• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Penelitian Terdahulu

Dalam dokumen Oleh : DEWI RESKY AMALIA (Halaman 45-0)

Perempuan dan Anak)

yang sudah berjalan dan

untuk perempuan dan

6 Supriyati 2010 Early Prevention Toward Sexual Abuse

nya, ketakutan terlibat

untuk menjadi korban

disadari maupun tanpa

Dapat disimpulkan bahwa yang menjadi pembeda antara penelitian yang akan dilakukan dengan penelitian yang sudah ada yaitu penelitian yang akan dilakukan yang berfokus pada efektivitas pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak menggunakan teori pengukuran efektivitas yang

dikemukakan oleh Duncan yaitu pencapaian tujuan, integrasi, dan adaptasi, sedangkan penelitian yang sudah ada menggunakan teori yang berbeda.

38 BAB III

METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif dimanadalam penelitian yang dilakukan hanya bersifat Deskriptif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti sehingga memudahkan penulis untuk mendapatkan data yang objektif dalam rangka mengetahui dan menganalisis Kinerja Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak Dalam Menangani Kekerasan Seksual di Kabupaten Bantaeng.

B. Lokasi Penelitian

Adapun lokasi penelitian ini yaitu di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bantaeng.

C. Tipe dan Dasar Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah Deskriptif kualitatif, yaitu memberikan gambaran, penjelasan yang tepat secara objektif tentang keadaan sebenarnya dari objek yang diteliti. Dasar penelitiannya adalah wawancara kepada narasumber/informan yang berisi pertanyaan- pertanyaan mengenai hal yang berhubungan dengan rumusan masalah penelitian.

D. Fokus Penelitian

Dalam fokus penelitian ini adalah organisasi. yaitu pada Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Kabupaten Bantaeng dimana berfokus pada prestasi kerja atau Kinerja Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) pada kasus kekerasan perempuan dan anak di Kabupaten Bantaeng.

E. Informan Penelitian

Informan merupakan orang-orang yang berpotensi untuk memberikan informasi tentang bagaimana kinerja Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak di Kabupaten Bantaeng.

Informan dalam penelitian yang berhubungan dengan Kinerja Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Kabupaten Bantaeng adalah :

a. Ketua Umum P2TP2A

Dalam penelitian kualitatif, pertimbangan utama pengumpulan data adalah informasi orang dalam. Penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah populasi, dan teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel yang disengaja. Tujuan pengambilan sampel adalah teknik pengambilan sampel. Informan penelitian mencakup berbagai jenis, seperti informan kunci, informan utama, dan informan tambahan.

F. Jenis dan Sumber Data Jenis Data

Jenis data yang digunakan didalam penelitian ini berupa data teks/tulisan, data statistik, data gambar dan kata-kata tertulis berupa hasil wawancara.

Sumber Data.

a. Data primer diperoleh dari hasil wawancara maupun observasi secara langsung yang dilakukan oleh peneliti di P2TP2A Kabupaten Bantaeng.

b. Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung, data sekunder pada penelitian ini diperoleh dari berita harian, maupun data dari instansi terkait.

G. Instrumen Penelitian

Dalam menyelenggarakan pelayanan terhadap korban, pemerintah daerah sesuai dengan fungsi dan tugas masing-masing melakukan upaya penyediaan unit pelayanan perempuan dan anak, penyediaan aparat, tenaga kesehatan, pekerja sosial, Pembuatan dan pengembangan sistem dan mekanisme kerja sama program pelayanan yang melibatkan pihak yang mudah diakses oleh korban dan memberikan perlindungan bagi pendamping,saksi, dan keluarga. Oleh karena itu proses pelayanan pemberdayaan perempuan dan anak harus diperlukan konsistensi secara maksimal dalam memberikan pelayanan terhadap korban kasus tersebut.

H. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini jenis data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Untuk mengumpulkan data primer dan data sekunder peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data yaitu :

1. Data Primer...

Data asli adalah data yang diperoleh dari sumber data asli atau sumber data pertama di lapangan. Data utama diperoleh dengan cara berikut:

a. Observasi, peneliti terlibat langsung dalam kegiatan sehari-hari orang yang diamati atau digunakan sebagai sumber data penelitian atau melalui pengamatan langsung terhadap orang yang mengumpulkan data.

b. Wawancara, yaitu dialog tanya jawab yang dilakukan dengan mengumpulkan data dengan yang diwawancarai, sehingga yang diwawancarai dapat memberikan informasi dan data yang diperlukan untuk penyelidikan (Siagian, 2011: 207).

c. Dokumen yang tersusun dari dokumen-dokumen yang berkaitan dengan era penelitian literatur, dapat berasal dari kelompok pemberdayaan komprehensif, dapat berasal dari informan kunci, informan utama, atau informan tambahan.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui:

a. Studi kepustakaan, yaitu proses memperoleh data atau informasi yang menyangkut masalah yang akan diteliti melalui buku dan karya tulis lainnya.

b. Studi lapangan adalah pengumpulan data atau informasi melalui kegiatan penelitian langsung turun ke lokasi penelitian untuk mencari fakta - fakta yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

I. Teknik Analisis Data

Untuk menghasilkan dan memperoleh data yang akurat dan objektif sesuai dengan apa yang menjadi tujuan dalam penelitian, maka data yang diperoleh dari lokasi baik data primer maupun data sekunder. Analisis data adalah proses sistematis mencari dan menyusun data yang diperoleh dari wawancara, catatan lapangan, dan bahan lain untuk memahami data ini dan menginformasikan kepada orang lain tentang hasilnya. (Bogdan Dalam Sugiyono, 2003:169). Telah disusun dan disajikan serta dianalisis dengan menggunakan deskriptif kualitatif berupa pemaparan yang kemudian dianalisis dan dinarasikan sesuai masalah peneliti.

J. Teknik Keabsahan Data

Setelah memperoleh data dari lapangan lalu data yang telah diperoleh harus diuji keabsahannya. Guna tercapainya tujuan yang diinginkan dalam penelitian, maka dalam penelitian ini perlu adanya kalibrasi tentang keabsahan data dengan menggunakan teknik :

1. Triangulasi

Triangulasi merupakan sebuah teknik pemeriksaan data dengan cara menggabungkan yang telah ada. Dengan menggunakan teknik triangulasi maka penulis dapat melakukan usaha pengecekan kebenaran data atau informasi yang diperoleh peneliti dari berbagai sudut pandang yang berbeda dengan cara mengurangi terjadinya bias pada saat pengumpulan data.

2. Expert opinion

Dalam penelitian ini diperlukan informasi dari pendapat ahli untuk membuat keputusan agar data yang dihasilkan memiliki kekuatan.

3. Member Check

Pengecekan anggota merupakan teknik pengumpulan data dengan cara pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam pengumpulan data.

4. Catatan Lapangan

Catatan lapangan dalam teknik kalibrasi ini maksudnya adalah penelitian inipun di dasari pada catatan tertulis tentang apa saja yang didengar, dilihat, dialami, dan dipikirkan. Adapun sistematika catatan lapangan terdiri atas waktu penelitian dan isi wawancara serta studi dokumentasi.

K. Etika Penelitian

Etika penelitian adalah standar tata perilaku penelitian selama melakukan penelitian dan menyusun desain penelitian, mengumpulkan data lapangan

( melakukan wawancara, observasi dan pengumpulan data dokumen ).

Adapun etika penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini yaitu :

1. Peneliti meminta izin terlebih dahulu kepada Petugas atau Pelaksana yang terkait apa yang akan dilakukan selama proses penelitian.

2. Meminta izin terlebih dahulu kepada calon informan untuk melakukan wawancara dan menjelaskan tujuan penelitian ini dilakukan.

3. Meminta izin kepada informan ketika akan melakukan wawancara sambil observasi dan mengumpulkan dokumentasi melalui kamera atau HP.

4. Menjaga kerahasiaan informan jika informan merasa sensitif.

5. Menghargai setiap yang dilakukan informan selama proses penelitian.

L. Teknik Penentuan Informan

Dalam penelitian kualitatif ini, teknik penentuan informan yang digunakan oleh penyusun adalah teknik purposive sampling, yakni teknik yang digunakan untuk mengambil sampel yang didasarkan atas tujuan tertentu, melakukan wawancara kepada seseorang yang dipandang mengetahui situasi tertentu. Adanya informasi ini dibutuhkan untuk mengetahui bagaimana pemenuhan hak anak dan perempuan di UPT P2TP2A Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak di Kabupaten Bantaeng.

45 BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Wilayah

Bantaeng bermula dari kata bantaya yaitu berarti tempat pembantaian hewan bahkan manusia pada zaman dahulu. Prof. Mattulada dalam buku Propan Candi zaman majapahit sebagai salah satu kerajaan di Sulawesi di abad XIII. Nama Bantayan berubah menjadi Bontain pada zaman pemerintah Belanda. Kabupaten Bantaeng adalah satu dari 28 dan Kota di Sulawesi Selatan. Daerah ini membentang dari barat ke timur pada bagian jazirah selatan provinsi Sulawesi Selatan, daerah ini berada pada posisi 521’13’ samapai 5’3526’ lintang selatan dan 11951’42’ sampai 120’0527 bujur timur dengan luas wilayah 539,83 km2.

Ibu kota Kabupaten Bantaeng terletak sekitar 123 km2 arah selatan Kota Makassar. Terbagi atas 8 kecamatan, 41 Daerah dan 21 Kelurahan dengan jumlah penduduk 178.699 jiwa.

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Bantaeng

Letak Geografis Kabupaten Bantaeng yang strategis memiliki alam tiga alam dimensi, yakni bukit pegunungan, lembah daratan dan pesisir pantai dengan dua musim iklim di daerah ini tergolong iklim tropis basah dengan curah hujan tahunan rata rata setiap bulan 14 mm. Dengan adanya kedua musim tersebut sangat menguntungkan bagi sektor pertanian.

Upaya pemenuhan sarana dan prasarana kehidupan beragama pada dasarnya merupakan tanggung jawab masyarakat, karena pemerintah juga mempunyai tanggung jawab atas pembinaan kehidupan beragama dalam masyarakat, maka pemerintah telah memberikan bantuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut.

Kabupaten Bantaeng terletak di bagian selatan Sulawesi Selatan dengan jarak tempuh dari Kota Makassar sekitar 123 km dengan waktu tempuh antar 2,5 jam.

B. Letak Geografis dan Administratif

Kabupaten Bantaeng dengan ketinggian antara 100-500 M dari permukaan laut merupakan wilayah yang terluas atau 29,6 persen dari luas wilayah seluruhnya, dan terkecil adalah wilayah dengan ketinggian dari permukaan laut 0-25 M atau hanya 10,3 persen dari luas wilayah. Batasan Wilayahnya :

Sebelah Barat : Kabupaten Jeneponto Sebelah Timur : Kabupaten Bulukumba

Sebelah Utara : Kabupaten Gowa dan Bulukumba.

Sebelah Selatan : Laut Flores

Gambar 4.2 Letak Geografis

Kabupaten Bantaeng terletak di daerah pantai yang memanjang pada bagian barat ke timur kota yang salah satunya berpotensi untuk perikanan, dan wilayah daratannya mulai dari tepi laut Flores sampai ke pegunungan sekitar Gunung Lompobattang dengan ketinggian tempat dari permukaan laut 0-25 m sampai dengan ketinggian lebih dari 1.000 m di atas permukaan laut.

Untuk lebih jelasnya mengenai pembagian wilayah administratif dapat dilihat pada tabel 1 dan peta administratif Kabupaten Bantaeng.

Tabel 4.1 Pembagian Wilayah Administratif di Kabupaten Bantaeng Tahun 2017

NO. KECAMATAN LUAS WILAYAH PERSENTASE (%)

1 Bissappu 32,84 8,30

2 Uluere 67,29 17

3 Sinoa 43,00 10,86

4 Bantaeng 28,85 7,29

5 Eremerasa 45,01 11,37

6 Tompobulu 76,99 19,45

7 Pa’jukukang 48,90 12,35

8 Gantarangkeke 52,95 13,38

Jumlah 395,83 100

Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa yang mempunyai persentase luas wilayah tertinggi yaitu Kecamatan Tompobulu dengan persentase 10,86%

sedangkan wilayah yang memiliki persentase luas wilayah terkecil yaitu Kecamatan Bantaeng dengan presentase 7,29%.

C. Sejarah Unit Pelayanan Terpadu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak ( P2TP2A )

Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sulawesi Selatan dibentuk sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Kelembagaan Daerah

Struktur Organisasi Provinsi Sulawesi Selatan. Kantor Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan.

D. Program, Visi Misi dan Tujuan Unit Pelayanan Terpadu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

Program

Peningkatan Perlindungan Hak Perempuan dan Anak diwujudkan melalui layanan..yang diberikan.

Visi

Terwujudnya Kesetaraan Gender, Perlindungan Perempuan dan Anak serta peningkatan Kesejahteraan Keluarga bagi aparat dan publik

Misi

1. Meningkatkan kapasitas kelembagaan di Bidang Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dan Kesejahteraan Keluarga.

2. Membangun jaringan kerja di Bidang Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dan Kesejahteraan Keluarga.

3. Meningkatkan Kesadaran Masyarakat di Bidang Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dan Kesejahteraan Keluarga.

E. Struktur Unit Pelayanan Terpadu Pusat Pelayanan Pemberdayaan Perempuan dan Anak ( UPT P2TP2A )

Struktur organisasi dapat dijadikan petunjuk untuk saling berhubungan membentuk suatu jaringan. Dengan adanya struktur organisasi maka seluruh bagian organisasi dapat mengalihkan wewenang tanggung jawab dan hubungan serta prosedur. Selain itu, struktur organisasi juga berguna untuk menjaga

loyalitas di tempat kerja, karena organisasi yang tidak terstruktur tanpa gambaran yang lebih menyimpang dapat menyebabkan seseorang langsung dipecat.

Prosedur kerja yang dilakukan oleh Kelompok Peduli Komprehensif Care Center Pemberdayaan Perempuan dan Anak (UPT P2TP2A). Dan dapat melihat pada grafik di bawah ini.

Kepala UPT dibantu : a. Sub Bagian Tata Usaha b. Seksi Pelayanan

c. Seksi Koordinasi dan Kerjasama

F. Kedudukan, Tugas dan Fungsi P2TP2A 1. Kedudukan

P2TP2A Kabupaten Bantaeng, merupakan lembaga pemerintah yang berkedudukan setingkat dengan Lembaga-Lembaga Pemerintah dan atau komisi-komisi yang tlah ada, dan dibentuk berdasarkan : (a) Surat Keputusan bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan RI No. 14/Men PP/Dep.V/X/2002 Dan berdasarkan peraturan Gubernur nomor 31 tahun 2009 Tentang Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak.

2. Tugas

P2TP2A Kabupaten Bantaeng mempunyai tugas membantu masyarakat dan Pemerintah mengkoordinasikan kegiatan Operasional P2TP2A dalam upaya meningkatkan kualitas hidup dan perlindungan terhadap Perempuan dan Anak.

a. Memberikan layanan kepada masyarakat khususnya perempuan dan anak dengan menjunjung tinggi aspek-aspek Hak Asasi Manusia (HAM)

Perlindungan, Pemberdayaan dan Peningkatan kualitas hidup perempuan dan anak.

b. Penanganan pengaduan dan pendampingan perempuan dan anak korban kekerasan

c. Memfasilitasi rehabilitasi sosial bagi perempuan dan anak korban kekerasan.

d. Mendorong dan mengembangkan peran serta masyarakat terutama yang tergabung dalam organisasi kemasyarakatan, sebagai upaya peningkatan peran perempuan dalam segala pembangunan.

e. Dalam melaksanakan tugas P2TP2A Kabupaten Bantaeng dapat bekerja sama dengan instansi pemerintah, Organisasi Masyarakat, para ahli, Badan Internasional dan pihak-pihak yang dipandang perlu.

3. Fungsi

P2TP2A Kabupaten Bantaeng mempunyai fungsi-fungsi sebagai berikut;

a. Fungsi Pengkoordinasian meliputi kegiatan :

b. Pengkoordinasian antara unsur pemerintah dan unsur masyarakat

c. Pengkoordinasian antara P2TP2A Kabupaten Bantaeng dengan Provinsi dan Kota

d. Pengkoordinasian antara P2TP2A Kabupaten Bantaeng dengan Organisasi Kemasyarakatan, Organisasi Sosial, Lembaga Swadaya Masyarakat serta pihak-pihak lain yang dipandang perlu.

Fungsi Pengkajian dan Penelitian meliputi kegiatan :

a. Pengkajian berbagai instrumen Peraturan Perundang-undangan yang menyangkut perlindungan Perempuan dan Anak dan Hak Asasi Manusia.

b. Penelitian segala peristiwa dan permasalahan yang menyangkut dan menimpa Perempuan dan Anak dan Hak Asasi Manusia.

c. Studi Kepustakaan, studi lapangan serta studi banding mengenai program peningkatan kesejahteraan Perempuan dan Anak.

Selanjutnya, untuk lebih memudahkan unit layanan P2TP2A dalam menjalankan tugas dan fungsinya, maka perlu ditetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP). SOP ini disusun dengan menggunakan pendekatan dan berorientasi pada pemenuhan hak hak perempuan dan anak korban kekerasan.

Selain itu, SOP juga disusun dengan memperhatikan peningkatan kualitas pelayanan dari petugas pelayanan.

G. Kondisi Umum Tentang Petugas Kepala UPT mempunyai uraian tugas :

a. Menyelenggarakan Semacam Mengevaluasi dan mengkoordinasikan rencana dan proyek UPT

b. Mengatur dan melaksanakan tugas pengelolaan keuangan.

c. Melaksanakan untuk pengendalian manajemen anggaran

d. Manajemen dan pengembangan manajemen keuangan organisasi e. Semacam. Menyelenggarakan penyusunan rencana strategis f. Rencana kerja, dan laporan informasi pelaporan kinerja (LK).

g. Badan Penanggung Jawab Bulu (LKPJ) dan Laporan Pelaksanaan Pemerintah Daerah (LPPD), UPT.

h. Derajat Celcius Mengatur kepengurusan dan menyiapkan dokumen resmi.

i. Hari untuk menyelenggarakan fasilitas pelayanan umum dan pelayanan paling sedikit

j. Menyelenggarakan pelayanan yang komprehensif bagi perempuan dan anak korban kekerasan.

k. Cara Menyelenggarakan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di segala bidang pembangunan.

l. Mengatur dan mengkoordinasikan unit terkait; jam. Menyelenggarakan pembelian, pemeliharaan, penataan, orientasi dan pengelolaan urusan rumah tangga dan perlengkapan/peralatan kantor

m. Melaksanakan tugas lain sesuai dengan tanggung jawab dan fungsinya. Bab mengatur fasilitas pelayanan publik dan pelayanan minimal. ribu.

n. Melakukan review karyawan sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan. liter. Organisasi dan penyelenggaraan rapat internal UPT

Untuk tugas,fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3), Kepala UPT dibantu :

e. Sub Bagian Tata Usaha f. Seksi Pelayanan

g. Seksi Koordinasi dan Kerjasama.

H. Alur pelayanan UPT P2TP2A Provinsi Sulawesi Selatan.

Alur Pelayanan Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

Pengaduan

Langsung UPT P2TP2A Rujukan

Identitas Kasus

I. Keadaan Sosial Ekonomi

Peningkatan Produktivitas Ekonomi Perempuan yang selanjutnya disebut PPEP adalah program strategis peningkatan kualitas hidup dan pemenuhan hak ekonomi perempuan melalui peningkatan produktivitas ekonomi perempuan dalam mengurangi beban biaya kesehatan dan pendidikan keluarga miskin.

Pemberdayaan ekonomi perempuan merupakan usaha yang membutuhkan interaksi yang sederajat dan saling menguntungkan sesuai fungsi dan potensinya masing-masing dari aktor-aktor pemberdayaan perempuan yang diberdayakan.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak melalui P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak) merupakan sebuah lembaga pemerintah berbasis masyarakat yang bersentuhan langsung dengan perempuan korban kekerasan, yang memiliki kewajiban moral untuk turut serta memerangi dan menanggulangi faktor-faktor penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan.

Pelaksanaan program pemberdayaan ekonomi bagi perempuan korban kekerasan merupakan bentuk kepedulian dari pemerintah dalam memberdayakan perempuan di bidang ekonomi. Program yang juga berupaya untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi perempuan korban kekerasan dengan memberikan keterampilan dan peralatan bantuan seperti peralatan jahit, peralatan salon, peralatan memasak dan lain sebagainya sesuai dengan jenis keterampilan yang diberikan. Program pemberdayaan ekonomi bagi perempuan korban kekerasan, mempunyai tujuan salah satunya adalah mempersiapkan perempuan korban

kekerasan dalam proses reintegrasi sosial atau kembali ke masyarakat dengan tidak menjadi beban.

J. Keadaan Pendidikan

Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi menimpa berbagai kalangan dan lintas status, baik status sosial, ekonomi, maupun tingkat pendidikan baik pelaku maupun korban berasal dari tingkat pendidikan yang beragam. Fakta ini tentunya menjadi hal yang sangat memperhatikan kondisi ini akhirnya memberikan gambaran kepada kita semua bahwa tingginya tingkat pendidikan tidak serta merta mampu mendorong pemahaman responsif gender dan perlindungan perempuan dan anak.

Dimana keadaan pendidikan dalam kasus kekerasan ini terhadap anak sangatlah penting keberadaan nya, dimana pendidikan nilai untuk mencegah kekerasan seksual di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Dari berbagai studi diketahui bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak dapat terjadi dalam aneka bentuk, mulai dari kata-kata tertulis maupun lisan dan gerak tubuh hingga kontak fisik yang tidak diinginkan.

57 BAB V

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

Bab ini menganalisis mengenai data-data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan di lapangan melalui wawancara langsung mendalam dan observasi langsung, Melalui penelitian yang dilakukan, penelitian berhasil mengumpulkan yang berkaitan dengan judul penelitian yaitu “Efektivitas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Dalam Menghadapi Permasalahan Kekerasan Anak Dan Perempuan “(Studi kasus UPT P2TP2A Di. Ke.Lamalaka Kec.Bantaeng Kab.Bantaeng).

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak ( P2TP2A ) adalah Pusat pelayanan yang terintegrasi dalam upaya Pemberdayaan Perempuan di berbagai bidang Pembangunan, serta perlindungan perempuan dan anak dari berbagai jenis diskriminasi dan tindak kekerasan termasuk perdagangan orang.

Dalam melaksanakan tugasnya penempatan pengurus P2TP2A berdasarkan dua susunan pokok yaitu berdasarkan bidang atau berdasarkan unit kerja.

Data yang dikumpulkan merupakan hasil wawancara dengan orang dalam dan disertai dengan hasil observasi langsung. Penyedia informasi penelitian adalah:

1. Informan kunci dalam penelitian ini adalah 1 orang penanggung jawab UPT, dan 1 orang adalah pegawai atau pegawai (memahami struktur pelayanan yang berlaku).

Selanjutnya, untuk lebih memudahkan unit layanan P2TP2A dalam menjalankan tugas dan fungsinya, maka perlu ditetapkan Standar Operasional Prosedur (SOP). SOP ini disusun dengan menggunakan pendekatan dan berorientasi pada pemenuhan hak hak perempuan dan anak korban kekerasan.

Selain itu, SOP juga disusun dengan memperhatikan peningkatan kualitas pelayanan dari petugas pelayanan.

P2TP2A Menyediakan 5 jenis pelayanan untuk perempuan dan anak dan berikut hasil observasi :

1. Penanganan pengaduan, bentuk pelayanan ini merupakan fokus utama yang diterapkan dalam proses penyelesaian kasus yang dilakukan oleh P2TP2A.

Segala bentuk pengaduan akan diproses dengan semestinya dengan apabila kasus tersebut perlu melibatkan pihak lain seperti, kepolisian ata rumah sakit maka akan dilakukan kerjasama.

2. Pelayanan Kesehatan. Setelah korban melapor maka pihak P2TP2A tersebut memberikan pelayanan kesehatan kepada korban-korban yang mengalami kekerasan fisik baik itu visum maupun pelayanan kesehatan lainnya.

Kemudian untuk menyelesaikan kasus kekerasan yang terjadi di masyarakat, P2TP2A bekerjasama dengan beberapa rumah sakit untuk menyediakan poli khusus bagi korban kekerasan baik terhadap perempuan dan anak sehingga masyarakat dapat berkonsultasi.

3. Rehabilitas sosial, bentuk pelayanan ini diberikan kepada korban kekerasan psikis yang tergantung mentalnya akibat kekerasan yang diterima. Dan

pelayanan ini yang diberikan seperti halnya dengan konsultasi dengan pakar psikologi, dan pemberdayaan lainnya.

4. Penegakan dan Bantuan Hukum, pelayanan ini diberikan kepada setiap pelapor apabila kasusnya harus melalui jalur hukum. Setiap pelapor akan diberikan paralegal pendamping yang disediakan untuk membantu menyelesaikan kasus sampai selesai.

5. Kasus hingga tuntas, ketika kasus telah selesai maka korban akan dipulangkan dan dikembalikan ke keluarganya untuk melanjutkan kehidupan dan rutinitas biasanya.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti mengidentifikasikan permasalahan yang terkait dengan "Efektivitas Pemberdayaan Perempuan dan Anak Dalam Menghadapi Permasalahan Kekerasan Anak Dan Perempuan “(Studi kasus UPT P2TP2A Di.

Ke.Lamalaka Kec.Bantaeng Kab.Bantaeng). memberikan suatu arahan yang jelas untuk mengadakan penelahaan, serta hasil analisis itu sendiri akan lebih nyata, sehingga penulis harus membatasi masalah yang akan dianalisis karena dapat membantu memperjelas pengkajiannya.

Selanjutnya dasar hukum adalah norma hukum yang dijadikan landasan bagi setiap tindakan hukum oleh subjek hukum, baik perorangan maupun yang berbentuk badan hukum. Adapun dasar hukum terbentuknya P2TP2A di

Selanjutnya dasar hukum adalah norma hukum yang dijadikan landasan bagi setiap tindakan hukum oleh subjek hukum, baik perorangan maupun yang berbentuk badan hukum. Adapun dasar hukum terbentuknya P2TP2A di

Dalam dokumen Oleh : DEWI RESKY AMALIA (Halaman 45-0)