BAB IV HASIL PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Kemampuan Membaca Ekstensif murid Kelas IV SD Inpres Pa’bundukang Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupatan Gowa sebelum melakukan penelitian yaitu kategori rendah di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KBM) yaitu 65.Pada tindakan siklus I hasil belajar murid mengalami peningkatan dan berada pada kategori sedang. Diperoleh data bahwa tidak ada murid yang berada dalam kategori sangat rendah (0%), kategori rendah 3 murid (16,67%), kategori sedang 9 murid (50%), kategori tinggi hanya 6 murid (33,33%), dan tidak terdapat murid yang berada dalam kategori sangat tinggi (0%) pada siklus I. Nilai rata-rata murid secara keseluruhan pada siklus I yaitu 62,89 dan berada dalam kategori sedang.
Berdasarkan tabel 4.5 menunjukkan bahwa pada siklus I, dari 18 murid hanya 5 murid (27,78%) yang tuntas belajarnya dan yang tidak tuntas sebanyak 13 murid (72,22%). Artinya masih banyak murid yang memerlukan perbaikan karena berada di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KBM).
46
Setelah tindakan siklus I selesai, hasil belajar murid belum mecapai target yang diinginkan maka dilanjutkan dengan tindakan siklus II. Pada siklus II diperoleh data bahwa bahwa tidak ada murid yang berada dalam kategori sangat rendah (0%), kategori rendah 0 murid (0%), kategori sedang 1 murid (44,44%), kategori tinggi 9 murid (50%), dan sudah terdapat 8 murid yang berada dalam kategori sangat tinggi (44,44%). Nilai rata-rata pada siklus II yaitu 81,67. Berdasarkan tabel 4.11 menunjukkan bahwa pada siklus I, dari 18 murid hanya 1 murid (5,56%) yang tidak tuntas belajarnya dan yang tuntas sebanyak 17 murid (94,44%). Artinya sudah tidak ada murid yang memerlukan perbaikan.
Berdasarkan siklus I dan siklus II di atas maka peningkatan kemampuan Membaca Ekstensif murid diketahui rata-rata murid pada siklus I adalah 62,89 meningkat menjadi 81,67. Ketuntasan murid juga meningkat dari 33,33% pada siklus I menjadi 94,44% pada siklus II.
47 A. Simpulan
Berdasarkan hasil belajar murid dari Siklus I dan Siklus II maka dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam pembelajaran bahasa Indonesia melalui penerapan metode SQ3R terbukti dapat :
1. Meningkatkan kemampuan Membaca Ekstensif murid Kelas IV SD Inpres Pa’bundukang Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupatan Gowa. Hal ini dapat dilihat dari siklus I yang ketuntasan belajarnya hanya mencapai 33,33% dengan rata-rata 62,89 kemudian naik menjadi 94,44% pada siklus II dengan rata-rata 81,67.
2. Relevansi hasil penelitian ini dengan hasil penelitian terdahulu adalah adanya kesamaan hasil akhir berupa keberhasilan penerapan metode SQ3Rdalam pembelajaran bahasa Indonesia. Perbedaannya, peneliti terdahulu menggunakan kurikulum 2006 (KTSP), sedangkan peneliti sekarang menggunakan kurikulum 2013.
B. Saran
1. Dalam upaya peningkatan kemampuan Membaca Ekstensif murid di semua jenjang pendidikan, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan kompetensi guru dalam bidangnya masing-masing.
48
2. Guru sebaiknya menjadikan metode SQ3R sebagai suatu alternatif pembelajaran bahasa Indonesia dalam meningkatkan kemampuan Membaca Ekstensif murid.
3. Karena hal ini sangat bermanfaat bagi guru dan murid, maka sebaiknya hal ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam pembelajaran bahasa Indonesia ataupun pelajaran lainnya.
4. Dengan selesainya skripsi ini diharapkan menjadi sumbangsih pemikiran bagi guru-guru dan murid serta dijadikan sebagai bahan tambahan peningkatan kualitas untuk tahun-tahun berikutnya.
5. Kepada peneliti selanjutnya agar dapat merumuskan atau melengkapi penelitian ini, sehingga apa yang kita inginkan bersama dapat mencapai hasil yang lebih akurat dan dapat dipercaya.
49
Aris Shoimin. (2014). Model Pembelajaran Inovatif dalam Model kurikulum 2013.
Burhan Nurgiyantoro. (2001). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra.
Dalman (2013).Keterampilan Membaca.Jakarta : Rajawali Pers.
Farida Rahim. (2008). Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar.Jakarta :Bumi Aksara.
Hamzah & Nurdin Mohamad. (2012). Pembelajaran dengan Penekatan Pailkem :Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif, Efektif, Menarik.Jakarta : Bumi Aksara.
Henry Guntur Tarigan.(2008). Membaca Sebagai Suatu KeterampilanBerbahasa..Bandung : Angkasa.
Irma Fatan Setya Dewi. (2013). “Meningkatkan Kemampuan Membaca Ekstensif Melalui Penerapan Strategi Know-Want to Know-Learned.
Nglimun & Noor Alfulaiala.(2014). Pembelajaran Keterampilan BerbahasaIndonesia.Yogyakarta : Aswaja Pressindo.
Rita Eka Izzaty, dkk. (2008). Perkembangan Peserta Didik..
Sabarti Akhadiah. (1993). Bahasa Indonesia 1.Jakarta : DepartemenPendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral PendidikanTinggi.
Saleh Abbas. (2006). Pembelajran Bahasa Indonesia yang Efektif di SekolahDasar.Jakarta : Dirjen Dikti.
Samsu Somadayo. (2013). Penelitian Tindakan Kelas (PTK).GrahaIlmu.
Soedarso.(2002). Speed Reading Sistem Membaca Cepat dan Efektif.Jakarta.
Supriyadi, dkk.(1992). Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia 2.Jakarta :Departemen Pendidikan dan Kebudayaan ProyekPembinaan TenagaKependidikan Pendidikan Tinggi.
50
Syaiful Sagala. (2006). Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk MembantuMemecahkan Problematika Belajar dan Mengajar.Bandung :Alfabeta.
Zulela. (2013). Pembelajaran Bahasa Indonesia Apresiasi Sastra di SekolahDasar.Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Mikha Lambertus. Randongkir. 2011. Keefektifan Metode SQ3R terhadapKeterampilan Membaca Intensif Siswa Kelas IV SDN Ngalian 01 Kota Semarang.
Suparni. 2013. Peningkatan Kemampuan Membaca Ekstensif dengan Menerapkan SQ3RSiswa IV SDN 1 Kasimbar.
Anis Finalisa. 2009. Peningkatan Keterampilan Membaca EkstensifMelalui PenerapanModel SQ3R pada Siswa Kelas IV MI Unwaanunnajah Pondok Aren.
FOTO-FOTO DOKUMENTASI
52
Gambar 1 : Guru sedang menjelaskan materi tentang tema 5 ( selalu berhemat energi subtema 1 (sumber energi)
Gambar 2 : Siswa membacakan teks bacaan yang terdapat pada buku siswa dengan metode membaca biasa
Gambar 3 : Siswa membacakan teks bacaan yang terdapat pada buku siswa dengan metode membaca biasa
Gambar 4 : Guru memberikan teks bacaan kepada semua siswa untuk dibaca secara ekstensif
54
Gambar 5: Guru membagikan teks bacaan kepada semua siswa untuk dibaca secara ekstensif
Gambar 6: Guru membimbing siswa cara membaca ekstensif yang benar
Gambar 7 :Guru membimbing siswa cara membaca ekstensif yang benar
Gambar 8 : Guru membimbing siswa cara membaca ekstensif yang benar
56
RIWAYAT HIDUP
ARWINI DWI SAFITRI Dilahirkan di sungguminasa Tepatnya pada tanggal 09 Februari 1997. Penulis anak kedua dari dua bersaudara buah hati Pasangan H. Sultan dan Hj. St, Hadarah. Jenjang pendidikan yang ditempuh penulis mulai dari bangku Sekolah Dasar di SD Negeri cambajawaya Kabupaten Gowa dari tahun 2005-2009, kemudian penulis melanjutkan pedidikan di SMP Negeri 1 Bontonompo selatan dari tahun 2009-2012, Selanjutnya melanjutkan Pendidikan di SMA Negeri 1 Bontonompo Selatan dari tahun 2012-2015, lanjut keperguruan tinggi di Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan program Studi Sekolah Dasar Strata Satu ( S1) Dari tahun 2015-2019.
Pada akhir Studi , Penulis menyelesaikan skripsi dengan judul:
“Peningkatan Kemampuan Membaca Ekstensif Melalui Metode Survey, Question, Reading, Recite, Review ( SQ3R) Pada siswa Kelas IV SD Inpres Pa’bundukang Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa”.