• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh SAINAL (Halaman 57-74)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilihat dari hasil analisis kuantitatif dan analisis kualitatif.

Hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II dianalisis secara kuantitatif dengan statistik non-parametrik yaitu uji normalitas data dengan uji Kolmogorov-Sminorv dan uji hipotesis dengan uji T satu kelompok. Hasil analisis kualitatif adalah rumusan penelitian dan bentuk observasi yang didasarkan pada data yang diperoleh dari hasil pengamatan selama kegiatan pembelajaran berlangsung seperti keaktifan siswa dalam proses belajar, sikap, dan aktifitas lainnya yang

dianggap penting.

1. Paparan Data Siklus 1

Siklus 1 Dilaksanakan selama empat kali pertemuan yaitu 8 x 45 menit.

Secara rinci prosedur pelaksanaan tindakan pada siklus ini dapat dijabarkan

sebagai berikut:

a. Tahap Perencanaan

Adapun tahap perencanaan pada siklus 1 adalah:

1. Mengembangkan silabus yang sesuai dengan materi pelajaran yang akan diajarkan.

2. Menyusun dan mengembangkan rencana pembelajaran.

44

3. Membuat instrument pedoman observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran di kelas pada saat proses pembelajaran berlangsung

4. Membuat instrument tes akhir siklus I untuk mengetahui hasil perkembangan siswa setelah menggunakan model pembelajaran

Cooperative tipe Group Investigation (GI).

b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Hasil observasi proses pembelajaran siswa SMA Muhammadiyah lempangang panciro secara rinci dapat dilihat pada lampiran II. Berikut dipaparkan hasil obesrvasi proses pembelajaran siswa di setiap pertemuan pada siklus I

Pertemuan I

Pada awal pembelajaran, peneliti melakukan kegiatan perkenalan agar siswa tidak bingung dengan kehadiran peneliti. Peneliti memberikan apersepsi, motivasi; menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, dan juga mengecek kesiapan siswa dalam menerima pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan pertanyaan ringan seputar materi yang telah dipelajari. Pada kegiatan ini, terlihat masih banyak siswa yang belum benar-benar siap menerima pelajaran. 10 orang diantaranya masih sibuk menyiapkan alat tulis dan tidak memperhatikan apersepsi, dan sebagian yang lain belum dapat merespon pertanyaan peneliti dengan baik.

Pada kegiatan inti, peneliti menjelaskan materi kebudayaan secara umum, lalu menjelaskan hal-hal yang akan dipelajari secara ringkas. Peneliti lalu membagi siswa menjadi 4 kelompok secara heterogen dengan berdasarkan minat siswa terhadap sub-materi tertentu dalam materi nilai dan norma.

Masing-masing kelompok diberikan tugas untuk menggali informasi tentang materi yang telah mereka pilih dan mendiskusikannya bersama untuk kemudian dipresentasekan di depan kelas. Saat masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk mencari informasi dan diskusi, terlihat masih banyak siswa yang tidak terlibat aktif dalam kelompoknya, dan hanya satu atau dua orang yang mengerjakan tugas yang diberikan. Suasana pembelajaran semakin tidak kondusif karena beberapa orang siswa memancing temannya untuk membuat kegaduhan dan menyebabkan siswa lain terganggu. Hingga waktu pelajaran berakhir, tak ada satu kelompok pun yang berhasil melaksanakan tugas sehingga persentase ditunda hingga pertemuan berikutnya.

Pada pertemuan akhir, guru menugaskan siswa untuk melanjutkan tugas kelompok yang belum terselesaikan, serta membuat laporan hasil diskusi untuk kemudian dipresentasikan di depan kelas. Pada pertemuan I siklus I ini, jumlah siswa yang hadir hanya 17 orang dari 20 orang siswa.

Pertemuan II

Pertemuan kedua siklus I diawali dengan apersepsi dan motivasi.

Peneliti memberikan gambaran tentang nilai dan norma yang berlaku di

daerah Pangkajene untuk memotivasi siswa. Pada kegiatan ini, jumlah siswa yang tidak memperhatikan apersepsi sedikut berkurang dibandingkan hari sebelumnya. Siswa juga mulai mengaggapi pertanyaan peneliti namun belum begitu fokus

Pada kegiatan inti, peneliti mempersilahkan kelompok pertama dan kedua untuk mempersentasekan hasil dikusi mereka. Diskusi berlangsung sangat kaku, karena sebagian besar siswa sangat pasif dan hanya menunggu.

Saat diberikan kesempatan untuk bertanya kepada kelompok penyaji, hanya 1 orang siswa yang bertanya dan setelah dijawab oleh kelompok penyaji, tidak ada umpan balik yang diberikan kepada kelompok penyaji. Peneliti mencoba memancing siswa untuk bertanya dengan memberikan pengantar-pengantar, namun tidak derespon dengan baik oleh siswa. Peneliti kemudian menjelaskan materi yang telah didiskusikan secara menyeluruh dan memastikan semua siswa memahami materi yang telah diberikan. Peneliti kemudian membimbing siswa membuat kesimpulan dari hasil diskusi yang diberikan.

Secara umum, suasana kelas pada pertemuan kedua relative sama dengan suasana pada pertemuan pertama. Kelas masih kadang-kadang gaduh karena ulah sekelompok siswa yang usil dan mengganggu siswa lain.

Beberapa siswa lain tidak memperhatikan diskusi dan melakukan kegiatan lain. Jumlah siswa yang pasif sama sekali sebanyak 15 orang, dan jumlah siswa yang bertanya pada guru setelah materi dijelaskan sebanyak 2 orang.

Pada kegiatan akhir, guru mengumpulkan makalah yang telah disusun oleh kelompok penyaji, dan menugaskan siswa untuk membuat ringkasan hasil diskusi dan membaca materi yang akan didiskusikan pertemuan berikutnya. Pada pertemuan kedua ini, jumlah siswa yang hadir sebanyak 18 orang dari 20 siswa

Pertemuan III

Pada awal pembelajaran peneliti memberikan apersepsi, motivasi, dan mengecek kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran. Minat siswa dalam mengikuti pembelajaran menunjukkan sedikit peningkatan dibandingkan dua petemuan sebelumnya, dimana jumlah siswa yang tidak memperhatikan apersepsi menurun menjadi 7 orang.

Kegiatan inti dimulai dengan mempersilahkan kelompok ketiga dan keempat untuk mempersentasekan hasil diskusinya. Diskusi kali ini terlihat lebih hidup meskipun masih agak kaku. Siswa mulai berani mengajukan pertanyaan ditandai dengan saat dipersilahkan bertanya, 5 orang siswa mengangkat tangan. Jumlah rata-rata siswa yang tidak aktif diskusi dalam setiap kelompok hanya 3 orang sehingga diskusi menjadi lebih aktif. Hanya saja, masih banyak siswa yang masih terlihat ragu-ragu untuk mengajukan pendapat atau memberikan feedback.

Jumlah siswa yang benar-benar pasif lebih sedikit dibanding 2 pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ini, hanya 9 siswa yang pasif dan

tidak berpartisipasi sama sekali dalam diskusi kelas. Setelah diskusi berakhir, peneliti menjelaskan materi yang telah didiskusikan dan meminta siswa menyimpulkan materi yang telah dipelajari secara keseluruhan. Siswa juga diberikan kesempatan untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami.

Siswa yang menggunakan kesempatan ini sebanyak 3 orang, meski 2 diantaranya mempertanyakan hal yang tidak begitu relevan dengan materi.

Pada kagiatan akhir, peneliti meminta siswa mempersiapkan diri menghadapi tes siklus I pada pertemuan berikutnya. Pada pertemuan III siklus I ini, hanya 17 orang siswa yang mengikuti pembelajaran dikelas.

Pertemuan 1V

Pada kegiatan awal, peneliti memberikan apersepsi berupa tata tertib ujian kepada siswa. Ujian tes siklus dilaksanakan selama 60 menit dengan bentuk soal esay.

Pada kegiatan ini, siswa diminta mengerjakan soal dengan tenang dan jujur. Meski dengan pengawasan ketat, masih ada siswa yang mencontek saat peneliti lengah, karena ada beberapa pekerjaan siswa yang persis sama dengan pekerjaan teman yang didekatnya.

Setelah siswa mengumpulkan pekerjaannya, peneliti menggunakan waktu yang tersisa untuk membahas soal-soal yang diberikan kepada siswa.

Kemudian menutup kelas dengan menginformasikan kepada siswa materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya. Pada pertemuan ini, seluruh

siswa hadir dan mengikuti ujian siklus I

c. Observasi dan Evaluasi 1) Aktifitas belajar siswa

Secara umum, aktifitas belajar siswa selama siklus 1 dapat dilihat bahwa minat siswa terhadap pembelajaran rendah. Hal ini dapat dilihat pada persentase rata-rata kehadiran siswa yang hanya 90%, siswa yang tidak memperhatikan apersepsi sebanyak 40%, siswa yang melakukan tindakan negatif selama proses pembelajaran 35% dan siswa yang sama sekali tidak memerhatikan penjelasan guru rata-rata sebanyak 20%. Selain minat siswa yang rendah, partisipasi siswa untuk terlibat dalam pembelajaran juga masih terbilang rendah. Hal ini ditunjukkan dari persentase jumlah siswa yang bertanya, menjawab pertanyaan, dan terlibat aktif dalam diskusi hanya berkisar antara 10-20% sementara siswa yang benar-benar pasif rata-rata sebanyak 65%. Selebihnya tidak menunjukkan

keterlibatan yang signifikan dalam proses pembelajaran

2) Hasil Belajar Siswa

a. Kemampuan Kognitif Siswa

Hasil belajar siswa dalam hal ini kemampuan selama siklus I diukur dengan melakukan uji pada akhir siklus I yang rinciannya dapat dilihat pada lampiran. Secara umum, hasil belajar siswa SMA Muhammadiyah lempangang dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.2. Persentase, Kategori, dan Statistik Hasil Belajar Sosiologi Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah lempangang

panciro Pada Siklus I

No Interval Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 0 - 39 Sangat Rendah 2 10 siklus I cenderung rendah meski telah diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation. Dapat diamati bahwa persentase hasil belajar kategori “sangat rendah” dan “rendah” lebih tinggi dibandingkan persentase hasil belajar dalam kategori “sedang” dan “tinggi”.

Sementara itu, rendahnya hasil belajar berimbas pada rata-rata kelas dan persentase ketuntasan. Dengan KKM 70, presentase ketuntasan kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang hanya 40% atau hanya 8 orang siswa dengan rata-rata kelas hanya 63.86. Besarnya jangkauan antara nilai tertinggi dan terendah menyebabkan besarnya standar deviasi (Simpanganstandar) yang nilainya mencapai 21.23.

b. Penilaian Afektif

Penilaian afektif siswa selama siklus I mencakup penilaian pada 6 item, yaitu antusiasme selama pembelajaran, kemampuan bertanya, kemampuan mengemukakan pendapat, kemampuan berdiskusi sesuai protokol, kemampuan menyimpulkan, dan kemampuan bekerjasama.

Pemberian skor dilakukan dengan cara memberikan skor dengan rentang 1 sampai 5 sesuai dengan sikap yang diamati. 1 berarti sangat buruk, 2 berarti buruk, 3 berarati cukup, 4 berarti baik, dan 5 berarti sangat baik.

Secara umum, hasil penilaian ranah afektif pada siklus 1 dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.3 Kategori Penilaian Afektif Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah lempangang pada Siklus I Kategori Frekuensi Persentase (%)

Setelah menelaah hasil pembelajaran silkus I, maka peneliti mempertimbangkan hal-hal berikut sebagai bahan refleksi:

1) Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran sosiologi. Pada siklus I ini, siswa kebanyakan tidak memperhatikan apersepsi ataupun materi yang disampaikan guru. Dari hasil observasi, memberi ganbaran bahwa sebagian siswa belum mampu merangkai kata dengan sendiri

untuk menjelaskan kembali pelajaran yang telah diterima, masih terdapat beberapa siswa yang melakukan aktivitas lain yang tidak terkait dengan kegiatan pembelajaran pada saat proses pembelajaran berlangsung sehingga perhatiaanya terhadap bahan ajar tidak berkesinambungan, akibatnya pemahaman terhadap bahan ajar yang dipelajari tidak utuh, sehingga kesulitan menyelesaikan dengan sempurna sosal-soal evaluasi yang diberikan sehingga peneliti perlu memikirkan strategi yang tepat untuk menarik minat siswa untuk belajar

2) Antusiasme dan partisipasi siswa pada proses pembelajaran sosiologi di siklus I sanagt rendah. Selama proses pembelajaran, siswa hanya diam dan mendengarkan apa yang disamapaikan guru. Hanya sebagian kecil siswa yang mau berpertisipasi dengan memberikan sanggahan atau pertanyaan selama diskusi berlangsung. Hal ini mengakibatkan transfer ilmu selama diskusi tidak berlangsung sesuai dengan yang diharapkan, akibanya berimbas pada buruknya kualitas hasil belajar siswa.

3) Perlunya peningkatan strategi pada model pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation yang diaplikasikan untuk lebih menarik minat siswa untuk belajar. Selain itu, peningkatan ini juga diharapkan dapat lebih melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, sehingga bukan hanya meningkatkan kemampuan kognitif siswa, tetapi juga

mengembangkan sikap-sikap seperti tanggung jawab, kerjasama, dan lain-lain.

2. Paparan Data Siklus II

Pelaksanaan tindakan siklus II ini relatif sama dengan pelaksanaan tindakan pada siklus I. Namun dalam pelaksanaan ini dilakukan perbaikan-perbaikan dari siklus I untuk meningkatkan hasil belajar. Siklus ini dilakukan selama empat kali pertemuan (8 x 45 menit). Secara rinci prosedur tindakan

siklus II dapat dijabarkan sebagai berikut:

a. Tahap Perencanaan

Adapun tahap perencanaan pada siklus II adalah:

1) Mempersiapkan perangkat pembelajaran dari silabus

2) Membuat lembar observasi untuk melihat keaktifan siswa selama tindakan berlangsung.

3) Membuat instumen tes hasil belajar Siklus II b. Tahap Pelaksanaan Tindakan

Hasil observasi proses pembelajaran siswa SMA Muhammadiyah lempangang secara rinci dapat dilihat pada lampiran III. Berikut dipaparkan hasil obesrvasi proses pembelajaran siswa di setiap pertemuan pada siklus II

Pertemuan I

Pada pertemuan pertama siklus II peneliti memberikan apersepsi dan motivasi seperti pada siklus I, namun apersepsi pada pertemuan ini diberikan pengantar berupa contoh contoh faktual materi kebudayaan dari

kelas itu sendiri. Cara ini ternyata menarik minat siswa untuk belajar, ditandai dengan jumlah siswa yang tidak memperhatikan apersepsi lebih sedikit dari siklus I yaitu 4 orang siswa.

Pada kegiatan inti, peneliti memulai dengan memberikan gambaran singkat mengenai materi yang akan dipelajari. Secara umum, kondisi kelas pada saat pembelajaran berlangsung kondusif. Jumlah siswa yang tidak memperhatikan penjelasan dari guru dan melakukan aktifitas negatif hanya 4 orang. Partisipasi siswa dalam pembelajaran mulai terlihat dan siswa mulai memiliki keberanian untuk bertanya.

Setalah peneliti menjelaskan materi, siswa dibagi menjadi 4 kelompok heterogen seperti pada siklus I, kemudian diberikan kesempatan untuk melakukan diskusi kelompok. Diskusi kelompok pada pertemuan ini terlihat lebih bemakna dan antusias. Siswa dalam kelompok mulai dapat bekerja-sama dengan baik untuk menggali informasi dan mengerjakan tugas.

Pada akhir pertemuan, guru menugaskan siswa untuk melanjutkan investigasi kelompok dan menyusun laporan hasil diskusi untuk kemudian dipresentasekan di depan kelas. Jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran pada pertemuan ini adalah 20 orang siswa.

Pertemuan II

Pada pertemuan kedua ini, pembelajaran dibuka dengan apersepsi dan motivasi. Peneliti memberikan pertanyaan-pertanyaan ringan tentang materi yang telah dibahas pada pertemuan lalu sebelum memulai kegiatan

inti. Antusiasme dan kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran pada petemuan ini terbilang cukup tinggi. Siswa yang tidak memperhatikan apersepsi hanya 3 orang dan siswa yang menjawab pertanyaan peneliti 2 orang.

Dalam kegiatan inti, presentase kelompok dilakukan seperti pada siklus I, 2 kelompok diminta maju kedepan secara bergantian, sementara siswa lain menjadi audience dan menanggapi materi yang telah disampaikan kelompok penyaji. Diskusi kelompok berlangsung dengan baik dan suasana pembelajaran lebih kondusif. Siswa yang melakukan aktifitas negatif hanya 4 orang. Sementara itu, siswa yang pasif hanya 5 orang dan lainnya memberikan kontribusi dan berperan aktif dalam diskusi. Pada kegiatan ini, siswa mulai terbuka dalam menyampaikan pertanyaan dan pendapat mereka kepada kelompok penyaji. Dari 5 siswa yang bertanya, hanya 1 diantara mereka yang mempertanyakan hal yang tidak releven dengan materi.

Setelah semua kelompok memepersentasekan hasil diskusinya, peneliti meminta siswa untuk menyimpulkan hasil diskusi yang telah dilakukan, dan meminta siswa untuk menanyakan hal-hal yang tidak mereka pahami, kemudian menutup kelas. Pada kegiatan akhir, peneliti menugaskan setiap siswa untuk membuat ringkasan hasil diskusi. Jumlah asiswa yang hadir pada pertemuan kedua siklus II ini adalah 18 orang.

Pertemuan III

Pada pertemuan III siklus II ini, tahapannya mirip dengan pertemuan sebelumnya. Setelah melakukan apresepsi, peneliti mempersilahkan kelompok penyaji mempersentasekan hasil diskusinya didepan kelas secara bergantian. Setelah diskusi selesai, peneliti penjelaskan kembali materi yang telah didiskusikan bersama untuk menyatukan pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran, kemudian menutup kelas dengan megingatkan siswa untuk menghadapi kuis (tes kemampuan akhir siklus II)

Pada pertemuan III ini, jumlah siswa yang tidak memperhatikan apersepsi hanya sebanyak 4 orang dan siswa yang melakukan aktifitas negative selama proses pembelajaran sebanyak 5 orang. Sebagian besar siswa memperhatikan dengan baik materi yang disampaikan guru dan berpartisipasi aktif selama proses diskusi. Jumlah siswa yang pasif 5 orang dan selebihnya terlibat secara signifikan dalam pembelajaran.

Pertemuan IV

Tes siklus II dilaksanakan dengan prosedur yang sama pada tes siklus I. Setelah peneliti menjelaskan tata tertib tes, lembar soal dibagikan kepada siswa dan diminta untuk mengerjakan dengan tenang. Pelaksanaan tes siklus II lebih tenang dibandingkan pada siklus I, jumlah siswa yang menyontek hanya 3 orang. Setelah ujian berlangsung, peneliti dan siswa

bersama-sama membahas soal-soal yang telah dikerjakan, dan pada kegiatan akhir, peneliti menyampaikan rasa terimakasih atas partisipasi seluruh siswa dan berpamitan kepada seluruh siswa. Jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran pada akhir penelitian ini adalah 20 orang siswa.

c. Observasi dan Evaluasi

1) Aktifitas Belajar Siswa Selama Siklus II

Secara umum, aktifitas belajar siswa SMA Muhammadiyah Lempangang Pada siklus II, terlihat bahwa minat dan kemauan belajar siswa mulai meningkat. Persentase kehadiran menjadi 95, dengn jumlah siswa yang tidak menyimak apersepsi dan melakukan aktifitas negative menjadi 15% dan 25%. Partisipasi siswa dalam pembelajaran juga meningkat, dapat dilihat dari kemauan siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat rata-rata berada pada persentase antara 15-25%

dari total jumlah

siswa. Jumlah siswa yang pasif juga hanya tinggal 30 2) Hasil Belajar Siswa

a. Kemampuan Kognitif Siswa

Hasil belajar siswa dalam ranah kognitif SMA Muhammadiyah lempangang pada siklus II dapat dilihat secara rinci pada lampiran. Secara umum, hasil belajar siswa SMA Muhammadiyah lempangang pada siklus II dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.5. Persentase, Kategori, dan Statistik Hasil Belajar Sosiologi Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah

Lempangang Pada Siklus I

No Interval Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%)

1 0 - 39 Sangat Rendah 0 0

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa prestasi belajar siswa meningkat cukup signifikan.

b. Penilaian Afektif

Penilaian afektif siswa pada siklus II dukur dengan cara yang sama pada siklus I, dengan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.6 Kategori Penilaian Afektif Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah lempangang pada Siklus II Kategori Frekuensi Persentase (%)

d. Refleksi

Setelah menganalisis hasil yang diperoleh pada siklus II, maka peneliti mempertimbangkan hal-hal,berikut sebagai bahan refleksi:

1) Implementasi model pembelajaran kooperatif tipe group investigation pada materi pokok nilai dan norma social berjalan sesuai hasil yang diharapkan. Hal ini membuktikan bahwa penerapan model pembelajaran kooperetif tipe group invesigation benar dapat mengembangkan kemampuan siswa, baik dalam ranah kognitif maupun afektif.

2) Model pembelajaran kooperatif tipe group investigation cocok untuk diterapkan pada pembelajaran sosiologi dengan materi kebudayaan.

Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation telah berhasil meningkatkan persentase ketutasan siswa sebanyak 40%, dan hasil belajar siswa meningkat dari rata-rata 63.86 menjadi 76.00

3) Meskipun terlihat adanya pengaruh postif model pembelajaran ini terhadap hasil belajar siswa, masih perlu dipikirkan kemungkinan pengembangan pada materi pokok yang lain pada mata pelajaran sosiologi.

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh SAINAL (Halaman 57-74)

Dokumen terkait