DAFTAR PUSTAKA
B. KAJIAN PUSTAKA
1. Hasil Penelitian Terdahulu
Penelitian Neliyanti dan Heriyanto tentang evaluasi program pemberdayaan
33 | Supriyanto
masyarakat pesisir melalui kridit mikro di Dumai menjelaskan bahwa pelaksana- an pengelolaan pemberdayaan masyara- kat pesisir belum memenuhi indicator keberhasilan yang diharapkan. Indikator yang dimaksud adalah efektifitas, efesien- si, kecukupan, pemerataan, responsivitas, dan ketepatan yang masih terdapat banyak kekuarangan.
Akibatnya peningkatan pendapat- an masyarakat nelayan yang diharapkan dari program ini belum tercapai. Hasil penelitian ini memberikan petunjuk awal perlunya perbaikan dan penyempurnaan model pemberdayaan yang dilakukan terhadap pemberdayaan ekonomi masya- rakat pesisir. Perbaikan yang dimaksud meliputi perbaikan sumber daya penge- lola kegiatan, perbaikan terhadap model pembinaan masyarakat.
Penelitian Miraza tentang imple- mentasi pemberdayaan ekonomi masya- rakat pesisir di Tanjungpura Langkat menjelaskan bahwa implentasi pember- dayaan ekonomi masyarakat pesisir belum tepat sasaran dan belum tepat dalam penggunaan dananya. Penelitian ini juga menjelaskan bahwa terjadi keterlambatan dalam pengembalian dana pada pengelola. Didapati pula peng- gunaan dana belum sepenuhnya diguna- kan untuk kepentingan produktif seperti membeli peralatan produksi perikanan.
Penelitian Indarti dan Wardana tentang metode pemberdayaan masya- rakat pesisir melelui penguatan ke- lembagaan di wilayah pesisir Kota Semarang menemukan model pember- dayaan ekonomi masyarakat pesisir seperti berikut ini.
Gambar 2. Model Pemberdayaan Masyarakat Pesisir oleh Indarti dan Wardana (2013)
34 | Supriyanto
Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Trisbiantoro, Madyowati dan Trisyani tentang model pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir Watulimo Trenggalek. Hasil penelitian ini menemu- kan profil masyarakat pantai yang berpendapatan rendah, berpendidikan rendah, miskin akses dan lingkungan, sehingga model yang cocok untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat pantai Watulimo adalah model BAREV yakni model bagi hasil yang digabung dengan revolving atau perguliran.
Fedriansyah juga melakukan pe- nelitian tentang evaluasi kinerja program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir di Tugu Semarang. Hasil penelitian ini menemukan beberapa hal diantaranya : (1) sosialisasi kegiatan pemberdayaan dirasakan kurang oleh masyarakat setempat; (2) system kredit pada lembaga keuangan mikro yang menggunakan jaminan menyulitkan masyarakat yang riil membutuhkan bantuan modal; (3) lembaga keuangan koperasi masih dianggap sebagai lem- baga yang menakutkan karena masyara- kat enggan berhubungan dengan bank; (4) benefit program belum memberikan hasil kepada masyarakat karena minim- nya kegiatan pendampingan program; (5) impact program terhadap penguatan kelembagaan belum optimal karena masyarakat menganggap syarat keanggo- taan pada lembaga keuangan mikro masih berat.
Berdasarkan hasil penelitian se- belumnya ini maka dapatlah ditarik garis
lurus tentang perlunya suatu perbaikan pendekatan dan model pemberdayaan terhadap masyarakat pesisir. Beberapa hasil penelitian terdahulu memberikan informasi mendasar tentang hal-hal berikut:
1. Pemberdayaan masyarakat pantai atau masyarakat pesisir masih belum sepenuhnya berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. 2. Pemberdayaan ekonomi masyarakat
masyarakat pantai belum sepenuh- nya melibatkan masyarakat setempat dalam perencanaan, pengorganisasi- an dan pelaksanaan sehingga belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat.
3. Perlunya perbaikan model pember- dayaan agar hasil kegiatan pember- dayaan di bidang ekonomi sesuai dengan karakter keruangan masya- rakat setempat.
4. Masyarakat pesisir digambarkan masih miskin, berpendidikan rendah, memiliki akses ekonomi yang terbatas dan memerlukan pendam- pingan dengan model yang tepat. 5. Model pemberdayaan yang digagas
oleh pihak luar, belum dapat diterima oleh masyarakat setempat bahkan dipandang memberatkan, sehingga perludikembangkan model alternatif. 2. Kajian Teoritis
a. Kajian Geografi Sosial
Secara umum Geografi Sosial adalah ilmu yang menjelaskan mengenai interaksi antara manusia dengan ling-
35 | Supriyanto
kungan sosialnya yaitu manusia lain maupun kelompok manusia yang ada disekelilingnya Maksudnya, manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder pasti akan meman- faatkan lingkungan sekitarnya. Beberapa pengertian geografi sosial menurut para ahli, yaitu: Watson (1957) dalam Daljoeni menyatakan bahwa geografi sosial adalah suatu identifikasi daerah (region) yang berdasarkan himpunan gejala sosial hubungannya dengan lingkungan secara keseluruhan. Sedangkan Eyless13 (1974) dalam Bintarto (1977) menjelaskan bahwa: Geografi sosial sebagai analisis pola dan proses sosial yang timbul dari persebaran dan keterjangkauan sumber daya yang langka. Bintarto menjelaskan bahwa geografi sosial adalah ilmu yang mempelajari hubungan dan pengaruh timbal balik antara penduduk dengan keadaan alam demi kemakmuran dan kesejahteraan.
Bintarto menjelaskan ada 3 konsep dalam geografi sosial, yaitu ruang, proses, dan pola. Secara geografis, ruang adalah seluruh permukaan bumi yang merupakan lapisan biosfer, tempat hidup bagi makhluk hidup baik manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan maupun organisme lainnya. Dalam geografi sosial, ruang mempunyai makna yang men- dalam, yaitu: (a) Sebagai tempat atau wadah dari benda-benda atau perilaku, (b) Sebagai tempat yang dapat digunakan untuk melaksanakan kegiatan usaha, (c)
Sesuatu yang dapat diatur dan diman- faatkan oleh dan untuk manusia.
Proses adalah tindakan manusia dalam beradaptasi dan memanfaatkan lingkungan. Proses terbagi atas dua yaitu: secara makro dan mikro. Proses sosial yang bersifat mikro yaitu menekankan pada kegiatan individu dan kelompok masyarakat, contohnya perpindahan rumah seseorang dari satu tempat ke tempat yang lain. Sedangkan proses makro yaitu proses yang menekankan pada masyarakat secara umum, contohnya terjadinya migrasi, transmit- grasi, urbanisasi, gelombang pengungsi dan sebagainya.
Pola adalah proses yang terjadi berulang-ulang, dalam hal ini adalah pola kehidupan dan penghidupan yang berbeda antara satu tempat dengan tempat dengan tempat lainnya yang mencerminkan perbedaan sifat daerah dan penduduknya sehingga akan terwujud bentang sosial yang berbeda.
Dalam geografi sosial terdapat pula konsep bentang sosial. Bentang sosial adalah sekelompok penduduk atau beberapa kelompok penduduk yang hidup dalam suatu wilayah atau tempat tertentu dan mempunyai gagasan yang sama terhadap lingkungannya. Dalam wilayah yang lebih luas, dengan kondisi geografi yang berbedabeda, terjadilah bermacam-macam kegiatan baik sosial ekonomi maupun sosial kultural, sehingga terbentuklah struktur kegiatan atau pekerjaan. Struktur pekerjaan ini mencerminkan nilai-nilai sosial. Sebalik-
36 | Supriyanto
nya nilai-nilai sosial kelompok pekerjaan merupakan kekuatan atau menjadi unsur perubahan yang dapat menimbulkan diferensiasi bentang di darat. Dengan demikian akan timul bentang budaya atau cultural landscape, yang semua ini mencerminkan tingkat kemajuan (development stage) dari penduduk. Ciri- ciri geografi sosial itu adalah: (a) kepribadian daerah itu merupakan hasil cara masyarakat mengeksploitasi sumber daya alam; (b) masyarakat bereaksi terhadap habitatnya; (c) manusia meng- organisasi dirinya sendiri dan ber- interaksi dengan sesamanya. Berdasarkan uraian diatas, maka kegiatan pember- dayaan ekonomi pada masyarakat pesisir tidak dapat dilepaskan dari ilmu geografi sosial yang menjadi bagian integralnya. b. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir
Tujuan yang ingin dicapai dari pemberdayaan adalah untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi man- diri. Sedangkan untuk menjadi mandiri, menurut Suryono masyarakat yang di- berdayakan perlu mendapat dukungan sumber daya manusia yang utuh dengan beberapa kondisi kemampuannya, yaitu: 1. Kemampuan kognitif, pada hakekat-
nya merupakan kemampuan berpikir yang dilandasi oleh pengetahuan dan wawasan seorang atau masyarakat dalam rangka mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi,
2. Kemampuan afektif, merupakan sense
yang dimiliki oleh masyarakat yang
diharapkan dapat diintervensi untuk mencapai keberdayaan dalam sikap dan perilaku,
3. Kemampuan konatif, merupakan suatu sikap perilaku masyarakat yang terbentuk dan diarahkan pada peri- laku yang sensitif terhadap nilai-nilai pembangunan dan pemberdayaan, 4. Kemampuan psikomotorik, merupa-
kan kecakapan-ketrampilan yang dimiliki oleh masyarakat sebagai upaya pendukung masyarakat dalam rangka melakukan aktivitas pem- bangunan sebagai proses belajar yang tidak pernah berakhir.
Dari modal kemandirian dan kemampuan inilah, diharapkan tercipta tahapan kondisi lain, misalnya : (1) Tahap penyadaran (niat) dan pembentukan prilaku menuju prilaku sadar dan peduli sehingga merasa membutuhkan pening- katan kapasitas diri. (2) Tahap trans- formasi kemampuan berupa wawasan pengetahuan, kecakapan-keterampilan agar terbuka wawasan dan memberikan keterampilan dasar sehingga dapat mengambil peran dalam pembangunan. (3) Tahap peningkatan kemampuan intelektual, kecakapan keterampilan sehingga terbentuklan inisiatif dan kemampuan inovatif untuk mengantar- kan pada kemandirian.
Persyaratan lain yang perlu diperhitungkan dalam proses pem- berdayaan masyarakat agar dapat terlaksana dengan baik menurut Suryono17 adalah apabila konsep atau model pengembangan program pem-
37 | Supriyanto
berdayaan masyarakat tersebut: (a) dapat memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, sehingga masyarakat memiliki kebebasan (freedom) yaitu untuk bebas mengemuka- kan pendapat, bebas dari kelaparan, kebodohan, dan kesakitan, (b) dapat menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan mem- peroleh barang dan jasa yang mereka perlukan, dan (c) dapat melibatkan masyarakat (berpartisipasi) dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.
Dengan demikian, berkaitan dengan konsep pemberdayaan masya- rakat, Suryono menyatakan bahwa inti dari pemberdayaan meliputi 3 (tiga) hal, yaitu: pengembangan (enabling), mem- perkuat potensi atau daya (empowering), dan terciptanya kemandirian (autonomy). Hal tersebut berarti bahwa pem- berdayaan tidak saja terjadi pada masyarakat yang tidak memiliki ke- mampuan, akan tetapi juga bias terjadi pada masyarakat yang memiliki daya yang masih terbatas, dan dapat dikembangkan hingga mencapai keman- dirian.
Sedangkan pemberdayaan eko- nomi masyarakat pesisir menurut Supriyanto19 adalah usaha orang-orang pesisir menganalisis kondisi ekonomi yang dialami, menentukan kebutuhan ekonominya dan oportunitas yang tidak terpenuhi, memutuskan apa yang bisa dan harus dilakukan untuk mengem- bangkan kondisi ekonomi dalam ling-
kungannya, lalu bergerak bersama mencapai kesepakatan tujuan dan sasaran ekonomi. Pemberdayaan ekonomi masya- rakat pesisir adalah bagian tak terpisah- kan dari pemberdayaan ekonomi komunitas secara keseluruhan. Karena itu teori yang dapat digunakan untuk mem- bantu memberikan alur pikir adalah teori ekonomi pembangunan, teori pem- bangunan ekonomi komunitas dan secara lebih spesifik adalah teori pemberdayaan masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Bagian ini akan mengemukakan secara berturut-turut mengenai pembangunan sektor ekonomi, pembangunan ekonomi komunitas, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.