Menurut Slameto (2003) belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Keberhasilan seseorang dalam belajar dapat diketahui dengan melakukan suatu evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk mendapat data pembuktian yang akan menunjukan sampai sejauh mana tingkat kemampuan dan keberhasilan siswa dalam pencapaian tujuan-tujuan sekolah. Di samping itu, juga dapat digunakan oleh guru dan para pengawas pendidikan untuk mengukur atau menilai sampai sejauh mana keefektifan pengalaman mengajar, kegiatan belajar, dan metode mengajar yang digunakan (Purwanto 2009).
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006) evaluasi hasil belajar merupakan proses untuk menentukan nilai belajar siswa melalui kegiatan penilaian hasil belajar. Tujuan utama penilaian ini adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dan tingkat keberhasilan tersebut ditandai dengan skala nilai berupa huruf, kata, atau simbol. Hasil evaluasi ini dapat difungsikan dan ditujukan untuk keperluan diagnostik kelemahan dan keunggulan siswa, seleksi untuk jenis jabatan dan pendidikan tertentu, kenaikan kelas, dan penempatan siswa pada kelompok yang sesuai.
Rapor merupakan perumusan terakhir sesaat penilaian hasil-hasil pendidikan yang bertujuan untuk mengetahui sudah sejauh mana kemajuan anak didik. Hasil dari tindakan mengadakan penilain ini dinyatakan dalam bermacam-macam perumusan yaitu dengan menggunakan lambang-lambang (A, B, C, D, E) dan menggunakan skala sampai 11 tingkat yaitu mulai dari 0 sampa 10. Di Indonesia pada umumnya menggunakan angka 0 sampai 10 atau 0 sampai 100. Selanjutnya pada tiap akhir masa tertentu (6 bulan) sekolah juga mengeluarkan rapor tentang kelakuan kerajinan dan kepandain siswa. Rapor ini merupakan perumusan terakhir yang diberikan oleh guru mengenai kemajuan atau hasil belajar siswa selama masa tertentu itu (Suryabrata 2006).
Prestasi akademik siswa juga dapat diukur melalui skor prestasi akademik dari beberapa mata pelajaran. Berdasarkan hasil penelitian Arisandi (2007),
10
prestasi akademik remaja dapat diukur melalui skor prestasi dari beberapa mata pelajaran yang meliputi Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, Komputer, dan Keseniaan, Matematika, IPA (Biologi, Fisika, Kimia), dan IPS (Ekonomi, Sejarah, Sosiologi, Akuntansi, Geografi).
Kemampuan berprestasi merupakan suatu puncak proses belajar. Pada tahap ini siswa membuktikan keberhasilan belajar, bahwa ia telah mampu memecahkan tugas-tugas belajar dan menstransfer proses belajar. Kemampuan berprestasi ini dipengaruhi oleh proses-proses penerimaan, pengaktifan, pra pengolahan, pengolahan, penyimpanan, serta pemanggilan untuk membangkitkan pesan dan pengalaman. Bila proses-proses tersebut tidak baik, maka siswa dapat berprestasi kurang atau dapat juga gagal berprestasi (Suryabrata 2006).
Tahap perkembangan kognitif anak menurut Piget yaitu: 1) tahap sensori motor (usia 0-18 bulan). Anak tergantung sepenuhnya pada tindakan fisik dan indranya dalam mengenali sesuatu. 2) tahap pre-operational (usia 18 bulan-6 atau 7 tahun). Kemampuan anak untuk berpikir tentang objek/benda, kejadian, atau orang lain mulai berkembang. Anak sudah mulai mengenal simbol (angka, kata-kata, gerak tubuh atau gambar) untuk mewakili benda-benda yang ada di lingkungannya. Namun cara berfikirnya masih tergantung pada objek konkrit, dan rentang waktu kekinian, serta tempat dimana ia berada. Mereka belum dapat berfikir abstrak sehingga memerlukan simbol yang konkrit saat menanamkan konsep pada mereka. 3) tahap concrete operational (usia 8-12 tahun). Pada tahap ini anak sudah dapat mengaitkan beberapa aspek masalah pada masa bersamaan. Anak sudah mulai dapat berfikir abstrak dan berfikir logis dalam memahami dan memecahkan persoalan, serta mengenal simbol-simbol. Namun mereka masih memerlukan objek konkrit untuk belajar. 4) tahap formal operational (usia 12 tahun - usia dewasa). Pada tahap ini anak sudah berfikir abstrak dan dapat berhipotesa. Mereka dapat menganalisis apa yang sudah lewat dan yang akan datang. Cara berfikir mereka tidak tergantung pada objek konkrit (Megawangi et al. 2004). Remaja di tahap formal operational dapat mengintegrasikan apa yang telah mereka pelajari dengan tantangan di masa mendatang dan membuat rencana
di masa depan. Mereka juga sudah mampu berpikir secara sistematik, mampu berpikir dalam kerangka apa yang mungkin terjadi (Desmita 2009).
Pendidikan Prasekolah
Pendidikan pada usia dini adalah salah satu upaya untuk mengoptimalkan berbagai potensi yang dimilki anak seperti potensi fisik, kognitif, bahasa dan sosio-emosional sehingga pada masa ini anak sangat membutuhkan stimulasi dan rangsangan dari lingkungannya. Anak usia dini adalah anak yang berada pada rentan usia 0-8 tahun. Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek seperti fisik, sosio-emosi, dan kognitif sedang mengalami masa yang tercepat dalam rentang perkembangan hidup manusia (Hartati 2007). Hasil studi yang dilakukan oleh Lawrence J. Schweinhart (1994) menunjukan bahwa pengalaman anak pada masa TK dapat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan anak selanjutnya (Megawangi 2004).
Anak usia dini mulai sadar dengan keadaan dilingkungannya pada umumnya dimulai dari usia 2 bulan sampai 1 tahun terutama perhatian yang berkaitan dengan penglihatan, alat peraba, dan alat pendengarannya. Selain itu, perhatian yang berkaitan dengan indra lainnya pun sudah ada tetapi kadarnya masih relatif kecil. Melalui pengalaman panca indra itu lah terjadi rangsangan terhadap neuron atau sel-sel otaknya yang kemudian membentuk hubungan neural sebagai dasar perkembangan emosi, sosial, dan intelektual seseorang. Apabila rangsangan ini terjadi secara terus menerus dengan berbagai variasi jenis dan jumlah serta mutu rangsangannya serta terjadi di sepanjang masa usia anak-anak maka secara konstruktif akan meningkatkan kecerdasan intelektual dan kebugaran fisik dan mentalnya (Sudjarwo 2009).
Banyak penelitian telah dilakukan mengenai manfaat langsung/jangka pendek dari program prasekolah pada pengembangan kognitif anak-anak dan sosial-emosional. Jika semua anak di taman kanak-kanak atau kelas satu telah mengikuti prasekolah maka kemampuan kognitif rata-rata akan naik. Manfaat tersebut akan membuat pengajaran lebih mudah, dan anak-anak akan cenderung untuk memiliki interaksi lebih baik dengan teman sebaya. Seberapa besar manfaat yang dihasilkan dari prasekolah tergantung pada pengajaran yang dilakukan pada program prasekolah, sedangkan manfaat jangka panjang terhadap perkembangan
12
sosial-emosional ditemukan dampak positif pada perilaku sosial, dan tidak ditemukan dampak negatif yang tinggi. Beberapa penelitian telah menemukan penurunan dalam kejahatan pada saat mereka dewasa (Barnet & Ackerman 2006).
Menurut Ellis (2010) beberapa manfaat jangka panjang dari pendidikan anak prasekolah, meliputi keterampilan sosial yang lebih baik, dan kemampuan lebih besar untuk fokus, studi menunjukkan bahwa anak-anak yang berpendidikan prasekolah lebih berpeluang untuk lulus dengan baik dan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi, serta terintegrasi dengan baik dalam hubungan sosial sebagai orang dewasa.
Pendidikan merupakan faktor dalam mengembangkan potensi remaja di masa depan. Kurangnya pendidikan akan menurunkan peluang untuk mengembangkan potensi mereka (Santrock 2007). Pendidikan berkarakter yang berkualitas perlu dibentuk sejak usia dini. Banyak pakar mengemukakan bahwa kegagalan penanaman karakter pada seseorang sejak usia dini akan membantuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya. Pendidikan prasekolah merupakan investasi jangka panjang bagi anak di masa depannya (Megawangi 2004).
Menurut Likona, anak-anak usia prasekolah sudah dapat diberikan pendidikan karakter dengan mengaktifkan rasa empati anak. Banyak hasil penelitian menunjukan bahwa pendidikan karakter yang diberikan pada anak prasekolah dapat membentuk prilaku positif, interaksi yang baik dengan gurunya, kemampuan mengelola emosi, percaya diri, kemampuan berinteraksi sosial dengan kawannya, dan kemampuan akademik yang baik (Megawangi 2004).
Otak manusia berkembang sangat pesat selama umur 2-4 tahun. Selama periode ini adalah masa kritis penentu kognitif anak, perkembangan sosial dan motorik. Pembelajaran prasekolah akan membantu meningkatkan pembelajaran dan produktiftivitas anak dalam masa perkembangannya. Program prasekolah menunjukkan investasi anak usia dini merupakan masukan paling penting bagi pengembangan kognitif, sosial dan motivasi keterampilan. (Raut 2003).
Solusi optimal menunjukkan bahwa orang tua dari keluarga miskin akan memiliki banyak manfaat ekonomi dengan mengikutkan anaknya pada program prasekolah. Anak-anak yang mengikuti program prasekolah akan meningkatkan mobilitas sosial, mengurangi ketimpangan pendapatan, akan meningkatkan
tingkat partisipasi perguruan tinggi, meningkatkan perilaku masyarakat/pidana, dan juga akan membawa pendapatan pajak yang lebih tinggi karena lebih banyak pekerja akan mendapatkan penghasilan upah yang lebih tinggi (Raut 2003).
Hasil penelitian Hastuti (2006) menunjukan bahwa skor karakter anak Semai Benih Bangsa (SBB) lebih tinggi daripada yang bukan SBB (TK dan kontrol). Selain itu, anak yang ikut program SBB juga mempunyai skor kemampuan verbal dan matematika yang lebih unggul dari kelompok lainnya. Jika melihat latar belakang murid SBB dari kelas ekonomi bawah, yaitu sama dengan latar belakang anak kontrol yang juga diteliti, seharusnya mereka mempunyai pencapaian skor yang sama dengan anak kontrol tapi karena ia masuk SBB pencapaian menjadi melonjak tinggi bahkan melebihi anak TK yang juga diteliti dengan ekonomi yang lebih mampu. Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan karakter melalui model character based integrated learning curriculum yang diberikan telah berhasil membentuk karakter anak.
Character based integrated learning curriculum adalah kurikulum pembelajaran terpadu yang berbasis karakter. Penerapan model ini sudah dilakukan oleh Indonesia Haritage Foundation (IHF) untuk anak-anak usia prasekolah melalui kegiatan SBB dan TK karakter. Kecakapan hidup dasar telah dikemas dengan mengarahkan mata ajaran normatif (PPKn, Sejarah, Bahasa Indonesia, Agama, Penjaskes, Kerteks) yang terfokus pada pembetukan karakter. Manfaat yang telah diamati dari model pembelajaran ini adalah motivasi dan antusias belajar peserta didik yang tinggi (Megawangi 2004).
Beberapa penelitian membuktikan bahwa pentingnya pendidikan karakter pada keberhasilan akademik anak. Dalam bulletin Charakter Educator diuraikan bahwa hasil studi Marvin Berkowith dari University of Missouri menunjukan peningkatan motivasi siswa dalam meraih prestasi akademik pada sekolah yang menerapkan pendidikan karakter. Pendidikan karakter membentuk kesehatan emosi anak yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif, memberikan motivasi belajar untuk kesuksesan dibidang akademik (Megawangi 2004).
Pola Asuh Akademik Remaja
Pola asuh akademik meliputi seberapa besar interaksi dan stimulasi yang diberikan orangtua dalam hal dorongan untuk mencapai suatu prestasi dan
14
umumnya berhubungan dengan prestasi anak di sekolah maupun di luar sekolah yang terdiri dari pola asuh disiplin diri dan dukungan berprestasi. Pola asuh disiplin diri adalah pola asuh untuk menanamkan sikap disiplin pada anak dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan pola asuh dukungan berprestasi adalah pola asuh berupa dukungan untuk berprestasi (Hastuti 2008).
Orangtua harus mampu mengelola disiplin dan aturan dalam kehidupan anak terutama dalam hal belajar. Belajar disiplin sebaiknya diterapkan semenjak usia muda, agar kebiasaan ini sudah terbentuk dan memudahkan anak dalam pergaulan dan hubungan sosial dengan teman-temannya. Keberhasilan disiplin diri menjadi pendukung kelancaran perkembangan kognitif dan prestasi belajar di sekolah. Sementara kognitif yang tinggi tidak menjamin keberhasilan sepenuhnya bila tidak didukung oleh faktor yang lain yaitu motivasi (Slameto 2003).
Pola asuh akademik yang diberikan orangtua adalah pemenuhan kebutuhan pendidikan anak, baik yang berupa biaya sekolah, maupun dalam bentuk perhatian, motivasi, dan dukungan terhadap prestasi dan kemajuan belajar anak. Pendidikan yang diberikan mencakup pendidikan formal, non-formal, ataupun informal yang dapat memberikan bekal kepada anak untuk hidup mandiri dan sesuai dengan minat dan bakat anak. Masa anak usia sekolah merupakan periode dimana orangtua menanamkan ketekunan, kerajinan, dan kepercayaan diri anak bahwa anak mampu mencapai prestasi yang diinginkannya (Hastuti 2008).
Erikson berpendapat bahwa perkembangan emosi positif sangat penting dalam perkembangan jiwa anak, dan ini sangat tergantung pada peran orangtua dan guru. Setiap anak akan dihadapkan pada dua keadaan yang saling bertolak belakang, yaitu emosi positif dan negatif. Pada setiap tahap perkembangan, seseorang akan mengalami konflik tarik menarik antara kedua emosi tersebut, keberhasilan dalam mengelola konflik ini terwujud apabila anak dapat mencapai emosi positif. Seorang anak dengan perkembangan emosi yang baik pada tahap sebelumnya, berpotensi untuk berkembang ke arah yang positif, yaitu anak yang penuh dengan kreatifitas, antusias dalam melakukan sesuatu, aktif bereksperimen, berimajinasi, berani mencoba, berani mengambil resiko, dan senang bergaul dengan kawannya (Megawangi et al. 2004).
Menurut Hurlock (1991) orang tua harus dapat memberikan pola asuh yang tepat sesuai dengan perkembangan anaknya, agar anak dapat mempersepsikan pola asuh yang diberikan kepadanya dengan baik sehingga dapat memotivasi belajarnya. Pola asuh adalah sikap orang tua dalam membimbing anak-anaknya. Perlakuan orang tua terhadap seorang anak akan mempengaruhi bagaimana ia memandang, menilai, dan juga mempengaruhi sikap anak terhadap orang tua serta kualitas hubungan yang berkembang di antara mereka.
Pengasuhan yang diberikan orang tua seperti lingkungan yang hangat dan mendukung akan membuat anak merasa aman sehingga memungkinkan mereka untuk meraih potensi sepenuhnya. Anak yang sukses dalam akademik adalah anak yang mendapatkan dukungan dari keluarga. Keterlibatan orangtua dalam pendidikan mengakibatkan anak mendapatkan nilai rata-rata yang lebih tinggi, perilaku yang lebih baik di sekolah dan di rumah (Santrock 2007).
Dalam pola asuh akademik terdapat beberapa aspek yang berhubungan dengan fungsi ekspresif dan perlu diperhatikan orangtua, yaitu penentuan jenis sekolah yang sesuai dengan kebutuhan anak, keterlibatan orangtua dalam proses belajar anak dan problem sosial anak di sekolah, kemampuan orangtua dalam mengajarkan peraturan dan nilai pada anak, keterampilan orangtua dalam mendorong prestasi belajar anak di sekolah, serta keterbukaan orangtua dalam membentuk kerjasama dengan pihak sekolah, terutama untuk memantau prestasi dan kemajuan belajar anak di sekolah (Hastuti 2008).
Kualitas pengasuhan pada anak usia 6 tahun keatas adalah orangtua yang mengasuh dengan baik memberikan stimulasi lingkungan, dorongan, menciptakan iklim, stimulasi aktif, melakukan partisipasi, memberikan reaksi emosi positif, serta variasi pengalaman yang cukup memadai. Dengan pengasuhan yang baik maka anak akan terdorong untuk melakukan perbuatan baik, mempunyai kebiasaan hidup yang relatif lebih baik pula, serta menjadi anak yang lebih baik karena dorongan dan teladan yang dibuat oleh orangtuanya (Hastuti 2006).
Berdasarkan hasil penelitian Nurina (2004) bahwa pengasuhan anak mempunyai pengaruh nyata positif terhadap prestasi belajar anak, yaitu aktivitas pengasuhan anak yang berbentuk keterlibatan atau berpengaruh terhadap pencapaian prestasi akademik anak artinya semakin baik pengasuhan anak maka
16
semakin baik prestasi akademik. Seperti yang diungkapkan Gunarsa dan Gunarsa (2004) bahwa hubungan suasana antara ibu dan anak dengan penuh kasih sayang akan mendorong anak untuk memotivasi dalam mencapai prestasi belajar.
Peran pengasuhan ayah juga dapat mempengaruhi prestasi akademik anak. Secara umum, ayah cenderung menerapakan gaya pengasuhan yang otoritas dan merangsang realitas anak. Sedangkan ibu cenderung memberikan kesenangan pada keinginan anak untuk memberi dorongan pada anak. Akan tetapi, pada dasarnya dalam mengasuh anak, ayah dan ibu harus memiliki filosofi manajemen yang sama. Orangtua yang efektif adalah orangtua yang senantiasa terlibat dalam pendidikan dan informasi yang berkaitan dengan pendidikan anak termasuk bertemu dengan guru di awal tahun pelajaran. Oleh karena itu, partisipasi orangtua terhadap belajar anak merupakan sumbangan yang signifikan pada prestasi akademik anak (Hawadi 2001).
Berns (1997) mengatakan bahwa peran sosial antar anggota keluarga dibagi berdasarkan tugas dan distribusi tanggung jawab atau wewenang. Ketika keluarga berada dalam keadaan harus memenuhi kebutuhannya sendiri, istri bertanggung jawab untuk menyiapkan makanan, pakaian, mengasuh anak, mengatur rumah, memelihara binatang peliharaan, dan merawat kebun. Sementara itu, secara tradisional suami atau ayah bertanggung jawab mendukung istri dan anak-anaknya. Peran ayah yang istrinya bekerja adalah membantu mengurus rumah tangga serta anak-anaknya. Hal ini berarti bahwa fungsi pengasuhan dijalankan secara bersama dan saling melengkapi antara suami dan istri.
Ketersedian Alat Stimulasi Akademik Remaja
Alat stimulasi akademik adalah fasilitas belajar yang disediakan untuk menunjang dan menstimuli kegiatan belajar anak. Berdasarkan hasil penelitian Hastuti (2006), ketersedian alat stimulasi akademik seperti buku, majalah, aneka Alat Permainan Edukatif (APE) dapat meningkatkan kecerdasan majemuk anak. APE adalah aneka permainan yang dapat menstimulasi tumbuh kembang anak.
Stimulasi orangtua merupakan faktor yang mempengaruhi secara signifikan terhadap perkembangan kognitif anak. Di bidang pendidikan, orang tua memiliki pengaruh besar terhadap prestasi akademik anak. Adapun peran yang dapat orangtua lakukan untuk menunjang prestasi akademik anak antara lain,
menyedikan tempat yang kondusif di rumah untuk anak belajar, menyediakan buku-buku referensi sebagai sarana pembelajaran anak, mengatur waktu kegiatan anak, memperhatikan kegiatan anak di rumah dan sekolah (Papalia & Olds 1989).
Hasil penelitian Wandini (2008) menunjukkan bahwa sebagian besar contoh dengan fasilitas belajar sedang memiliki prestasi akademik pada kategori sedang, sedangkan lebih dari separuh contoh dengan fasilitas belajar yang baik memiliki prestasi akademik pada kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik fasilitas belajar anak, maka semakin baik prestasi akademiknya.
Faktor Karakteristik Remaja yang Berhubungan dengan Pola Asuh Akademik dan Prestasi Akademik
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Secara psikologis masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa di bawah tingkat orang yang lebih tua melainkan dalam tingkatan yang sama. Transformasi intelektual yang khas dari cara berfikir remaja memungkinkannya untuk mencapai integrasi dalam berhubungan sosioal dengan orang dewasa (Hurlock 1980).
Usia anak. Usia pubertas pada remaja menurut Hurlock (1980) dibagi menjadi tiga kategori yaitu awal puber (11-12 tahun), pertengahan puber (12-15 tahun), dan akhir puber (15-16 tahun). Awal masa remaja biasanya disebut sebagai “usia belasan”. Blos dalam Sarwono (2008) menjelaskan tahap usia pubertas pada remaja yaitu:
1. Awal puber. Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu.
2. Pertengahan puber. Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Ia senang kalau banyak teman yang menyukainya. Ada kecenderungan “narcistic” yaitu mencintai diri sendiri dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dirinya.
3. Akhir puber. Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek, egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain dan
18
dalam pengalaman-pengalaman baru, terbentuknya identitas, egosentrisme, tumbuh dinding yang memisahkan diri pribadinya dan masyarakat umum.
Usia anak merupakan faktor yang dipertimbangkan orangtua dalam mendidik anaknya. Orangtua harus mengetahui tahapan perkembangan anak dalam setiap rentang usianya. Secara umum, tahapan perkembangan anak dapat memberikan pengetahuan tentang aktivitas, materi, pengalaman, interaksi sosial yang sesuai, menarik, aman, mendidik, dan menantang bagi anak. Pengetahuan ini dapat digunakan dalam mendidik anak yang patut. Pendidikan yang patut adalah pendidikan yang sesuai dengan umur, perkembangan psikologis, dan kebutuhan spesifik anak sehingga anak akan merasa nyaman berada dalam lingkungannya sehingga akan berpengaruh pada prestasinya di sekolah (Megawangi et al. 2004).
Anak selalu tertarik pada sesuatu yang baru. Namun, rasa ingin tau dan dorongan untuk belajar semakin berkurang sesuai dengan bertambahnya usia anak. Hal ini terjadi apabila cara siswa dalam memperoleh mempengaruh pengetahuan dan keterampilan dirasa begitu majemuk dan memakan waktu sehingga membuat minatnya semakin menghilang (Hawadi 2001).
Jenis kelamin. Jenis kelamin merupakan salah satu pertimbangan orangtua dalam menerapkan pola asuh kepada anak. Praktik pengasuhan yang berbeda antar jenis kelamin disebabkan karena adanya pertumbuhan fisik, perkembangan mental, dan sosial anak terutama pada masa akhir sekolah. Anak laki-laki dianggap lebih diberi kesempatan untuk mandiri sehingga mereka lebih menunjukkan inisiatif dan spontan (Hawadi 2001).
Pada dasarnya gaya pengasuhan tidak membedakan gender anak, karena baik anak laki-laki maupun perempuan memerlukan gaya pengasuhan yang mengarah pada gaya pengasuhan authoritative. Ini berarti baik anak laki-laki maupun anak perempuan mempunyai hak yang sama untuk menerima kehangatan dan kasih sayang dari orangtua, serta juga memiliki hak yang sama untuk menerima pembatasan dan peraturan yang berhubungan dengan kehidupan untuk mencapai kompetensi yang diharapkan orangtua dan masyarakat. Namun demikian, dalam pemberian pola asuh fisik/motorik, kognitif/intelektual, sosial emosi, ataupun moral dan disiplin, terdapat keragaman pengasuhan sesuai dengan kondisi biologis anak laki-laki dan perempuan yang berbeda (Hastuti 2008).
Orangtua sering memiliki harapan yang berbeda terhadap remaja laki-laki dan perempuan terutama pada masalah akademik (pelajaran matematika dan ilmu pengetahuan). Banyak orangtua menganggap bahwa pelajaran matematika lebih penting bagi masa depan anak laki-laki daripada perempuan, dan anggapan orangtua tersebut mempengaruhi penilaian remaja terhadap prestasinya dalam pelajaran matematika (Santrock 2007).
Faktor Karakteristik Keluarga yang Berhubungan
dengan Pola Asuh Akademik, Ketersediaan Alat Stimulasi Akademik, Besar keluarga. Besar keluarga menurut BKKN (1995) adalah keseluruhan jumlah anggota keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak, dan anggota keluarga lainnya. Besar keluarga terbagi tiga yaitu keluarga kecil (≤4