• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mekanisme Kegiatan Pemanfaatan Air di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Kegiatan pemanfaatan air di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) telah dimulai dari tahun 1996 melalui konsep kemitraan dan mulai terorganisir pada tahun 2006 sampai dengan saat ini melalui suatu wadah yang dinamakan Forum Peduli Air (FORPELA)-TNGGP dengan membuat perjanjian kerjasama atauMoU(Memorandum of Understanding). Secara ringkas, mekanisme kegiatan pemanfaatan air di kawasan TNGGP dapat diilustrasikan pada Gambar 9.

Gambar 9 Skema mekanisme kegiatan pemanfaatan air di TNGGP

(Tahun 1996) Ijin Pemanfaatan Kawasan untuk fasilitasi pemanfaatan air berdasarkan

SK. Dirjen PHKA No. 531/DJ- VI/Binprog/96

(Tahun 1999) Kesepakatan Konservasi Desa (KKD) dalam bentuk kerjasama

Pihak pengguna air non

komersial BB TNGGP Sebelum tahun 2006 (Juni-Oktober 2005) Konsultasi ide kemitraan & inventarisasi pihak pengguna air (BB TNGGP, RCS, dan ESP- USAID) (Oktober- Desember 2005) Pertemuan &pembentukan kelompok kerja di pihak pengguna air di Cianjur, Bogor. Sukabumi. (Januari- Februari 2006) Pembentukan FORPELA secara informal & penyusunan AD/ART

( Maret 2006 – saat ini) Pengesahan FORPELA danMoUberdasarkan

Kepmenhut No. 390/Kpts-II/2003, P. 19/Menhut-II/2004, dan

SE Dirjen PHKA No. No. 3/IV-SET/2008 FORPELA MoU BBTNGGP Inventarisasi sumber air Pihak Pengguna Air Komersial dan Non-

Komerisal

Kegiatan Pemanfaatan Air di Kawasan TNGGP Sebelum Tahun 2006

Kegiatan pemanfaatan air di kawasan TNGGP dimulai pada tahun 1996 melalui Ijin Pemanfaatan Kawasan untuk pembangunan fasilitas bak penampung dan pemasangan pipa dari dalam kawasan yang akan disalurkan keluar kawasan. Dasar penerbitan ijin tersebut yaitu Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Nomor 531/DJ-VI/Binprog/96 tanggal 29 Juli 1996 dengan masa berlaku 3 (tiga) tahun, namun hal tersebut belum mempertimbangkan keberadaan zonasi. Pola perijinan tersebut hanya berlangsung sementara karena selanjutnya ijin tersebut tidak pernah dikeluarkan lagi bagi pengguna air yang baru.

Pada tahun 1999, Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BTNGGP) mulai berupaya untuk menindaklanjuti kegiatan pemanfaatan air secara formal setelah ada permintaan untuk dapat memanfaatkan air dari dalam kawasan mulai meningkat, terutama bagi pihak yang akan menggunakan air untuk mendukung kegiatan usaha. Saat itu belum ada peraturan yang mengatur kegiatan pemanfaatan sumber daya air pada Kawasan Pelestarian Alam (KPA), sehingga Balai TNGGP menerapkan sistem Kesepakatan Konservasi Desa (KKD) melalui penyusunan Naskah Kesepakatan Konservasi Pemanfaatan Air dari dalam Kawasan TNGGP. Kesepakatan tersebut mengatur hak dan kewajiban pihak pengguna air untuk ikut berpartisipasi dalam melakukan upaya pelestarian, pengamanan dan rehabilitasi kawasan TNGGP, sedangkan pihak pengelola memiliki kewenangan untuk menghentikan kegiatan pemanfaatan air apabila pihak pengguna air tidak mematuhi kesepakatan. Masa berlaku kesepakatan tersebut adalah 5 (lima) tahun dan dilakukan evaluasi setiap tahun serta dapat diperpanjang kembali apabila kedua belah pihak menyetujui.

Kegiatan pemanfaatan air di kawasan TNGGP pada tahun 1996-1999 belum terkelola secara optimal, oleh karena dasar hukum pelaksanaan kegiatan pemanfaatan tersebut belum ada. Di lain sisi, pengaturan kegiatan di KPA, khususnya taman nasional telah diatur pada tahun 1998 melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, namun pada peraturan tersebut jenis kegiatan yang diperkenankan di taman nasional sebatas kegiatan penelitian dan pengembangan, pendidikan, pariwisata, dan penunjang budidaya, serta belum memperkenankan kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan. Meskipun setahun kemudian yaitu pada tahun 1999 telah diterbitkan Undang-undang Nomor 41 tentang Kehutanan, namun peraturan tersebut belum menetapkan jenis kegiatan pemanfaatan yang diperbolehkan di dalam hutan konservasi atau KPA. Hal ini menyebabkan sistem KKD hanya bersifat normatif atau berdasarkan kesepakatan kedua pihak saja dan tidak dapat berlangsung lama.

Pada tahun 2003, kerjasama kegiatan pemanfaatan air di kawasan TNGGP mulai mendapat dukungan formal melalui terbitnya Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 390/Kpts-II/2003 tentang Tata Cara Kerjasama di Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, meskipun dalam keputusan tersebut hanya menyampaikan bahwa salah satu bentuk kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang dapat dilakukan kerjasama adalah kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan, tanpa menyebutkan jenis kegiatan lebih rinci. Dalam keputusan tersebut, kerjasama dilakukan antara pihak

Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) dengan mitra, dimana dalam hal ini ruang lingkup perjanjian masih bersifat sangat luas karena belum melibatkan pihak pengelola unit KPA di lapangan.

Peraturan yang lebih tinggi yang mengatur tentang kegiatan pemanfaatan air mulai ada pada tahun 2004 melalui penerbitan Undang-undang Nomor. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air pada tanggal 18 Maret 2004 dengan ruang lingkup wilayah sungai dan dikecualikan pada KPA. Hal ini berarti peraturan tersebut hanya mengatur kegiatan pemanfaatan sumber daya air di bagian hilir, namun oleh karena saat itu undang-undang tersebut merupakan satu-satunya peraturan tertinggi yang mengatur kegiatan pemanfaatan air, maka undang-undang tersebut wajib untuk dijadikan acuan dalam kegiatan pemanfaatan air. Salah satu peraturan lain di bidang kehutanan yang dapat dijadikan dasar pelaksanaan kegiatan ini yaitu Peraturan Menteri Kehutanan Nomor. P.19/Menhut-II/2004 tentang Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam yang diterbitkan pada tanggal 19 Oktober 2004. Dalam peraturan tersebut disampaikan bahwa salah satu kegiatan yang dapat dilakukan kolaborasi atau kerjasama yaitu bentuk kerjasama pemanfaatan jasa lingkungan.

Berdasarkan kronologis peraturan kebijakan yang menjadi acuan kegiatan pemanfaatan air di TNGGP sebelum tahun 2006, istilah pemanfaatan air belum didefinisikan secara eksplisit dalam setiap acuan tersebut dan secara implisit dianggap sebagai salah satu jenis kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan. Hal ini menyebabkan kegiatan pemanfaatan air di TNGGP belum mendapat pengakuan secara formal dan menimbulkan ketidakjelasan kewenangan pengelolaan pemanfaatan air tersebut, antara di bawah kewenangan pihak pemerintah pusat (Kementerian Kehutanan) atau pemerintah daerah (kabupaten atau provinsi).

Kegiatan Pemanfaatan Air di Kawasan TNGGP Setelah Tahun 2006

Kerjasama pemanfaatan air di TNGGP mulai diperkuat pada tahun 2006 setelah Balai TNGGP mulai menerapkan pola kemitraan dengan lembaga pihak pengguna air langsung yaitu pengguna yang menggunakan sarana pemanfaatan air langsung ke sumber air yang berada di dalam kawasan TNGGP, melalui

kesepakatan berupa Perjanjian Kerjasama atau MoU. Lembaga yang

beranggotakan pengguna air tersebut dinamakan Forum Peduli Air (FORPELA). Selain sebagai wadah koordinasi dan komunikasi antara pihak pengelola kawasan dan pihak pengguna air, FORPELA didirikan dengan tujuan membangun keterlibatan pihak pengguna air dalam kegiatan pemeliharaan, perlindungan, dan pelestarian kawasan. Keterlibatan pihak pengguna air tersebut dibangun sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam upaya menjaga kelestarian sumber daya air melalui skema jasa lingkungan/PES (Payment for Environmental Services). PES merupakan kompensasi atau insentif bagi masyarakat atau pihak yang menjaga, memelihara dan memperbaiki fungsi ekologis hutan (FORPELA, 2009).

Kesepakatan kerjasama ini masih mengacu pada Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 390/Kpts-II/2003 tanggal 3 Desember 2003 tentang Tata Cara Kerjasama di Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya

dan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.19/Menhut-II/2004 tentang

lingkup kerjasama pemanfaatan air di kawasan TNGGP karena pada peraturan tersebut disampaikan bahwa pada KPA dapat dilakukan kolaborasi kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan dengan pihak pemerintah daerah, masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), BUMN, BUMD, BUMS, dan lembaga pendidikan. Selain itu, acuan tersebut masih digunakan karena sampai dengan tahun 2006, peraturan terkait kegiatan pemanfaatan air di KPA masih belum diterbitkan.

Forum Peduli Air (FORPELA)-TNGGP didirikan secara formal pada tanggal 6 Maret 2006 di kantor Balai TNGGP. Pihak-pihak yang membantu BTNGGP dalam memfasilitasi pembentukan forum ini antara lain yaitu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) lokal bernama Raptor Conservation Society (RCS) dan LSM internasional Environmental Services Program (ESP) yang di bawah naungan lembaga USAID (United States Agency International Development) yang berasal dari negara Amerika Serikat. Proses pembentukan forum ini melalui beberapa tahap sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12 Tahapan pembentukan FORPELA

No. Waktu Pelaksanaan Lokasi Kegiatan 1. Juni – Agustus dan 10,11, 13 September 2005

Balai TNGP Konsultasi ide pengembangan kemitraan dan inventarisasi pengguna air di tiga kabupaten yaitu Cianjur, Bogor, dan Sukabumi. 2. 3, 6, 10 Oktober

2005

Bogor, Cianjur, Sukabumi

Pertemuan langsung dengan para pengguna air di tiga kabupaten yaitu Cianjur, Bogor, dan Sukabumi dengan tujuan

mensosialisasikan ide forum kemitraan tersebut.

3. 7 – 9 Desember 2005

Bogor, Cianjur, Sukabumi

a. Pembentukan Kelompok Kerja Wilayah Cianjur, Bogor, Sukabumi, dengan kedudukan sekretariat sementara :

1) Wilayah Bogor di PT. Rejo Sari Bumi Unit Tapos, Ciawi;

2) Wilayah Cianjur di Desa Sukatani, Gunung Putri;

3) Wilayah Sukabumi di PT. Eissai Indonesia

b. Kelompok kerja wilayah tersebut bertugas untuk menyusun rencana program untuk diajukan kepada BTNGP, mensosialisasikan hasil-hasil pertemuan, dan mempresentasikan hasil-hasil kesepakatan dalam pertemuan umum. 4. 15 – 20 Desember

2005

Re-inventarisasi dan pemetaan data pengguna air di tiga wilayah (Cianjur, Bogor,

Sukabumi). 5. 18 Januari 2006 Hotel Bukit Indah,

Cianjur

Pembentukan FORPELA secara informal di Cianjur.

Tabel 12 (Lanjutan)

Sumber : FORPELA (2006)

Dalam perkembangannya, FORPELA tidak terbatas sebagai wadah koordinasi dan komunikasi antara pihak pengelola kawasan TNGGP dan pihak pengguna air, namun juga sebagai wadah untuk bekerjasama dengan pihak lain yang peduli terhadap keberadaan kawasan TNGGP sebagai daerah tangkapan air (catchment area) 4 (empat) hulu DAS yaitu Ciliwung, Cisadane, Citarum, dan

Cimandiri (BB TNGGP 2010) agar dapat memberikan manfaat yang

berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya dalam potensi jasa lingkungan air. Sebagaimana tertulis dalam Pasal 5 dan Pasal 7 AD/ART FORPELA (2006), bahwa FORPELA bertujuan untuk membantu serta mendorong program pembangunan pemerintah dalam pengembangan jasa lingkungan air di kawasan TNGGP, sehingga kawasan TNGGP dapat mempunyai sistem dan mekanisme pengelolaan serta pemanfaatan jasa lingkungan air yang selalu memperhatikan aspek kaidah lingkungan, melalui promosi, fasilitasi, konsultasi, dan advokasi.

Setelah tahun 2008, acuan kegiatan pemanfaatan air di kawasan TNGGP diperkaya dengan adanya Surat Edaran Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (SE Dirjen PHKA) No. 3/IV-SET/2008 tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air di KSA dan KPA, yang menyebutkan bahwa bentuk kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan air yang dapat dilakukan di kawasan konservasi adalah pemanfaatan massa air untuk air minum, air bersih, air minum dalam kemasan (AMDK), pertanian, kehutanan, perkebunan, dan industri, sertaa pemanfaatan aliran air untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) atau mikro hidro. Dalam SE tersebut disampaikan bahwa kegiatan pemanfaatan jasa lingkungan air dilakukan atas dasar kemitraan melalui perjanjian kerjasama. Hal

No. Waktu

Pelaksanaan

Lokasi Kegiatan

6. 21 dan 28 Februari 2006

PT. Rejo Sari Bumi Unit Tapos, Ciawi Bogor

a. Perumusan Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART),

penyusunan program kerja, dan perumusan bentuk kesepakatan dengan pihak pengelola kawasan (BTNGP)

b. Dalam AD FORPELA disebutkan bahwa dana pengelolaan program kerja FORPELA diperoleh dari iuran pokok dan iuran wajib anggota, hasil usaha, dan sumbangan (hibah).

c. Dalam ART FORPELA ditetapkan : 1) Iuran pokok anggota (dibayar sebulan

setelah bergabung sebagai anggota) untuk Komersil sebesar Rp. 500.000 - 5.000.000 dan Non komersil sebesar Rp. 50.000 – 2.000.000.

2) Iuran wajib (dibayar setiap bulan) untuk Komersil sebesar Rp. 50.000 – 200.000 dan Non komersil sebesar Rp. 20.000 – 100.000.

7. 6 Maret 2006 Balai TNGP Penandatanganan (pengesahan) AD/ART FORPELA TNGP.

ini turut memperkuat kegiatan kemitraan FORPELA-TNGGP yang telah dibentuk sebelumnya pada tahun 2006.

Pengguna air di kawasan TNGGP terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu pengguna air non komersial dan komersial. Pengguna air non komersial ditujukan kepada desa pengguna air yang berada di daerah penyangga kawasan TNGGP, dimana mayoritas penduduknya kekurangan air bersih dan kesulitan mendapatkan pelayanan air dari luar atau Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), serta penggunaan air tersebut hanya untuk kebutuhan rumah tangga, dan atau pertanian, namun tidak untuk tujuan usaha. Kondisi ini terjadi umumnya karena tingkat kesejahteraan masyarakat desa tersebut sangat rendah sehingga masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk memperoleh SPAM, dan secara geografis lokasi desa cukup sulit untuk ditempuh pihak pemerintah daerah (Pemda) dalam membangun sarana dan prasarana penyaluran air, sehingga membutuhkan investasi yang cukup tinggi bagi Pemda apabila ingin menjangkau masyarakat desa tersebut. Dengan demikian, pemanfaatan air dari dalam kawasan TNGGP sebagai lokasi sumber air terdekat merupakan solusi terbaik dalam mengatasi kebutuhan air bagi masyarakat desa tersebut, karena tidak membutuhkan biaya yang mahal dan airnya berlimpah. Pengguna air komersial ditujukan pada pelaku usaha atau perusahaan yang berada di lokasi daerah penyangga kawasan TNGGP yang menggunakan air untuk mendukung kegiatan usaha yang dilakukannya, seperti hasil-hasil pertanian, hortikultura, peternakan, penginapan umum/hotel, dan pelayanan wisata

Pihak pengguna air yang bermaksud untuk memanfaatkan air dari dalam kawasan akan menghubungi pihak Balai TNGGP baik secara langsung ataupun melalui FORPELA. Setelah pihak pengguna air berkoordinasi dengan pihak Balai TNGGP, maka dilakukan kegiatan inventarisasi sumber air yang terdekat dengan lokasi pihak pengguna, dan jika tidak ditemukan kendala atau permasalahan secara teknis maka ditindaklanjuti dengan penyusunan MoU antara pihak pengguna air dengan pihak Balai TNGGP. Dengan demikian, Balai TNGGP selain memiliki perjanjian kerjasama dengan FORPELA sebagai bentuk koordinasi secara kelembagaan antara pengelola kawasan dan lembaga pengguna air, juga memiliki perjanjian kerjasama secara langsung dengan masing-masing pengguna air anggota FORPELA. Dalam penyusunanMoU ini, terdapat beberapa peraturan perundangan dan kebijakan yang dijadikan dasar pelaksanaan kerjasama antara lain yaitu :

1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;

2) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;

3) Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;

4) Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam;

5) Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air;

6) Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 390/Kpts-II/2003 tanggal 3 Desember 2003 tentang Tata Cara Kerjasama di Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;

7) Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.19/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 tentang Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam;

8) Surat Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor S.599/IV-PJLWA/2006 Tanggal 1 Juni 2006 tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air di Kawasan Konservasi.

9) Surat Edaran Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (SE Dirjen PHKA) No. 3/IV-SET/2008 tanggal 9 Desember 2008; dan

10) Surat Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung Nomor. S. 31/PJLKKHL-1/2011 tanggal 27 Januari 2011 tentang Naskah Kerjasama dan Arahan Program Pemanfaatan Jasa Lingkungan Air.

Selain itu, sebagai salah satu syarat pelaksanaan kerjasama pemanfaatan air tersebut, juga diperlukan rekomendasi atau persetujuan dari Kepala Desa yang bersangkutan untuk pengguna air non komersial dan pengguna air komersial. Sampai saat ini, terdapat pembaharuan acuan pelaksanaan kerjasama pemanfaatan air tersebut yaitu dari PP. No. 68/1998 menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Apabila pihak pengguna air sudah membuat kesepakatan (MoU) dengan pihak Balai TNGGP, maka pihak pengguna air tersebut mempunyai kewajiban untuk bergabung menjadi anggota FORPELA, dengan fasilitasi dari Balai TNGGP, begitu pula sebaliknya apabila ada pihak pengguna yang berminat untuk memanfaatkan air dari kawasan TNGGP dengan menghubungi pihak FORPELA terlebih dahulu, maka pihak FORPELA wajib untuk melapor kepada pihak Balai TNGGP agar segera dapat dibuat kesepakatan kerjasama.

Analisis Kegiatan Pemanfaatan Air di TNGGP Sebelum dan Setelah Tahun 2006

Pada periode sebelum tahun 1999, pada umumnya pengguna air yang melakukan perijinan atau kerjasama dengan pihak Balai TNGGP adalah pihak pengguna air non komersial, namun hal tersebut hanya berlangsung sementara karena selanjutnya ijin tersebut tidak pernah dikeluarkan lagi bagi pengguna air yang baru. Hal ini terjadi kemungkinan dikarenakan belum adanya legalitas yang lebih kuat yang dapat mendukung kegiatan pemanfaatan air tersebut. Pada rentang tahun 1999-2005, semakin banyak pihak yang memanfaatkan air dari kawasan TNGGP terutama dari pihak pengguna komersial, hal ini diketahui dari data tahun perjanjian kerjasama antara pihak pengguna air dan Balai TNGGP sebagaimana terlihat pada Lampiran 6.

Setelah tahun 2006, pelaksanaan kerjasama pemanfaatan air di kawasan TNGGP lebih terarah dengan adanya penyusunan perjanjian kerjasama atauMoU antara pihak pengguna air dan pihak Balai TNGGP sampai pada tahun 2009 Balai TNGGP mengalami perkembangan menjadi Balai Besar TNGGP (BB TNGGP). Selain pemberian hak untuk memanfaatkan air tanpa melebihi jumlah debit pada sumber air yang digunakan, para pengguna air juga berkewajiban untuk mendukung upaya konservasi terhadap kawasan melalui kegiatan rehabilitasi dan pengamanan kawasan.

Dalam memanfaatkan air, pihak pengguna tidak dipungut bayaran oleh pihak pengelola kawasan, namun khusus bagi pihak pengguna komersial dikenakan kewajiban untuk mendukung kesejahteraan masyarakat di sekitarnya melalui pendistribusian sebagian air yang digunakannya untuk membantu kebutuhan air bersih masyarakat sekitar serta diharapkan dapat memberikan peningkatan kesejahteraan berupa kegiatan pemberdayaan masyarakat. Sebagaimana yang tercantum dalam SE. Dirjen PHKA No. 3 Tahun 2008, pihak pengelola kawasan tidak diijinkan untuk menerima kompensasi dalam bentuk dana tunai secara langsung, namun diperkenankan menerima kompensasi dalam bentuk bantuan non tunai (in-kind) berupa kegiatan rehabilitasi dan pengamanan di kawasan konservasi.

Sebagai bentuk perwujudan kompensasi terhadap kawasan yang diberikan oleh pihak pengguna kepada pihak pengelola kawasan atau BB TNGGP, FORPELA selaku mewakili pihak pengguna air telah menetapkan program kegiatan secara periodik dengan jangka waktu 3 (tiga) tahun, dan sejak tahun mulai berdiri pada tahun 2006 maka periode terakhir berakhir di tahun 2009. Kegiatan selanjutnya disusun dalam sebuah Rencana Strategis (Renstra) FORPELA 2010-2013 yang berusaha untuk mensinergiskan program konservasi kawasan TNGGP dengan program-program lain baik dari pemerintah daerah, organisasi non profit, maupun dengan kelompok masyarakat. Berdasarkan Laporan Tahunan FORPELA Tahun 2009, prioritas program kerja 2010-2013 terdiri dari beberapa program kegiatan, antara lain :

1. Program pemberian susu pasteurisasi dan bibit tanaman untuk siswa-siswi 65 sekolah dasar di desa penyangga guna menunjang perbaikan gizi dan gemar menanam sejak usia dini.

2. Program pembuatan kebun bibit pohon pada masing-masing wilayah kerja FORPELA guna menunjang perbaikan hutan dan lahan kritis/gundul pada daerah tangkapan air.

3. Program pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan melalui pengembangan skema pengelolaan air di tingkat masyarakat dan desa melalui pipanisasi air bersih dan pengembangan energi air (PLTA Piko Hidro).

4. Program pengembangan inkubasi usaha produktif unggulan pada kelompok tani MDK melalui pengembangan kampung ternak.

5. Program pengembangan kerjasama kemitraan dengan pemerintah

daerah/provinsi, perusahaan dan universitas.

6. Program penerbitan Buletin FORPELA untuk periode 3 bulanan. 7. Program penggalangan iuran keanggotaan FORPELA.

Selama kurun waktu 3 (tiga) tahun sejak berdirinya FORPELA pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2009, beberapa program kegiatan yang telah dilaksanakan oleh FORPELA, antara lain yaitu :

1. Program pembuatan pembibitan pohon (bank bibit) di lokasi PT. Rejosari Bumi Unit Tapos Bogor, KT. KMPH Desa Cinagara, KT. Garuda Ngupuk Desa Tangkil, KT. Lestari Batukarut Desa Langensari, KT. Cilondong Jaya Desa Cihanjawar, Forum Marpelin Desa Kebon peuteuy, dan KT. Puspa Lestari Desa Sukatani. Jenis pohon yang dibibitkan antara lain: pohon sengon, gmelina, suren, aprika, puspa, alpukat dan pala. Jumlah bibit pohon yang sudah dikembangkan saat ini kurang lebih 10.000 pohon di setiap

lokasi. Selain itu, FORPELA bekerjasama dengan Kelompok Tani MDK, RCS, Amerta dan ESP USAID juga sudah mengimplementasikan penanaman pohon endemik di areal perluasan kawasan TNGGP, yaitu masing-masing seluas 5 ha di Desa Kebonpeuteuy, Desa Sukatani, Desa Cinagara, Desa Tangkil, dan Desa Cihanjawar.

2. Penguatan kapasitas masyarakat sekitar hutan melalui pelatihan

pengembangan usaha produktif. FORPELA bekerjasama dengan ESP USAID dan RCS pada bulan Januari 2009, telah melakukan kegiatan pelatihan studi tanaman endemik dan pengembangan usaha produktif berbasis masyarakat pada lima kelompok tani Model Desa Konservasi (MDK) Kebonpeuteuy, Sukatani, Langensari, Cihanjawar, Cinagara dan Tangkil. Kegiatan pelatihan ini diadakan selama tiga hari di Wisma Tamu PT. Rejosari Bumi Unit Tapos Bogor dengan pemberian materi di dalam kelas hingga praktek lapangan. 3. Progam Peningkatan Kapasitas Kelembagaan FORPELA TNGP melalui

pelatihan SDM anggota, peningkatan pembiayaan konservasi melalui kewajiban iuran keanggotaan serta penerbitan media informasi berupa buletin bulanan.

4. Program peningkatan kerjasama kemitraan yang dilakukan sejak bulan bulan Pebruari-Nopember 2009 dengan beberapa instansi di wilayah lain untuk membagi pengalaman dalam membangun kemitraan pemanfaatan jasa lingkungan air dari kawasan konservasi, antara lain dengan Pemerintahan Kota D.I. Yogyakarta, Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah, dan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai untuk menjadi narasumber sekaligus memfasilitasi pembentukan Forum Air di Kota Cirebon dan Kuningan. Selain membangun kemitraan kerjasama dengan sektor pemerintah, FORPELA juga sudah mengembangkan kerjasama kemitraan dengan sektor akademisi, antara lain dengan Universitas Satya Negara Indonesia (USNI-Jakarta) dalam hal

pengembangan inkubasi usaha masyarakat Desa Citapen, melalui

penandatangan naskah kerjasama pengembangan program.

5. Studi banding implementasi program jasa lingkungan ke Sampurna Training Centre di Pandaan-Pasuruan Jawa Timur yang dilakukan pada tanggal 22-25 Juni 2009, oleh Pengurus FORPELA, Balai Besar TNGGP dan ESP USAID