• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Deskripsi Hasil Penelitian

2. Hasil Penelitian Survei

Dibawah ini akan dilaporkan deskripsi hasil penelitian mengenai

fenomena bullying yang terjadi pada siswa-siswi kelas 2 SMP PIRI 1 Yogyakarta meliputi bentuk–bentuk bullying yang dialami oleh siswa-siswi, tempat-tempat yang paling sering dijadikan lokasi untuk melakukan tindakan

bullying di lingkungan sekolah, perbedaan jumlah korban dan pelaku bullying antara siswa putra dan putri, dan dampak bullying bagi pelaku maupun korbannya.

Deskripsi hasil penelitian tersebut disajikan berupa tabel ringkasan

yang telah dihitung frekuensi dan prosentasenya.

1. Bentuk-bentuk bullying

Tabel 2

Bentuk-bentuk bullying yang terjadi pada siswa-siswi kelas 2

SMP PIRI 1 Yogyakarta

No Bentuk-bentuk bullying

Pelaku Korban

Pria Wanita Pria Wanita

f % f % f % f % 1. Mengejek/diejek 57 15.0% 38 10.0% 62 9.3% 47 7.0% 2. Ngumpetin/diumpetin barang-barang sekolah 27 7.1% 11 2.9% 44 6.6% 24 3.6% 3. Menjambak/dijambak 6 1.6% 20 5.3% 6 0.9% 34 5.1% 4. Mencubit/dicubit 9 2.4% 16 4.2% 21 3.1% 27 4.0% 5. Menjegal/dijegal 11 2.9% 1 0.3% 18 2.7% 12 1.8% 6.

Memberi/diberi nama

No Bentuk-bentuk bullying

Pelaku Korban

Pria Wanita Pria Wanita

f % f % f % f % 7. Mengucilkan/dikucilkan teman 1 0.3% 1 0.3% 4 0.6% 6 0.9% 8. Mengunci/dikunci

teman di kamar mandi 6 1.6% 1 0.3% 5 0.7% 2 0.3%

9.

Membuka/dibukain

celana teman 1 0.3% 0 0.0% 1 0.1% 0 0.0%

10.

Bersiul/disiulin terhadap

teman 7 1.8% 1 0.3% 2 0.3% 3 0.4%

11.

Mengatakan/dikatakan

humor jorok 13 3.4% 6 1.6% 24 3.6% 17 2.5%

12.

Mencoret/dicoret baju

teman 6 1.6% 6 1.6% 24 3.6% 12 1.8% 13. Menggosip/digosipin 2 0.5% 14 3.7% 11 1.6% 29 4.3% 14. Memalak/dipalak 0 0.0% 0 0.0% 3 0.4% 7 1.0% 15. Memukul/dipukul 18 4.7% 7 1.8% 40 6.0% 11 1.6% 16. Mendorong/didorong 8 2.1% 5 1.3% 24 3.6% 14 2.1% 17. Mengancam/diancam 3 0.8% 2 0.5% 7 1.0% 8 1.2% 18. Menyobek/disobek buku 8 2.1% 4 1.1% 15 2.2% 7 1.0%

19.

Meneror/diteror lewat

sms 1 0.3% 3 0.8% 2 0.3% 6 0.9% 20. Memandang/dipandang sinis 2 0.5% 7 1.8% 2 0.3% 14 2.1% 21. Menyenggol/disenggol 0 0.0% 1 0.3% 0 0.0% 0 0.0% 22. Memfitnah/difitnah 0 0.0% 0 0.0% 0 0.0% 1 0.1% 23. Menjitak/dijitak 0 0.0% 0 0.0% 0 0.0% 1 0.1% Jumlah jawaban 220 57.9% 160 42.1% 362 54.3% 305 45.7%

Tabel 2 menunjukkan bahwa bentuk bullying yang paling banyak dilakukan oleh siswa-siswi kelas 2 SMP PIRI 1 yang menjadi pelaku bullying adalah mengejek korban. Hal ini sesuai dengan jawaban dari korban bullying yang juga lebih banyak mengalami bentuk bullying yaitu diejek dari teman sebayanya lingkungan sekolah.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa bentuk-bentuk bullying yang sering dialami maupun dilakukan oleh siswa pria adalah bentuk bullying secara fisik misalnya menyembunyikan barang-barang teman, menjegal,

mengunci teman di kamar mandi, membuka celana teman, memukul,

mendorong, menyobek buku dan mencoret baju teman. Selain itu, tindakan

bullying secara verbal misalnya mengejek, memberi julukan, mengatakan

humor jorok, dan bersiul. Sedangkan, siswi wanita lebih banyak menggunakan

bentuk bullying secara tidak langsung misalnya mengucilkan teman, memandang sinis, meneror lewat sms, tetapi ada juga bentuk-bentuk bullying secara fisik yang dilakukan siswi wanita seperti menjambak, mencubit,

menyenggol dan menjitak. Selain itu, bentuk bullying secara verbal seperti menggosip dan memfitnah. Sedangkan, bentuk bullying secara verbal yaitu mengancam baik korban dan pelaku bullying pria dan wanita mempunyai hasil yang sama. Pada tabel 2 juga terlihat bahwa beberapa korban bullying baik pria maupun wanita menjawab pernah mengalami bentuk bullying seperti dipalak, tetapi jawaban dari pelaku bullying tidak diperoleh siswa yang menjawab pernah memalak teman sebayanya.

Tabel 3

Berapa kali bullying terjadi pada siswa-siswi kelas 2 SMP PIRI 1 Yogyakarta(dalam 1 minggu)

No Berapa kali bullying terjadi (dalam 1minggu)

Pelaku melakukan bullying Korban mengalami bullying f % f % 1 Setiap hari 24 18.2 38 27.1 2 1-2 kali 60 45.5 53 37.9

No Berapa kali bullying terjadi (dalam 1minggu)

Pelaku melakukan bullying Korban mengalami bullying f % f % 3 3-4 kali 22 16.7 25 17.9 4 Kadang-kadang 24 18.2 24 17.1 5 Kurang tahu 2 1.5 0 0 Jumlah jawaban 132 100 140 100

Tabel 3 diatas menunjukkan bahwa kebanyakan dari siswa-siswi kelas

2 SMP PIRI 1 yang menjadi pelaku bullying menjawab melakukan bullying dalam 1 minggu adalah sebanyak 1-2 kali. Hasil tersebut juga sama dengan

jawaban dari korban bullying dimana mereka juga mengalami bullying dalam 1 minggu sebanyak 1-2 kali. Dari hasil ini dapat dilihat bahwa bullying memang terjadi pada siswa-siswi kelas 2 SMP PIRI 1 Yogyakarta karena baik

korban maupun pelaku mengalami dan melakukan bullying lebih dari 1 kali dalam 1 minggu.

Tabel 4

Waktu terjadinya bullying

No Waktu terjadinya bullying Pelaku melakukan bullying Korban mengalami bullying f % f % 1 Kelas 1 sampai sekarang 88 66.7 91 65 2 Kelas 2 sampai sekarang 33 25.0 38 27, 14 3 Kelas 1 saja 8 6.1 8 5, 71 4 Dari SD sampai sekarang 3 2.3 3 2, 14 Jumlah jawaban 132 100 140 100

Tabel 4 menunjukkan bahwa jawaban paling banyak yang diberikan

siswa-siswi kelas 2 SMP PIRI 1 Yogyakarta sebagai korban maupun pelaku

bullying mengenai waktu terjadinya bullying adalah bahwa bullying telah terjadi sejak mereka duduk di kelas 1 dan masih berlangsung sampai sekarang.

Kemudian ada juga yang menjawab sejak kelas 2 sampai sekarang, kelas 1

saja bahkan ada yang terjadi semenjak SD sampai sekarang. Hal ini

menunjukkan bahwa bullying telah terjadi di SMP PIRI 1 Yogyakarta khususnya kelas 2 karena perilaku bullying sendiri telah terjadi berkelanjutan dan berulang.

2. Tempat-tempat terjadinya bullying

Tabel 5

Tempat-tempat bullying yang terjadi di lingkungan SMP PIRI 1 Yogyakarta

Tabel 5 menunjukkan tempat-tempat di lingkungan sekolah SMP PIRI

1 yang menjadi tempat terjadinya bullying yaitu kelas, depan kelas, halaman

No Tempat-tempat bullying terjadi Pelaku bullying Korban bullying f % f % 1 Kelas 110 63.6 129 67.5 2 Depan kelas 22 12.7 20 10.5 3 Kantin 6 3.5 9 4.7 4 Halaman sekolah 22 12.7 26 13.6 5 Toilet 8 4.6 5 2.6 6 Lorong sekolah 2 1.2 1 0.5 7 Dimana-mana

kalau ketemu teman 3 1.7 1 0.5

sekolah, toilet, kantin, lorong sekolah, dan dimana saja kalau ketemu teman. Sedangkan, tempat yang paling sering terjadi bullying adalah kelas yang masih merupakan salah satu tempat didalam pengawasan pihak sekolah.

3. Perbandingan jumlah korban dan pelaku bullying antara siswa putra dan putri

Tabel 6

Jawaban pernah/tidak menjadi korban bullying

Pernah/tidak Frekuensi %

Pria Wanita Pria Wanita

Pernah 77 63 55 45

Tidak 0 0 0 0

Jumlah Jawaban 140 100

Tabel 6 menunjukkan bahwa seluruh siswa-siswi kelas 2 SMP PIRI 1

yaitu sejumlah 77 siswa pria (55%) dan 63 siswi wanita (45%) menjawab

pernah menjadi korban bullying dari teman-teman sebayanya di lingkungan sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh siswa-siswi kelas 2 SMP PIRI 1

Yogyakarta pernah menjadi korban bullying dari teman-teman sebayanya di lingkungan sekolah.

Tabel 7

Jawaban pernah/tidak menjadi pelaku bullying

Pernah/tidak menjadi pelaku

bullying Pria Wanita Frekuensi % Frekuensi % Pernah 72 51.4 60 42.9 Tidak 5 3.6 3 2.1 Jumlah Jawaban 77 55 63 45

Dari tabel 7 di atas tampak bahwa dari 140 siswa-siswi kelas 2 SMP

PIRI 1 yang terdiri dari 77 siswa pria dan 63 siswa wanita, 72 siswa pria

(51,4%) dan 60 siswi wanita (42,9%) menjawab pernah menjadi pelaku

bullying kepada teman-teman sebayanya di sekolah. Hal ini menunjukkan,

hampir semua siswa-siswi kelas 2 SMP PIRI 1 mengaku pernah menjadi

pelaku bullying terhadap teman-teman sebayanya di lingkungan sekolah.

Tabel 8

Jenis kelamin pelaku bullying

No Pelaku bullying Frekuensi %

1 Teman sejenis 69 49.3 2 Teman berlawanan jenis 11 7.9

3

Teman sejenis dan berlawanan

jenis 60 42.9

Tabel 8 menunjukkan bahwa siswa-siswi yang pernah menjadi korban

bullying menjawab bahwa kebanyakan pelaku bullying adalah teman-teman

mereka yang berjenis kelamin sama dengan mereka, kemudian diikuti dengan

pelaku bullying adalah teman-teman mereka yang sejenis dan berlawanan jenis kelamin dengan mereka, sedangkan yang frekuensinya paling sedikit adalah teman-teman mereka yang berlawanan jenis kelamin dengan para korban

bullying.

4. Akibat bagi korban dan pelaku bullying

Tabel 9

Akibat terhadap korban bullying

No Akibat Frekuensi %

1 Tidak konsentrasi belajar 63 27.6 2 Tidak percaya diri 39 17.1 3 Takut ke sekolah 3 1.3 4 Mudah sensitif 22 9.6 5 Malas bersosialisasi 31 13.6 6 Cemas 14 6.1 7 Depresi 6 2.6 8 Prestasi menurun 15 6.6 9 Gelisah 18 7.9 10 Sakit fisik 11 4.8 11 Biasa saja 6 2.6 Jumlah Jawaban 228 100

Dari tabel 9 diperoleh jawaban yang paling banyak diberikan oleh

siswa-siswi kelas 2 SMP PIRI 1 mengenai akibat sebagai korban bullying adalah tidak konsentrasi belajar, dimana tidak konsentrasi belajar merupakan

salah satu dampak terhadap bidang akademis. Hasil penelitian diatas juga

menunjukkan bahwa yang termasuk dalam akibat penyesuaian sosial yang

buruk adalah tidak percaya diri, takut ke sekolah, prestasi menurun dan malas

bersosialisasi. Sedangkan, akibat berupa gangguan psikologis adalah mudah

sensitif, cemas, depresi, dan gelisah. Korban bullying juga merasakan dampak berupa sakit fisik. Disamping beberapa akibat negatif yang dialami korban,

ada juga korban yang menganggap biasa saja terhadap perilaku bullying yang mereka alami.

Tabel 10

Reaksi perasaan korban bullying

No Perasaan Frekuensi % 1 Marah 127 40.70 2 Sakit Hati 66 21.2 3 Ingin membalas 1 0.3 4 Sebal 49 15.7 5 Sedih 34 10.9 6 Kecewa 19 6.1 7 Ingin mengadu 10 3.2 8 Ingin Memukul 3 1.0 9 Sabar 3 1.0 Jumlah jawaban 312 100

Tabel 10 di atas menunjukkan bahwa reaksi perasaan siswa-siswi kelas

2 SMP PIRI 1 saat mengalami bullying oleh teman-teman sebayanya di lingkungan sekolah sangat bervariasi, yaitu sakit hati, marah, sebal, sedih,

kecewa, ingin mengadu, ingin memukul, sabar, dan ingin membalas. Akan

tetapi diperoleh jawaban reaksi perasaan yang paling banyak dialami oleh

korban bullying adalah perasaan marah.

Tabel 11

Akibat sebagai pelaku bullying

No Akibat Frekuensi %

1 Hubungan dengan teman jadi kurang

baik 72 45.3

2 Marahan dengan teman 20 12.6 3 Jadi lebih emosian 13 8.2 4 Lebih sering dibalas dikerjain 39 24.5

5 Biasa saja 15 9.4

Jumlah Jawaban 159 100

Dari tabel 11 dapat dilihat sebagian besar siswa-siswi kelas 2 SMP

PIRI 1 Yogyakarta yang menjadi pelaku bullying menjawab bahwa akibat sebagai pelaku bullying berhubungan dengan kurang bisa melakukan penyesuaian sosial yang baik seperti hubungan dengan teman menjadi kurang

baik, marahan dengan teman, dan lebih emosian. Selain itu, pelaku juga

merasakan akibat sebagai pelaku bullying mereka jadi lebih sering dibalas dikerjaiin oleh teman-temannya. Disamping beberapa dampak negatif yang

dirasakan pelaku, ada beberapa siswa-siswi yang menjadi pelaku bullying menjawab biasa saja terhadap akibat melakukan bullying.

5. Pendapat korban mengapa menjadi korban bullying

Tabel 12

Pendapat dari korban mengapa menjadi korban bullying

No Pendapat f %

1 Iseng-iseng saja 40 21.1 2 Karena saya jahil duluan 18 9.5 3 Ada yang sebal terhadap saya 27 14.2 4 Teman-teman iri kepada saya 10 5.3 5 Karena saya pernah salah bicara 16 8.4 6 Teman-teman saya memang jahil 78 41.1 7 Karena tidak diberi contekan 1 0.5

Jumlah Jawaban 190 100

Tabel 12 menunjukkan bagaimana pendapat siswa-siswi kelas 2

SMP PIRI 1 yang menjadi korban bullying oleh teman-teman sebayanya di lingkungan sekolah sangat beragam. Kebanyakan dari mereka

menganggap bahwa teman-teman mereka memang jahil, sehingga

kebanyakan dari pelaku sengaja melakukan bullying. Pendapat lain yaitu teman-teman mereka hanya iseng saja, ada yang sebel terhadap mereka,

karena korban jahil duluan sedangkan yang paling sedikit frekuensinya

6. Alasan pelaku melakukan bullying

Tabel 13

Alasan melakukan bullying

No Alasan melakukan bullying Frekuensi %

1 Iseng saja 86 62.8

2 Tidak ada kerjaan 12 8.8 3 Balas dendam 19 13.9 4 Pelampiasan 18 13.1

5 Sakit Hati 2 1.5

Jumlah 137 100

Dari Tabel 13 di atas terlihat beberapa alasan siswa-siswi

kelas 2 SMP PIRI 1 yang menjadi pelaku bullying terhadap teman-teman sebayanya di lingkungan sekolah, yaitu mereka menganggap

tidak ada kerjaan sehingga melakukan bullying, sebagai perbuatan balas dendam dan pelampiasan karena mendapat perlakuan yang

sama dari teman-temannya dan karena sakit hati. Sedangkan,

alasan yang paling banyak adalah karena pelaku bullying hanya iseng-iseng saja ketika melakukan bullying.

Dokumen terkait