• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka

2) Tujuan

(a) Mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai bagian dari masyarakat informasi dunia;

(b) Mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat;

(c) Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik;

(d) Membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap Orang untuk memajukan pemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi seoptimal mungkin dan bertanggung jawab; dan

(e) Memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna dan penyelenggara Teknologi Informasi.

57 b) Inpres RI nomor 3 tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi

Nasional

Pengembangan E-government (1) Maksud

(a) e-government merupakan upaya untuk mengembangkan penyelenggaraan kepemerintahan yang berbasis (menggunakan) elektronik dalam rangka meningkatkan kualitas layanan publik secara efektif dan efisien.

(b) Pengembangan e-government dilakukan penataan sistem manajemen dan proses kerja di lingkungan pemerintah dengan mengoptimasikan pemanfaatan teknologi informasi.

(c) Pemanfaatan teknologi informasi tersebut mencakup 2 (dua) aktivitas yang berkaitan yaitu:

(c.1) Pengolahan data, pengelolaan informasi, sistem manajemen dan proses kerja secara elektronis; (c.2) pemanfaatan kemajuan teknologi informasi agar

pelayanan Publik dapat diakses secara mudah dan murah oleh masyarakat di seluruh wilayah negara.

58 (2) Tujuan

e-government diarahkan untuk mencapai 4 (empat) tujuan, yaitu:

2.1 Pembentukan jaringan informasi dan transaksi pelayanan publik yang memiliki kualitas dan lingkup yang dapat memuaskan masyarakat luas serta dapat terjangkau di seluruh wilayah Indonesia pada setiap saat tidak dibatasi oleh sekat waktu dan dengan biaya yang terjangkau oleh masyarakat.

2.2 Pembentukan hubungan interaktif dengan dunia usaha untuk meningkatkan perkembangan perekonomian nasional dan memperkuat kemampuan menghadapi perubahan dan persaingan perdagangan internasional. 2.3 Pembentukan mekanisme dan saluran komunikasi

dengan lembaga-lembaga negara serta penyediaan fasilitas dialog publik bagi masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam perumusan kebijakan negara. 2.4. Pembentukan sistem manajemen dan proses kerja yang

transparan dan efisien serta memperlancar transaksi dan layanan antar lembaga pemerintah dan pemerintah daerah otonom.

59 (3) Kelemahan

Pelaksanaan E-government memiliki beberapa kelemahan yang menonjol antara lain:

3.1 Pelayanan yang diberikan melalui situs pemerintah tersebut, belum ditunjang oleh sistem manajeman dan proses kerja yang efektif karena kesiapan peraturan, prosedur dan keterbatasan sumber daya manusia sangat membatasi penetrasi komputerisasi ke dalam sistem manajemen dan proses kerja pemerintah;

3.2 Belum mapannya strategi serta tidak memadainya anggaran yang dialokasikan untuk pengembangan E-government pada masing-masing instansi;

3.3 Inisiatif-inisiatif tersebut merupakan upaya instansi secara sendiri-sendiri; dengan demikian sejumlah faktor seperti standardisasi, keamanan informasi, otentikasi, dan berbagai aplikasi dasar yang memungkinkan interoperabilitas antar situs secara andal, aman, dan terpercaya untuk mengintegrasikan sistem manajemen dan proses kerja pada instansi pemerintah ke dalam pelayanan publik yang terpadu, kurang mendapatkan perhatian.

3.4 Pendekatan yang dilakukan secara sendiri-sendiri tersebut tidak cukup kuat untuk mengatasi

60 kesenjangan kemampuan masyarakat untuk mengakses jaringan internet, sehingga jangkauan dari layanan publik yang dikembangkan menjadi terbatas pula.

(4) Strategi

E-government perlu melaksanakan melalui 6 (enam) strategi yang berkaitan erat, yaitu:

4.1 Mengembangkan sistem pelayanan yang andal dan terpercaya, serta terjangkau oleh masyarakat luas. 4.2 Menata sistem manajemen dan proses kerja pemerintah

dan pemerintah daerah otonom secara holistik. 4.3 Memanfaatkan teknologi informasi secara optimal. 4.4 Meningkatkan peran serta dunia usaha dan

mengembangkan industri telekomunikasi dan teknologi informasi.

4.5 Mengembangkan kapasitas SDM baik pada pemerintah maupun pemerintah daerah otonom, disertai dengan meningkatkan E-literacy masyarakat.

4.6 Melaksanakan pengembangan secara sistematik melalui tahapan-tahapan yang realistik dan terukur.

61 (5) Upaya pengembangan SDM yang perlu dilakukan untuk

mendukung E-government

5.1 Meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya informasi serta pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi (E-literacy), baik di kalangan pemerintah dan pemerintah daerah otonom maupun di kalangan masyarakat dalam rangka mengembangkan budaya informasi ke arah terwujudnya masyarakat informasi (information society).

5.2 Pemanfaatan sumberdaya pendidikan dan pelatihan termasuk perangkat teknologi informasi dan komunikasi secara sinergis, baik yang dimiliki oleh lembaga pemerintah maupun non pemerintah/masyarakat.

5.3 Pengembangan pedoman penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi lembaga pemerintah agar hasil pendidikan dan pelatihan tersebut sesuai dengan kebutuhan pengembangan dan pelaksanaan E-government.

5.4 Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan teknologi informasi dan komunikasi bagi aparat pelaksana yang menangani kegiatan bidang informasi dan komunikasi

62 dan aparat yang bertugas dalam memberikan pelayanan publik, maupun pimpinan unit/lembaga, serta fasilitasi pendidikan dan pelatihan bagi calon pendidik dan pelatih maupun tenaga potensial di bidang teknologi informasi dan komunikasi yang diharapkan dapat memindahkan pengetahuan/ keterampilan yang dimiliki kepada masyarakat di lingkungannya.

5.5 Peningkatan kapasitas penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan jarak jauh (distance learning) dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara optimal untuk pemerataan atau mengurangi kesenjangan sumber daya manusia (SDM) di bidang teknologi informasi dan komunikasi antar daerah. 5.6 Perubahan pola pikir, sikap, dan budaya kerja aparat

pemerintah yang mendukung pelaksanaan E-government melalui sosialisasi/penjelasan mengenai konsep dan program E-government, serta contoh keberhasilan (best practice) pelaksanaan E-government.

5.7 Peningkatan motivasi melalui pemberian penghargaan/apresiasi kepada seluruh SDM bidang informasi dan komunikasi di pemerintah pusat dan

63 daerah serta masyarakat yang secara aktif mengembangkan inovasi menjadi karya yang bermanfaat bagi pengembangan dan pelaksanaan E-government.

Dasar penerapan paperless sebagai regulasi dapat ditampilkan dalam gambar 2.10.

Gb. 2.10 Dasar Penerapan Paperless

3) Tujuan dan Fungsi Paperless

Tujuan paperless policy adalah untuk mengurangi pemakaian kertas, dan bukan meniadakan pemakaian kertas sama sekali. Paperless tidak sama dengan bebas kertas. Manusia dalam

U pa ya P enge m ba n

Dasar Penerapan Paperless

Asas ke pa st ia n huku m M anfa at ,

Inpres RI Nomor 3 tahun 2003 Kebijakan dan Strategi Nasional

Pengembangan E-government S tra te gi Tujuan M aks ud Ke le m ah an UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi

Elektronik T uj ua n ke ha ti-h at ia n ke be ba sa n N et ra l ikt ika d b ai k

64 setiap aktivitasnya di kantor hampir tidak mungkin tidak menggunakan kertas.

Fungsi paperless sebagaimana hasil penelitian Tiwari dan Syah (2010: 177) menyatakan bahwa meminimalisir penggunaan kertas di kantor merupakan situasi yang sangat idel pada sistem manjemen kelembagaan. Keuntungan yang bisa diraih bagi seseorang antara lain mudah menyimpan datanya, dapat hemat waktu, menyenangkan, aman, efisien, mudah mengakses usaha yang mau dicapai.

Paparless sebagai sebuah perilaku manusia untuk

mengurangi pemanfaatan kertas berfungsi untuk mengurangi produksi kertas. Paperless policy sebagai sebuah kebijakan mengurangi penggunaan kertas diharapkan dapat mengurangi konsumsi kertas tanpa mengurangi efektifitas kerja atau belajar bagi mahasiswa di Perguruan Tinggi. Kepedulian perguruan tinggi dalam menekan pemanfaatan kertas ini di satu sisi merupakan salah satu upaya dalam pencegahan pemanasan global dan mengembalikan fungsi hutan sebagai paru-paru dunia. Tim Pengembang Konservasi Unnes (2010: 23) memaparkan fungsi

paperless antara lain memberikan efisiensi, menajemen

dokumentasi lebih baik, mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik, manajemen yang lebih terkendali, membaiknya citra organisasi, aspek biaya.

65 a) Efisiensi

Kecepatan distribusi dan kecepatan pencarian menjadi karakteristik penting dari keberadaan paperless office. Keuntungan pada aspek waktu, sangat kelihatan jika individu-individu yang terlibat pada sistem ini terdistribusi dalam wilayah yang luas atau jaraknya jauh, dan memiliki mobilitas tinggi.

b) Menajemen dokumentasi lebih baik

Dengan penataan data yang rapi, maka semua dokumen bisa terekam dan disimpan sangat baik. Jika suatu saat dilakukan pelacakan maka akan sangat merasakan manfaat adanya paperless office.

c) Mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik

Pada aspek ini dimungkinkan terjadinya penyajian informasi dan komunikasi yang lengkap dan dapat dilakukan pelacakan permasalahan berdasarkan dokumen yang tersimpan secara rapi.

d) Manajemen yang lebih terkendali

Paparless office dapat dimungkinkan jika aplikasi yang diterapkan menyertakan fasilitas evaluasi dan pemantauan setiap surat keputusan yang diterbitkan yang memerlukan laporan dan evbaluasi kinerja.

66 e) Membaiknya citra organisasi

Manajemen dan pelayanan yang diakibatkan dengan berbagai penyajian informasi yang akurat dan cepat, maka akan memberikan nilai positif bagi pihak manapun yang berhubungan dengan organisasi tersebut.

f) Aspek biaya

Pada tahapan awal, penerapan paperless office memerlukan investasi dan biaya perawatan yang tidak sedikit, namun dalam waktu yang tidak terlalu lama efisiensi dari berbagai segi dapat dinikmati bagi pengguna paperless yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi. Efesiensi pada sisi biaya dipersipakan untuk pengadaan barang dan jasa berupa peralatan komputer dan jaringan internet bagi lembaga. Bagi pengguna paperless berbasis teknologi informasi dan komunikasi seperti mahasiswa sendiri tidak seberat lembaga yang harus menyediakan server internet dan pengadaan jasa yang berkompeten di bidangnya.

Sandhu (2014: 34) melengkapi tujuan dan fungsi paperless antara lain mudah menyimpan, tidak mengenal batas data yang harus disimpan, hemat waktu, sederhana, mudah dicapai, pengembangan usaha, aman, memberikan pelayanan yang lebih baik, efisien dalam pengiriman email. Secara lebih jelas ditampilkan dalam keterangan lebih lanjut.

67 Pertama, mudah menyimpan dengan sistem digital manajemen, semua data dapat disimpan pada sistem komputer, mudah mengirim data dan dapat dimanfaatkan oleh siapapun yang membutuhkan. Kedua, tidak mengenal batas data yang harus disimpan dan setiap dokumen dapat menggunakan sistem penomoran yang dapat dibuat secara otomatis. Hal ini juga dapat digunakan untuk merubah dokumen dan tetap terjaga keaslian, membantu memberikan petunjuk bagi proses pemerikasaan. Ketiga, hemat waktu, tidak membutuhkan waktu yang lama dan tidak perlu membuang-buang waktu untuk mencari dokumen yang diperlukan. Pencarian dokumen dapat dilakukan dengan cepat dan dapat memberikan hasil dalam waktu yang sangat singkat. Semua dokumen dapat tersimpan dengan cara pengaturan yang sama dan mudah untuk mendapatkannya kembali. Keempat, Sederhana, dengan sistem pada manajemen komputer dokumen yang digunakan segala urusan administrasi bisnis dapat dilakukan secara sederhana. Pengguna dapat melakukan atau memiliki otoritas untuk melakakuan segala macam tugas dan pemindahan data dalam sekali tekan. Kelima, mudah dicapai. Sistem manajemen digital dapat dengan cepat memberikan pengamanan terhadap tampilan dokumen yang hampir sama. Hal ini akan membuat lebih mudah dengan satu orang operator dengan data yang mudah diperoleh. Keenam, pengembangan usaha. Dengan waktu yang sangat singkat, para pemimpin dapat memanfaatkan waktu yang sedikir tetapi produktifitasnya tinggi alam mengembangkan usahanya, Ketujuh, aman.

68 Penyimpanan data dengan sitem penyimpanan menggunakan digital dapat memberikan keamanan daripada dengan menggunakan kertas yang bisa mendapatkan kesalahan dari tangan-tangan pemakai, Kedelapan, memberikan pelayanan yang lebih baik. Manajemen dokum dengan sistem komputer diijinkan bagi pengguna untuk memperoleh data yang dibutuhkan, Kesembilan, efesien dalam melakukan pengiriman email. Pengiriman email dapat mudah dilakukan dari data yang ada dengan sangat mudah begitu pula bagi seseorang yang membutuhkan dapat mengaksesnya dengan cepat.

Fungsi paperless bagi seseorang dapat disederhanakan dalam tampilan gambar 2.11

Gb. 2. 11 Fungsi Paperless

Efisiensi Waktu

TUJUAN dan FUNGSI PAPERLESS Aman Manajemen yang lebih terkendali Citra organisasi Menyenangkan Mendukung Keputusan yang lebih baik Manajemen Dokumentasi yang lebih baik Biaya Mudah mengakses Kertas

69 4) Faktor Penting dalam Penerapan Paperless

Tim Pengembang Konservasi Unnes (2010: 23-24) memaparkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menerapkan paperless antara lain aspek sumber daya manusia (pengguna), aspek dokumen, sistem aplikasi, sosialisasi, sarana pendukung, komunikasi.

a) Sumber Daya Manusia (pengguna),

Tahap awal yang perlu dirintis yakni memepersiapkan pengguna dalam menerapkan paperless

b) Dokumen,

Kesiapan dokumen dalam bentuk on line menjadi hal penting dalam penerapan paperless. Dokumen yang akan ditampilkan melalui penerapan teknologi informasi dan komunikasi perlu disiapkan dengan baik agar dapat memenuhi prinsip akurasi dan akuntabilitas.

c) Sistem Aplikasi,

Dokumen on line yang tersimpan keamanan data dan kemudahan pemakaian. Aplikasi sistem on line memberikan keamanan, kemudahan, dan kenyamanan, serta kecepatan kepada pengguna dalam memberikan layanan pada sistem teknologi informasi dan komunikasi. Aplikasi sistem on line dapat menjangkau kepentingan dan kebutuhan manusia tanpa mengenal waktu, ruang, dan jarak tempuh.

70 d) Sosialisasi,

Individu yang memiliki hak akses tertentu dilatih untuk mengakses sistem agar dapat melakukan berbagai aktivitas sesuai fasilitas dalam sistem. Perubahan kebiasaan perilaku perlu diwujudkan untuk disesuaikan dengan paperless policy dengan memperkenalkan sistem yang akan dipakai. e) Sarana Pendukung,

Ketersediaan sarana yang diperlukan untuk mewujudkan paperless office perlu disediakan secukupnya, antara lain tidak terbatas pada kebijakan, hadware, infrastruktur jaringan, sumber daya alam tenaga tertentu, dana, dan forum komunikasi, tetapi sarana ini menjadi satu kesatuan yang harus dipenuhi oleh program paperless. Kerjasama antar berbagai komponen sangat menentukan keberhasilan program ini.

f) Komunikasi.

Komunikasi memerlukan seorang visioner untuk dapat menjelaskan mengapa perlu menerapkan paperless. Komunikasi sebagai bagian dari sosialisasi membutuhkan seseorang yang memiliki kompetensi di bidang komunikasi. Harapan yang diinginkan, apa yang menjadi pesan penggunaan paperless dapat diterima oleh masyarakat sehingga masyarakat dapat mengikuti apa yang diinginkan oleh komunikan.

71 Selain keenam dalam penerapan paperless, faktor lain yang turut memberikan peran penting antara lain budaya. Perubahan cara pandang maupun kebiasan yang sudah melembaga mejadi tantangan bagi pelaksanaan sistem yang baru. Padahal melalui pemanfaatan paperless office sesungguhnya peran lembaga sangat penting. Impelementasi paperless office juga merupakan langkah terpuji dalam pencegahan pemansan global akibat konsumsi kertas yang secara langsung membuat hutan gundul dan menimbulkan banjir maupun bencana lain di mana-mana. Paperless office sekaligus merupakan bagian dari gerakan go green dengan mengurangi penggunaan kertas yang berasal dari pepohonan sehingga tanaman tersebut dapat lebih bermanfaat sebagai paru-paru dunia. Faktor penting dalam penerapan paperless policy dapat ditampilkan dalam gambar 2.12.

Gb. 2.12 Faktor Penting dalam Penerapan Paperless Sumber

Daya Manusia

FAKTOR PENTING DALAM PENERAPAN PAPERLESS Dokumen Sistem Aplikasi Sarana Pendukung Sosialisasi Komunikasi BUDAYA

72 5) Domain Perilaku Paperless

Domain perilaku paperless bagi mahasiswa antara lain terdiri dari 3 (tiga) hal, yaitu pengetahuan, sikap atau tanggapan, dan praktek atau tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Ki Hajar Dewantara dalam Notoadmodjo (1997: 127) ketiga kawasan perilaku ini disebut cipta (kognisi), rasa (emosi), dan karsa (konasi).

Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 (enam) tingkatan yaitu tahu, paham, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Pertama, Tahu (know) diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Kedua, memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahuidan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Ketiga, aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan mteri yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil. Keempat, analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut. Kelima, sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu

73 bentuk secara keseluruhan yang baru. Keenam, evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek.

Sikap menurut Allport dalam Notoatmodjo (1998: 131) antara lain meliputi kepercayaan/keyakinan, ide dan konsep terhadap suatu obyek; kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap suatu obyek; dan kecenderungan untuk bertindak (trend to behave). Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh. Penentuan sikap yang berupa pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting. Sebagaimana pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan yaitu, menerima, merespon, menghargai, dan bertanggung jawab. Pertama, menerima diartikan mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan. Kedua, merespon memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan. Ketiga, menghargai dengan mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah. Keempat, bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala risiko.

Tingkat praktek antara lain persepsi, respon terpimpin, mekanisme, adaptasi. Pertama, persepsi mengenal dan memilih berbagai obyek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil

74 yang merupakan praktek. Kedua, respon terpimpin dapat dilakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar sesuai dengan contoh. Ketiga, mekanisme apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan. Keempat, adaptasi merupakan suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik, artinya tindakan itu sudah dimodifikasi sendiri tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

Penelitian Rogers dalam Notoadmodjo (1997: 128) menyimpulkan perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada yang tidak didasari oleh pengetahuan. Sebelum orang mengadopsi perilaku baru di dalam diri orang tersebut akan terjadi 5 (lima) proses secara berurutan, yaitu awareness, interest, evaluation, trial, dan adoption.

a) Awareness (kesadaran), seseorang menyadari/mengetahui

terlebih dahulu terhadap stimulus.

b) Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau obyek tersebut. c) Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya

stimulus tersebut terhadap dirinya.

d) Trial, subyek sudah mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus.

e) Adoption yaitu subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

75 Domain perilaku paperless dapat ditampilkan secara jelas dalam gambar 2.13

Gb. 2.13 Domain Perilaku Paperless

6) Implementasi Kebijakan Paperless di Perguruan Tinggi Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi

a) Implementasi dalam Kegiatan Administrasi

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan komunikasi di lingkungan Perguruan Tinggi diharapkan mampu mengurangi

D om ai n P eri la ku P ape rl e ss Pengetahuan/ Cipta Sikap/emosi Praktek/konasi /karsa Tahu Paham Aplikasi Sintesis Analisis Evaluasi Menerima Merespon Bertanggungjawab Menghargai Persepsi Respon Mekanisme Adaptasi Awareness Interest Evaluation Trial Adoption

76 penggunaan kertas dalam kegiatan akademik dan organisasi kemahasiswaan secara signifikan. Implementasi kebijakan nir kertas/paperless policy berlaku dalam pengelolaan administrasi akademik berbasis teknologi informasi informasi dan komunikasi, pengelolaan administrasi dokumen perkantoran berbasis teknologi informasi dan rancangan e-Administrasi. Implementasi ini antara lain dengan melakukan pengembangan sistem aplikasi berbasis teknologi informasi dan komunikasi, pengembangan penerbitan online, peningkatan sarana pendukung, dan pengembangan organisasi.

Perkembangan teknologi informasi telah memberikan peluang kepada lembaga Pendidikan Tinggi untuk melakukan aktivitas pembelajaran dan administrasi melalui paperless berbasis teknologi informasi dan komunikasi sebagai bagian dari upaya optimalisasi pemeliharaan lingkungan hidup. Tidak dapat disangkal, proses belajar mengajar yang tengah dilakukan memerlukan bahan baku kertas dengan jumlah yang sangat banyak, artinya memerlukan lahan tanaman bahan baku kertas yang sangat luas, sedangkan penggunaan kertas seringkali tidak optimal, bahkan sering terjadi pemborosan dalam penggunaan kertas.

Setiap sivitas akademika hendaknya memiliki perilaku nir kertas/paperless dalam melaksanakan kegiatan di kampus.

77 Sivitas akademika dapat melakukan berbagai macam kegiatan untuk meminimalisir penggunaan kertas antara lain mencetak pada dua sisi kertas, dan mencetak dengan menggunakan kertas bekas. Dokumen, makalah atau surat-surat yang tidak mengharuskan dicetak satu sisi sebaiknya dicetak pada dua sisi kertas, draft atau konsep dokumen untuk kepentingan koreksi atau editing atau reviewing dapat dicetak terlebih dahulu pada kertas bekas (kertas yang satu sisinya sudah digunakan).

Mencetak dokumen tanpa memeriksa terlebih dahulu merupakan kebiasaan banyak orang. Bahkan sering mencetak halaman yang sama lebih dari satu kali karena perintah cetak di printer belum disetting kembali untuk mencetak hanya satu kali. Dokumen yang dibuat kadang belum diberi nomor halaman, terdapat salah ketik, salah format, atau ada gambar yang belum dimasukkan dan sebagainya. Jika halaman ini langsung dicetak, maka terpaksa mencetak ulang halaman yang tidak sesuai tersebut. Cara demikian sangat memboroskan kertas dan energi listrik. Periksalah terlebih dahulu dokumen sebelum dicetak. Undangan rapat, pertemuan, diskusi, seminar, resepsi sampai undangan rapat saat ini masih banyak yang dicetak di atas kertas. Cara ini sangat memboroskan kertas dan juga energi untuk membuat kertas, mencetak teks dan gambar yang diinginkan.

78 b) Implementasi pada Kegiatan Akademik

Keuntungan melakukan implementasi pada kegiatan akademik di kelas antara lain membangun motivasi, keterlibatan, produktifitas, effesiensi, dan integrasi antara dosen dan mahasiswa.

(1) Membangun motivasi, keterlibatan, produktifitas, dan efesiensi.

Runnels (2013: 275) berpendapat bahwa a paperless classroom, when all materials required to complete a class are available in an electronic form, has been shown to have positive impacts on student and teacher motivation, engagement, productivity, and efficiency. Penerapan sistem paperless di kelas cukup membantu terjadinya kerjasama antara dosen dan mahasiswa dalam mewujudkan dampak positif berupa terbangunnya motivasi dosen dan mahasiswa untuk mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan. Mahasiswa dan dosen dapat mewujudkan keterlibatan dalam mengurangi permasalahan nasional yang berkembang di masyarakat. Efisiensi penggunaan kertas dan beralih pada sistem teknologi informasi dan komunikasi dapat berdampak positif pada penghematan kertas dan justru produktif dalam menciptakan karya penting. Hal ini dikarenakan teknologi

79 informasi dan komunikasi jauh lebih memberikan kesempatan kepada pengguna untuk berkreasi lebih berkualitas dan berkuantitas melampaui batas ruang dan waktu yang disediakan.

(2) Integrasi

Berdasarkan hasil penelitian teknologi di dalam kelas, In the last decade, research on the use of technology

Dokumen terkait