PASTORALIS) PADA SISWA KELAS X SMA MUHAMMADIYAH LEMPAGANG
PANCIRO KABUPATEN GOWA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh SAINAL 10538 1134 09
JURUSAN PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2014
viii
Jangan Pernah Berhenti Menuntut Ilmu Kerna Ilmu Adalah Harta Yang Paling Berharga
PERSEMBAHAN
Kupersembahkan Karya Sederhana Ini Untuk Kedua Orang Tuaku Yang Selalau Sabar Dan Takperna Bosan
Untuk Memberikan Saya Dukungan Baik Itu Berupa Materi Maupun Dengando”a
Judui Skripsi : Meningkatkan Hasil Belajar Sosiologi Pokok Bahasan Kebudayaan (Nomadilisme Pastoralis) melalui Model Pembelajaran Kooperatif (GI) pada Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang Panciro Kabupaten Gowa.
Nama NIM Jurusan Fakultas
: Sainal :10538113409
Pendidikan Sosiologi
: Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Setelah diteliti dan diperiksa ulang, skripsi ini telah memenuhi syarat untuk dipertanggungjawabkan di depan tim penguji skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
Disahkan oleh:
Pembimbing I
Dra.H
Makassar, 30 Desember 2014
Pembimbing II
/ahribulan. K, M.P<L
\
UsWan D M . S . V 4 M .
Mengetahui
Skripsi atas nama Sainal, M M 10538113409 diterima dan disahkan oleh Panitia Ujian Skripsi berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Nomor: 143 Tahun 1436 H/2014 M , Sebagai salah satu syarat guna memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Yudisium pada hari Selasa tanggal 25 November 2014.
Makassar,
PANITIA UJIAN
Pengawas Umum : Dr. H. Irwan Akib, M.Pd Ketua
Sekretaris Penguji
Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum.
;ruddin, S.Pd., M.Pd.
5
1. Drs H. M . Syukur Hak, M . M . 2. Muhammad Nawir, S.Ag, M.Pd 3. Dra. Hj. Syahribulan K, M.Pd 4. Sulfasyah, M.A., Ph.D
08 Rabi'ul Awal 1436 H 30 Desember 2014 M
Mengetahui Dekan^FKIP
Dr. Andi Suh ri Syamsuri, M. Hum.
NBM: 858 62 5
Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi
**'SMfJi>H/ Nursalam. M NBM: 951829
SURAT PERNYATAAN
Nama : Sainal
NIM : 10538 1134 09
Jurusan : Sosiologi
Program Studi : Strata Satu
Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Judul Skripsi : Meningkatkan Hasil Belajar Sosiologi Pokok Bahasan Kebudayaan (Nomadisme Pastoralis) melalui Model Pembelajaran Kooperatife Tipe Group Investigation Pada Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang Panciro Kabupaten Gowa
Dengan ini menyatakan bahwa:
Skripsi yang diajukan di depan Tim Penguji adalah asli hasil karya penulis sendiri.
Demikianlah pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, Novenber 2014 Yang membuat pernyataan,
Sainal Disetujui:
Pembimbing I,
Dra.Syahribulan K, M.Pd
Pembimbing II,
Usman D.M, S.pd M.Pd
Saya yang bertanda tangan di bawah ini : N a m a : Sainal
N I M : 10538 1134 09 Jurusan : Pendidikan Sosiologi
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi saya. Saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam penyusunan skripsi saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penciplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi saya.
4. Apabila saya melanggar perjanjian saya pada point 1, 2, dan 3 maka saya bersedia menerima sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, November 2014 Yang Membuat Perjanjian
SAINAL
Diketahui Oleh :
Ketua Jurusan Pendidikan Sosiologi
Dr. H. Nursalam, M.Si.
NBM: 951 829
x
Alhamdulillahi rabbil a’lamin, puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, atas segala karuniaNya sehingga penulis dapat menyusun skripsi ini. Tidak lupa juga shalawat dan taslim yang senantiasa tercurah kepada junjungan Nabiullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Nabi yang telah membawa umat manusia dari zaman jahiliah ke alam yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Sekelumit kisah telah terukir dalam rangkaian perjalanan mengarungi perguliran waktu dalam rangka penyusunan tugas akhir ini. Episode manis dan sedih terangkum dalam kisah ini sebagai bentuk harapan, kenangan, arah, dan tantangan. Restu Yang Maha Kuasa melalui uluran tangan dan belaian kasih dari orang-orang disekitar penulis telah banyak memberikan bantuan dengan segala kerendahan hati.
Skripsi ini yang berjudul “Meningkatkan hasil belajar sosiologi pokok bahasan Kebudayaan (Nomadilime Pastoralis) model pembelajaran kooperatif tipe group investigation” disusun dan diajukan untuk memenuhi persyaratan akademik untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan pada Jurusan Pendidikan Sosiologi FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini dapat diselesaikan berkat bantuan dan motivasi dari berbagai pihak yang telah memberikan masukan-masukan yang berharga, serta informasi guna kelengkapan penyusunan skripsi ini. Oleh karena itu, dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya
xi
mendidik, membiayai, dan memberikan semangat serta selalu mendoakan penulis dalam proses pencarian ilmu. Demikian pula penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh kerabat keluargaku yang dengan ikhlas senantiasa memberikan do’a, motivasi dan dorongan baik yang bersifat spritual, moril maupun material dalam menggapai cita-cita. Pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan rasa syukur, terima kasih, serta penghargaan yang tak terhingga kepada Dra. Hj Syahribulan K. M.Pd sebagai pembimbing I dan Usman D.M S.pd M.pd. sebagai pembimbing II yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk memberikan motivasi, bimbingan, petunjuk, dan saran mulai penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini.
Selanjutnya ucapan terima kasih dan penghargaan yang tulus penulis sampaikan kepada Dr. H. Nursalam, M.Si. Sebagai ketua prodi Pendidikan sosiologi dan Bapak Muhammad Akhir, S.Pd, M.Pd. sebagai sekertaris prodi Pendidikan Sosiologi yang tiada henti memberi motivasi dan dukungannya, Dr.
Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unismuh Makassar, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, khususnya Program Studi Pendidikan Sosiologi yang telah mendidik dan membagi ilmunya kepada penulis, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah Lempangang yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian, demikian pula dengan Hj. Jumriah, S.Ag. sebagai Guru sosiologi yang telah meluangkan waktu guna membantu pelaksanaan penelitian, Kepada seluruh Saudaraku seperjuangan dan sepenanggungan di Unismuh Makassar yang tak pernah lelah memberi dukungan dengan ocehan dan canda khasnya, Dr. H. Irwan Akib, M.Pd.
sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
xii
selanjutnya. Semoga dengan hadirnya skripsi ini dapat menambah khasanah keilmuan kita.
Makassar, Nopember 2013
Penulis
ix
Sainal. 2014. Meningkatkan Hasil Belajar Sosiologi Pokok Bahasan Kebudayaan (Nomadisme Pastoralis) melalui Model Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation Pada Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang Panciro Kabupaten Gowa . Skripsi. Jurusan Pendidikan Sosiologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Sahribulan dan Usman D.M
Penelitian ini adalah jenis penelitian tindakan kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar sosiologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang Panciro Kabupaten Gowa melalui penerapan Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation (GI). Data hasil penelitian diperoleh dari pengukuran hasil belajar 20 orang siswa kelas X SMA Muhammadiyah Lempanganag yang dilakukan dengan tes tertulis pada akhir siklus I dan siklus II;
serta dari hasil observasi siswa kelas X SMA Muhammadiyah Lempanganag selama proses belajar mengajar pada siklus I dan siklus II. Data hasil observasi dianalisis secara kualitaif dan data yang diperoleh diolah secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil tes siklus I dan siklus II dianalisis secara kuantitatif dengan uji Kolmogorov-Sminorv dan dilanjutkan dengan pengujian hipotesis dengan uji T satu kelompok.
Nilai rata-rata siswa pada siklus I sebesar 63,86 dengan persentase ketuntasan hanya sebesar 40% Sedangkan nilai rata-rata siklus II meningkat menjadi 76,00 dengan persentase ketuntasan 80%. Selain itu, tedapat peningkatan pada ranah afektif pada siklus II dibandingkan pada siklus I. Hasil uji hipotesis diperoleh peningkatan dari siklus I ke siklus II itu menunjukkan bahwa dengan penerapan pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation (GI) dapat meningkatkan hasil belajar sosiologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang
Kesimpulan: hasil belajar sosiologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah lempangang Panciro Kabupaten Gowa melalui pembelajaran kooperatif tipe Grouf Investigation. Dengan nilai rata-rata siswa pada siklus I sebesar 63,68 dengan peresentase ketuntasan 40% sedangkan nilai rata-rata siklus II meningkat menjadi 76,00 dengan presentase ketuntasan 80%
Kata kunci: Hasil belajar, Kooperatif tipe Group Investigation
xiii
HALAMAN SAMPUL ... i
PENGESAHAN SKRIPSI ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
KARTU KONTROL…….………. iv
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI………. vi
SURAT PERJANJIAN……… vii
MOTTO………... viii
ABSTRAK………... ix
KATA PENGANTAR………... x
DAPTAR ISI………xiii
BAB 1 PENDAHULUAN……… 1
A. Latar Belakang………... 1
B. Masalah Penelitian ……… 6
C. Tujuan Penelitian ……….. 7
D. Manfaat Penelitian ………... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 9
A. Kajian Pustaka………. 9
B. Kerangka Pikir ………. 32
C. Hipotesis ... 35
BAB III METODE PENELITIAN ... 36
A. Jenis Penelitian ... 36
B. Lokasi dan Subjek penelitian ... 36
C. Rencana Tindakan ... 36
xiv
F. Indikator Keberhasilan ... 43
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN……….44
A. Hasil Penelitian………44
B. Pembahasan……… 61
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN………...70
A. Kesimpulan……… 70
B. Saran……….70 DAFTAR PUSTAKA
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Proses pembelajaran adalah proses membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, yaitu mengajar yang dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik sebagai murid. Sering kali dikatakan mengajar adalah mengorganisasikan aktivitas siswa dalam arti yang luas. Peran guru bukan semata-mata memberikan informasi, melainkan mengarahkan dan memberi aktivitas belajar (directing and Facilitating the learning) agar proses belajar lebih memadai.
Pembelajaran menurut Dimyati dan Mujiono (2006) adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar lebih aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Undang-undang sistem pendidikan nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru digunakan untuk mengembangkan kreatifitas berfikir yang dapat meningkatkan kemampuan
berfikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran. Pengalaman yang dapat dilihat dalam proses pembelajaran menunjukkan, bahwa, masih banyak guru yang metode pengajarannya mengkondisikan siswanya disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang kurang perlu seperti mencatat bahan pelajaran yang sudah ada dalam buku, dan metode mengajar guru yang masih banyak berupa ceramah dan pemberian tugas atau lebih di kenal dengan metode yang konvensional.
Masalah yang berhubungan dengan proses belajar mengajar merupakan salah satu masalah dalam faktor internal dalam pendidikan, dimana dalam kenyataannya masih banyak guru yang menggunakan cara mengajar tradisional dengan menggunakan metode yang konvensional dari pada menggunakan variasi berbagai macam metode baru.
Hasil studi pendahuluan yang dilakukan di SMA Muhammadiyah lempangang Panciro melalui wawancara dengan guru bidang studi IPS, diperoleh data hasil belajar IPS siswa pada tahun 2012/2013 yaitu nilai rata-rata 63,86 sedangkan KKM-nya 70. Anggapan mereka terhadap sosiologi adalah pelajaran yang berisi banyak konsep dan aturan. Pada umumnya siswa belajar menghafal konsep sosiologi bukan belajar untuk mengerti konsep sosiologi. Sehingga siswa mengalami kesulitan mengaitkan konsep yang dipelajarinya di kelas dalam kegiatan kehidupan sehari-hari.
Faktor yang menyebabkan hasil belajar siswa rendah adalah daya serap siswa terhadap materi pelajaran rendah, daya serap peserta didik dalam
memahami bahan pelajaran yang diberikan rendah, siswa kurang aktif selama kegiatan belajar berlangsung dalam kelas, Karena siswa dan guru sama-sama tidak terbuka dalam proses pembelajaran sehingga suasana kelas menjadi fakum. Selain itu, metode pembelajaran yang diterapkan guru merupakan metode yang konvensional, seperti metode ceramah dan tanya jawab.
Dengan melihat kondisi yang ada di lingkungan sekolah SMA Muhammadiyah Lempangang Panciro yang pada dasarnya tidak ada masalah dalam sarana belajar, namun dalam proses belajar mengajar terdapat masalah- masalah yang sangat perlu kiranya dicarikan solusi-solusi demi peningkatan hasil belajar siswa. Masalah-masalah yang dimaksud antara lain, keadaan siswa yang kurang antusias dalam mengikuti pelajaran sosiologi, proses pembelajaran yang masih menerapkan pembelajaran yang konvensional dimana pembelajaran berpusat pada guru, siswa hanya sebagai pendengar dan penerima informasi dari guru tentunya sangat sulit untuk meningkatkan aktifitas, kreatifitas, dan hasil belajar siswa.
Dengan melihat permasalahan di atas, peneliti ingin mencoba menawarkan sebuah alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Model pembelajaran yang diterapkan sebagai alternatif yang tepat adalah model pembelajaran Kooperatife tipe Group Investigation. Model pembelajaran ini menjadi pilihan karena pada model ini siswa dituntut untuk menguasai materi secara individual dalam team-work sehingga diharapkan mampu mengasah kreativitas, rasa ingin
tahu, kemampuan bekerja sama, kemampuan mengemukakan pendapat dan kemandirian belajar.
Model Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation ialah siswa belajar dengan cara bekerjasama dalam kelompok untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan penuh tanggung jawab pada aktifitas belajar kelompoknya, sehingga meteri yang diajarkan guru mudah dipahami oleh seluruh anggota kelompok.
Pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation menekankan kerjasama antar siswa dalam kelompoknya, setiap anggota berdiskusi dan menentukan informasi apa yang akan dikumpulkan, bagaimana mengolahnya, bagaimana menelitinya, dan bagaimana menyajikan hasil penelitiannya didepan kelas.
Pokok bahasan yang dikaji dalam penelitian ini adalah Kebudayaan, yang diambil dari kurikulum sosiologi untuk SMA Muhammadiyah Lempangan Panciro Kabupaten Gowa.
Budaya adalah hasil karya, cipta dan karsa manusia. Kebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi”
yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Adapun istilah cultere yang meruapakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan berasal dari kata latin colere, artinya mengolah dan mengerjakan.
Seorang antropolog lain yaitu E.B. Tylor (dalam soekanto,2007: 150) memberikan defenisi mengenai kebudayaan yaitu: “ kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Pastoralisme (atau nomadilisme pastoralis) mulai muncul kira –kira 3000 sampai 3500 tahun yang lalu sebagai adaptasi susistensi yang sangat terspesilisasi terhadap lingkungan kering atau semi kering. Walau muncul lebih belakang dari pertanian murni, teknologi subsistensi ini secara evolusioner tidak lebih tinggi, atau lebih maju dari teknologi subtensis pertanian, tetapi hanya merupakan adaptasi khas di beberapa wilayah di mana pertanian tidak mungkin atau sangat sulit di lakukan.masyarakat pastoralis menggantungkan hidupnya kepada sekumpulan binatang gembala. Pastoralisme (atau nomadilisme pastoralis) mulai muncul kira –kira 3000 sampai 3500 tahun yang lalu sebagai adaptasi susistensi yang sangat terspesilisasi terhadap lingkungan kering atau semi kering. Walau muncul lebih belakang dari pertanian murni, teknologi subsistensi ini secara evolusioner tidak lebih tinggi, atau lebih maju dari teknologi subtensis pertanian, tetapi hanya merupakan adaptasi khas di beberapa wilayah di mana pertanian tidak mungkin atau sangat sulit di lakukan.masyarakat pastoralis menggantungkan hidupnya kepada sekumpulan binatang gembala. Pastoralisme (atau nomadilisme pastoralis) mulai muncul kira –kira 3000 sampai 3500 tahun yang lalu sebagai adaptasi susistensi yang sangat terspesilisasi terhadap lingkungan kering atau semi kering. Walau muncul lebih belaksang dari pertanian murni, teknologi
subsistensi ini secara evolusioner tidak lebih tinggi, atau lebih maju dari teknologi subtensis pertanian, tetapi hanya merupakan adaptasi khas di beberapa wilayah di mana pertanian tidak mungkin atau sangat sulit di lakukan.masyarakat pastoralis menggantungkan hidupnya kepada sekumpulan binatang gembala.
Mereka mengembala binatang sepanjang tahun, dan berpindah secara musiman dengan sekumpulan gembala/ternak mereka untuk mencari padang rumput (pasture). (kerena itula mereka dinamakan nomadilisme pastoralis).
Binatang yang paling umum di pelihara adalah biri-biri, kambing, onta, sapi dan, kadang-kadang rusa kabut
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk mengangkat permasalahan ini, dan mencoba melakukan suatu penelitian dengan judul:
“Meningkatkan hasil belajar sosiologi melalui model pembelajaran
koperatife tipe Group Investigation pokok bahasan kebudayaan (nomadilisme pastoralis) pada siswa kelas X SMA SMA Muhammadiyah Lempangang Panciro”.
B. Masalah Penelitian
1. Identifikasi masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan masalah yang dihadapi dalam pembelajaran sosiologi yaitu rendahnya hasil belajar sosiologi yang disebabkan oleh metode belajar guru yang masih bersifat konvensional dimana proses pembelajaran banyak didominasi oleh guru.
2. Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi masalah rendahnya hasil belajar sosiologi maka perlu diterapkan model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar sehingga pelajaran sosiologi itu dapat di cerna dengan baik oleh siswa.
model pembelajaran koperatife dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini terbukti dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Meningkatkan hasil belajar sosiologi melalui model pembelajaran koperatife tipe group investigation pokok bahasan kebudayaan (nomadilisme pastoralis) pada siswa kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang Panciro ”.
3. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana meningkatkan hasil belajar sosiologi pada pokok bahasan kebudayaan melalui model pembelajan kooperatif tipe group investigation Kelas X SMAMuhammadiyah Lempangang Panciro? C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan dengan rumusan tersebut di atas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: Untuk meningkatkan hasil belajar sosiologi pada pokobahasan kebudayaan siswa Kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang Panciromelalui model pembelajaran kooperatif tipe group investigation.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
a. Sebagai informasi mengenai penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dalam meningkatkan hasil belajar sosiologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang menambah wawasan bagi guru sebagai bahan alternatif pembelajaran untuk meningkatkan nilai dan potensi belajar siswa dalam pelajaran sosiologi.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi sekolah; dengan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi sekolah dalam rangka perbaikan teknik pembelajaran yang bervariasi.
b. Bagi guru; meningkatkan profesionalisme seorang guru seperti kemampuan menyajikan dan mengembangkan materi khususnya dalam pembelajaran sosiologi.
c. Bagi siswa; dapat merangsang kemampuan berpikir siswa dalam memecahkan masalah, menambah rasa percaya diri siswa, pemahaman yang lebih mendasar dan hasil belajar yang lebih tinsggi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka 1. Pengertian Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Sekarang timbul pertanyaan apakah belajar itu sebenarnya? Samakah belajar dengan latihan, dengan menghafal, dengan pengumpulan fakta dan studi? Tentu saja terhadap pertanyaan tersebut banyak pendapat yang mungkin satu sama lain berbeda.
Ada beberapa terminologi terkait dengan belajar yang sering kali menimbulkan keraguan dalam menggunakannya terutama dikalangan siswa, atau mahasiswa yakni terminologi tentang mengajar, pembelajaran, dan belajar. Oleh karena itu untuk mendalami hakekat belajar pada bagian ini ada baiknya terlebih dahulu kita bahas secara singkat beberapa istilah ini.
Meskipun belajar, mengajar keduanya bermuara pada tujuan yang sama.
Mengajar diartikan sebagai suatu keadaan atau suatu aktivitas untuk menciptakan suatu situasi yang mampu mendorong siswa untuk belajar.
Pengertian belajar dapat kita temukan dalam berbagai sumber atau literatur.
Meskipun kita melihat ada perbedaan-perbedaan di dalam rumusan pengertian 9
belajar tesebut dari masing-masing ahli, namun secara prinsip kita menemukan persamaannya. Di antara pengertian belajar yang dirumuskan oleh para ahli sebagai berikut:
Burton, dalam sebuah buku “The Guidance Of Learning Avtivities”, (Aunurrahman, 2009: 35). merumuskan pengertian belajar sebagai berikut.
“Belajar adalah sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mampu berinteraksi dengan lingkungannya”.
Dalam bukunya Education Psyhology, H. C. Witherington, (Aunurrahman, 2009: 35). mengemukakan bahwa “Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian dan menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepribadian atau suatu pengertian”.
Dalam sebuah situs tentang pengertian belajar yang bersumber dari para ahli pendidikan/pembelajaran. James O. Whittaker mengemukakan bahwa :“Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman”. sedangkan menurut Abdillah (Aunurrahman, 2009: 35) bahwa pengertian belajar adalah :“Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Ada beberapa pandangan tentang belajar diantaranya menurut Slameto (2003: 2) berpendapat bahwa :“Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Dengan melihat beberapa definisi di atas maka yang menjadi kesimpulan bahwa belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu. Lebih lanjut bahwa Soetomo dalam Aunurrahman mengemukakan bahwa belajar adalah : “Belajar adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain-lain”.
Selanjutnya arti belajar menurut Suparno (dalam Slameto,2003: 61) bahwa: “Belajar merupakan proses aktif, belajar mengkonstruksi arti entah teks, dialog, pengalaman fisik, dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan”.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang baru secara kesulurahan, sebagai akibat
dari pengalaman dan latihan, dengan perubahan-perubahan yang dihasilkan bersifat relatif. Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan hasil belajar yang baik perlu diperhatiakan kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal adalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa, seperti kesehatan, keterampilan, kemampuan dan sebagainya. Kondisi eksternal adalah kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia, misalnya ruang belajar yang bersih, sarana dan prasarana belajar yang memadai.
2. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan suatau istilah yang digunakan untuk menunjukkan suatu keberhasilan yang dicapai sesorang setelah melakukan usaha, bila dikaitkan dengan belajar berarti hasil yang menunjukan suatu keberhasilan yang dicapai oleh seseorang yang belajar dalam silang waktu tertentu.
Menurut Dimyati (2003: 6) bahwa “hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari luar yaitu sisi siswa dan sisi guru. Sejalan dengan itu Suprijono (2009: 5) mengemukakan bahwa “hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap apresiasi dan keterampilan.
Salah satu hasil belajar adalah penguasaan bahan pelajaran atau biasa disebut prestasi. Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerja,
diciptakan baik secara individu, berpasangan, maupun kelompok. Banyak kegiatan yang biasa dijadikan sebagai sasaran untuk mendapatkan suatu prestasi.
Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tingkat penguasaan bahan pelajaran setelah mendapatkan pengalaman belajar kurun waktu tertentu yang diukur dengan menggunakan tes tertentu
3. Pengertian Sosiologi
Untuk memahami pengertian sosiologi kiranya perlu dikemukakan pengertian sosiologi. sosiologi secara etimologi, sosiologi berasal dari bahasa latin: socius dan logos. Socius artinya teman, perikatan; dan logos artinya ilmu. jadi, secara etimologi sosiologi berarti ilmu berteman, sedangkan pengertian sosiologi terminologi adalah adalah ilmu yang mempelajari interaksi (hubungan timbal-balik) antara seorang individu yang satu dengan yang lain, baik seorang sebagai pribadi (individu) maupun sebagai anggota kelompok orang (masyarakat).
Sukar untuk merumuskan suatu definisi (batasan makna) yang dapat mengemukakan keseluruhan pengertian, sifat dan hakekat yang dimaksud dalam beberapa kata dan kalimat. Oleh sebab itu, suatu definisi hanya dapat dipakai sebagai suatu pegangan sementara saja. Untuk patokan sementara,
beberapa definisi sosiologi yang dikemukakan oleh beberapa ahli, Soekanto (2007: 17) sebagai berikut :
a. Auguste Comte, mengemukakan pengertian sosiologi : “soiologi merupakan ilmu positif tentang masyarakat, artinya sosiologi merupakan suatu studi ilmiah tentang masyarakat”.
b. Emile Durkheim, mengemukakan pengertian sosiologi adalah sebagai berikut. “sosiologi merupakan ilmu-ilmu yang mempelajari lembaga- lembaga dalam masyarakat dan proses proses sosial”.
c. Pitirin A.Sorokin, menjelaskan tentang pengertian sosiologi: Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal berikut:
1) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala-gejala sosial, misalnya antara ekonomi dan agama serta keluarga dan moral.
2) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala-gejala nonsosial. Misalnya, antara gejala sosial dan biologis atau geografis.
3) Ciri-ciri umum dari semua jenis gejala-gejala sosial.
d. J. A. A Van Doorn dan C. j. Lammers berpendapat tentang pengertian sosiologi : “sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses- proses kemasyarakatan yang bersifat stabil”. Sedangkan e. Selo Soemarjan dan Soelaeman soemardi: menjelaskan tentang pengertian
sosiologi adalah : “sosiologi atau ilmu masyarakat ialah ilmu yang
mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan- perubahan sosial”.
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang interaksi sosial, srtuktur- struktur sosial dan kemasyarakatan
4. Peningkatan Hasil Belajar sosiologi
Sosiologi merupakan ilmu yang berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat yang menjadi objek kajiannya. Sebagaimana dikemukakan oleh Hotman M. Siahaan (dalam J. Murdiyatmoko, 2007: 14) bahwa sosiologi merupakan refleksi dari keadaan masyarakat yang sedang berubah dan teori-teori yang dihasilkannya merupakan hasil dari keadaan masyarakat itu sendiri. Sosiologi pada dasarnya mempunyai dua pengertian dasar yaitu sebagai ilmu dan sebagai metode. Sebagai ilmu, Sosiologi merupakan kumpulan pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan yang disusun secara Sosiologi sistematis berdasarkan analisis berpikir logis.
Sebagai metode, Sosiologi adalah cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Pengajaran Sosiologi di Sekolah Menengah berfungsi untuk meningkatkan kemampuan siswa mengaktualisasikan potensi diri mereka dalam mengambil dan mengungkapkan status dan peran masing-masing dalam kehidupan sosial dan budaya yang terus mengalami perubahan dan Tujuan
pengajaran sosiologi di Sekolah Menengah pada dasarnya mencakup dua sasaran yang bersifat kognitif dan bersifat praktis. Secara kognitif pengajaran Sosiologi dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dasar Sosiologi agar siswa mampu memahami dan menelaah secara rasional komponen-komponen dari individu, kebudayaan dan masyarakat sebagai suatu sistem. Sementara itu sasaran yang bersifat praktis dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan sikap dan perilaku siswa yang rasional dan kritis dalam menghadapi kemajemukan masyarakat, kebudayaan, situasi sosial serta berbagai masalah sosial yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Ruang lingkup mata pelajaran sosiologi adalah sebagai berikut:
1. Sosiologi sebagai ilmu dan metode 2. Interaksi sosial
3. Sosialisasi 4. Struktur sosial 5. Kebudayaan
6. Perubahan sosial budaya
5. Cooperative Learning Tipe Group Investigation (GI)
Metode Group Investigation (GI) dikembangkan oleh Sharan & Sharan pada tahun 1976 memberikan kebebasan pada siswa untuk menentukan topik apa yang akan mereka pelajari dan investigasi (Huda, 2011: 123). Menurut Ramadhan, Noviana, dan Witri (2012) Group Investigation (GI) merupakan pembelajaran kooperatif yang melibatkan kelompok kecil dimana siswa bekerja menggunakan inkuiri kooperatif, perencanaan, proyek, dan diskusi kelompok dan kemudian mempersentasekan hasilnya di depan kelas.
Sharan dan Sharan (1989: 17) mengemukakan bahwa Group Investigation merupakan media efektif untuk mendorong dan membimbing siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Dalam metode ini, siswa dapat berkomunikasi dan bekerjasama untuk merencanakan dan melaksanakan suatu topik tertentu dalam pembelajaran, dengan demikian diharapkan mereka memperoleh hasil belajar yang lebih baik dari belajar secara individual (Sharan dan Sharan, 1989: 17)
Menurut Wena (2008) dalam Radiyanti, dkk. (2012) model pembelajaran kooperatif tipe group investigation adalah model pembelajaran kooperatif yang pembentukan kelompoknya didasari atas minat anggotanya. Slavin (2005) dalam Rahmawati (2012) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah perencanaan kooperatif siswa atas apa yang dituntut dari mereka; sedangkan Putra (1992) dalam Rahmawati (2012) menyatakan bahwa sifat demokrasi dalam kooperatif tipe GI ditandai dengan oleh keputusan-keputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar.
Dari berbagai pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation siswa dibebaskan dalam memilih topik dan mengerjakannya dalam kelompok yang disepakati bersama.
Model ini menekankan pemberian control dan pilihan kepada siswa daripada menerapkan teknik pelajaran tertentu di kelas
Model pembelajaran kooperatif tipe GI memadukan model pembelajaran kooperatif dengan prinsip-prinsip konstruktivisme dan pembelajaran demokratif,
sehingga terbilang sebagai sebuah model pembelajaran yang kompleks (Isjoni dalam Radiyanti, dkk., 2012). Tujuan yang paling penting dari pembelajaran kooperatif tipe group investigation menurut Radiyanti, dkk. (2012) adalah untuk memberikan para siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi. Rahmawati (2012) menyatakan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat meningkatkan keaktifan siswa.
Dalam model GI, siswa dikelompokkan dalam kelompok – kelompok kecil, lalu diberi tugas atau proyek yang berbeda. Dalam kelompok setiap anggota berdiskusi bagaimana mengumpulkan, mengelola, meneliti, dan menyajikan hasil diskusi di depan kelas. Setiap anggota harus memiliki andil dalam kegiatan kelompok, dari awal hingga akhir, sehingga selama proses investigasi atau penelitian dilakukan, semua anggota kelompok terlibat dalam aktifitas berfikir tingkat tinggi seperti membuat sintesis, ringkasan, hipotesis, kesimpulan, dan menyajikan laporan akhir (Huda, 2011: 124)
Menurut Isjoni (2011) dalam Radiyanti, dkk. (2012) pada model pembelajaran kooperatif tipe group investigation siswa dibagi kedalam kelompok yang beranggotakan 4-5 orang. Kelompok yang dibentuk berdasarkan perkawanan atau keterikatan akan materi tanpa melanggar ciri-ciri pembelajaran kooperatif.
Terdapat enam tahapan yang menuntut keterlibatan anggota tim menurut Wena (2008) dalam Radiyanti, dkk. (2012) yaitu identifikasi topik, perencanaan tugas belajar, persiapan laporan akhir, presentase penelitian dan evaluasi.
Sharan dan Sharan (1989) mengemukakan 6 tahapan yang dilakukan pada implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation yaitu:
Tahap I: Identifying the topik to be investigated and organizing
students into research groups
Pada tahapan ini, guru dan siswa sama-sama menentukan topik-topik yang kan diinvestigasi dan membentuk kelompok - kelompok kecil. Langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:
(1) Menentukan topik pembahasan.
(2) Setiap siswa mengajukan pertanyaan tentang materi yang akan dibahas dan guru menuliskan pertanyaan di papan tulis; atau siswa dapat dikelompokkan dalam grup-grup yang beranggotakan 4-5 orang untuk mendiskusikan apa yang ingin mereka ketahui dari bahasan yang telah ditentukan.
(3) Guru memberikan saran tentang apa yang seharusnya dibahas untuk topik yang dipilih.
(4) Mengklasifikasikan pertanyaan dari semua siswa kedalam beberapa kategori, dimana kategori yang dipilih adalah subtopik untuk membentuk kelompok- kelompok investigasi.
(5) Judul-judul subtopik dipresentasikan di depan kelas, siswa lalu membentuk kelompok subtopik yang diinginkan. Pada tahap ini, guru dapat memberi batasan jumlah anggota untuk setiap kelompok.
Tahap II: Planning the investigation in group
Pada tahap ini, siswa merencanakan hal-hal yang harus mereka investigasi.
Pada tahapan ini, masing-masing anggota kelompok menentukan peran meraka dalam kelompok dan waktu yang digunakan untuk mengerjakan proyek mereka.
Setiap kelompok harus menginvestigasi sub-topik yang telah mereka pilih dengan membuat pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan. Sebagai contoh, jika sebuah kelompok beranggotakan 4 orang, pertanyaan yang muncul mungkin sebanyak 4 buah, anggota kelompok akan berdiskusi untuk menentukan siapa yang akan bertanggung jawab mencari jawaban untuk masing-masing pertanyaan.
Tahap III: Carrying out the investigation
Pada tahapan ini, kelompok-kelompok mulai melakukan investigasi terhadap materi yang mereka pilih. Masing-masing anggota bertanggung jawab terhadap bahasannya dan mencari sumber informasi sebanyak mungkin tentang hal tersebut untuk menjawab (solving) pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya.
Tahap IV: Preparing the final report
Pada tahapan ini, kelompok-kelompok mendiskusikan hasil investigasi yang diperoleh. Masing-masing anggota menjabarkan hal-hal yang mereka temukan dan bersama-sama membuat kesimpulan. Setiap orang dapat mengemukakan hal-hal yang tidak dipahami untuk didiskusikan dan dipecahkan
bersama. Notulen dalam kelompok dapat membuat suatu laporan akhir berupa makalah atau esai tentang bahasan mereka.
Tahap V: Presenting the final report
Hasil investigasi yang diperoleh oleh setiap kelompok dipresentasikan didepan kelas, dalam hal ini, guru dapat mengarahkan presentasi sehingga setiap kelompok dapat membagikan informasi yang mereka dapatkan kepada seluruh kelas. Jika kelompok penyaji menyampaikan hasil diskusinya, kelompok lain yang bertindak sebagai audience, dapat mengajukan saran, masukan, dan pertanyaan kepada kelompok penyaji. Diakhir diskusi, salah satu siswa dapat mengungkapkan kesimpulan umum untuk semua kelompok.
Tahap VI: Evaluation
Dalam tahap assesmen, guru mengevaluasi tingkat kemampuan berfikir siswa pada topik yang sedang dibahas. Fokus penilaian ditujukan pada kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan pada masalah baru, penggunaan kesimpulan dan penggambaran kesimpulan. Guru juga menilai proses investigasi yang dilakukan siswa sebagai penilaian afektif dan psikomotorik.
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe group investigation menurut Riyanto (2009: 272) adalah sebagai berikut:
(1) Kemukakan masalah/pertanyaan berdasarkan dari hasil pengamatan
(2) Kegiatan kelompok kooperatif untuk menjawab masalah (pengamatan lebih lanjut atau eksperimen)
(3) Melaporkan hasil kegiatan kelompok berupa produk atau presentasi Penghargaan kelompok
6. Kebudayaan
a. Pengertian kebudayaan
Budaya adalah hasil karya, cipta dan karsa manusia. Kebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal- hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Adapun istilah cultere yang meruapakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan berasal dari kata latin colere, artinya mengolah dan mengerjakan.
Seorang antropolog lain yaitu E.B. Tylor (dalam soekanto,2007: 150) memberikan defenisi mengenai kebudayaan yaitu: “ kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Selo Soemardjan dan soelaeman soemardi (dalam soekanto,2007: 151) merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat.
b. Fungsi kebudayaan bagi masyarakat
Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Bermacam kekuatan yang harus dihadapi manusia masyarakat dan anggota-anggotannya seperti kekuatan alam, maupun kekuatan-kekuatan lainnya di dalam masyarakat itu sendiri tidak selalu baik baginya. Selain iti manusia dan masyarakat memerlukan pula kepuasan, baik di bidang spiritual maupun materiil.
c. Unsur-unsur normative yang merupakan bagian dari kebudayaan yaitu:
(1) Unsur-unsurs yang menyangkut penilaian (valuational elements) miasalnya apa yang baik dan buruk, apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan apa yang sesuai dengan keinginan dan apa yang tidak sesuai dengan keinginan.
(2) Unsur-unsur yang berhubungan dengan apa yang seharusnya (precritipe elements) seperti bagaimana orang harus berlaku.
(3) Unsur yang menyangkut kepercayaan (cognitive elements) seperti miasalnya harus mengadakan upacara adat padasaat kelahiran, pertunangan, perkawinan, dll
d. Sifat hakekat kebudayaan
Sifat hakekat kebudayaan adalah sebagai berikut:
(1) Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia (2) Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu
generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan
(3) Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingkah lakunya
(4) Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban- kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan- tindakan yang dilarang dan tindakan –tindakan yang diizinkan.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah pergerakan yang terjadi dalam kebiasaan dalam masyarakat seperti yang disebutkan dalam unsur-unsur kebudayaan berikut:
a. Peralatan dan perlengkapan hidup b. Mata pencaharian hidup dan ekonomi c. Sistim kamasyarakatan
d. Bahasa e. Kesenian
f. Sistem pengetahuan
Pengertian kebudayaan menurut parah ahli 1. Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
2. Arkeolog R. Seokmono
Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.
3.Effat al-Syarqaw
Yang mengartikan kebudayaan sebagai khazanah sejarah suatu bangsa/masyarakat yang tercermin dalam pengakuan/kesaksiannya dan nilai- nilainya, yaitu kesaksian dan nilai-nilai yang menggariskan bagi kehidupan suatu tujuan ideal dan makna rohaniah yang dalam, bebas dari kontradiksi ruang dan waktu.
4.Parsudi Suparlan
Kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya, budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia.
Depenisi Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya:
Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti
"individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota- anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan
dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.
Pengertian kebudayaan
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J.
Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur- struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
o alat-alat teknologi
o sistem ekonomi
o keluarga
o kekuasaan politik
2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
o sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
o organisasi ekonomi
o alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
o organisasi kekuatan (politik)
7. Nomadisme Pastorasil
Pastoralisme (atau nomadilisme pastoralis) mulai muncul kira –kira 3000 sampai 3500 tahun yang lalu sebagai adaptasi susistensi yang sangat terspesilisasi terhadap lingkungan kering atau semi kering. Walau muncul lebih belakang dari pertanian murni, teknologi subsistensi ini secara evolusioner tidak lebih tinggi, atau lebih maju dari teknologi subtensis pertanian, tetapi hanya merupakan adaptasi khas di beberapa wilayah di mana pertanian tidak mungkin atau sangat sulit di lakukan.masyarakat pastoralis menggantungkan hidupnya kepada sekumpulan binatang gembala. Mereka mengembala binatang sepanjang tahun, dan berpindah secara musiman dengan sekumpulan gembala/ternak mereka untuk mencari padang rumput (pasture). (kerena itula mereka dinamakan nomadilisme pastoralis). Binatang yang paling umum di pelihara adalah biri-biri, kambing, onta, sapid an, kadang-kadang rusa kabut. Sebagai kelompok pastoralis menggantungkan hidup mereka hanya pada satu species binatang, semantara yang lain
memelihara beberapa species. Sebagai masyarakat pastoralis,yang kadang- kadang disebut masyarakat pastoralis “sejati”, tidak melaksanakan aktipitas pertanian sama sekali. Kelompok-kelompok ini memperoleh produk pertanian melalui hubungan dagang dengan tetangga mereka yang menjalankan pertanian. Namun, bukan jarang terjadi kelompok pastoralisjuga manjalankan pertanian untuk melemgkapi makanan yang diperoleh di peternakan binatang mereka, tetapi ini selalu bersipat sekunder disamping kegiaan menggembala.
Kebanyakan masyarakat pastoralis terdapat di wilayah-wilayah kering di Asia dan Afrika: di Asia Barat Daya , Afrika Utara dan padang rumput Afrika Timur. Biri – biri, kambing, dan ontaadalah binatang yg paling umum diternakka di Asia dan Afrika Utara, sementara Afrika Timur terkenal dengan peternak sapi. Pastoralisme juga terdapat di wilaya hutan Eurasi Utara, dan disini peternakan rusa sangat mendominasi (sahlins, 1968). dan disini peternakan rusa mendominasi Kelompok-kelompok yang relative kecil, biasanya tidak lebih dari 100 sampai 200 anggota. Kepadatan penduduk sangat rendah, biasanya kurang dari lima orang per-mil persegi.
Kebanyakan makanan masyarakat patoralis, tentu saja, berasal dari hasil peternakan mereka, terutama dengan susu, danging, dan darah. Di Afrika Timur misalnya, banyak kelompok pastoral memiliki campuran darah dan susu sebagai makan pokok. Waluwpun produk-produk pertanian mereka
mencukupi makanan mereka, tetapi bagi sekelompok lain hanya melakukan itu pada tingkat yang sangat kecil.
Basseri
Basseri adalah masyarakat pastoralis yang tinggal di padang rumput yang kering dan pegudungan Iran Selatan. Berjumlah sekitar 16.000 dalam seluruh suku,tinggal di kemeh-kemah yang berpindah-pindah bersama dengan binatang ternak mereka. Habitat mereka kerimg dan panas. Cura hujan tahunan umumnya berkisar dari antara 10 inci atau kurang dari itu, dan kebanyakan hujan turun pada musim dingin. Pembasan tentang pola subsistensi kelompok ini didasarkan pada kajian frenrik barth (1961).
Masyarakat basseri memelihara sejumlah binatang yg telah di domestikkan, yang terpenting di antaranya adalah biri-biri dan kambing.
Produk ini merupakan bagian terbesar dari kebutuhan subsistensi mereka.
Kuda dipelihara untuk transport dan tunggangan, dan onta di pelihara untuk membawa meban dan di jual bulunya. Anjing di mampatkan untuk penjaga kemah. Ayam dan itik di jadikan sebagai sumbar daging, tetapi terolnya tidak di makan.
Susu biri-biri dan kambing merupakan merupakan produk terpenting.
Susu merupakan makanan pokok dan diproses agar dapat di simpan lebih lama. Keju dibuat, walaupun jarak selama masa perpindahan. Keju yang
paling baik di buat adalah selama musim panas, ketka masyarakat basseri menetap di suatu tempat tertentu.
Biri-biri disembeli tetapi dagingnya tidak pernah di bakar, diasinkan atau dikeringkan, melainkan selalu di makan dalam keadan segar.kulitnya dijual dan juga digunakan sebagai kantong penyimpanan air, susu dan dadih.
Bulu binatang merupakan produk yang penting.bulu kempa dibuat dari bulu anak biri-biri. Bulu biri-biri dan onta dijual dan dijadikan tenunan dan tali. Bulu kambing juga dijual, dipintal serta ditenun.
Banyak produk pertanian termasuk makanan yang ada di kalangan basseri. Sebagianya diproduksi sendiri, sebagian lagi di peroleh dengan cara perdagangan. Biji-bijian, seprti gandum, ditanam ketika anggota suku pertamakali membangun perkemahan pada musim panas, dan dipanen sebelum meninggalkan perkemahan. Pertanian yang dilakukan masyarakat basseri sangat sederhana.
B. Kerangka Pikir
Pencapaian kompetensi merupakan pencerminan dari hasil yang diperoleh siswa dalam proses pembelajaran. Ada banyak faktor yang mempengaruhi tercapainya kompetensi siswa, salah satunya adalah faktor sekolah. Komponen yang termasuk dalam faktor sekolah adalah guru, kurikulum, proses pembelajaran dan siswa. Kurikulum sebagai rencana tertulis mengenai proses pembelajaran
yang akan dilakukan harus dapat mencerminkan kompetensi-kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Aktivitas belajar siswa kelas X SMA muhammadiyah lempangang masih tergolong rendah terutama saat melakukan diskusi. Banyak diantara yang apatis dan egois tidak mau bekerja sama kebanyakan lebih mementingkan diri sendiri.
Dalam pelaksanaan pembelajaran guru belum menerapkan model pembelajaran yang memberikan peluang yang lebih luas kepada peserta didik untuk terlibat aktif dan bertanggung jawab dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Hal ini berakibat pada rendahnya prestasi hasil belajar siswa.
Proses pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif diduga dapat meningkatkan peran serta siswa, sebab dalam pelaksanaannya siswa dilibatkan secara langsung, mulai dari perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara mempelajarinya melalui diskusi atau pleno kecil. Model pembelajaran ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, bekejasama maupun mempresentasekan atau mengutarakan hasil pikirannya.
Dengan demikian siswa selau aktif dan selalu dilibatkan dalam proses pembelajaran sehingga tercipta belajar bermakna dan siswa termotivasi untuk belajar, yang kemudian akan dapat meningakatkan kompetensi siswa.
Bagan kerangka pikir
KONDISI AWAL
GURU;
Belum menggunakan
model pembelajaran kooperatif
SISWA:
Hasil belajar sosiologi rendah
TINDAKAN
Menggunakan model pembelajaran kooferatifSIKLUS: 1
Pembelajaran materi kebudayaan
SIKLUS:II
Pembelajaran materi kebudayaan
HASIL BELAJAR SOSIOLOGI MENINGKAT
KONDISI
AKHIR
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian teoritik di atas maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut : Jika diterapkan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation, maka hasil belajar sosiologi pokok bahasan kebudayaan pada siswa kelas X SMA Muhammadiyah lempangang dapat meningkat.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan kajian utama untuk mengetahui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dalam meningkatkan pemahaman, aktivitas dan hasil belajar siswa dalam memahami kebudayaan.
B. Lokasi dan Subjek Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah SMA Muhammadiyah lempangang.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas X sebanyak 20 siswa, dengan 10 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan.
C. Rencana Tindakan
Penelitian ini bersifat kajian tindakan kelas, rencana tindakan berupa intervensi kegiatan belajar mengajar di kelas dengan desain materi dan tugas tersendiri dalam bentuk LKS yang mengacu kepada pembelajaran dengan menggunakan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dalam meningkatkan pemahaman, aktivitas dan hasil belajar sosiologi pada siswa kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang. Untuk maksud tersebut tindakan akan dilaksanakan selama delapan kali pertemuan (
36
sesuai dengan banyaknya alokasi waktu). Setiap pertemuan menggunakan waktu 2 x 45 menit.
Penelitian direncanakan selama dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan sesuai rancangan siklus yang ingin dicapai. Kedua siklus merupakan rangkaian kegiatan yang saling berkaitan artinya pelaksanaan siklus II merupakan kelanjutan dan perbaikan dari siklus I, setiap siklus dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan.
Dengan berdasarkan rencana pembelajaran di atas, maka dilaksanakan penelitian tindakan kelas dengan prosedur: (1) perencanaan, (2) tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi.
Untuk lebih jelasnya, secara skematif keterkaitan antara tiap komponen dan komponen lainnya dalam satu siklus dan siklus lainnya dalam penelitian dapat digambarkan sebagai berikut:
Siklus I
Siklus: II
Siklus Berikutnya
Pemahaman Alternatif Pemecahan
(Rencana Tindakan)
Pelaksanaan Tindakan I
Observasi I Analisis Data I
Refleksi I
Alternatif Pemecahan
(Rencana Tindakan)
Pelaksanaan Tindakan II Tindakan II Belum
Terselesaikan
Obserpasi: II Analisis
Data:II Refleksi: II
TERSELESAIKAN
BELUM TERSELESAIKAN
Siklus I
1) Tahap Persiapan Tindakan
Sebelum melakukan tindakan dalam penelitian ini, terlebih dahulu diadakan persiapan antara lain, sebagai berikut.
1) Menganalisis materi pelajaran yang akan diajarkan dalam pelaksanaan tindakan.
2) Mempelajari bahan yang diajarkan dari berbagai sumber
3) Membuat rencana pembelajaran, buku siswa dan Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif
4) Membuat instrumen dan alat observasi selama pembelajaran.
5) Merumuskan rencana Pembalajaran yang berisi langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan model pembelejaran kooperatif untuk tindakan pada Siklus I.
2. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan setiap siklus dalam penelitian ini, mengikuti langkah-langkah / skenario sebagai berikut :
Siklus I : - Melaksanakan tindakan berdasarkan rencana pembelajaran yang telah disiapkan.
- Memantau dan mengobservasi tindakan yang dilaksanakan dengan menggunakan lembar observasi atau pengamatan
- Mengevaluasi hasil pemantauan - Mengadakan refleksi I
Siklus II : - Memperbaiki / merencanakan tindakan baru II berdasarkan refleksi I
- Melaksanakan tindakan perbaikan II
- Memantau dan mengobservasi tindakan yang dilaksanakan - Mengadakan refleksi II
Pelaporan :
- Menganalisis hasil penelitian dari setiap siklus.
- Menyusun laporan hasil penelitian, implementasi dan tindak lanjut jika diperlukan.
3) Tahap Pelaksanaan Pengamatan
Pelaksanaan pengamatan akan dilakukan selama proses tindakan diberikan, dalam pelaksanaan penelitian akan mengamati aktivitas siswa dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa.
4) Tahap Analisis Data
Analisis akan dilakukan setiap akhir pembelajaran berdasarkan hasil yang diperoleh selama pengamatan. Berdasarkan hasil pengamatan dan perumusan analisis perbaikan akan dianalisis untuk refleksi perbaikan tindakan berikutnya.
D. Cara Pengumpulan Data a. Sumber Data
Data dalam penelitian ini diperoleh dari siswa yang menjadi subjek penelitian, yaitu siswa Kelas X SMA Muhammadiyah lempangang.
b. Jenis Data i. Data kualitatif ii. Data kuantitatif c. Cara Pengambilan Data
i. Data mengenai keaktifan siswa yang dibedakan menjadi tiga yaitu keaktifan fisik, mental, dan sosial yang dikumpulkan melalui pengamatan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan lembar observasi dianalisis secara kualitatif.
ii. Data tentang refleksi siswa diambil dari tanggapan/komentar siswa secara tertulis dianalisis secara kualitatif.
iii. Data hasil belajar diperoleh dengan memberikan tes akhir kepada siswa setiap akhir siklus dianalisis secara kuantitatif.
E. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul selanjutnya dianalisis dengan menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Untuk analisis kualitatif diperoleh dari lembar observasi yang digunakan dalam penelitian yaitu lembar observasi keaktifan siswa sedangkan analisis kuantitatif digunakan statistik deskriptif untuk melihat skor rata-rata persentase dan ketuntasan hasil belajar siswa.
X =∑ 100%
Keterangan : X : Skor rata-rata
∑x : Jumlah semua skor
N : Banyaknya frekuensi sample
Data hasil belajar yang diperoleh dikategorikan berdasarkan teknik kategorisasi standar yang ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
(Purwanto: 2004) yaitu:
Tabel 3.1. Teknik Kategorisasi Standar Berdasarkan Ketetapan Departemen Pendidikan Nasional.
SKOR KATEGORI
0 – 39 40 - 59 60 - 69 70 - 89
90 – 100
Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi
Sangat Tinggi
F. Indikator Keberhasilan
Yang menjadi indikator keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah keaktifan dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal sosiologi dalam upaya untuk meningkatkan hasil belajar sosiologi setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif
Adapun keperluan analisis kuantitatif akan digunakan kategori ketuntasan hasil belajar siswa dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu:
1. Seorang siswa disebut telah tuntas hasil belajarnya bila ia telah mencapai skor 70.
2. Suatu kelas disebut telah tuntas belajar bila di kelas tersebut telah terdapat 85% yang telah mencapai tuntas perorangan nilai hasil belajar 70.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilihat dari hasil analisis kuantitatif dan analisis kualitatif.
Hasil belajar siswa pada siklus I dan siklus II dianalisis secara kuantitatif dengan statistik non-parametrik yaitu uji normalitas data dengan uji Kolmogorov-Sminorv dan uji hipotesis dengan uji T satu kelompok. Hasil analisis kualitatif adalah rumusan penelitian dan bentuk observasi yang didasarkan pada data yang diperoleh dari hasil pengamatan selama kegiatan pembelajaran berlangsung seperti keaktifan siswa dalam proses belajar, sikap, dan aktifitas lainnya yang
dianggap penting.
1. Paparan Data Siklus 1
Siklus 1 Dilaksanakan selama empat kali pertemuan yaitu 8 x 45 menit.
Secara rinci prosedur pelaksanaan tindakan pada siklus ini dapat dijabarkan
sebagai berikut:
a. Tahap Perencanaan
Adapun tahap perencanaan pada siklus 1 adalah:
1. Mengembangkan silabus yang sesuai dengan materi pelajaran yang akan diajarkan.
2. Menyusun dan mengembangkan rencana pembelajaran.
44
3. Membuat instrument pedoman observasi untuk mengamati kondisi pembelajaran di kelas pada saat proses pembelajaran berlangsung
4. Membuat instrument tes akhir siklus I untuk mengetahui hasil perkembangan siswa setelah menggunakan model pembelajaran
Cooperative tipe Group Investigation (GI).
b. Tahap Pelaksanaan Tindakan
Hasil observasi proses pembelajaran siswa SMA Muhammadiyah lempangang panciro secara rinci dapat dilihat pada lampiran II. Berikut dipaparkan hasil obesrvasi proses pembelajaran siswa di setiap pertemuan pada siklus I
Pertemuan I
Pada awal pembelajaran, peneliti melakukan kegiatan perkenalan agar siswa tidak bingung dengan kehadiran peneliti. Peneliti memberikan apersepsi, motivasi; menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, dan juga mengecek kesiapan siswa dalam menerima pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan pertanyaan ringan seputar materi yang telah dipelajari. Pada kegiatan ini, terlihat masih banyak siswa yang belum benar-benar siap menerima pelajaran. 10 orang diantaranya masih sibuk menyiapkan alat tulis dan tidak memperhatikan apersepsi, dan sebagian yang lain belum dapat merespon pertanyaan peneliti dengan baik.