BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
1. Penyajian Data Dari Hasil Penelitian
Penelitian dilakukan pada perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk.
Penelitian ini membahas tentang mengukur kinerja keuangan pada perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk periode 2016-2020. Data yang akan dianalisis merupakan laporan keuangan yang terdiri atas neraca dan laporan rugi laba tahun 2016-2020.
Tabel 4.1 : Laporan posisi keuangan Neraca yang berakhir pada 31 Desember tahun 2016-2020 (Dalam Triliun Rupiah)
Sumber :Laporan Keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk Pada Bursa Efek Indonesia.
Konsolidasian 2016
179.611.000 198.484.000 206.196.000 221.208.000 246.943.000 Liabilitas
74.067.000 86.354.000 88.893.000 103.958.000 126.054.000 Ekuitas yang
didistribusikan kepada pemilik entitas induk
84.384.000 92.713.000 98.910.000 99.561.000 102.527.000
Modal kerja bersih (Asset Lancar – Kewajiban Lancar)
7.939.000 2.185.000 (2.993.000) (16.647.000) (22.590.000)
Investasi pada asosiasi
1.847.000 2.148.000 2.472.000 1.944.000 4.045.000
38
Berdasarkan laporan keuangan neraca dijelaskan bahwa posisi keuangan perusahaan pada PT. Telekomunikasi Indonesia tbk dalam kurun waktu lima tahun (2016-2020) tersebut semakin membaik dengan meningkatnya aset kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan. Hal tersebut karena manajemen dengan baik mengelola kekayaan sehingga kinerja keuangan peningkatan yang tidak terlalu besar dan berbeda-beda.
Tabel 4.2 : Laporan Laba Rugi PT. Telekomunikasi Indonesia tbk
116.333.000 128.256.000 130.784.000 135.567.000 136.462.000 Laba bruto
39.195.000 43.933.000 38.845.000 42.394.000 43.505.000 Laba tahun berjalan
29.172.000 32.701.000 26.979.000 27.592.000 29.563.000 Laba tahun berjalan yang dapat
27.073.000 30.369.000 31.921.000 25.400.000 25.986.000 Laba konfrehensif tahun
Sumber : Laporan keuangan PT.Telekomunikasi Indonesia (persero) tbk untuk tahun 2016-2020
39
Berdasarkan tabel diatas laporan laba rugi memuat jenis-jenis pendapatan dan juga melaporkan biaya yang dikeluarkan berikut jumlahnya atau nilai uangnya dalam periode waktu yang berbeda dari tahun 2016-2020. Selisih dari jumlah pendapatan disebut laba rugi. Jika jumlah pendapatan lebih besar dari jumlah biaya, maka dikatakan perusahaan dalam kondisi laba atau untung begitupun sebaliknya. Dapat dilihat dari laporan laba rugi pada PT.
Telekomunikasi Indonesia tbk dari tahun 2016-2020 pendapatan nya mengalami peningkatan.
a. Analisis Rasio Likuiditas
Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan suatu perusahaan untuk melunasi semua kewajiban yang harus segera dipenuhi (hutang jangka pendek).
1) Current Ratio (Rasio Lancar)
40
( )
2) Quick ratio (rasio cepat)
41
Sumber :Laporan keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk hasil olahan data untuk tahun 2016-2020
Tabel 4.4 : Standar industri rasio likuiditas Rasio Standar Industri
Rata-rata current ratio PT.Telekomunikasi Indonesia tbk dilihat dari tabel 4.3 adalah 91,5 %. Untuk tahun 2016 sebesar 120%, kemudian turun lagi pada tahun 2017 sebesar 104,8%, tahun 2018 94% dan tahun 2019 sebesar 71,5%
kemudian turun lagi di tahun 2020 menjadi 67,3 %. Penurunan yang terjadi diakibatkan karena adanya hal yang dipicu oleh naiknya beban yang masih harus dibayar oleh perusahaan dan utang usaha. Menurut Kasmir (2008) standar
42
industri current ratio adalah 200% atau sebanyak 2 kali. Dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan dalam selang lima tahun dikategorikan dalam keadaan “kurang baik” karena mengacu pada standar industri dikatakan bahwa rata-rata industri atau perusahaan hanya memiliki asset lancar sekitar 1 kali dari total kewajiban lancar, artinya aktiva lancar mampu menjamin kewajiban lancar hanya sebanyak 1 kali saja.
Rata-rata quick ratio PT. Telekomunikasi Indonesia tbk selama lima tahun dilihat dari tabel 4.3 adalah 90 % dimana jika melihat rasio yang dicapai pada tahun 2016 yaitu sebesar 118,5%, dan pada tahun 2017 ,2018, 2019 hingga 2020 terus mengalami penurunan yaitu 103 %, 92% dan 70,5 % dan 66%.
Dapat disimpulkan bahwa quick ratio perusahaan dibawah standar industri atau dapat dikatakan kinerja keuangan perusahaan dalam keadaan “kurang baik”
Karena penurunan terjadi disebabkan naiknya kewajiban lancar dari tahun ketahun. Rata-rata industri menurut Kasmir (2008) yaitu 150 % atau 1,5 kali dengan melihat rata-rata quick ratio pada perusahan PT Telekomunikasi Indonesia tbk.
Rata-rata cash ratio PT. Telekomunikasi Indonesia tbk selama lima tahun dilihat dari tabel 4.3 adalah 46 % dengan rasio kas pada tahun 2016 yakni 75 % dan untuk tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 55,4% di tahun 2018 sampai 2020 terus mengalami penurunan yaitu 38 %, 31,3 % dan 30%. Dengan melihat rata-rata cash ratio perusahaan selama lima tahun dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan dilihat dari indikator kas dan setara kas berada dalam keadaan ”cukup baik” hal ini terjadi dipicu oleh naiknya kewajiban lancar dan turunnya kas dan setara kas pada tahun 2017-2020.
Menurut Kasmir (2008) standar industri cash ratio adalah 50%.
43
b. Analisis Rasio Solvabilitas
Rasio solvabilitasadalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi segala kewajibannya baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dilikuidasi.
1) Debt to Assets Ratio (DAR)
2) Debt to Equity Ratio (DER)
( )
44
Telekomunikasi Indonesia tbk Periode 2016-2020
Rasio 2016 2017 2018 2019 2020 Rata-Rata (%)
DAR 41,2 % 43,5 % 43,1 % 47 % 51% 45 %
DER 72,1 % 77 % 76 % 89 % 104,2 84 %
Sumber :Laporan keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk hasil olahan data untuk tahun 2016-2020
Tabel 4.6 : Standar industri rasio solvabilitas Rasio Standar Industri kenaikan sebesar 47 % dan 51%. Rata-rata Debt to Total Assets (DAR) selama
45
lima tahun adalah 45 % artinya bahwa perusahaan mampu menutupi total hutang dengan aset yang dimiliki. Walaupun rata-rata rasio berada sedikit diatas standar industri menurut Kasmir (2008) yakni sebesar 35 % tetapi kinerja perusahaan masih berada dalam kategori ”cukup baik” Kenaikan yang terjadi dipicu oleh terus menerus meningkatnya total hutang perusahaan tiap tahunnya
Debt to Equity Ratio (DER) perusahaan tinggi maka akan menunjukkan kinerja yang buruk bagi perusahaan. Menurut Kasmir (2008) standar industri Debt to Equity Ratio (DER) yaitu sebesar 80%. Dilihat dari tabel 4.5 diatas pada tahun 2016 sebesar 72,1% kemudian ratio DER pada tahun 2017 kembali mengalami kenaikan menjadi 77% dan pada tahun 2018 turun sedikit menjadi 76% dan pada tahun 2019 sampai tahun 2020 menglamai kenaikan yang sangat drastis yaitu menjadi 89% kemudian menjadi 104,2%. Dari analisis ratio DER di atas menunjukkan rata-rata DER PT. Telekomunikasi Indonesia Indonesia tbk tahun 2016-2020 yakni 84% . Hasil ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan selama lima tahun terakhir berada dibawah standar industri dan dalam keadaan “cukup baik”
c. Analisis Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam mendapatkan laba.
1) Profit Margin
46
47
3) Return On Investment (ROA)
48
Telekomunikasi Indonesia tbk Periode 2016-2020
Rasio 2016 2017 2018 2019 2020 Rata-Rata
Profit Margin 25,1 % 25,0 % 20,6 % 20,3 % 21,6% 22,5%
GPM 57,2 % 55,5 % 50,1 % 51,7 % 53,5% 53,6%
ROA 16,2 % 16,2 % 13,1 % 12,5 % 12% 14%
ROE 27 % 28,6 % 23,0 % 23,5 % 25% 25,4%
Sumber :Laporan keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk hasil olahan data untuk tahun 2016-2020
Tabel 4.8 : Standar industri rasio profitabilitas Rasio Standar Industri
49
profit margin selama lima tahun adalah 22,5 % dengan standar industri Profit Margin menurut Kasmir (2008) adalah 20% maka dapat disimpulkan bahwa perusahaa berada dalam keadaan “baik” karena berada di atas rata-rata industri. Artinya setiap Rp.1 penjualan bersih turut berkonstribusi menciptakan Rp. 22,5% laba bersih.
Gross Profit Margin (GPM) perusahaan pada tahun 2016-2020 mengalami fluktuasi atau naik turunnya harga. Dimana pada tahun 2016 sebesar 57,2% kemudian mengalami penurunan di tahun 2017 sebesar 1,7% sehingga menjadi 55,5%, lalu kemudian mengalami lagi penurunan ditahun 2018 penurunan sebesar 5,4% sehingga menjadi 50,1% dan pada tahun 2019 mengalami sedikit kenaikan sebesar 1,6% sehingga menjadi 51,7% kemudian pada tahun 2020 mengalami kenaikan 1,8% sehingga menjadi 53,5%. Dilihat dari tabel 4.7 diatas rata-rata gross profit margin perusahaan selama lima tahun sebesar 53,6% yang berarti setiap Rp. 1 penjualan bersih memuat Rp. 0,536 harga pokok penjualan. Dengan rata-rata standar industri menurut Kasmir (2008) untuk gross profit margin adalah 30%. Maka dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan dilihat dari gross profit margin berada dalam keadaan
“cukup baik” karena berada sedikit diatas rata-rata industri.
Return On Asset (ROA) pada tahun 2016 dan 2017 rasio yang didapatakan yaitu sebesar 16,2% . Dan untuk tahun 2018 terjadi penurunan sebesar 3,1% menjadi 13,1% kemudian di tahun 2019 masih mengalami sedikit penurunan sebesar 0,6% menjadi 23,5%. Kemudian pada tahun 2020 mengalami penurunan sebesar 0,5% menjadi 12%. Penurunan yang terjadi dipicu oleh naiknya total aktiva serta turunnya laba bersih selain itu perusahaan juga menunjukkan ketidakmampuan dalam memanfaatkan aset secara efektif
50
untuk memperoleh laba. Dengan melihat rata-rata return on asset (ROA) selama lima tahun sebesar 14% dengan melihat rata-rata standar industri menurut Kasmir (2008) untuk Return On Asset adalah 30% maka dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan perusahaan dilihat dari ROA berada dalam keadaan
“kurang baik” karena berada dibawah industri. Artinya setiap Rp. 1 total aset turut menyumbang atau berkontribusi menciptakan Rp. 14 laba bersih.
Hasil analisis menunjukkan Return On Equity (ROE) pada tahun 2016 yaitu sebesar 27% kemudian mengalami kenaikan sebesar 1,6% di tahun 2017 sehingga menjadi 28,6%. Setelah 2 tahun mengalami kenaikan pada tahun 2018 mengalami penurunan sebesar 5,6% sehingga pada tahun 2018 diperoleh 23,0%
dan mengalami sedikit peningkatan di tahun 2019 sebesar 0,5% menjadi 23,5%.
Kemudian mengalami lagi kenaikan di tahun 2020 sebesar 1,5 % sehingga menjadi 25%. Dengan rata-rata Return On Equity selama lima tahun sebesar 25% dan rata-rata industri Return On Equity menurut Kasmir (2008) yaitu 40%.
Artinya setiap Rp. 1 ekuitas turut berkontribusi menciptakan 25% laba bersih.
Maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan belum maksimal dalam menghasilkan laba dari setiap dana yang tertanam dalam total ekuitas karena rata-rata Return On Equity masih dibawah rata-rata standar industri jadi perusahaan dalam keadaan “kurang baik” Kenaikan yang terjadi dipicu karena meningkatnya jumlah laba bersih dan ekuitas yang digunakan dalam kegiatan perusahaan sedangkan penurunan yang terjadi disebabkan oleh menurunnya jumlah laba bersih perusahaan.
51
2. Pembahasan Hasil Penelitian a. Rasio Likuiditas
Dalam penelitian ini penulis menggunakan tiga jenis rasio analisis rasio likuiditas yaitu current ratio, quick ratio, cash ratio dan hasilnya sbb:
1) Current Ratio (Rasio Lancar)
Dilihat dari tabel 4.3 nilai rata-rata current ratio pada tahun 2016-2020 nilainya sebesar 91,5%.Sedangkan rata-rata standar industri menurut Kasmir (2008) yaitu sebesar 200%. Apabila current ratio rendah maka dapat dikatakan bahwa perusahaan kurang modal untuk membayar utang. Maka dapat disimpulkan bahwa current ratio pada PT.
Telekomunikasi Indonesia tbk pada tahun 2016-2020 dalam keadaan
“kurang baik” karena rata-rata current ratio nya masih d bawah rata-rata industri.
2) Quick Ratio (rasio cepat)
Dilihat dari tabel 4.3 nilai rata-rata quick ratio pada PT. Telekomunikasi Indonesia tbk pada tahun 2016-2020 nilainya sebesar 90%. Sedangkan rata-rata industri quick ratio menurut Kasmir (2008) yaitu 150%. Apabila quick ratio pada perusahaan rendah maka perusahaan harus menjual persediaannya untuk melunasi pembayaran utang lancar. Maka dapat disimpulkan bahwa quick ratio pada PT. Telekomunikasi Indonesia tbk pada tahun 2016-2020 dalam keadaan “kurang baik”
3) Cash Ratio (rasio kas)
Dilihat dari tabel 4.3 nilai rata-rata cash ratio pada PT. Telekomunikasi Indoensia bk pada tahun 2016-2020 nilainya sebesar 46%. Sedangkan rata-rata industri cash ratio menurut Kasmir (2008) yaitu 50%. Apabila
52
cash ratio dibawah rata-rata industri maka kondisi perusahaan kurang baik ditinjau dari rasionya karena untuk membayar kewajiban masih memerlukan waktu untuk menjual sebagian aktiva lancar lainnya.
Sebaliknya apabila cash ratio perusahaan 50% maka keadaan perusahaan dapat dikatakan baik dari perusahaan lain, akan tetapi cash ratio yang terlalu tinggi juga kurang baik karena ada dana yang menganggur atau belum digunakan secara optimal. Maka dapat disimpulkan bahwa cash ratio pada PT. Telekomunikasi Indonesia tbk pada tahun 2016-2020 dalam keadaan “cukup baik”
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dedi Suhendro (2018) yang menyatakan bahwa current ratio mengalami penurunan yang menandakan kondisi likuiditas perusahaan kurang baik, Quick ratio perusahaan mengalami penurunan dalam memenuhi kewajiban lancarnya sehingga dapat dikatakan kurang baik. Sedangkan rata-rata Cash ratio nya sudah melebihi standar industri sehingga dapat dikatakan cukup baik.
b. Rasio Solvabilitas
Dalam penelitian ini , penulis menggunakan dua jenis rasio analisis rasio solvabilitas yaitu Debt to Asset Ratio (DAR) dan Debt to Equity Ratio (DER) dan hasilnya sbb :
1) Debt to Asset Ratio (DAR)
Semakin rendah rasio DAR menunjukkan bahwa semakin baik keadaan keuangan perusahaan. Standar industri untuk rasio ini menurut Kasmir (2008) adalah sebesar 35% . Pada perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk memiliki rata-rata DAR tahun 2016-2020 sebesar 45%
53
berada diatas rata-rata industri hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk dilihat dari indikator DAR dalam kategori “kurang baik” karena berada diatas rata-rata industri sehingga sulit bagi perusahaan untuk memperoleh pinjaman. Artinya perusahaan dibiayai dengan utang melebihi rata-rata industri.
2) Debt to Equity Ratio (DER)
Semakin tinggi rasio DER akan menunjukkan kinerja yang buruk bagi perusahaan, maka perusahaan harus berusaha agar DER bernilai rendah atau berada dibawah nilai standar industri yaitu 80% (Kasmir 2008).
Dengan melihat rata-rata ratio DER pada PT Telekomunikasi Indonesia Tbk tahun 2016-2020 yaitu 84%. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja keuagan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk berada di bawah standar industri dan dalam keadaan “cukup baik”
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Rina Milyanti Yuniastuti, Jhon Nasyaroeka (2017) yang menyatakan bahwa pada rasio solvabilitas kondisi rata-rata perusahaan transportasi ada beberapa nilai rasio perusahaan sedang menurun atau dalam keadaan yang kurang menguntungkan, sehingga hal ini menunjukkan bahwa perusahaan hampir sebagian dibiayai oleh hutang, namun jika perusahaan ingin menambah hutang maka perusahaan harus terlebih dahulu meningkatkan ekuitas.
c. Rasio Profitabilitas 1) Profit Margin
Dapat dilihat dari tabel 4.7 hasil rata-rata dari profit margin pada tahun 2016-2020 yaitu sebesar 22,5%. Berdasarkan rata-rata industri profit
54
margin menurut Kasmir (2008) yaitu 20%. Semakin tinggi rasio profit margin maka akan menunjukkan semakin baik pula kinerja keuangan yang dicapai perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk. Angka yang didapatkan pada rata-rata lima tahun rasio profit margin di atas rata-rata industri dengan demikian berarti kinerja perusahaan dapat dikategorikan
“baik”.
2) Gross Profit Margin (GPM)
Dapat dilihat dari tabel 4.7 hasil rata-rata rasio gross profit margin pada tahun 2016-2020 yaitu sebesar 53,6%. Berdasarkan rata-rata industri gross profit margin menurut Kasmir (2008) adalah 30%. Maka dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk tahun 2016-2020 dikategorikan “cukup baik” karena berada di atas rata-rata industri.
3) Return On Asset (ROA)
Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 4.7 rata-rata rasio ROA diperoleh 14% dengan melihat rata-rata standar industri menurut Kasmir (2008) untuk rasio ROA adalah 30%. Maka dapat disimpulkan bahwa kinerja keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk tahun 2016-2020 dikategorikan “kurang baik” karena berada di bawah rata-rata industri.
4) Return On Equity (ROE)
Dilihat dari tabel 4.7 rata-rata rasio return on equity pada tahun 2016-2020 sebesar 25,5%. Berdasarkan dari rata-rata industri untuk rasio return on equity menurut Kasmir (2008) yaitu 40%. Yang artinya semakin tinggi rasio ini maka semakin baik kinerja perusahaan dan sebaliknya jika rasionya di bawah standar industri maka kinerja perusahaan kurang baik.
55
Maka dapat diambil kesimpulan bahwa kinerja keuangan PT.
Telekomunikasi Indonesia tbk pada tahun 2016-2020 dikategorikan dalam keadaan “kurang baik” karena rasio return on equity masih di bawah rata-rata standar industri.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dedi Suhendro (2018) yang menyatakan bahwa berdasarkan perhitungan rasio profitabilitas dapat disimpulkan kinerja keuangan perusahaan yang kurang baik karena laba bersih tiap ahunnya mengalami penurunan.
Kurang efisiensinya kinerja dalam mengoptimalkan modal sendiri untuk menghasilkan laba bersih tetapi menggunakan aktivanya secara produktif semakin tinggi dengan demikian keuntungan yang dihasilkan perusahaan berdasarkan investasi yang ditanamkan pada perusahaan tersebut dalam kondisi yang cukup baik.
56 BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil perhitungan rasio likuiditas diketahui kemampuan perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk pada tahun 2016-2020 untuk Current ratio dan quick ratio dapat dikategorikan dalam keadaan kurang baik karena berada dibawah rata-rata industri. Untuk cash ratio dikategorikan cukup baik karena berada sedikit di atas rata-rata industri.
2. Berdasarkan hasil perhitungan rasio solvabilitas diketahui kemampuan perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk pada tahun 2016-2020 untuk Debt to assets ratio (DAR) dan Debt to equity ratio (DER) dapat dikategorikan dalam keadaan cukup baik rata-rata rasio nya dibawah rata-rata industri.
3. Berdasarkan hasil perhitungan rasio profitabilitas diketahui kemampuan perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk pada tahun 2016-2020 untuk Profit margin dapat dikategorikan dalam keadaan baik karena rata-rata rasionya berada di atas rata-rata-rata-rata industri. Untuk Gross profit margin dapat dikategorikan dalam keadaan cukup baik karena berada di atas rata-rata industri. Untuk Return On Asset dan Return On Equity dalam keadaan kurang baik karena berada dibawah rata-rata industri.
57
B. Saran
1. Bagi perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk, disarankan untuk meningkatkan rasio likuiditas maka perusahaan harus mengontrol hutang lancar agar tidak terus mengalami kenaikan setiap tahunnya.
2. Bagi perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk, disarankan untuk rasio solvabilitas perusahaan hendaknya memanfaatkan aktiva yang ada untuk memaksimalkan perolehan laba bersih.
3. Bagi perusahaan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk, untuk rasio profitabilitas maka disarankan kepada pihak manajemen berupaya untuk melakukan pengontrolan terhadap kegiatan operasional sehingga meningkatkan laba atau keuntungan perusahaan lebih besar.
4. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengkaji lebih banyak sumber maupun referensi yang terkait dengan analisis kinerja keuangan agar hasil penelitiannya dapat lebih baik dan lebih lengkap serta menambahkan beberapa rasio keuangan lainnya untuk memperoleh hasil yang lebih akurat selain itu peneliti selanjutnya juga disarankan dapat melakukan pengukuran kinerja keuangan suatu perusahaan menggunakan metode lainnya.
58
DAFTAR PUSTAKA
Blogging, k. b. (2020, july 20). Dipetik agustus 01, 2021, dari
https://www.kompasiana.com/nurdinafitri1802/60f6c3851525103466080b e2/makna-logo-pt-telom-indonesia-dalam-komunikasi-visual?
Gill, J. O., & Chatton, M. (2008). Memahami Laporan Keuangan. Jakarta: PPM.
Irham fahmi, S. M. (2016). Analisis kinerja keuangan. Surabaya: Afabeta.
Kasmir, S. M. (2008). Analisis laporan keuangan. jakarta: Raja grafindo.
Kasmir, S. M. (2010). pengantar manajemen keuangan edisi kedua. jakarta:
prenamedia group.
Kautsar Riza Salman, S. (2016). Akuntansi manajemen. jakarta: indeks.
Mekari, j. e. (2017, april 11). Dipetik april 13, 2021, dari
https://www.jurnal.id/id/blog/rumus-rasio-keuangan-untuk-analisis-rasio-keuangan-perusahaan/
Mudawamah, s., wijono, t., & hidayat, r. r. (2018). Analisis Rasio Keuangan Untuk Menilai Kinerja Perusahaan (Studi pada bank usaha milik negara yang terdaftar di BEI tahun 2013-2015). Jurnal Administrasi Bisnis, 54, 21-28.
Niamas, b. m. (2021, apri 11). Dipetik maret 10, 2021, dari
https://www.akuntansilengkap.com/penelitian/contoh-variabel-dependen-independen/
Nurati, A., Burhanudin, & Damayanti, R. (2019). Analisis Kinerja Keuangan Pada Perusahaan PT. Mustika Rati Tbk berdasarkan rasio Likuiditas,
Solvabilitas,Rentabilitas. Asih Nurati, dkk / Edunomika, 03, 109-117.
Prihadi, T. (2012). Memahami laporan keuangan sesuai IFRS dan PSAK. jakarta:
penerbit PPM.
59
Priharto, S. (2019, May 13). Dipetik Agustus 02, 2021, dari
https://cpssoft.com/blog/manajemen/manajemen-keuangan-pengertian-fungsi-tujuan-dan-ruang-lingkupnya/
Sipahelut, R. C., Murni, S., & Rate, P. V. (2017). Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Kasus Pada Perusahaan Sub Sektor Otomotif dan Komponen Yang Terdaftar Di BEI periode 2014-2016). Jurnal EMBA, 5, 4427.
Sudaryono, D. (2019). Metodologi Penelitian Edisi Kedua. Jakarta, Depok: PT Raja Grafindo Persada, Depok.
Suhendro, D. (2018). Analisis Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan
Menggunakan Rasio Keuangan PAda PT. Unilever Indonesia Tbk Yang Terdaftar Di BEI. Analisis Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan Menggunakan Rasio, 3, 501.
Yuniastuti, R. M., & Nasyaroeka, J. (2017). Kinerja Keuangan Perusahaan Transportasi Berbasis Laporan Keuangan Yang Terdaftar DI BEI. Jurnal Manajemen Magister, 3, 201-210.
60
LAMPIRAN
61
Lampiran 1
Laporan keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia tbk tahun 2016-2020
62
63
64
65
66
67
Lampiran 2
Surat balasan penelitian
68
Lampiran 3 Hasil Turnitin
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
BIOGRAFI PENULIS
NUR AZISAH, panggilan Lisa lahir di Ujung pandang, 14 November 1998 dari pasangan suami istri Bapak M. Amin (alm) dan Ibu Jumarta . Peneliti adalah anak kedua dari dua bersaudara. Peneliti sekarang bertempat tinggal di Jl.Bangkala 5 No.474 Blok 1 Perumnas Antang. Kota Makassar.
Pendidikan yang telah ditempuh oleh peneliti yaitu SD Inp. Perumnas Antang II lulus tahun 2011, SMP Negeri 23 Makassar lulus tahun 2014, SMA Negeri 10 Makassar lulus tahun 2017 dan mulai tahun 2017 mengikuti program S1 Manajemen di Unismuh Makassar sampai dengan sekarang. Sampai dengan penulisan skripsi ini peneliti masih terdaftar sebagai mahasiswi program studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Makassar.