• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil penelitian dan pembahasan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Hasil penelitian dan pembahasan

Hasil penelitian disajikan dengan menggunakan narasi atau uraian sesuai

dengan fenomena-fenomena yang ditemukan saat wawancara mendalam dan

untuk pembahasan hasil penelitian juga menggunakan narasi atau uraian-uraian

berdasarkan hasil yang ditemukan dari proses thematic analisis dengan model

strategi analisis data kualitatif-verifikatif dimana setelah data dikumpulkan

kemudian diklasifikasikan untuk membuat suatu kesimpulan yang merujuk

kepada teori dan sumber pustaka (Bungin,2012).

4.3.1 Faktor Individual Yang Berperan Dalam Keikutsertaan Bidan Praktek Mandiri Pada Program Jaminan Kesehatan Nasional

Hasil penelitian terkait dengan faktor individual yang berperan dalam

keikutsertaan BPM pada program JKN terdiri dari pengetahuan, motivasi dan

harapan dapat dilihat pada uraian di bawah ini:

a. Pengetahuan Bidan Praktek Mandiri Tentang Program Jaminan Kesehatan Nasional.

Hasil penelitian mengenai pengetahuan BPM tentang Program JKN

menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan menyatakan sudah mengetahui

program JKN secara umum.

“ Saya tahu tentang JKN… karena mencakup Jamkesmas, Askes sama JKN mandiri.” (T1P2,Bidan JKN) “Menurut saya JKN ini adalah suatu program pemerintah dimana adanya kerja sama antara pemerintah dengan masyarakat terutama dalam hal kesehatan, melalui pembayaran premi.” (T1P9,Bidan JKN)

Menurut partisipan program JKN merupakan sebuah asuransi kesehatan

untuk melindungi masyarakat dari masalah kesehatan dengan cara membayar

iuran sebagai bentuk pengumpulan dana, pengumpulan dana tersebut

dimaksudkan untuk saling membantu antara masyarakat yang kaya dengan

masyarakat yang miskin, antara masyarakat yang sehat membantu yang sakit.

“JKN adalah asuransi kesehatan, tapi kalau sepengetahuan saya yang dimaksud asuransi adalah sejenis mengumpulkan uang…, kalau di masyarakat Bali itu namanya meselisi misalnya sehat membantu yang sakit, kalau yang sakit dibantu oleh yang sehat itu…”

(T2P4, Bidan JKN) Partisipan lebih berpendapat bahwa pelayanan pada JKN itu bersifat gratis

dan dapat dilakukan di fasilitas pemerintah serta melanjutkan program

sebelumnya yang pernah ada seperti program Jampersal, Jaminan Sosial Tenaga

Kerja (Jamsostek), JKBM dan Jamkesmas.

“….tidak ada bedanya dengan Jamsostek, cuman bedanya kalau jamsostek para karyawan, sedangkan kalau JKN tidak hanya karyawan saja, tetapi masyarakat umum bisa ikut asuransi kesehatan”

(T2P6,Bidan JKN) Para pemegang kebijakan menyatakan bahwa program JKN ini merupakan

suatu program dari pemerintah yang menjamin kesehatan seluruh masyarakat

mulai dari promotif, preventif, kuratif dan rehabititatif. Derajat kesehatan suatu

negara dapat dilihat dari jumlah AKI dan AKB, dengan adanya JKN diharapkan

dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan.

“…dengan JKN akan menjamin kesehatan seluruh masyarakat Indonesia mulai dari tindakan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Untuk ke depannya JKN akan lebih menekankan promotif dan preventif untuk mencegah jangan sampai ada masyarakat yang sakit terutama penyakit degenerative dan sebagainya” (T2P19,Pemegang Kebijakan)

“…derajat kesehatan suatu negara itu diukur dari jumlah AKI dan AKB, beberapa tahun yang lalu Tabanan pernah menduduki AKI dan AKB tertinggi di bali, tapi tahun ini sudah turun. Jadi dengan adanya JKN dapat membantu masyarakat meningkatkan derajat kesehatannya sehingga jumlah AKI dan AKB dapat ditekan seminimal mungkin..”

(T2P21,Pemegang Kebijakan) Namun hasil penelitian juga menunjukkan bahwa partisipan kurang

memahami program JKN yang terkait dengan pelayanan kebidanan dan neonatal.

“….ya, program JKN untuk pelayanan kebidanan hanya di puskesmas atau rumah sakit, kan gratis, kalau bidan ikut JKN rugi…karena tidak dibayar” (T2P11,Bidan Non JKN) Hal ini disebabkan karena kurangnya sosialisasi tentang program JKN

secara khusus untuk BPM. Sebagian kecil partisipan menyatakan bahwa belum

pernah diundang rapat untuk mendengarkan himbauan atau pengarahan tentang

program JKN apalagi yang menyangkut keikutsertaan BPM.

“Selama ini sih, terus terang saja belum pernah ada sosialisasi tentang program JKN khusus untuk bidan praktek mandiri” (T1P1, Bidan JKN) Informasi tentang Program JKN untuk BPM lebih banyak didengar saat rapat

rutin atau saat rapat program puskesmas lainnya baik dari dinas kesehatan maupun

petugas BPJS Kesehatan. Partisipan mengetahui program JKN secara global

melalui media elektronik dan media cetak seperti TV, radio, internet dan koran.

Sebagian besar partisipan menyatakan tidak pernah ada pengarahan dan

pembinaan mengenai JKN secara langsung untuk BPM.

“ Walaupun saya praktek berdekatan dengan dinas kesehatan, saya tidak pernah mendapatkan sosialisasi tentang program JKN. Apalagi khusus untuk bidannya…saya tahu tentang JKN hanya dari TV dan baca koran saja “ (T1P11,Bidan non JKN) Pada saat sosialisasi tentang JKN, pemegang kebijakan hanya

partisipan pelayanan JKN itu dilaksanakan di rumah sakit pemerintah atau

puskesmas, sedangkan untuk pelayanan JKN di BPM hanya sekedar informasi

saja.

“…penyampaian program JKN selalu di informasikan bersamaan dengan program yang lain. Secara menyeluruh program JKN ini dilayani di puskesmas, tapi untuk pelayanan kebidanan di bidan swasta pernah saya dengar hanya sepintas lalu saja “ ( T1P10,Bidan non JKN) Menurut para pemegang kebijakan, sudah dilakukan sosialisasi tentang

program JKN untuk BPM, tetapi yang diundang pada saat itu Ketua Pengurus

Cabang Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan beberapa bidan koordinator pemegang

program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Pada pertemuan tersebut disampaikan

tentang keikutsertaan BPM pada program JKN. Proses kerjasama bidan dengan

JKN baru dimulai sejak awal tahun 2015 karena sebelumnya BPJS hanya

bekerjasama dengan dokter keluarga saja.

“..sosialisasi kepada bidan mandiri sudah kita lakukan, kami mengundang ketua IBI, di ruang pertemuan dinas kesehatan, khusus keikutsertaan bidan-bidan di dalam pelayanan JKN, untuk waktu pelaksanaannya itu di awal tahun 2015” (T1P19,Pemegang kebijakan) Sosialisasi tentang pelayanan kebidanan dan neonatal pada program JKN

ini digabungkan dengan rapat program lainnya, tidak ada waktu khusus antara

BPM dan BPJS Kesehatan serta Dinas Kesehatan duduk bersama untuk

menyosialisasikan program JKN yang berhubungan dengan pelayanan kebidanan

dan neonatal.

Pemegang kebijakan menyatakan bahwa dari organisasi belum pernah

menyampaikan sosialisasi tentang JKN pada anggota bidan, karena sampai saat ini

Kabupaten Tabanan dilaksanakan setiap tiga bulan, namun hingga saat ini belum

terlaksana karena kesibukan dari masing-masing anggota dan pengurus.

“ Secara formal kita belum melakukan sosialisasi JKN pada bidan. Untuk sosialisasi dari BPJS yang diundang cuma ketua saja, dan kebetulan kita di organisasi belum mengadakan rapat rutin, jadi memang kami belum mengadakan sosialisasi khusus untuk kepesertaan BPJS..”

( T1P21, Pemegang kebijakan) Kurangnya sosialisasi tentang program JKN yang diberikan kepada BPM

akan sangat mempengaruhi pengetahuan bidan tentang program JKN. Program

JKN di tujukan untuk mencapai kesehatan untuk semua dan salah satunya juga

untuk memberikan pelayanan kebidanan dan neonatal, dalam hal ini bidan

membantu pemerintah dalam menurunkan AKI dan AKB. Sosialisasi yang telah

dilakukan oleh pemegang kebijakan kepada IBI dan beberapa bidan koordinator

seharusnya disampaikan kepada bidan-bidan yang lain agar BPM dapat

mengetahui tentang program JKN khususnya untuk pelayanan kebidanan dan

neonatal. Bidan sebagai ujung tombak merupakan tenaga kesehatan yang paling

terdepan melayani masyarakat terutama untuk meningkatkan kesehatan ibu dan

anak di Indonesia.

Menurut Mayona, dkk (2012) responden memiliki persepsi buruk tentang

paket Jampersal tetapi memiliki kemauan untuk menjadi provider program

Jampersal. Hal ini disebabkan karena responden memiliki persepsi yang baik

tentang prosedur dan tarif program Jampersal. Secara umum bidan sudah

mengetahui tentang adanya program Jampersal, namun pengetahuan bidan tentang program ini masih rendah. Bidan belum mengetahui prosedur maupun paket-paket manfaat Jampersal secara rinci. Tarif Jampersal juga menurut bidan cukup rendah

karena di bawah tarif yang biasa mereka berlakukan pada umumnya. Selain itu, pandangan bidan tentang prosedur yang harus dilakukan, baik untuk perjanjian kerjasama maupun klaim juga menjadi hambatan bagi mereka untuk mau menjadi provider Jampersal. Menurut bidan, rumitnya prosedur yang harus dilakukan sering kali menjadi kendala dalam program-program yang diadakan pemerintah, termasuk program Jampersal. Untuk itu, perlu adanya usaha dari pemerintah untuk meningkatkan kerjasama dengan bidan untuk menjadi provider program Jampersal.

Negara Indonesia menuju UHC berdasarkan Undang-Undang Kesehatan

Nomor 36 tahun 2009 pasal 13 menyatakan bahwa: setiap orang berkewajiban

ikutserta dalam program jaminan kesehatan sosial. JKN di laksanakan

berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 40 tahun 2004. Implementasi JKN dalam

SJSN tahun 2014 adalah untuk menurunkan AKB dan AKI karena MDG’s tahun

2015 harus segera dapat dicapai sehingga identifikasi perlindungan akses melalui

jaminan pembiayaan persalinan dengan kepesertaan dalam JKN menjadi penting.

(BPJS Kesehatan, 2014).

Hasil penelitian yang terkait dengan tujuan dari program JKN didapatkan

bahwa sebagian besar partisipan sudah mengetahui tujuan dari program JKN

secara umum, menurut partisipan tujuan JKN adalah untuk memberikan kepastian

pelayanan kesehatan terutama untuk masyarakat miskin atau kurang mampu.

“ Tujuannya kedepan supaya masyarakat bisa berobat kemana - mana di seluruh Indonesia,tanpa takut tidak punya biaya.” (T2P2,Bidan JKN ) “…ekonomi sekarang semakin sulit, dan biaya kesehatan juga semakin mahal, terutama untuk operasi, masyarakat sangat terbantu karena biaya menjadi gratis dengan adanya JKN…” (T2P6,Bidan JKN)

Sebagian kecil partisipan menyatakan bahwa program JKN ini hanya

bertujuan untuk meningkatkan citra pemerintah di mata masyarakat karena lebih

cenderung untuk memenuhi kebutuhan politik saja.

“ setiap program yang dikeluarkan oleh pemerintah pasti bertujuan untuk meningkatkan citra pemerintah di depan masyarakat, seperti JKN ini kelihatannya seperti malaikat penyelamat untuk warga yang mengalami kesulitan biaya kesehatan..” (T2P11, bidan non JKN) Hasil wawancara mendalam dengan partisipan kunci menunjukkan bahwa

tujuan dari program JKN untuk pelayanan kebidanan adalah sama dengan

program sebelumnya seperti Jampersal dan JKBM.

“ Untuk kebidanan, tujuan dari JKN adalah sebagai pengganti Jampersal dan Jamkesmas atau Jamkesda seperti JKBM dimana ibu hamil dapat di berikan asuhan sesuai standar kebidanan untuk menuju persalinan yang

sehat dan aman” (T2P21,pemegang kebijakan) Tujuan khusus dari program JKN dalam pelayanan kebidanan dan neonatal

merupakan tindakan antisipasi dari pemerintah untuk menurunkan AKI dan AKB.

Pada program JKN pelayanan yang diharapkan sesuai dengan standar kebidanan

yang telah disepakati. Dengan demikian seorang ibu hamil akan terpantau

kehamilannya hingga melahirkan dan tanpa takut tidak punya atau kurangnya

biaya dalam persalinannya. Ibu hamil diharapkan dapat melahirkan secara aman

dan sehat di fasilitas kesehatan dan ditolong oleh tenaga yang profesional.Tujuan

asuransi kesehatan agar seluruh penduduk Indonesia terlindungi dari masalah

pembiayaan kesehatan, kebutuhan dasar masyarakat akan hidup sehat dan

sejahtera dapat terpenuhi (BPJS Kesehatan, 2014).

Dari hasil penelitian terdahulu terhadap program Jampersal bertujuan

pertolongan persalinan, perawatan bayi baru lahir, perawatan nifas dan pelayanan

keluarga berencana (Kemenkes RI, 2011). Tujuan dari program JKN khususnya

pada pelayanan kebidanan dan neonatal adalah untuk memudahkan ibu hamil

memperoleh pelayanan secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif

sehingga dapat menurunkan AKI dan AKB.

Hasil penelitian terkait manfaat dari program JKN menunjukkan bahwa

sebagian besar partisipan menyatakan program JKN sangat bermanfaat untuk

membantu masyarakat mendapatkan pelayanan yang lebih baik tetapi sebagian

kecil menyatakan bahwa program JKN ini dapat mengancam keberlangsungan

praktek bidan mandiri. Partisipan menyatakan bahwa program JKN ini mematikan

usaha praktek mandiri karena pasien lebih cenderung memilih mendapatkan

pelayanan gratis di puskesmas, sehingga dapat mengurangi pemasukan bidan.

“…kalau jujur memang manfaatnya kurang dirasakan oleh bidan, seperti teman bidan yang lain merasa dirugikan dengan adanya JKN, pasien lebih memilih melahirkan di puskesmas karena gratis, sehingga pasien yang datang ke tempat praktek berkurang dan rejeki bidan berkurang “

(T2P6,Bidan JKN) Sebagian kecil juga dari partisipan menyatakan bahwa program JKN ini

dapat bermanfaat sebagai media promosi bagi bidan yang baru buka praktek dan

sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat untuk yang sudah lama buka

praktek.

“Kalau saya rasakan.. setelah ada JKN ini ada juga manfaatnya, kita kan dapat klaim pelayanan dengan cara non kapitasi, jadi kita tetap mendapat uang jasa dari BPJS dan bisa membantu masyarakat tidak mampu…sebagai wujud pengabdian dengan masyarakat”

Menurut pemegang kebijakan, program JKN ini sangat bermanfaat dalam

mengatur pendokumentasian asuhan kebidanan yang telah diberikan. Dengan

Program JKN, bidan yang ikut kerjasama dengan BPJS Kesehatan dituntut untuk

melengkapi administrasi dan standar prosedur pelayanan kebidanan, sehingga

pelayanan yang diberikan pada program JKN ini menjadi lebih optimal.

“ Manfaatnya agar setiap bidan mau melaksanakan pelayanan kebidanan sesuai standar, pendokumentasian sesuai standar jadi akan lebih tertib dalam administrasi, sebab kalau tidak gitu.. tidak bisa klaim”

(T2P21,Pemegang Kebijakan) Manfaat JKN untuk pelayanan kebidanan dan neonatal bila dilihat dari pandangan

partisipan dianggap tidak bermanfaat dan merugikan, tetapi bila dilihat dari segi

manfaat JKN yang lain seperti: prosedur administrasi, pendokumentasian asuhan

kebidanan ini sangat bermanfaat. Bidan tidak hanya dituntut untuk dapat melayani

pasien saja tetapi harus mampu melakukan pencatatan yang benar dan teratur

untuk menunjang kinerja bidan selanjutnya dalam memberikan pelayanan kepada

masyarakat.

Program JKN ini hampir sama manfaatnya dengan program Jampersal,

hal ini sesuai dengan hasil penelitian tentang evaluasi pelaksanaan program

Jampersal ditinjau dari persepsi pengguna dan penyedia layanan di Puskesmas

Mengwi I menyatakan bahwa pelayanan Jampersal mendapatkan respon yang baik

dari pasien maupun petugas kesehatan, dukungan tenaga kesehatan terutama bidan

dalam bentuk komitmen dengan cara memberikan pelayanan yang profesional

Indonesia menuju UHC berdasarkan Undang-Undang Kesehatan Nomor

36 tahun 2009 pasal 13 yang menyatakan bahwa: setiap orang berkewajiban ikut

serta dalam program jaminan kesehatan sosial. Program JKN juga memberikan

jaminan pembiayaan pada pelayanan kebidanan dan neonatal berdasarkan

pembayaran non kapitasi untuk mendapatkan pelayanan kebidanan pada

puskesmas-puskesmas, rumah sakit dan fasilitas pelayanan swasta yang

bekerjasama dengan BPJS Kesehatan (BPJS Kesehatan, 2014).

Menurut IBI (2013) tentang cakupan pelayanan kebidanan dan neonatal

sesuai dengan standar pelayanan kebidanan antara lain: pemeriksaan kehamilan

(Antenatal Care atau ANC) sebanyak empat kali sesuai dengan usia kehamilan,

pertolongan persalinan (Intranatal Care atau INC), perawatan masa nifas

(Postnatal Care atau PNC) sebanyak tiga kali dan perawatan bayi baru lahir

(neonatus) sebanyak tiga kali serta pelayanan KB. Program JKN untuk pelayanan

kebidanan dan neonatal juga sudah sesuai dengan standar pelayanan kebidanan

yang ditetapkan.

Hasil penelitian terkait cakupan pelayanan kebidanan menunjukkan bahwa

sebagian besar partisipan belum mengetahui tentang cakupan pelayanan

kebidanan dan neonatal serta mana saja yang masuk kedalam cakupan JKN.

“…mungkin hampir sama dengan Jampersal dan JKBM, ANC 4 kali, partus, PNC dengan neonatusnya 4 kali juga, dengan KB, kalau imunisasi tidak tahu apakah ditanggung atau tidak….” (T2P1,Bidan JKN) Rendahnya pengetahuan BPM tentang cakupan pelayanan kebidanan dan neonatal

bidan terhadap klaim yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan. Cakupan pelayanan

yang diberikan oleh bidan sebagai pemberi pelayanan harus sesuai dengan standar

yang telah ditetapkan oleh IBI.

Menurut partisipan kunci, selain cakupan pelayanan kebidanan bidan juga

diperbolehkan untuk mengambil pasien umum bila tidak ada dokter di daerahnya.

“Cakupan pelayanan kebidanan yang ditanggung JKN adalah ANC, persalinan, nifas, bayi dan KB tapi bila ada pasien sakit kalau tidak ada dokter ya.. bidan boleh memberikan pengobatan ringan ”

(T2P19, Pemegang Kebijakan) “Sesuai standar pelayanan kebidanan kami (bidan) melakukan pemeriksaan kehamilan (ANC), pertolongan persalinan, perawatan nifas, perawatan bayi baru lahir dan pelayanan KB harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh organisasi, baik ikut JKN maupun tidak semua harus sesuai standar…” (T2P21,Pemegang Kebijakan) Hasil studi evaluasi Jampersal tahun 2012, menghasilkan evidence yang

meyakinkan bahwa Jampersal berhasil mengajak ibu hamil untuk melahirkan di

fasilitas kesehatan. Peran aktif dari bidan sebagai ujung tombak pemberi

pelayanan kebidanan dan neonatal, ketersediaan obat dan peralatan serta fasilitas

yang telah disediakan oleh pemerintah semakin meningkatkan jumlah kunjungan

ibu hamil ke fasilitas kesehatan. Masyarakat berpendapat dan mempunyai harapan

terhadap program Jampersal agar dapat dilanjutkan hingga saat program JKN

diberlakukan. Fakta tersebut menjadi alasan yang kuat program Jampersal

dipertahankan keberlangsungannya dalam program JKN dengan berbagai

perbaikan dalam proses pelaksanaannya (Rahmawaty, 2013).

Sejalan dengan peningkatan cakupan pelayanan kebidanan dan neonatal

manfaat Jampersal menjadi bagian dari paket manfaat JKN yang komprehensif

sesuai dengan kebutuhan medis, kecuali hal-hal yang bersifat nonmedis seperti

biaya transportasi (Mukti, 2012).

Desain asuransi kesehatan yang berbasis masyarakat seperti JKN,

membuat kontribusi masyarakat untuk berpartisipasi menjadi lebih tinggi.

Menurut Dror, dkk (2006) negara India melakukan penekanan biaya persalinan

dengan cara memberikan voucher yang bisa digunakan untuk membayar

transportasi saat akan bersalin. Hasil penelitian di Banglades menjelaskan bahwa

meskipun biaya persalinan gratis namun dari total pengeluaran langsung hampir

50 % untuk biaya rujukan (Dong dkk, 2004).

Menurut Achterbergh & Vriens (2002) pengetahuan memiliki dua fungsi

utama, pertama sebagai latar belakang dalam menganalisa sesuatu hal,

mempersepsikan dan menginterpretasikannya, yang kemudian dilanjutkan dengan

keputusan tindakan yang dianggap perlu. Kedua, peran pengetahuan dalam

mengambil tindakan yang perlu adalah menjadi latar belakang dalam

mengartikulasikan beberapa pilihan tindakan yang mungkin dapat dilakukan,

memilih salah satu dari beberapa kemungkinan tersebut dan

mengimplementasikan pilihan tersebut. Adapun faktor-faktor yang dapat

mempengaruhi pengetahuan adalah: pendidikan, pekerjaan, umur, keinginan,

pengalaman lingkungan dan sumber informasi (Notoatmojo,2010). Pengetahuan

masyarakat tentang JKN yang sangat minim terutama di daerah-daerah perlu

pemerintah harus hati-hati, cermat dan teliti sehingga investasi yang dilakukan

selama ini tidak sia-sia (Kebijakan Kesehatan Indonesia,2013).

Komunikasi juga sangat berperan dalam menyosialisasikan program JKN, karena komunikasi merupakan suatu proses kegiatan yang dapat berlangsung secara

dinamis. Sesuatu yang didefinisikan sebagai proses, berarti unsur – unsuryang ada di dalamnya bergerak aktif, dinamis, dan tidak statis. Kegiatan sosialisasi merupakan kegiatan komunikasi,ini ditandai dengan adanya proses penyebaran pengetahuan dari seorang komunikator kepada komunikan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan. Sosialisasi suatu program, merupakan pengetahuan yang disampaikan dalam suatu kegiatan sosialisasi yang berkaitan dengan konteks permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Sosialisasi akan memegang peranan penting di dalam menyebarluaskan informasi yang berkaitan dengan inovasi atau pengetahuan-pengetahuan yang berhubungan dengan inovasi, baik pengetahuan teknis maupun pengetahuan prinsip (Cangara, 2009).

b. Motivasi Bidan Praktek Mandiri Terhadap Program Jaminan Kesehatan Nasional

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar partisipan mengungkapkan

bahwa dorongan BPM ikut program JKN adalah untuk melanjutkan dan

menyukseskan program pemerintah sebelumnya seperti Jampersal, JKBM dan

Jamkesmas.

“…awalnya ikut kerjasama alasan finansial, yaitu banyak pasien yang ngebon, itu jadi kendala…karena merupakan lanjut dari program sebelumnya, jadi saya ingin mensukseskan program pemerintah ”

Menurut partisipan kunci mengatakan bahwa sejak ada program JKN dari

bidan sendiri secara tidak langsung banyak yang mengajukan Surat Ijin Praktek

Bidan (SIPB) karena salah satu syarat untuk dapat bekerjasama dengan JKN

adalah mempunyai SIPB.

“…tanpa mendorong pun bidan-bidan sudah berlomba-lomba untuk ikut. Mereka akan berebut, sehingga sesuai persyaratan seperti kelengkapan ijin praktek, untuk mereka yang lalai, saya lihat sudah ada peningkatan dalam pengurusan surat ijin praktek, agar dapat bergabung dengan JKN…” (T8P19,Pemegang Kebijakan) Bidan Praktek Mandiri ( BPM ) adalah suatu institusi pelayanan kesehatan secara

mandiri yang memberikan asuhan pelayanan dalam lingkup kebidanan. Praktek

bidan mandiri merupakan serangkaian kegiatan pelayanan kebidanan yang

diberikan kepada pasien baik individu, keluarga dan masyarakat sesuai dengan

kewenangan dan kompetensi yang dimilikinya. Bidan yang menjalankan praktek

mandiri harus memiliki SIPB untuk menjalankan prakteknya pada sarana

kesehatan yang dimilikinya. Praktek pelayanan bidan mandiri merupakan

penyedia layanan kesehatan, yang memiliki kontribusi cukup besar dalam

memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam meningkatkan

kesejahteraan ibu dan anak.

Masyarakat sebagai pengguna jasa layanan bidan dapat memperoleh akses

pelayanan yang bermutu, perlu adanya regulasi pelayanan praktek bidan secara

jelas persiapan sebelum bidan melaksanakan pelayanan praktek seperti perizinan,

tempat, ruangan, peralatan praktek, dan kelengkapan administrasi semuanya harus

sesuai dengan standar seperti yang diatur dalam PERMENKES RI Nomor

Sebagian kecil partisipan menyatakan bahwa mengikuti program JKN

merupakan dorongan dari hati nurani sebagai seorang bidan ingin membantu

masyarakat yang tidak mampu.

“….hati nurani sebagai seorang bidan, untuk membantu masyarakat, saya ingin membantu masyarakat..seandainya saya tidak ikut JKN, saya tidak dapat membantu masyarakat… yang paling tidak biayanya setengah sudah

di bayar pemerintah ” (T5P6,Bidan JKN) Sesuai dengan surat Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan dokter keluarga

disebutkan bahwa: bidan yang ikut bekerjasama dengan BPJS melalui dokter

keluarga tidak dibolehkan untuk menarik iuran tambahan kepada pasien dengan

alasan apapun. Namun untuk Kabupaten Tabanan bila dilihat dari jumlah klaim

yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan dirasakan sangat kurang oleh bidan,

sehingga dari beberapa partisipan menarik iuran tambahan kepada pasien dengan

Dokumen terkait