BAB 1 PENDAHULUAN
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
a. Sebagai informasi mengenai penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dalam meningkatkan hasil belajar sosiologi siswa kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang menambah wawasan bagi guru sebagai bahan alternatif pembelajaran untuk meningkatkan nilai dan potensi belajar siswa dalam pelajaran sosiologi.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi sekolah; dengan penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi sekolah dalam rangka perbaikan teknik pembelajaran yang bervariasi.
b. Bagi guru; meningkatkan profesionalisme seorang guru seperti kemampuan menyajikan dan mengembangkan materi khususnya dalam pembelajaran sosiologi.
c. Bagi siswa; dapat merangsang kemampuan berpikir siswa dalam memecahkan masalah, menambah rasa percaya diri siswa, pemahaman yang lebih mendasar dan hasil belajar yang lebih tinsggi.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka 1. Pengertian Belajar
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Sekarang timbul pertanyaan apakah belajar itu sebenarnya? Samakah belajar dengan latihan, dengan menghafal, dengan pengumpulan fakta dan studi? Tentu saja terhadap pertanyaan tersebut banyak pendapat yang mungkin satu sama lain berbeda.
Ada beberapa terminologi terkait dengan belajar yang sering kali menimbulkan keraguan dalam menggunakannya terutama dikalangan siswa, atau mahasiswa yakni terminologi tentang mengajar, pembelajaran, dan belajar. Oleh karena itu untuk mendalami hakekat belajar pada bagian ini ada baiknya terlebih dahulu kita bahas secara singkat beberapa istilah ini.
Meskipun belajar, mengajar keduanya bermuara pada tujuan yang sama.
Mengajar diartikan sebagai suatu keadaan atau suatu aktivitas untuk menciptakan suatu situasi yang mampu mendorong siswa untuk belajar.
Pengertian belajar dapat kita temukan dalam berbagai sumber atau literatur.
Meskipun kita melihat ada perbedaan-perbedaan di dalam rumusan pengertian 9
belajar tesebut dari masing-masing ahli, namun secara prinsip kita menemukan persamaannya. Di antara pengertian belajar yang dirumuskan oleh para ahli sebagai berikut:
Burton, dalam sebuah buku “The Guidance Of Learning Avtivities”, (Aunurrahman, 2009: 35). merumuskan pengertian belajar sebagai berikut.
“Belajar adalah sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mampu berinteraksi dengan lingkungannya”.
Dalam bukunya Education Psyhology, H. C. Witherington, (Aunurrahman, 2009: 35). mengemukakan bahwa “Belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian dan menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepribadian atau suatu pengertian”.
Dalam sebuah situs tentang pengertian belajar yang bersumber dari para ahli pendidikan/pembelajaran. James O. Whittaker mengemukakan bahwa :“Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman”. sedangkan menurut Abdillah (Aunurrahman, 2009: 35) bahwa pengertian belajar adalah :“Belajar adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Ada beberapa pandangan tentang belajar diantaranya menurut Slameto (2003: 2) berpendapat bahwa :“Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Dengan melihat beberapa definisi di atas maka yang menjadi kesimpulan bahwa belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu. Lebih lanjut bahwa Soetomo dalam Aunurrahman mengemukakan bahwa belajar adalah : “Belajar adalah suatu proses yang menyebabkan perubahan tingkah laku yang bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisik, tetapi perubahan dalam kebiasaan, kecakapan, bertambah, berkembang daya pikir, sikap dan lain-lain”.
Selanjutnya arti belajar menurut Suparno (dalam Slameto,2003: 61) bahwa: “Belajar merupakan proses aktif, belajar mengkonstruksi arti entah teks, dialog, pengalaman fisik, dan lain-lain. Belajar juga merupakan proses mengasimilasikan dan menghubungkan pengalaman atau bahan yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dipunyai seseorang sehingga pengertiannya dikembangkan”.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang baru secara kesulurahan, sebagai akibat
dari pengalaman dan latihan, dengan perubahan-perubahan yang dihasilkan bersifat relatif. Belajar yang efektif dapat membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujuan instruksional yang ingin dicapai. Untuk meningkatkan hasil belajar yang baik perlu diperhatiakan kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal adalah kondisi atau situasi yang ada dalam diri siswa, seperti kesehatan, keterampilan, kemampuan dan sebagainya. Kondisi eksternal adalah kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia, misalnya ruang belajar yang bersih, sarana dan prasarana belajar yang memadai.
2. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan suatau istilah yang digunakan untuk menunjukkan suatu keberhasilan yang dicapai sesorang setelah melakukan usaha, bila dikaitkan dengan belajar berarti hasil yang menunjukan suatu keberhasilan yang dicapai oleh seseorang yang belajar dalam silang waktu tertentu.
Menurut Dimyati (2003: 6) bahwa “hasil belajar merupakan hal yang dapat dipandang dari luar yaitu sisi siswa dan sisi guru. Sejalan dengan itu Suprijono (2009: 5) mengemukakan bahwa “hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap apresiasi dan keterampilan.
Salah satu hasil belajar adalah penguasaan bahan pelajaran atau biasa disebut prestasi. Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerja,
diciptakan baik secara individu, berpasangan, maupun kelompok. Banyak kegiatan yang biasa dijadikan sebagai sasaran untuk mendapatkan suatu prestasi.
Berdasarkan dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar dapat dinyatakan sebagai tingkat penguasaan bahan pelajaran setelah mendapatkan pengalaman belajar kurun waktu tertentu yang diukur dengan menggunakan tes tertentu
3. Pengertian Sosiologi
Untuk memahami pengertian sosiologi kiranya perlu dikemukakan pengertian sosiologi. sosiologi secara etimologi, sosiologi berasal dari bahasa latin: socius dan logos. Socius artinya teman, perikatan; dan logos artinya ilmu. jadi, secara etimologi sosiologi berarti ilmu berteman, sedangkan pengertian sosiologi terminologi adalah adalah ilmu yang mempelajari interaksi (hubungan timbal-balik) antara seorang individu yang satu dengan yang lain, baik seorang sebagai pribadi (individu) maupun sebagai anggota kelompok orang (masyarakat).
Sukar untuk merumuskan suatu definisi (batasan makna) yang dapat mengemukakan keseluruhan pengertian, sifat dan hakekat yang dimaksud dalam beberapa kata dan kalimat. Oleh sebab itu, suatu definisi hanya dapat dipakai sebagai suatu pegangan sementara saja. Untuk patokan sementara,
beberapa definisi sosiologi yang dikemukakan oleh beberapa ahli, Soekanto (2007: 17) sebagai berikut :
a. Auguste Comte, mengemukakan pengertian sosiologi : “soiologi merupakan ilmu positif tentang masyarakat, artinya sosiologi merupakan suatu studi ilmiah tentang masyarakat”.
b. Emile Durkheim, mengemukakan pengertian sosiologi adalah sebagai berikut. “sosiologi merupakan ilmu-ilmu yang mempelajari lembaga-lembaga dalam masyarakat dan proses proses sosial”.
c. Pitirin A.Sorokin, menjelaskan tentang pengertian sosiologi: Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal berikut:
1) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala-gejala sosial, misalnya antara ekonomi dan agama serta keluarga dan moral.
2) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dan gejala-gejala nonsosial. Misalnya, antara gejala sosial dan biologis atau geografis.
3) Ciri-ciri umum dari semua jenis gejala-gejala sosial.
d. J. A. A Van Doorn dan C. j. Lammers berpendapat tentang pengertian sosiologi : “sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses- proses kemasyarakatan yang bersifat stabil”. Sedangkan e. Selo Soemarjan dan Soelaeman soemardi: menjelaskan tentang pengertian
sosiologi adalah : “sosiologi atau ilmu masyarakat ialah ilmu yang
mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial”.
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang interaksi sosial, srtuktur-struktur sosial dan kemasyarakatan
4. Peningkatan Hasil Belajar sosiologi
Sosiologi merupakan ilmu yang berkembang sejalan dengan perkembangan masyarakat yang menjadi objek kajiannya. Sebagaimana dikemukakan oleh Hotman M. Siahaan (dalam J. Murdiyatmoko, 2007: 14) bahwa sosiologi merupakan refleksi dari keadaan masyarakat yang sedang berubah dan teori-teori yang dihasilkannya merupakan hasil dari keadaan masyarakat itu sendiri. Sosiologi pada dasarnya mempunyai dua pengertian dasar yaitu sebagai ilmu dan sebagai metode. Sebagai ilmu, Sosiologi merupakan kumpulan pengetahuan tentang masyarakat dan kebudayaan yang disusun secara Sosiologi sistematis berdasarkan analisis berpikir logis.
Sebagai metode, Sosiologi adalah cara berpikir untuk mengungkapkan realitas sosial dan budaya yang ada dalam masyarakat dengan prosedur dan teori yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
Pengajaran Sosiologi di Sekolah Menengah berfungsi untuk meningkatkan kemampuan siswa mengaktualisasikan potensi diri mereka dalam mengambil dan mengungkapkan status dan peran masing-masing dalam kehidupan sosial dan budaya yang terus mengalami perubahan dan Tujuan
pengajaran sosiologi di Sekolah Menengah pada dasarnya mencakup dua sasaran yang bersifat kognitif dan bersifat praktis. Secara kognitif pengajaran Sosiologi dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dasar Sosiologi agar siswa mampu memahami dan menelaah secara rasional komponen-komponen dari individu, kebudayaan dan masyarakat sebagai suatu sistem. Sementara itu sasaran yang bersifat praktis dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan sikap dan perilaku siswa yang rasional dan kritis dalam menghadapi kemajemukan masyarakat, kebudayaan, situasi sosial serta berbagai masalah sosial yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Ruang lingkup mata pelajaran sosiologi adalah sebagai berikut:
1. Sosiologi sebagai ilmu dan metode 2. Interaksi sosial
3. Sosialisasi 4. Struktur sosial 5. Kebudayaan
6. Perubahan sosial budaya
5. Cooperative Learning Tipe Group Investigation (GI)
Metode Group Investigation (GI) dikembangkan oleh Sharan & Sharan pada tahun 1976 memberikan kebebasan pada siswa untuk menentukan topik apa yang akan mereka pelajari dan investigasi (Huda, 2011: 123). Menurut Ramadhan, Noviana, dan Witri (2012) Group Investigation (GI) merupakan pembelajaran kooperatif yang melibatkan kelompok kecil dimana siswa bekerja menggunakan inkuiri kooperatif, perencanaan, proyek, dan diskusi kelompok dan kemudian mempersentasekan hasilnya di depan kelas.
Sharan dan Sharan (1989: 17) mengemukakan bahwa Group Investigation merupakan media efektif untuk mendorong dan membimbing siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Dalam metode ini, siswa dapat berkomunikasi dan bekerjasama untuk merencanakan dan melaksanakan suatu topik tertentu dalam pembelajaran, dengan demikian diharapkan mereka memperoleh hasil belajar yang lebih baik dari belajar secara individual (Sharan dan Sharan, 1989: 17)
Menurut Wena (2008) dalam Radiyanti, dkk. (2012) model pembelajaran kooperatif tipe group investigation adalah model pembelajaran kooperatif yang pembentukan kelompoknya didasari atas minat anggotanya. Slavin (2005) dalam Rahmawati (2012) mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah perencanaan kooperatif siswa atas apa yang dituntut dari mereka; sedangkan Putra (1992) dalam Rahmawati (2012) menyatakan bahwa sifat demokrasi dalam kooperatif tipe GI ditandai dengan oleh keputusan-keputusan yang dikembangkan atau setidaknya diperkuat oleh pengalaman kelompok dalam konteks masalah yang menjadi titik sentral kegiatan belajar.
Dari berbagai pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation siswa dibebaskan dalam memilih topik dan mengerjakannya dalam kelompok yang disepakati bersama.
Model ini menekankan pemberian control dan pilihan kepada siswa daripada menerapkan teknik pelajaran tertentu di kelas
Model pembelajaran kooperatif tipe GI memadukan model pembelajaran kooperatif dengan prinsip-prinsip konstruktivisme dan pembelajaran demokratif,
sehingga terbilang sebagai sebuah model pembelajaran yang kompleks (Isjoni dalam Radiyanti, dkk., 2012). Tujuan yang paling penting dari pembelajaran kooperatif tipe group investigation menurut Radiyanti, dkk. (2012) adalah untuk memberikan para siswa pengetahuan, konsep, kemampuan, dan pemahaman yang mereka butuhkan supaya bisa menjadi masyarakat yang bahagia dan memberikan kontribusi. Rahmawati (2012) menyatakan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat meningkatkan keaktifan siswa.
Dalam model GI, siswa dikelompokkan dalam kelompok – kelompok kecil, lalu diberi tugas atau proyek yang berbeda. Dalam kelompok setiap anggota berdiskusi bagaimana mengumpulkan, mengelola, meneliti, dan menyajikan hasil diskusi di depan kelas. Setiap anggota harus memiliki andil dalam kegiatan kelompok, dari awal hingga akhir, sehingga selama proses investigasi atau penelitian dilakukan, semua anggota kelompok terlibat dalam aktifitas berfikir tingkat tinggi seperti membuat sintesis, ringkasan, hipotesis, kesimpulan, dan menyajikan laporan akhir (Huda, 2011: 124)
Menurut Isjoni (2011) dalam Radiyanti, dkk. (2012) pada model pembelajaran kooperatif tipe group investigation siswa dibagi kedalam kelompok yang beranggotakan 4-5 orang. Kelompok yang dibentuk berdasarkan perkawanan atau keterikatan akan materi tanpa melanggar ciri-ciri pembelajaran kooperatif.
Terdapat enam tahapan yang menuntut keterlibatan anggota tim menurut Wena (2008) dalam Radiyanti, dkk. (2012) yaitu identifikasi topik, perencanaan tugas belajar, persiapan laporan akhir, presentase penelitian dan evaluasi.
Sharan dan Sharan (1989) mengemukakan 6 tahapan yang dilakukan pada implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Group Investigation yaitu:
Tahap I: Identifying the topik to be investigated and organizing
students into research groups
Pada tahapan ini, guru dan siswa sama-sama menentukan topik-topik yang kan diinvestigasi dan membentuk kelompok - kelompok kecil. Langkah-langkah yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut:
(1) Menentukan topik pembahasan.
(2) Setiap siswa mengajukan pertanyaan tentang materi yang akan dibahas dan guru menuliskan pertanyaan di papan tulis; atau siswa dapat dikelompokkan dalam grup-grup yang beranggotakan 4-5 orang untuk mendiskusikan apa yang ingin mereka ketahui dari bahasan yang telah ditentukan.
(3) Guru memberikan saran tentang apa yang seharusnya dibahas untuk topik yang dipilih.
(4) Mengklasifikasikan pertanyaan dari semua siswa kedalam beberapa kategori, dimana kategori yang dipilih adalah subtopik untuk membentuk kelompok-kelompok investigasi.
(5) Judul-judul subtopik dipresentasikan di depan kelas, siswa lalu membentuk kelompok subtopik yang diinginkan. Pada tahap ini, guru dapat memberi batasan jumlah anggota untuk setiap kelompok.
Tahap II: Planning the investigation in group
Pada tahap ini, siswa merencanakan hal-hal yang harus mereka investigasi.
Pada tahapan ini, masing-masing anggota kelompok menentukan peran meraka dalam kelompok dan waktu yang digunakan untuk mengerjakan proyek mereka.
Setiap kelompok harus menginvestigasi sub-topik yang telah mereka pilih dengan membuat pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan. Sebagai contoh, jika sebuah kelompok beranggotakan 4 orang, pertanyaan yang muncul mungkin sebanyak 4 buah, anggota kelompok akan berdiskusi untuk menentukan siapa yang akan bertanggung jawab mencari jawaban untuk masing-masing pertanyaan.
Tahap III: Carrying out the investigation
Pada tahapan ini, kelompok-kelompok mulai melakukan investigasi terhadap materi yang mereka pilih. Masing-masing anggota bertanggung jawab terhadap bahasannya dan mencari sumber informasi sebanyak mungkin tentang hal tersebut untuk menjawab (solving) pertanyaan yang telah ditentukan sebelumnya.
Tahap IV: Preparing the final report
Pada tahapan ini, kelompok-kelompok mendiskusikan hasil investigasi yang diperoleh. Masing-masing anggota menjabarkan hal-hal yang mereka temukan dan bersama-sama membuat kesimpulan. Setiap orang dapat mengemukakan hal-hal yang tidak dipahami untuk didiskusikan dan dipecahkan
bersama. Notulen dalam kelompok dapat membuat suatu laporan akhir berupa makalah atau esai tentang bahasan mereka.
Tahap V: Presenting the final report
Hasil investigasi yang diperoleh oleh setiap kelompok dipresentasikan didepan kelas, dalam hal ini, guru dapat mengarahkan presentasi sehingga setiap kelompok dapat membagikan informasi yang mereka dapatkan kepada seluruh kelas. Jika kelompok penyaji menyampaikan hasil diskusinya, kelompok lain yang bertindak sebagai audience, dapat mengajukan saran, masukan, dan pertanyaan kepada kelompok penyaji. Diakhir diskusi, salah satu siswa dapat mengungkapkan kesimpulan umum untuk semua kelompok.
Tahap VI: Evaluation
Dalam tahap assesmen, guru mengevaluasi tingkat kemampuan berfikir siswa pada topik yang sedang dibahas. Fokus penilaian ditujukan pada kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan pada masalah baru, penggunaan kesimpulan dan penggambaran kesimpulan. Guru juga menilai proses investigasi yang dilakukan siswa sebagai penilaian afektif dan psikomotorik.
Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe group investigation menurut Riyanto (2009: 272) adalah sebagai berikut:
(1) Kemukakan masalah/pertanyaan berdasarkan dari hasil pengamatan
(2) Kegiatan kelompok kooperatif untuk menjawab masalah (pengamatan lebih lanjut atau eksperimen)
(3) Melaporkan hasil kegiatan kelompok berupa produk atau presentasi Penghargaan kelompok
6. Kebudayaan
a. Pengertian kebudayaan
Budaya adalah hasil karya, cipta dan karsa manusia. Kebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta buddhayah yang merupakan bentuk jamak kata “buddhi” yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budi atau akal”. Adapun istilah cultere yang meruapakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan berasal dari kata latin colere, artinya mengolah dan mengerjakan.
Seorang antropolog lain yaitu E.B. Tylor (dalam soekanto,2007: 150) memberikan defenisi mengenai kebudayaan yaitu: “ kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Selo Soemardjan dan soelaeman soemardi (dalam soekanto,2007: 151) merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat.
b. Fungsi kebudayaan bagi masyarakat
Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia dan masyarakat. Bermacam kekuatan yang harus dihadapi manusia masyarakat dan anggota-anggotannya seperti kekuatan alam, maupun kekuatan-kekuatan lainnya di dalam masyarakat itu sendiri tidak selalu baik baginya. Selain iti manusia dan masyarakat memerlukan pula kepuasan, baik di bidang spiritual maupun materiil.
c. Unsur-unsur normative yang merupakan bagian dari kebudayaan yaitu:
(1) Unsur-unsurs yang menyangkut penilaian (valuational elements) miasalnya apa yang baik dan buruk, apa yang menyenangkan dan tidak menyenangkan apa yang sesuai dengan keinginan dan apa yang tidak sesuai dengan keinginan.
(2) Unsur-unsur yang berhubungan dengan apa yang seharusnya (precritipe elements) seperti bagaimana orang harus berlaku.
(3) Unsur yang menyangkut kepercayaan (cognitive elements) seperti miasalnya harus mengadakan upacara adat padasaat kelahiran, pertunangan, perkawinan, dll
d. Sifat hakekat kebudayaan
Sifat hakekat kebudayaan adalah sebagai berikut:
(1) Kebudayaan terwujud dan tersalurkan lewat perilaku manusia (2) Kebudayaan telah ada terlebih dahulu mendahului lahirnya suatu
generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan
(3) Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan diwujudkan tingkah lakunya
(4) Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan yang diterima dan ditolak, tindakan-tindakan yang dilarang dan tindakan-tindakan –tindakan-tindakan yang diizinkan.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah pergerakan yang terjadi dalam kebiasaan dalam masyarakat seperti yang disebutkan dalam unsur-unsur kebudayaan berikut:
a. Peralatan dan perlengkapan hidup b. Mata pencaharian hidup dan ekonomi c. Sistim kamasyarakatan
d. Bahasa e. Kesenian
f. Sistem pengetahuan
Pengertian kebudayaan menurut parah ahli 1. Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
2. Arkeolog R. Seokmono
Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.
3.Effat al-Syarqaw
Yang mengartikan kebudayaan sebagai khazanah sejarah suatu bangsa/masyarakat yang tercermin dalam pengakuan/kesaksiannya dan nilai-nilainya, yaitu kesaksian dan nilai-nilai yang menggariskan bagi kehidupan suatu tujuan ideal dan makna rohaniah yang dalam, bebas dari kontradiksi ruang dan waktu.
4.Parsudi Suparlan
Kebudayaan didefinisikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan dan pengalamanya, serta menjadi landasan bagi tingkah-lakunya, budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia.
Depenisi Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.
Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif.
Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya:
Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti
"individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang
"individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan alam" di Jepang