• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil pada hasil observasi, tampak bahwa kegiatan pelaksanaan workshop siklus I dari aspek kesiapan mental dan fisik ada 8 orang guru atau 66,67%, yang siap fisik dan mental, sementara 4 orang atau 33,33%

belum siap fisik dan mental. Pada aspek kesiapan bahan tampak baru 8 atau 66,67% yang siap mengikuti workshop dengan membawa kelengkapan bahan yaitu perangkat pembelajaran, dan 4 orang atau 33,33% belum siap. Pada aspek kehadiran guru tampak bahwa 9 atau 75,00% hadir dan 3 orang atau 25,00% tidak hadir karena ada halangan.

Pada aspek kesiapan laptop tampak bahwa 3 laptop atau 100% sudah tersedia, artinya masing-masing kelompok sudah membawa laptop untuk keperluan memperbaiki atau menetapkan KKM mata pelajaran.

Berdasarkan deskripsi data di atas tampak bahwa pada aspek kesiapan fisik dan mental guru dan kesiapan guru membawa laptop yang sudah mencapai indikator yang ditetapkan. Sedangkan pada aspek lain belum mencapai indikator yang ditetapkan dalam mengikuti Workshop.

Dari hasil evaluasi terhadap penetapan KKM yang dibuat oleh 24 orang guru yang mengikuti Workshop pada siklus I di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa semua aspek penetapan KKM yang ditetapkan guru melalui langkah-langkah memperhatikan kompleksitas, daya dukung dan intake diperoleh skor rata-rata 57,92 atau pada katagori cukup, pada aspek KKM dibuat per indikator, kemudian KD, SK, dan terakhir mata pelajaran skor rata-ratanya 56,25 atau pada katagori cukup, aspek pengesahan oleh kepala sekolah diperleh skor rata-rata 56,25 atau berada pada katagori cukup, KKM yang ditetapkan disosialisasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan, yaitu peserta didik, orang tua, dan Dinas Pendidikanskor rata-rata 60 atau pada kategori cukup, kemudian untuk

(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 20, Nopember 2017) 43 aspek sosialisasi dan pencantuman di LBH diperoleh rata-rata 67,5 atau pada kategori baik. Dengan demikian berdasarkan hasil yang diperoleh belum mencapai indikator yang ditetapkan.

Refleksi Pelaksanaan siklus I

Setelah di reflkesi berdasarkan hasil observasi dan hasil penilaian terhadap perangkat KKM yang dibuat guru pada siklus I menunjukkan belum sesuai dengan indikator kemampuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu penulis memutuskan untuk memperbaiki dari segi kegiatan Workshop terutama memperjelas tentang aspek-aspek yang belum sesuai dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan. Dari hasil tersebut tampak secara umum guru sudah membuat KKM per KD, dan tidak per indikator, namun ada 6 orang guru dari 24 orang tidak ikut Workshop, dan tidak menyerahkan bahan, mungkin karena kesiapan fisik, mental, bahan atau karena hal lainnya.

Berdasarkan hasil tersebut, diputuskan untuk memperbaiki beberapa langkah dalam siklus I, yakni memfokuskan pada penetapan KKM yang belum menyerahkan hasil, dan peningkatan bimbingan secara intensif bagi yang belum paham pada siklus II. Oleh karena itu penulis harus lebih giat lagi membimbing guru yang masih kurang pemahamannya dalam penetapan KKM pada mata pelajaran yang diasuhnya.

Siklus II

Dari hasil observasi, tampak bahwa: pada aspek kesiapan mental dan fisik 11 orang guru atau 91,67% siap mengikuti workshop dan 1 orang guru atau 8,33% yang tidak siap. Pada aspek kehadiran 22 orang guru atau 91,67% sudah hadir dan masih ada 2 orang guru atau 8,33% yang tidak hadir karena berhalangan. Pada aspek kesiapan bahan: tampak bahwa 22 orang atau 91,67% siap dan hanya 2 orang atau 8,33% tidak siap. Pada aspek kesiapan laptop tampak bahwa 6 orang atau 100% memiliki laptop.

Hasil deskripsi ini menunjukkan bahwa kesiapan guru dalam mengikuti Workshop biar pun belum memenuhi 100 % untuk semua aspek, namun dilihat dari ketercapaian indikator semua aspek sudah tercapai.

Sedangkan hasil dari evaluasi terhadap penetapan Kriteria Ketuntasan minimal oleh guru yang ikut Workshop pada siklus II diperoleh skor rata-rata secara umum dalam penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal pada siklus II berada pada katagori amat baik. Hal ini terjadi dikarenakan penulis telah bersusaha semaksimal mungkin proses pembimbingan dengan memeriksa pada setiap kelompok dan menjawab

(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 20, Nopember 2017) 44

setiap pertanyaan yang diajukan guru. Disamping itu penulis juga menyampaikan tuntutan setiap guru.

Penilaian ini penting dilakukan untuk memperoleh gambaran tentang respon guru terhadap kegiatan Workshop yang telah di harapkan dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal. Jika kita lihat dari nilai atau persentase guru yang dapat menetapkan KKM dengan memenuhi mekanisme dari kajian awal, siklus I, dan siklus II adalah59,58%, dan kemudian 85,75% ini menunjukkan peningkatan yang sangat berarti. Jadi dapat dikatakan bahwa respon guru sangat positip. Oleh karena itu, penerapannya perlu dilanjutkan dalam kegiatan-kegiatan yang lain.

PembahasanHasilPenelitian

Berdasarkan analisis dan pembahasan seperti yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan aktifitas peserta dalam kegiatan Workshop tentang Peningkatan Kemampuan Guru dalam Menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal bagi guru dalam sekolah Binaan Peneliti di SMP dan SMA Kabupaten Aceh Besar. Disamping itu juga terjadi peningkatan kemampuan guru dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal melalui Workshop dalam sekolah Binaan Peneliti diSMP Kota Balikpapan darisiklus I kesiklus II pada masing-masing aspek dengan target ketercapaian sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui Workshop dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal dalam sekolah Binaan Peneliti di SMP Kota Balikpapan .

Keberhasilan tindakan ini disebabkan oleh pemahaman secara menyeluruh tentang Kriteria Ketuntasan Minimal sangat diperlukan.

Dengan pemahaman yang baik, maka penetapan Kriteria Ketuntasan Minimal dengan sendirinya akan baik. Mengoptimalkan pemahaman guru terhadap Kriteria Ketuntasan Minimal melalui pembina intensif dalam bentuk penyelenggaraan Workshop menunjukkan pada metode kooperatif konsultatif yang diharapkan para guru berdiskusi, bekerja sama dan berkonsultasi secara aktif. Aktifitas ini akan sangat membantu mereka dalam memahami Kriteria Ketuntasan Minimalakhirnya nanti mereka mampu menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal.

Dalam kaitannya dengan pembinaan melalui Workshop, maka penelitian ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan Amstrong (1990 : 209) bahwa tujuan workshop ádalah untuk memperoleh tingkat

(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 20, Nopember 2017) 45 kemampuan yang diperlukan dalam pekerjaan mereka dengan cepat dan ekonomis dan mengembangkan kemampuan-kemampuan yang ada sehingga prestasi mereka pada tugas yang sekarang ditingkatkan dan mereka dipersiapkan untuk menerima tanggung jawab yang lebih besar di masa yang akan datang. Siswanto( 1989 : 139 ) mengatakan workshop bertujuan untuk memperoleh nilai tambah seseorang yang bersangkutan, terutama yang berhubungan dengan meningkatnya dan berkembangnya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang bersangkutan. Workshop dimaksudkan untuk mempertinggi kemampuan dengan mengembangkan cara-cara berpikir dan bertindak yang tepat serta pengetahuan tentang tugas pekerjaan termasuk tugas dalam melaksanakan evaluasi diri ( As’ ad, 1987:

64 ).

Dari paparan di atas, menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru melalui kegiatan workshop yang lebih menekankan pada metode kolaboratif konsultatif akan memberikan kesempatan sharing antara satu guru dengan guru lain. Dengan demikian, pemahaman terhadap Kriteria Ketuntasan Minimal dapat ditingkatkan baik dalam teoritisnya maupun dalam implementasinya.

KESIMPULAN

Berdasarkan paparan data hasil penelitian dan pembahasannya, maka dapat disimpulkan bahwa melalui workshop dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal di SMP Kota Balikpapan yang menjadi sekolah Binaan Penelititahun 2017.Terjadi peningkatan kesiapan peserta dalam kegiatan workshop, dan terjadi peningkatan kemampuan guru dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal melalui pembinaan berupa workshop. Dari siklus I ke siklus II telah mencapai target minimal yang telah ditetapkan yaitu59,58% pada siklus I menjadi 85,75% pada siklus II, guru telah mampu menetapkan KKM.

SARAN

Adapun yang dapat penulis sarankan berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh adalah sebagai berikut: (1) Guru hendaknya dalam menetapkan KKM terlebih dahulu memperhatikan mekanisme, prinsip dan langkah-langkah penetapannya. (2) Suapaya pembinaan melalui workshop dapat berjalan secara efektif, maka semua guru harus mampu

(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 20, Nopember 2017) 46

bekerja yang bersifat kolaboratif konsultatif. (3) Pembinaan menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal melalui Workshop, dapat dijadikan salah satu alternatif meningkatkan kompetensi guru dalam pengembangan proses belajar mengajar.

DAFTAR PUSTAKA

Boediono, 1998. Pembinaan Profesi Guru dan Psikologi Pembinaan Personalia, akarta; Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Budiningsih, 2005. Menjadi Guru Profesional. Jakarta; Bina Aksara Depdiknas. 2004. Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Indonesia.

_________. 2006. Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: PB. PGRI.

Djamarah, 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta. Depdiknas.

Mathis dan Jackson. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta:

Salemba Empat.

Mulyasa, 2008. Menjadi guru yang Profesional. Jakarta: Rosda Kayra.

Nawawi, 1989. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta: CV.

Hazi Masagung.

Prokton and W.M. Thornton 1983. Latihan Kerja Buku Pegangan Bagi Para Manager. Jakarta: Bina Aksara.

Simamora, Henry. 1995. Managemen Sumber Daya Manusia.

Yogyakarta : STIE YPKN.

Sudibyo, Bambang. 2006. Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional.

Sudira, 2007. Pembinaan Profesionalisme Pendidik. Jakarta.

Sujana. 2002. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah.

Bandung: Sinar Baru Algensindo

Supriadi, 1998. Perangkat Penilaian Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Surya, 2003. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Salemba Empat.

(BORNEO, Edisi Khusus, Nomor 20, Nopember 2017) 47 UPAYA PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM MENYUSUN SILABUS DAN RPP MELALUI SUPERVISI AKADEMIK YANG BERKELANJUTAN DI SD NEGERI 019

BALIKPAPAN BARAT