibanding kelompok SBB (73,2 persen) dan kelompok kontrol (71,5 persen). Secara keseluruhan rata-rata skor total pola asuh akademik
40
yang diberikan orangtua kepada anak TK relatif lebih tinggi dibandingkan anak SBB dan kontrol. Namun, dibanding pada kelompok kontrol, rata-rata skor total pola asuh akademik pada kelompok SBB lebih tinggi. Hal ini karena adanya kerjasama antara pihak SBB dengan orangtua pada kelompok SBB dalam hal pengasuhan anak. Orangtua pada kelompok SBB diberikan materi co-parenting (pengetahuaan tentang pengasuhan anak) sehingga pengetahuaan dan kesadaran orangtua tentang pengasuhan menjadi bertambah.
Menurut Hastuti (2004) selain tingkat pendidikan orangtua, pengetahuan dan nilai serta kesadaran orangtua terhadap anak menjadi penentu yang cukup penting bagi kualitas pengasuhan yang diberikan kepada anak-anaknya.Walaupun rata-rata pola asuh akademik tertinggi barada pada kelompok TK tetapi hasil uji Anova (p>0.05) menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan yang nyata antara tingkat pola asuh akademik orangtua pada ketiga kelompok.
Ketersediaan Alat Stimulasi Akademik
Alat stimulasi akademik yang disediakan pada penelitian ini berupa buku pelajaran, lembar kerja siswa, kamus (Bahasa Indonesia/ Bahasa Inggris), buku-buku cerita/ novel, buku-buku harian, buku-buku gambar, alat menggambar, dan komputer.
Tabel 10 Sebaran contoh berdasarkan ketersediaan alat stimulasi akademik dan kelompok
No Ketersediaan Alat Stimulasi Akademik
SBB TK Kontrol
n % n % n %
1 Buku-buku pelajaran 26 96,3 28 90,3 28 96,6
2 Lembar kerja siswa 23 85,2 27 87,1 23 79,3
3 Kamus 19 70,4 22 71,0 17 58,6
4 Buku-buku cerita/ novel 12 44,4 27 87,0 7 2,5
5 Buku harian/diary 9 33,3 13 41,9 10 34,5 6 Buku gambar 22 81,5 25 80,6 18 62,1 7 Alat menggambar 17 63,0 23 74,2 9 31,0 8 Komputer 3 11,1 6 19,4 2 6,9 Mean ± std (skor) 53,9±21,3 61,3±23,3 43,7±15,1 P-value 0,005*** ***) signifikan pada p<0,05
Tabel 10 menunjukkan bahwa kelompok TK memiliki komputer dengan presentasi terbesar (19,4 persen). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang menemukan bahwa kelompok TK merupakan kelompok dengan pendapatan keluarga tertinggi dari ketiga kelompok. Orangtua TK mempunyai kemampuan
yang lebih dalam hal penyediaan stimulasi akademik yang termasuk kategori harga tinggi.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kelompok kontrol memiliki ketersediaan buku-buku pelajaran (96,6 persen) yang lebih banyak dari pada kelompok SBB (96,3 persen) dan TK (90,3 persen) padahal kelompok ini memiliki pendapatan per kapita yang paling rendah dibandingkan kelompok lainnya. Setelah ditelusuri ternyata hal ini disebabkan karena buku pelajaran yang mereka miliki tidak hanya berasal dari orangtua tetapi juga diperoleh secara gratis dari sekolah sebagai bantuan. Contoh dari kontrol masuk dalam kategori keluarga miskin sehingga sekolah memberikan keringanan melalui bantuan operasional.
Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan tingkat ketersedian alat stimulasi akademik dan kelompok
Ketersediaan Alat Stimulasi Akademik SBB TK Kontrol n % n % N % Rendah (0-2) 8 29,6 4 12,9 8 27,6 Sedang (3-5) 15 55,6 15 48,4 20 69,0 Tinggi (6-8) 4 14,8 12 38,7 1 3,4 Total 27 100 31 100 29 100 Mean±std (skor) 53,9±21,3 61,3±23,3 43,7±15,1 P-value 0,005*** ***) signifikan pada p<0,01
Berdasarkan Tabel 11 terlihat bahwa TK merupakan kelompok yang paling banyak ketersediaan alat stimulasi akademik pada kategori tinggi (38,7 persen) sedangkan kontrol yang terendah (3,4 persen). Begitu juga dengan skor rataan paling tinggi untuk ketersediaan alat stimulasi akademik terdapat pada kelompok TK (61,3 persen) dan yang terendah pada kontrol (43,7 persen).
Hal ini senada dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan per kapita keluarga kelompok TK termasuk paling tinggi dibanding kelompok SBB dan kontrol sehingga paling banyak dalam penyediaan alat stimulasi akademiknya. Hasil uji Anova (p<0,05) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat ketersediaan alat stimulasi akademik pada ketiga kelompok prasekolah. Hasil ini juga didukung oleh hasil penelitian Wandini (2008) serta Rahmaulina dan Hastuti (2008) yaitu semakin baik kondisi ekonomi keluarga maka akan semakin baik juga penyediaan fasilitas belajar anak yang akan menunjang prestasi akademiknya.
42
Prestasi Akademik
Menurut Slameto (1995) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sedangkan prestasi akademik menurut Suryabrata (2006) adalah hasil belajar terakhir yang dicapai siswa dalam jangka waktu tertentu. Prestasi akademik merupakan bentuk lain dari besarnya penguasaan bahan pelajaran yang telah dicapai, dan rapor bisa dijadikan hasil belajar terakhir dari penguasaan pelajaran tersebut. Prestasi akademik dapat diukur melalui skor prestasi akademik dari beberapa mata pelajaran yang dipelajari di sekolah (Suryabrata 2006).
Variabel prestasi akademik dikelompokan menjadi tiga kategori berdasarkan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) yang umum dipakai di sekolah, yaitu kurang (< 60,00), cukup (60,00-70,00), baik (70,10-75,00), dan sangat baik (>75,00). Sebaran rata-rata nilai skor prestasi akademik berdasarkan mata pelajaran dengan latar belakang pendidikan prasekolah disajikan pada Tabel 12.
Tabel 12 Sebaran rata-rata nilai skor prestasi akademik berdasarkan mata pelajaran dan kelompok
Skor Prestasi Akademik (Nilai Rapor)
SBB TK Kontrol
(mean±std) (mean±std) (mean±std)
Pendidikan Agama 74,2±5,8 74,1±8,3 72,9±7,2
Pendidikan Kewarganegaraan 71,9±6,8 72,7±7,8 71,8±6,9
Matematika 68,3±8,1 68,1±10,0 67,7±8,9
Bahasa Indonesia 73,7±6,1 73,5±7,2 72,4±7,4
Bahasa Inggris 70,1±6,7 69,4±7,0 66,2±7,5
Ilmu Pengetahuan Alam 71,6±6,8 72,6±7,6 71,8±8,2
Ilmu Pengetahuan Sosial 70,4±7,0 71,3±9,5 70,2±7,4
Rata-Rata (skor) 71,5±5,0 71,8±6,1 70,4±5,6
P-value 0,654
Berdasarkan Tabel 12, skor rataan paling tinggi untuk skor prestasi akademik terdapat pada kelompok TK (71,8 persen) sedangkan pada urutaan kedua adalah SBB (71,5 persen) dan yang terendah pada kelompok kontrol (70,4 persen). Namun, rata-rata skor nilai pada empat mata pelajaran yaitu mata pelajaran Pendidikan Agama, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris menunjukan bahwa skor tertinggi terdapat pada kelompok SBB. Adapun skor rata-rata tertinggi pada tiga mata pelajaran lainnya yaitu Pendidikan
Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan Alam, dan Ilmu pengetahuan sosial terdapat pada kelompok TK. Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Hastuti (2006) bahwa anak-anak yang ikut SBB memiliki skor kemampuan verbal dan matematika yang lebih unggul dibandingkan kelompok lainnya.
Hasil penelitian ini juga didukung oleh pendapat Megawangi (2004) bahwa pendidikan karakter yang ditanamkan pada anak-anak usia dini bukan saja membuat seorang anak mempunyai akhlak mulia, tetapi juga dapat meningkatkan keberhasilan akademiknya. Beberapa penelitian menunjukan bahwa ada kaitan erat antara keberhasilan pendidikan karakter dengan keberhasilan akademik serta prilaku sosial anak, sehingga dapat membuat suasana sekolah begitu menyenangkan dan kondusif untuk proses belajar mengajar yang efektif.
Megawangi juga mengutarakan bahwa pendidikan karakter yang diberikan pada anak usia prasekolah dapat membentuk prilaku positif, interaksi yang baik dengan gurunya, kemampuan mengelola emosi, percaya diri, kemampuan berinteraksi sosial dengan kawannya, dan kemampuan akademik yang baik. Pendidikan karakter ini telah ditanamkan pada anak-anak SBB.
Tabel 13 Sebaran contoh berdasarkan tingkat prestasi akademik dan kelompok
Skor Prestasi Akademik (Nilai Rapor) SBB TK Kontrol n % n % n % Cukup (60,00-70,00) 13 48,1 13 41,9 15 51,7 Baik (70,10-75,00) 8 29,6 10 32,3 8 27,6 Sangat baik(>75,00) 6 22,2 8 25,8 6 20,7 Total 27 100 31 100 29 100 P-value 0,654
Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa persentase terbesar contoh termasuk ke dalam kategori tingkat prestasi akademik cukup, yaitu hampir separuh contoh pada kelompok SBB (48,1%) dan kelompok TK (41,9%) dan separuh contoh pada kelompok kontrol (51,7%). Presentase terbesar contoh dengan prestasi akademik kategori baik dari ketiga kelompok prasekolah terdapat pada kelompok TK (25,8%), kemudian disusul oleh kelompok prasekolah SBB (22,2%) dan kontrol (20,7%).
Tingginya prestasi akademik pada kelompok TK dibanding kelompok lainnya didukung oleh hasil penelitian yang menemukan bahwa kelompok TK