BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
je
k Nama YT (nama disamarkan)
Usia -
Jenis Kelamin Perempuan
Alamat Tambun, Bekasi
Agama Katholik
Pekerjaan Ibu Rumah Tangga
B. Hasil Penelitian
Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap responden
diperoleh hasil penelitian yang berkaitan dengan dukungan orang tua terhadap
anak yang memiliki gangguan dalam pendengaran (tunarungu).
1. Pengetahuan Orang Tua terhadap Anak Mereka yang Tunarungu Dari jawaban yang dikemukaan oleh ibu, diketahui bahwa awalnya
ibu dan keluarga tidak mengetahui keadaan anaknya yang memiliki
gangguan dalam pendengaran (tunarungu). Hal tersebut, baru ibu sadari
ketika anaknya umur 2 tahun. Sang anak tidak merespon ataupun menyahut
ketika ibu, ayah, ataupun kakaknya memanggil, dan itu terjadi hampir setiap
saat. Hal tersebut, dapat dilihat dari kutipan wawancara sebagai berikut: “Sadar betul itu ketika Vina umur 2 tahun mbak. Hal pertama yang membuat saya sadar adalah ketika Vina yang tidak menyahut atau merespon saat kami panggil, dan hal itu terjadi berulang kali mbak. Saya
54
pikir, awalnya Vina hanya ngeyel ndak menjawab, tetapi terasa aneh ketika itu terjadi setiap hari.” (M/PO-1, 003-008)
Keadaan dimana anaknya yang tidak merespon ataupun menyahut
ketika ayah, ibu, dan kakaknya memananggil, diperkuat dengan tanda-tanda
lain dimana anaknya mengalami keterlambatan dalam berbicara, tidak jelas
dalam pengucapan a-i-u-e-o, dan minim dalam mengenali kosakata
sehingga sulit untuk mengerti apa yang dibicarakan oleh ibu, ayah, ataupun
kakaknya. Hal tersebut, dapat dilihat dari kutipan wawancara sebagai
berikut:
“Awal pertama kali, saya hanya mengira Vina telat berbicara mbak. Saya ndak terlalu hiraukan saat itu, karena saya pikir itu biasa kan Vina juga masih kecil. Tapi, semakin besar kok saya ngerasa aneh, setiap kali diajak bicara atau dipanggil, Vina itu ndak langsung jawab dan terlihat tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Ketika berbicara pun, Vina tidak jelas mbak pengucapannya aiueo-nya.” (M/PO-2, 012-014; 015-018; 018-019)
Penanganan pertama yang dilakukan ibu dan keluarga untuk sang
anak, yaitu membawanya periksa ke RSCM (Rumah Sakit Umum Dr. Cipto
Mangunkusumo) tepatnya ke dokter rehab. Pada saat itu, ibu berpikir bahwa
anaknya hanya mengalami keterlambatan dalam berbicara saja. Dokter yang
diajak untuk konsultasi pun, mengatakan bahwa sang anak hanya perlu
untuk berlatih berbicara lebih sering. Namun, di lain sisi ibu juga bercerita
tentang keadaan sang anak yang tidak mengerti dan merespon setiap kali
diajak berbicara. Akhirnya, dokter menyarankan untuk periksa ke dokter
THT untuk memastikan keadaan sang anak. Hal tersebut, dapat dilihat dari
“Pertama kali, saya periksa ke dokter RSCM mbak. Ke dokter rehab, karena waktu itu saya kira kan hanya telat ngomong mbak. Dokternya cuma bilang ndak apa-apa hanya perlu dilatih lagi. Terus, saya bilang kalo diajak ngomong atau dipanggil suka gak nyaut dan terlihat ndak mengerti. Akhirnya dokternya bilang untuk memastikan boleh dibawa ke dokter THT.” ((M/PO-3, 023-026; 029-029)
Pemahaman pertama ibu dan keluarga mengenai anak tunarungu
adalah mereka yang memiliki masalah dalam pendengaran, disertai dengan
tidak bisa berbicara secara lancar. Hal tersebut, dapat dilihat dari kutipan
wawancara sebagai berikut:
“Yang saya mengerti tentang anak tunarungu adalah mereka anak yang memiliki masalah dalam pendengaran dan tidak bisa bicara dengan lancar, sehingga membutuhkan bantuan dari orang lain.” (M/PO-4, 033-036)
Pemahaman ibu dan keluarga semakin bertambah, ketika ibu
membawa sang anak untuk periksa ke dokter THT. Dokter THT banyak
menjelaskan tentang anak tunarungu itu seperti apa, disesuaikan dengan
keadaan sang anak. Dimana sang anak merupakan tunarungu dengan desibel
(dB) 90-95 yang berarti sudah sangat parah, memelurkan Alat Bantu Dengar
(ABD), sulit berbicara dan kosakata minim, serta sensitif dan butuh
perhatian. Hal tersebut, dapat dilihat dari kutipan wawancara sebagai
berikut:
“Saya mulai mengenal tentang anak tunarungu itu ketika datang memeriksakan Vina ke dokter rehab mbak. Awalnya, saya ndak pernah kepikiran kalo Vina punya kekurangan karena pas hamil saya baik-baik saja mbak. Terus saya mulai paham betul itu ketika saya membawa Vina ke dokter THT. Disitu, saya dijelaskan mengenai keadaan Vina, dan dokter juga mulai menjelaskan tentang seperti apa anak tunarungu itu. Yang saya ngerti ya sesuai sama
56
Vina anak saya mbak, seperti desibelnya Vina itu 90-95 yang berarti itu sudah sangat parah, tidak bisa mendengar sama sekali dan harus menggunakan ABD. Lalu sulit untuk berbicara, kosakata yang dimengerti pun sedikit, dan sulit untuk mengerti apa yang orang lain bicarakan. Terkadang akan sangat sensitif dan perlu banyak diberikan perhatian. Gitu mbak…” (M/PO-4, 037-041; 041-045; 045-048; 048-051; 051-052)
Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa pengetahuan
orang tua mengenai anak tunarungu adalah anak yang memiliki masalah
dalam pendengaran disertai berbicara dengan tidak lancar. Pemahaman itu
bertambah, dimana anak tunarungu itu memiliki tingkat keparahan yang
berbeda-beda, membutuhkan Alat Bantu Dengar (ABD), kosakata minim
(sedikit), sensitif, dan membutuhkan perhatian yang lebih.
Gambar 4.1. Visualisasi Pengetahuan Orang Tua Pengetahuan
Orang Tua
Tidak mengenali tanda-tanda ketunarunguan anak.
Hanya tahu bahwa anak mengalami keterlambatan dalam berbicara dan tidak merespon ketika dipanggil.
Memeriksakan anak ke RSCM, ke dokter rehab.
Menyadari jika anak mereka tuanrungu.
Memeriksakan anak ke dokter THT.
Mengasuh dan merawat anak sebagai anak
tunarungu. Ciri-ciri anak:
- Desibel 90-95, sudah sangat parah. - Harus menggunakan ABD (Alat
Bantu Dengar). - Sulit berbicara dan kosakata
2. Kendala Orang tua dalam Menghadapi Anak Mereka yang Tunarungu Dari jawaban yang dikemukakan oleh ibu, terdapat tiga kendala
yang dihadapi ketika mengurus anaknya. Kendala pertama, yaitu ketika
anak terkadang sulit untuk berkomunikasi. Kendala ini sesuai dengan
tanda-tanda sebelumnya, yaitu anak sulit merespon atau mengerti ketika diajak
berbicara, terlambat dalam berbicara, serta tidak jelas dalam pengucapan
a-i-u-e-o. Hal tersebut, dapat dilihat dari kutipan wawancara sebagai berikut: “Kadang sulit untuk berkomunikasi dengan Vina mbak. Jadi, biasanya saya ngomongnya harus pelan-pelan supaya Vina bisa membaca gerak bibir saya dan ngerti sama apa yang saya omongin.” (M/KO-1, 056-059)
Kendala selanjutnya, yaitu ketika anak sedang bertengkar dengan
kakaknya (tantrum), anak seringkali memukul dan sulit untuk dikendalikan.
Kendala ini, terjadi karena anak tunarungu biasanya akan lebih sensitif dan
butuh perhatian lebih dari orang-orang di sekitarnya. Hal tersebut, dapat
dilihat dari kutipan wawancara sebagai berikut:
“Selain itu, Vina sering berantem sama kakaknya mbak. Setiap kali berantem Vina pasti mukul dan sulit untuk dikendalikan. Jadi kalau sudah seperti itu, pasti saya minta kakaknya untuk mengalah dan menjauh.” (M/KO-1, 059-063)
Kendala yang terakhir, yaitu ketika anak mulai malas untuk belajar
ataupun sekolah. Keadaan seperti sekarang, mengharuskan kegiatan
belajar-mengajar dilakukan secara online (PJJ/Pembelajaran Jarak Jauh). Kendala
ini, terjadi karena anak tunarungu biasanya akan sulit untuk menjadi fokus
dan harus mendapatkan pendampingan dalam belajar yang lebih dari orang
58
“Sama satu lagi itu, Vina jadi malas belajar sejak PJJ ini. Jadi, saya ekstra mendampingi selama kelas online ataupun kerja tugas.” (M/KO-1, 063-066)
Dari hasil wawancara tersebut, dapat diketahui bahwa tiga kendala
yang dihadapi oleh ibu dan keluarga dalam menghadapi sang anak, yaitu
terkadang sulit dalam berkomunikasi; sulit dikendalikan ketika tantrum; dan
malas untuk belajar ataupun sekolah.
Gambar 4.2. Bagan Kendala Orang Tua
3. Bentuk Dukungan Orang Tua untuk Anak Mereka yang Tunarungu Dari jawaban yang dikemukakan oleh ibu, terdapat lima bentuk
dukungan yang diberikan oleh ibu dan keluarga untuk anaknya. Dukungan
pertama, yaitu memberikan anak latihan-latihan dalam berbicara (dukungan
emosional). Meskipun anak masih kecil, ibu berusaha untuk terus melatih cara berbicara dan kosakata anak. Sehingga, ketika sudah mulai masuk
sekolah nanti, anaknya sudah lebih lancar dan mengerti ketika diajak
berbicara. Hal tersebut, bisa dilihat dari kutipan wawancara sebagai berikut: “Pertama kali, karena Vina ketahuan tunarungu saat masih kecil, yang saya lakukan hanya terus memberikan latihan-latihan kecil untuk berbicara.” (M/DO-1, 069-071)
Kendala Orang Tua
Anak sulit dalam berkomunikasi.
Anak sulit dikendalikan ketika tantrum.
Anak menjadi malas belajar/sekolah.
Dukungan kedua, yaitu menitipkan anak di asrama sekolah
(dukungan instrumental). Orang tua melatih kemandirian anak, sehingga
tidak selamanya anak tergantung kepada orang tua. Hal tersebut, bisa dilihat
dari kutipan wawancara sebagai berikut:
“Vina itu sudah mandiri sejak kecil mbak. Jadi, waktu umur sekitar 6 tahun itu saya taruh di asrama sekolah.” (M/DO-1, 072-074) Dukungan ketiga, yaitu orang tua memberikan kasih sayang dan
semangat untuk sang anak (dukungan emosional). Sang anak dititipkan di
asrama sekolah untuk dilatih menjadi mandiri. Namun, ibu dan keluarga
tidak melepas begitu saja, mereka tetap memperhatikan sang anak dengan
baik. Hal tersebut, dapat dilihat dari kutipan wawancara sebagai berikut: “Kebetulan, di dekat rumah ada asrama dan sekolah khusus untuk anak-anak seperti Vina. Jadi, saya ndak banyak memanjakan Vina seperti anak lainnya. Tapi, saya tetap memberikan kasih sayang dan semangat untuk Vina.” (M/DO-1, 076-080)
Dukungan keempat, yaitu orang tua memberikan hadiah karena
prestasi sang anak (dukungan penghargaan). Tujuannya, untuk
memberikan feedback atas kerja keras anak selama ini dalam sekolah.
Hadiah yang diberikan pun sesuai dengan kebutuhan ataupun hobi sang
anak, sehingga bisa dimanfaatkan dengan baik oleh anaknya. Hal tersebut,
dapat dilihat dari kutipan wawancara sebagai berikut:
“Ada lagi, ketika Vina mendapat nilai bagus. Biasanya, ketika akhir semester kan ambil raport ya mbak, saya pasti bertemu gurunya dan banyak mendengar hal-hal baik tentang Vina. Karena prestasinya itu, saya biasanya kasih dia hadiah alat gambar mbak.” (M/DO-1, 093-098)
60
Dukungan yang terakhir, yaitu orang tua mengajak dan mendukung
sang anak untuk ikut lomba-lomba sesuai dengan passionnya (dukungan
instrumental). Kebetulan sang anak memiliki kegemaran dalam menggambar dan hasilnya pun bagus-bagus. Oleh karenanya, ibu dan
keluarga berusaha untuk mengikutsertakan sang anak pada lomba-lomba
menggambar. Tujuannya adalah untuk mengembangkan passion dan
melatih kepercayaan diri anak. Hal tersebut, bisa dilihat dari kutipan
wawancara sebagai berikut:
“Vina ini kan suka sekali menggambar ya mbak. Saya juga mengajak Vina untuk ikut lomba menggambar mbak. Gambarnya Vina itu bagus-bagus mbak, jadi saya ingin mengembangkannya lewat mengikutsertakan Vina dalam lomba-lomba menggambar mbak.” (M/DO-1, 098-103)
Dari hasil wawancara tersebut, dipahami terdapat 5 bentuk
dukungan yang orang tua berikan terhadap anak mereka yang tunarungu,
yaitu memberikan latihan-latihan dalam berbicara (dukungan emosional),
menitipkan sang anak di asrama sekolah (dukungan instrumental),
memberikan kasih sayang dan semangat untuk sang anak (dukungan
emosional), memberikan hadiah untuk pencapaian prestasi sang anak (dukungan penghargaan), serta mengikutsertakan anak dalam lomba-lomba
Gambar 4.3. Bagan Bentuk Dukungan Orang Tua
4. Proses Pemberian Dukungan Orang Tua untuk Anak Mereka yang Tunarungu
Dari jawaban yang dikemukakan oleh ibu, terdapat 3 proses
pemberian dukungan yang dilakukan oleh ibu dan keluarga untuk anaknya
(dukungan informasi). Proses pemberian dukungan yang pertama, yaitu
mencari informasi tentang sekolah-sekolah khusus anak tunarungu. Proses
tersebut, orang tua lakukan untuk bisa mempersiapkan sekolah yang terbaik
untuk anaknya ketika sudah waktunya nanti. Hal tersebut, dapat dilihat dari
kutipan wawancara sebagai berikut:
“Selain itu, saya juga mulai mencari info tentang sekolah-sekolah khusus untuk anak-anak seperti Vina.” (M/PD-1, 072-073)
Proses pemberian dukungan selanjutnya, yaitu berusaha membujuk
anak ketika sudah mulai lelah untuk belajar atau sekolah (dukungan
Bentuk Dukungan Orang Tua
Memberikan latihan-latihan dalam berbicara untuk anak.
Menitipkan anak di asrama sekolah – melatih
kemandirian anak.
Memberikan kasih sayang dan semangat
untuk anak.
Memberikan hadiah untuk pencapaian
prestasi anak.
Mengikutsertakan anak dalam lomba untuk
mengembangkan
62
informasi dan emosional). Keadaan seperti ini, membuat seluruh sekolah melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) kepada anak didiknya, termasuk
sekolah anaknya. Bahkan, terkadang pembelajaran yang diberikan guru
tidak total dan terkesan membosankan. Oleh karenanya, ibu dan keluarga
harus memberikan perhatian yang ekstra kepada anaknya, seperti
mendampingi, mengarahkan, dan membantu anak dalam sekolah. Hal
tersebut, dapat dilihat pada kutipan wawancara sebagai berikut:
“Seperti, ketika Vina sudah mulai lelah untuk sekolah/belajar, saya akan berusaha membujuk Vina dengan bilang, ‘Kita belajar bersama ya dek, ibu temenin Vina ngerjain tugasnya’. Dari hal kecil itu, Vina sudah sangat terpengaruh dan mau untuk belajar lagi mbak.” (M/PD-1,080-085)
Proses pemberian dukungan yang terakhir, yaitu berusaha untuk
selalu memenuhi apa yang anak butuhkan atau inginkan (dukungan
istrumental). Pada proses ini, ibu dan keluarga juga mengajari anak untuk bersabar dan mengerti keadaan keluarga. Sehingga, anak tidak menjadi
seseorang yang manja dan menuntut. Hal tersebut, dapat dilihat pada
kutipan wawancara sebagai berikut:
“Selain itu, ketika Vina minta sesuatu mbak. Saya paling ndak bisa untuk menolak, jadi saya akan berusaha untuk bisa memenuhi apa yang Vina butuhkan. Saya bukan orang punya mbak. Jadi, saya biasanya akan bilang sama Vina, ‘Dek, ibu cari uang dan kumpulin uang dulu ya. Nanti kalau sudah punya yang cukup, ibu langsung belikan’. Untungnya, Vina gampang untuk mengerti mbak. Jadi, ndak sulit untuk memberi pengertian.” (M/PD-1, 085-093)
Dari hasil wawancara tersebut, dipahami bahwa terdapat tiga proses
informasi tentang sekolah-sekolah khusus anak tunarungu (dukungan
informasi), berusaha membujuk anak ketika sudah mulah lelah untuk belajar atau sekolah (dukungan informasi dan emosional), dan berusaha untuk
memenuhi apa yang anak butuhkan atau inginkan (dukungan instrumental).
Gambar 4.4. Bagan Proses Pemberian Dukungan Orang Tua
5. Pihak yang Terkait dalam Pemberian Dukungan terhadap Anak Tunarungu
Dari jawaban yang dikemukakan oleh ibu, pihak-pihak yang terkait
dalam memberikan pendampingan dan dukungan kepada sang anak, yaitu
ayah, ibu, dan guru wali kelasnya. Pihak pertama, yaitu ayah yang selalu
menyempakan waktu mengobrol dengan sang anak perihal sekolah.
Meskipun ayah sibuk bekerja dan banyak menghabiskan waktu di kantor,
tetapi ayah masih perhatian dan peduli dengan sang anak. Ayah banyak
menanyakan perihal kabar sang anak dan kegiatan selama satu hari sekolah.
Hal tersebut, dapat dilihat pada kutipan wawancara sebagai berikut:
“Bapak sibuk bekerja, tetapi setiap pulang pasti akan menyempatkan waktu untuk mengobrol dan menanyakan tentang
Proses Pemberian Dukungan Orang Tua
Mencari informasi tentang sekolah khusus
anak tunarungu.
Berusaha membujuk anak ketika sudah
mulai malas.
Berusaha memenuhi kebutuhan anak.
64
kabar dan sekolah Vina selama satu hari. Seperti, bapak sering bertanya, “Gimana sekolahnya adek hari ini? Adek punya tugas apa aja? Ibu tadi marah-marah ndak sama adek waktu nemenin adek belajar?”. Dan Vina pasti akan langsung cerita ke bapaknya tentang harinya mbak. Bapak juga pasti tanya sama saya mbak untuk perkembangan dan sekolahnya Vina setiap hari. Jadi, meskipun bapak sibuk, bapak tetapi peduli Vina.” ((M/PT-1, 106-116)
Pihak yang kedua, yaitu kakak yang selalu membantu sang adik
untuk mewarnai gambarnya dan menasihati sang adik ketika sulit dinasihati.
Kakak selalu menyempatkan waktunya untuk menemani sang adik ketika
sedang menggambar. Selain itu, ketika ibu sudah kewalahan untuk
menasihati sang adik, kakak akan membantu ibu dalam memberikan
pengarahan pada sang adik. Hal tersebut, dapat terlihat pada kutipan
wawancara sebagai berikut:
“Kalau kakak, biasanya nemenin Vina membuat tugas menggambar mbak. Setiap Vina selesai gambar, Vina pasti menghampiri kakak dan minta untuk membantu Vina mewarnai gambarnya. Setelah selesai pun, Vina datang untuk memperlihatkan gambarnya pada saya dan bilang kakak tadi bantu waktu mewarnai. Selain itu, saya juga sering minta bantuan kakak untuk ikut menasihati Vina ketika sedang ngeyel. Biasanya, kalau sama kakaknya lebih nurut dan mau dengerin mbak.” (M/PT-1, 117-126)
Pihak yang terakhir, yaitu guru wali kelas yang ikut menasihati sang
anak ketika sudah tantrum dan tidak bisa dikendalikan. Ibu akan
menghubungi wali kelas ketika sudah kewalahan dalam menangani tantrum
sang anak. Biasanya, sang anak akan lebih mendengarkan dan menuruti jika
guru sudah ikut turun tangan. Hal tersebut, dapat terlihat pada kutipan
“Ada lagi, sama guru wali kelasnya mbak. Saya benar-benar akan meminta bantuan kepada guru ketika tantrum Vina sudah mulai kumat mbak. Ketika tantrum, Vina sangat sulit untuk dikendalikan mbak. Vina akan banyak menyakiti orang-orang disekitarnya ketika tantrum itu. Seperti, ketika berantem sama kakaknya, Vina pasti akan mukul dan teriak-teriak. Dan kalau saya kewalahan, saya akan langsung telpon gurunya untuk minta bantuan. Gitu mbak…” (M/PT-1, 126-134)
Dari hasil wawancara tersebut, diidetifikasikan bahwa pihak-pihak
yang terikait dalam memberikan dukungan pada sang anak, ayah yang selalu
menyempatkan waktu mengobrol dengan sang anak, kakak yang selalu
menemani sang adik untuk mewarnai gambar, dan wali kelas yang
membantu dalam menasihati sang anak yang sedang tantrum.
Gambar 4.5. Bagan Pihak yang Terkait dalam Pemberian Dukungan