BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Berdasarkan penyajian hasil analisis data dapat diuraikan hasil penelitian tentang tindak tutur ilokusi pada proses transaksi jual beli di pasar sentral Makassar. Tindak ilokusi para penjual/pedagang dan pembeli dalam interaksi jual beli di pasar sentral Makassar yang ditemukan terdiri atas lima (5) tindak tutur
47 ilokusi direktif, ekspresif, deklaratif, komisif, dan representatif yaitu tindak ilokusi penjual dengan pembeli, pembeli dengan penjual, penjual dengan penjual.
Berikut ini akan di bahas hasil penelitian atau analisis data berdasarkan tipe tindak tutur direktif, ekspresif, deklaratif, komisif dan refresentatif.
1. Direktif
Tindak tutur Direktif yang terdapat di dalam pasar sentral Makassar terdapat tuturan yaitu mengajak, memaksa, dan memohon.
Pertama, wujud tindak tutur direktif mengajak ini merupakan tindak tutur mengajak orang lain atau pelanggang untuk membeli barang dagangannya, tindak tutur direktif mengajak selalu dituturkan oleh para penjual kepada para pelanggang/pembeli/pengunjung di pasar sentral Makassar, yakni penjual secara langsung mengajak para pelanggang untuk singgah melihat-lihat barang dagangannya.
Kedua, wujud tindak tutur direktif memaksa terkadang selalu dilakukan oleh sebagian pedagang/penjual di pasar sentral Makassar pada saat menawarkan barang dagangannya. Penutur melakukan tindakan ini, supaya mitra tutur jadi membeli barang tersebut walaupun sebenarnya mitra tutur secara terpaksa membelinya.
Ketiga, wujud tindak tutur direktif memohon sama halnya dengan wujud tindak tutur memaksa, wujud ini biasa di lakukan oleh pedagang di pasar sentral Makassar pada saat menawarkan barang dagangannya tersebut. Penjual melakukan hal ini karena dengan cara yang seperti ini pembeli/pelanggang terpikat untuk membeli barang tersebut.
48 2. Ekspresif
Pertama, wujud tindak tutur ekspresif meminta maaf ini beberapa kali dituturkan oleh para penjual begitupun dengan para pelanggang/pembeli dalam transaksi/interaksi jual beli di pasar sentral Makassar, yakni pembeli/pelanggang meminta maaf kepada penjual karena celana yang dia beli kemarin tidak cocok dan dia ingin menukarnya dengan barang yang sama tetapi ukuran yang lebih besar dari yang dibelinya kemarin.
Hal tersebut di atas senada dengan pendapat Searle (1980: 16) yang mengatakan bahwa tindak tutur meminta maaf (apologizing) mengekspresikan simpati dan penyelesaian yang dirasakan oleh penutur kaena telah melukai atau mengganggu mitra tutur.
Kedua, wujud tindak tutur ekspresif basa-basi ini selalu di tuturkan oleh para pelanggang dan penjual dalam transaksi/interaksi jual beli di pasar sentral Makassar, yakni penjual/pedangan basa-basi, ini adalah cara penjual untuk memikat para pembeli/pelanggang supaya dengan cara seperti itu pelanggang/pengunjung bisa membeli barang dagangannya.
Ketiga, wujud tindak tutur ekspresif memuji merupakan ungkapan yang dilakukan oleh penutur/penjual. Tindak tutur ini sering kali di tuturkan oleh para penjual/pedagang di pasar sentral Makassar. Penutur ingin para pembeli membeli dagangannya oleh karena itu dia memuji barang dagangannya.
Hal demikian senada dengan pendapat Chulsum (2006: 552) yang mengatakan bahwa memuji merupakan suatu ungkapan melahirkan ketakjubkan hati terhadap sesuatu yang dianggap memiliki kelebihan.
Keempat, wujud tindak tutur ekspresif berterima kasih merupakan suatu ungkapan yang dituturkan oleh pembeli. Tindak tutur ini selalu di tuturkan oleh penjual maupun pembeli di pasar sentral Makassar. Penutur mengucapkan terima kasih karena pembeli/pelanggang tadi membeli barang dagangannya.
49 Hal tersebut senada dengan pendapat Chulsum (2006: 657) yang mengatakan bahwa ucapan terima kasih merupakan ungkapan atau melahirkan rasa syukur atau membalas budi setelah menerima kebaikan dari orang lain.
Kelima, wujud tindak tutur ekspresif mengucapkan selamat merupakan suatu ungkapan yang dituturkan oleh penjual kepada penjual. Tindak tutur ini hanya satu kali dituturkan oleh penjual di pasar sentral Makassar. Penutur mengucapkan selamat karena penjual di sampingnya barang dagangannya laku atau laris pada bulan ini.
3. Deklaratif
Pertama, wujud tindak tutur deklaratif mengizinkan merupakan suatu ungkapan yang biasa dituturkan oleh para pelanggang ketika mitra tutur meminta izin untuk melihat pakaian yang telah dijual. Tindak tutur ini biasa dituturkan oleh para penjual di pasar sentral Makassar. Penutur mengatakan bahwa dia mengizinkan para pelanggangnya untuk melihat barang dagangannya.
Kedua, wujud tindak tutur deklaratif memberi nama merupakan suatu ucapan yang biasa dituturkan oleh para penjual/pedagang. Tindak tutur ini biasa dituturkan oleh para pedagang di pasar sentral Makassar. Penutur/pedagang mengatakan dengan menyebut baju tersebut dengan sebutan baju Ayu Ting Ting.
4. Komisif
Pertama, wujud tindak tutur komisif berniat merupakan tindakan bertutur untuk menyatakan niat melakukan suatu pekerjaan/tindakan bagi orang lain.
Tindak tutur ini beberapa kali dituturkan oleh teman penjual dipasar sentral Makassar. Dia hanya ingin membantu menjual, tuturan yang dituturkan oleh
50 teman penjual tersebut merupakan tuturan berniat. Dia memiliki niat yang tulus untuk membantu lawan tuturnya.
Hal tersebut sepadan dengan pendapat Chulsum, (2006: 482) yang menyatakan bahwa niat yakni bermaksud akan melakukan sesuatu.
Kedua, tindak tutur komisif berjanji merupakan suatu ungkapan yang dilakukan oleh penutur dengan menyatakan melakukan suatu pekerjaan yang dimintai orang lain. Tindak tutur seperti ini dituturkan oleh pembeli, yakni tuturan pembelidia berjanji akan membayar secepat mungkin baju yang dia pinjam kemarin.
Uraian tersebut di atas, senada dengan pendapat Chulsum (2006:
595) yang menyatakan bahwa sanggup merupakan bersedia melakukan atau melaksanankan sesuatu.
Ketiga, wujud tindak tutur komisif bersumpah merupakan ungkapan tindak tutur untuk meyakinkan mitra tutur tentang apa yang dituturkan oleh penutur ialah benar seperti yang dikatakan. Tindak tutur ini hanya satu kali ditturkan oleh penjual dalam transaksi jual beli di pasar sentral Makassar, yakni penutur atau penjual bersumpah kepada mitra tutur atau pembeli bahwa celana yang dia beli tadi cocok dan tidak kebesaran. Penjual mengutarakan sumpah tersebut untuk meyakinkan pelanggangnya bahwa dia sungguh-sungguh mengatakannya.
Hal tersebut dikuatkan oleh pendapat Chulsum (2006: 598) yang mengatakan bahwa ikrar yang disampaikan dengan sungguh-sungguh atau pernyataan yang diucapkan secara resmi.
Keempat, Tindak tutur memutuskan merupakan suatu tuturan memutuskan sesuatu kepada orang lain. Tindak tutur seperti ini selalu dituturkan oleh mitra tutur atau pembeli di dalam transaksi jual beli di pasar sentral Makassar, yaitu
51 tuturannya si pembeli akan membeli barang dia pilih-pilih tadi. Hal tersebut senada dengan pendapat Searle (1999: 16) yang mengatakan bahwa tindak tutur memutuskan merupakan tuturan yang menyanggupi hal yang sudah diputuskannya
5. Refresentatif
Pertama, wujud tindak tutur refresentatif/asertif menunjuk/menunjukkan merupakan suatu tindakan yang biasa di lakukan oleh para pedagang maupun pelanggang. Tindakan ini dilakukan ketika mitra tutur atau pelanggang bertanya tentang pakaian yang dia cari maupun yang ditanyakan masalah harganya, lalu penutur pun menunjuk pakaian yang dicari tadi maupun yang ditanyankan maslah harganya, dan hal seperti ini biasa dilakukan oleh para pedangang yang ada di pasar sentral Makassar pada saat pelanggangnya bertanya-tanya lalu penutur langsung menunjukkannya.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Rustono (1999: 39) tindak tutur menunjukkan yang dituturkan penutur bersifat memberikan bukti kepada mitra tutur, biasanya pada kondisi ini penutur tidak memperoleh kepercayaan dari mitra tutur sehingga perlu memberikan bukti.
Kedua, wujud tindak tutur refresentatif/asertif menyatakan merupakan suatu ungkapan yang selalu lakukan oleh para pedagang/penjual di pasar sentral Makassar pada saat menawarkan dagangannya. Penutur menyatakan hal ini agar para pelanggang mau singgah untuk melihat-lihat barang dagangannya dan terpikat untuk membelinya.
Hal di atas sejalan dengan pendapat Rustono (1999: 39) tindak tutur menyatakan cenderung bersifat subyektif karena penutur bermaksud mengemukakan informasi berdasarkan pengertiannya terhadap informasi tersebut pada lawan tutur.
52 Ketiga, wujud tindak tutur refresentatif/asertif melaporkan merupakan suatu tindakan/ungkapan yang sering dilakukan oleh para pedagang di pasar sentral Makassar. Penutur melaporkan atau memberitahukan kepada para pengunjung di pasar sentral Makassar bahwa jilbab yang telah dijual harganya hanya sekian, hal ini dilakukan supaya para pelanggang berlombah-lombah untuk memborongnya atau membelinya.
Hal tersebut di atas sejalan dengan pendapat Rustono (1999: 39) tindak tutur melaporkan yang dituturkan penutur bersifat reportase, penyampaian informasi terkesan subyektif menurut anggapan pribadi.
53 BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dari tuturan hasil penelitian dapat disimpulkan hasil penelitian ini tentang tindak ilokusi penjual/pedangang dalam interaksi jual beli di pasar sentral Makassar.
Hasil menunjukkan bahwa tindak tutur ilokusi seorang penjual di pasar sentral Makassar merupakan salah satu usaha penjual untuk menarik/memikat hati pembeli agar mau membeli barang dagangannya. Dalam tuturan tersebut, ditemukan beberapa wujud tindak tutur ilokusi diantaranya tindak tutur direktif, ekspresif, deklarasi/deklaratif, komisif, dan refresentatif/asertif. Wujud tindak tutur direktif yang dituturkan oleh para pedagang dan pembeli di pasar Sentral Makassar adalah berupa mengajak, bertanya, membolehkan/mengizinkan, memaksa, dan memohon. Wujud tindak tutur ekspresif yang dituturkan oleh para pedagang dan pembeli di Pasar Sentral Makassar adalah berupa bentuk rasa senang, rasa gembira, memuji, basa-basi, mengucapkan selamat, pengucapan terima kasih, dan permintaan maaf.Wujud tindak tutur deklaratif yang dituturkan oleh para pedagang dan pembeli di Pasar Sentral Makassar adalah berupa mengizinkan dan memberi nama. Wujud tindak tutur komisif yang dituturkan oleh para pedagang dan pembeli di Pasar Sentral Makassar adalah berupa berniat, berjanji, bersumpah dan memutuskan. Wujud tindak tutur refresentatif/asertif yang dituturkan oleh para pedagang dan pembeli di Pasar Sentral Makassar adalah berupa menunjuk/menunjukkan, menyatakan dan melaporkan.
53
54 Peristiwa tindak tutur dalam wacana jual-beli di pasar Sentral Makassar mempunyai peranan yang sangat penting, yaitu menyampaikan maksud dan tujuan berbagai pihak. Penjual dan pembeli sama-sama menggunakan bahasa sebagai sarana untuk menyampaikan maksud agar tercapai kesepakatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan mengetahui wujud tindak tutur ilokusi.
B. Saran
1. Diharapkan kepada para penjual agar lebih meningkatkan penggunaan tindak ilokusi dalam berinteraksi. Khususnya tindak tutur yang bernilai positif karena dapat menunjang proses transaksi jual beli, dan bagi para pembeli diharapkan agar menggunakan tindak ilokusi dalam interaksi jual beli, khususnya jika berkomunikasi dengan penjual/pedagang sehingga tuturan yang disampaikan tidak menyinggung.
2. Dalam proses transaksi jual-beli diharapkan pembeli meningkatkan penggunaan tindak ilokusi agar lawan tutur (penjual dengan pembeli) mudah memahami tuturan yang disampaikan dan suasana interaksi jual beli semakin berjalan dengan lancar.
55 DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas.jakarta: Bumi Aksara.
Austin, J.L. 1962. How to Do Things with Words. Cambridge-Mass : Harvard University Press
1973.“Speech Acts” J.P.B. allen dan S. pit Corder (Ed.)1973
Azies, F dan Alwashilah, A. Chaedar. 1996. Pengajaran Bahasa Komunikatif, Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Chaer, A. Leonie Agustina. 2004. Sosiolinguistik (perkenalan Awal). Jakarta:
Rineka Cipta.
Chulsum, Umi. 2006. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya: Kashiko
Daryanto. 1997. Kamus Bahasa Indonesia Lengkap dan Pengetahuan Umum.
Surabaya: Apollo
Echy. 2013 Situasi Tutut dengan Tinjauan Pragmatik, (Online), (http://blackliztnotes.wordpress.com/2013/04/15/pragmatik/, diakses 15 Juni 2016)
Erwin, Muh. 2014. “Analisis Tindak Tutur Ilokusi dalam Transaksi Jual Beli di Pasar Sentral Makassar”. Skripsi.Makassar.Universitas Muhammadiyah Makassar.
Grice, H.P. 1975. ‘ Logic and Conversation’, dalam Cole dan Morgan, op. cit, him 41-58.
Hymes, Dell (Ed.) 1964. Language in Culture and Society. New York : Harper and Row.
Joos, Martin. 1976. The Five Clocks. New York : Hartcourt Brace World, Inc.
Kasim, Emmy. 2014. “Analisis Tindak Tutur Ilokusi dalam Transaksi Jual Beli di Pasar Pattallassang”. Skripsi.Makassar. Universitas Muhammadiyah Makassar.
Leech, G. 1983. Principles of Pragmatic. London: Logman
Nababan, P.W.J. 1986. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia.
Oka.L. G. N dan Supamo. 1990. Linguistik umum. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.
56 Parera, Jos Daniel. 1993. Leksikon Istilah Pembelajaran Bahasa. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Porwo, Bambang Kaswanti, 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa.Yogyakarta: Kanisius.
Putrawan, I Made. 1990. Pengajuan Hipotesis dalam Penelitian Sosial. Jakarta:
Rineka Cipta.
Rani, Abdul, dkk, 2000.Analisis Wacana Sebuah Kajian Bahasa Dalam Pemakaian. Malang: Bayumedia Publishing.
Rustono. 1999. Pokok-Pokok Pragmatik. Semarang: CV IKIP Semarang Press Samsuri. 1987. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga.
Searle, J.R. 1969. Speech Acts: An Essay in The Philosophy of Language.
Cambridge : Cambridge University Press.
1980. Speech Acts An Essay in The Philosophy of Language Melbrone.
Sidney: Cambridge Univerisy Press.
Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alabeta.
Suwito. 1983. Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: Kenary Off set.
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa
1983. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Penerbit Angkasa.
Tim Penyusun Kamus Depdikbud. 1988. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
Universitas Muhammadiyah Makassar. 2010. Bahan Ajar Pragmatik Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Makassar: Unismuh Makassar.
Wardihan. 1999. “Pengantar Linguistik”. Diktat.Makassar: FKIP Unismuh Makassar.
Weinrich, Uriel. 1968. Language in Contact. The Hauge-Paris: Mouton.
Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-Dasar Pragmatik. Yogyakarta: Penerbit Andi Yule, George. 2006 pragmatik.Penerjemah Indah Fajar Wahyuni. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DOKUMENTASI
Riwayat Hidup
Subaedah. Dilahirkan di Gowa Kabupaten Gowa Kecematan Biring Bulu desa Pencong pada tanggal 08 Desember 1994.
Penulis adalah anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Ayahanda Amiruddin dan Ibunda Sitti.
Penulis menempuh pendidikan pada tahun 2000 di sekolah Mi/SD Pencong, tamat pada tahun 2006. Kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Tsanawiyah Malakaji pada tahun 2006 dan tamat pada tahun 2009. Kemudian pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) di MAN Malakaji pada tahun 2009 dan tamat pada tahun 2012. Selanjutnya pada tahun yang sama penulis melanjutkan studi di Universitas Muhammadiyah Makassar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan selesai tahun 2016.