POLA AKTIFITAS PENGHUNI DAN HUBUNGANNYA TERHADAP DESAIN PERUMAHAN
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN a.Pola Aktifitas Penghuni ( People Centered Mapping)
Adapun hasil temuan dari observasi peneliti adalah, ditemukannya pola-pola aktifitas penghuni perumahan di Kota Medan. Dimana peneliti membagi pola aktifitas tesebut dalam renang harian, mingguan, dan bulanan (Gambar 2). Serta dibagi menurut aktifitas yang sering dilakukan oleh masyarakat perumahan terencana di Kota Medan.
476 Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Gambar 2. Pola aktifitas penghuni perumahan setiap hari,
setiap minggu, setiap bulan
Seperti dalam hirarki ruang lingkup sosial Chombart de Lauwe, maka pola aktifitas penghuni perumahan dibedakan menjadi home base dan home range. Dimana home base mengacu pada aktifitas masyarakat di ruang lingkup perumahan (Gambar 3), sedangkan home range lebih mengacu pada aktifitas masyarakat di luar lingkungan perumahan (Gambar 4).
Rebecca Rulia Miona P. R. Hutauruk Dwira Nirfalini Aulia Pola Aktifitas Penghuni dan Hubungannya
Terhadap Dessain Perumahan
Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara 477
Gambar 4. Hirarki Home Range di Perumahan Terencana di Kota Medan
Adapun bagi masyarakat perumahan yang merasa tidak nyaman terhadap lingkungan perumahan mereka, memilih untuk melakukan kegiatan mereka di luar lingkungan perumahan mereka. Misalnya, bagi mereka yang ingin rekreasi seperti berenang, bermain sepak bola, dan kegiatan rekreasi lainnya, tetapi pihak perumahan tidak memiliki sarana tersebut. Maka masyarakat memilih untuk melakukan kegiatan tersebut di luar area perumahan.
Aktifitas Penghuni dalam Sarana Perumahan (Place Centered Mapping)
Selain dari mengkaji pola aktfitas penghuni perumahan terencana, peneliti juga mengkaji aktifitas apa saja yang dilakukan penghuni pada lingkungan perumahan terencana di Kota Medan. Dan apakah sarana tersebut cocok di lingkungan perumahan tersebut melihat dari bagaimana penghuni menggunakan sarana yang ada di perumahan tersebut.
Menurut Perry ( dalam Wiguno, 2007 ), sebuah lingkungan perumahan yang ideal adalah perumahan yang mampu menyediakan fasilitas-fasilitas publik seperti open space, local shops, internal street, dan institution sites. Adanya aktifitas yang hidup dalam ruang tersebut menunjukkan sarana tersebut cocok untuk ditempatkan dalam perumahan tersebut.(Gambar 5-7)
478 Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Gambar 5. Aktifitas di sekitar open space di perumahan terencana
di Kota Medan (Cemara Asri)
Gambar 6. Suasana dan Aktifitas di internal street
di lingkungan perumahan Cemara Asri, Medan
Adapun fasilitas yang ada di dalam Perumahan mendukung aktifitas yang dilakukan oleh penghuni yang ada di perumahan tersebut. Selain terjadinya interksi antar penduduk, suasana di dalam lingkungan perumahan menjadi lebih hidup.
Pada linkungan local shops, mayarakat dapat memebeli kebutuhan sehari-hari mereka tanpa harus keluar dari perumahan mereka. Open space yang ada di perumahan dapat menunjang kegiatan masyarakat seperti beristirahat, bermain, serta berinteraksi dengan penduduk yang lain.
Rebecca Rulia Miona P. R. Hutauruk Dwira Nirfalini Aulia Pola Aktifitas Penghuni dan Hubungannya
Terhadap Dessain Perumahan
Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara 479
Gambar 7. Aktifitas di sekitar local shops di perumahan terencana di Kota Medan (Cemara Asri dan Tasbih)
Diskusi
Dalam hirarki sosial Chombart de Lauwe (1965), home base dan home range dijadikan acuan untuk mengelompokan aktifitas penghuni sehingga ditemukan pola aktifitas penghuni dalam hunian mereka
Dimana ada kegiatan yang dikaji dalam penelitian ini adalah beristirahat, bekerja, rekreasi, dan travelling. Aktifitas yang dilakukan secara rutin dan berada dalam ruang lingkup home range dilakukan dalam intesitas yang semakin tinggi.
Adanya aktifitas yang tidak dapat dilakukan masyarakat di dalam lingkungan perumahan membuat mereka harus melakukan aktifitas mereka di luar perumahan, atau dengan kata lain, menggunakan sarana yag ada di luar perumahan. Tetapi ada juga yang tetap menggunakan sarana yang ada di luar perumahan walaupun perumahan mereka memiliki sarana untuk melakukan aktifitas tersebut.
Sedangkan sarana yang ada di perumahan tersebut mampu mewadahi aktifitas yang ada di dalam perumahan tersebut. Sehingga dalam ruang tersebut terjadi interaksi sosial antar penduduk di dalam perumahan. Di jalan-jalan internal dalam perumahan tersebut terkadang tidak adanya aktifitas (ruang kosong), dan terkadang sarana olahraga yang disediakan oleh pihak pengembang tidak sering digunakan oleh penghuni perumahan. Dari hal ini peneliti menemukan banyaknya keluhan dari penghuni hal ini dikarenakan yidak adanya pemeliharaan sarana an prasarana dari pihak pengembang..
480 Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara KESIMPULAN
Adanya sarana dan prasarana yang baik dan tertata di setiap perumahan dapat membuat penghuni tersebut nyaman tinggal dan beraktivitas di rumah dan ingkungan perumahan mereka. Walaupun sarana dan prasarana.dalam perumahan tersebut ada, tetapi jika sarana tersebut tidak dikelola dengan baik, maka penghuni perumahan tersebut tetap akan menggunakan sarana yang ada di luar perumahan tersebut, kaarena sense of place terhadap sarana tersebut sudah hilang. Dari hal ini dapat disimpulkan bukan perumahan yang baik bukan hanya dapat mewadahi aktifitas penghuninya, tetapi juga dapat mempertahankan kondisi sarana prasarana yang ada dalam perumahan, sehingga penghuni perumahan tetap merasakan sense of place dalam lingkungan perumahan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Charlie. 2013. Arsitektur Perilaku pada Ruang Terbuka. Institut Sains Teknologi Pardede
Haryadi.2010. Arsitektur,Lingkungan dan Perilaku. Gajah Mada University Press Kartsen, Lia . 2012. The Middle Classes and the Remaking of the Suburban Family
Community: Evidence from Netherlands. Springer+Bussiness Media B.V. Laurens. 2004. Arsitektur dan perilaku manusia. Grasindo
Omar, E.O., Endut, Esmawee, & Saruwono, Masran. 2010. Adapting by Altering: Spatial Modifications of Terraced Houses in The Klang Valley Area.Asian Journal of Environment - Behavior Studies, Vol.1, Number 3.
Portoous, J. Douglas. 1977. Environment and behavior:planning and everyday urban life. Addison Wesley
Wiguno Setio. 2007. Pola Pergelakan Berbelanja Oleh Penduduk Perumahan di Wilayah Pinggiran Kota Bandung
Zulestari Z. 2014. Pengaruh Sebaran Pengunjung Terhadap Sense of Place di Koridor Ujung Selatan Jalan Malioboro Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta
Sri Suryani Relasi Kuasa/ Pengetahuan Dalam Perumahan