• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh ARWINI DWI SAFITRI (Halaman 40-57)

BAB IV HASIL PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil penelitian

Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian dan pembahasan dari hasil penelitian di lapangan dengan metode kuantitatif. Data ini didapatkan dari hasil tes keterampilan membaca melalui penerapan metode SQ3R. Aspek-aspek yang dinilai dalam penelitian ini adalah (1) Ketepatan Membaca Skipping (Baca-Lompat) 0 – 100, (2) Mampu Selecting (Baca-Pilih), (3) Ketepatan membaca ekstensifyang bersifat mekanis 0- 100, (4) Ketepatan menyimpulkan isi bacaan 0 – 100, (5) Ketepatan keterampilan yang bersifat pemahaman 0 – 100. Setelah melaksanakan penelitian tindakan melalui penerapan metode SQ3R dalam pembelajaran yang terdiri dari dua siklus kegiatan, yaitu siklus I dan siklus II. Setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan (Pertemuan pertama dan kedua adalah proses belajar mengajar dan pertemuan ketiga adalah pemberian tes formatif). Berikut ini hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:

1. Deskripsi Hasil Pretest Sebelum Penerapan Metode SQ3R a. Siklus I

1) Tahap Perencanaan

1) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui penerapan metode SQ3R.

2) Membuat dan menyusun alat evaluasi 3) Menyiapkan pedoman observasi

2) Tahap Pelaksanaan 1) Berdoa bersama 2) Mengabsen murid

3) Mengelola kesiapan murid untuk belajar 4) Memotivasi murid

5) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai 6) Guru menyajikan materi sebagai pengantar 7) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai

8) Guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan tentang model pembelajaran yang akan digunakan

9) Guru membagikan murid selebaran teks bacaan

10) Guru memberikan kesempatan kepaada murid membaca teks bacaan yang telah dibagikan sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran yang akan digunakan yaitu metode SQ3R.

11) Guru menyuruh setiap murid membaca teks bacaan tersebut di depan kelas, setelah itu menceritakan kembali teks bacaan yang telah dibagikan tanpa melihat konsep teks bacaan

12) Murid membuat kesimpulan tentang isi bacaan yang diberikan Tahap pelaksanaan pada siklus I, murid diberikan contoh cara membaca teks bacaan yang benar dan bagaimana cara memahami isi teks suatu bacaan. Setelah guru memberi contoh, murid diberikan kesempatan membaca di bangkunya masing-masing kemudian setelah itu diceritakan kembali di depan kelas kemudian guru melakukan tanya jawab langsung

30

kepada setiap murid. Dari kegiatan di atas diperoleh data dalam penelitian pada siklus I yang dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.1 : Data Keterampilan Membaca Ekstensif Murid Kelas IV SD Inpres Pa’bundukang Kecamatan Bontonompo Selatan

Kabupatan Gowa pada Siklus I

No. Nama Murid

15. AI 70 50 50 70 50 290 58

16. F 60 60 50 50 60 280 56

17. S 50 60 50 50 60 270 54

18. AK 60 60 60 60 70 310 62

Keterangan :

1. Ketepatan Membaca Skipping (Baca-Lompat) 2. Mampu Selecting (Baca-Pilih)

3. Ketepatan membaca ekstensifyang bersifat mekanis 4. Ketepatan menyimpulkan isi bacaan

5. Ketepatan keterampilan yang bersifat pemahaman

Nilai Keterampilan Membaca Ekstensif= Jumlah Skor Perolehan Banyaknya Aspek yang Dinilai

Tabel 4.2 : Data Nilai Akhir Tes Siklus I Keterampilan Membaca Ekstensif Murid Kelas IV SD Inpres Pa’bundukang Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupatan Gowa pada

Siklus I

32

Nilai Rata-Rata Kelas 62,89

NA = Nilai Keterampilan Membaca + Hasil Tes 2

Nilai Rata-Rata =Nilai Keseluruhan 2

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata yang diperoleh pada siklus I hanya 62,89 dan masih perlu ditingkatkan. Maka dari itu penelitian ini akan dilanjutkan ke siklus II.

Deskripsi hasil belajar murid secara kuantitatif berdasarkan hasil tes siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.3 : Statistik Skor Penguasaan Murid pada Tes Siklus I

Statistik Nilai Statistik

Subjek 18

Skor Ideal 100

Skor Maksimum 82

Skor Minimum 48

Skor Rata-Rata 62,89

KBM 65

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 18 murid diperoleh skor maksimum 82, skor minimum 48, dan rata-rata kelas hanya 62,89 berada di bawah nilai KBM yang telah ditentukan yaitu 65 dari skor ideal 100.

Apabila skor hasil keterampilan Membaca Ekstensif dikelompokkan ke dalam lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.4 : Distribusi Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil Keterampilan Membaca Ekstensif Murid pada Siklus I

No. Skor Kategori Frekuensi Persentase

1. 0 – 34 Sangat Rendah - 0 %

2. 35 – 54 Rendah 3 16,67 %

34

3. 55 – 64 Sedang 9 50 %

4. 65 – 84 Tinggi 6 33,33 %

5. 85 – 100 Sangat Tinggi - 0 %

Jumlah 18 100

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa tidak ada murid yang berada dalam kategori sangat rendah (0%), kategori rendah 3 murid (16,67%), kategori sedang 9 murid (50%), kategori tinggi hanya 6 murid (33,33%), dan tidak terdapat murid yang berada dalam kategori sangat tinggi (0%) pada siklus I. Dapat disimpulkan bahwa hasil keterampilan Membaca Ekstensif yang diperoleh murid melalui penerapan metode SQ3R pada siklus I mencapai rata-rata 62,89 dan berada dalam kategori sedang.

Apabila hasil belajar keterampilan Membaca Ekstensif murid pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.5 : Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid pada Siklus I

Skor Kategori Frekuensi Persentase

0 - 64 Tidak Tuntas 12 66,67

65 - 100 Tuntas 6 33,33

Jumlah 18 100

Tabel di atas menunjukkan bahwa pada siklus I, dari 18 murid hanya 5 murid (27,78%) yang tuntas belajarnya dan yang tidak tuntas sebanyak 13

murid (72,22%). Artinya masih banyak murid yang memerlukan perbaikan.

Oleh karena itu, akan diusahakan perbaikan pada siklus II.

3) Tahap Observasi

Pada tahap observasi siklus I tercatat sikap yang terjadi pada setiap murid terhadap pelajaran bahasa Indonesia.Sikap murid tersebut diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat pada setiap siklus.

Lembar observasi tersebut untuk mengetahui perubahan sikap murid selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas.

Adapun sikap murid dari siklus I adalah sebagai berikut :

1. Pada siklus I tampak masih ada murid yang tidak hadir mengikuti pelajaran baik itu yang tidak hadir tanpa keterangan maupun yang sakit.

2. Perhatian murid pada siklus I masih belum fokus dan gairah belajar masih kurang.

3. Murid yang bertanya mengenai materi yang diajarkan oleh guru pada siklus I ini masih kurang dan didominasi oleh murid yang pintar saja.

4. Masih ada murid yang tidak berperan aktif dalam mengerjakan LKS yang dibagikan oleh guru pada siklus I.

5. Masih ada murid yang melakukan kegiatan lain pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

4) Tahap Refleksi

Pada siklus I, proses pembelajaran diawali dengan pengenalan pembelajaran yang digunakan melalui penerapan metode SQ3R.Penggunaan metode ini pada awalnya masih banyak murid yang kurang tertarik dengan

36

ditandainya banyaknya murid yang melakukan aktivitas-aktivitas negatif seperti ribut, main-main, mengganggu temannya, berkelahi, dan lain-lain.Sebagai kegiatan akhir, guru memberikan soal latihan secara lisan dan setiap murid berlomba untuk memberi jawaban.Setelah itu, membahas kembali soal yang masih dianggap sulit oleh murid.Setelah itu memberikan pekerjaan rumah (PR) untuk dikumpul pada pertemuan berikutnya.

2. Siklus II

a) Deskripsi Penerapan Metode SQ3R 1) Perlakuan Guru

1. Tahap Perencanaan

1) Menyiapkan skenario pembelajaran melalui penerapan metode SQ3R.

2) Membuat dan menyusun alat evaluasi 3) Menyiapkan pedoman observasi 2. Tahap Pelaksanaan

1) Berdoa bersama.

2) Mengabsen murid.

3) Mengelola kesiapan murid untuk belajar.

4) Memotivasi murid.

5) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.

6) Guru menyajikan materi sebagai pengantar.

7) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai.

8) Guru menjelaskan langkah-langkah pelaksanaan tentang metode pembelajaran yang akan digunakan.

9) Guru membagikan murid selebaran teks bacaan

10) Guru memberikan kesempatan kepada murid membaca teks bacaan yang telah dibagikan sesuai dengan langkah-langkah model pembelajaran yang akan digunakan yaitu metode SQ3R.

11) Guru menyuruh setiap murid membaca teks bacaan tersebut di depan kelas, setelah itu menceritakan kembali teks bacaan yang telah dibagikan tanpa melihat konsep teks bacaan.

12) Murid membuat kesimpulan tentang isi bacaan yang diberikan.

Tahap pelaksanaan pada siklus II hampir sama dengan tahap pelaksanaan pada siklus I. perbedaannya adalah pada judul teks bacaan yang dibagikan oleh guru. Murid diberikan contoh cara membaca teks bacaan yang benar dan bagaimana cara memahami isi teks suatu bacaan. Setelah guru memberi contoh, murid diberikan kesempatan membaca di bangkunya masing-masing kemudian setelah itu diceritakan kembali di depan kelas kemudian guru melakukan tanya jawab langsung kepada setiap murid.

2) Respon Siswa Dalam Penerapan Metode SQ3R

Kegiatan di atas diperoleh data dalam penelitian pada siklus I yang dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.6 : Data Keterampilan Tes Siklus II Keterampilan Membaca Ekstensif Murid Kelas IV SD Inpres Pa’bundukang Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupatan Gowa

padaSiklus II

38

1. Ketepatan Membaca Skipping (Baca-Lompat) 2. Mampu Selecting (Baca-Pilih)

3. Ketepatan membaca ekstensifyang bersifat mekanis 4. Ketepatan menyimpulkan isi bacaan

5. Ketepatan keterampilan yang bersifat pemahaman

Nilai Keterampilan Membaca Ekstensif= Jumlah Skor Perolehan Banyaknya Aspek yang Dinilai

Tabel 4.7 : Data Nilai Akhir Keterampilan Membaca Ekstensif Murid Kelas IV SD Inpres Pa’bundukang Kecamatan Bontonompo

Selatan Kabupatan Gowa pada Siklus II No. Nama Murid Nilai Ket. Membaca

40

Nilai Rata-Rata Kelas 81,67

NA = Nilai Keterampilan Membaca + Hasil Tes 2

Nilai Rata-Rata =Nilai Keseluruhan 2

Pada tabel di atas dapat dilihat bahwa nilai rata-rata yang diperoleh pada siklus II mencapai 81,67 dan sudah mencapai kriteria indikator keberhasilan yaitu 80%.

Deskripsi hasil belajar murid secara kuantitatif berdasarkan hasil tes siklus II dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.8 : Statistik Skor Penguasaan Murid pada Tes Siklus II

Statistik Nilai Statistik

Subjek 18

Skor Ideal 100

Skor Maksimum 90

Skor Minimum 60

Skor Rata-Rata 81,67

KBM 65

Tabel di atas menunjukkan bahwa dari 18 murid diperoleh skor maksimum 90, skor minimum 60, dan rata-rata kelas hanya 81,67 dan telah memenuhi nilai KBM 65 dari skor ideal 100

Apabila skor hasil keterampilan Membaca Ekstensif dikelompokkan ke dalamn lima kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.9 : Distribusi Frekuensi dan Persentase Kategori Hasil Keterampilan Membaca Ekstensif Murid pada Siklus II

No. Skor Kategori Frekuensi Persentase

1. 0 – 34 Sangat Rendah - 0 % kategori sedang 1 murid (44,44%), kategori tinggi 9 murid (50%), dan sudah terdapat 8 murid yang berada dalam kategori sangat tinggi (44,44%) pada siklus II. Dapat disimpulkan bahwa hasil keterampilan Membaca Ekstensif yang diperoleh murid melalui penerapan metode SQ3R pada siklus II mencapai rata-rata 81,67 dan berada dalam kategori tinggi.

Apabila hasil belajar keterampilan Membaca Ekstensif murid pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.10 : Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid pada Siklus II

42

Skor Kategori Frekuensi Persentase

0 – 64 Tidak Tuntas 1 5,56

65 – 100 Tuntas 17 94,44

Jumlah 18 100

Tabel di atas menunjukkan bahwa pada siklus I, dari 18 murid hanya 1 murid (5,56%) yang tidak tuntas belajarnya dan yang tuntas sebanyak 17 murid (94,44%). Artinya sudah tidak ada murid yang memerlukan perbaikan.Oleh karena itu, penelitian pada siklus II dinyatakan berhasil dan tidak perlu dilanjutkan ke siklus III.

Untuk melihat peningkatan hasil belajar keterampilan Membaca Ekstensif murid dalam setiap siklus tercatat pada tabel berikut :

Tabel 4.11 : Peningkatan keterampilan Membaca Ekstensif Murid pada Setiap Siklus

Siklus

Skor Perolehan Murid Tuntas Tidak Tuntas

Min Maks Rata-Rata Frekuensi

Persentase Frekuensi Persentase

Siklus I 48 82 62,89 6 33,33% 12 66,67 %

Siklus II 60 90 81,67 17 94,44 % 1 5,56 %

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan skor rata-rata kemampuan Membaca Ekstensif setelah diterapkan

metode SQ3R. Dari kategori rendah pada siklus I dengan skor rata-rata 62,89 meningkat menjadi 81,67 pada siklus II dengan kategori tinggi. Dalam tabel juga menunjukkan bahwa pada siklus II ketuntasan dalam kegiatan belajar mengajar juga tercapai. Hal ini ditandai dengan jumlah murid yang mencapai ketuntasan belajar meningkat, yaitu dari 6 murid (33,33%) meningkat menjadi 17 murid (94,44%), sedangkan murid yang tidak tuntas mengalami penurunan yang sangat signifikan. Hal ini ditandai dengan jumlah murid yang tidak tuntas pada siklus I berjumlah 12 murid (66,67%) menurun pada siklus II menjadi 1 murid (5,56%).

Ketuntasan belajar murid pada siklus II lebih banyak daripada siklus I memberikan indikasi bahwa kemampuan Membaca Ekstensif murid mengalami peningkatan yang sangat signifikan setelah diterapkan metode SQ3R.

3. Tahap Observasi

Selama penelitian, selain terjadi peningkatan kemampuan Membaca Ekstensif pada siklus I dan Siklus I tercatat sejumlah perubahan yang terjadi pada setiap murid terhadap pelajaran bahasa Indonesia.Perubahan tersebut diperoleh dari lembar observasi pada setiap pertemuan yang dicatat pada setiap siklus. Lembar observasi tersebut untuk mengetahui perubahan sikap murid selama proses belajar mengajar berlangsung di kelas.

Adapun perubahan sikap murid pada siklus II adalah sebagai berikut :

44

1. Pada siklus II tampak perubahan dengan ketidakhadiran murid hampir tidak ada dibandingkan dengan siklus I.

2. Perhatian murid pada siklus II mulai meningkat. Hal ini dapat dilihat dari perhatian murid dalam menerima pelajaran yang diberikan lebih fokus dan gairah belajar murid juga mengalami peningkatan

3. Murid yang bertanya mengenai materi yang belum dipahami mulai merata.

Bukan hanya murid yang pintar saja yang aktif, tetapi semua murid baik yang berkemampuan rendah juga mulai aktif dan berani bertanya.

4. Semua murid mulai aktif mengerjakan LKS yang dibagikan oleh guru.

5. Sudah tidak terdapat murid yang melakukan kegiatan lain pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

4. Tahap Refleksi

Setelah merefleksi hasil pelaksanaan siklus I, diperoleh suatu gambaran tindakan yang akan dilaksanakan pada siklus II sebagai perbaikan dari tindakan yang dilakukan pada siklus I.

Pada siklus II terlihat peningkatan dalam proses belajar mengajar. hal ini terlihat dari keberanian murid untuk bertanya tentang hal-hal yang kurang dipahami dan keaktifan meereka untuk memberi tanggapan terhadap suatu pertanyaan yang diajukan oleh guru. Selain itu, murid yang melakukan aktivitas lain saat pembelajaran berlangsung juga semakin berkurang.

Penampilan murid dalam Membaca Ekstensif semakin baik.Mereka membaca dengan memperhatikan ejaan, lafal, dan intonasi sehingga isi bacaan lebih mudah dipahami oleh si pembaca.Kepercayaan diri murid meningkat

sehingga mereka memperhatikan performance yang lebih baik. Selain itu, murid yang lain mulai serius untuk memperhatikan temannya yang tampil membaca dan mereka aktif untuk mengemukakan komentar mereka.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa pada siklus II kemampuan Membaca Ekstensif murid semakin meningkat karena murid telah memahami teknik-teknik membaca yang baik, sudah memahami bagaimana menggunakan ejaan dan tanda baca yang tepat, serta murid juga sudah memahami dan memperhatikan penggunaan intonasi dalam membaca.

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh ARWINI DWI SAFITRI (Halaman 40-57)

Dokumen terkait