• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pembahasan

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh SAINAL (Halaman 74-0)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Pembahasan

Penelitian yang berjudul “Peningkatan Hasil Belajar Sosiologi Pokok Bahasanl Kebudayaan (Nomadisme pastoralis) melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Pada Siswa Kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang Panciro Kabupaten Gowa ” ini memiliki fokus utama untuk melihat apakah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat meningkatakan hasil belajar siswa kelas X SMA Muhammadiyah Lempangang Panciro pada materi Pokok kebudayaan

Aktifitas belajar siswa SMA Muhammadiyah Lempangang Panciro selama siklus I berdasarkan hasil obsevasi siswa cenderung rendah. Jumlah siswa yang hadir rata-rata pada siklus I hanya 90%. Pada setiap pertemuan, ada saja siswa yang tidak hadir dengan berbagai alasan. Kesiapan siswa untuk memulai pelajaran juga rendah. Hal ini dapat diamati pada saat pemberian apersepsi, hampir sebagian besar siswa tidak memperhatikan apersepsi. Mereka baru menyiapkan alat tulis dan sebagian lagi masih membahas hal-hal lain dengan teman sebangkunya.

Mereka juga tidak merespon pertanyaan-pertanyaan peneliti dengan baik.

Keadaan diatas menunjukkan betapa minat belajar siswa khususnya pada mata pelajaran sosiologi begitu rendah. Hal ini disebabkan karena metode mengajar guru yang sangat monoton dan konvensional. Selama ini, proses pembelajaran berlangsung satu arah atau berpusat pada guru. Siswa hanya mencatat apa yang diberikan guru tanpa diberi kesempatan bertanya atau mengemukakan pendapat. Akibatnya, siswa merasa bosan dan menganggap mata pelajaran sosiologi tidak penting dan tidak perlu diperhatikan.

Selama proses pembelajaran, banyak siswa yang tidak memperhatikan materi yang disampaikan dan melakukan aktifitas negatif, hal ini lagi-lagi menunjukkan betapa rendahnya minat siswa terhadap pembelajaran sosiologi.

Selain minat belajar siswa yang rendah, partisipasi siswa secara umum juga masih rendah. Saat diberikan kesempatan bertanya hanya satu atau dua orang siswa yang mengacungkan tangan dan mengejukan pertanyaan. Begitu pula saat dilakukan diskusi kelompok, diskusi berlangsung kaku karena sebagian besar siswa hanya pasif dan menunggu. Siswa yang bertanya atau menjawab dalam diskusi kelompok itu-itu saja, sementara yang lain terlihat enggan untuk berpartisipasi.

Keadaan ini, disebabkan karena selama ini siswa terbiasa disuapi dengan berbagai materi pelajaran oleh guru. Siswa tidak terbiasa untuk berdiskusi sehingga saat diminta berdiskusi siswa menjadi gagu dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Selain itu, siswa belum berani mengemukakan pendapat karena takut salah dan ditertawai temannya.

Secara umum, hasil yang didapatkan pada siklus I masih rendah, namun bukan berarti bahwa penerapan pembelajaran Kooperatif tipe Group Invetiigation tidak faedahnya. Hasil dari pembelajaran Kooperatif memang tidak dapat dilihat langsung karena siswa tidak dapat serta-merta menerima dan langsung dapat menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran yang diterapkan. Apalagi, metode pembelajaran konvensional telah diterapakan pada siswa untuk waktu yang lama.

Meskipun belum memberikan hasil yang maksimal, penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation telah dapat memaksa siswa untuk berlatih mengemukakan pendapat didepan umum. Hal ini juga merupakan kemajuan mengingat sebelum diterapkannya model pembelajaran ini, siswa belum terbiasa untuk berbicara secara formal didepan forum seperti kelas.

Pada siklus II, minat dan kesiapan siswa terhadap pembelajaran sosiologi cenderung lebih baik jika ibandingkan dengan minat belajar siswa pada siklus I.

Kehadiran siswa meningkat sebanyak 5% dan jumlah siswa yang tidak memperhatikan apersepsi menurun sebanyak 25% dibandingkan dengan dengan siklus I. Antusiasme siswa dalam menerima pelajaran meningkat secara signifikan. Jumlah siswa yang tidak memperhatikan penjelasan materi oleh peneliti dan jumlah siswa yang tidak aktif dalam diskusi kelompoknya masing-masing merurun 5% dibandingkan hasil observasi pada siklus I.

Hasil diatas menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation mulai menunjukkan hasil postif. Minat siswa untuk belajar perlahan ditumbuhkan dengan model pembelajaran yang menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan dan apresiatif terhadap kemampuan siswa. Pada siklus II ini, para siswa menyimak apersepsi dan motivasi yang disampaikan dengan antusias, menunjukkan kesiapan yang tinggi untuk menerima pelajaran.

Sementara itu, keaktifan siswa dalam diskusi rata-rata meningkat antara 5-15% dari setiap aspek yang diamati, jumlah siswa pasif menurun 30%

dibandingkan hasil dari siklus I. Hal ini menunjukkan, bahwa partisipasi siswa

dalam pembelajaran cenderung meningkat dibandingkan pada pertisipasi siswa pada siklus I.

Kondisi pembelajaran yang dibuat menyenangkan dapat memacu minat dan kemauan siswa untuk belajar karena siswa mulai dirangsang untuk merasa bahwa belajar itu mudah. Metode pembelajaran yang interaktif dapat memicu siswa untuk menunjukkan dirinya mampu dan diakui oleh rekan-rekannya sehingga ia akan lebih terpacu untuk belajar dan berpartisipasi lebih banyak pada kegiatan pebelajaran. Jika suasana pembelajaran lebih kondisif, akan menarik minat siswa belajar dan meningkatkan rasa ingin tahu siswa pada materi yang dipelajari. Semakin banyak siswa mengetahui sesuatu, maka semakin tinggi minatnya untuk lebih memperdalam pengetahuan yang dimilikinya. Dengan melihat hasil pada siklus I dan II diatas, maka dapat disimpulklan bahwa penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa dan menciptakan suasana kelas yang lebih kondusif untuk pembelajaran

Kemampuan kognitif siswa pada siklus I cenderung rendah. Jumlah siswa yang termasuk kategori “rendah” memilki persentase yang lebih besar dibanding kategori “sedang”, “tinggi”, dan “sangat tinggi”. Kategori “sangat rendah”

memiliki persentase terendah namun sangat mempengaruhi persentase ketuntasan.

Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan karena ketidak-siapan siswa dengan perubahan model pembelajaran, dan siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran yang baru.

Rata-rata nilai siswa pada siklus I hanya 63.86 dengan persentasse ketuntasan 40%. Hasil ini sangat jauh dari KKM, yang menandakan bahwa pembelajaran sosiologi dengan penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation masih jauh dari hasil yang diharapkan. Beberapa factor yang menyebabkan hal ini adalah:

a. Kondisi belajar pada siklus I masih belum begitu kondisif, masih banyak siswa yang membuat kegaduhan dalam kelas sehingga mengganggu konsentrasi siswa lain.

b. Antusiasme siswa dalam menerima pelajaran masih rendah

c. Siswa masih belum dapat menyesuaikan diri dengan iklim pembelajaran yang diterapkan

d. Sumber informasi yang digunakan siswa masih rendah, masih terbatas pada buku-buku paket semata.

e. Kehadiran siswa dikelas

f. Factor-faktor ekstenal yang juga dapat memengaruhi hasil belajar siswa (kondisi kesehatan siswa, lingkungan sekitar rumah siswa, dll)

Standar deviasi data hasil tes siklus I siswa sangat tinggi yang menunjukkan besarnya perbedaan kemampuan belajar antar siswa. Nilai terendah yang diperoleh dari siklus I adalah 28.57, sangat jauh dari skor tertinggi 97.14. hal ini dikarenakan kelompok-kelompok diskusi yang telah dibentuk pada siklus I tidak berfungsi maksimal. Pada saat pelaksanaan diskusi kelompok di siklus I sebagian besar anggota kelompok pasif dan tidak mengerjakan tugas yang diberikan. Hanya 1 atau dua orang anggota yang aktif menggali informasi dan

menginvestigasi tugasnya, sementara yang lain hanya menunggu hasil bersih.

Akibatnya, mereka yang kurang berpartisipasi menjadi ketinggalan informasi dan sangat sedikit memahami materi yang dipelajari.

Pada siklus II, hasil belajar siswa pada siklus II lebih baik siklus I.

Rentang antara nilai tertinggi dan terendah hanya sebesar 46.14 poin, lebih rendah dibandingkan rentang pada siklus I yang mencapai 68.57 poin. Persentase ketuntasan mencapai 80%, dengan kata lain meningkat dua kali lipat dibandingkan persentase ketuntasan pada siklus I. Persentase kategori hasil belajar

“sangat rendah” dan “rendah” juga cenderung menurun jika dibandingkan pada siklus I.

Fakta diatas menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation mulai memberikan peningkatan yang cukup signifikan.

Dengan kata lain, siswa telah mulai terbiasa dengan iklim pembelajaran yang diterapkan, dan model pembelajaran telah mulai diterima oleh siswa. Hasil ini sungguh meneggembirakan, mengingat pada siklus I hasil belajar siswa boleh dikatakan sangat rendah.

Ditinjau dari rata-rata kelas dan standar deviasi, pembelajaran sosiologi pada siklus II dapat dikatakan berhasil karena rata-rata kelas telah melampaui KKM. Standar deviasi pada siklus II lebih rendah, menunjukkan bahwa rata-rata perbedaan kemampuan akademik antar siswa menjadi lebih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa efektifitas kelompok diskusi mulai terlihat dan memberikan hasil baik yang signifikan.

Penilaian afektif siswa selama siklus I mencakup penilaian pada 6 item, yaitu antusiasme selama pembelajaran, kemampuan bertanya, kemampuan mengemukakan pendapat, kemampuan berdiskusi sesuai protokol, kemampuan menyimpulkan, dan kemampuan bekerjasama. Pemberian skor dilakukan dengan cara memberikan skor dengan rentang 1 sampai 5 sesuai dengan sikap yang diamati. 1 berarti sangat buruk, 2 berarti buruk, 3 berarati cukup, 4 berarti baik, dan 5 berarti sangat baik.

Pada siklus I, ranah afektif siswa sangat rendah (rincian hasil penilian afektif siswa siklus I dapat dilihat pada lampiran ). Seperti yang terlihat pada tabel 4.3 diatas, persentase kategori “sangat buruk” tertinggi diantara kategori lain.

Hal ini lebih banyak disebabkan karena siswa terbiasa bekerja sendiri-sendiri, tidak terbiasa tampil untuk berdiskusi, mengemukakan pendapat dan melatih kemampuan bertanya. Kebanyakan siswa juga tidak menyimak apa yang disampaikan guru sehingga item pertama, antusiasme selama pembelajaran menjadi rendah. Sehingga, setelah skor semua item dirata-ratakan, ranah afektif siswa menjadi sangat rendah.

Berlawanan dengan sikllus I, ranah afektif pada siklus II menunjukkan hasil yang lebih baik (Lihat lampiran). Pada siklus II ini, antusiasme siswa telah mengalami banyak peningkatan, kemampuan berdiskusi, bertanya dan menyampaikan pendapat telah banyak terlatihkan, ditambah lagi dengan pengembangan kemampuan menyimpulkan telah meningkatkan skor penilaian ranah afektif siswa. Selain itu kemampuan kerja sama siswa dengan siswa lain

dalam kelompok menjadi lebih baik, sehingga penerapan model pembelajaran ini telah memberikan poin plus tersendiri.

Dari uraian diatas tergambar dengan jelas bagaimana penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation meningkatkan kemampuan akademik siswa pada mata pelajaran sosiologi pokok bahasan kebudayaan.

Namun, hal itu tidak akan berarti tanpa pembuktian matematis.

Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini diuji dengan menggunakan uji T satu kelompok. Alasan penggunaan uji T sebagai uji hipotesis pada penelitian ini karena uji T dapat digunakan untuk peneltian dengan sampel kecil (< 30 data) seperti pada penelitian ini. Sebelum dilakukan uji T, data hasil belajar (kemampuan kognitif) pada masing-masing siklus dilakukan ujinormalitas data dengan metode Kolmogorov-Sminorv.

Rincian proses penghitingan normalitas data dari siklus I dan siklus II dengan metode Kolmogorov-Sminorv dapat dilihat pada lampiran dan lampiran.

Pada siklus 1, uji Kolmogorov-Sminof menghasilkan Dhitung 0.1255, dan Dtabel

untuk jumlah sampel 20 pada signifikansi 5% adalah 2.94, sehingga Dhitung< Dtabel, atau data berdistrubusi normal. Pada siklus III Dhitung 0.0946 dengan besar Dtabel yang sama, sehingga data hasil belajar siswa pada siklus II juga berdistribusi normal.

Setelah dilakukan uji normalitas data, selanjutnya dilanjtkan dengan uji T satu kelompok. Rincian perhitungan Uji T ini dapat dilihat pada Lampiran. Hasil perhitungan diperoleh Thitung 1.729. Jika t > ttabel maka terdapat perbedaan signifikan antara Siklus I dan Siklus II. Untuk derajat kebebasan 19, Signifikansi

0.05, maka ttabel = 1.729, jadi 3.129 > 1.729 maka terdapat perbedaan signifikan antara siklus I dan II, sehingga Hipotesis Diterima. Dengan kata lain, penerapan model pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation dapat meningkatkan hasil belajar sosiologi pada materi pokok Kebudayaan.

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Dari analisis dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa:

Penerapan model pembelajaran kooperatif tipe group investigation dapat meningkatkan hasil belajar sosiologi kelas X SMA Muhammadiya lempangang pada materi pokok bahasan kebudayaan. Hasil belajar siklus I rata-rata sebesar 63,86 dengan persentase ketuntasan hanya sebesar 40% sedangkan nilai rata – rata siklus II meningkat menjadi 76,00 dengan persentase ketuntasan 80%.

Penerapan model pembelajaran kooperatf tipe group investigation dapat meningkatkan minat belajar siswa, antusiasme selama pembelajaran, kemampuan berdiskusi, bertanya dan mengemukakan pendapat serta dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam menarik kesimpulan dan membangun kerjasama positif antar siswa.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka penulis mengajukan beberapa saran berikut ini:

1. Pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation diharapkan dapat diterapkan oleh guru pada materi pembelajaran kebudayaan

70

Model pembelajaran Kooperatif tipe Group Investigation hendaknya dikembangkan lebih dalam oleh peneliti berikutnya untuk mengetahui pengaruh penerapannya pada materi pokok yang lain.

2. Kepada guru yang hendak melakukan proses pembelajaran melalui model pembelajaran kooperatif sesuai dengan materi ajar agar tujuan pembelajaran tercapai dengan efektif.

Aunurrahman, 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Bungin Burhan, 2006. Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana.

Dimyati & Mudjiono, 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta Dwi Narwoko-Bagong Suyatno 2010 . Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan

edisi ketiga. Jakarta: Kencana.

Goodman J. Douglas, dan Ritzer George, 2009. Teori Sosiologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana

Manners A. Robert, dan Kaplan David, 2002. Teori Budaya.Yogyakarta: Pustaka Pelajar Mulyasa, 2009. Praktek Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Erlangga

Sanjaya, Wina, 2006. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Surabaya: Kencana

Soekanto, Soerjono, 1993. Kamus Sosiologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Soekanto, Soerjono, 2007. Sosiologi suatu pengantar: Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Slameto, 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar.

Jakarta: Rineka Cipta

Sahabuddin. 2007. Mengajar dan Belajar. Makassar. Universitas Negeri Makassar, Gunung Sari

Suherman, dkk. 2003. Strategi Pembelajarn Matematika Kontemporer. Jurusan Pendidikan Sosiologi FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia. JICA.

Trianto. 2011. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta:

Kencana Prenada Media Group.

Tilaar. H. A. R. 2000, Pendidikan Kebudayaan dan Masyarakat Madani di Indonesia.

Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Wahyunin, Dkk, 2004. Manusia dan Masyarakat. Jakarta: Ganesa Exact.

Huda, Miftahul. 2011. Cooperative Learning, Metode, Teknik,Struktur dan Model Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sharan, Yael dan Shlomo Sharan. 1989. “Group Investigation Expands Cooperative Learning”. Educational Leadership

Radiyanti, Siti, dkk. 2012. “Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation Dalam Peningkatan Hasil Belajar IPS Di Kelas IV SD”. Online,

dapat diakses pada laman:

http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/pgsdkebumen/article/download/285/165.

diakses pada tanggal 15 Juli 2013

Rahmawati, Endah Dwi. 2012. “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Group Investigation (GI) Untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Dan Hasil Belajar Mata Pelajaran Sosiologi Pada Siswa Kelas X 3 SMA Negeri Colomadu Tahun Pelajaran 2011/2012”. Jurnal Sosialitas Vol.2 No. 1

Riyanto, Yatim. 2009. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana.

No Aktivitas siswa selama PBM Pertemuan Rata-rata

Persentase (%) I II III IV

1 Jumlah siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran

17 18 17 20 18 90

2 Jumlah siswa yang tidak memperhatikan apersepsi

10 8 7 7 8 40

3 Jumlah siswa yang melakukan aktivitas negatif selama proses pembelajaran (main- main, ribut, dll)

8 6 7 7 7 35

4 Jumlah siawa yang tidak memperhatikan penjelasan materi dari guru

4 4 4 4 20

5 Jumlah siswa yang bertanya kepada guru tentang materi yang tidak dipahami

1 2 3 2 10

6 Jumlah siswa/kelompok yang tidak aktif diskusi

4 4 3 4 20

7 Jumlah siswa yang bertanya pada saat diskusi kelompok

1 2 2 10

8 Jumlah siswa yang menjawab pada saat diskusi kelompok

2 2 2 10

9 Jumlah siswa yang pasif (diam) 14 15 9 13 65

10 Jumlah siswa yang siap mengajukan pertanyaan pada saat persentase kelompok

1 5 3 15

11 Jumlah siswa yang bertanya relevan dengan materi

2 1 4 3 15

12 Jumlah siswa dalam kelompok yang menjawab pertanyaan peserta

1 2 2 10

13 Jumlah siswa dalam kelompok persentase yang menjawab pertanyaan dengan benar

1 2 2 10

NO ASPEK YANG DIAMATI SKOR

I PRA PEMBELAJARAN

1 Siswa menempati tempat duduknya masing-masing 1 2 (3) 4

2 Kesiapan menerima pelajaran (1) 2 3 4

II KEGIATAN AWAL PEMBELAJARAN

1 Mampu menjelaskan kembali isi materi, terdahulu. 1 (2) 3 4

2 Menyimak apersepsi yang disampaikan guru 1 (2) 3 4

III KEGIATAN INTI PEMBELAJARAN A Penjelasan Materi Pelajaran

1 Memperhatikan dengan serius ketika materi pelajaran di kelas 1 (2) 3 4 2 Aktif bertanya saat proses penjelasan materi (1) 2 3 4 3 Adanya interaksi positif diantara siswa 1 (2) 3 4 4 Siswa memiliki pemahaman yang sama tentang materi (1) 2 3 4 5 Siswa dapat bekerja sama dengan teman kelompoknya 1 (2) 3 4 6 Tercipta suasana kondusif selama proses pembelajaran

berlangsung (1) 2 3 4

7 Adanya kemempuan siswa dalam membantu teman 1 (2) 3 4

8 Lahirnya sikap kreativitas pada siswa 1 (2) 3 4

9 Siswa mampu berfikir kritis (1) 2 3 4

10 Terbangun interaksi antara siswa dengan guru 1 (2) 3 4

B Pendekatan/ Strategi Pembelajaran

1 Siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran 1 (2) 3 4 2 Siswa memberikan pendapatnya ketika diberi kesempatan 1 (2) 3 4 3 Aktif mencatat berbagai penjelasan yang diberikan 1 2 (3) 4

6 Siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan santai dan

tidak penuh tekanan 1 2 (3) 4

7 Siswa merasa senang ketika berbagai strategi pembelajaran

dilakukan dalam pembelajaran. 1 (2) 3 4

C Pemanfaatan Media Pembelajaran/Sumber Belajar

1 Adanya interaksi positif saat media pembelajaran disajikan 1 (2) 3 4 2 Ketertarikan siswa terhadap materi yang disajikan meningkat

saat media pembelajaran disajikan 1 2 (3) 4

3 Siswa semakin jelas dan konkrit saat penjelasan materi

disajikan 1 2 (3) 4

4 Adanya interaksi positif diantara siswa 1 (2) 3 4

D Penilaian Proses Hasil Belajar

1 Siswa merasa terbimbing 1 2 (3) 4

2 Mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti dengan

benar 1 (2) 3 4

E Penggunaan Bahasa

1 Penjelasan dapat dengan mudah dimengerti oleh siswa 1 2 (3) 4 2 Pemahaman ketika dijelaskan materi pembelajaran (1) 2 3 4

IV KEGIATAN AKHIR PEMBELAJARAN

1 Siswa secara aktif memberi rangkuman 1 (2) 3 4 2 Siswa membuat rangkuman hasil pembelajaran secara runtun 1 (2) 3 4

lebih dari 50% seluruh siswa.

3. Skor 3 jika pernyataan tersebut dilakukan oleh tidak kurang dari 50% dan tidak lebih dari 75% seluruh siswa.

4. Skor 4 jika pernyataan tersebut dilakukan oleh tidak kurang dari 75% dan tidak lebih dari 100% seluruh siswa.

No Aktivitas siswa selama PBM Pertemuan Rata-rata

Persentase (%) I II III IV

1 Jumlah siswa yang hadir pada saat kegiatan pembelajaran

20 18 20 20 19 95

2 Jumlah siswa yang tidak memperhatikan apersepsi

4 3 4 1 3 15

3 Jumlah siswa yang melakukan aktivitas negatif selama proses pembelajaran (main- main, ribut, dll)

5 4 5 3 5 25

4 Jumlah siswa yang tidak memperhatikan penjelasan materi dari guru

4 3 2 3 15

5 Jumlah siswa yang bertanya kepada guru tentang materi yang tidak dipahami

4 3 3 3 15

5 Jumlah siswa/kelompok yang tidak aktif diskusi

2 0 1 1 5

6 Jumlah siswa yang bertanya pada saat diskusi kelompok

5 5 5 25

7 Jumlah siswa yang menjawab pada saat diskusi kelompok

3 3 3 15

8 Jumlah siswa yang pasif (diam) 8 5 5 6 30

9 Jumlah siswa yang siap mengajukan pertanyaan pada saat persentase kelompok

5 5 5 25

10 Jumlah siswa yang bertanya relevan dengan materi

4 4 5 5 25

11 Jumlah siswa dalam kelompok yang menjawab pertanyaan peserta

2 4 3 15

12 Jumlah siswa dalam kelompok persentase yang menjawab pertanyaan dengan benar

2 4 3 15

NO ASPEK YANG DIAMATAI SKOR

I PRA PEMBELAJARAN

1 Siswa menempati tempat duduknya masing-masing 1 2 (3) 4

2 Kesiapan menerima pelajaran 1 2 (3) 4

II KEGIATAN AWAL PEMBELAJARAN

1 Mampu menjelaskan kembali isi materi, terdahulu. 1 2 (3) 4 2 Menyimak apersepsi yang disampaikan guru 1 2 (3) 4

III KEGIATAN INTI PEMBELAJARAN A Penjelasan Materi Pelajaran

1 Memperhatikan dengan serius ketika materi pelajaran di kelas 1 2 (3) 4 2 Aktif bertanya saat proses penjelasan materi 1 (2) 3 4 3 Adanya interaksi positif diantara siswa 1 2 (3) 4 4 Siswa memiliki pemahaman yang sama tentang materi 1 2 (3) 4 5 Siswa dapat bekerja sama dengan teman kelompoknya 1 2 3 (4) 6 Tercipta suasana kondusif selama proses pembelajaran

berlangsung 1 2 (3) 4

1 Siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran 1 2 (3) 4 2 Siswa memberikan pendapatnya ketika diberi kesempatan 1 (2) 3 4 3 Aktif mencatat berbagai penjelasan yang diberikan 1 2 (3) 4

6 Siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan santai dan

tidak penuh tekanan 1 2 (3) 4

7 Siswa merasa senang ketika berbagai strategi pembelajaran

dilakukan dalam pembelajaran. 1 2 (3) 4

C Pemanfaatan Media Pembelajaran/Sumber Belajar

1 Adanya interaksi positif saat media pembelajaran disajikan 1 2 (3) 4 2 Ketertarikan siswa terhadap materi yang disajikan meningkat

saat media pembelajaran disajikan 1 2 (3) 4

3 Siswa semakin jelas dan konkrit saat penjelasan materi

disajikan 1 2 (3) 4

4 Adanya interaksi positif diantara siswa 1 2 (3) 4

D Penilaian Proses Hasil Belajar

1 Siswa merasa terbimbing 1 2 3 (4)

2 Mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti denganbenar 1 2 (3) 4 E Penggunaan Bahasa

1 Penjelasan dapat dengan mudah dimengerti oleh siswa 1 2 3 (4) 2 Pemahaman ketika dijelaskan materi pembelajaran 1 2 (3) 4

IV KEGIATAN AKHIR PEMBELAJARAN

1 Siswa secara aktif memberi rangkuman 1 2 (3) 4 2 Siswa membuat rangkuman hasil pembelajaran secara runtun 1 2 (3) 4 KETERANGAN :

1. Skor 1 jika pernyataan tersebut dilakukan oleh kurang dari 25% seluruh siswa.

2. Skor 2 jika pernyataan tersebut dilakukan oleh tidak kurang dari 25% dan tidak lebih dari 50% seluruh siswa.

3. Skor 3 jika pernyataan tersebut dilakukan oleh tidak kurang dari 50% dan tidak lebih dari 75% seluruh siswa.

4. Skor 4 jika pernyataan tersebut dilakukan oleh tidak kurang dari 75% dan tidak lebih dari 100% seluruh siswa.

1 Memulai pelajaran (salam, do’a, apersepsi) Ya

2 Membuat RPP Tidak

3 Antusias dalam kegiatan mengajar Ya

4 Menggunakan model pembelajaran kooperatif Tidak

5 Memberikan pertanyaan Ya

6 Memberikan penguatan Ya

7 Menjelaskan materi dengan sistematis Ya

8 Menggunakan media pembelajaran Tidak

9 Bahasa yang digunakan mudah dan jelas Ya

10 Mengelola pembelajaran dengan diskusi Tidak

11 Adanya variasi/gaya guru Tidak

12 Menulis di papan tulis bagian yang dijelaskan Ya

13 Memberikan kesempatan siswa untuk bertanya Tidak

14 Mengadakan kesimpulan Ya

15 Melaksanakan penilaian Ya

Kelas : X SMA Muhammadiyah Lempangang Bidang Studi : Sosiologi

Pokok Bahasan : Kebudayaan

Soal Evaluasi

1) Jelaskan pengertian kebudayaan!

2) Tuliskan jenis-jenis kebudayaan!

3) Uraikan pembagian kebudayaan menurut parah ahli!

4) Uraikan apa pungsi kebudayaan dalam masyarakat !

Bidang Studi : Sosiologi Pokok Bahasan :Kebudayaanl Soal Evaluasi

1) Uraikan hubungan adat dan kebudayaan

2) Tuliskan masing-masing 2 contoh kebudayan yang ada pada lingkungan masyarakat anda!

3) Apa yang terjadi jika anggota masyarakat tidak mengindahkan kebudayaan yang berlaku dalam komunitasnya? Jelaskan dengan FAKTA!

4) Apa yang terjadi jika sebuah masyarakat tidak memiliki kebudayaan?

No Nama siswa Skor

perolehan Nilai

Tuntas Tidak tuntas

1 Ayu Karmila 32.50 92.86 √

2 Muh. Edwin Saleh 10.00 28.57 √

3 Muh. Muhaimin 34.00 97.14 √

4 Syahril Gunawan 26.00 74.29 √

5 Ayyub S. 28.00 80.00 √

6 Sabania 14.00 40.00 √

7 St. Amyrah A 27.50 78.57 √

8 Hariati 29.00 82.86 √

9 Hardianti 18.00 51.42 √

10 Veni Rose 14.00 40.00 √

11 Muh. Anwar 12.00 34.29 √

12 Fitriani J. 19.00 54.29 √

13 Husnaeni 23.50 67.14 √

14 Awaliyah 32.00 91.43 √

15 Hermansyah 20.00 57.14 √

16 Muh. Arfah 16.00 45.71 √

17 Muh. Syarif 20.00 57.14 √

18 Arham Jamaluddin 15.50 44.29 √

19 Haerul Rijal 30.00 85.71 √

20 Fitri Wahyuni 26.00 74.29 √

Jumlah 1277.14

Rata-rata 63.86

Persentase ketuntasan (%) 40 Simpangan Standar (SD) 21.23

Tabel 7.2 Kategori Nilai Siswa Materi Kebudayaan pada Siklus I

No Nilai Kategori Jumlah Siswa

1 0 - 39 Sangat rendah 2

2 40 -59 Rendah 8

3 60 -69 Sedang 1

4 70 – 89 Tinggi 6

5 90 – 100 Sangat tinggi 3

No Interval Skor Kategori Frekuensi Persentase

Grafik 7.1 Nilai Hasil Belajar Sosiologi pada Siklus I

0

Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Dalam dokumen SKRIPSI. Oleh SAINAL (Halaman 74-0)

Dokumen terkait